[16]. Syaikh Hasan Al Bana dan Kitab Al Ma’tsurat

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

Tulisan ini disusun bukan untuk maksud politis, bukan untuk membentuk opini dan sensasi. Ia disusun dalam rangka menghormati ilmu dan ulama. Siapa yang diberi karunia ilmu, memiliki sumbangsih dalam perjuangan Islam, istiqamah dalam hidupnya; layak mendapatkan pujian universal dari kaum Muslimin, serta doa-doa kebaikan baginya.

Seperti dimaklumi, Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah, berasal dari Mahmudiyah, Bahirah Mesir. Beliau dilahirkan pada Oktober 1906 M. Ayahnya bernama Ahmad Abdurrahman Al Bana, penyusun kitab hadits,  Al Fathur Rabbany li Tartib Musnad Al Imam Ahmad. Ayah beliau ahli dalam memperbaiki jam sehingga sering dijuluki As Sa’ati (tukang jam).  Bagi kalangan tertentu yang alergi dengan Ikhwanul Muslimin; biasanya akan menyebut Syaikh Ahmad Al Bana dengan julukannya, As Sa’ati.

Kitab Populer Karya Syaikh Al Bana

Kitab Populer Karya Syaikh Al Bana

Selama hidupnya, Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah memiliki beberapa karya ilmiah. Karya-karya itu rata-rata bersifat praktis dan mencerminkan manhaj dakwah Jamaah Ikhwanul Muslimin. Tetapi ada juga karya yang berupa memoar.

Selain itu, ada satu karya yang sangat menarik, yaitu Al Ma’tsurat.  Kitab ini berbentuk buku saku dan isinya sangat praktis. Ia sangat populer sebagai buah karya Syaikh Al Bana; dibaca dan diamalkan banyak kalangan, baik pendukung Ikhwanul Muslimin maupun orang-orang selain mereka. Di pesantren Daarut Tauhiid Bandung, Aa Gym pernah membiasakan santri-santrinya, setiap pagi dan sore, melafadzkan dzikir-dzikir dalam kitab tersebut.

Kitab Al Ma’tsurat karya Syaikh Al Bana ini memiliki beberapa keunikan. Pertama, kitab itu sangat praktis dan ringkas, berisi bacaan-bacaan dzikir yang perlu dibaca setiap pagi dan petang. Kedua, rata-rata dzikir yang disebutkan disana bersumber dari dalil-dalil hadits Nabi. Ketiga, dari sisi nama sangat menarik, Al Ma’tsurat. Kalau diartikan kurang lebih: Bacaan-bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam. Istilah Al Ma’tsurat itu kira-kira senada dengan istilah-istilah seperti Al Musnad, Ar Riwayat, Al Hikayat, dan lain-lain.

Kitab Al Ma’tsurat ini pertama kali beredar di Indonesia dalam bentuk buku saku, versi cetakan Malaysia. Diterbitkan oleh Pustaka Tadabbur, Dewan Pustaka Fajar, Shah Alam, Selangor. Cetakan pertama, Mei 1983. Ia dicetak dalam versi Al Wazhifah Al Kubra (format lengkap) dan Al Wazhifah As Sughra (format praktis). Penerbit Mizan juga menerbitkan Al Ma’tsurat ini dalam format cetakan lebih besar (tetapi untuk ukuran buku standar, ia tetap terlihat kecil dan tipis).

Kita perlu bersyukur kepada Allah Ta’ala, lalu memuji penulisnya, dengan tersebarnya kitab Al Ma’tsurat itu. Sebab, di balik tersebarnya kitab praktis ini, ia bermanfaat untuk menghidupkan salah satu Sunnah Nabi yang sangat penting, yaitu: Dzikir pagi dan petang. Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah bisa dikatakan sebagai ulama dakwah zaman modern yang berjasa menghidupkan kembali Sunnah ini. Jauh sebelum Syaikh Al Bana menyusun Al Ma’tsurat, Imam Nawawi telah menulis kitab Riyadhus Shalihin dan Al Adzkaar. Dalam kedua kitab ini juga disebutkan dzikir-dzikir yang Sunnah dibaca pada saat pagi dan petang. Namun dalam format yang praktis dan mudah diamalkan, kitab Al Ma’tsurat tetap memiliki kelebihan.

Di kemudian hari bermunculan risalah-risalah dzikir serupa. Seperti risalah dzikir pagi dan petang yang ditulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Kitab ini disyarah oleh salah seorang penuntut ilmu di Saudi. Bentuknya sangat praktis seperti Al Ma’tsurat. Juga ada kitab doa populer, dalam format buku saku, Hisnul Muslim, karya Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani. Di dalamnya juga ada dzikir pagi dan petang.

Di zaman Imam Malik rahimahullah, terdapat banyak versi kitab Al Muwattha’. Tetapi kitab yang paling populer ialah Al Muwattha’ karya Imam Malik bin Anas, yang dikenal sebagai Imam Daarul Hijrah (Imam Kota Madinah). Pendapat-pendapat fikih beliau memiliki banyak pengikut, yang kemudian menjadi madzhab tersendiri, Madzhab Malikiyah. Mengapa kitab Al Muwattha’ karya Imam Malik lebih populer? Sebagian ulama menjelaskan, rahasianya ialah keikhlasan. Keikhlasan Imam Malik dalam ilmu, ‘amal, dan kehidupan, membuat karyanya lebih berkah dan diterima umat manusia.

Situasinya tidak jauh berbeda. Di antara kitab-kitab dzikir, Al Ma’tsurat hanyalah satu di antaranya. Tetapi pengaruh kitab ini sangat meluas, di kalangan Al Ikhwan maupun di luarnya. Mungkin, semua itu kembali kepada keikhlasan penyusunnya, perjuangannya, serta sumbangsihnya bagi Islam dan kaum Muslimin. Mujahadah beliau menjadi wasilah diterimanya kitab tersebut di hati-hati manusia.

Bukan berarti kitab Al Ma’tsurat bebas dari kritik. Tetap ada saja kritik yang disampaikan, sebagai buah nasehat dan perbaikan. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, bahwa Allah tidak rela menjadikan kitab lain lebih sempurna dari Kitab-Nya (maksudnya Al Qur`an). Jadi jika kitab-kitab karya ulama (manusia) ada kurang dan cacatnya, hal itu lumrah belaka.   

Kritik yang disampaikan untuk kitab Al Ma’tsurat, antara lain: (1). Pada sebagian riwayat hadits yang menjadi rujukan Syaikh Al Bana dianggap tidak kuat; (2). Di bagian akhir kitab, terdapat doa yang tidak jelas sumbernya dari hadits Nabi, terutama doa Rabithah; (3). Dalam adab dzikirnya, sebelum membaca doa Rabithah, disarankan setiap orang membayangkan wajah para ikhwah (teman seperjuangan); (4). Jika dzikir dibaca dalam majelis dzikir kolektif, pembacaan dzikir dipimpin oleh seseorang, dan para jamaah tidak boleh mendahului bacaannya; hal itu dianggap perbuatan haram. Hal-hal demikian termasuk kekurangan dari kitab tersebut. Namun kritik-kritik ini tidak mengurangi penghargaan, kesyukuran, dan apresiasi kaum Muslimin atas kitab Al Ma’tsurat.

Satu hal yang banyak dilupakan orang ketika berbicara sosok Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah. Beliau itu sebenarnya lahir dari keluarga ahli hadits. Ayah beliau bernama Ahmad Abdurrahman Al Bana. Beliau memiliki karya besar dalam hadits, yaitu: Al Fathur Rabbany li Tartib Musnad Al Imam Ahmad. Ia adalah kitab Musnad Imam Ahmad yang disusun kembali dalam susunan (tartib) yang bagus, lalu diberikan penjelasan seperlunya. Tidak kurang, Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah memuji dan mengagumi bagusnya susunan kitab tersebut.

Kitab Al Ma’tsurat sendiri, di luar bentuknya sebagai panduan dzikir praktis; ia tidak lepas dari dalil hadits-hadits Nabi, tidak heran jika namanya Al Ma’tsurat. Apalagi di dalamnya terdapat suatu usaha mulia untuk menghidupkan kembali Sunnah dzikir pagi dan petang. Tentu hal itu tidak lepas dari peranan sang ayah Syaikh Ahmad Al Bana yang memang juga ulama hadits. Beliau menulis kitab Al Fathur Rabbani li Tartibi Musnad Imam Ahmad.

Note: Hasil karya ayah Syaikh Al Bana itu sangat menarik. Bukan saja karena susunan kitabnya dianggap bagus dan runut; tetapi ya kitab Musnad Imam Ahmad itu sendiri. Bukankah ia menjadi rujukan utama Madzhab Hanbali? Dari sisi ini bisa jadi ada kedekatan koneksi antara Jamaah Ikhwanul Muslimin dengan dakwah “Wahabiyah” (jika mau disebut begitu). Sebab kalangan Salafiyah ini jelas merujuk fikih Imam Ahmad; dan dalam 20 Prinsip Dakwah Syaikh Al Bana, disana jelas ada penekanan terhadap Tauhid dan Sunnah. Maka itu alangkah baik kalau kedua komunitas Al Ikhwan dan Salafiyah senantiasa berhubungan baik, seperti kenyataan di Mesir.

Terakhir, teringat beberapa pesan Syaikh Al Albani terhadap pemimpin dan kader-kader Al Ikhwanul Al Muslimun. Syaikh Al Albani punya hubungan historis dengan Al Ikhwan, karena beliau tadinya juga disana. Beliau dikeluarkan dari Al Ikhwan karena kritiknya yang tajam terhadap karya-karya Sayyid Quthb rahimahullah.

Ketika Jamaah Al Ikhwan banyak terlibat dalam politik, kader-kadernya banyak masuk ke parlemen, lalu komitmen Syariatnya meluntur perlahan-lahan. Saat itu Al Albani menasehatkan, agar Al Ikhwan kembali ke azas semula, yaitu mentarbiyah umat. Ketimbang banyak terlibat politik praktis, lebih baik menggalakkan pembinaan ilmu dan ruhiyah. Ternyata, untuk ulama sekaliber Syaikh Al Albani rahimahullah, beliau tidak seekstrem yang orang bayangkan. Dan upaya tarbiyah itu selaras dengan missi dakwah beliau: Tasfiyah wa Tarbiyah. Uniknya, profesi ayah Syaikh Al Bana sama seperti profesi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani di masa mudanya, sebagai tukang memperbaiki jam.

Semoga kajian sederhana ini bermanfaat dan menginspirasi, bi idznillah.

Sebelum ditutup, saya ingin mengenang jasa-jasa Al Ustadz Salim Bahreisy rahimahullah. Beliau adalah seorang penerjemah kitab-kitab Arabiyah yang mumpuni. Salah satu kitab terjemahan beliau yang sangat terkenal, ialah kitab Riyadhus Shalihin; diterbitkan oleh PT. Al Ma’arif Bandung. Masya Allah, terjemahan beliau ini sangat bagus, baik, dan konsisten. Walhamdulillah, Allah menunjuki kami jalan ilmu dan mencintai Sunnah, melewati kitab terjemah beliau tersebut. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmati  Al Ustadz Salim Bahreisy, memberikan limpahan ampunan, meluaskan kuburnya, serta memudahkan jalannya menuju jannah-Nya; serta memberkahi dan menolong kehidupan anak-keturunannya. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Aisyah, Fathimah, Khadijah).

Iklan

One Response to [16]. Syaikh Hasan Al Bana dan Kitab Al Ma’tsurat

  1. fedisays berkata:

    sy jg nulis sesuatu yg menyinggung hasan al-banna di blog saya. baca ya http://fedisays.wordpress.com/2013/02/16/pribadi-muslim/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: