[08]. Perang di Zaman Nabi

Perang (battle) di masa Nabi Saw ada dua jenis: defensif dan ofensif. Defensif, berarti mempertahankan wilayah teritorial Islam dari serangan militer musuh dari luar. Perang Badar, Uhud, dan Khandaq, termasuk jenis perang defensif. Sedangkan perang ofensif, ialah bergerak keluar melakukan serangan ke wilayah musuh. Perang Hunain, Khaibar, dan Fathu Makkah termasuk jenis perang ofensif. Kedua jenis perang ini ada di zaman Nabi Saw.

Perang di masa Nabi bukan semata merupakan peristiwa kontak fisik belaka. Tidak demikian. Perang-perang ini rata-rata telah didahului oleh jenis-jenis perang lain, yaitu: perang ideologi, perang pemikiran, perang politik, perang ekonomi, perang budaya, perang simbol, hingga perang informasi. Jadi, perang fisik merupakan stadium terakhir dari rentetan panjang konflik.

Banyak orang salah menilai. Mereka beranggapan, kalau seseorang sudah bisa berteriak takbir, mengacungkan telunjuk jari (simbol Tauhid), bisa salto dan memakai rompi mujahid, bisa mengoperasikan AK47; itu pertanda dia telah siap terjun Jihad Fi Sabilillah. Perang di masa Nabi tidak se-simple itu. Jihad Fi Sabilillah merupakan resultan (hasil akumulasi) dari konflik menyeluruh di segala lini kehidupan. Maka Jihad itu merupakan jalan terakhir ketika konflik ini tidak menemukan kata solusi, selain dengan adu kekuatan fisik.

Misalnya, Perang Badar. Perang ini didahului oleh konflik keyakinan antara Tauhid dan paganisme di Makkah; juga didahului pemboikotan ekonomi kaum musyrikin terhadap ummat Islam dan Bani Hasyim; didahului konflik simbol-simbol sosial; didahului konflik kepemimpinan dan perubahan prngaruh politik; bahkan didahului perang informasi (saling memata-matai).

Perang: Solusi Terakhir untuk Membela Tauhid.

Perang: Solusi Terakhir untuk Membela Tauhid.

Perang atau battle, ia memiliki makna umum. Ia bisa berupa perang apa saja. Tetapi perang dalam konteks Jihad Fi Sabilillah, berbeda dengan perang secara umum. Jihad Fi Sabilillah adalah bentuk perang peradaban, antara peradaban Tauhid dengan selainnya. Ia bukan semata-mata bentrokan fisik, tembak-tembakan peluru, atau lempar-lemparan mortir. Tidak sesederhana itu.

Perang adalah jenis solusi konflik paling ekstrem, dengan sederet resiko dan dampak madharatnya. Tetapi Islam akan bertanggung-jawab penuh atas segala resiko itu, jika ia benar-benar merupakan Jihad Fii Sabilillah. Tetapi jika perang itu terjadi karena ketergesaan, sikap premature, menuruti hawa nafsu dan dendam, serta sikap mentang-mentang; maka Islam berlepas-tangan atas berbagai masalah yang timbul disana.

Minimal pahamilah, perang dalam Islam masih satu rangkaian dengan konflik-konflik di bagian lain. Ia tidak berdiri sendiri. Kontak fisik tak ubahnya seperti “puncak gunung es” di atas sekian banyak hakikat konflik yang terjadi. Bahkan sejatinya, perang itu merupakan pembuktian akhir: siapa pemenang sejati dari konflik keyakinan yang ada?

Perang bukanlah simbol sosial, atau icon public yang perlu kita gembar-gemborkan; karena di balik perang itu ada sekian banyak resiko sosial yang mesti ditanggung. Lagi pula, agama kita diturunkan ke bumi bukan untuk mengobarkan api peperangan; tetapi untuk menyebarkan hidayah dan rahmat. Tetapi jangan pula kita lengah untuk selalu mempersiapkan diri, bila-bila suatu masa agama memanggil putra-putra terbaiknya untuk terjun dalam kancah battle to help Tauhid.

Betapa indah sebuah hikmah Nubuwwah: “Janganlah kalian berangan-angan ingin bertemu musuh. Namun jika musuh sudah di hadapan, janganlah kalian lari.” []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: