[16]. Syaikh Hasan Al Bana dan Kitab Al Ma’tsurat

Februari 28, 2013

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

Tulisan ini disusun bukan untuk maksud politis, bukan untuk membentuk opini dan sensasi. Ia disusun dalam rangka menghormati ilmu dan ulama. Siapa yang diberi karunia ilmu, memiliki sumbangsih dalam perjuangan Islam, istiqamah dalam hidupnya; layak mendapatkan pujian universal dari kaum Muslimin, serta doa-doa kebaikan baginya.

Seperti dimaklumi, Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah, berasal dari Mahmudiyah, Bahirah Mesir. Beliau dilahirkan pada Oktober 1906 M. Ayahnya bernama Ahmad Abdurrahman Al Bana, penyusun kitab hadits,  Al Fathur Rabbany li Tartib Musnad Al Imam Ahmad. Ayah beliau ahli dalam memperbaiki jam sehingga sering dijuluki As Sa’ati (tukang jam).  Bagi kalangan tertentu yang alergi dengan Ikhwanul Muslimin; biasanya akan menyebut Syaikh Ahmad Al Bana dengan julukannya, As Sa’ati.

Kitab Populer Karya Syaikh Al Bana

Kitab Populer Karya Syaikh Al Bana

Selama hidupnya, Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah memiliki beberapa karya ilmiah. Karya-karya itu rata-rata bersifat praktis dan mencerminkan manhaj dakwah Jamaah Ikhwanul Muslimin. Tetapi ada juga karya yang berupa memoar.

Selain itu, ada satu karya yang sangat menarik, yaitu Al Ma’tsurat.  Kitab ini berbentuk buku saku dan isinya sangat praktis. Ia sangat populer sebagai buah karya Syaikh Al Bana; dibaca dan diamalkan banyak kalangan, baik pendukung Ikhwanul Muslimin maupun orang-orang selain mereka. Di pesantren Daarut Tauhiid Bandung, Aa Gym pernah membiasakan santri-santrinya, setiap pagi dan sore, melafadzkan dzikir-dzikir dalam kitab tersebut.

Kitab Al Ma’tsurat karya Syaikh Al Bana ini memiliki beberapa keunikan. Pertama, kitab itu sangat praktis dan ringkas, berisi bacaan-bacaan dzikir yang perlu dibaca setiap pagi dan petang. Kedua, rata-rata dzikir yang disebutkan disana bersumber dari dalil-dalil hadits Nabi. Ketiga, dari sisi nama sangat menarik, Al Ma’tsurat. Kalau diartikan kurang lebih: Bacaan-bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam. Istilah Al Ma’tsurat itu kira-kira senada dengan istilah-istilah seperti Al Musnad, Ar Riwayat, Al Hikayat, dan lain-lain.

Kitab Al Ma’tsurat ini pertama kali beredar di Indonesia dalam bentuk buku saku, versi cetakan Malaysia. Diterbitkan oleh Pustaka Tadabbur, Dewan Pustaka Fajar, Shah Alam, Selangor. Cetakan pertama, Mei 1983. Ia dicetak dalam versi Al Wazhifah Al Kubra (format lengkap) dan Al Wazhifah As Sughra (format praktis). Penerbit Mizan juga menerbitkan Al Ma’tsurat ini dalam format cetakan lebih besar (tetapi untuk ukuran buku standar, ia tetap terlihat kecil dan tipis).

Kita perlu bersyukur kepada Allah Ta’ala, lalu memuji penulisnya, dengan tersebarnya kitab Al Ma’tsurat itu. Sebab, di balik tersebarnya kitab praktis ini, ia bermanfaat untuk menghidupkan salah satu Sunnah Nabi yang sangat penting, yaitu: Dzikir pagi dan petang. Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah bisa dikatakan sebagai ulama dakwah zaman modern yang berjasa menghidupkan kembali Sunnah ini. Jauh sebelum Syaikh Al Bana menyusun Al Ma’tsurat, Imam Nawawi telah menulis kitab Riyadhus Shalihin dan Al Adzkaar. Dalam kedua kitab ini juga disebutkan dzikir-dzikir yang Sunnah dibaca pada saat pagi dan petang. Namun dalam format yang praktis dan mudah diamalkan, kitab Al Ma’tsurat tetap memiliki kelebihan.

Di kemudian hari bermunculan risalah-risalah dzikir serupa. Seperti risalah dzikir pagi dan petang yang ditulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Kitab ini disyarah oleh salah seorang penuntut ilmu di Saudi. Bentuknya sangat praktis seperti Al Ma’tsurat. Juga ada kitab doa populer, dalam format buku saku, Hisnul Muslim, karya Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani. Di dalamnya juga ada dzikir pagi dan petang.

Di zaman Imam Malik rahimahullah, terdapat banyak versi kitab Al Muwattha’. Tetapi kitab yang paling populer ialah Al Muwattha’ karya Imam Malik bin Anas, yang dikenal sebagai Imam Daarul Hijrah (Imam Kota Madinah). Pendapat-pendapat fikih beliau memiliki banyak pengikut, yang kemudian menjadi madzhab tersendiri, Madzhab Malikiyah. Mengapa kitab Al Muwattha’ karya Imam Malik lebih populer? Sebagian ulama menjelaskan, rahasianya ialah keikhlasan. Keikhlasan Imam Malik dalam ilmu, ‘amal, dan kehidupan, membuat karyanya lebih berkah dan diterima umat manusia.

Situasinya tidak jauh berbeda. Di antara kitab-kitab dzikir, Al Ma’tsurat hanyalah satu di antaranya. Tetapi pengaruh kitab ini sangat meluas, di kalangan Al Ikhwan maupun di luarnya. Mungkin, semua itu kembali kepada keikhlasan penyusunnya, perjuangannya, serta sumbangsihnya bagi Islam dan kaum Muslimin. Mujahadah beliau menjadi wasilah diterimanya kitab tersebut di hati-hati manusia.

Bukan berarti kitab Al Ma’tsurat bebas dari kritik. Tetap ada saja kritik yang disampaikan, sebagai buah nasehat dan perbaikan. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, bahwa Allah tidak rela menjadikan kitab lain lebih sempurna dari Kitab-Nya (maksudnya Al Qur`an). Jadi jika kitab-kitab karya ulama (manusia) ada kurang dan cacatnya, hal itu lumrah belaka.    Baca entri selengkapnya »

Iklan

SMS Lowongan Kerja

Februari 28, 2013
SMS Tipuan Masih Gentayangan.

SMS Tipuan Masih Gentayangan.

Seperti sudah dimaklumi, penipuan lewat SMS sangat banyak. Modusnya macam-macam. Ada SMS hadiah dari Telkomsel, SMS “mama belikan pulsa”, SMS “transfer saja ke no. rek”, SMS “saya tertarik beli rumah Anda”, dan sebagainya.

Tapi baru-baru ini saya dapat SMS “Lowongan Kerja”. Jarang dapat SMS begini, mungkin ini yang pertama kali.

SMS dikirim oleh: +6285299541639. Dikirim pada tanggal 26 Februari 2013, pukul 19.55 WIB. Malam-malam kirim SMS “lowongan kerja”. Lucu juga.

Lebih lucu lagi kalau membaca isi SMS itu. Banyak hal-hal yang membuat kita geli membacanya. Berikut isi SMS tersebut:

Lowongan Kerja: PT. PETRONAS butuh pegawai, pendidikan SMA/S1/S2. Format: Nama#Kota#Kab#No.Hp#. E-mail lamaran & riwayat hidup, pas foto 4×6 ke: hrdpetronas.migas@yahoo.com.

Teks SMS ini sudah diperbaiki. Format aslinya lebih “mengerikan”. He he he…

Tentu saja isi SMS di atas sangat lucu dan menggelikan. Tapi sejauhmana kelucuan itu bisa terlihat, tergantung kepekaan setiap orang. Yang bisa tertawa atau tersenyum, alhamdulillah; yang tidak mengerti, juga tidak apa-apa, tabahkan saja hatimu.

Selamat tersenyum (bagi yang peka). He he he…

Admin.


[15]. Puncak Pendakian Seksual

Februari 26, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di antara bentuk kemurahan Allah Ta’ala, saat Dia memberikan anugerah kemampuan seksual kepada manusia. Inilah anugerah besar, sensasi tinggi, dan salah satu “entertainment” terbaik bagi manusia.

Namun banyak manusia salah mengerti. Mereka mengira, nikmat seksual tidak berbeda dengan nikmat makan-minum. “Kalau Anda lapar, tinggal makan. Kalau Anda haus, tinggal minum,” begitu logika mereka. Nikmat makan-minum bisa dicapai secara instan, tetapi nikmat seksual tidak. Ia butuh aneka prosedur untuk sampai pada kenikmatan yang tinggi dan melegakan.

Kalau diumpamakan, nikmat seksual seperti santan kelapa. Semua publik Nusantara tahu apa itu santan kelapa dan apa pula kegunaannya? Ia sangat nikmat dan lezat. Makanan apapun yang disentuh oleh santan kelapa, akan membuatnya gurih dan berwibawa (secara kuliner). Tetapi santan kelapa tidak bisa langsung dikonsumsi. Ia harus dipadukan dengan bahan-bahan lain, lalu dimasak dengan proses tertentu, sehingga keluar sensasi lezatnya. Kalau santan kelapa langsung disantap, atau bahkan buah kelapanya yang keras dan tua langsung dikonsumsi; tentu hasilnya tidak enak. Apalagi kalau kelapa itu di-krakoti dari kulitnya, sabutnya, sampai batoknya; bukan kelapa yang kamu dapat, tapi gigimu yang akan rompal.

Puncak Kenikmatan Seksual Tidak Lepas dari Aspek MORALITAS.

Puncak Kenikmatan Seksual Tidak Lepas dari Aspek MORALITAS.

Nikmat seksual juga seperti itu. Ia sangat excited, sangat fantastic… Tetapi tidak bisa secara instan. Ada sekian prosedur dan proses yang mesti ditempuh, untuk sampai pada sensasi tertinggi. Prosedur itu ialah legalitas hubungan laki-laki dan wanita; dalam bentuk ikatan pernikahan. Tanpa legalitas ini, nilai nikmat seks hanya sedikit yang bisa dicapai; bahkan ia akan meninggalkan banyak risiko (secara sosial, kesehatan, spiritual, psikologis, religiusitas).

Kalau orang salah makan, paling akibatnya tersedak atau batuk-batuk. Tetapi kalau salah “konsumsi seks” akibatnya sangatlah perih. Tampak enak dan sensasional di permukaan, tapi begitu perih dalam keseluruhan kenyataan hidup. Sekedar contoh, dengan melakukan seks ilegal, dengan siapapun, ia akan terekam sangat dalam di memori dan selalu teringat-ingat untuk masa yang panjang.

Seks seperti pedang bermata dua. Satu sisi menghadap ke lawan, sisi lain menghadap ke diri sendiri. Kalau salah mengayunkan pedang ini, musuh tidak terkena, malah diri sendiri bisa terbunuh.

Solusi seks mestilah bersifat legal, tidak ada alternatif lain. Sebab di balik nikmat seks ada fungsi reproduksi. Ketika nikmat seks dirasakan, lalu terjadi pembuahan; maka hasil pembuahan akan membawa risiko sangat panjang, kalau sifat hubungan itu ilegal. Jika legal, mau lahir berapa anak pun, semua pihak akan menerima dan merestui.

Mungkin orang berkata: “Ya seks di zaman sekarang tidak mesti legal. Ilegal juga bisa, asal sama-sama dapat kesenangan.”

Tidak demikian berpikirnya. Salah satu karakter nikmat seks ialah membutuhkan KONTINUITAS. Nah, ini sangat berbeda dan bermakna. Mungkin sekali dua kali seseorang bisa melakukan seks ilegal; tetapi kebutuhan seks manusia bersifat jangka panjang. Manusia tidak bisa hanya menikmati 10 atau 20 kali hubungan seksual, tetapi bisa ribuan kali; karena tabiat seksual itu MELEKAT dengan kehidupan manusia.

Nah, kontinuitas ini yang tidak pernah dibahas oleh para pelaku seks bebas. Mereka selalu berlindung di balik gemerlap citraan atau sensasi yang dibuat-buat. Seks ilegal tidak bisa memberikan kontinuitas tersebut. Cobalah sebutkan siapa master seks ilegal itu? Bisakah dia menjawab seputar kebutuhan kontinuitas ini?

Legalitas adalah syarat mutlak menuju sensasi seksual yang sempurna dan jangka panjang. Disini koridornya ialah MORALITAS. Maka pendakian seksual tak bisa dilepaskan dari aspek moral. Antara seks dan moral, seperti dua bilah sisi pada mata uang logam. Dari paduan seks dan moral itu pula akan lahir manusia-manusia kuat di muka bumi.

Wahai insan, andaikan Anda tidak mendapati buah manis dari kehidupan seksual, bukan berarti solusinya seks ilegal. Tidak demikian, wahai sahabat dan saudara. Solusinya tetap LEGALITAS; tidak ada alternatif lain.

Jika ada masalah-masalah seputar ketidak-mampuan mencapai legalitas ini, jangan salahkan legalitasnya; tetapi salahkan sikap sosial masyarakat yang membuatmu tidak mudah mencapai legalitas. Solusinya, beranilah kalian melawan sikap sosial masyarakat yang membuatmu terkurung, sehingga tidak mudah mencapai legalitas. Capailah legalitas itu dengan semangat revolusi sosial-mu!

Legalitas dalam Islam sangat mudah. Untuk menikah, cukup ada mempelai laki-laki dan wanita, ada persetujuan wali, ada saksi, dan ada ijab kabul. Kalau mampu merayakan, rayakan; kalau tak mampu, sekedar syukuran terbatas juga bisa. Maka berbagai aksesoris sosial yang membuat kesusahan meraih legalitas pernikahan; lawan dan lawan itu! (Seperti semangat perlawanan Anas atas penzhaliman dirinya. He he he….).

Saudaraku…sungguh agama ini telah berbuat baik kepadamu. Agama ini menunjukkan solusi sempurna untuk mencapai seks dengan kualitas sensasi tinggi dan berjangka panjang. Agama ini juga memudahkan dalam urusan proseduralnya. Hanya aksesoris-aksesoris sosial itu yang membuatmu kesulitan mencapai legalitas.

Jangan pernah berhenti berharap kepada Allah Ar Rahiim. Bila ada salah dan keliru, berhentilah di satu titik, dan jangan lanjutkan kesalahan dan kekeliruan itu. Sekedar salah makan atau minum, paling hanya akan tersedak; tetapi salah seksual akibatnya sangat jauh dan dalam. Janganlah dilanjutkan kekeliruan-kekeliruan itu. Kalian bisa berargumen: “Kesalahanku disini karena memang negaraku tidak memberi bimbingan, penjagaan, dan memudahkan urusan; akhirnya aku terpuruk seperti yang lain. Andai negara punya komitmen, tentu peluang selamat akan lebih besar.”

Aku menyarankan, beranilah kalian melawan aksesoris sosial yang membelenggu itu. Misalnya, biaya resepsi pernikahan, status sosial, status kerja, berbagai fasilitas mapan untuk menikah, dll. Termasuk cibiran soal poligami, nikah sirri, nikah dini, dan lainnya. Semua itu jangan dihiraukan, karena memang bukan esensi dalam kehidupan ini.

Kejarlah harapan untuk mencapai kenikmatan yang indah; dengan memperhitungkan legalitas dan moralitas; jangan menempuh cara instan, sebab itu akan menyusahkan kalian sendiri. Demikian, semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(Ad-Mine).


Membaca Pidato Anas

Februari 24, 2013

Surprised !!!

Itulah komentar pendek yang bisa disampaikan untuk pidato politik Anas Urbaningrum, di kantor pusat DPP Demokrat di Jl. Kramat Raya Jakarta, 23 Februari 2013. Ini adalah pidato untuk merespon pengumuman KPK yang menyatakan Anas sebagai tersangka korupsi gratifikasi proyek Hambalang, sehari sebelumnya.

Dari sisi komunikasi, pidato Anas disampaikan tanpa teks, runut, perlahan-lahan, tidak ada kata-kata “eee…eee…” Seluruhnya disampaikan dengan bahasa yang lugas, tenang, kronologis. Ia tidak keluar dari karakter Anas yang tenang, kalem, memilih kata-kata. Dalam sejarah politik Indonesia, ini termasuk salah satu pidato terbaik yang perlu dicatat; dari sisi komunikasi politik.

Dari sisi politik, Anas telah mengeluarkan sebagian serangan keras-nya ke sosok SBY dan politisi-politisi Demokrat di sekitarnya. Anas baru mengeluarkan sebagian dari amunisi yang dia simpan. Sungguh, serangan lewat pidato politik Anas ini amat sangat keras…keras sekali; terutama menohok jantung SBY dan dapur politik Partai Demokrat. Yakinlah, SBY butuh ketegaran khusus untuk mendengar serangan dari Anas ini.

Selain menyerang SBY, pidato Anas juga secara telak menyerang KPK. KPK dianggap sebagai lembaga “super body” yang tidak suci dari intervensi politik. Bahkan Burhanuddin Mubtadi juga menyesalkan pernyataan Abraham Samad yang bebarengan dengan keluarnya 8 poin statement politik SBY. Seakan, pernyataan Samad memberi amunisi kepada SBY untuk terus mendesak Anas. Yang lebih aneh lagi, salah satu butir pakta integritas yang ditanda-tangani Anas, isinya kurang lebih: kader Demokrat siap mundur, kalau menjadi tersangka KPK. Seakan segalanya sudah dipersiapkan, agar Anas cepat tersingkir dan tidak berkutik lagi.

Sebagai perbandingan, untuk menghadapi Muhammad Nazaruddin saja, Partai Demokrat sudah hancur-lebur; apalagi menghadapi Anas yang lebih kuat, pintar, dan memiliki jaringan politik luas. Badai politik yang akan dihadirkan oleh Anas, secara teori, bisa lebih hebat dari Nazaruddin. Harus dicatat juga, baik Nazaruddin maupun Anas, sama-sama dari daerah pemilihan Jawa Timur. Intinya, SBY bisa mendapatkan lawan politik baru yang tangguh.

Oh ya, satu yang ingin kita komentari dari pidato Anas Urbaningrum, yaitu tentang istilah: “Bayi yang tidak diharapkan kelahirannya“. Mengapa muncul pernyataan sekeras itu?

Dari informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis, kira-kira background masalah itu sebagai berikut: Ketika terjadi Kongres Demokrat di Padalarang, Kab. Bandung Barat. Ketika itu pertarungan memperebutkan posisi Ketua Umum PD mengerucut ke dua figur, yaitu: Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum. Pihak Cikeas secara umum mendukung Andi Malarangeng; Irfan Baskoro gandeng-renteng dengan Andi Malarangeng kesana-kemari menyampaikan dukungan politik Cikeas ke sosok Andi. Tapi dalam satu pertemuan tertutup elit-elit Demokrat terjadi insiden yang mengejutkan. Waktu itu pertemuan ingin menyepakati suatu keputusan politik tertentu, lalu ada yang berkata: “Tunggu dulu! Jangan putuskan dulu! Kita perlu menunggu pandangan Ibu Ani Yudhoyono.”

Ketika mendengar nama Ibu Ani Yudhoyono disebut-sebut, seketika Ahmad Mubarok, salah seorang elit Demokrat, segera memberikan tanggapan keras. Dia menolak ide untuk meminta persetujuan Bu Ani terlebih dulu. “Tidak perlu Ibu Ani Ibu Ani-an!” kira-kira begitulah ucapan Ahmad Mubarok. Maka ucapan Ahmad Mubarok ini segera dilaporkan ke Bu Ani yang ada di Cikeas. Mendengar namanya disepelekan oleh Ahmad Mubarok yang notabene adalah pendukung Andi Malarangeng juga; maka Bu Ani segera memberikan “hukuman politik” untuk grup Andi Malarangeng. Dia menyerukan agar dukungan politik dialihkan ke Anas Urbaningrum. Sementara Pak SBY hanya bisa menonton intervensi isterinya ke arena kongres. Inilah insiden politik yang kemudian berujung terpilihnya Anas. Jadi, pada awalnya dukungan kubu Cikeas memang bukan untuk Anas.

Begitu kira-kira informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis terkait situasi di Kongres Demokrat di Padalarang yang akhirnya menguntungkan posisi Anas Urbaningrum. Maka itu, posisi Ahmad Mubarok di Demokrat jadi seperti tenggelam. Baru-baru ini Ahmad Mubarok menyatakan bahwa Ibas tidak mungkin akan menjadi pengganti Anas. Seakan, Ahmad Mubarok masih memendam rasa kesal dengan seorang ibu tertentu.

Bagi yang belum mendengar pidato Anas Urbaningrum, silakan lihat di link berikut ini:

Oke. Selamat bersiap-siap membaca buku-buku selanjutkan yang akan dibuka oleh Anas seputar aurat-aurat Partai Demokrat dan politik SBY. Selamat membaca ya!

Mine.


Kesalahan Terbesar Pasangan ONENG-TETEN

Februari 20, 2013

Untuk menulis artikel sederhana ini, saya butuh bersabar menanti momentumnya. Sengaja ditulis artikel ini ketika waktu sudah dekat-dekat Pilkada Jawa Barat. Kalau sejak awal sudah ditulis, pasangan Oneng-Tetan akan memiliki banyak waktu untuk memperbaiki gaya kampanye-nya. Namun kalau sudah dekat-dekat begini, ya sudah tak mungkin diperbaiki.

Intinya, kita ingin mengkritik gaya kampanye atau pencitraan mereka. Ini bukan karena masalah ideologis, tapi murni berdasarkan pertimbangan praktik politik (dalam even-even pemilihan).

Yang Kotak Tidak Selalu Enak (Dipandang).

Yang Kotak Tidak Selalu Enak (Dipandang).

Tim sukses pasangan Oneng-Teten kelihatannya tidak memiliki wawasan sosial yang baik. Mereka minim pertimbangan-pertimbangan Sosiologis masyarakat Jawa Barat, ketika meniru pencitraan baju kotak-kotak ala Jokowi. Ini adalah kesalahan terbesar pasangan Oneng-Teten.

Pencitraan baju kotak-kotak memang bagus untuk Jokowi. Tapi untuk umumnya masyarakat Jawa Barat, itu sangat tidak bagus. Mengapa? Karena selera fashion masyarakat Pasundan umumnya sangat tinggi. Kepekaan fashion mereka lebih dari umumnya masyarakat dari daerah lain. Bahkan Kota Bandung dikenal sebagai “kiblat mode pakaian” di Indonesia. Masyarakat Jawa Barat umumnya sangat menekankan unsur penampilan, berbeda dengan orang Jawa yang lebih concern dengan substansi.

Ketika masyarakat Jawa Barat melihat pasangan Oneng-Teten juga memakai baju kotak-kotak seperti Jokowi, mereka pasti sebel. Secara fashion, para pengikut itu dianggap pecundang ketimbang trend setter-nya. Mode pencitraan yang sudah umum dipakai, akan terasa kurang bobotnya kalau dipakai lagi. Mestinya mereka tidak memakai baju kotak-kotak ala Jokowi, sebab hal itu akan membuat rasa estetika fashion orang Pasundan seperti diiris-iris (perih). Inilah kesalahan terbesar pasangan Oneng-Teten dari sisi pencitraan.

Patut diingat juga, setelah Jokowi sukses di Pilkada Jakarta, banyak kandidat kepala daerah ikut-ikutan memakai baju kotak-kotak. Seperti salah satu pasangan dalam Pilkada Cimahi. Buktinya, dia kalah-kalah juga. Artinya, masyarakat disana tidak melihat unsur penting dengan memakai baju kotak-kotak itu. Sebel, iya kali.

Sengaja saya tidak menyampaikan hal ini jauh-jauh hari, sebab kalau disampaikan sejak awal, nanti mereka buru-buru akan melakukan perbaikan pencitraan. Tetapi kalau disampaikan hanya beberapa hari sebelum Pilkada Jawa Barat begini, kan mereka tak akan punya waktu untuk melakukan perbaikan. Namanya juga politik; mereka bersiasat, pengelola media juga bersiasat…he he he.

Maap, maap…tulisan ini memang sudah disiapkan sejak awal. Hanya momennya menunggu saat dekat pilkada. Kalau dipikir-pikir, think tank politik PDIP seperti mengalami krisis dari sisi intelektualitas dan wawasan. Mungkin karena sibuk berpolitik begini begitu, lalu unsur keilmuannya tidak diperbaiki. Ya itu sih rata-rata partai politik begitu.

Oke, sampai disini dulu. Terimakasih.

Mine.


[14]. Karakter Ahlus Sunnah

Februari 20, 2013

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi wa sallam, amma ba’du.

Untuk menjadi seorang Ahlus Sunnah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan proses, perjuangan, dan keteguhan hati untuk menetapi jalan ini. Prinsipnya sederhana, tetapi praktiknya tidak sederhana. Mula-mula kita harus mencari ilmu Syariat dan mengamalkan ilmu tersebut; kemudian dalam pengamalan agama ini, kita harus menghindari jalan-jalan sesat-menyesatkan. Hanya itu saja; tetapi lika-liku dalam pengamalan ini, butuh kesabaran dan keteguhan.

Dalam Al Qur’an ada sebuah ayat yang menjadi kaidah dasar dan sekaligus memudahkan langkah kita, alhamdulillah. Dengan memahami ayat ini secara benar, kita bisa ketemu jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah; insya Allah. Ayatnya sebagai berikut:

Keindahan Islam akan Tampak dari Totalitas dan Kelengkapan Syariatnya.

Keindahan Islam akan Tampak dari Totalitas dan Kelengkapan Syariatnya.

Ya aiyuhal ladzina amanuu, udkhulu fis silmi kaaffah, wa laa tattabi’u khuthuwatis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin” (wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaaffah, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena dia adalah musuh yang nyata bagi kalian). [Al Baqarah: 208].

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, agar mereka mengambil seluruh sisi ajaran Islam dan Syariat-syariat-Nya, mengamalkan seluruh perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangan-Nya, sekuat kesanggupan mereka dalam hal itu.” Pengertian ini merangkum tafsir para Salaf terhadap ayat ini.

Intinya, dalam menjalankan Islam itu harus secara menyeluruh, totalitas, tidak parsial. Selengkap Syariat Islam diturunkan kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, maka selengkap itu pula yang harus kita laksanakan. Hal ini sangat terkait dengan keridhaan Allah atas agama-Nya.

Al yauma akmaltu lakum dinakum, wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radhitu lakum Islama dinan” (di hari ini telah Aku lengkapkan bagi kalian agama kalian, telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian). [Al Maa’idah: 3].

Kelengkapan agama, bukan hanya menunjukkan keunggulan Islam atas agama-agama lain; tetapi sekaligus ia menjadi kunci untuk menutup pintu-pintu kesesatan. Perhatikan lagi sambungan dari Surat Al Baqarah ayat 208 di atas: “Wa laa tattabi’u khuthuwatis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin” (dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena ia adalah musuh yang nyata bagi kalian). Kalau kita tidak lengkap dalam mengikuti ajaran Islam, terbuka peluang kita masuk dalam ajaran-ajaran sesat. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Dan faktanya, aliran-aliran sesat yang ada, rata-rata mereka tidak mampu memikul amanat Syariat Islam secara lengkap (totalitas). Komitmen Syariat mereka selalu terpecah-belah. Khawarij mengklaim komitmen dengan hukum Islam, tetapi mereka mencabik-cabik persatuan Islam. Mu’tazilah mengaku pro amar makruf nahi munkar, tetapi mereka mendahulukan akal daripada Wahyu. Syiah Rafidhah mengaku mencintai Ahlul Bait, tetapi mereka melecehkan isteri-isteri Nabi dan menolak mayoritas para Shahabat Nabi. Jabbariyah dan Qadariyah cacat dalam pemahaman mereka atas takdir. Murji’ah mementingkan iman di hati, mengabaikan pengamalan Syariat secara zhahir. Sementara Jahmiyah menafikan Sifat-sifat Allah dan perbuatan-Nya.

Harus diingat baik-baik, komitmen Syariat Islam haruslah bersifat totalitas (menyeluruh). Kalau tidak menyeluruh, hal itu akan menghancur-leburkan agama. Dalam Al Qur’an disebutkan:

Afatu’minuna bi ba’dhil kitabi wa takfuruna bi ba’dhin? Fa maa jaza’u man yaf’alu dzalika minkum, illa khiz-yun fil hayatid dunya, wa yaumal qiyamati yuradduna ila asyaddil ‘adzab” (apakah kalian beriman kepada sebagian isi Al Kitab dan kufur terhadap sebagian yang lain? Maka tidaklah balasan bagi yang berbuat seperti itu di antara kalian, melainkan berupa kehinaan dalam kehidupan dunia; dan kelak di Hari Kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam adzab yang sangat berat). [Al Baqarah: 85].

Dalam ayat lain: “Dan janganlah kalian menjadi bagian orang-orang musyrik, (yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka, dan mereka menjadi golongan-golongan; (lalu) masing-masing golongan berbangga dengan apa yang ada di sisi mereka.” [Ar Ruum: 31-32].

Dalil lain yang lebih mengokohkan lagi, ialah: “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa li ya’budun” (tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka mengibadahi-Ku). [Adz Dzariyaat: 56].

Ayat ini berkaitan dengan jati diri manusia untuk hidup dengan mengibadahi Allah Ta’ala. Dan ibadah itu bersifat menyeluruh, dalam segala sisi hidup manusia. Dimanapun ada dinamika hidup manusia, disana tuntunan Syariat Islam eksis untuk memberikan arahan dan bimbingan.

Maka masuk Islam secara total, berarti menerima keseluruhan Syariat Islam, serta tidak memecah-belah kesatuan Syariat itu sendiri. Mungkin saja dalam pengamalan, kita belum mampu melaksanakan Syariat secara penuh; tetapi selagi kita meyakini kebenaran Syariat secara penuh (totalitas), maka hal ini akan menjaga kita tetap berada di atas Sirath Al Mustaqim. Inilah jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Makanya kalau Anda perhatikan sejarah, yang mampu melaksanakan Syariat Islam secara penuh dalam tatanan negara Islami, hanyalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Daulah Islam Madinah di era Nabi, Daulah Islam di era Khulafaur Rasyidin, Daulah di era Umawiyah, Daulah Abbasiyah, Daulah Umawiyah Barat (Andalusia), Daulah Saljuk, Daulah Ayyubiyah, Daulah Mamalik, Daulah Turki Utsmani, dan lainnya; semua itu berdiri di atas Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kalau Anda ditanya: Lalu konsep Ahlus Sunnah Wal Jamaah itu bagaimana?

Maka jawablah begini: “Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah komitmen untuk melaksanakan Syariat Islam secara kaaffah (totalitas), seperti yang dilaksanakan oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan para Khulafaur Rasyidin Radhiyallahu ‘Anhum.

Ahlus Sunnah bukan Khawarij yang bermudah-mudah mengkafirkan sesama Muslim; bukan pula Syiah Rafidhah yang menolak kemuliaan isteri-isteri Nabi dan mayoritas para Shahabat; bukan Murji’ah yang mengabaikan pengamalan Syariat dalam kehidupan nyata; bukan Mu’tazilah yang mengagungkan akal melebihi Wahyu; bukan Jabbariyah dan Qadariyah yang menyimpang dalam memahami Takdir; bukan Jahmiyah yang menafikan Sifat-sifat Allah; bukan Liberal (SEPILIS) yang menghujat kaidah-kaidah agama yang fundamental; bukan Ahmadiyah yang memposisikan Mirza Ghulam sebagai teladan dan panutan agama; bukan Sufisme yang mengutamakan spiritualitas dengan menafikan Syariat; bukan politikisme yang menjadikan kekuasaan sebagai agama dan tujuan hidup; bukan verbalisme yang menjadikan ajaran agama sebagai komoditas ceramah, untuk mencari uang; bukan primordialis-nasionalisme yang meletakkan kesukuan/kebangsaan melebihi agama; dan bukan aliran-aliran sesat lainnya.

Sebagai penutup, kami petikkan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah dari kitab Minhajus Sunnah Nabawiyah.

Beliau berkata: “Wa Ahlus Sunnah yattabi’unal haqqa min rabbihim alladzi ja’a bihir Rasulu, wa laa yakfuruna man khalafahum fihi, bal hum a’lamu bil haqqi wa arhamu bil khalqi, kamaa washafallahu bihil Muslimina bi qaulihi, kuntum khairu ummatin akhrajat lin naas.

[Dan Ahlus Sunnah mengikuti kebenaran dari Rabb mereka, dimana Rasul datang membawa kebenaran itu, mereka tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka dalam kebenaran; akan tetapi mereka itu paling tahu tentang kebenaran dan paling pengasih kepada makhluk, sebagaimana yang Allah sifati kaum Muslimin dengan firman-Nya: kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan dari golongan manusia (Surat Ali Imran)].

Ahlus Sunnah itu pasti komitmen dengan Syariat Islam; Syariat disini sifatnya kaaffah (totalitas), sebagai satu kesatuan, bukan tercerai-berai; dan perilaku Ahlus Sunnah itu ‘alim dalam kebenaran, dan pengasih kepada makhluk Allah (manusia dan lainnya). Wallahu a’lam bisshawaab.

Rabbighfirli wa li walidaiya warhamhuma ka maa rabbayani shaghira. Amin.

(Abine Syakir).


Saat Senja di Media

Februari 19, 2013

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Tak terasa sudah lima tahunan kami bergelut dengan media ini. Selama itu, media ini sudah mengalami pasang-surut, timbul-tenggelam. Beberapa kali dilanda “krisis” sehingga ingin dihentikan lebih cepat, tapi alhamdulillah Allah Ta’ala terus memberikan dukungan kekuatan dan karunia-Nya.

Ketika saat Maghrib menjelang, dunia siang kan berakhir, berganti malam.

Baca entri selengkapnya »