Sikap Salah Menyikapi Kematian Al Buthi

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Untuk kesekian kalinya kaum Muslimin berbeda pendapat. Kali ini tentang hakikat kematian Said Ramadhan Al Buthi yang tewas karena serangan bom, ketika sedang mengajar bersama murid-muridnya di sebuah masjid di Damaskus. Ada yang bersyukur atas kematian Al Buthi; ada yang bersedih karena mengakui keilmuannya; ada yang menduga dia dibunuh oleh pasukan Bashar Asad sendiri; ada yang berpendapat, dia sudah mau membelot dari Bashar, dan seterusnya.

Dalam konteks keindonesiaan, kita pernah berselisih ketika Abdurrahman Wahid meninggal. Ketika itu kaum Muslimin terbelah, antara yang simpati padanya dan yang mensyukuri kematiannya. (Bahkan kemudian, ada ide supaya dia diberi gelar sebagai pahlawan bangsa). Bagi kalangan Nahdhiyin atau simpatisan Wahid, dia dianggap sebagai wali Allah, manusia khusus, orang mulia, tokoh besar, bapak bangsa, dan seterusnya. Tetapi bagi kalangan aktivis dan gerakan Islam, dia banyak dituduh sebagai musuh Islam karena rekam jejak kehidupannya yang sangat banyak menghujat Syariat Islam, selama hidupnya.

"Ulama Mengetuk Pintu Para Penguasa"

“Ulama Mengetuk Pintu Para Penguasa”

Mungkin orang akan berkata: “Beda dong antara Al Buthi dan Abdurrahman Wahid? Al Buthi jelas ulama, ada karya-karya dan bukunya; sedangkan Wahid hanya budayawan doang.” Ya, di mata kita dia budayawan; tetapi di mata pendukung dan simpatisannya, dia dianggap sebagai ulama, fuqaha, hukama, dan seterusnya. Syaikh Al Buthi di mata sebagian orang dianggap sebagai ulama mumpuni; di mata yang lain, beliau tidak dianggap seperti itu.

Dalam kisah panjang tentang Ka’ab bin Malik Ra dan beberapa orang lainnya, yang tertinggal dalam perang Tabuk; kisah ini disebut terkait beberapa ayat dalam Surat At Taubah. Ka’ab bin Malik dkk. mendapat sanksi dari Nabi Saw karena tidak ikut berperang, tanpa alasan Syar’i. Mereka diboikot selama 40 hari, sehingga bumi yang luas terasa sempit bagi mereka.

Sementara orang-orang munafik di Madinah membuat-buat alasan di depan Nabi Saw, agar mereka tidak menerima sanksi. Lalu Nabi menerima alasan mereka, percaya kepada mereka, dan memohonkan ampunan atas mereka. Adapun soal bathin mereka, Nabi Saw bersabda: “Wa hisabuhum ‘alallah” (adapun soal perhitungan mereka yang sebenarnya, itu di sisi Allah). Kisah ini sangat populer, sehingga menjadi pedoman dalam Islam; bahwa kita tidak menyelidiki hati-hati manusia; kita cukup melihat sikap lahirnya saja. Kalau lahirnya baik, ya dianggap baik; kalau lahirnya buruk, dianggap buruk.

Dari Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud berkata: “Saya mendengar Umar bin Khaththab Ra berkata, ‘Sesungguhnya manusia pada masa Rasulullah Saw diberi keputusan dengan petunjuk wahyu, dan sekarang wahyu sudah terhenti. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai perbuatan yang nampak bagi kami. Maka barangsiapa tampak berbuat baik, niscaya kami mempercayai dan mendekatinya; dan bagi kami tidak perlu mempermasalahkan urusan batin, Allahlah yang memperhitungkan masalah batinnya. Dan barangsiapa yang tampak berbuat jahat, niscaya kami tidak mempercayai dan membenarkannya, walaupun dia mengatakan bahwa batinnya  baik.” (HR. Bukhari).

Terkait posisi Said Ramadhan Al Buthi, satu sisi beliau mempunyai karya-karya ilmiah, memiliki ilmu dan pengaruh, memiliki kontribusi bagi Islam dan Muslimin. Itu harus diakui. Tetapi beliau juga seorang ulama yang terang-terangan membela Bashar Assad dan memusuhi para Mujahidin Ahlus Sunnah yang anti Bashar Assad. Dia menyerukan kaum Muslimin membela Bashar Assad, dia menuduh kaum Mujahidin tidak menjalankan Shalat.

Loyalitas Al Buthi kepada Bashar Assad adalah masalah yang sangat berat dalam Syariat Islam, dengan alasan:

[1]. Bashar Assad adalah penjagal nyawa ratusan ribu kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Suriah.

[2]. Bashar Assad adalah putra penjagal lainnya, Hafezh Assad, yang telah membantai puluhan ribu aktivis Ikhwanul Muslimin Suriah. Bapaknya berlumuran darah ummat, anaknya lebih kejam lagi.

[3]. Bashar Assad adalah pengawal akidah Syiah Nusairiyah, yang kesesatan dan kekufurannya melebihi Syiah Imamiyah.

[4]. Bashar Assad adalah pemimpin politik dari partai Ba’ats yang berideologi Sosialisme Arab. Partai Ba’ats ini terkenal kerjasamanya dengan negara-negara komunis, seperti China dan Soviet (dulu).

[5]. Bashar Assad menindas kaum Ahlus Sunnah Suriah, memusuhi ulama-ulamanya; serta melindungi kaum Alawit ekstrem (Syiah Nusairiyah) sebagai minoritas yang berkuasa.

[6]. Bashar Assad membiarkan para pengikutnya melakukan kekufuran telanjang dengan berkata: laa ilaha illa bashar! Juga membiarkan mereka bersujud kepada foto-foto Bashar Assad.

[7]. Bashar Assad masuk dalam agenda bersama kaum Syiah Rafidhah untuk membentuk aliansi Iran-Iran-Libanon-Suriah yang berniat menguasai dunia Arab dan memaksakan ideologi Syiah-nya.

[8]. Bashar Assad memerangi para Mujahidinn Ahlus Sunnah dan menuduh mereka sebagai teroris.

[9]. Bashar Assad ingin mempertahankan penjajahan minoritas Syiah Nusairiyah atas negeri Ahlus Sunnah, Suriah. Padahal semua orang tahu, Damaskus sejak era Muawiyah bin Abi Sufyan Ra, adalah ibukota negeri Ahlus Sunnah. Penjajahan ini ingin terus dia lestarikan, sampai waktu yang Allah saja mengetahui akhirnya.

[10]. Politik Bashar Assad hendak mengadu-domba antar kaum Muslimin dengan cara dia seolah mendukung perjuangan Muslim Palestina, tetapi di sisi lain dia memusuhi Muslim (Ahlus Sunnah) di Suriah.

Alasan-alasan demikian (dan lainnya) membenarkan tuduhan sebagian ulama, bahwa Bashar Assad adalah seorang THAGHUT yang sangat berbahaya bagi kaum Muslimin. Lalu untuk apa seorang ulama berdiri di samping tokoh sejenis itu?

Ini bukan soal dukungan Amerika atau intervensi negara-negara Eropa, untuk menggulingkan Bashar Assad; sehingga kerja politik para pejuang Sunnah di Suriah seperti ditunggangi Amerika dkk. Bukan soal itu. Tetapi ialah soal sebab-sebab kezhaliman, kesesatan, dan kejahatan Bashar Assad itu sendiri. Secara Syariat Islam; kezhaliman, kesesatan, kejahatan Bashar Assad, TIDAK BISA DITOLERANSI sedikit pun. Tidak ada bagian untuk menerima semua itu, dengan alasan apapun.

Maka posisi Said Ramadhan Al Buthi bisa membahayakan kaum Muslimin dan Syariat agama ini. Nanti manusia akan menyangka, bahwa segala perbuatan terkutuk Bashar Assad dan pendukungnya; semua itu dibenarkan oleh Syariat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Maka kita harus sekeras-kerasnya mengingkari sikap Al Buthi ini, sebab dia telah meletakkan loyalitas tidak pada tempatnya; tidak peduli, setinggi apapun kadar keilmuwan dan karyanya. Sikap ini kita lakukan ialah untuk menjaga Syariat itu sendiri; agar tidak ada anggapan bahwa ilmu Syariat membenarkan pembantaian manusia, pemerkosaan wanita-wanita, penghancuran rumah-rumah, pembunuhan atas ulama-ulama, pembersihan pejuang Ahlus Sunnah, pembelaan atas kesesatan, penyebaran paham kufur/syirik, dan seterusnya. Syariat Islam harus diputus dari semua tuduhan itu.

Kita harus memvonis Al Buthi ini sebagai ulama yang berdiri di sisi para THAGHUT! Itu harus jelas, nyata, dan tegas! Tidak perlu ditutup-tutupi dan segan. Soal hatinya suci, batinnya bersih, ilmunya barakah, karyanya meluas, amalnya banyak, kontribusinya besar kepada Islam, dst. itu kita serahkan kepada Allah Al ‘Alim. Tugas kita, hanya menyikapi manusia sesuai zhahirnya. Kalau zhahirnya jelas membela THAGHUT, mau dikata apa lagi?

Mohon maaf, untuk kesekian kalinya, kita berbeda lagi. Mungkin akan ada yang mencoba mencarikan sekian alasan (udzur) untuk menyelamatkan posisi Syaikh Al Buthi; tetapi loyalitas (wala’) kepada Bashar Assad laknatullah ‘alaih, adalah sikap yang tidak dibenarkan; apalagi di mata seorang ulama.

Semoga kita senantiasa diberi sabar dan istiqamah oleh Allah Ta’ala untuk menjaga agama ini, sekuat kemampuan dan kesempatan. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Depok, 24 Maret 2013.

(Abisyakir).

About these ads

42 Balasan ke Sikap Salah Menyikapi Kematian Al Buthi

  1. abdn mengatakan:

    Kenapa anda begitu yakin syekh albuthy pendukung berat basaarbangsat? Anda adlh saksi mata beliau pendukungnya? Anda melihat zhohir bahwa syekh albuthy itu thogut, padaha anda sendiri tahu beliau adlh ulama besar dgn karya nyata. Dan jangan ditutupi lagi ilmu anda jauh dibandingkan dengan syekh tapi seolah-olah anda berkata sperti ulama yang tahu segalanya.

  2. Perindu ukhuwah mengatakan:

    Mengapa Syeikh Al Buthi dibunuh ?

    Islamedia – Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthi dilahirkan di kampong Gelika pulau Buthan wilayah Kurdistan, Turki tahun 1929, 5 tahun setelah khilafah Utsmani dibubarkan oleh Attaruk. Ayahnya bernama Syaikh Mala Ramadhan Al Buthi, seorang alim, takwa, dan memiliki keluasan ilmu.

    Hanya 4 tahun Al Buthi tinggal di kampong kelahirannya. Hingga tahun 1933 ia hijrah dibawa ayahnya ke Suriah, akibat maraknya tindakan pembersihan ulama-ulama Islam oleh Attaturk. Keluarga Al Buthi menetap di kampong ‘Ain Dewar, dekat perbatasan Turki-Suriah. Akhirnya, kampung inilah yang ditulis di akte lahir Al Buthi dan adik-adiknya.

    Al Buthi mengenyam pendidikan hingga Doktor di Al Azhar. Lulus dari Sekolah Agama Islam kesohor Ma’had At Taujih Al Islami di Damaskus yang dipimpin oleh Syaikh Hasan Habannakah Al Maidani. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Syariah Universitas Al Azhar tahun 1953 dan berhasil meraih gelar ‘Alamiyah (Syaikh) tahun 1955.

    Setelah itu kembali ke kota Homs tahun 1958 dan menetap hingga 1961, menjadi guru di beberapa Sekolah Islam, hingga ditunjuk menjadi dosen pembantu di Fakultas Syariah Universitas Damaskus. Kemudian Al Buthi dikirim untuk mengambil program Doktor dan meraihnya tahun 1965. Tak lama kemudian ia ditunjuk menjadi dosen penuh di fakultas Syariah, hingga menjadi Dekan.

    Al Buthi memiliki banyak karya ilmiah. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Termasuk bahasa Indonesia. Salah satunya yang masyhur: Sirah Nabawiyah.

    Al Buthi dan Hafizh Al Assad

    Sepulangnya dari menimba ilmu di Al Azhar, Syaikh Al Buthi bekerja menjadi guru PNS di sekolah-sekolah milik pemerintah. Setelah itu diangkat menjadi dosen resmi di Universitas Damaskus.

    Ketika Hafizh Al Assad berkuasa tahun 1970, artinya jarak antara Al Buthi lulus dari Al Azhar dan Hafizh Al Assad berkuasa sekitar 16 tahun. Hubungan Al Assad dengan Al Buthi tentu belum terjalin. Al Buthi seorang dosen, sedangkan Al Assad menjadi Presiden Suriah.

    Hingga pada tanggal 16 Juni 1979, terjadi peristiwa “pembantaian Sekolah Altileri Darat di Aleppo (300 km dari Damaskus)”. Sekolah militer tersebut terletak di wilayah Romusa dekat kota Aleppo sebelah utara Suriah. Pembantaian dilakukan oleh Kapten Ibrahim Yusuf, perwira di bagian Bintal sekolah Altileri dibantu oleh Front Tempur jamaah Ikhwanul Muslimin, sebagai aksi pembalasan atas tindakan represif rezim yang salah satu komandannya adalah Hafizh Al Assad. Peristiwa tersebut menewaskan 32 Taruna dan 54 luka-luka.

    Usai peristiwa tersebut, kementrian Informasi meminta Syaikh Muhammad Ramadhan Al Buthi untuk mengeluarkan fatwa syariah tentang pembantaian. Al Buthi meresponsnya dengan mengungkapkan dalil-dalil syariat yang mengharamkan aksi pembantaian.

    Tak lama berselang, kesempatan Al Buthi menuju jalan istana terbuka. Tak disangka, setelah tampil di media hubungan Al Buthi dengan Hafizh Al Assad terbuka. Hingga pada tahuna 1982, Kementrian Wakaf Suriah (Kemenag) yang diwakili menterinya bernama Muhammad Al Khathib mengundang Al Buthi untuk menjadi pembicara tunggal dalam acara Festival Menyambut Abad 15 H.

    Acara tersebut dihadiri oleh Presiden Hafizh Al Assad. Al Buthi memanfaatkannya untuk menyampaikan nasihat dan doa bagi Hafizh Al Assad.

    Hubungan Al Buthi dengan Al Assad semakin intens. Bahkan Al Assad suka mengajak Al Buthi ke istana, berdialog hingga berjam-jam (6-7 jam), membicarakan banyak hal. Saya sempat menjadi saksi sejarah, saat 1998 berkunjung ke Suriah menyaksikan Islamic Book Fair di Damaskus ke-14, Al Buthi benar-benar dicintai rakyat dan penguasa. Tentu ada juga yang mengkritisi sikap Al Buthi, salah satunya Syaikh Usamah As Sayyid yang menulis buku bantahan terhadap pemikiran Al Buthi berjudul, “Ar Raddu Al ‘Ilmi ‘Alal Buthi”.

    Mengapa Al Buthi Bersikap Manis dengan Rezim Al Assad?

    Banyak tuduhan yang terlontar terhadap ‘Allamah Al Buthi. Salah satunya yang menuduh beliau sebagai mucikari, muftin (penebar fitnah), hingga pengawal setia rezim Al Assad. Bagi kita yang hidup jauh dan tidak mengalami –atau malah mencermati prahara dan tekanan politik di era 60an hingga 80-an, maka pasti akan berkesimpulan seperti di atas. Namun jika kita mau sedikit bijak, maka sikap Al Buthi itu sangat sah dan dibenarkan syariat.

    Di antara landasan Al Buthi membuka dialog dengan Rezim Al Assad adalah:

    1. Hubungan gerakan Islam yang dimotori oleh Ikhwanul Muslimin di pelbagai Negara Arab, tengah berada di titik nadir. Tindakan represif rezim-rezim dunia Arab, dari mulai Maroko hingga Teluk, Mesir hingga Syam tengah marak. Bahkan terbukti, tindakan Hafizh Al Assad yang membumihanguskan provinsi Homs dan membunuh seluruh penduduknya yang mendukung gerakan IM, tercatat sejarah sebagai hubungan kelam antara penguasa dan jamaah IM.

    2. Al Buthi memandang, rezim Al Assad dari ayah hingga anaknya Basyar Al Assad, sangat kuat dipengaruhi sekte Syi’ah Rafidhah yang cenderung membumihanguskan Muslim Sunni, seperti yang terjadi di Iran-Iraq. Perlu diperhatikan, Hafizh Al Assad naik tahta seiring dengan maraknya revolusi Khumaini yang puncaknya terjadi tahun 1979. Al Buthi memiliki komitmen, untuk menyelamatkan entitas Muslim Sunni di Suriah.

    3. Tindakan represif Al Assad bukan hanya pada gerakan perlawanan secara fisik, namun juga mengarah pada non fisik. Di era Hafizh Al Assad, pengajian-majlis taklim-dan perkumpulan di atas 3 orang bukan hanya tidak diizinkan, tapi akan dijebloskan ke penjara tanpa pengadilan. Jika pun ada, yang berlaku adalah pengadilan militer. Hingga banyak gerakan-gerakan Islam yang memilih jalan dakwah dengan gerakan Sufi, yang berkumpul di masjid dan berdzikir ratusan ribu kali sembari berjingkrak-jingkrak. Saya pernah mengalami itu di salah satu masjid di Manbej, salah satu kabupaten di wilayah Aleppo. Jelas, selain majlis taklim dilarang, maka penerbitan buku-buku Islam dibatasi.

    Hasil Nasihat Al Buthi

    Usaha Al Buthi untuk menasihati penguasa berbuah di tataran nyata. Tentu dengan pengorbanan tak sedikit, salah satunya, Al Buthi dituduh tutup mata dengan tindakan Al Assad. Di antara hasilnya adalah:

    1. Al Buthi pernah diundang selama 7 jam, berdialog dengan Hafizh Al Assad. Al Buthi lebih banyak menyimak curhatan Al Assad, hingga akhirnya Al Buthi menyarankan Hafizh Al Assad untuk membebaskan tokoh-tokoh dan tawanan politik dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Rentang beberapa minggu kemudian, para tapol IM dibebaskan.

    2. Saya memprediksi, kesediaan Al Assad untuk membuka Suriah bagi para pengungsi Palestina setelah peristiwa Pembantaian Shabra dan Syatila terjadi pada September 1982, di Beirut, Lebanon, yang saat itu diduduki oleh Israel adalah hasil dari nasihat yang diberikan oleh Al Buthi. Bahkan Suriah membuka diri kepada HAMAS untuk membuka satus-satunya kantor Perwakilan HAMAS. (Saat itu, tidak ada satu pun negara Arab yang mau menerima HAMAS untuk membuka markas di luar Palestina – redaksi)

    3. Penerbitan buku-buku Islam Sunni termasuk Al Qur’an, sangat digalakkan. Bahkan saat saya mengunjungi toko-toko buku di Suriah, penerbit-penerbit Suriah sukses menjadi penerbit-penerbit buku Islam terkemuka hingga di Mesir. Beberapa penerbit di Mesir, malah justru dimiliki orang-orang Suriah.

    Termasuk maraknya majlis-majlis taklim di Damaskus yang didukung penguasa Al Assad, semisal: Kajian Hadits Bukhari oleh Syaikh Musthafa Dib Al Bugha, Kajian Fiqh dan Syariah oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Kajian Sirah Nabawiyah oleh Al Buthi, hingga kajian dan Kuliah Singkat di Mujamma’ Abun Nur Al Islamy yang dipimpin oleh Syaikh Kaftaro. Dimana kurang lebih ada 25 orang mahasiswa/i Indonesia yang turut menikmati pendidikan di sekolah-sekolah tersebut.

    4. Hafizh Al Assad sebelum wafatnya, mengundang Al Buthi ke kediamannya. Ia berpesan agar saat wafat, Al Buthi sukahati menjadi imam. Al Buthi pun menunaikan pesan Al Assad. Hingga peran ini, banyak yang berpendapat, Hafizh Al Assad telah melunak dari paham Syi’ah Rafidhah-nya. Dan terbukti, dukungan Suriah terhadap Libanon melawan Israel semakin menguat.

    Al Buthi dan Basyar Al Assad

    Hubungan manis Al Buthi dengan rezim Al Assad, berlanjut hingga kekuasaan Suriah berpindah kepada Basyar Al Assad. Singkat kata, hingga menjelang demonstrasi yang mengakibatkan revolusi dan perlawanan senjata, Al Buthi telah menjalankan fungsinya sebagai penasihat utama rezim Al Assad.

    Al Buthi bersama rombongan ulama Sunni, mendatangi Al Assad dan menuntut beberapa hal:

    1. Al Assad membuka diri bagi tuntutan reformasi. Hal ini disanggupi Al Assad dengan melakukan perubahan birokrasi, mengubah menteri di 6 kementrian, dan memecat Perdana Menteri.

    2. Al Assad diminta untuk tidak menggunakan tindakan represif. Al Assad menyanggupi, asalkan demonstrasi anti dirinya dihentikan.

    Namun mengapa Al Assad mengajukan sebuah dokumen kepada Al Buthi, bahwa pihak demonstran telah disusupi anasir-anasir Wahabi yang didukung oleh Saudi Arabia, yang justru didukung oleh AS-Barat. Di sini kembali harus bijak dalam bersikap. Dalam benak Al Buthi, kesatuan rakyat Suriah lebih diutamakan. Maka dalam pelbagai khutbah Jumat, Al Buthi menyerukan persatuan dan kesatuan itu. Al Buthi ingin memahamkan kepada semua elemen termasuk jamaah Ikhwanul Muslimin, di awal-awal demonstrasi untuk menahan diri. Karena demonstrasi dan revolusi sudah ditunggangi. Tak ada yang mengambil manfaat dari kisruh Suriah, kecuali Israel. Bahkan di salah satu khutbahnya, Al Buthi mengungkapkan hadits shahih tentang keharusan taat kepada pemimpin (amir), terlepas pemimpin itu baik atau jahat, saking pentingnya persatuan dan kesatuan serta stabilitas.

    Hadits-hadits yang disampaikan Al Buthi, adalah hadits-hadits yang digunakan oleh rezim Al Sa’ud di Saudi Arabia, rezim Al Nihyan di UAE, atau Al Khalifah di Qatar, dan lain-lain. Sebaiknya kita tengok tanggal dan waktu kapan Al Buthi menyampaikan khutbah, selain kita pun harus mendengar khutbah tersebut harus utuh, tidak sepotong-sepotong.

    Mengapa Al Buthi Dibunuh?

    Peristiwa di Masjid Al Iman, tempat pengajian Al Buthi kemarin (22/3/13) sangat tidak masuk akal. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut:

    1. Sejak lama, Al Buthi dikelilingi pengawal dari militer Al Assad. Kemanapun Al Buthi pergi, maka puluhan pengawal dan intel, memenuhi setiap langkah Al Buthi. Al Assad frustasi dengan semakin banyaknya pejabat-pejabat (termasuk Menhan) yang membelot ke pejuang Suriah. Al Buthi dikhawatirkan membelot. Bahkan saksi mata mengatakan, bahwa masjid sudah dikepung dari empat penjuru.

    2. Melihat TKP, ledakan bom dilakukan jauh dari area masjid. Sedangkan di masjid, yang terjadi bukan ledakan tapi penembakan dan pembantaian. Pihak intelejen Al Assad, langsung datang melakukan pembersihan dan mengangkut seluruh mayat -termasuk korban jamaah yang terluka- ke tempat yang Al Assad dan intelejen yang mengetahuinya.

    3. Dari sejak perjuangan melawan Al Assad digelorakan, Front Pembebasan Suriah sudah bersepakat tidak menyerang ulama-masjid-tempat ibadat- bahkan para pejuang memiliki etika untuk tidak melakukan serangan kecuali setelah pukul 10 malam hari.

    Pertanyaannya, mengapa Al Buthi dibunuh? Menarik analisa Samir Muhsin, seorang pemerhati pergerakan Islam yang mengemukakan alasan-alasan dibunuh:

    1. Al Buthi adalah khaatimus sirri (penutup rahasia), pemegang kartu truf rezim Al Assad. Karena Al Buthi lama menjadi nasihat Hafizh Al Assad. Ketika Al Buthi membelot, maka Al Assad khawatir segala aib dirinya terbongkar. Termasuk membongkar pelbagai kebijakan Al Assad yang berdamai dengan Israel, risywah, korupsi, dan pembantaian.

    2. Al Buthi paham betul tokoh-tokoh yang berbaju ulama, tapi memiliki rencana busuk untuk menghancurkan kaum Sunni di Syam.

    3. Al Buthi dijadikan alat oleh Al Assad untuk meraih simpati dari kalangan Sunni, untuk digunakan sebagai propaganda memecah belah kesatuan Front Pembebasan Suriah yang semakin hari semakin banyak menuai sukses.

    4. Al Buthi dijadikan “maf’ul bih” dan “maf’ul liajlih” maksudnya: sinyal bahwa siapapun yang melawan Al Assad akan dibantai, termasuk orang terdekat sekalipun.

    5. Al Assad melempar 2 burung dengan 1 batu. Maksudnya, mengorbankan Al Buthi agar rakyat Suriah -terutama Sunni- antipati terhadap para pejuang Front Pembebasan Suriah.

    Keadaan Masjid Al Iman, lokasi gugur Syeikh Al Buthy

    Kesimpulan

    Saya yang sempat beberapa kali menghadiri taklim beliau, sangat yakin akan ketulusan, keikhlasan, dan muruah yang dimiliki Syaikh Al Buthi. Bahkan saya mendengar, Al Buthi tidak mengambil royalty dari buku-buku yang diterbitkan. Selain berwasiat untuk menginfakkannya di jalan Allah. Termasuk buku-buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sebagai orang yang dekat dengan kekuasaan, Al Buthi jauh dari kata borju atau memperkaya diri. Hal ini dilatarbelakangi oleh keadaan beliau sejak kecil hidup susah.

    Adapun sikap beliau yang mendukung penguasa, bagi saya sangat lumrah dan masuk akal:

    1. Beliau adalah salah satu saksi sejarah atas tindakan represif Attaturk di Turki yang membantai para ulama, menghancurkan masjid, memupus B. Arab. Hingga ia dan seluruh keluarganya memilih berhijrah ke Suriah. Pengalaman pahit tindakan bengis penguasa ini, tak akan bisa dihapus. Maka sikap beliau yang memilih loyal kepada pemerintah, dipahami sebagai “dakwah” untuk menjaga generasi muda Islam dan alim ulama dari pembantaian rezim Al Assad.

    2. Beliau memiliki alasan yang didukung Al Qur’an dan Sunnah tentang kewajiban taat kepada pemimpin, karena beliau melihat dan merasakan, hampir tak ada pemimpin Arab yang peduli terhadap Islam selain Raja Faisal. Seluruh pemimpin Negara Arab adalah pemimpin dictator. Ingat, Al Buthi hidup di 5 generasi. Mulai generasi Raja Faruq di Mesir hingga Muursi. Dari generasi Syah Iran-Khumaeni-hingga Ahmadinejad. Beliau paham betul, kepedihan dari praktik zhalim penguasa terhadap para ulama dan aktivis gerakan Islam di seluruh negeri Arab. Oleh karena itu, beliau masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dalam rangka menasihati, tidak lebih.

    3. Sebagai alim dan mujtahid, saya meyakini, apa yang beliau lakukan dengan mendukung rezim penguasa adalah bagian dari ijtihad. Jika salah mendapatkan 1 pahala, dan jika benar mendapatkan dua pahala. Saya yakin beliau adalah sosok terbaik. Bila ada kekurangan, saya meyakini kekurangan atau khilaf adalah hal yang lumrah dari manusia. Namun kekurangan yang sedikit, tidak boleh membuat kita mencaci maki. Terlebih yang mencaci maki hanyalah bau kencur yang tak memiliki karya, amal shalih, hingga pengalaman hidup setinggi beliau.

    Wallahu A’lam

    Nandang Burhanuddin, Lc

  3. ADIL DONG!! mengatakan:

    mau nanya nih ust. admin, kenapa ustadz sendiri mau tinggal di negeri yang tidak menerapkan syariat islam? kenapa ustadz tidak mengangkat senjata melawan pemerintah thoghut sebagaimana orang-orang yang disebut teroris itu? kenapa antum begitu mudah menghukumi seorang ulama, hanya dari analisa sepintas. Pernahkah antum melihat kondisi real di sana. BIJAKLAH DALAM MENILAI….SEPERTI BUKU ANTUM ADIL MENILAI WAHABI. ANTUM MELIHAT MASALAH POLITIK DAN KEHIDUPAN DENGAN KACA MATA HITAM PUTIH.

  4. abisyakir mengatakan:

    @ Abdn…

    Ya Ilahi ya Rahmaan, menurut pengakuan Syaikh As Shabuni, ulama Suriah sendiri, yang sudah puluhan tahun mengenal Al Buthi dan regim sesat Assad; beliau menyebut loyalitas Al Buthi kepada Bashar Assad sudah terang-benderang seperti matahari.

    Anda harus berhati-hati dari membela manusia yang telah loyal kepada regim yang telah menghancur-leburkan kehidupan ratusan ribu Muslim Sunni, sejak dulu sampai kini. Anda harus hati-hati, sebab disana ada “share dosa” yang akan dipikul. Berhati-hatilah!!!

    Admin.

  5. inkonsisten mengatakan:

    Kayaknya ustadz model begini nih, kalo ada (baik itu tokoh, media dll) yang kira-kira sesuai maunya dia terus dijadikan rujukan mutlak.
    misal tempo yang menampilkan berita tentang PKS. Tapi giliran ga sesuai kemauan dia yang dibilang ulama yang Dia itu seorang ulama yang penanya sangat tajam dalam mencabik-cabik kehormatan kaum Muslimin (FIS) di Aljazair
    LIDAHNYA SANGAT TAJAM DALAM MENGHANTAM PARA DAI, PARA AKTIVIS DAKWAH ISLAM, atau menyebut jurnalisme amoral kepada semua karena ga memuat inefisiensi yang dimuat dahlan iskan.
    Curang dan Lacung (maaf ini ustadz)

  6. wowo mengatakan:

    membaca tulisan admin dengan tulisan ust. Nandang Burhanuddin, Lc terasa sekali bedanya. Yang admin bahasanya vonis hitam putih sementara ust. nandang menurut saya memberikan pencerahan. Semoga umat islam bisa dewasa dalam menilai segala sesuatunya. Sehingga tidak semua perbedaan ditengah umat ini berujung kata-kata keji, saling mencaci dan anarkisme.

  7. FPI mengatakan:

    Habib Rizieq Nasehati Kelompok yang Menghina Syeikh Al Buthy

    Islamedia – Gugurnya Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy dalam ledakan bom di Masjid Al Iman Suriah menjadi polemik bagi sebagian kalangan.

    Ada kalangan yang mencibir Syeikh Al-Buthy adalah mereka yang tidak setuju dengan sikap Syeikh Al-Buthy yang mereka nilai pro terhadap Presiden Bashar Al Assad. Bashar Al Assad sendiri adalah seorang pengikut Syiah, sekaligus seorang Sosialis yang menzhalimi umat Islam di Suriah.

    Tentu saja polemik ini tidak sehat bagi terwujudnya persatuan umat dan ukhuwah Islamiyah. Karena itu, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab, menyampaikan nasihat kepada umat Islam atas peristiwa syahidnya Syeikh al-Buthy.

    Habib Rizieq berpandangan, syeikh Al-Buthy adalah seorang ulama besar ahlussunah wal jamaah abad ini, yang saleh dan zuhud. Terkait pilihan politik Syeikh al-Buthy, Habib Rizieq menilai hal itu sebagai hak dia sebagai seorang ulama yang mempunyai kapasitas untuk berijtihad.

    “Kami FPI membela Mujahidin Suriah melawan Basyar al-Asad yang zolim, tapi kami tetap harus jaga akhlaq terhadap ulama Aswaja Suriah yang tidak gabung dengan Mujahidin. Itu persoalan ijtihad politik, mereka lebih tahu situasi negeri mereka daripada kita,” tegas Habib Rizieq yang tersebar melalui Blackberry Mesengger (BBM), Jumat (22/3/2013).

    Berikut nasihat lengkap Habib Rizieq tersebut:

    Habib Rizieq Syihab untuk kelompok yang menghina al-Buthi :

    Ingat hadits : “udzkuruu mahaasina mautaakum”. Jadi, tidak pantas kata hinaan dilontarkan buat saudara Muslim yang telah wafat, apalagi yang wafat adalah syahid seperti al-Buthi.

    Al-Buthi asy-Syafi’i al-Asy’ari adalah ulama besar aswaja abad ini, dia soleh serta zuhud. Siapa anda yang mau menghina al-Buthi ?!!

    Soal al-Buthi tidak bergabung dengan Mujahidin Suriah, dia punya alasan : pertama, usia yang sudah lanjut. Kedua, dia sibuk habiskan usia buat ilmu, belajar dan mengajar serta mengarang kitab. Ketiga, Mujahidin masih bergabung dengan barisan kafir dan liberal. Keempat, al-Buthi bukan satu-satunya ulama Aswaja Suriah yang tidak bergabung dengan Mujahidin. Kelima, dia ulama berhak ijtihad.

    Kami FPI membela Mujahidin Suriah melawan Basyar al-Asad yang zolim, tapi kami tetap harus jaga akhlaq terhadap ulama Aswaja Suriah yang tidak gabung dengan Mujahidin. Itu persoalan ijtihad politik, mereka lebih tahu situasi negeri mereka daripada kita.

    Siapapun pelaku bom bunuh diri yang menggugurkan al-Buthi dan 23 muridnya di dalam masjid dan apa pun alasannya, maka tidak bisa dibenarkan. Andaikata Mujahidin Suriah yang lakukan itu, maka mereka yang salah jalan, bukan al-Buthi. Semoga pelakunya bukan dari kalangan Mujahidin. Camkan!

    Jaga sikap ya akhii, di sini al-Buthi punya banyak murid dan pengikut. Jangan lagi undang polemik dan perpecahan !!! Wallaahul musta’aan. [SuaraIslam/IM]

  8. pengagum FPI mengatakan:

    Kami FPI membela Mujahidin Suriah melawan Basyar al-Asad yang zolim, tapi kami tetap harus jaga akhlaq terhadap ulama Aswaja Suriah yang tidak gabung dengan Mujahidin. Kami FPI membela Mujahidin Suriah melawan Basyar al-Asad yang zolim, tapi kami tetap harus jaga akhlaq terhadap ulama Aswaja Suriah yang tidak gabung dengan Mujahidin. ITU PERSOALAN IJTIHAD POLITIK, MEREKA LEBIH TAHU SITUASI NEGERI MEREKA DIBANDING KITA.

    SANGAT BIJAKSANA……..BEGINILAH CIRI ULAMA YANG BERWAWASAN LUAS.

  9. Perindu ukhuwah mengatakan:

    Syeikh al-Buthy, Suriah dan Pentingnya Menjaga Adab

    Sabtu, 23 Maret 2013
    Oleh: Kholili Hasib
    HIDAYATULLAH -KAMIS malam (21/03/2013) sebuah bom meledak di Masjid al-Iman Damaskus Syiria. Yang mengagetkan umat Muslim sedunia, bom bunuh diri tersebut menelan korban jiwa seorang Ulama Sunni terkenal, Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthy. Ia meninggal di majelis ilmu, saat mengajar di dalam Masjid. Selain Syeikh al-Buthy, 42 meninggal dan 84 luka-luka termasuk cucunya, Ahmad.
    Syeikh al-Buthy adalah ulama Sunni yang terkenal. Pada tahun 2012 lalu, beliau menjadi ketua Ikatan Ulama Bilad Asy Syam. Di Indonesia ia terkenal dengan karyanya Fiqhus Sirah, yang menjadi rujukan aktivis kampus. Kitab ini mengupas tentang faidah-faidah yang dapat dipetik dari perjalanan kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, utamanya dari sisi dakwah dan mendirikan peradaban Islam.
    Karena kitab ini sering dijadikan rujukan oleh aktivis Al Ikhwan al Muslimun, banyak yang menyangka bahwa beliau adalah tokoh Ikhwan, padahal bukan. Ia profil ulama yang tidak terikat organisasi atau kelompok politik apapun. Ia cenderung memposisikan diri sebagai murni pengajar. Sehingga, terkadang pernyataan-pernyataanya lebih diplomatis dan bahkan bisa multi makna.
    Dalam hal pemikiran, al Buthy merupakan tokoh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bermadzab Syafi’i dan aqidah Asy’ariyah, Maturidiyah, al Gha¬zali. Di masjid al-Iman itu, salah satunya ia mengajar kitab al-Hikam. Kitab tasawwuf yang ditulis oleh Syeikh Ibnu Atho’illah al-Sakandari. Ia juga menulis kitab komentar (syarh) untuk kitab al-Hikam bernama Syarh wa Tahlil Al Hikam Al ‘Atha‘iyah. Ia memang dikenal di Suriah sebagai ulama Sufi. Selain mengajar al-Hikam ia juga mengajar kitab Risalah al-Qusyairiyah – kitab tasawwuf yang terkenal. Jumlah kitab yang ditulis sekitar 60 judul kitab.
    Tidak hanya itu, Syeikh al-Buthy ternyata juga pengkritik filsafat Barat. Ia menulis kitab berjudul Naqdul Auhami al-Maddiyah al-Jadaliyah. Kitab yang khusus mengkritik filsafat Materialisme Dialektik yang diajarkan oleh filsuf Barat materialis, Hegel dan Karl Marx.
    Selain itu, yang cukup heboh di kalangan jama’ah Salafyi, Syeikh al-Buthy menulis kitb berjudul Salafiyyah: Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami dan Al-La Madzhabiyyah Akhtaru Bid’atin Tuhaddidu as Syari’ah Al Islamiyyah. Meskipun begitu, lontaran kritiknya masih dalam konteks kajian ilmiah, tanpa emosi dan menggebu-gebu. Di luar konten yang diperdebatkan, cara menyajikan Syeikh al-Buthy berbahasa nasihat bukan pengadilan.
    Jelas saja, tragedi berdarah di Masjid tersebut mengguncang dunia. Sekaligus menambah pedihnya konflik Suriah yang hingga kini masih menyala, belum ada tanda-tanda berhenti.
    Kewafatannya meninggalkan pro-kontra di kalang kaum Muslim dunia.
    Di satu pihak, Syeikh al-Buthy dianggap pendukung rezim Syiah Nusairiyah Bashar Assad. Kecaman dan makian dilontarkan untuk al-Buthy. Ia bahkan dinilai ulama Sunni yang pro rezim Syiah.
    Karena itu, tragedi Masjid al-Iman disambut gembira oleh para pejuang kontra Bashar Assad yang terkenal dengan kekejamannya membantai Muslim Sunni di Suriah. Bashar adalah rezim berakidah Syiah Nusairiyah yang mendapat dukungan dari Iran. Kekejaman dan akidahnya tidak bisa dibenarkan.
    Ada kabar bahwa beliau dibunuh oleh kelompok oposisi yang sangat kecewa dengan sikap al-Buthy terhadap rezim Bashar. Namun, Ketua Kesatuan Musyawarah Oposisi Ahmad Mu’adz al-Khatib mengutuk pembunuhan Syeikh al-Buthy, dan menyebut hal itu sebagai tindakan keji dilihat dari norma apapun. Ada pula spekulasi Syeikh al-Buthiy dibunuh oleh rezim Bashar sendiri agar rezim memiliki alasan untuk makin leluasa membasmi oposisi Sunni.
    Di luar itu, siapapun pembunuhnya, menumpahkan darah kaum Muslimin di dalam Masjid adalah kekeliruan besar. Rasanya tidak ada Muslim yang baik yang nekat melakukan pembunuhan massal di Masjid. Masjid adalah Baitullah, tempat suci dan sakral. Berjual beli atau berbisnis saja haram dilakukan di masjid, apalagi menumpahkan darah saudara Muslim secara massal. Terlepas dari tuduhan untuk al-Buthy, siapapun yang dibunuh secara massal di masjid itu tidak ada dalih dalam agama.
    Pembunuhan yang dilakukan di Masjid, apalagi menelan korban Muslim patutlah dikutuk. Jika pun Syeikh al-Buthy dalam ijtihad politiknya salah, sangat tidak beradab melakukan pembantaian di masjid. Pembunuhan di dalam masjid akan menciptakan citra buruk dalam dunia Muslim. Mujahidin rasanya tidak mungkin menabrak adab-adab Islam.
    Apalagi, kabar pro atau tidaknya al-Buthy terhadap rezim Bashar masih simpang siur. Umat Muslim sedunia harus hati-hati bersikap. Sebab dikabarkan dalam situs resminya nasim al-syam dalam kolom fatwa bernomor 13060 Syeikh al-Buty menentang pembunuhan rakyat Sunni tak bersalah oleh tentara rezim Bashar Assad yang Syiah itu. [baca: Syeikh Al Buthy, Tentara dan Rakyat Suriah]
    Syeikh al-Buthy telah meninggal. Ia manusia. Yang pasti memiliki kesalahan. Selama kesalahan itu masih dalam wilayah ijtihad bukan kesalahan akidah, masih bisa ditoleransi. Jika ia telah berfatwa sebagaimana dalam nomor fatwanya 13060, maka Insya Allah Syeikh al-Buthy masih dalam barisan Sunni. Tidak dapat dipungkiri memang, ada kesan kekurangtegasan al-Buthy selama ada konflik Suriah. Sehingga ada yang menilai ia diam dalam kisruh Suriah. Namun, fatwa bernomor 13060 bisa jadi adalah ijtihad al-Buthy yang dipegang sampai ia wafat. Jika demikian, maka kita tidak perlu lagi memperdebatkan pro dan tidaknya beliau. Bergembira ria dengan wafatnya al-Buthy rasanya tidak perlu. Sebab ia telah meninggal dunia. Simpang siurnya kabar ini yang harusnya kita bersikat hati-hati. Ia dikenal di dunia sebagai ulama yang memiliki otoritas. Jangan sampai kita memaki ulama. Ini bukan adab Muslim. Jika ia kafir, pasti bukan ulama. Mari kita tutup berpolemik tentang Syeikh al-Buthy.
    Dikhawatirkan energi kita habis memperdebatkan dalam posisi mana al-Buthy itu. Padahal musuh besar Muslim saat ini justru Bashar al Assad yang masih dikendalikan Syiah Nusairiyah di Suriah.
    Umat Islam harus kembali fokus pada kejahatan Bashar yang harus diadili, seadil-adilnya. Negeri Suriah memiliki posisi strategis dan tengah menjadi rebutan antara kepentingan Syiah dan Israel haruslah kita bebaskan. Sebab bumi Syam ini sebagai pintu masuk pembesan Al-Quds. Karena itu, apapun yang terjadi, janganlah kita berpecah-belah. Wallahu a’lam.*
    Penulis alumni program Pascasarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, kini peneliti pada InPAS Surabaya

  10. Perindu ukhuwah mengatakan:

    Syeikh Al Buthy, Tentara dan Rakyat Suriah

    Hidayatullah.com–Selama ini beredar informasi bahwa Syeikh Al Buthy mendukung pembunuhan terhadap rakyat Suria oleh tentaranya, hingga ada kabar ada pihak yang mengekspresikan kegembiraan setelah mendengar terbunuhnya Syeikh Al Buthy di saat beliau menyampaikan ceramah hadapan para murid beliau di masjid Al Iman Damaskus.

    Bagaimana sebenarnya posisi Syeikh Al Buthy terhadap kedzaliman yang terjadi di Suriah? Hal ini bisa lebih terjelaskan dengan melihat fatwa-fatwa beliau yang ditujukan kepada tentara Suria.

    Nasim Syam, situs resmi Masjid Umawi Damaskus yang mana Syeikh Al Buthy menjadi khatibnya, melalui akun Facebook resminya melansir beberapa fatwa beliau yang ditujukan kepada beberapa tentara Suria.

    Pada 13 Maret 2013 akun itu melansir jawaban Syeikh Al Buthy terhadap pertanyaan seorang anggota wajib militer Suriah yang masuk pengabdian pada (09/01/2012) yang mengaku kabur dari tugas karena takut melakukan pembunuhan ketika ia terus berada dalam militer. Pemuda itu pun bertanya apa hukum syar’i atas keputusannya itu.

    Maka Syeikh Al Buthy pun menjawab, ”Kalau engkau tahu dengan perkiraanmu bahwa engkau akan dibebani membunuh jiwa yang tidak bersalah tanpa hak selama keberadaanmu di militer, maka pelarianmu disyariatkan. Namun jika engkau mengetahui bahwa engkau akan ditugaskan untuk mempertahankan dari penjahat yang bertujuan untuk mengancam nyawa tidak bersalah atau menghancurkan bangunan atau merampasnya dari para pemiliknya maka menerima hal itu wajib.”

    Sebelumnya pada (05/06/2011) Nashim Syam melansir fatwa nomor 13060 yang menjawab pertanyaan tentara Suria yang menyebutkan bahwa dia dan rekannya di militer berselisih mengenai keadaan dimana petinggi memerintahkan mereka menembak demonstran dengan peluru hidup, apakah perintah itu boleh ditaati atau tidak? Penanya juga menyampaikan bahwa jika ia tidak menembak demonstran maka ia akan dibunuh petingginya.

    Syeikh Al Buthy pun menjawab, ”Para fuqaha menyatakan bahwa orang yang dipaksa untuk membunuh tanpa hak, maka ia tidak boleh menuruti siapa yang memaksanya untuk melakukan perbuatan itu, meskipun dia tahu dia akan dibunuh ketika tidak menurutinya. Hal itu dikarenakan dua pelanggaran itu (pemimpin membunuh tentara dan tentara membunuh demonstran-pent.) memiliki derajat bahaya yang sama, maka tidak boleh orang yang dipaksa untuk membunuh mengutamakan kehidupannya daripada nyawa semisalnya yang tak berdosa.”

    Dari jawaban-jawaban yang diberikan Syeikh Al Buthy tersebut bisa dinilai bahwa beliau menentang pembunuhan rakyat tak bersalah oleh tentara Suriah.*

    Rep: Sholah Salim
    Red: Cholis Akbar

  11. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea.. mengatakan:

    @..Perindu Dakwah

    Perindu Dakwah ::
    Mari kita tutup berpolemik tentang Syeikh al-Buthy. Dikhawatirkan energi kita habis memperdebatkan dalam posisi mana al-Buthy itu. Padahal musuh besar Muslim saat ini justru Bashar al Assad yang masih dikendalikan Syiah Nusairiyah di Suriah.
    Umat Islam harus kembali fokus pada kejahatan Bashar yang harus diadili, seadil-adilnya. Negeri Suriah memiliki posisi strategis dan tengah menjadi rebutan antara kepentingan Syiah dan Israel haruslah kita bebaskan. Sebab bumi Syam ini sebagai pintu masuk pembesan Al-Quds. Karena itu, apapun yang terjadi, janganlah kita berpecah-belah. Wallahu a’lam.*

    Respon ::
    ya benar,.. terlepas dari Pro dan Kontra akan Posisi mana Sebenarny Syaikh Ramadhan Al-Buthiy berada, dalam kondisi saat ini, kaum muslimin harus tetap bersatu dan lebih memfokuskan pada kejahatan Rezim Bashar assad.

    sebagai Perbandingan akan data-data yang antum pegang mengenai Syaikh Al-Buthy ::

    ==> http://firanda.com/index.php/artikel/lain-lain/398-kehinaan-ulama-aswaja-abad-ini-muhammad-sa-id-romadhoon-al-buuthy

  12. abisyakir mengatakan:

    @ Perindu Ukhuwwah…

    Dari jawaban-jawaban yang diberikan Syeikh Al Buthy tersebut bisa dinilai bahwa beliau menentang pembunuhan rakyat tak bersalah oleh tentara Suriah.*

    Kalo memang begitu, mengapa dia berulang-ulang menghina para mujahidin dan menuduh mereka buruk? Mengapa pula dia menyerukan kaum Muslimin berjihad bersama Bashar Assad? Apa artinya pendapat fikih tentang haramnya membunuh jiwa manusia tanpa hak, dengan fatwa politik untuk mendukung regim pembantai kaum Muslimin? Fatwa Al Buthi itu sudah tersebar luas, dibaca oleh kawan dan lawan. Fatwa itu lebih kuat posisinya ketimbang “jawaban atas suatu pertayaan fikih”?

    Admin.

  13. abisyakir mengatakan:

    @ Perindu Ukhuwwah…

    Kesalahan terbesar dalam menyikapi Said Ramadhan Al Buthi, ialah menganggap dia hanya melakukan IJTIHAD POLITIK. Ini salah sekali. Al Buthi sudah menunjukkan LOYALITAS (al wala’) kepada regim Assad; bahkan dia yang menangis kala Hafezh Assad meninggal, dia pula yang menshalatinya. Dukungan Al Buthi kepada Hasan Nasrullah dan serangan-serangannya kepada “Wahabi” semakin menjelaskan dimana dia ber-wala’.

    Ijtihad itu kan untuk satu dua perkara, yang bisa jadi suatu saat berubah seiring waktu. Tetapi kalau selama puluhan tahun menetapkan loyalitas kepada suatu regim politik tertentu, dan semakin memuncak loyalitasnya dengan pernyataan-pernyataan dukungan secara terbuka; ini bukan ijtihad politik lagi; ini adalah keberpihakan.

    Admin.

  14. abisyakir mengatakan:

    @ FPI atau Perindu Ukhuwwah atau wowo atau inkonsisten atau Fulan X atau siapa sajalah Anda…

    Mula-mula, Anda jangan sebutkan URL sebagai “abisyakir”, URL itu milik Anda sendiri, bukan milik kami. Terus jangan suka gonta-ganti nama begini, nanti akan membingungkan orang yang diskusi. Kalau Anda banyak copy paste, sebaiknya link-nya saja supaya tidak terlalu memenuhi board.

    Ya intinya, kami tidak menghina Said Ramadhan Al Buthi, karena bukan kapasitas seorang Muslim untuk melakukan hal itu. Tetapi kami hanya MENOLAK loyalitasnya kepada regim sesat, zhalim, dan kufur Bashar Assad (dan ayahnya). Itu saja. Karena membela regim penumpah darah itu adalah kejahatan besar dalam Syariat Islam.

    Admin.

  15. abisyakir mengatakan:

    @ Inkonsisten…

    Aku lelah menghadapimu. He he he…

    Admin.

  16. arif rahman mengatakan:

    wallahu a’lam,,,kematian syeikh ramadhan al-buthi kita serahkan saja kepada ALLAH, timbangan pahala dan dosa adalah hak ALLAH SWT, segala sesuatu yg kita lakukan akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak…

  17. inkonsisten mengatakan:

    MENGHINA ATAU MEMVONIS
    Ya intinya, kami tidak menghina Said Ramadhan Al Buthi, karena bukan kapasitas seorang Muslim untuk melakukan hal itu
    VS
    Kita harus memvonis Al Buthi ini sebagai ulama yang berdiri di sisi para THAGHUT! Itu harus jelas, nyata, dan tegas! Tidak perlu ditutup-tutupi dan segan

    antum sendiri mengkritik orang lain tidak tegas mengaku wahabi atau tidak, sementara antum tidak tegas mengatakan diri antum wahabi atau bukan. declare dong kalo antum wahabi!!!

    antum mengkritik pks habis-habisan seolah tidak ada kebaikan sama sekali di pks (antum mungkin sempurna kali yee) , pks menurut “fakta” yang antum liat jalan sendiri dalam berdakwah sementara antum jalan sendiri dengan cara da’wah antum (tidak di pks, HTI, MMI, jamaah anshorut tauhid, DDII, NU, Muhammadiyah, persis, NII, WI, FPI, al qaida……entah dimanakah antum berada? (tidak tegas.com))

    antum mengkritik pks habis-habisan karena membuat harlem shake….alasan antum itu budaya barat yang tidak pantas diikuti kaum muslimin tetapi antum memuji kreativitas dari copyan video film barat yang didubbing. ada apa dengan antum akhi?

    Blog antum menurut saya tidak memberikan pencerahan kepada umat tetapi justru membuat kutub-kutub diantara umat semakin melebar dengan perbedaan, vonis, menghujat.

    NOT RECOMENDED

  18. Perindu ukhuwah mengatakan:

    Kehidupan para shahabat di masa Rasulullah saw. adalah teladan kita; mereka (para shahabat) adalah kumpulan manusia, yang tidak terlepas dari salah. Contohnya Hatib bin Abi Balta’ah ra.

    Pada awal Bulan Ramadlan tahun ke delapan Hijriah, Rasulullah saw. melakukan beberapa manuver untuk merahasiakan rencana pembebsan Makkah dan memberi kesan pada publik bahwa beliau tidak mengerahkan pasukan ke Makkah. Di samping itu, beliau juga berdoa kepada Allah swt. agar merahasiakan rencana tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Tarikh Ath-Thabari,

    اللّهُمَّ خُذِ الْعُيُوْنَ وَاْلأَخْبَارَ عَنْ قُرَيْشٍ حَتَّى نَبْغَتُهَا فِي بِلاَدِهَا

    “Ya Allah, peganglah mata-mata dan berita-berita agar tidak sampai ke Quraisy, sehingga kami dapat menyerangnya secara tiba-tiba di negaranya.”

    Sementara itu, ada seorang shahabat Muhajirin, Hatib bin Abi Balta’ah menulis surat untuk tokoh-tokoh Quraisy. Dalam suratnya, Hatib mengabarkan rencana keberangkatan Rasulullah saw. menuju Makkah untuk melakukan serangan mendadak. Surat tersebut dititipkan pada seorang wanita dengan upah tertentu dan langsung disimpan di gelungan rambutnya. Namun, Allah swt. Dzat Yang Maha Melihat mewahyukan kepada Nabi-Nya tentang apa yang dilakukan Hatib.

    Beliau pun mengutus Ali bin Abi Thalib ra., Miqdad bin Aswad ra., Zubair bin Awwam ra., dan Abu Murtsid Al-Ghanawi ra. untuk mengejar wanita yang membawa surat tersebut. Beliau memberi intruksi kepada mereka, “Segeralah kalian berangkat hingga kalian sampai di Raudlah Khakh sebab disana ada seorang wanita membawa surat untuk orang-orang quraisy.”

    Setelah Ali berhasil menyusul wanita tersebut, beliau langsung meminta suratnya. Namun, wanita itu berbohong dan mengatakan bahwa dirinya tidak membawa surat apapun. Ali memeriksa hewan tunggangannya, namun tidak mendapatkan apa yang dicari. Maka Ali ra. berkata,

    “Aku bersumpah demi Allah, Rasulullah saw. tidak bohong. Demi Allah, engkau keluarkan surat itu atau kami akan menelanjangimu.”

    Setelah tahu kesungguhan Ali ra., wanita itupun menyerahkan suratnya kepada Ali ra.

    Sesampainya di Madinah, Ali ra. langsung menyerahkan surat tersebut kepada Rasulullah saw. Dalam surat tersebut tertulis nama Hatib bin Abi Balta’ah. Dengan bijak Rasulullah saw. menanyakan alasan Hatib, lalu ia menjawab,

    “Jangan terburu menuduhku wahai Rasulullah. Demi Allah, aku orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Aku tidak murtad dan tidak mengubah agamaku. Dulu aku adalah anak angkat di tengah Quraisy. Aku bukanlah apa-apa bagi mereka. Di sana aku memiliki istri dan anak. Sementara tidak ada kerabatku yang bisa melindungi mereka. Sementara orang-orang yang bersama Anda memiliki kerabat yang bisa melindungi mereka. Maka dengan jasa itu, aku berharap Allah swt. melindungi kerabatku di sana melalui mereka.”

    Mengetahui berita trsebut, Umar bin Khattab ra. mengeluarkan statement (baca menghakimi) bahwa Hatib adalah pengkhianat dan munafik,

    “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”

    Rasulullah saw. dengan bijak menjawab, “Sesungguhnya ia telah ikut perang Badr. Lalu apa yang engkau ketahui, wahaiUmar ? Sungguh Allah telah meilihat isi hati orang-orang yang ikut dalam perang badar, seraya berfirman, “Berbuatlah sekehendak kalian, karena Allah telah mengampuni kesalahan kalian.”

    Umar pun kemudian menangis, sambil mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

    Kisah Hatib ra. ini diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya,

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (Al Mumtahanah: 1)

    Riawayat tersebut memberikan beberapa pelajaran, antara lain:

    Tidak ada manusia yang sempurna, selain Rasulullah saw. Bahkan shahabat yang ikut perang Badar pun, bisa melakukan kesalahan.

    كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

    “Setiap manusia itu bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat.” (h.r. Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi)

    Hadits ini menegaskan bahwa tidak ada kesempurnaan pada manusia (kecuali para nabi), karena itu jangan menuntut manusia sempurna dalam segala hal, dan jangan menghilangkan kecintaan pada saudara karena kesalahan yang dilakukannya, terutama jika ia mau mengakui kesalahan dan bertaubat kepada Allah swt.

    Orang yang selalu menuntut saudaranya harus sempurna (perfeksionis) akan kehabisan energi, mudah kecewa, mudah putus asa, gampang menghakimi, dan gemar mengkritik, yang pada akhirnya akan terpuruk saat ia juga melakukan kesalahan.

    Tidak sepatutnya kita tergesa-gesa menghakimi saudara kita, meski kita mendapatkan bukti-bukti kongkrit, karena boleh jadi bukti yang kita kumpulkan belum cukup untuk menghukumi saudara kita.

    Meski Umar bin Khathab telah mengantongi tiga fakta; Hatib telah menulis surat, Hatib telah menyewa perempuan untuk mengirim surat, dan Hatib telah mengakui sendiri. Namun fakta tersebut belum cukup untuk menghukumi Hatib dengan pernyataan, “Wahai Rasulullah, biarkan aku memenggal lehernya, karena dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta bersikap munafik.”

    Oleh karena itu Rasulullah saw. mengingatkan Umar bin Khathab ra. dengan tiga hal lain yang harus menjadi pertimbangan, yaitu; bahwa Hatib ikut dalam perang Badr, bahwa Allah swt. mengampuni dosa para shahabat yang ikut perang Badr, dan alasan Hatib menulis surat tersebut.

    Apabila dengan tiga fakta yang kuat tidak diperkenankan menghakimi orang, maka apalagi menghakimi saudara tanpa didasarkan pada fakta, hanya sekedar isu atau berita dari media. Apalagi kalau sudara yang dihakimi itu adalah para ulama dakwah yang telah dikenal kebaikan dan jasanya???

    Saya tidak dalam posisi memihak syaikh al buthy karena saya pun tidak tahu persis posisi beliau disana hanya dari berita-berita yang berkembang dimedia dan saya yakin sama seperti admin, tetapi berharap setiap orang bijak dalam menilai. Kita yang hidup dialam yang bebas berekspresi seperti ini tentu akan mudah menilai apa saja. tetapi kita belum tentu bisa merasakan sulitnya memegang prinsip di tengah represifnya penguasa.

  19. emprit gepeng mengatakan:

    Afwan…Tadz.. kita perlu melihat kembali wala’ dan baro’ baru kita akan tahu dengan kasat mata siapa yang benar dan salah…syukron..

  20. Bintang mengatakan:

    [9]. Bashar Assad ingin mempertahankan penjajahan minoritas Syiah Nusairiyah atas negeri Ahlus Sunnah, Suriah. Padahal semua orang tahu, Damaskus sejak era Muawiyah bin Abi Sufyan Ra, adalah ibukota negeri Ahlus Sunnah. Penjajahan ini ingin terus dia lestarikan, sampai waktu yang Allah saja mengetahui akhirnya.

    (Justru Di Zaman Muawiyah Bin Abu Sufyan ini, terbunuhnya Cucu Rasulullah SAW Syaidina Husein Bin Ali Radiallohuanhu Putar Dari Syaidatu Fatimah Azzahra Binti Rasulullah SAW, di Padang KARBALA, yg mana kepala yg mulia di bawa ke hadapan Muawiyah Bin Abu Sufyan, dan Penguasa ini melegalkan Pembunuhan Tersebut)

  21. abisyakir mengatakan:

    PERBEDAAN AL BUTHI DENGAN HATIB ABI BALTAH’AH RA

    [1]. Hatib Abi Baltha’ah Ra adalah Ahlul Badar, peserta perang Badar yang memang telah dijanjikan ampunan. Sementara Al Buthi adalah tokoh Muslim zaman modern (bukan peserta Perang Badar).

    [2]. Hatib Abi Baltha’ah Ra mengaku punya alasan di balik sikap khianatnya, yaitu untuk melindungi isteri dan anaknya. Alasan ini jelas diketahui kaum Muslimin. Sementara Al Buthi tidak jelas, apa alasannya menjadi ulama regim Assad selama puluhan tahun.

    [3]. Hatib Abi Baltha’ah Ra tidak pernah merugikan kaum Muslimin, tidak pernah membantai umat, tidak pernah menimbulkan kekalahan pada umat. Apa yang beliau lakukan baru setahap “nyaris” merugikan umat. Belum sampai jatuh korban apapun. Sementara regim kufur Assad, telah membunuhi puluhan ribu manusia sejak zaman Hafezh Assad laknatullah ‘alaih sampai zaman Basgar Assad laknatullah ‘alaih. Membela regim begitu tentu amat sangat mengerikan.

    [4]. Andaikan surat Hatib Ra jatuh ke tangan kufar Makkah, lalu mereka berhasil mengalahkan Nabi Saw dan membunuhi kaum Muslimin; andaikan hal itu terjadi; maka perbuatan Hatib tetap dianggap sebagai makar bagi kaum Muslimin. Nabi Saw memaafkan beliau, karena memang belum jatuh korban apapun. Sementara di tangan Bashar Assad dan ayahnya (penjagal ummat); mereka adalah sejahat-jahatnya manusia.

    [5]. Bagaimanapun, Allah Ta’ala tetap menyalahkan perbuatan Hatib Ra itu, lewat ayat-Nya dalam Surat Al Mumtahanah 1:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah….” (Al Mumtahanah: 1).

    Ini adalah teguran keras bagi Hatib Ra, meskipun beliau tetap diaku sebagai orang beriman (bukan orang munafik seperti tuduhan Umar Ra).

    Rasul Saw melarang sanksi atas Hatib Ra, karena dia Ahlul Badar; tetapi perbuatannya benar-benar dicela oleh Allah, sehingga tidak boleh diikuti dan ditiru. Apa mungkin Allah akan menghalalkan sikap khianat?

    Lalu bagaimana dengan orang ‘alim tertentu yang melegitimasi kejahatan regim kufur selama puluhan tahun? Apakah Islam membenarkan sikap orang ‘alim itu? Kalau dibenarkan, berarti ia tuduhan besar kepada Islam, seolah agama ini menghalalkan kezhaliman, penindasan, pembantaian, kesesatan, kekufuran, kekejian, dst.

    [6]. Terakhir, Hatib Ra dikenal tidak pernah lagi mengulangi perbuatannya, sampai akhir hayat. Sementara orang tertentu, sampai saat wafatnya dia berdiri di atas fatwa untuk: berjihad membela thaghut dan berjihad melawan Ahlus Sunnah. Idzan fa aina makanuh?

    Kami peringatkan, dengan setulus hati dan berharap rahmat Allah; jangan jadikan kisah para Shahabat Ra sebagai pembela atas perbuatan khianat ummat di zaman ini. Janganlah…

    Admin.

  22. San3ka vahoenk mengatakan:

    Salahsatu persamaan antara syiah dan Wahabi adalah sama2 suka memvonis buruk seseorang tanpa peduli dan pandang bulu mau shohabat mau salafusholih, apalagi pd ulama zaman sekarang spt syeikh Al Buthy.pokoknya main sikat bleh.makanya gak aneh biar katanya santun juga teuteup wae ngotot.emang orang2 pinter zaman sekarang harus gitu yah?jangan pernah mau menerima argumen orang lain?ok, deh..kalo gitu, maju truus pantang menyerah.

  23. abisyakir mengatakan:

    @ San3ka vahoenk…

    Anda ini salah kaprah; kami itu tidak memvonis pribadi Al Buthi-nya; tapi memvonis sikap politiknya yang salah, karena mendukung thaghut Bashar Assad. Masak gak bisa bedakan pribadi dan sikap politik?

    Admin.

  24. abisyakir mengatakan:

    @ Bintang….

    Justru Di Zaman Muawiyah Bin Abu Sufyan ini, terbunuhnya Cucu Rasulullah SAW Syaidina Husein Bin Ali Radiallohuanhu Putar Dari Syaidatu Fatimah Azzahra Binti Rasulullah SAW, di Padang KARBALA, yg mana kepala yg mulia di bawa ke hadapan Muawiyah Bin Abu Sufyan, dan Penguasa ini melegalkan Pembunuhan Tersebut.

    Respon: Itu bukan di zaman Muawiyah Ra, tetapi di zaman putranya, Yazid bin Muawiyah. Jadi informasi sejarah yang Anda sebutkan ini SALAH atau KELIRU. Peristiwa Karbala’ bukan terjadi di zaman Muawiyah Ra.

    Admin.

  25. gjjb mengatakan:

    bgmn dgn milisi bayaran dr negara2 barat dan negsra arab lainnya yg bergabung dgn pasukan anti basyar ? ada hubungan ? muawiyah tdk mau melibatkkan pasukan kafir romawi lo….wkt vs pasukan ali.

  26. Fulan-b mengatakan:

    tanggapan buruk terhadap syaikh said al buthi,itu adalah hasil dari rekayasa zionis isroil dan antek anteknya,,,,,,saya trmasuk orang yang mengkaji kitab beliau…fiqh siroh

  27. Budak sunda mengatakan:

    Walaupun banyak orang yang menjelek2an, menyudutkan Syech Muhammad Romdhoni Said Al Buthi yang jelas beliau meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Beliau meninggal dalam keadaan sedang memberi pelajaran taklim rutinnya, beliau meninggal di dalam Masjid, dan beliau meninggal pada malam jumat….”Alaa haadzihinniyyah wa’alaa kullin niyyatin sholihah wa ilaa hadhrotin nabii khushushon As syech Muhammad Romadhan Said Al Buthi Al Fatihah…
    berikut ceramah Habib Riziek Shihab mengenai wafatnya Al buthi; https://ia801701.us.archive.org/16/items/TAKLIMNETHabibRizieqShihabMengenangSyahidnyaSyehSaidRamadhanAlButhi/TAKLIMNET%20Habib%20Rizieq%20Shihab%20Mengenang%20Syahidnya%20Syeh%20Said%20Ramadhan%20Al%20Buthi.mp3

  28. abisyakir mengatakan:

    @ Fulan-b…

    Kami bukan mengecilkan atau meruntuhkan kebaikan2 pribadi Al Buthi, tetapi kami menolak sikap loyal beliau kepada regim Assad, sejak era Hafezh Assad. Karena di balik sikap itu ada ratusan ribu kaum Muslimin Sunni di Suriah yang terbunuh/ditindas. Padahal mereka bukan kalangan “Wahabi”.

    Sebagaimana Anda tidak mau Al Buthi disalah-pahami, maka JANGAN SALAH PAHAMI JUGA sikap kami. Kami tidak ridha mendukung siapapun yang menolong regim FASAD yang menghancurkan kehidupan kaum Muslimin seluas-luasnya, seperti regim Assad itu.

    Admin.

  29. abisyakir mengatakan:

    @ Gjjb…

    Anda sebut saja mana milisi bayaran itu? Kalau Mujahidin tentu mengharapkan pahala Jihad di sisi Allah; bukan karena bayaran. Iya kan?

    Kalo tentang Muawiyah Ra ya jelas lah beliau tak akan melibatkan pasukan kaum kafir; sebab jika itu dilakukan, beliau jelas telah memaklumkan perang total melawan Khalifah Rasyidah. Perang total itu (jika terjadi) bisa membedakan antara iman dan kufur.

    Admin.

  30. Budak sunda mengatakan:

    Robbabaa arinal haqqo haqqo warzuqnat tibaa’ah, Wa arinal bathila baathilaw warzuqnaj tinaabah…..Ya Allah tunjukkanlah yang benar itu benar dan tunjukkanlah yang salah tu salah….Aamiin.

  31. Profesor mengatakan:

    Pasal 1 :: Idola Selalu Benar.
    Pasal 2 :: Jika Idola Salah, Maka Kembali Ke Pasal 1.

  32. abisyakir mengatakan:

    @ Profesor…

    He he he… Pasal begitu pertama kali dikenalkan senior-senior saya di kampus, dalam kegiatan sejenis Ospek. Cuma waktu itu memakai kata “senior”, bukan idola. Hatur nuhun.

    Admin.

  33. Doctor mengatakan:

    Video Pembunuhan Syeikh Al Bouty…
    Segera Download sebelum di hapus oleh pihak yang berkepentingan…

    http://www.eramuslim.com/video/video-pembunuhan-syeikh-al-bouty-segera-download-sebelum-dihilangkan.htm#.UWUBxkpiLWE

  34. Pujangga mengatakan:

    inkonsisten mengatakan:
    Maret 26, 2013 pada 4:38 am
    antum sendiri mengkritik orang lain tidak tegas mengaku wahabi atau tidak, sementara antum tidak tegas mengatakan diri antum wahabi atau bukan. declare dong kalo antum wahabi!!!

    Benar banget tuh apa yang dikatakan inkosisten….dulu saya pernah baca artikel ini, dan ustadz abysyakir mengatakan kalau dia bukanlah seorang wahabi, tapi knp waktu ada buku karya idahram malah ustadz abysyakir yang kebakaran jenggot dan bikin buku tandingan….

  35. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea mengatakan:

    @..pujangga & Inkonsisten

    kalian ini aneh… dikit-dikit Wahabi.. dikit-dikit Wahabi… kalian sendiri ngerasa Senang tidak disebut Wahabi..? kalau kalian ngerasa tidak senang bila di’sebut Wahabi,, terus kenapa kalian doyan banget ngasih Gelar Wahabi k’orang lain.?

    Nonjok Doyan, Giliran di Tonjok Mbung..

    lagian Apa susahnya bertanya langsung ke yang bersangkutan, Apakah anda Wahabi atau bukan, supaya kalian tau yang bersangkutan itu wahabi atau bukan..

    Ma’afkan saya kalau bahasanya terlalu Keras.. sekali lagi Ma’afkan Saya..

    o iyah,. saya punya sesuatu Buat kalin.. Semoga Bermanfa’at… Dibaca yaa..

    “Dan setiap orang dari manusia bisa diambil dan bisa ditolak kecuali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ambillah kebaikan dari semua orang dan tinggalkan keburukan dari setiap orang. Didiklah diri kalian sendiri dengan ilmu yang manfaat sehingga kalian mengetahui kebenaran. Kenalilah kebenaran, tentu kalian akan bisa mengetahui para pembelanya. Jangan ukur kebenaran dengan person tertentu. Jika kalian benar-benar mengetahui adanya sebuah kebenaran maka ambillah dari kelompok manapun dan ulama manapun. Jika kalian mengetahui adanya sebuah kebatilan maka jauhilah meski itu dikatakan oleh orang yang kita cintai, terlebih lagi jika selainnya. Hendaknya kalian saling tolong menolong dalam melakukan kebaikan.” [[ Ash Shan'ani ]]

  36. abisyakir mengatakan:

    @ Pujangga…

    Benar banget tuh apa yang dikatakan inkosisten….dulu saya pernah baca artikel ini, dan ustadz abysyakir mengatakan kalau dia bukanlah seorang wahabi, tapi knp waktu ada buku karya idahram malah ustadz abysyakir yang kebakaran jenggot dan bikin buku tandingan….

    Respon: Karena guru-guruku banyak dari kalangan “Wahabi”. Murabbi-murabbi ku waktu masih bersama Tarbiyah dulu, juga kental nuansa “Wahabi”-nya. Dan herannya, rata-rata mereka baik, santun, terpelajar, dan empati kepada Islam. Lha kok kemudian Idahram buat buku yang sangat menghujat begitu; jelas itu berbeda sekali dengan apa yang kusaksikan dari -minimal- sikap guru-guruku itu. Gimana jelas, akhi?

    Admin.

  37. Pujangga mengatakan:

    Lantas knp dulu antum mengatakan bahwa antum bukanlah wahabi padahal guru2 antum wahabi….antum tahu kan kalau berdusta adalah ciri2 orang munafik, sebenarnya apa sih maksud antum dengan tidak mau mengatakan bahwa antum wahabi ( tidak gentle )???

  38. Yus wono mengatakan:

    banyak orang cari selamat ketika publik menghujat aliran tertentu, pada gilirannya orang mengklaim dirinya kelompok tertentu ketika publik membanggakannya…jangan2 kita bagian dari itu tp setidaknya ada niat untuk merubahnya agar tidak seperti itu bukannya malah kebanyakan alasan dan diplomasi,,,

  39. abisyakir mengatakan:

    @ Pujangga…

    Saya dibesarkan di keluarga NU, sejak remaja sampai mulai kuliah saya mendekat ke Muhammadiyah, ketika kuliah dan setelah menikah banyak mendapat kajian dari Jamaah Tarbiyah, setelah itu banyak mendapat pengaruh ilmiah dari dakwah Salafiyah; alhamdulillah, ‘ala kulli ni’matih.

    Dalam buku “Bersikap Adil Kepada Wahabi” sudah saya katakan: kalau misalnya yang disebut Wahabi itu karena komitmen kuat kepada SYAHADAT, karena komitmen ilmiah, dan pembelaan kepada negeri-negeri Muslim; ya saya Wahabi. Tapi kalau yang dimaksud Wahabi adalah sikap fanatik buta, tidak menelaah, tidak mencermati, asal telan saja; maka saya bukan Wahabi.

    Apa sih susahnya memahami sikap seperti itu? Apa yang begitu Anda sebut munafik? Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun.

    Admin.

  40. sastro mulyo mengatakan:

    saya bela al allamah al buthi ASYSYAHID InsyaAlloh meskipun saya anti syiah dan anti Al Assad. Sikap Al Buthi itu pelajaran bagi kita Ummat Islam agar kalau menyelesaikan masalah haruslah dengan diplomasi dan ilmu sehingga bisa mencapai tujuan. Lihat Al Buthi dengan ilimu dan kelihaiannya beliau mampu mengerem Al Hafez dan menda’wahkan Sunni secara perlahan sehingga sunni bisa selamat. Berdakwah bagi Islam tidak harus berperang karena di dalam Islam ada ulama yang mampu “menalukkan” apapun dan ulama ulama seperti itulah yang telah menyelamatkan Suriah dari perang darah. Seandainya semua mau berunding dengan tidak egois maka Suriah pasti selamat. mengalah kalau takti tidaklah hina dalam Islam. Ingat pERJANJIAN hUDAIBIYAH. Nabi i kritik sahabatnya karena menganggap perjanjian itu merugikan Islam.

  41. abisyakir mengatakan:

    @ Sastro mulyo…

    Ya kalo seorang ulama sukses membujuk para tiran, harusnya akibatnya: rakyat selamat, tidak ada pembantaian, tidak ada penyembahan foto2 dirinya. Kalau terjadi hal begitu, justru dipertanyakan sejauhmna dakwahnya?

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 131 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: