[05]. Romantisme dalam Islam

Ada pertanyaan menarik: adakah romantisme dalam Islam?

Jika setiap manusia harus romantis, atau pernah mengalami pengalaman-pengalaman cinta yang romantik; tentu tidak semua orang mengalami kenyataan seperti itu. Tetapi jika Islam dianggap bersikap kaku, tidak endah, serba kaku dan mekanik, tidak memberi tempat bagi tumbuhnya pengalaman-pengalaman romantik; hal itu juga tidak benar.

Sebagian dari pengalaman cinta Rasulullah Saw bernilai romantik. Misalnya, perjalanan cinta Bunda Khadijah Ra sehingga beliau menikah dengan pemuda Muhammad (Saw); ini adalah kisah romantik. Hal itu bermula dari sifat-sifat mulia Bunda Khadijah yang terkenal di kalangan penduduk Makkah; begitu juga dengan sifat dan nama baik Muhammad yang tersohor ketika itu. Sejak awal, Khadijah telah memberikan perhatian kepada pemuda ini. Lewat interaksi dagang, Khadijah memerintahkan pembantunya, Maisyarah, untuk meneliti gerak-gerik pemuda Muhammad. Hingga ujung cerita, Khadijah mengutarakan ketertarikan hatinya kepada Muhammad; tentu saja melalui perantara orang-orang terpercaya. Gayung pun bersambut, pemuda Muhammad, menyambut gembira ajakan Khadijah untuk bertemu di pelaminan (menikah).

Romantisme: Terimalah Jika Ada; Jangan Memaksakan, Bila Tiada.

Romantisme: Terimalah Jika Ada; Jangan Memaksakan, Bila Tiada.

Tidak semua riwayat pernikahan Nabi Saw bernilai romantik; karena memang hal itu tidak bisa dipaksakan, atau sengaja diciptakan (seperti dalam kisah-kisah sinetron). Kisah pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahsyi Ra juga memiliki setting romantik. Singkat kata, putra angkat beliau, Zaid bin Haritsah Ra telah lebih dulu menikah dengan Zainab. Tetapi pernikahannya tidak bahagia, karena Zainab merasa terpaksa dan merasa memiliki level sosial lebih baik. Berulang-ulang Zaid memohon izin kepada Nabi untuk menceraikan isterinya, tetapi Nabi senantiasa mencegah. Hingga akhirnya momen itu tiba, Zaid diperkenankan menceraikan istrinya, lalu dia dinikahkan oleh Allah Ta’ala kepada Nabi, langsung dari atas langit ketujuh.

Begitu juga, kisah Yusuf  ‘Alaihissalam dan istri Al ‘Aziz, serta wanita-wanita di Mesir, adalah bentuk ta’biran romantisme juga. Bahkan ia diabadikan dalam kisah terpanjang dalam Al Qur’an. Termasuk juga, bagaimana hubungan antara Sulaiman ‘Alaihissalam dan Ratu Bilqis dari negeri Saba’. Disini ada nuansa-nuansa romantisme.

Islam tidak mewajibkan adanya pengalaman romantik antara laki-laki dan wanita; namun bila hal itu ada, Islam juga tidak akan menggusur atau menafikannya. Pengalaman romantik adalah anugerah atau nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang tertentu dalam perjalanan cintanya. Jika ada, silakan dinikmati; jika tidak ada, ya tidak perlu memaksakan diri.

Romantisme dalam Islam, hanyalah sebuah proses untuk menuju pernikahan; jadi ia bukan tujuan tersendiri; ia hanyalah sarana, bukan tujuan. Tujuan hakikinya, ialah mencapai Keluarga SAMARA (Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah). Meskipun proses cintanya romantik, tetapi kalau hasil akhirnya hancur lebur; bukan itu yang diinginkan. Meskipun proses cintanya tampak mekanik, kaku, gak ada endah-endahnya; tetapi kalau hasil akhirnya benar-benar terbangun keluarga SAKINAH; nah, inilah yang diharapkan.

Nikmati bila ada; jangan sesali, jika tiada. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: