Hary Tanoe, Surya Paloh, dan Nasdem

Sudah Ngacir, Sebelum Perang Dimulai.

Sudah Ngacir, Sebelum Perang Dimulai.

Ibarat partai politik, Nasional Demokrat (Nasdem) belumlah berkiprah apa-apa. Ia masih sebatas dinamika internal, promo politik, penggalangan massa, membuat opini, dan seterusnya. Belumlah bermain dalam tataran politik sesungguhnya, karena Nasdem belum pernah ikut pemilu; ia baru saja diakui sebagai peserta pemilu 2014 nanti dengan nomer urut 1.

Tapi Nasdem seperti seorang pelari marathon, yang muntah-muntah sebelum bendera start dikibarkan. Beberapa pengurus teras Nasdem seperti Hary Tanoe, Ahmad Rofiq, Jefry Geovani, beberapa pimpinan daerah, pimpinan cabang luar negeri, serta kader-kadernya banyak yang keluar dari partai ini. Alasannya, rata-rata mereka tidak suka Surya Paloh menjadi Ketua Umum Nasdem. Ibarat perang belum dimulai, para prajurit dan komandan sudah pada ngacir.

Kalau mendengar  isi Editorial Media Indonesia (MetroTV) dari waktu ke waktu, rasanya kenyataan ini sangat IRONIS. Seolah orang-orang media ini paling pintar, suci, dan serba ideal. Tapi fakta berbicara, mereka tidak lebih baik dari partai-partai lain yang tidak mengalami kekisruhan “sebelum bertanding”. MetroTV sendiri tampaknya tidak mau membahas soal “kisruh internal” Partai Nasdem ini, karena khawatir akan men-demarketing partai itu di panggung politik nasional.

Hary Tanoe sendiri sangat khas dengan iklan-iklan yang dia tayangkan di media-media dalam MNC Grup. Dia terus mengklaim, atau semacam mengajari bangsa Indonesia, tentang pentingnya pengusaha terlibat politik. “Sebagai pengusaha biasanya tidak mau terlibat dalam politik. Tapi saya sengaja terlibat untuk memperbaiki bangsa dan negara.” Ya begitulah kira-kira ucapan Hary Tanoe yang telah terekam dalam benak ratusan juta manusia di Indonesia dan lainnya.

Tapi fakta memberikan jawaban sangat memalukan bagi Hary Tanoe. Belum juga dia bertanding dalam gelanggang politik secara head to head, dia sudah mundur dari partai yang ikut didirikannya. Malah keluarnya Hary Tanoe ini seperti membawa “gerbong para pengikut” dan menyebarkan aroma tidak sedap dari dapur internal Nasdem. Ya mungkin Hary Tanoe akan tetap bermain politik, sebagai pilihannya; tapi sikap menggurui rakyat Indonesia, dengan kalimat-kalimat santun, moralis, dan seterusnya; sementara mental politik dia sendiri temperamental (tidak sabaran); hal itu jelas tidak klop. Kalau mau menggurui sebuah bangsa, buktikan dulu kinerja dan perjuangan Anda. Belum apa-apa sudah berlagak “paling hero”, tetapi bersabar sedikit saja dalam negosiasi posisi politik, sudah tidak tahan. Hal itu menjawab sebuah dugaan, bahwa niat Hary Tanoe masuk dunia politik bersifat pragmatis, bukan berjuang bagi bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, kita tak mau mengadili Nasdem, karena memang partai ini masih baru. Berilah dia kesempatan untuk terlibat, berkiprah, dan seterusnya demi kebaikan rakyat Indonesia (seperti yang dicita-citakannya). Biarlah dia berdinamika dengan kondisi internalnya, lalu bersiap menyongsong Pemilu 2014. Soal posisi Surya Paloh atau siapapun, ya biar saja, kan itu urusan internal mereka. Siapapun yang terpilih, itu sudah termasuk hak-hak politik mereka yang mesti dihargai. Hanya saja, kita mengkritik sikap “sok menggurui” atau “sok pintar sendiri”. Itu saja. Maka buktikan semua klaim dengan karya nyata; jangan sebatas retorika.

Bagi Nasdem, jika mereka berhasil keluar dari “kemelut besar” ini, ia akan jadi pelajaran berharga bagi mereka. Bisa jadi nanti mereka lebih mampu menghadapi aneka dinamika internal partai. Tapi kalau akibat kisruh itu mereka “gugur sebelum berbunga”, ya sangat menyedihkan saja.

Oke. Itu dulu. Mari kita lihat para anak negeri sedang berjuang memperbaiki bangsanya, lewat jalur politik praktis.

Mine.

Iklan

8 Responses to Hary Tanoe, Surya Paloh, dan Nasdem

  1. piracetam berkata:

    Sebelumnya, Surya Paloh pernah bertarung memperebutkan kursi Ketua Umum Partai Golkar melawan Aburizal Bakrie. Dia kalah dalam kompetisi itu. Ketika Golkar dipimpin Jusuf Kalla, Paloh adalah Ketua Dewan Pembina. Selepas kekalahan itu, Surya mendirikan ormas Nasional Demokrat bersama Sultan Hamengku Buwono X di Istora Senayan pada 1 Februari 2010. Pada 26 Juli 2011, NasDem resmi menjadi partai politik.

  2. pindahanmultiply berkata:

    Terlepas dari kisruh internal partai2 yang ada, apakah sebenarnya mungkin pak untuk memperbaiki masyarakat lewat jalur politik praktis?

  3. Eye Drops berkata:

    Menurut Harry Tanoe, dekat sebagai kawan bukan berarti satu idelogi politik Mantan Ketua Dewan Pakar Partai NasDem, Hary Tanoesudibjo, telah melepaskan jabatannya, serta secara resmi melayangkan surat pengunduran diri dari partai kontestan Pemilu 2014 bernomor urut satu itu. Kini, Hary mengaku belum memastikan langkah politik selanjutnya, meski sempat memaparkan tiga opsi rencana. Kepada wartawan dalam jumpa persnya, Hary mengaku bahwa memang sudah ada partai politik (parpol) lain yang mendekatinya. Namun, dia belum mau membeberkan partai apa saja yang ingin meminangnya itu. “Iya, ada (yang coba mendekati). Tapi pada saat ini, saya masih fokus ke pengunduran diri, dan mempertimbangkan langkah apa selanjutnya,” kata Hary di Jakarta, Senin (21/1). Menurut Hary, sejauh ini dia dekat dengan parpol lain lebih karena pergaulan, termasuk dengan Partai Golkar. Makanya, dia belum menyatakan akan bergabung dengan salah satu partai peserta Pemilu 2014. “Dekat sebagai kawan, bukan berarti satu idelogi politik,” jelasnya. Lebih lanjut, Hary pun menyampaikan tiga opsi rencana yang akan dilakukannya, untuk terus memperjuangkan perubahan Indonesia. Langkah pertama adalah dengan mendirikan organisasi massa (ormas). Rencana kedua yakni mendirikan partai baru, dengan konsekuensi tidak bisa ikut dalam Pemilu 2014. Sementara opsi terakhir adalah bergabung dengan partai yang sudah ada. “Pilihan mana yang dipilih, saat ini fokusnya kita mengundurkan diri dari Partai Nasdem. Keputusan besar kami, akan menimbang dulu mana yang terbaik. Nanti kalau sudah jelas, kami akan sampaikan,” katanya pula.

  4. Abu Fawwaz berkata:

    Kalau saya berfikir sebagai orang awam, ternyata jalur politik praktis sangat melelahkan ya… belum juga bekerja memperbaiki bangsa di parlemen sudah penuh konflik dan susah payah mulai fikiran, tenaga dan biaya. Itu baru membahas satu partai bernama NASDEM, belum kita membicarakan bagaimana partai-partai yang tidak lolos sebagai peserta pemilu. Padahal mereka sudah membuat jaringan di senatero nusantara, dan akhirnya tidak lolos. Trus mau di apakah jaringan yang sudah terbentuk tersebut. Jujur, sebagai orang awam saya merasa itu sangat melelahkan untuk sekedar di fikirkan…

  5. Autumn Bernard berkata:

    Masuknya Hary Tanoe ke politik praktis pada saat bisnisnya mulai menggeliat, tentu menimbulkan tanda tanya berbagai kalangan. Ketika kepercayaan rakyat kepada para politisi dan partai politik menipis, mengapa dia justru memasuki ranah tersebut?

  6. Lacey J. Case berkata:

    Sejatinya, karakter pemimpin lahir dari partai politik. Karena melalui partai politik akan didistribusikan kader-kader terbaik bangsa untuk menempati jabatan publik di lembaga-lembaga negara.

  7. Idebenone berkata:

    Sebagai satu-satunya partai baru di antara 10 partai politik yang lolos untuk mengikuti Pemilu Legislatif April 2014, sesungguhnya tidak sedikit yang berharap agar Nasdem bisa menjadi partai baru alternatif.

  8. abisyakir berkata:

    @ Pindahan…

    Mungkin tidak memperbaiki negara lewat jalur politik praktis? Secara teori, ada saja harapan ke arah itu. Tapi dalam praktik sulit, sebab para politisi kita banyak yang: tidak konsisten, tidak teguh hati, gampang dipengaruhi, dan sebagainya. Secara faktual, kita pesimis.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: