Wanita Dermawan Itu Wafat dalam Damai

Hari Selasa, tanggal 23 April 2013, saat menjelang Shubuh, wafat salah seorang hamba Allah yang dermawan. Dia adalah Ibu Jamilah Haidarah, atau sering dipanggil Ummi. Beliau menghabiskan sisa umurnya di Kota Bandung, tepatnya di kawasan Jl. Ahmad Yani.

Wanita ini bukan sosok public figure yang namanya disebut dimana-mana. Sosoknya tak pernah menghiasi layar TV. Beliau juga bukan seorang da’iyah yang banyak menasehati Ummat lewat ceramah-ceramah. Namun beliau memiliki banyak keutamaan.

Amal-amalnya tersebar bagaikan angin, bertiup tanpa suara kemana-mana, cepat dirasakan manfaatnya. Kebaikan-kebaikannya mengalir bagaikan air, memenuhi tempat-tempat yang rendah, bisa direguk siapapun yang kehausan. Ia memancar kebaikan, tak putus-putusnya, sampai akhir hayat.

Ummi Jamilah Haidarah mengelola toko meubel di Jl. Ahmad Yani Bandung. Usahanya laris manis, mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Dari usaha itu beliau banyak membelanjakan harta untuk membantu kaum Muslimin yang membutuhkan. Keutamaan-keutamaan amalnya sungguh mengagumkan. Disini kami sebutkan sedikit yang bisa diceritakan.

Ummi Jamilah rahimahallah semasa hidupnya sering berkunjung kesana kemari, menjenguk orang sakit, melihat orang yang kesusahan, takziyah kepada yang meninggal, shilaturahim kepada sanak-kerabat, dan sebagainya. Setiap berkunjung, kepada orang yang dikenal atau tidak dikenal, beliau selalu membawa uang atau makanan untuk disedekahkan. Jika mendengar ada orang sakit, dirawat di rumah sakit, meskipun bukan keluarga sendiri, beliau membantu dari sisi biaya atau mengirim makanan bagi pasien dan orang-orang yang menjenguk.

Beliau menyantuni warga sekitar, terutama fakir-miskin dan orang menderita. Bahkan dirinya membantu preman-preman di sekitar Jl. Ahmad Yani, mengasihi mereka, membina mereka, mengajak mereka kembali menjadi orang yang baik-baik. Banyak orang merasa kehilangan saat dia wafat.

Beliau memiliki rumah besar di Cirebon yang sengaja disediakan untuk para tamu dan orang-orang yang membutuhkan. Rumah itu bisa menampung 20 hingga 30-an orang. Siapa saja yang membutuhkan dipersilakan memakai tempat tersebut. Disana sudah disediakan ruang tamu, tempat tidur, dan aneka fasilitas. Orang yang memakai ruang itu tak dipungut biaya. Berkali-kali rumah itu ditawar oleh pebisnis, tapi tak diberikan, karena memang didedikasikan untuk kebaikan.

Beliau bersikap murah hati kepada para karyawan yang bekerja padanya. Selain mendapatkan upah, mereka juga diberi tempat tinggal dan mendapat tunjangan kebutuhan. Bagi Ibu Jamilah Haidarah, tidak ada kata merugi dalam bersedekah, beliau terus membantu kaum Muslimin melalui titipan harta yang sampai padanya. Seakan harta-harta itu hanya “lewat” di tangannya, lalu diterima oleh orang lain dalam bentuk manfaat dan pemenuhan kebutuhan.

Sebelum wafat, beliau telah mengalami sakit. Beberapa hari sebelum meninggal, beliau tampak sehat kembali. Kesempatan itu beliau gunakan untuk berkunjung ke Cirebon. Sepulang dari Cirebon, kondisinya semakin lemah.

Malam hari sebelum wafat, beliau sempat membangunkan pembantunya untuk menjalankan shalat malam bersama. Setelah shalat malam, beliau istirahat kembali. Tampaknya, itulah istirahat terakhir beliau di dunia ini. Ketika saat Shubuh, beliau telah wafat. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Beliau berpulang menghadap Rabb-nya dalam damai dan tenang.

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah engkau kepada Rabb-mu dalam keadaan ridha dan diridhai, masuklah engkau ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam jannah-Ku.” (Surat Al Fajr: 27-30).

Sekeping doa terhatur dari kami:

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha, wa akrim nuzulaha wa wassi’ mudkhalaha waghsilha bil maa’i wats tsalji wal barad, wa naqqihi minal khathaya kama naqqaitats tsaubal abyadhu minaddanas, wa abdilha daaran khairan min daariha wa ahlan khairan min ahliha wa zaujan khairan min zaujiha, wa adkilhal jannah wa a’idzha min adzabil qabri au min ‘adzabin naari.”

(Ya Allah, ampunilah dia, kasihilah dia, berikan keselamatan kepadanya, maafkan kesalahannya. Muliakan tempat tinggalnya, luaskan tempat masuknya –ke alam barzakh-, mandikan dia dengan air, salju, dan air dingin. Bersihkan dia dari kesalahan seperti Engkau membersihkan kain putih dari kotoran. Gantikan baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya –di dunia-, keluarga yang lebih baik dari keluarganya –di dunia-, pasangan hidup yang lebih baik dari pasangannya –di dunia-. Masukkan dia ke dalam surge, jauhkan dia dari adzab kubur atau adzab neraka). HR. Muslim, dari ‘Auf bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.

Saat pemakaman, manusia membludak menghantarkannya. Kendaraan dan jalan macet karena begitu banyaknya manusia yang partisipasi. Kata Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam, kalau seorang insan disaksikan BAIK oleh manusia di sekitarnya, dia pun menjadi BAIK di sisi Allah. Amin ya Rahiim.

Pada akhirnya, dunia ini harus diisi dengan kebaikan-kebaikan yang tulus. Bila ada yang wafat, maka silsilah kebaikan harus diteruskan oleh generasi berikutnya. Demikian seterusnya, hingga Allah Ta’ala senantiasa menjaga pijar keutamaan agama-Nya lewat hamba-hamba yang saleh.

Semoga sedikit tadzkirah ini bermanfaat sebagai peringatan dan nasehat, bagi kami, Anda, dan kita semua. Setiap insan pasti akan wafat, hanya soal momentumnya. Ya Allah kami memohon husnul khatimah kepada-Mu dan jauhkan kami dari su’ul khatimah. Amin Allahumma amin.

(Abinya Syakir).

Iklan

5 Responses to Wanita Dermawan Itu Wafat dalam Damai

  1. Udin berkata:

    Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Ummi Jamilah Haidarah, dan Allah menjadikan kita sebagai penerus kebaikan itu…suwun mas Abi Syakir

  2. abisyakir berkata:

    @ Udin…

    Amin Allahumma amin. Sama-sama Pak. jazakallah khair.

    Admin.

  3. masa_git berkata:

    Bismillah
    Sekedar masukan, saya pernah mendengar keterangan seorang ustadz bahwa do’a untuk yang meninggal (allhummaghfirlahu…dst) itu tidak perlu diganti dhamir-nya misalkan menjadi allahummaghfir-laha, disesuaikan dengan jenis kelamin yang meninggal. karena dhamir disitu bukan menunjukkan jenis kelamin orang yang meninggal, tetapi tertuju kepada mayyit. yang dalam kaidah bahasa arab tergolong kata berjenis mudzakar.
    Sama halnya dengan do’a berikutnya (allahumma anta rabbu-ha…dst) dhamir ha di situ bukan menunjukkan jenis kelamin melainkan menunjuk pada janazah, kata yang berjenis muannats.
    demikian semoga bermanfaat.

  4. abisyakir berkata:

    @ masa_git…

    Dari berbagai referensi yang saya baca, dhamir itu berubah sesuai jenis kelamin obyek yang didoakan. Ini sudah mafhum kaum Muslimin secara umum.

    Hal ini seperti ketika kita berdoa untuk diri pribadi kita “rabbighfirli, warhamni, wahdini…”; lalu kalau dalam konteks umum kita ubah menjadi “rabbanaghfirlana, warhamna, wahdina…”

    Ketika Nabi Saw masih hidup, para Shahabat Ra kalau membaca doa Tahiyat, mereka berkata: Assalamu ‘alaika aiyuhan nabiyu wa rahmatullah… Tetapi ketika Nabi Saw sudah wafat, mereka mengubah doanya: Assalamu ‘alan Nabi wa rahmatullah

    Sama seperti dalam doa wirid pagi ada kalimat: Ashbahna wa ashbahal mulku lillah… Maka ketika petang hari, doa itu diubah: Amsaina wa amsainal mulku lillahi…

    Jadi doa ini berubah sesuai konteksnya, dan secara Syariat itu dibenarkan. Ulama-ulama banyak berpendapat demikian.

    Bisa saja dhamirnya dibuat general, misalnya disebut “mayyit” yang bersifat mudzakkar. Tapi itu menjadi bersifat umum, padahal dalam Syariat keberadaan kata ganti “ha” atau “huma” atau “hum”, memiliki kekhususan makna dibandingkan jika memakai istilah general.

    Singkat kata, mengubah dhamir dalam bacaan doa sesuai dengan kondisi khusus obyek yang didoakan, inilah yang kita lakukan. Dan hal itu tidak salah. Keyakinan kami, cara doa demikian lebih benar daripada membaca doa dengan dhamir general.

    Admin.

  5. masa_git berkata:

    Kalo yang dicontohkan itu saya sepakat boleh diganti. Bahkan seorang khatib yang menutup khutbahnya dengan do’a sebaiknya menggunakan dhamir jamak (nahnu) sebab nanti diaminkan oleh jamaah. Kalau dhamirnya tetap mutakallim wahid berarti si khatib egois (hihi…) cuma ingin diaminkan sendiri. Yang jadi perhatian saya adalah : kedua do’a (allahummaghfirlahu dan allahumma anta rabbuha) dibaca dua2 nya dalam satu shalat janazah, biasanya yang satu takbir ke dua atau ketiga dan satu di akhir, dan saya tidak pernah mendengar ada yang mengganti do’a allahumma anta robbuha menjadi rabbuhu. dan yang saya tekankan memang ketika kita melaksanakan shalat janazah, tapi kalau dalam konteks di luar sholat sih mungkin tidak masalah. afwan…terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: