[09]. Konsep Pemberdayaan SDM Muslim

Prof. BJ. Habibie termasuk salah satu pakar yang sangat concern dengan ide pemberdayaan SDM. Dasar pemikiran beliau, di Indonesia ini Sumber Daya Alam (SDA) sifatnya terbatas; sementara jumlah penduduk sangat banyak. Kalau cadangan SDA semakin menipis, lalu hendak kemana anak-anak Indonesia mau cari pekerjaan? Nah, dengan pemberdayaan SDM, tenaga-tenaga ahli di Indonesia bisa melalang buana, mencari kerja kemana-mana. Demikian, konsep Habibie.

Sebenarnya, Islam sangat menekankan pemberdayaan SDM ini. Hanya saja, orientasinya tidak sesempit “mencari kerjaan”. Kita mengenal istilah, Insan Kamil (manusia yang sempurna). Dalam konteks SDM, Insan Kamil ini merupakan derajat kemanusiaan yang ingin dicapai melalui proses pemberdayaan manusia secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Manusia adalah makhluk dinamis, berbeda dengan benda (barang). Jika suatu barang rusak, ia bisa diperbaiki. Jika rusak lagi, diperbaiki lagi; hingga pada taraf kerusakan paling parah, barang itu tak bisa lagi diperbaiki. Dalam kondisi barang rusak, solusinya ialah disimpan, lalu selesai masalah. Tetapi, jika manusia rusak, ia tak bisa disimpan seperti barang. Manusia rusak akan berusaha merusak manusia yang lain, sehingga tersebarlah kerusakan lebih luas.

Tak Membangun SDM = Mempersiapkan Negara Suram

Tak Membangun SDM = Mempersiapkan Kehidupan Negara Suram

Maka pemberdayaan SDM adalah hak asasi setiap insan; agar hidup mereka baik, mulia, dan produktif. Negara manapun yang tidak memberdayakan rakyatnya, sama dengan merencanakan kegagalan bangsanya. Pilihannya hanya: mendidik manusia atau ia menjadi rusak?

Ketika negara-negara seperti Amerika, Jepang, Korea, China, Vietnam, Singapura, Malaysia, Australia, serta negara-negara Eropa Barat dan Skandinavia; mereka mengerahkan banyak anggaran untuk mendidik rakyatnya, sebenarnya hal itu adalah upaya logis untuk menghindari beban kehidupan sosial yang berat dan untuk memenangkan kompetisi. Jika mereka gagal mendidik rakyatnya, otomatis rakyat itu akan rusak, lalu menjadi beban negara yang sangat berat. Sebaliknya, kalau rakyatnya cerdas, sehat, dan produktif, maka negara-negara itu tidak merasa khawatir dengan kompetisi antar negara; bahkan mereka merasa yakin akan memenangi kompetisi tersebut. Tidak mengherankan jika Israel sangat sungguh-sungguh mendidik rakyatnya.

Dalam hal ini, pemberdayaan SDM Muslim minimal dilakukan dalam 3 aspek: (a). Pembinaan spiritual, agar dia bisa merasakan ketenangan jiwa sebagai seorang Muslim; (b). Pemberdayaan kemandirian ekonomi, agar dia bisa mencari nafkah (melalui bekerja atau berbisnis), sehingga tidak merepotkan orang lain; (c). Pemberdayaan wawasan ilmu, agar dia bisa mengembangkan kehidupan semaksimal mungkin, melalui sarana-sarana ilmiah.

Dalam konteks sebuah tatanan negara Islami, tanggung-jawab pemberdayaan ini ada di pundak negara Islam. Tetapi ketika sistem tersebut tidak ada, kaum Muslimin mesti memikirkan sendiri cara-cara memberdayaan kualitas SDM-nya. Adanya kerjasama dan sikap saling membantu sangat diutamakan, untuk menghasilkan capaian yang lebih baik.

Berdayakanlah dirimu, agar berdaya agama dan ummatmu!

Iklan

One Response to [09]. Konsep Pemberdayaan SDM Muslim

  1. Hamba Allah berkata:

    itu yg menjadi pertanyaan saya juga pak ustad, kenapa indonesia negara yg mayoritas penduduk nya ber agama islam terbesar di dunia ko punya peringkat rendah ya masalah SDM nya.. siapa yang salah yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: