Buku Baru: “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara”

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah digali dari hadits “73 golongan” atau “Iftiraqul Ummah”. Saat membahas hadits ini banyak orang cenderung mengklaim diri sebagai golongan selamat, dan memvonis pihak-pihak lain sebagai golongan sesat (fin naar). Padahal dalam riwayat-riwayat itu Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam hanya menyebutkan METODE menjadi golongan selamat, yaitu: Mengikuti Sunnah dan komitmen dengan Al Jamaah (kesatuan umat Islam). Siapapun yang sesuai metode ini, dia adalah Ahlus Sunnah. 

Abdul Qahir Al Baghdadi membedakan Ahlus Sunnah sebagai Ahlur Ra’yi danAhlul Hadits. As Safariniy Al Hanbali menyebutkan, Ahlus Sunnah adalah pengikut Asy’ariyah, Maturidiyah, dan Ahlul Hadits. Ibnu Taimiyah menjelaskan makna umum Ahlus Sunnah, sebagai setiap orang yang mengikatkan diri dengan Islam sedangkan dia bukan Syiah Rafidhah. Dalam riwayat-riwayat yang diteliti Syaikh Salman Al Audah, dalam bukunya Shifatu Ghuraba, golongan yang selamat adalah As Sawadul A’zham (jumlah mayoritas kaum Muslimin).

Judul buku                  :  Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara.

Penulis                       :  Abu Muhammad Waskito.

Penerbit                      :  Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cetakan                      :  Cet. I, Oktober 2012.

Halaman                     :  xvi + 432 hlm.

Harga pasar                :  Rp. 69.000,-.

Kelompok Ahlus Sunnah di Indonesia meliputi kalangan Asy’ariyah, Wahabiyah, dan lainnya yang merujuk kepada Al Qur`an dan As Sunnah; meyakini Rukun Islam dan Rukun Iman (sesuai versi Ahlus Sunnah); meyakini Al Qur`an sebagai Kalamullah; memuliakan isteri-isteri Nabi dan para Shahabat; meyakini Sifat-sifat Allah; mereka bukan bagian dari sekte sesat, terutama Syiah Rafidhah dan aliran-aliran yang menyempal dari Syariat Islam.

Kalangan Wahabiyah bukan musuh Islam; mereka adalah Muslim, Ahlus Sunnah, saudara kita. Jika ada di antara mereka yang bersikap negatif, tidak berarti menggugurkan hak-haknya sebagai Muslim.

Begitu juga, kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, adalah saudara kita, sesama Muslim, sesama Ahlus Sunnah. Mereka mengimani Al Qur`an, mengikuti Sunnah Nabi, rujuk kepada Syariat Islam. Ada beberapa perbedaan pemikiran di antara Wahabiyah dan Asy’ariyah, tetapi sisi-sisi kesamaan keduanya lebih banyak (dalam buku ini dibahas 16 poin kesamaan). Sisi-sisi kesamaan ini mestinya bisa menjadi titik-tolak untuk mewujudkan saling pengertian, pemahaman, dan kerjasama.

Buku ini mengkaji pentingnya persatuan umat; akar pertikaian antar Ahlus Sunnah di Nusantara; konsep Firqatun Najiyah menurut Al Qur`an; menawarkan 10 langkah praktis untuk menyatukan Ahlus Sunnah; mengkaji misi liberalisme, propaganda komunisme di majalah Tempo, dan membedah fakta-fakta seputar gerakan Syiah; Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah, dan lain-lain.

Semoga hadirnya buku ini bisa menjadi kontribusi untuk memperbaiki hubungan antar elemen-elemen Ahlus Sunnah di Nusantara; dan bisa mencegah destruksi kehidupan beragama yang lebih parah. Allahumma amin.

Admin.

Iklan

43 Responses to Buku Baru: “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara”

  1. Abu Fawwaz berkata:

    Abi Ummi… ikhwan akhwat sekalian buku di atas akan di bedah di Masjid Al-A’raf Toko walisongo Kwitang Jakarta pada Ahad, 23 Desember 2012 pkl. 12.30-14.30 dengan pembicara AM. Waskito (Penulis) dengan pembicara pembanding Ustadz Farid Achmad Okbah (Dewan Syariah DDII Jakarta)… Semoga kita bisa hadir bersama

  2. Abu Fawwaz berkata:

    Abi Ummi… ikhwan akhwat sekalian buku di atas juga akan di bedah di Panggung Utama Islamic Book Fair Jogja, GOR UNY pada Sabtu, 22 Desember 2012 pkl. 13.00-15.00 dengan pembicara AM. Waskito (Penulis) dengan pembicara pembanding Prof. Dr. Yunahar Ilyas ( Ketua PP Muhammadiyah) dengan moderator Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, Lc. … Semoga kita bisa hadir bersama

  3. pindahanmultiply berkata:

    Tentang tradisi-tradisi yang seringakali dilakukan kaum muslimin di Indonesia dibahas juga tidak pak dalam buku itu? seperti Maulid Nabi, tahlil, haul dan sebagainya.

  4. silver account berkata:

    Yang menjadi perbedaan antara Sunni dan Syi’ah pada awalnya hanyalah pada permasalahan politik yaitu mengenai tampuk kepemimpinan (khalifah) ummat islam setelah meninggalnya Rasulullah. Yang dimana kelompok Sunni berpendapat, bahwa tampuk kepemimpinan dipegang oleh para sahabat dekat Rasul yaitu Abu bakar, Umar bin khattab, Utsman bin affan (Ahlul Sunnah). Sedangkan kelompok Syi’ah berpendapat, bahwa tampuk kepemimpinan rasul sepantasnya diteruskan oleh keluarga dan keturunan beliau yaitu Ali bin abi thalib (sahabat sekaligus menantu rasul), Hasan dan Husein dan keturunannya (Ahlul Bayt).

  5. abisyakir berkata:

    @ Pindahanmultiply…

    Secara pribadi, saya memiliki sikap terhadap amal2 itu; tapi dalam buku tersebut tidak dibahas hal2 itu; ia banyak membahas tentang sisi-sisi kesamaan yang memungkinkan terjadinya saling berdamai, bersatu, dan menyayangi antar sesama Muslim, insya Allah. Syukran.

    Admin.

  6. Rohis Facebook berkata:

    apakah bukux dah nyampe ke Makassar ust.???

  7. Hardiono berkata:

    @ Rohis Facebook

    Sekarang kan jamannya belanja lewat internet. kalau bukunya susah dicari di toko buku di Makassar, hubungi saja toko buku online.

  8. Lukman Mubarok berkata:

    Ane pernah baca buku dan di sana tertulis Imam Malik pernah berkata bahwa menyatukan pendapat2 yang berbeda itu ide gila.. Apa benar begitu?

  9. abisyakir berkata:

    @ Lukman…

    Afwan, saya kurang tahu soal perkataan Imam Malik rahimahullah tersebut. Tapi saya pernah dengan ucapan Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, bahwa beliau mengatakan: “Saya tidak suka apabila para Shahabat Nabi semua berdiri di atas satu pendapat, sebab hal itu akan membuat kesempitan dalam agama.”

    Menyatukan pendapat kaum Muslimin dalam hal-hal yang bersifat prinsip (ushuliyah), itu sangat mungkin. Buktinya, kita mengenal 3 istilah penting: Ijma’ para Shahabat Nabi; Ijma’ para ulama Ahlus Sunnah; dan Ijma’ Kaum Muslimin. Nah, ini pertanda, bahwa kaum Muslimin sejak era Shahabat bisa bersepakat dalam urusan-urusan mereka.

    Tetapi jika mengharapkan, kaum Muslimin selalu sepakat dalam segala macam masalah, itu jelas tidak mungkin, karena menyalahi Sunnatullah. Dalam Surat Al Baqarah dikatakan: “Qulna ihbithu ba’dhukum li ba’dhin ‘aduww” (keluarlah kalian dari surga, sebagian kalian akan menjadi lawan bagi sebagian yang lain). Lawan disini bisa dalam permusuhan sesungguhnya, bisa juga dalam soal perbedaan persepsi, pendapat, penafsiran.

    Admin.

  10. abisyakir berkata:

    @ Silver…

    Ya benar, awalnya memang terjadi karena adanya perubahan-perubahan politik. Tetapi kalangan Ahlus Sunnah memandang masalah politik itu TETAP DALAM KORIDOR urusan politik. Tidak dibawa-bawa ke urusan AKIDAH. Sebaliknya Syiah, mereka jadikan masalah politik itu SEBAGAI AZAS AKIDAH dan AGAMA-nya. Nah, ini masalahnya. Contoh, Ahlus Sunnah berduka dengan kematian Husain dan keluarganya di Karbala, seduka-dukanya. Tetapi apabila perkara itu sudah berlalu, sudah berganti generasi, sudah berlaku waktu-waktu sejarah; maka Ahlus Sunnah tidak menghabiskan umurnya untuk terus berduka, sedih, meratapi; karena Ahlus Sunnah yakin, Allah Maha Adil dan Sangat Teliti Hisab-Nya. Orang baik akan Dia beri kebaikan, sebagaimana orang jahat akan Dia beri balasan. Sementara orang Syiah Rafidhah, mereka berlaku seperti manusia yang tidak mengenal ajaran Islam sama sekali; mereka jadikan satu mushibah di masa lalu (Tragedi Karbala) sebagai pintu besar untuk membangun agamanya. Jadi inti ajaran Syiah adalah: mendewa-dewakan Husain dan meratapi kematiannya sampai akhir zaman! Agama semodel itu jelas sangat jauh dari Syariat Islam dan kental berisi spirit paganisme.

    Admin.

  11. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea berkata:

    waduh… ada buku baru…
    judulnya mempesona dan menarik perhatianku…
    musti nabung nii biar bisa beli…
    ok deeh…^_^…

    smoga kaum tua dari kalangan Ahlus-Sunnah menjadi akur & harmonis… ngga pada berantem melulu… kan malu d’liatin sama kaum muda dari kalangan Ahlus-Sunnah… iya kan pa.? hhee.hhee..

    terimakasih info’nya pa..

  12. Id Amor berkata:

    1.Baca judul buku ini,yang terlintas dalam benak saya adalah :

    Mengapa judulnya tidak “MENDAMAIKAN UMAT ISLAM di NUSANTARA”?

    2.Baca pengantar buku dalam blog ini yang mengutip hadist yang menyampaikan tentang Yahudi ,Nasrani dan Umat nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam

    Jika ingin mendamaikan mengapa Hadist tersebut tidak dijadikan sebagai “INTROPEKSI DIRI”? sekaligus untuk dijadikan solusi mendamaikan.

    sekedar contoh,saya coba menyikapi terkait hadist tersebut dengan sikap ini

    http://amor.muslim-menjawab.com/2012/11/membahas-pesan-rasulullah-tentang.html

    mohon dikoreksi jika pemahaman saya ada yang kurang tepat.

    3.Salah satu problem yang memicu potensi perselisihan ,perpecahan dan pertikaian adalah ketika begitu mudahnya menuding,menuduh dan menjudge kelompok lain.

    karena ada AKSI semacam itu maka akan memunculkan REAKSI

    ketika AKSI dan REAKSI ada yang punya potensi ‘menyakiti hati’ pihak lain,maka persoalan ini menjadi semakin rumit.

    Jadi solusi mendamaikan persoalan ini adalah bagaimana lebih mengajak berlomba lomba intropeksi diri dan berlomba lomba dalam kebaikan.

  13. Si'Ardjuna berkata:

    @..Id Amor

    mohon d’maafkan sebelum’Nya bila saya ikut mengomentari komentarnya saudara Id Amor..
    saudara Id Amor.. kalau boleh saya kasih masukan u/ anda yg saya hormati.. “Alangkah baiknya bila terlebih dahulu buku tersebut anda baca”..
    sekali lagi, mohon d’maafkan bila saya ikut mengomentari komentarnya saudara Id Amor..

    Terimakasih..

  14. Id Amor berkata:

    @Si ‘Ardjuna

    1.Tanpa memohon maaf, sekalipun,bagi amor tidak ada masalah jika ada yang mengomentari balik komentar amor.

    Berani mengomentari tulisan orang lain,maka tidak bisa tidak ,harus siap dikomentari orang lain B-)

    2.Komentar Amor di atas belum menyentuh isi buku, tetapi baru mengomentari tentang :

    a.Judul buku
    b.hadist yang dikutip dalam pengantar buku dalam blog ini
    c.Persoalan yang amor lihat baik didunia nyata maupun di dunia nyata.

    sebagai info tambahan dari amor :Dalam bedah buku pada tanggal 23 Desember 2012 , di Masjid Al ‘Araf ,amor adalah salah satu orang yang hadir,dan menyimak semua penjelasan dari penulis maupun dari pembanding Ust Farid Achmad Okbah (Dewan Syariah DDII Jakarta)…

  15. Si'Ardjuna.. berkata:

    @..Id Amor

    okey deeh om Id Amor…^_^..
    like this buat om…

    salam kenal yaa… sukses selalu..

  16. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    Ya sama-sama. Selamat menabung. He he he… itung-itung sebagai kesungguhan untuk mencari hikmah ilmu, insya Allah.

    Admin.

  17. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    Syukran jazakumullah khair untuk semua komentarnya. Maaf tidak langsung direspon, karena banyak keperluan offline yang mesti dilakukan. Terimakasih.

    [1]. Mengapa judulnya bukan “Mendamaikan Umat Islam di Nusantara”? Ya karena bagian terbesar kaum Muslimin di Nusantara adalah Ahlus Sunnah (Sunni). Di samping tema “persatuan ummat Islam” lebih bersifat general, banyak yang telah mengangkat tema itu; di sisi lain kita ingin lebih fokus ke elemen terbesar yang membentuk ummat Islam ini, sehingga harapan persatuan itu diharapkan lebih dekat untuk terwujud (insya Allah).

    [2]. Ya, dalam buku itu juga dibahas sikap bijaksana menyikapi hadits “73 golongan” tersebut. Bahkan Nabi lebih menekankan kepada metode mencapai keselamatan, bukan mengklaim si fulan calon ahli surga, lainnya calon ahli neraka. Di atas segalanya, terimakasih atas artikelnya yang bagus tentang “introspeksi diri” itu, alhamdulillah.

    [3]. Ya benar, sikap menjudge itu memang ada; tetapi harus dibedakan dengan sikap “mengambil suatu pendapat”. Jangan sampai, karena ada yang mengambil pendapat berbeda, ia langsung kita judge dirinya sedang men-judge orang lain. Jangan begitu. Itu tidak fair.

    Kita sangat butuh sikap introspeksi dan fastabiqul khairat. Ini benar adanya, insya Allah.

    Admin.

  18. abisyakir berkata:

    @ Id Amor…

    sebagai info tambahan dari amor 😀 alam bedah buku pada tanggal 23 Desember 2012 , di Masjid Al ‘Araf ,amor adalah salah satu orang yang hadir,dan menyimak semua penjelasan dari penulis maupun dari pembanding Ust Farid Achmad Okbah (Dewan Syariah DDII Jakarta)…

    Komentar: Oh ya, ahlan wa sahlan, tafaddhal Akhi, terimakasih sudah hadir disana. Hanya saya tak membayangkan kalau gaya pembahasan Ust. Farid Okbah seperti itu. Kata sebagian kawan media, cara begitu sudah sering untuk beliau.

    Admin.

  19. yahya berkata:

    saya dari lampung,sy tidak hadir dalam acara bedah buku itu.tp saya sering mendengar rekaman ceramah beliau di radio dakta,saya merasakan ok2 saja.jd yg dmaksud admint tdak menyangka cara penyampaian beliau itu sperti apa?positif/negatif?terus dimanakah saya bisa mendapatkan rekaman acara tsb?

  20. Idebenone berkata:

    Untuk itulah, dalam rangka memberikan pemahaman keislaman yang benar kepada kaum Muslimin, kami perlu menjelaskan apa, siapa, dan bagaimana ajaran Syiah yang menyesatkan ini.

  21. jtxtop berkata:

    Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

  22. abisyakir berkata:

    @ Jtxtop…

    Sama-sama, walhamdulillahi ‘ala kulli nikmatih.

    Admin.

  23. asifkediri212 berkata:

    Smg salafi mghntikan tduhan2 kpd kami (nahdiyin) dg tudingan
    Kafir bid.ah dn syirik!

    Smg salafi mau slg mghrmati perbedaan (khilafiyah furu.iyah amaliya)

    Jgn lg ada buku mantan kiyai nu mggugat
    Spt bbrp wkt yg lalu
    Yg mmbuat nahdiyin naik darah

  24. Dana K. Rose berkata:

    ass…kami orang awam butuh penjelasan dari pihak syiah dan seharusnya pihak yangmenyatakan sesat mengajak beragumentasi dgn pihak syiah dan sangat perlu di tayangkan di televisi seluruh televisi yg ada.mengapa Rasulullah memilih para sahabat utk jadi khalifah?simaklah ayat berikutAllah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahi m berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)jadi mengapa Rasulullah SAW bisa memilih Abu bakar dan yang lainnya?mengapa tidak memilih dari keluarganya sendiri?

  25. piracetam berkata:

    menyekutukan Alloh, membuat perantaara antara dirinya dengan Alloh (berdoa, memohon syafa’at bertawakkal kepada mereka), mereka yang tidak mengkafirkan orang musyrik-kafir (misalnya Yahudi, Nasrani, Majusi, orang musyrik, mulhid atau Atheis) termasuk malah membenarkan mereka, meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna daripada Sunnah Rosululloh shalalallahu ‘alaihi wasallam, tidak senang terhadap atau membenci hal-hal yang dibawa Rosululloh shalalallahu ‘alaihi wasallam, menghina Islam, melakukan sihir (termasuk ash-Sharfu atau guna-guna, al-‘Athfu atau pelet, dan sebagainya), memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka memerangi kaum muslimin, meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi shalalallahu ‘alaihi wasallam, berpaling dari agama Alloh termasuk tak mempelajari dan mengamalkannya, syirik dalam berziarah kubur (seperti mempersembahkan suatu macam ibadah kepada ahli kubur, meminta bantuan kepadanya, menyembelih kurban untuknya, berthawaf di sekelilingnya, dan sebagainya), orang munafiq (yang menampakkan keislaman namun menyembunyikan kekufuran dan kejahatannya, lebih jelek daripada orang kafir) dan sebagainya. Beriman kepada al-Wa’du (janji Alloh akan kebaikan) dan al-Wa’iid (janji ancaman tentang siksaan neraka).

  26. budi berkata:

    y akh am waskito sy sngat terkesan dengan tulisan2 antum yang benar2 berusaha menjadi ahlussunnah wal jama’ah yang mutawasith , mga Alloh Ta’ala memberkahi ilmu dan usia antum dalam menulis buku yang bermanfaat bagi ummat, amin. oy bku terakhir antum menginspirasi ana untk buat kaos bs d cek di fb ana budi_ikhsanto@yahoo.co.id

  27. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    alhamdulillah, syukran jazakallah khair Akhi, syukran atas apresiasi dan dukungan Antum. Boleh buat desain macam begitu, silakan wa mubarak laka. Nanti sya cek via faebuk ya, insya Allah. Skali lagi jazakallah khair.

    Admin.

  28. Budi berkata:

    Assalamu’alaikum Ustadz waskito ad rncana ndak adakn bdah bku antum di solo? sngat jrang al kautsar bdah bkunya di solo..y alhamdulillah bdah bku antum sma ust. farid oqbah bs ana download lwat you tube, ke dpannya mudah2an bs downloadable trus ustad, trutama ana pnasaran dgn bdah bku bersikap adil pada wahabi ap tdk bs di unduh di internet file videonya?

  29. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Alhamdulillah syukur Akhi, syukran atas apresiasi Antum terhadap bedah buku ini. Soal usulan bedah buku di solo; coba nanti sya tanya ke penerbit ya. Biasanya hal seperti ini butuh partnership dengan pihak lokal. Untuk bedah buku “bersikap adil kpd wahabi” afwan saya tdk memiliki rekamannya. Ke depan ada rencana coba-coba buat rekaman ceramah semodel itu, meskipun blum sebagus rekaman memakai kamera standar. Sebenarnya, dalam bedah buku yang Antum download itu ada SEDIKIT tanggapan saya untuk sejumlah kritik Ust. Farid Okbah, tapi sayang bagian tanggapan saya tidak dimuat oleh beliau. Malahan beliau disana buru-buru mengakhiri diskusi dengan doa “kafarat majelis”, padahal untuk mengakhirinya kan hak moderator. Ala kulli haal, syukran jazakallah khair.

    Admin.

  30. budi berkata:

    afwan ustad sy krang mengerti mksud ustad farid dlm video bdah bku itu tentang minimnya antum mengambil pndapat2 ulama2 yg terpercaya/senior itu mksudnya siapa?di bagian cover belakang itu kan ad kutipan2pndapat ulama spt hamka dll ap tdk d anggap oleh bliau? jg tlong klo bs d muat ustad pndapat sanggahan antum thd ustad okbah yg tdk d muat di video youtube itu, syukron. oy ustad emailnya ap? yg nusantara itu ap dah ndak aktif

  31. budi berkata:

    oy ustad afwan ni agk menyimpang dri bhasai ini sy usul ni mga d mdahkan oleh Alloh spaya antum mnulis tentang bersikap adil kepada usamah bin ladin dan al qaeda yg isinya tentang kupasan sisi2 kebaikan n sisi2 kekurangannya scra lngkap, jg klo bs tlong di kupas tentang ajaran jihad syaikh abdullah azzam rahimahululloh yg mnurut sy sngat menarik ktika membaca kitab bliau fi zhilali surah at taubah n tarbiyah jihadiyah d sna terlihat beliau adalah seorang jihadi yg mutawasith,wallohu ‘alam. jazakalloh khairon sblmnya

  32. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    Respon terkait Ust. Farid Okbah dalam acara di TB. Walisongo:

    [1]. Ustadz Farid Okbah itu sangat aneh dan emosional. Dia mengkritik semauanya, tanpa metode. Kalau ada sesuatu yang tidak sesuai selera, langsung dia kritik sekehandak hatinya.

    [2]. Contoh unik, mula-mula saya dikritik, di buku saya tidak dibahas soal konspirasi Amerika dalam mengobok-obok ummat Islam. Udah tahu kajiannya seputar Ahlus Sunnah, kenapa harus banyak2 bicara soal Amerika? Lagi pula itu sudah disinggung dalam bagian buku seputar “Liberalisme Komplek”. Tapi di sisi lain, katanya saya tidak merujuk pendapat2 Salaf. Satu sisi buku itu dianggap “tidak up to date”, di sisi lain dianggap “tidak salaf”. Aneh, antara satu kritik dengan kritik lain saling tabrakan.

    [3]. Disini ada sisi KETIDAKJUJURAN Ust Farid Okbah. Sebenarnya dalam sessi tanya-jawab, saya memberikan tanggapan atas kritik2 yang dia lontarkan. Tapi sayangnya, tanggapan itu tidak dimuat dalam rekaman ceramah yang di-upload di Youtube. Ini kan tidak jujur.

    [4]. Wallahi, dalam buku itu saya merujuk pendapat Imam Ahmad, Imam Malik, mencermati pendapat Imam Abu Hanifah, menyebut kisah Imam Syafi’i, merujuk pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Adz Dzahabi, Al Baghdadi, ulama-ulama Lajnah Daimah, Ibnu Baz, Al Utsaimin, Abdullah Al Quud, Abdullah Al Muthlaq, Safar Al Hawali, Salman Al Audah, dan sebagainya. Bahkan termasuk ulama-ulama Nusantara yang kredibel. Bagaimana Ustadz itu menyebut buku tersebut tidak merujuk ulama-ulama yang Mu’tabar? Ini adalah fitnah yang keji.

    [5]. Kalau membaca buku hasil karya Ust. Farid Okbah sendiri, yang judulnya: “Ahlussunnah Waljamaah dan Dilema Syiah di Indonesia“. Justru buku ini lebih seperti kumpulan tulisan-tulisan dari media. Sisi dirasah Islamiyah-nya lebih tertuju ke tulisan-tulisan di media dan data-data seputar Syiah di Indonesia yang dia kumpulkan.

    [6]. Secara umum, semula saya menyangka Ust. Farid Okbah ini akan membahas tentang cara-cara kita mendamaikan sesama Ahlus Sunnah. Ternyata hasilnya lain. Beliau malah mengkritik sana sini, dengan metode yang “asal tembak” saja. Dimana saja melihat ada kesalahan (menurut persepsi dia) langsung dikritik. Sampai-sampai -karena saking nafsunya- dia mengkritik materi slide yang saya bawakan. Malahan dia mengkritik kutipan-kutipan pendapat ulama yang dicantumkan penerbit di belakang buku. Katanya, “Penerbit sudah kebelet.” Inna lillahi. Kok sampai segitunya dia. Dan lucunya, dia seperti terkaget-kaget ketika kritiknya saya tanggapi. Sayangnya kami tidak memiliki rekaman itu.

    Terimakasih atas perhatiannya. Jazakumullah khair.

    Admin.

  33. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    Untuk Syaikh Usamah dan Al Qa’idah, maaf saya “angkat tangan”. Musykilah informasi di dalamnya sangat komplek dan rumit. Apapun pandangan seseorang di dalamnya, tetap saja akan mengundang pro dan kontra. Jujur saya tidak berani masuk kesana, karena terlalu rumit.

    Sekedar catatan: Dulu Jamaah Islamiyah di Mesir itu bersifat mandiri, kemudian dengan pendekatan Aiman Al Zhawahiri, Jamaah Islamiyah dekat dan kerjasama dengan Al Qa’idah (tanzhim di bawah Syaikh Usamah). Kedekatan ini ternyata membawa perubahan pada karakter Jamaah Islamiyah sendiri. Tokoh Jamaah Islamiyah yang masyhur dan masih hidup (dalam tahanan di Amerika) ialah Syaikh Umar Abdurrahman. Beliau terpaksa pindah ke Amerika karena terus dianiaya oleh rezim sekuler Husni Mubarak di Mesir. Di Amerika beliau terus melanjutkan kajian-kajian sehingga memiliki murid-murid. Pada sekitar tahun 1993 (saya lupa tepatnya) terjadi ledakan kecil di WTC. Ledakan ini menjadi alasan pemerintah Amerika untuk menahan Syaikh Umar Abdurrahman dan sebagian murid-muridnya. Itu jauh hari sebelum terjadi Tragedi WTC 2001.

    Kalau Jamaah Islamiyah versi Indonesia, itu berbeda lagi. Ia tidak ada kaitannya dengan Jamaah Islamiyah di Mesir. Tapi sebagian prinsip-prinsipnya seputar Jihad, kewajiban berhukum dengan Syariat, tauhid, dan semisal itu rata-rata sama. Jamaah Islamiyah versi Indonesia dirintis oleh Ustadz Abdullah Sungkar almarhum, ketika beliau dalam pelarian ke Malaysia. Apakah jamaah ini masih ada atau tidak, saya tidak tahu, wallahu a’lam. Tetapi yang jelas Jamaah Islamiyah Mesir berbeda dengan Jamaah Islamiyah ini. Berbeda juga dengan Jamaat Islami, sebuah partai politik di Pakistan.

    Wallahu a’lam bisshawaab.

  34. Fulan-s berkata:

    alhamdulillah,berarti antum sudah rujuk dari pendapat antum yang dulu yang pernah berkomentar sangat tidak elok thd syeh usamah dan alqaedanya?

  35. budi berkata:

    afwan jiddan sblumnya ustad am waskito ni klo jdi menyimpang diskusinya dari mendamaikan ahlussunnah tapi mudah2an tetap bs nyambung tentang prtanyaan sy yg blm terjawab tentang metode jihad syekh abdullah azzam dahulu ketika jihad afghan vs sovyet, beliau rahimahululloh terus berusaha mengkampanyekan jihad afghan yg semula mencakup 1 wilayah saja berubah menjadi jihad global dunia dgn dukungan kibar ulama saudi saat itu. nah tapi kenapa ketika sepeninggal beliau sosok usamah bin ladin dgn gerakan jihad al qaeda beliau krang mndapat dkungan dari kibar ulama saudi? sbenarnya ap perbedaan mendasar dari 2 gerakan jihad ini? mhon ulasannya y ustad dgn style antum yg adil spt biasa. jazakalloh khairan sblmnya

  36. budi berkata:

    oy ustad sedikit kritik kepada antum dlam blog ni sy pernah bca tentang tema amrozi dan imam samudra, di situ antum bs memaparkan tentang sisi kelebihan dan kekurangan 2 ikhwan qta itu (smoga Alloh menerima amal kebaikan mereka dan mengampuni dosa mrk) tetapi dlm tema yang menyangkut usamah bin ladin antum krang dalam memaparkan kebaikan2 beliau ketika mengkritisi, syukron. mdah – mdahan ke depannya bs lebih lengkap syukron. Afwan skali lagi menyimpang dari bahasan ustad

  37. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    Perbedaannya: Fatwa jihad fardhu ‘ain yg didukung ulama2 Saudi ketika itu DIBATASI dalam lingkup Afghanistan, dengan musuhnya Uni Soviet. Semnetara Syaikh Usamah, beliau menyerukan Jihad global dengan seluruh sasaran Amerika dan sekutunya dan kepentingan mereka. Cakupan sasarannya berbeda jauh. Satu sisi dalam lingkup Afghan, sisi lain seluruh dunia. (Antum tidak usah terus-teruskan, nanti bisa muncul salah paham seperti sebelumnya).

    Admin.

  38. abisyakir berkata:

    @ Fulan-s…

    Intinya, saya kurang setuju dengan gagasan “jihad global” beliau. Tapi saya juga tidak akan bersikap sangat keras mengingkari, karena dalam hal ini banyak musykilah (kesulitan) untuk menempatkan pendapat secara jelas. Maka saya coba bersikap hati-hati. Tulisan2 keras yang dulu pernah saya tulis tentang beliau, rata-rata sudah saya perbaiki. Kalau masih ada yang tersisa, tolong sampaikan. Ini bagian dari upaya hati-hati dengan amaliah seorang Muslim, insya Allah.

    Admin.

  39. BUDI berkata:

    Assalamu’alaikum ustad waskito insyaalloh di bulan april 2013 majalah AN NAJAH di Solo akan mengangkat tema tentang “Asy’ariyah bukan Ahlussunnah” terus trang sya bingung stelah sy bli n bca bku antum yg mendamaikan ahlussunnah nusantara itu kan di trangkn adany sisi persamaan yg bs d stukan n mendamaikn antara asy’ariyah dgn ahlussunnah…tpi di iklan mjalah ni di fb kesannya spt asy’ariyah itu sesat, y mngkin d tnggu aj tgl terbitnya ustad gmn ulasannya n mhon komentar ustad tentunya, syukron

  40. Dedie K berkata:

    Iya sya juga dah beli buku antum nih,,, stelah baca dimajalah an-najah ada perbedaan yang cukup besar dalam hal penarikan kesimpulan, mungkin karena an-najah menampilkan perbedaan2 yang mendasar dengan Asy’ariyah,,, intinya z juga bingung…

  41. abisyakir berkata:

    @ Dedie K…

    Syukran jazakumullah atas tanggapannya. Afwan baru dibalas, karena semingguan ini saya banyak off-line. Jawaban yang bisa diberikan antara lain:

    == Di kalangan Salafi (Jihadi), kalangan Asy’ariyah memang tak dianggap Ahlus Sunnah, karena beberapa alasan. Majalah An Najah bisa dikatakan merepresentasikan hal itu.
    == Tetapi ada banyak alasan untuk menjelaskan bahwa kalangan Asy’ariyah, kesalahan mereka (menurut pandangan kita), tidaklah separah kalangan Rafidhah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah. Saya baca pandangan2 Ibnu Taimiyah dari kitab-kitab beliau tentang Asy’ariyah, beliau meskipun mengkritik, tetapi tidak setajam kepada kelompok2 ahli bid’ah yang 7 itu. Ketika saya konfirmasi ke seorang ustadz yang cukup alim, beliau membenarkan kesimpulan yang saya ambil tersebut.
    == Asy’ariyah, jika dipandang menurut pendapat yang kita yakini, mereka tidak sesuai dengan pandangan tersebut. Tapi ada yang bisa menyatukan kita dengan mereka, antara lain: mereka bukan Syiah Rafidhah, mereka komitmen dengan Al Qur’an dan Sunnah (hanya beda penafsiran dalam hal-hal tertentu), mereka anti dengan paham sesat, mereka komitmen pada Syariat Islam, dll.
    == Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kan termasuk kalangan Salafi (Jihadi) juga; tetapi beliau bersedia menerima konsep TANSHIQ (aliansi) untuk sama-sama membela Islam. Secara pemahaman berbeda, tetapi dalam kepentingan Ummat, ada upaya menerima kerjasama. Andai mereka tak diakui kebaikannya sedikit pun sudah pasti tak akan terjadi konsep tanshiq tersebut.
    == Singkat kata, kita (saya, majalah An Najah, dll) insya Allah sepakat dengan konsep dakwah/pemahaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah; tapi hal itu tak menutup pintu bahwa ada saudara-saudara kita yang lain berhak mendapat apresiasi sebagai Ahlus Sunnah dengan makna umum.

    Terimakasih, jazakumullah khair.

    Admin.
    ==

  42. Syarifah berkata:

    Assalamu Alaikum,

    Re: Mengenai kritik Ust. Farid Okbah dalam acara di TB. Walisongo:

    Manusia tidak luput dari khilaf dan kesalahan pd amalannya, begitu juga dgn seorang penulis buku.
    Jika ada seseorang yg mengkritisi buku karyanya seharusnya bersyukur dan menganggap kritikan2 tsb sebagai masukkan yg berguna untuk buku2 selanjutnya.
    Bukannya menilai negatif pada peng-kritiknya….

  43. abisyakir berkata:

    @ Syarifah…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Terimakasih atas kritik, saran, dan masukannnya. Coba saya beri sedikit tanggapan:

    [1]. Ya semula mengira Ust. Farid Okbah ini ingin mendiskusikan cara-cara mencari jalan keluar perselisihan kaum Muslimin di Nusantara. Tapi setelah didengarkan isi kajiannya, seperti ada kesan “ingin menghabisi orang lain”. Bayangkan, dia mengkritik kesana kemari, dengan tanpa parameter yang jelas, hingga soal presentasi saya pun dia kritik. Masya Allah. Tidak ada suatu metode yang jadi acuan dia dalam mengkritik itu. Pokoknya dimana dia temui apa yang menurut dia salah atau tidak beres, langsung dia kritik. Itu kan seperti cara-cara “jalanan”.

    [2]. Dia mengkritik karena konsep dalam buku saya tidak aplikatif, masih teoritik. Oke, saya jelaskan dalam diskusi itu, bahwa saya ajukan setidaknya 10 cara praktis untuk mendamaikan Ahlus Sunnah. Misalnya “merujuk ke fatwa MUI” tentang aliran sesat. Kalau Anda membaca buku yang disusun oleh Ust. Farid Okbah ini, judulnya Ahlus Sunnah dan Dilema Syiah di Indonesia. Buku ini terbit lebih dulu sebelum buku saya. Di situ saya malah tidak menemukan konsep solusi tertentu yang bisa cepat dilaksanakan kaum Muslimin ini.

    [3]. Saya paham bahwa Ust. Farid Okbah ini membawa pesan atau semangat dari kawan-kawan Salafi. Dia menginginkan agar saya dalam memandang soal “Asy’ariyah dan Wahabiyah” memakai pandangan Salafi juga. Kalau memakai cara pandang begitu, berarti Asy’ariyah bukan bagian dari Ahlus Sunnah. Kalau begitu, bagaimana kita akan bisa berdamai. Saya pernah kumpulkan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, dari kitab-kitab beliau seputar Asy’ariyah. Ternyata sikap beliau itu tidak sekeras kepada aliran-aliran lain yang jelas-jelas sesat seperti Rafidhah, Mu’tazilah, Jahmiyah, Khawarij, dan seterusnya. Ketika saya konfirmasi itu ke seorang ustadz alumni Madinah, dia tak menyalahkan kesimpulan yang saya peroleh. Jadi untuk sekelas Ibnu Taimiyah saja, masih bersikap rahmat kepada Asy’ariyah. Entah kalau ada syaik zaman sekarang yang merasa melebihi Ibnu Taimiyah?

    [4]. Sebenarnya, acara di TB. Walisongo itu acara resmi. Ini acara muamalat antara penerbit Pustaka Al Kautsar dan TB. Walisongo. Sedangkan rekaman ceramah oleh tim Ust. Farid Okbah, itu tidak resmi. Sejak awal saya tidak tahu kalau akan ada shooting seperti itu. Seharusnya, kalau beliau mau sebarkan rekaman ceramah itu, ya permisi dulu atau lapor dulu ke pihak-pihak yang mengadakan muamalat tadi. Masak ini gak ada laporan apa-apa. Tahu-tahu rekamannya sudah muncul di media online.

    [5]. Sebenarnya, dalam diskusi tersebut, saya juga mengutarakan sebagian bantahan terhadap ucapan-ucapan Ust. Farid. Itu saya lakukan, karena saya anggap kritikan dia sudah berlebihan. Tapi sayang, dalam rekaman yang disebarkan ke publik, bagian BANTAHAN itu tidak dia muat. Ini sangat disayangkan. Seharusnya kita bersikap adil. Anda boleh mengkritik, tapi jangan menutupi hak jawab orang lain. Itu kalau kita mau bermuamalat secara Islami.

    [6]. Terakhir, satu pernyataan Ust. Farid Okbah yang terus terang saya tidak mengerti, apa maksudnya, dan ditujukan untuk siapa? Dia dalam ceramahnya menyebut orang-orang yang disusupkan oleh intelijen. Terus terang sampai hari ini, saya terus bertanya-tanya: ucapan itu ditujukan ke siapa? Apa beliau menuduh saya sebagai orang susupan intelijen? Kalau begitu arahnya, saya hanya bisa mengatakan: Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Saya pernah baca pernyataan Jendral Ryamizard Ryachudu. Dia ini disebut-sebut sebagai jendral kombatan, karena banyak tahu pengalaman tempur di medan. Untuk membedakan dengan jendral salon yang hanya pintar berpose di depan cermin. Beliau pernah menasehati kaum Muslimin agar hati-hati dengan infiltrasi intelijen. Cirinya, kata beliau, orang infiltran itu tak punya niatan untuk bersatu, berdamai, bekerjasama. Pernyataan beliau ini relevan dengan teori kolonial, devide et impera.

    Lha, kalau kita mengusahakan kerjasama, perdamaian, saling bantu-membantu, kok bisa dicurigai sebagai infiltrasi intelijen? Yang jelas, kami coba berbuat semampu kami untuk melaksanakan perbaikan. Soal adanya persepsi lain-lain, ya itu sebuah resiko. Terimakasih.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: