[14]. Karakter Ahlus Sunnah

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi wa sallam, amma ba’du.

Untuk menjadi seorang Ahlus Sunnah, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan proses, perjuangan, dan keteguhan hati untuk menetapi jalan ini. Prinsipnya sederhana, tetapi praktiknya tidak sederhana. Mula-mula kita harus mencari ilmu Syariat dan mengamalkan ilmu tersebut; kemudian dalam pengamalan agama ini, kita harus menghindari jalan-jalan sesat-menyesatkan. Hanya itu saja; tetapi lika-liku dalam pengamalan ini, butuh kesabaran dan keteguhan.

Dalam Al Qur’an ada sebuah ayat yang menjadi kaidah dasar dan sekaligus memudahkan langkah kita, alhamdulillah. Dengan memahami ayat ini secara benar, kita bisa ketemu jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah; insya Allah. Ayatnya sebagai berikut:

Keindahan Islam akan Tampak dari Totalitas dan Kelengkapan Syariatnya.

Keindahan Islam akan Tampak dari Totalitas dan Kelengkapan Syariatnya.

Ya aiyuhal ladzina amanuu, udkhulu fis silmi kaaffah, wa laa tattabi’u khuthuwatis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin” (wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaaffah, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena dia adalah musuh yang nyata bagi kalian). [Al Baqarah: 208].

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, agar mereka mengambil seluruh sisi ajaran Islam dan Syariat-syariat-Nya, mengamalkan seluruh perintah-perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangan-Nya, sekuat kesanggupan mereka dalam hal itu.” Pengertian ini merangkum tafsir para Salaf terhadap ayat ini.

Intinya, dalam menjalankan Islam itu harus secara menyeluruh, totalitas, tidak parsial. Selengkap Syariat Islam diturunkan kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, maka selengkap itu pula yang harus kita laksanakan. Hal ini sangat terkait dengan keridhaan Allah atas agama-Nya.

Al yauma akmaltu lakum dinakum, wa atmamtu ‘alaikum ni’mati wa radhitu lakum Islama dinan” (di hari ini telah Aku lengkapkan bagi kalian agama kalian, telah Aku sempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian). [Al Maa’idah: 3].

Kelengkapan agama, bukan hanya menunjukkan keunggulan Islam atas agama-agama lain; tetapi sekaligus ia menjadi kunci untuk menutup pintu-pintu kesesatan. Perhatikan lagi sambungan dari Surat Al Baqarah ayat 208 di atas: “Wa laa tattabi’u khuthuwatis syaithan, innahu lakum ‘aduwwun mubin” (dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena ia adalah musuh yang nyata bagi kalian). Kalau kita tidak lengkap dalam mengikuti ajaran Islam, terbuka peluang kita masuk dalam ajaran-ajaran sesat. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Dan faktanya, aliran-aliran sesat yang ada, rata-rata mereka tidak mampu memikul amanat Syariat Islam secara lengkap (totalitas). Komitmen Syariat mereka selalu terpecah-belah. Khawarij mengklaim komitmen dengan hukum Islam, tetapi mereka mencabik-cabik persatuan Islam. Mu’tazilah mengaku pro amar makruf nahi munkar, tetapi mereka mendahulukan akal daripada Wahyu. Syiah Rafidhah mengaku mencintai Ahlul Bait, tetapi mereka melecehkan isteri-isteri Nabi dan menolak mayoritas para Shahabat Nabi. Jabbariyah dan Qadariyah cacat dalam pemahaman mereka atas takdir. Murji’ah mementingkan iman di hati, mengabaikan pengamalan Syariat secara zhahir. Sementara Jahmiyah menafikan Sifat-sifat Allah dan perbuatan-Nya.

Harus diingat baik-baik, komitmen Syariat Islam haruslah bersifat totalitas (menyeluruh). Kalau tidak menyeluruh, hal itu akan menghancur-leburkan agama. Dalam Al Qur’an disebutkan:

Afatu’minuna bi ba’dhil kitabi wa takfuruna bi ba’dhin? Fa maa jaza’u man yaf’alu dzalika minkum, illa khiz-yun fil hayatid dunya, wa yaumal qiyamati yuradduna ila asyaddil ‘adzab” (apakah kalian beriman kepada sebagian isi Al Kitab dan kufur terhadap sebagian yang lain? Maka tidaklah balasan bagi yang berbuat seperti itu di antara kalian, melainkan berupa kehinaan dalam kehidupan dunia; dan kelak di Hari Kiamat mereka akan dikembalikan ke dalam adzab yang sangat berat). [Al Baqarah: 85].

Dalam ayat lain: “Dan janganlah kalian menjadi bagian orang-orang musyrik, (yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka, dan mereka menjadi golongan-golongan; (lalu) masing-masing golongan berbangga dengan apa yang ada di sisi mereka.” [Ar Ruum: 31-32].

Dalil lain yang lebih mengokohkan lagi, ialah: “Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa li ya’budun” (tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka mengibadahi-Ku). [Adz Dzariyaat: 56].

Ayat ini berkaitan dengan jati diri manusia untuk hidup dengan mengibadahi Allah Ta’ala. Dan ibadah itu bersifat menyeluruh, dalam segala sisi hidup manusia. Dimanapun ada dinamika hidup manusia, disana tuntunan Syariat Islam eksis untuk memberikan arahan dan bimbingan.

Maka masuk Islam secara total, berarti menerima keseluruhan Syariat Islam, serta tidak memecah-belah kesatuan Syariat itu sendiri. Mungkin saja dalam pengamalan, kita belum mampu melaksanakan Syariat secara penuh; tetapi selagi kita meyakini kebenaran Syariat secara penuh (totalitas), maka hal ini akan menjaga kita tetap berada di atas Sirath Al Mustaqim. Inilah jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Makanya kalau Anda perhatikan sejarah, yang mampu melaksanakan Syariat Islam secara penuh dalam tatanan negara Islami, hanyalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Daulah Islam Madinah di era Nabi, Daulah Islam di era Khulafaur Rasyidin, Daulah di era Umawiyah, Daulah Abbasiyah, Daulah Umawiyah Barat (Andalusia), Daulah Saljuk, Daulah Ayyubiyah, Daulah Mamalik, Daulah Turki Utsmani, dan lainnya; semua itu berdiri di atas Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Kalau Anda ditanya: Lalu konsep Ahlus Sunnah Wal Jamaah itu bagaimana?

Maka jawablah begini: “Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah komitmen untuk melaksanakan Syariat Islam secara kaaffah (totalitas), seperti yang dilaksanakan oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan para Khulafaur Rasyidin Radhiyallahu ‘Anhum.

Ahlus Sunnah bukan Khawarij yang bermudah-mudah mengkafirkan sesama Muslim; bukan pula Syiah Rafidhah yang menolak kemuliaan isteri-isteri Nabi dan mayoritas para Shahabat; bukan Murji’ah yang mengabaikan pengamalan Syariat dalam kehidupan nyata; bukan Mu’tazilah yang mengagungkan akal melebihi Wahyu; bukan Jabbariyah dan Qadariyah yang menyimpang dalam memahami Takdir; bukan Jahmiyah yang menafikan Sifat-sifat Allah; bukan Liberal (SEPILIS) yang menghujat kaidah-kaidah agama yang fundamental; bukan Ahmadiyah yang memposisikan Mirza Ghulam sebagai teladan dan panutan agama; bukan Sufisme yang mengutamakan spiritualitas dengan menafikan Syariat; bukan politikisme yang menjadikan kekuasaan sebagai agama dan tujuan hidup; bukan verbalisme yang menjadikan ajaran agama sebagai komoditas ceramah, untuk mencari uang; bukan primordialis-nasionalisme yang meletakkan kesukuan/kebangsaan melebihi agama; dan bukan aliran-aliran sesat lainnya.

Sebagai penutup, kami petikkan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah dari kitab Minhajus Sunnah Nabawiyah.

Beliau berkata: “Wa Ahlus Sunnah yattabi’unal haqqa min rabbihim alladzi ja’a bihir Rasulu, wa laa yakfuruna man khalafahum fihi, bal hum a’lamu bil haqqi wa arhamu bil khalqi, kamaa washafallahu bihil Muslimina bi qaulihi, kuntum khairu ummatin akhrajat lin naas.

[Dan Ahlus Sunnah mengikuti kebenaran dari Rabb mereka, dimana Rasul datang membawa kebenaran itu, mereka tidak mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka dalam kebenaran; akan tetapi mereka itu paling tahu tentang kebenaran dan paling pengasih kepada makhluk, sebagaimana yang Allah sifati kaum Muslimin dengan firman-Nya: kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan dari golongan manusia (Surat Ali Imran)].

Ahlus Sunnah itu pasti komitmen dengan Syariat Islam; Syariat disini sifatnya kaaffah (totalitas), sebagai satu kesatuan, bukan tercerai-berai; dan perilaku Ahlus Sunnah itu ‘alim dalam kebenaran, dan pengasih kepada makhluk Allah (manusia dan lainnya). Wallahu a’lam bisshawaab.

Rabbighfirli wa li walidaiya warhamhuma ka maa rabbayani shaghira. Amin.

(Abine Syakir).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: