Membaca Pidato Anas

Surprised !!!

Itulah komentar pendek yang bisa disampaikan untuk pidato politik Anas Urbaningrum, di kantor pusat DPP Demokrat di Jl. Kramat Raya Jakarta, 23 Februari 2013. Ini adalah pidato untuk merespon pengumuman KPK yang menyatakan Anas sebagai tersangka korupsi gratifikasi proyek Hambalang, sehari sebelumnya.

Dari sisi komunikasi, pidato Anas disampaikan tanpa teks, runut, perlahan-lahan, tidak ada kata-kata “eee…eee…” Seluruhnya disampaikan dengan bahasa yang lugas, tenang, kronologis. Ia tidak keluar dari karakter Anas yang tenang, kalem, memilih kata-kata. Dalam sejarah politik Indonesia, ini termasuk salah satu pidato terbaik yang perlu dicatat; dari sisi komunikasi politik.

Dari sisi politik, Anas telah mengeluarkan sebagian serangan keras-nya ke sosok SBY dan politisi-politisi Demokrat di sekitarnya. Anas baru mengeluarkan sebagian dari amunisi yang dia simpan. Sungguh, serangan lewat pidato politik Anas ini amat sangat keras…keras sekali; terutama menohok jantung SBY dan dapur politik Partai Demokrat. Yakinlah, SBY butuh ketegaran khusus untuk mendengar serangan dari Anas ini.

Selain menyerang SBY, pidato Anas juga secara telak menyerang KPK. KPK dianggap sebagai lembaga “super body” yang tidak suci dari intervensi politik. Bahkan Burhanuddin Mubtadi juga menyesalkan pernyataan Abraham Samad yang bebarengan dengan keluarnya 8 poin statement politik SBY. Seakan, pernyataan Samad memberi amunisi kepada SBY untuk terus mendesak Anas. Yang lebih aneh lagi, salah satu butir pakta integritas yang ditanda-tangani Anas, isinya kurang lebih: kader Demokrat siap mundur, kalau menjadi tersangka KPK. Seakan segalanya sudah dipersiapkan, agar Anas cepat tersingkir dan tidak berkutik lagi.

Sebagai perbandingan, untuk menghadapi Muhammad Nazaruddin saja, Partai Demokrat sudah hancur-lebur; apalagi menghadapi Anas yang lebih kuat, pintar, dan memiliki jaringan politik luas. Badai politik yang akan dihadirkan oleh Anas, secara teori, bisa lebih hebat dari Nazaruddin. Harus dicatat juga, baik Nazaruddin maupun Anas, sama-sama dari daerah pemilihan Jawa Timur. Intinya, SBY bisa mendapatkan lawan politik baru yang tangguh.

Oh ya, satu yang ingin kita komentari dari pidato Anas Urbaningrum, yaitu tentang istilah: “Bayi yang tidak diharapkan kelahirannya“. Mengapa muncul pernyataan sekeras itu?

Dari informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis, kira-kira background masalah itu sebagai berikut: Ketika terjadi Kongres Demokrat di Padalarang, Kab. Bandung Barat. Ketika itu pertarungan memperebutkan posisi Ketua Umum PD mengerucut ke dua figur, yaitu: Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum. Pihak Cikeas secara umum mendukung Andi Malarangeng; Irfan Baskoro gandeng-renteng dengan Andi Malarangeng kesana-kemari menyampaikan dukungan politik Cikeas ke sosok Andi. Tapi dalam satu pertemuan tertutup elit-elit Demokrat terjadi insiden yang mengejutkan. Waktu itu pertemuan ingin menyepakati suatu keputusan politik tertentu, lalu ada yang berkata: “Tunggu dulu! Jangan putuskan dulu! Kita perlu menunggu pandangan Ibu Ani Yudhoyono.”

Ketika mendengar nama Ibu Ani Yudhoyono disebut-sebut, seketika Ahmad Mubarok, salah seorang elit Demokrat, segera memberikan tanggapan keras. Dia menolak ide untuk meminta persetujuan Bu Ani terlebih dulu. “Tidak perlu Ibu Ani Ibu Ani-an!” kira-kira begitulah ucapan Ahmad Mubarok. Maka ucapan Ahmad Mubarok ini segera dilaporkan ke Bu Ani yang ada di Cikeas. Mendengar namanya disepelekan oleh Ahmad Mubarok yang notabene adalah pendukung Andi Malarangeng juga; maka Bu Ani segera memberikan “hukuman politik” untuk grup Andi Malarangeng. Dia menyerukan agar dukungan politik dialihkan ke Anas Urbaningrum. Sementara Pak SBY hanya bisa menonton intervensi isterinya ke arena kongres. Inilah insiden politik yang kemudian berujung terpilihnya Anas. Jadi, pada awalnya dukungan kubu Cikeas memang bukan untuk Anas.

Begitu kira-kira informasi yang pernah disampaikan seorang aktivis terkait situasi di Kongres Demokrat di Padalarang yang akhirnya menguntungkan posisi Anas Urbaningrum. Maka itu, posisi Ahmad Mubarok di Demokrat jadi seperti tenggelam. Baru-baru ini Ahmad Mubarok menyatakan bahwa Ibas tidak mungkin akan menjadi pengganti Anas. Seakan, Ahmad Mubarok masih memendam rasa kesal dengan seorang ibu tertentu.

Bagi yang belum mendengar pidato Anas Urbaningrum, silakan lihat di link berikut ini:

Oke. Selamat bersiap-siap membaca buku-buku selanjutkan yang akan dibuka oleh Anas seputar aurat-aurat Partai Demokrat dan politik SBY. Selamat membaca ya!

Mine.

Iklan

One Response to Membaca Pidato Anas

  1. Fulan berkata:

    Ane cuma heran aja, kenapa harus nyalahin KPK? Kalo pola pikir seperti ini dibangun bisa2 para maling nyalahin polisi dong! Legowo aja lah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: