Beberapa Bentuk Ungkapan Spontan

Maret 27, 2013

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar adanya ucapan-ucapan spontan. Bentuknya macam-macam, ada yang Islami, ada yang umum, ada yang bersifat etnikal (kedaerahan).

Ucapan spontan ini biasa diucapkan ketika terkejut, merasa takjub, kesakitan, mendadak terjadi insiden, sangat gembira sekali, sangat sedih sekali, dan sebagainya. Pokoknya, momen-momen spontan.

Berikut ucapan-ucapan spontan dengan berbagai versinya. Disini disebut sesuai bunyi lafadz, bukan ejaan:

== Masya Alloh (semua ini terjadi dengan kehendak Allah).

== Subhanalloh (Maha Suci Allah).

== Allohu Akbar (Allahu Maha Besar).

== Laa ilaha illalloh (tiada sesembahan selain Allah).

== Astaghfirulloh (aku mohon ampun kepada Allah).

Hati Manusia Selalu Terikat dengan Tuhan (Allah Ta'ala).

Hati Manusia Selalu Terikat dengan Tuhan (Allah Ta’ala).

== Ucapan “astaghfirullah” kemudian di-indonesiakan menjadi: Astaga! (Malah ada yang mengatakan: Astaga naga! Lebay…).

== Ya Alloh (paling banyak diucapkan oleh ibu-ibu, atau mbak-mbak).

== Ya Ilahi (artinya, wahai Tuhanku).

== Ya Robbi (wahai Rabb-ku).

== Ya Robbana (wahai Rabb kami).

== Ya Ilah (wahai Tuhan).

== Ya Ela (versi orang Betawi, ketika melihat orang lebay).

== Duile (versi Benyamin S dalam film-film masa lalu).

== Duh Gusti Kang Moho Agung (versi orang Jawa, artinya: wahai Tuhan yang Maha Agung).

== Ya Tuhan (versi umum orang Indonesia, Muslim atau non Muslim).

== Oh My God (versi Inggris-Amerika, sangat populer).

== OMG (singkatan Oh My God, versi anak-anak ABG).

== …

Apa lagi ya? Ada yang tahu, atau mau menambahkan? Ayolah… Mungkin ada versi-versi dari bahasa daerah lain?

Nah, itu sebagian ungkapan spontan yang biasa diucapkan. Hal ini menandakan bahwa manusia tidak bisa lepas dari harapan dan bergantung kepada Tuhan (Allah Ta’ala). Semoga Allah selalu melindungi, merahmati, dan memberikan petunjuk hidayah dan penjagaan kepada kita (kaum Muslimin). Amin ya Rabbal ‘alamiin.

(Mine).


Antara Taqlid dan Ijtihad

Maret 27, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kalau mendengar kata “taqlid”, bayangan kita segera teringat orang-orang tertentu yang sangat fanatik, yang mengikuti apa saja dan bagaimana saja pendapat guru (syaikh) mereka; tidak peduli apakah pendapat itu selaras Kitabullah dan Sunnah, atau tidak. Tentu kita seperti jengkel atau tidak suka dengan orang-orang taqlid itu.

Perbedaan Pendapat Ilmiah Seperti Pelangi. Jangan Saling Menafikan.

Perbedaan Pendapat Ilmiah Seperti Pelangi. Jangan Saling Menafikan.

Tetapi, ketika kita membayangkan lawan dari taqlid, yaitu “ijtihad”; seketika terbayang imam-imam ahli fiqih yang sangat mumpuni di masa Salaf dulu. Membayangkan diri kita dengan mereka, dari sisi ilmu, pemahaman, ketakwaan, dan perjuangan; tentu saja sangat jauh. Jika berbicara tentang isu ijtihad ini, rata-rata kita merasa minder, karena tingginya maqam mujtahid tersebut.

Berikut ini sebuah dialog tentang “taqlid vs ijtihad” yang dimuat di Islampos.com. Dialog ini antara Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah dengan Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi. Kami turunkan dialog ini apa adanya, seperti dalam situs di atas. Selamat menyimak.

ADA sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”

Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”

Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”

Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka.

KOMENTAR:

Kalau kita membaca perbandingan pendapat fikih, sebenarnya mayoritas ummat Islam bersepakat atas pokok-pokok Syariat Islam. Maksudnya, madzhab-madzhab fikih Ahlus Sunnah banyak bersepakat dalam pokok-pokok Syariat Islam yang memiliki nash-nash sangat jelas (qath’iyyah).

Jika ada perbedaan, biasanya dalam masalah-masalah cabang, dalam hal-hal tertentu yang sifatnya detail. Hal ini biasanya bisa dicarikan solusinya melalui beberapa cara:

[a]. Melakukan studi vaiditas terhadap riwayat-riwayat yang dijadikan patokan, sehingga dapat diketahui mana yang shahih dan mana yang lemah. Syaikh Al Albani rahimahullah banyak terlibat dalam urusan ini.

[b]. Melakukan studi validitas terhadap riwayat-riwayat yang memuat pendapat para Shahabat Ra atau para Imam Madzhab. Kadang di antara riwayat-riwayat itu ada yang dikuatkan, ada yang dilemahkan. Seperti pendapat Ibnu Abbas Ra tentang “kufrun duna kufrin”, ada sebagian orang yang melemahkan riwayat itu.

[c]. Menempuh metode thariqul jam’i, mengumpulkan sekian banyak dalil Syar’i, lalu mengeluarkan kesimpulan terkuat dari dalil-dalil itu. Kadang metode ini juga dikenal sebagai manhaj tarjih. Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah dalam Fiqhus Sunnah menempuh metode ini.

[d]. Cara yang bagus ditempuh oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah, ketika satu sisi beliau mengikuti madzhab Hanbali, tetapi di sisi lain beliau mencari pendapat terkuat jika dalam madzhab Hanbali ada pendapat-pendapat yang lemah. Dan sikap Ibnu Taimiyyah ini banyak diikuti oleh ulama-ulama di zaman modern.

Singkat kata, pendapat Al Buthi ada benarnya, ketika kaum Muslimin dianjurkan mengikuti salah satu pendapat Imam Madzhab (Ahlus Sunnah). Hal ini seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah yang konsisten dengan madzhab Hanbali; juga seperti Ibnu Katsir rahimahullah yang konsisten dengan madzhab Syafi’i.

Tetapi, pendapat Al Albani rahimahullah juga ada benarnya, yaitu bersikap kritis dalam mengambil pendapat, termasuk kepada madzhab yang diikuti. Hal itu seperti yang dilakukan imam-imam besar seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnu Rusyd, Dawud Az Zhahiri, Ibnu Hazm, dan lain-lain rahimahumullah.

Dialog di atas tidak mesti dibawa ke ranah “siapa menang, siapa kalah”. Itu kesimpulan yang tidak bagus. Biasalah, dalam lingkup perdebatan ilmiah ada perbedaan pendapat.  Janganlah kita mengatakan, Imam Al Albani kebingungan. Itu tidak bagus. Karena para ulama yang berilmu (mampu berijtihad), tidak boleh saling menafikan.

Semoga bermanfaat. Amin.

(Abisyakir).


Sikap Salah Menyikapi Kematian Al Buthi

Maret 24, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Untuk kesekian kalinya kaum Muslimin berbeda pendapat. Kali ini tentang hakikat kematian Said Ramadhan Al Buthi yang tewas karena serangan bom, ketika sedang mengajar bersama murid-muridnya di sebuah masjid di Damaskus. Ada yang bersyukur atas kematian Al Buthi; ada yang bersedih karena mengakui keilmuannya; ada yang menduga dia dibunuh oleh pasukan Bashar Asad sendiri; ada yang berpendapat, dia sudah mau membelot dari Bashar, dan seterusnya.

Dalam konteks keindonesiaan, kita pernah berselisih ketika Abdurrahman Wahid meninggal. Ketika itu kaum Muslimin terbelah, antara yang simpati padanya dan yang mensyukuri kematiannya. (Bahkan kemudian, ada ide supaya dia diberi gelar sebagai pahlawan bangsa). Bagi kalangan Nahdhiyin atau simpatisan Wahid, dia dianggap sebagai wali Allah, manusia khusus, orang mulia, tokoh besar, bapak bangsa, dan seterusnya. Tetapi bagi kalangan aktivis dan gerakan Islam, dia banyak dituduh sebagai musuh Islam karena rekam jejak kehidupannya yang sangat banyak menghujat Syariat Islam, selama hidupnya.

"Ulama Mengetuk Pintu Para Penguasa"

“Ulama Mengetuk Pintu Para Penguasa”

Mungkin orang akan berkata: “Beda dong antara Al Buthi dan Abdurrahman Wahid? Al Buthi jelas ulama, ada karya-karya dan bukunya; sedangkan Wahid hanya budayawan doang.” Ya, di mata kita dia budayawan; tetapi di mata pendukung dan simpatisannya, dia dianggap sebagai ulama, fuqaha, hukama, dan seterusnya. Syaikh Al Buthi di mata sebagian orang dianggap sebagai ulama mumpuni; di mata yang lain, beliau tidak dianggap seperti itu.

Dalam kisah panjang tentang Ka’ab bin Malik Ra dan beberapa orang lainnya, yang tertinggal dalam perang Tabuk; kisah ini disebut terkait beberapa ayat dalam Surat At Taubah. Ka’ab bin Malik dkk. mendapat sanksi dari Nabi Saw karena tidak ikut berperang, tanpa alasan Syar’i. Mereka diboikot selama 40 hari, sehingga bumi yang luas terasa sempit bagi mereka.

Sementara orang-orang munafik di Madinah membuat-buat alasan di depan Nabi Saw, agar mereka tidak menerima sanksi. Lalu Nabi menerima alasan mereka, percaya kepada mereka, dan memohonkan ampunan atas mereka. Adapun soal bathin mereka, Nabi Saw bersabda: “Wa hisabuhum ‘alallah” (adapun soal perhitungan mereka yang sebenarnya, itu di sisi Allah). Kisah ini sangat populer, sehingga menjadi pedoman dalam Islam; bahwa kita tidak menyelidiki hati-hati manusia; kita cukup melihat sikap lahirnya saja. Kalau lahirnya baik, ya dianggap baik; kalau lahirnya buruk, dianggap buruk.

Dari Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud berkata: “Saya mendengar Umar bin Khaththab Ra berkata, ‘Sesungguhnya manusia pada masa Rasulullah Saw diberi keputusan dengan petunjuk wahyu, dan sekarang wahyu sudah terhenti. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai perbuatan yang nampak bagi kami. Maka barangsiapa tampak berbuat baik, niscaya kami mempercayai dan mendekatinya; dan bagi kami tidak perlu mempermasalahkan urusan batin, Allahlah yang memperhitungkan masalah batinnya. Dan barangsiapa yang tampak berbuat jahat, niscaya kami tidak mempercayai dan membenarkannya, walaupun dia mengatakan bahwa batinnya  baik.” (HR. Bukhari).

Terkait posisi Said Ramadhan Al Buthi, satu sisi beliau mempunyai karya-karya ilmiah, memiliki ilmu dan pengaruh, memiliki kontribusi bagi Islam dan Muslimin. Itu harus diakui. Tetapi beliau juga seorang ulama yang terang-terangan membela Bashar Assad dan memusuhi para Mujahidin Ahlus Sunnah yang anti Bashar Assad. Dia menyerukan kaum Muslimin membela Bashar Assad, dia menuduh kaum Mujahidin tidak menjalankan Shalat.

Loyalitas Al Buthi kepada Bashar Assad adalah masalah yang sangat berat dalam Syariat Islam, dengan alasan:

[1]. Bashar Assad adalah penjagal nyawa ratusan ribu kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Suriah.

[2]. Bashar Assad adalah putra penjagal lainnya, Hafezh Assad, yang telah membantai puluhan ribu aktivis Ikhwanul Muslimin Suriah. Bapaknya berlumuran darah ummat, anaknya lebih kejam lagi.

[3]. Bashar Assad adalah pengawal akidah Syiah Nusairiyah, yang kesesatan dan kekufurannya melebihi Syiah Imamiyah.

[4]. Bashar Assad adalah pemimpin politik dari partai Ba’ats yang berideologi Sosialisme Arab. Partai Ba’ats ini terkenal kerjasamanya dengan negara-negara komunis, seperti China dan Soviet (dulu).

[5]. Bashar Assad menindas kaum Ahlus Sunnah Suriah, memusuhi ulama-ulamanya; serta melindungi kaum Alawit ekstrem (Syiah Nusairiyah) sebagai minoritas yang berkuasa.

[6]. Bashar Assad membiarkan para pengikutnya melakukan kekufuran telanjang dengan berkata: laa ilaha illa bashar! Juga membiarkan mereka bersujud kepada foto-foto Bashar Assad.

[7]. Bashar Assad masuk dalam agenda bersama kaum Syiah Rafidhah untuk membentuk aliansi Iran-Iran-Libanon-Suriah yang berniat menguasai dunia Arab dan memaksakan ideologi Syiah-nya.

[8]. Bashar Assad memerangi para Mujahidinn Ahlus Sunnah dan menuduh mereka sebagai teroris.

[9]. Bashar Assad ingin mempertahankan penjajahan minoritas Syiah Nusairiyah atas negeri Ahlus Sunnah, Suriah. Padahal semua orang tahu, Damaskus sejak era Muawiyah bin Abi Sufyan Ra, adalah ibukota negeri Ahlus Sunnah. Penjajahan ini ingin terus dia lestarikan, sampai waktu yang Allah saja mengetahui akhirnya.

[10]. Politik Bashar Assad hendak mengadu-domba antar kaum Muslimin dengan cara dia seolah mendukung perjuangan Muslim Palestina, tetapi di sisi lain dia memusuhi Muslim (Ahlus Sunnah) di Suriah.

Alasan-alasan demikian (dan lainnya) membenarkan tuduhan sebagian ulama, bahwa Bashar Assad adalah seorang THAGHUT yang sangat berbahaya bagi kaum Muslimin. Lalu untuk apa seorang ulama berdiri di samping tokoh sejenis itu?

Ini bukan soal dukungan Amerika atau intervensi negara-negara Eropa, untuk menggulingkan Bashar Assad; sehingga kerja politik para pejuang Sunnah di Suriah seperti ditunggangi Amerika dkk. Bukan soal itu. Tetapi ialah soal sebab-sebab kezhaliman, kesesatan, dan kejahatan Bashar Assad itu sendiri. Secara Syariat Islam; kezhaliman, kesesatan, kejahatan Bashar Assad, TIDAK BISA DITOLERANSI sedikit pun. Tidak ada bagian untuk menerima semua itu, dengan alasan apapun.

Maka posisi Said Ramadhan Al Buthi bisa membahayakan kaum Muslimin dan Syariat agama ini. Nanti manusia akan menyangka, bahwa segala perbuatan terkutuk Bashar Assad dan pendukungnya; semua itu dibenarkan oleh Syariat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Maka kita harus sekeras-kerasnya mengingkari sikap Al Buthi ini, sebab dia telah meletakkan loyalitas tidak pada tempatnya; tidak peduli, setinggi apapun kadar keilmuwan dan karyanya. Sikap ini kita lakukan ialah untuk menjaga Syariat itu sendiri; agar tidak ada anggapan bahwa ilmu Syariat membenarkan pembantaian manusia, pemerkosaan wanita-wanita, penghancuran rumah-rumah, pembunuhan atas ulama-ulama, pembersihan pejuang Ahlus Sunnah, pembelaan atas kesesatan, penyebaran paham kufur/syirik, dan seterusnya. Syariat Islam harus diputus dari semua tuduhan itu.

Kita harus memvonis Al Buthi ini sebagai ulama yang berdiri di sisi para THAGHUT! Itu harus jelas, nyata, dan tegas! Tidak perlu ditutup-tutupi dan segan. Soal hatinya suci, batinnya bersih, ilmunya barakah, karyanya meluas, amalnya banyak, kontribusinya besar kepada Islam, dst. itu kita serahkan kepada Allah Al ‘Alim. Tugas kita, hanya menyikapi manusia sesuai zhahirnya. Kalau zhahirnya jelas membela THAGHUT, mau dikata apa lagi?

Mohon maaf, untuk kesekian kalinya, kita berbeda lagi. Mungkin akan ada yang mencoba mencarikan sekian alasan (udzur) untuk menyelamatkan posisi Syaikh Al Buthi; tetapi loyalitas (wala’) kepada Bashar Assad laknatullah ‘alaih, adalah sikap yang tidak dibenarkan; apalagi di mata seorang ulama.

Semoga kita senantiasa diberi sabar dan istiqamah oleh Allah Ta’ala untuk menjaga agama ini, sekuat kemampuan dan kesempatan. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Depok, 24 Maret 2013.

(Abisyakir).


Syaikh As Shabuni Hafizhahullah: Syaikh Hasoun dan Al Buthi Mereka Munafik dan Sesat !!!

Maret 23, 2013

Atas tewasnya Syaikh Said Ramadhan Al Buthi di sebuah masjid karena ledakan bom; kaum Muslimin berselisih pendapat, apakah Syaikh ini tewas di jalan Islam atau di jalan thaghut (Bashar Assad)?

Tapi masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Pada tanggal 5 Desember 2011, telah beredar perkataan dari seorang ulama ahli tafsir yang sangat disegani di Indonesia, yaitu Syaikh Muhammad Ali As Shabuniy hafizhahullah. Beliau ini beberapa bulan lalu berkunjung ke Indonesia dan dielu-elukan di pesantren tradisional. Beliau ini adalah ulama ahli tafsir yang menulis kitab tafsir Shafwatut Tafasir (tafsir-tafsir pilihan). Maksudnya, beliau memilih tafsir terbaik atas ayat-ayat Al Qur’an, lalu mengumpulkannya dalam satu kitab tafsir.

Tidak disangka, atas izin Allah semata; sebelum kaum Muslimin berselisih tentang Al Buthi, jauh-jauh hari Allah telah memberikan bayan lewat ulama-Nya. Masya Allah wlhamdulillah.

Ternyata, Syaikh As Shabuniy telah berbicara keras tentang Syaikh Ahmad Hasoun (Mufti Suriah) dan Syaikh Said Ramadhan Al Buthi. Beliau menyebut kedua syaikh tersebut sebagai syaikh munafik dan sesat yang telah menjual agama untuk dunia. Berikut ini ceramah beliau sebagaimana tersebar di situs internasional:

Maka kaum Muslimin tidak perlu menghina Syaikh Said Ramadhan Al Buthi; tidak perlu, tidak perlu sama sekali. Sebab Allah Ta’ala telah memberikan penilaian atasnya melalui lisan ulama-ulama-Nya yang istiqamah di jalan-Nya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.

NB: Akan lebih baik kalau kaum Muslimin men-download ceramah ini, atau ada yang mau menerjemahkan ceramah ini. Syukran jazakumullah khair.


[18]. Konsep Sukses dalam Islam

Maret 13, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Konsep sukses dalam Islam berbeda dengan konsep sukses yang banyak dipahami masyarakat umum. Dalam pikiran umum, sukses identik dengan kekayaan materi, harta yang banyak, kebebasan finansial, unlimited income, dan seterusnya. Kalau tidak kaya, bukan sukses; sebagaimana kalau hidup miskin, dianggap gagal.

Pada hakikatnya, sukses Islami adalah berhasil mengumpulkan skor pahala sebanyak-banyaknya; dan menghindari poin merah (dosa) sebanyak-banyaknya; sehingga akhirnya di Hari Akhirat berhak mendapat surga. Inilah hakikat sukses Islami yang tidak diakui oleh para motivator, apalagi oleh para sales MLM.

Sukses Itu Mendapat TAUFIQ untuk Merealisasikan Amal Shalih.

Sukses Itu Mendapat TAUFIQ untuk Merealisasikan Amal Shalih.

Meskipun kaya, kalau pelit berbuat amal baik, dan banyak berbuat dosa; maka kekayaannya menjadi tidak berguna. Meskipun miskin, kalau banyak berbuat baik, bermanfaat bagi kehidupan yang luas; sedikit berbuat dosa-dosa; hasil akhirnya dia akan mendapat surga (jannah).

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

(Setiap jiwa yang hidup pasti akan mengalami mati, bahwasanya akan dibalasi pahala mereka secara sempurna di Hari Kiamat. Dan siapa yang dijauhkan/diselamatkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah SUKSES. Dan tidaklah kehidupan dunia itu, selain kesenangan yang menipu belaka). [Ali Imran: 185].

Ayat ini menjelaskan hakikat sukses sejati, yaitu: Wa man zuhziha ‘anin naari wa adkhalal jannata faqad faaza (dan siapa yang dijauhkan dari siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah SUKSES).

Maka sukses dalam Islam adalah At Taufiq. Maksudnya, seseorang mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala untuk mengumpulkan skor pahala sebanyak-banyaknya, dan menghindari poin dosa sebesar-besarnya. Dengan hal itu, dia dimudahkan masuk surga dan dijauhkan dari neraka.

Jika untuk mencapai tujuan itu, dia butuh banyak harta; maka Allah pun memberinya banyak harta. Jika untuk itu, dia butuh kesejahteraan yang sedang-sedang saja; maka dia pun mendapatkan yang sedang-sedang. Jika untuk itu, dia perlu hidup sederhana; maka Allah pun memberinya kesederhanaan.

Jadi kekayaan mengikuti tujuan pahala; bukan sebaliknya. Inilah yang dinamakan Taufiq, yaitu pertolongan Allah kepada seseorang untuk merealisasikan tujuan-tujuan mulia di sisi-Nya.

Untuk mencapai sukses yang seperti ini, Islam memberikan jalan yang terang-benderang. Kiat-kiat sukses itu disebutkan di awal-awal Surat Al Mu’minuun.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)

(Sungguh berjaya orang-orang Mukmin itu, yaitu mereka yang shalatnya khusyuk; mereka meninggalkan hal-hal yang tidak berguna; mereka menunaikan kewajiban zakat; mereka menjaga kemaluannya, kecuali kepada isteri-isteri atau budak yang mereka miliki, karena hal itu tidak tercela; maka siapa yang mencari selain itu, mereka itu melampaui batas; dan mereka yang menjaga amanat dan janjinya; mereka menjaga shalatnya. Itulah orang-orang yang mewarisi, yaitu mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya). [Al Mu’minuun: 1-11].

Dari ayat-ayat ini dapat disimpulkan beberapa kiat mencapai sukses, yaitu sebagai berikut:

[a]. Menjalankan shalat secara khusyuk. Khusyuk yaitu saat dalam shalat merasa dirinya kelak akan berjumpa Allah dan kembali kepada-Nya.

[b]. Meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Dalam hadits disebutkan: Min husnil Islami mar’i tarkuhu maa laa ya’nih (ciri bagusnya keislaman seseorang, dia meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya).

[c]. Menunaikan kewajiban zakat. Terutama Zakat Maal, bagi yang kekayaannya mencapai nishab; minimal Zakat Fitrah saat bulan Ramadhan, menjelang hadirnya bulan Syawwal. Kalau tak mampu membayar Zakat Maal, karena harta tak mencapai nishab (ambang minimal), maka bersedekah kepada siapa saja yang membutuhkan.

[d]. Menjaga kemaluan dari perbuatan zina; baik zina besar dalam bentuk hubungan seksual dengan wanita yang diharamkan; maupun zina kecil dalam bentuk mencari kepuasan seksual melalui penglihatan, pendengaran, gerakan tangan, maupun langkah kaki.

[e]. Menjaga amanat dan menunaikan janji. Di awal Surat Al Maa’idah disebutkan: Ya aiyuhalladzina amanu ‘aufuu bil ‘uqud (wahai orang beriman penuhilah akad-akad kalian). Salah satu bentuk menunaikan amanah dan janji, ialah berhati-hati kalau berjanji. Kalau sekiranya tak mampu menjalankan, jangan merasa malu untuk menolak berkomitmen/janji. Kalau mengatakan “insya Allah” dalam hati harus sudah 75 % siap melaksanakan. Bisa saja janji “insya Allah” itu dibatalkan, kalau ada kendala serius (udzur) yang tidak memungkinkan dia melaksanakan janjinya.  Harus hati-hati saat mengucapkan “insya Allah”.

[f]. Menjaga Shalat Lima Waktu. Melaksanakan shalat sesuai waktu-waktunya; jangan sering terlambat tanpa alasan, sehingga masuk ke waktu shalat berikutnya. Lebih utama, melaksanakan shalat di awal waktu, secara berjamaah, di masjid. Kalau tak mampu, ya laksanakan shalat sesuai waktunya, jangan terlalu mepet ke waktu berikutnya.

Nah, inilah rahasia sukses secara Islami. Semoga bermanfaat dan mendapatkan hikmah dari Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin.

Mine.


Moslem Harlem Shake ??

Maret 6, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sebelum membaca artikel ini, coba lihat video di bawah ini. Amati dengan baik, kalau perlu diulang-ulang. Bagus juga kalau mau melihat video sejenis dari berbagai tempat yang lain.

KOMENTAR:

[1]. The Harlem Shake adalah sejenis demam tontonan yang menyebar melalui Youtube ke seluruh dunia, melalui fasilitas internet, ponsel, blackberry, ipad, dan seterusnya. Ini termasuk jenis budaya baru yang tersebar melalui sarana-sarana gadget.

[2]. The Harlem Shake pada dasarnya merupakan bentuk “kreativitas balasan” yang dilakukan orang-orang Amerika, setelah sebelumnya beredar model tarian “Gangnam Style” yang dibawakan penari Korea. Seolah Amerika tidak mau kalah, sehingga mesti membuat model baru yang bisa menyaingi Gangnam. Artis India, Shahru Khan, juga merintis demam tarian kolektif ala India; tetapi gaungnya kurang.

[3]. Baik Harlem Shake maupun Gangnam, sebenarnya mengandung satu pesan filosofis yang sangat kuat, yaitu: agar umat manusia mempermalukan dirinya, menistakan dirinya, membuang kewibawaan dan kehormatannya. Upaya penistaan diri itu dilakukan melalui tarian-tarian yang tidak terhormat, memalukan, serta mencerminkan selera budaya rendah. Hal ini mengingatkan pada tarian-tarian kaum paganis di sekitar altar-altar pemujaan dewa mereka.

[4]. Nama Islam atau Muslim, tidak boleh dikaitkan dengan hal-hal hina semacam itu. Islam memiliki integritas, jati diri, dan identitas moral sendiri; berbeda dengan ritual kehinaan yang dilakukan kaum paganis dan durhaka. Nabi Saw mengatakan: Al Islamu ya’lu wa laa yu’la (Islam itu tinggi, tidak ada yang lebih tinggi darinya). Dengan menempelkan nama Islam/Muslim pada produk tari-tarian penista diri itu, kita telah ikut merendahkan agama sendiri.

[5]. Dalam riwayat lain Nabi Saw pernah bersabda, kurang lebih: “Lattatab’na sunanun man kaana min qablikum syibran bi syibrin, dziraan bi dzirain, hatta idza dakhalu hujra dzabbi la dakhaltumuhu” (benar-benar kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian –Yahudi dan Nasrani– setapak demi setapak, sehasta demi sehasta, hingga ketika mereka masuk lubang kadal gurun pun, kalian akan mengikuti juga). Tersebarnya tarian “Harlem Shake Muslim” atau “Gangnam Style Muslim” dan sejenisnya, adalah bukti kebenaran sabda Nabi Saw tersebut.

[6]. Banyak orang salah memaknai kata KREATIVITAS. Menurut mereka, dengan mengambil ruh tampilan orang kafir, lalu dipoles disana-sini, lalu diberi label Islam/Muslim; itu sudah dianggap kreatif. Misalnya, seseorang membeli laptop keluaran Apple, lalu logo resmi laptop itu disingkirkan, kemudian diganti gambar korma, lalu diberi nama “Korma”; hal demikian sudah disebut kreatif. Yang begitu sih bukan kreatif, tetapi: maksain, norak, dan kelihatan tidak punya ide original. Cobalah bikin yang asli, genuine, benar-benar kreatif, tidak nabrak-nabrak konsep tata-nilai Islam. “Jangan jadi bebek!” kata seorang penulis.

[7]. Kalau kita membawa syiar adzan, shalat berjamaah, dan seterusnya; mestinya harus bersifat universal, tidak dikotak-kotak oleh identitas partai politik. Adzan adalah untuk semua kalangan Muslim, sebagaimana shalat berjamaah juga untuk semua kalangan Islam. Jangan menyempitkan makna agama ke ruang partai politik yang terbatas dan pragmatis.

Terimakasih, semoga yang sedikit ini bermanfaat dan ikut mencerahkan. Amin Allahumma amin.

Mine.