[10]. Harta Umat dan Eksistensi Agama

Peran terpenting harta benda, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, adalah untuk menjaga eksistensi agama. Dengan bekal harta, kaum Muslimin bisa mendirikan masjid, membuat pakaian yang memenuhi standar Syariat, membuat rumah dan bangunan sebagai tempat hunian, membiayai proses belajar-mengajar, menyantuni fakir-miskin dan yatim-piatu, membantu para pemuda yang mau menikah, membantu anak-anak terlantar, membantu korban bencana alam, dan seterusnya. Banyak sekali amal-amal kebaikan bisa dilakukan, dengan sarana harta.

Sejak zaman awal Islam, harta sudah banyak digunakan untuk membantu kaum Muslimin yang fakir-miskin, menyelamatkan budak-budak Muslim dari tuannya, membiayai hijrah, membiayai kehidupan saat mengalami boikot ekonomi, untuk membiayai perdagangan (bisnis), dst. Ibaratnya, dimana ada dinamika kehidupan umat, disana harta-benda dibutuhkan.

Tetapi kemudian persepsi terhadap harta ini jauh menyimpang dari koridor Syariat. Sebagian orang mencari harta-benda semata untuk konsumsi pribadi, menaikkan gengsi sosial, dan memenuhi syahwat hedonisme. Tetapi ada juga yang anti-pati kepada harta, karena ia dianggap sebagai fitnah kehidupan dunia; harus dijauhi sejauh-jauhnya. Kedua sikap ini keliru.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta itu seperti pisau. Kita membutuhkan pisau bukan karena materinya, tetapi karena manfaatnya (yaitu untuk mengiris, memotong, memangkas, membelah, dll). Harta benda itu perlu dikelola, dikembangkan, diregulasi, untuk menghasilkan manfaat sebaik-baiknya bagi kehidupan kaum Muslimin. Tetapi tidak perlu juga menumpuk harta, membuang-buang harta untuk kemewahan, serta menghabiskan harta demi kesenangan sempit.

Seorang Muslim boleh hidup dalam kekurangan harta; jika seperti itu yang dia inginkan. Tetapi ummat Islam, sebagai komunitas kolektif, tidak boleh jatuh fakir-miskin; sebab jika itu terjadi, ia akan membuka pintu-pintu penderitaan hidup yang luas. Harus diingat, kemiskinan atau kefakiran, termasuk kondisi sosial yang ingin diberantas oleh Islam, melalui instrumen Zakat.

Misalnya, ketika tidak ada Muslim yang bisa membuat pabrik-pabrik, maka kaum Muslimin akan berduyun-duyun bekerja di pabrik milik non Muslim; lalu mereka dipaksa mengikuti aturan yang tidak Islami, dipaksa meninggalkan shalat, dipaksa makan makanan haram. Ketika tidak ada pedagang Muslim, maka kaum Muslimin akan menyerahkan transaksi dagangnya kepada orang lain; kemudian mereka terbawa-bawa cara berdagang bathil dan memperdagangkan barang haram. Ketika tidak ada Muslim yang mendirikan klinik, maka kaum wanita Muslimin saat berobat mereka membuka aurat di depan dokter-dokter non Muslim, bahkan melahirkan di tangan mereka. Ketika kemiskinan merajalela, maka kaum Muslimin melakukan kemusyrikan, melakukan kejahatan, melakukan penipuan, terjerumus ribawi, bahkan menjadi murtad (na’udzubillah min dzalik) karena godaan harta. Lihatlah semua ini, bahwa kelemahan dalam urusan harta-benda, membuka banyak kerusakan agama.

Maka ummat Islam harus memikirkan aset-aset ekonomi miliknya, dalam rangka menjaga eksistensi agamanya. Tanpa dukungan harta-benda, agama ini dalam bahaya. Sebaliknya, jika ummat Islam memiliki bekal harta-benda yang kuat, lalu memanfaatkannya untuk menjaga eksistensi agama, insya Allah ada harapan keterpeliharaan agama Allah.

Jagalah harta-bendamu, sebab ia berguna untuk menjaga agamamu!

Iklan

One Response to [10]. Harta Umat dan Eksistensi Agama

  1. piracetam berkata:

    Genderang perang terhadap kaum muslimin sebenarnya sudah ditabuh oleh orang-orang musyrikin sejak Rasulullah saw. mengumandangkan risalah dakwah yang ia bawa. Mereka menghalalkan darah kaum muslimin dan harta benda mereka di kota Makkah, khususnya terhadap orang-orang Muhajirin. Mereka rampas rumah dan kekayaan kaum Muhajirin. Orang islam pun melarikan diri dan menukarnya dengan keridhoan Allah swt. Kita dapat melihat sendiri bagaimana orang kafir Quraisy merampas dan menguasai harta benda Shuhaib sebagai imbalan diizinkannya ia untuk berhijrah ke Madinah. Kita pun dapat menyaksikan bagaimana mereka menduduki rumah-rumah dan peninggalan kaum muslimin yang ditinggal oleh pemiliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: