[11]. Manajemen Bisnis dan “Sarang Burung”

Dalam bisnis, setidaknya ada 3 model manajemen, yaitu:

(A). Manajemen kapitalistik. Ia adalah manajemen yang lebih fokus untuk mencapai profit perusahaan. Dalam manajemen demikian perlakuan perusahaan kepada para karyawan cenderung tidak manusiawi. Para karyawan diposisikan seperti skrup-skrup mesin. Tetapi sisi baiknya, manajemen kapitalistik rata-rata memberikan kompensasi sepadan terhadap pengorbanan para karyawannya.

(B). Manajemen lembaga ruhani. Ia adalah manajemen yang penuh toleransi, tidak ada aturan ketat, tidak ada targetan-targetan. Para karyawan diperlakukan sangat baik, sesuai kepekaan perasaannya. Tetapi jeleknya manajemen seperti ini, ia tidak bisa memberi kompensasi materi yang baik. Kompensasinya tidak jelas, atau seikhlasnya. Kalau ada, diberikan; kalau tiada, cukup diberi imbalan “mohon maaf”.

Burung Membangun Sarang dengan Pertimbangan Ilmu.

Burung Membangun Sarang dengan Pertimbangan Ilmu.

(C). Manajemen kombinasi. Ia adalah manajemen yang berusaha memadukan nilai-nilai pada manajemen kapitalistik dan lembaga ruhani. Sisi terbaiknya, ketika dalam manajemen itu setiap karyawan diberi beban tugas/tanggung-jawab seringan dalam lembaga ruhani, tetapi mereka diberi kompensasi semahal dalam manajemen kapitalistik. Sisi terburuknya, ketika dalam manajemen itu setiap karyawan diberi tugas seberat manajemen kapitalistik, tetapi diberi imbalan semurah manajemen lembaga ruhani. Untuk kondisi terakhir, lebih tepat disebut “manajemen dajjal”.

Lalu di antara pilihan-pilihan model manajemen itu, mana yang terbaik?

Untuk mencari format manajemen terbaik, kita bisa belajar dari burung ketika mereka membuat sarang. Di balik teknologi burung dalam membuat sarang, terdapat ibrah manajemen sangat berharga. Di sisi kita sebutkan beberapa hikmah yang sangat menarik itu.

Pertama, burung ketika membuat sarang selalu dekat dengan sumber air dan makanan. Coba perhatikan, sarang burung selalu dekat dengan potensi makanannya. Secara bisnis, seorang Muslim ketika membuka usaha, bukalah di tempat-tempat yang dekat dengan sumber profit. Jangan menjauhi sumber profit, sebab roda perputaran bisnis bisa lambat atau berhenti.

Kedua, burung ketika membuat sarang selalu memikirkan faktor keselamatan sarangnya. Kalau Anda perhatikan, burung kadang membuat sarang di atas pucuk-pucuk daun padi. Sarang itu ditutupi oleh daun-daun padi yang segar (tetap tumbuh), sehingga tersamarkan dari pandangan hewan pemangsa atau manusia. Dalam bisnis juga begitu, seorang Muslim harus memikirkan faktor keamanan usahanya. Bagaimana caranya roda bisnis tetap jalan, tetapi aset-aset bisnis tidak dihancurkan orang lain. Burung saja memikirkan faktor keamanan, bagaimana dengan kita?

Ketiga, burung membangun sarang yang hangat bagi anak-anaknya. Begitu juga, pengusaha Muslim harus memberi kehangatan suasana bagi para karyawan dan anak-buahnya. Jangan menjadikan mereka seperti dalam “sarang penderitaan”. Pengusaha yang tidak mampu menghadirkan kehangatan bagi anak buahnya, dia tidak layak berbisnis.

Keempat, burung membangun sarang adalah untuk melahirkan generasi burung yang baru. Setiap pengusaha Muslim, dimanapun mereka mendirikan usaha, jadikan kesempatan itu untuk melahirkan generasi baru yang lebih baik. Generasi ini bisa dari keluarganya sendiri, atau dari kalangan kaum Muslimin secara umum.

Kelima, burung tidak putus asa jika suatu saat sarangnya diobrak-abrik oleh musuh. Burung akan berusaha membuat sarang baru, berusaha beranak-pinak lagi, dan melupakan yang sudah-sudah. Jika seorang pebisnis Muslim ditipu, dikadali, dihancurkan bisnisnya; tidak membuat dia putus asa, dia kan terus berusaha, bangkit, dan melakukan evaluasi. Jangan karena kejahatan lalu kita berhenti berusaha; tetapi teruslah berbuat, berkarya, dan memberi semampunya.

Belajarlah dari burung, untuk memperbaiki bisnismu, memperbaiki manajemenmu, memperbaiki karya usahamu! Dan tentu saja, lupakan “manajemen dajjal”!

Iklan

2 Responses to [11]. Manajemen Bisnis dan “Sarang Burung”

  1. Fulan berkata:

    izin share akh.. jazakallahu khair

  2. abisyakir berkata:

    @ Fulan…

    Ya silakan, wa iyyakumul jaza’ wa fadhlun khair.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: