Warning: MUI Lagi Diancam Syiah Rafidhah !!!

Mei 31, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sahabat-sahabat Muslim, kami minta perhatian Anda terhadap masalah besar yang kini sedang dihadapi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Singkat kata, kelompok Syiah Rafidhah sedang berencana mengajukan gugatan hukum, terkait Fatwa MUI Jawa Timur. Tuntutan mereka: Fatwa itu dicabut, MUI dibubarkan, MUI didenda setiap hari Rp. 1 miliar.

Persidangan akan dimulai pada tanggal 5 Juni 2013 ini. Sebelum persidangan dilakukan, MUI meminta dukungan kaum Muslimin-Muslimat untuk memperkuat posisi dan kedudukannya; dari ancaman manusia-manusia srigala, Syiah Rafidhah.

Pihak MUI meminta dukungan kita dengan cara:

==> Kirimkan email dengan subyek: “Kami Memberi Dukungan atas Fatwa MUI Jatim No. Kep 01/SKF MUI/JTM/I/2012 tentang Sesatnya Ajaran Syiah”. 

==> Kirim email ini ke alamat Ustadz Irfan dari Komisi Fatwa MUI Pusat, dengan alamat email: irfanh70@gmail.com.

==> Dalam isi email, silakan tulis pernyataan dukungan ke MUI. Kalimat atau isinya terserah saja, asalkan berisi dukungan positif kepada MUI (MUI Jawa Timur) dalam menetapkan fatwa sesatnya Syiah Rafidhah.

==> Bila Anda tidak keberatan, silakan pesan seperti ini dikirimkan ke kawan-kawan, rekan, kolega, kenalan, dan kaum Muslimin seluas-luasnya. Jazakumulah khaira wa ahsana jaza’. 

Informasi ini sudah kami konfirmasi ke KH. Cholil Ridwan, dan beliau membenarkan tentang pentingnya dukungan bagi MUI di atas.  

Sebagaimana Syiah sudah berbuat onar di Libanon, Suriah, Irak, dan Iran, maka kita harus saling kerjasama untuk menghadang manusia-manusia yang dalam sejarahnya lebih kejam kepada kaum Ahlus Sunnah daripada orang-orang kafir itu. 

Demikian, semoga kita bisa mendukung upaya pembelaan Ummat ini. Amin Allahumma amin. 

Admin

Iklan

Cara Penegakan Hukum KPK Membabi Buta

Mei 30, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mula-mula harus disadari bahwa KPK adalah sebuah lembaga hukum resmi. Mereka ini termasuk penegak hukum bersama jajaran kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dan instrumen-instrumen hukum ad hoc lainnya. Fungsi KPK adalah penegakan hukum, khususnya dalam ranah pemberantasan korupsi. Sebagai penegak hukum, KPK juga terikat oleh hukum; kalau tidak begitu, lalu apa artinya ia disebut penegak hukum? Intinya, penegak hukum harus melaksanakan tugasnya sesuai prosedur hukum, tidak mentang-mentang, tidak membabi-buta.    

Masih teringat momen penting, sesaat sebelum Antasari Azhar, mantan Ketua KPK, dijatuhi vonis hukum. Saat itu Antasari ditanya, apakah dia yakin akan memenangkan perkara ini? Dia menjawab yakin. Begitu pun isteri Antasari meyakinkan, bahwa suaminya adalah tipe suami yang baik, tidak seperti yang digambarkan media dia punya affair dengan Rani Yuliani. Kajian hukum atas perkara ini tidak bisa membuktikan keterkaitan Antasari dengan Rani. Bahkan menurut visum dokter, korban Nasaruddin dibunuh dari jarak jauh, bukan tembakan jarak dekat. Keluarga Nasaruddin yang semula menyerang Antasari akhirnya memahami, bukan dia pelakunya.

Antasari adalah korban rekayasa hukum yang sebenarnya. Berbeda dengan Chandra Hamzah dan Bibit Samad yang membangun opini “kriminalisasi KPK” untuk menghindari proses hukum. Antasari lebih gentle dari seluruh pimpinan KPK yang datang kemudian; dia penegak hukum, tapi tidak anti proses hukum. 

Dalam momen berbeda, seorang model Vitalia Shesya, dalam acara ILC, mengaku barang-barang pemberian Ahmad Fathanah, telah dikembalikan ke KPK. Dia juga mengaku, pernah diberi uang jajan dan biaya pengobatan oleh Fathanah. Bila KPK menuntut semua pemberian itu dikembalikan, Vitalia janji akan mencicil. Bahkan dia bersedia “menjual badannya” untuk menutupi hutang ke KPK.  Itu pun disampaikan sambil menangis.  Saya merasa sangat ngeri mendengar istilah “menjual badan” itu. Mestinya Karni Ilyas bisa mengarahkan dialog sehingga santun dan tidak vulgar. 

Saya melihat betapa romantisnya Vitalia setiap menyebut nama Fathanah. Dia selalu menyebut “Mas Ahmad”. Dia menampakkan rasa hormat dan sayang. Bagi orang yang sudah dewasa dan peka, akan mengerti di balik panggilan lembut “Mas Ahmad” itu ada makna keintiman yang hanya mereka ketahui berdua, dan diketahui Allah Ta’ala dan para Malaikat ‘Alaihimussalam

Ilustrasi seputar Antasari hanya sekedar mengingatkan, bahwa KPK pernah punya pimpinan yang gentle, berani menghadapi proses hukum. Bukan seperti Busyro Muqaddas dan kawan-kawan yang selalu berlindung di balik kata “kriminalisasi KPK”. Katanya mengerti hukum, tapi tak berani menghadapi proses hukum? Dalam proses penyidikan Komite Etik KPK, Abraham Samad juga menolak menyerahkan Blackberry-nya untuk diselidiki. Aneh, pimpinan lembaga hukum kok menolak proses penyidikan? Bisa jadi di Blackberry itu terdapat bukti kuat yang bisa menjebloskan dia ke penjara. 

Ilustrasi seputar Vitalia sekedar untuk menjelaskan, betapa KPK sudah membabi-buta dalam menerapkan pasal-pasal “pencucian uang”. Begitu membabi-buta, sampai Vitalia menantang untuk “menjual badannya” demi membayar hutang ke KPK. 

Sebenarnya, awal kasus ini adalah tentang kasus penyuapan yang dilakukan orang-orang PT. Indoguna ke Ahmad Fathanah. PT. Indoguna sedianya akan memberikan suap senilai Rp. 40 miliar. Tahap awal mereka memberikan uang muka senilai Rp. 1 miliar ke tangan Fathanah, di Hotel Le Meredien. Proses penyerahan uang itu tertangkap oleh KPK, lalu Fathanah ditetapkan sebagai tersangka. Tentu saja uang yang baru diterima Fathanah disita oleh KPK. 

Nilai material uang suap yang sudah terbukti diberikan kepada Fathanah adalah Rp. 1 miliar. Sisa uang suap yang dijanjikan, Rp. 39 miliar, masih di kantong PT. Indoguna, karena belum diberikan ke Fathanah. Sementara uang 1 miliar di tangan Fathanah sebagian sudah dipakai, termasuk memberi ke Maharani Rp. 10 juta. Uang lainnya sudah disita KPK (nilainya mungkin skitar Rp. 970 juta). Jadi uang suap yang dipakai Fathanah paling sekitaran Rp. 30 juta. Sedangkan  uang ratusan juta, atau puluhan miliar, itu tidak ada di tangan dia. 

Disini ada fakta yang harus dilihat secara cermat: 

[a]. Uang suap yang benar-benar diterima Fathanah dalam kasus ini paling sekitar Rp. 30 jutaan. Selebihnya sudah disita KPK; sedangkan janji tambahan uang dari PT. Indoguna, masih di tangan mereka, belum pindah tangan ke Fathanah. 

[b]. Secara material, kasus ini tidak ada kaitannya dengan kerugian negara, karena pihak yang menyuap adalah swasta (PT. Indoguna), yang disuap juga orang swasta (Fathanah) bukan mewakili negara. Fathanah bukan siapa-siapa. Dia bukan menteri, bukan PNS, bukan pejabat, dan sebagainya. 

Jadi kasus ini sebenarnya susah untuk diangkat sebagai kasus penyuapan, karena kedua belah pihak (penyuap dan yang disuap) tidak mewakili negara. Maka itu kemudian KPK tergopoh-gopoh, sehingga cepat-cepat mengalihkan masalah ke kasus TPPU (tindak pidana pencucian uang). Awalnya ranah suap, lalu beralih ke TPPU. 

Mari kita melihat masalah ini dari kacamata TPPU. Anggaplah Fathanah telah melakukan kejahatan pencucian uang. Benarkah langkah-langkah yang ditempuh KPK selama ini? 

Perlu dijelaskan, gambaran proses “pencucian uang” kira-kira sebagai berikut: Seseorang mendapat uang kriminal (misalnya hasil korupsi), lalu uang itu dimasukkan ke usaha bisnis legal sebagai investasi, sehingga setelah melalui proses internalisasi, ia menjadi uang legal. 

Untuk terjadinya tindak pencucian uang, harus terpenuhi beberapa syarat: ada pelaku, ada uang hasil kejahatan, ada tindakan kejahatan, ada pihak penerima uang hasil kejahatan, ada proses pemberian uang dari pelaku ke penerima. Semua ini harus jelas bukti-buktinya. Tidak bisa dibuktikan hanya melalui opini Johan Budi, atau pemberitaan media yang massif. 

Katakanlah, misalnya si pelaku adalah Ahmad Fathanah. Si penerima uang, misalnya Vitalia Shesya. Lalu kejahatan yang telah dilakukan Fathanah apa? Kalau dia berbuat jahat, uang hasil kejahatannya mana dan berapa nilainya? Adakah bukti pemberian uang dari pelaku ke penerima? 

Kalau kejahatan Fathanah adalah menerima suap dari PT. Indoguna, itu bukan termasuk pidana suap (korupsi), karena kedua belah pihak sama-sama orang swasta. Kecuali kalau yang menerima uang suap itu Menteri Pertanian Suswono, itu baru penyuapan.  Jadi Fathanah tidak bisa disebut telah “mencuci uang” kalau tidak terbukti adanya tindak kejahatan dia. Pencucian uang dari hasil korupsi, harus terbukti dulu ada tindak korupsinya. Kalau tak ada tindak korupsinya, tidak bisa dituduh melakukan pencucian uang. 

Katakanlah, Fathanah telah mengirim uang ke sejumlah wanita. PPATK mencatat katanya ada 40-an wanita. Apa masalahnya? Apa tidak boleh memberi uang ke orang lain? Apa tidak boleh memberi uang ke kaum wanita? Sah-sah saja kan member uang. Misalnya, Fathanah memberi uang ke ibunya, adik wanitanya, bibinya, keponakan wanitanya, dan seterusnya. Apa yang begitu bisa dipastikan sebagai pencucian uang? 

Harus terbukti dulu: apa kejahatan Fathanah dan berapa nilai nominal kejahatannya? Ini harus terbukti dulu. Kita tidak boleh sembarangan menuduh ini itu, sebelum terbukti sah secara hukum. 

Sejak awal kita sudah sampaikan, uang kejahatan yang benar-benar terbukti menurut KPK di tangan Fathanah adalah Rp. 1 miliar, dikurangi beberapa puluh yang dipakai oleh Fathanah (misalnya untuk perbuatan mesum). Dengan asumsi, itu benar-benar tindak penyuapan. Sedangkan Fathanah dan PT. Indoguna sama-sama orang swasta, sehingga tak merugikan negara sama sekali. 

Selain itu, hal ini sangat penting sekali, tidak semua uang yang berasal dari Fathanah adalah hasil kejahatan, dan tidak setiap uang yang diberikan oleh Fathanah adalah pencucian uang. Bisa jadi Fathanah punya bisnis-bisnis legal dan usaha, lalu dia sering memberi belanja kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk uang yang dia berikan untuk memenuhi syahwatnya. 

KPK tidak boleh sembarangan menuduh, menyita aset-aset, atau menetapkan orang sebagai penjahat, sebelum benar-benar terbukti secara hukum tindak kejahatannya. Mereka tidak boleh melakukan “killing by press” terhadap sosok Fathanah dan orang-orang di sekitarnya. Andai saja dia berbuat mesum, amoral, banyak wanita simpanan, dan seterusnya; KPK tidak boleh masuk ke ranah itu. Mereka cukup berdiri tegak di ranah hukum saja. KPK tidak boleh berubah menjadi MEDIA INFOTAINMENT semisal Insert, Silet, Halo Selebritis, Kroscek, dan lainnya. 

Sangat ironi sekali ketika KPK berusaha menyita seluruh aset-aset Fathanah, termasuk yang diberikan kepada orang-orang tertentu. Disini menyalahi beberapa fakta hukum yang kuat:  

[1]. Bukti uang yang ditemukan KPK pada Fathanah sekitar Rp. 1 miliar, kurang beberapa puluh juta. Uang itu pun sudah disita KPK. Secara faktual yang dianggap bukti material hanya beberapa puluh juta itu. Ia tak ada kaitannya dengan aset-aset Fathanah yang lain dan uang-uang yang dia berikan kepada banyak orang. 

[2]. Uang beberapa puluh juta yang sudah dipakai oleh Fathanah, itu tak bisa disebut sebagai uang suap, sebab kedua belah pihak (Fathanah dan PT. Indoguna) sama-sama swasta. Sedangkan tindak korupsi suap terkait dengan institusi negara. Apa salahnya sebuah perusahaan swasta seperti PT. Indoguna memberi uang kepada kolega-kolega bisnisnya? Apa itu salah? Apa itu melanggar hukum? 

[3]. Transaksi keuangan yang dilakukan Fathanah, kapan pun itu dan dengan siapapun dia bertransaksi, mula-mula harus diklaim sebagai transaksi yang sah. Transaksi itu boleh disebut “pencucian uang” kalau KPK bisa membuktikan kejahatan Fathanah dan nilai kerugian negara yang ditanggung akibat kejahatan itu. Kalau mereka tidak mampu membuktikan, semua transaksi itu sah. Logikanya seperti sebuah masjid menerima sumbangan uang dari masyarakat. Maka semua sumbangan ini dinilai sebagai infak dan sedekah, selama kita tidak bisa membuktikan bahwa seseorang melakukan korupsi, lalu memasukkan sebagian hasilnya ke kencleng masjid. 

[4]. Misalnya orang seperti Fathanah bekerja sebagai makelar proyek. Tidak semua makelar proyek mendapatkan harta haram dari pekerjaannya. Misalnya, dia membantu menjualkan tanah seluas 5 ha, lalu mendapat fee senilai 50 juta. Uang 50 juta ini seperti uang jasa. Itu adalah legal. Misalnya, seseorang berjasa membantu sebuah perusahaan mendapatkan sebuah proyek dari negara. Karena berjasa, dia dapat uang fee sejumlah tertentu. Itu adalah sah dan legal. Bisa jadi, Fathanah membiayai kehidupannya, membeli aset-aset, member barang-barang ke orang-orang tertentu, dari hasil pekerjaan sebagai makelar proyek itu. 

[5]. Boleh saja Fathanah dijerat pasal suap atau pencucian uang. Boleh-boleh saja. Tetapi KPK harus bisa membuktikan kejahatannya secara faktual, dengan bukti-bukti materiil, dan ada fakta kerugian negara akibat kejahatan itu. Kalau KPK tak bisa membuktikan, mereka tak boleh memvonis tersangka, menyita aset-aset, mempreteli pemberian orang, dan sebagainya. 

[6]. Dan satu lagi, KPK dalam penegakan tidak boleh melakukan “pembunuhan karakter” kepada seseorang, tidak boleh main obral statement di media, atau bersenjatakan opini-opini. Sebagai penegak hukum, mereka harus berdiri  di atas prinsip hukum, bukan main opini. Adapun soal istilah “kriminalisasi KPK” yang sering didengung-dengungkan oleh Busyro Muqoddas dan kawan-kawan, mari kita uji hal itu sesuai kajian akademik, bukan isu media. Jika KPK melakukan aneka kezhaliman hukum, mereka bisa dituntut balik atas segala kerugian yang menimpa orang-orang yang dituduhnya. Berhati-hatilah KPK, Anda sedang berdiri di atas pijakan yang rapuh. 

Cara-cara penegakan hukum yang membabi-buta sangat berbahaya. Misalnya, ada kawan Anda berbuat korupsi senilai Rp. 100 juta. Akibat itu, semua harta dia yang bernilai Rp. 10 miliar disita semua, untuk barang bukti korupsi. Cara begini sangat berbahaya. Nanti para penegak hukum bisa merampas harta manusia seenaknya. Termasuk ketika Anda pernah ditraktir ke Warteg oleh kawan tersebut, Anda dipanggil oleh KPK sebagai saksi. Lalu –maaf beribu maaf- kotoran Anda yang sudah masuk WC setelah makan di Warteg, harus dibawa ke persidangan sebagai barang bukti. Kemudian Pak Hakim harus berkali-kali menunda persidangan, karena pingsan terus, tidak kuat mencium “sisa metabolisme” dari sejumlah makanan Warteg. Cara-cara demikian sangat mengerikan. 

Tulisan ini saya buat, bukan untuk membela Fathanah. Sama sekali bukan. Tapi untuk meluruskan proses hukum itu sendiri. Fathanah boleh dijebloskan ke penjara dengan hukuman seberat apapun, asalkan dia benar-benar terbukti bersalah. Tapi dia juga berhak mendapat keringanan atau kebebasan, kalau institusi hukum tak bisa membuktikan kesalahannya. Kalau institusi hukum tak bisa membuktikan, ya salah sendiri, mengapa mereka lemah dan rapuh? 

Sejujurnya, kami sangat tidak suka dengan kasus-kasus korupsi, kasus amoralitas, mempermainkan wanita, dan seterusnya. Inginnya sih, para penjahat korupsi dan penoda wanita, diperlakukan sama, yaitu dihukum mati. Tapi bagaimana lagi, kita harus konsisten dengan aturan main yang sudah disepakati. Kalau aturannya sudah demikian, ya bagaimana lagi? 

Itulah mengapa Nabi Saw menjelaskan prinsip universal penerapan keadilan Islam. Beliau bersabda: “Lau saraqat Fathimatu ibti Muhammad la qatha’tu yadaha” (seandainya Fathimah bintu Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya). Konsistensi dalam penegakan keadilan telah Nabi Saw mulai dari keluarganya sendiri. Begitu juga, para insan penegak hukum, harus menegakkan hukum dari diri mereka sendiri. 

Wallahu a’lam bisshawaab. 

(Abinya Syakir). 


Beginikah Cara Kita Memperlakukan Wanita?

Mei 23, 2013

Bismillahirrahmanirrahiim.

Bila kita mengarahkan pandangan sejenak tuk mencerna berita-berita beredar, seputar korupsi, kerja KPK, eksistensi partai tertentu di panggung politik; rasanya tak berlebihan jika kita lebih sering mengelus dada, tertunduk lesu, membaca istighfar, dan aneka bentuk sikap kepasrahan.

Banyak sisi dari ruang-ruang media, opini, atau kesadaran publik yang bisa dicerna disini. Lihatlah bagaimana simbol-simbol politik Islam remuk redam, dihempas berita-berita seputar amoralitas. Lihatlah nama ustadz atau tokoh dai semacam menjadi bahan percandaan, olok-olokan. Lihatlah perkara uang negara, yang merupakan amanat rakyat, begitu mudah dimasukkan dalam hitungan-hitungan syahwat kelompok. Termasuk kita juga melihat adanya suatu kesengajaan kerja media untuk memukul satu sasaran, dengan tujuan banyak sasaran (Muslim) bisa terkena pantulan pukulannya.

WANITA: Mestinya Dijaga, Bukan Dieksploitasi

WANITA: Mestinya Dijaga, Bukan Dieksploitasi

Tapi ada satu sisi penting Saudaraku yang mesti kita bicarakan disini. Ia berkaitan dengan kehormatan ibu-ibu kita, kehormatan isteri kita, kehormatan putri-putri kita. Ya, kita perlu bicara tentang cara manusia masa kini dalam memperlakukan kaum wanita.

Bila diperhatikan dengan teliti dan lebih cermat, engkau akan saksikan betapa kejamnya dunia zaman kini; betapa sadisnya manusia tatkala mengukur nilai wanita; betapa “titik nazhir”-nya kesadaran moral saat berhadapan dengan wanita. Betapa ayat-ayat, dalil-dalil, legitimasi agama dijadikan semacam “kartu domino” untuk mempertaruhkan kehormatan wanita di meja-meja perjudian kehidupan.

Lunglai rasanya hatiku manakala menyaksikan laki-laki kaya, seorang makelar proyek, begitu mudah membagi-bagikan kekayaan kepada wanita cantik; sambil tentu saja dia memungut kenikmatan-kenikmatan syahwati, sebagai buah pengorbanan hartanya. Apa yang tergambar di benaknya tentang sosok wanita? Mungkin -bila dia diberi lisan kejujuran tuk menjawab- dia kan berkata: “Bullshit soal wanita! Mereka tuh pemuas kemaluan doang. Kasih aja dia sekeranjang uang, pasti diam!”

Segitukah engkau menghargai wanita-wanitamu, wahai si kaya? Engkau dilahirkan dari rahim seorang wanita dan menurunkan keturunan wanita juga. Sudikah engkau arahkan hina kata-katamu kepada keluargamu sendiri, wahai si kaya?

Betapa syukurnya wahai laki-laki yang miskin, biasa-biasa saja, tak berharta banyak, sekedar cukup untuk operasional hidup. Bersyukurlah kalian karena dirimu dijauhkan dari godaan besar ini; supaya pada akhirnya engkau tak akan mengutuk wanita-wanitamu.

Betapa perih hati manakala mendengar, seorang berilmu, tokoh besar, semena-mena kepada wanitanya. Tak puas dengan satu dua isteri, dia memperbanyak kesempatan menikmati; termasuk dengan anak-anak yang masih remaja.

Bukan tak boleh demikian, selagi engkau memang perlu dan kuasa melakukan. Tapi ingatlah, masih banyak amanat perjuangan yang mesti engkau emban, untuk membela umatmu; jika engkau masih ingat. Engkau sebarkan kekayaan dimana-mana, demi urusan kesenangan diri ini. Bahkan wajah dan badanmu telah menjadi saksi penyimpangan jalanmu; tapi engkau tak sadarkan diri juga.

Wahai insan, wahai tokoh, wahai yang dipanggil “ustadz besar”. Andai kau sudi, carilah wanita-wanita berumur, yang kesepian, yang menantikan rahmat dan perlindunganmu. Cukuplah kau nikmati jamuan cinta dari yang Allah telah berikan, lalu jadikan kuasa dan dayamu sebagai manfaat atau barakah untuk membantu wanita-wanita itu. Jangan kau mencari anak-anak kecil, sekedar untuk memuaskan nafsu yang membara. Punyailah rasa malu, termasuk malu pada anak-anak itu.

Banyaklah segi-segi perilaku orang zaman kini yang membuat hati bersedih, merasa miris, dan tak kuasa memikirkan, tak daya tuk membayangkan. Entahlah konsep jiwa macam apa yang menjadi acuan, sehingga menjadikan wanita-wanita bak pemuas belaka.

Wanita memang punya kelemaan-kelemahan, punya kekurangan dari sisi karakter, kecepatan berpikir, atau kegesikan fisiknya (meskipun hal ini juga berlaku pengecualian pada kasus-kasus tertentu). Di samping mereka memiliki sejumlah keindahan dan daya tarik alamiah, atau hasil usaha manusiawi.

Di atas semua itu, engkau harus memuliakan kaum wanita, sekalipun itu bukan keluargamu sendiri. Allah memuliakan wanita, hingga kita mengenal surat An Nisaa’. Rasulullah juga memuliakan wanita, lewat teladan-teladannya. Begitu pun orang-orang mulia, selalu memuliakan wanita. “Di balik setiap laki-laki besar, selalu ada wanita yang berjasa.” Bukankah demikian yang kita pahami?

Muliakanlah wanita, hormatilah dia, maafkan kelemahan-kelemahannya, dengarkan keluh-kesahnya. Para ksatria tak pernah melecehkan wanita, mengekspoitasi, atau menjadikannya sejenis playmate. Tidak demikian. Sudah jadi kesepakatan sejarah, manusia mulia selalu menghormati kaum wanita. Nabi Saw bersabda: “Khiyarukum khiyarukum lin nisaa’ihim” (sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada wanita-wanitanya).

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abu Aisyah wa Fathimah wa Khadijah).


Sekelumit Drama Politik PKS

Mei 15, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini PKS (singkatan dari Partai Keadilan Sejahtera; huh lebay…) sedang mengalami turbulensi politik yang amat sangat kuat. Ibarat sebuah kapal layar, ia sedang berada di tengah pusaran air, menghadang ombak yang tinggi, serta dihajar badai dari segala arah.

Faktanya, setelah Luthfi Hasan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, begitu juga sohibnya A. Fathonah, pejabat-pejabat PKS lainnya juga diperiksa sebagai saksi. Anis Matta dan Pak Hilmi Aminuddin harus memenuhi panggilan KPK; bergitu juga Saldi Matta, adik Anis Matta. Secara moral, pemanggilan Ketua Majelis Syura PKS oleh KPK serasa seperti “bom atom” yang dentumannya sangat menggelegar.

BADAI POLITIK: Kondisi yang muncul karena kebijakan sendiri.

BADAI POLITIK: Konsekuensi Pilihan Mereka !

Kami disini tidak mau masuk terlalu ke dalam ke pusaran konflik KPK Vs PKS. Tetapi kami ingin melihat kenyataan ini dalam perspektif kepentingan politik Ummat Islam. Sebagaimana pada asalnya kami tidak memiliki “kebencian laten” kepada PKS, maka saat ini kami tetap berpegang kepada kepentingan Ummat tersebut; menggali hikmah di balik setiap peristiwa.

Mari kita lihat detail masalahnya lebih fokus…

*** Sebenarnya, sumber banyaknya kritik, kecaman, hujatan kepada PKS ialah konsep dasar politik partai ini sendiri. PKS sejak awal memposisikan dirinya sebagai: Partai Dakwah, partai Islam, partai para ustadz. Positioning seperti ini membuat PKS banyak diawasi oleh kaum Muslimin, karena kita berkepentingan terhadap nama Islam, dakwah, dan ustadz.

Andaikan sejak awal PKS tidak membatasi dirinya dengan citraan religius yang dibuatnya sendiri itu, mungkin sikap kritis Ummat Islam terhadapnya tidak terlalu gencar atau garang. Hal ini dianalogikan seperti sebuah kesebelasan kelas “tarkam”, tetapi kemana-mana dia selalu membawa label “liga primer”; jelas kesebelasan itu akan terus diawasi oleh para penggemar bola dari Maroko sampai Merauke.

*** Kinerja politik PKS bisa dibagi menjadi dua periode; periode sebelum Pemilu 2004 dan periode setelah Pemilu 2004. Tahun 2004 seperti menjadi Yaumul Furqan bagi PKS. Sebelum tahun 2004 politik PKS bersifat idealis, keteladanan, pembelaan besar atas kepentingan masyarakat, dan politik bersih (bebas korupsi). Tetapi setelah tahun 2004, sampai hari ini, kinerja politik mereka semakin merosot; hingga finalnya Presiden PKS ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

*** Patut dipahami bahwa politik PKS tidak bisa dipisahkan dari politik SBY. Lho, kok bisa begitu ya? Karena tahun 2004 itu PKS meresmikan persekutuan politiknya dengan SBY (Partai Demokrat). PKS mendapat sekian kursi kementrian, sedangkan SBY (Demokrat) mendapatkan fasilitas pembelaan politik dan dukungan dari PKS.

Sampai hari ini, bisa dikatakan politik PKS tidak bisa melepaskan diri dari politik SBY. Bahkan kasus-kasus hukum yang menimpa PKS saat ini (terkait KPK) ada yang membacanya sebagai plot politik SBY. Tahun 2009 PKS ingin menarik dukungan kepada SBY, bahkan sudah sempat memberikan sejumlah serangan-serangan politik ke SBY menjelang Pemilu 2009; tetapi kemudian ia rujuk lagi, lalu mendukung deklarasi Capres pasangan SBY-Bodiono di Sabuga ITB. Menjelang Pemilu 2014 nanti, PKS kemungkinan akan kembali menyerang SBY (Demokrat); tetapi kemudian akan bermesraan dengan politik SBY lagi. Antara PKS dan politik SBY layaknya padanan: “benci tapi rindu”, “muak tapi butuh”, “emoh tapi pingin lagi”.

*** Jika dikalkulasi, nilai “perdagangan politik” antara PKS dan SBY, yang lebih beruntung adalah SBY. Kemapanan posisi SBY sebagai presiden sejak tahun 2004, dan berhasilnya dia menjadi presiden kembali untuk periode 2009-20014, tidak lepas dari jasa PKS. Tanpa PKS, SBY sudah babak-belur dimakan oleh Golkar dan PDIP sejak awal kepemimpinannya. Di sisi lain, SBY juga kesal ke PKS, karena partai ini susah diatur. PKS berbeda dengan PAN dan PKB yang mampu memberikan “penghambaan politik” secara tulus ikhlas, lahir-batin, dunia akhirat untuk SBY.

Ibaratnya, politisi-politisi PAN dan PKB sudah biasa menampilkan loyalitas buta, tanpa reserve, kepada SBY dan Demokrat. Sementara politisi PKS dianggap masih sering mengganggu kebijakan politik SBY, seperti dalam konteks Pansus Bank Century. Bisa dikatakan, koalisi dengan SBY sangatlah pahit, dan PKS tahu makna semua itu.

*** Logika PKS bergabung dengan SBY sangat sederhana; dengan masuk kabinet, menjadi bagian dari koalisi, mereka akan dapat posisi kementrian. Sedangkan kementrian identik dengan proyek-proyek yang melibatkan anggaran negara. Di titik ini PKS butuh posisi birokrasi, sebagaimana partai-partai lain juga ngiler. Tetapi motivasi “memperkaya diri” ini selain berpotensi merugikan urusan rakyat, juga bisa menjerat PKS dalam pusaran kasus-kasus korupsi; seperti kenyataan hari ini. Apalagi faktanya, PKS tidak pernah diberikan posisi “enak” oleh SBY Cs. Paling tinggi, PKS diberi jabatan kementrian pertanian dan pendidikan.

*** Dalam tubuh PKS ada dua pemikiran yang terus bergolak: idealisme dan pragmatisme. Sebagian orang mengistilahkan “Kubu Keadilan” dan “Kubu Sejahtera”. Kondisi disparitas ini tidak lepas dari perubahan pemikiran (ideologi) secara drastis yang dialami Anis Matta. Konsep asli PKS sangat kental bernuansa idealisme, dengan slogan: partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Tetapi setelah Anis Matta mengalami perubahan pemikiran secara ekstrem, terutama setelah dia menjadi anggota DPR RI dan mengikuti kursus Lemhanas; tumbuh subur pemikiran-pemikiran politik pragmatis di tubuh PKS, hingga pragmatisme itu mampu menguasai seluruh lini partai tersebut.

*** Posisi Anis Matta di PKS serupa seperti posisi BJ. Habibie dalam pemerintahan di masa itu. Kedua sosok sama-sama pintar, punya intelijensi tinggi, menjadi bintang andalan di tempat masing-masing; tetapi egoisme dirinya juga besar. Kejeniusan pemikiran kurang diikuti kemampuan “sharing of power”. Habibie pernah merajalela dalam pemerintahan, sebagaimana Anis merajelela di PKS. PKS jelas butuh kecerdasan Anis, tetapi Anis juga bisa “memakan” PKS. Simakalama.

*** Politik PKS masa kini (terutama sejak tahun 2009) tak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat sosok Anis Matta. Bisa saja orang berasumsi, “PKS adalah Anis Matta, dan Anis Matta adalah PKS.” Di atas kertas Pak Hilmi Aminuddin memang Ketua Majelis Syura, tetapi keputusan politiknya tak lepas dari pertimbangan pemikiran Anis Matta. Lalu inti dari pemikiran politik Anis Matta ini adalah “politik oplosan”; yaitu semacam ritme permainan politik yang memainkan dua kartu utama, “wajah Syariat” dan “ambisi kekuasaan”.

Di mata para kader, simpatisan, dan lawan-lawan politiknya, PKS membangun “wajah Syariat”; tetapi saat berbicara kekuasaan, jabatan publik, posisi birokrasi, dan lainnya, elit-elit politik PKS tidak kalah ganasnya dibandingkan elit-elit Demokrat, PDIP, Golkar. Berkali-kali elit PKS mengancam SBY terkait isu reshuffle kabinet, hingga pencapresan. Inilah politik oplosan atau “berwajah ganda”.

*** Politik oplosan model Anis Matta (dan didukung elit-elit PKS lainnya) ini menjadi sigamalama, eh simalakama bagi PKS. Di mata Ummat Islam, PKS dianggap tidak tulus mengembangkan politik Syariat; karena sangat kelihatan terlalu ambisi jabatan. Di mata para politisi, PKS dianggap sangat menjengkelkan, karena mereka berambisi kekuasaan, tetapi memakai dalil-dalil agama. Di mata publik secara umum, wajah PKS sangat membingungkan; ada kalanya tampak Islami dan santri, tetapi di lain kesempatan sangat haus kekuasaan dan kurang punya rasa malu (fatsoen politik). Jika kemudian ada yang berusaha mengeliminasi PKS (melalui KPK misalnya), hal itu tak lepas dari alasan kejengkelan tersebut.

*** Seburuk apapun sosok dan perilaku A. Fathonah, maka dia mewakili dirinya sendiri. Dia bukan mewakili partai, gerakan dakwah, komunitas kaum Muslimin. Dia hanya mewakili dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan PKS yang sejak lama mengambil banyak benefits dengan mengatasnamakan partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka menyikapi dua obyek ini juga berbeda perlakuannya.

*** Sejak lama sudah sangat banyak suara-suara kaum Muslimin yang mengkritik PKS, memberikan penilaian, nasehat, masukan, dan lain-lain. Tetapi semua itu ditepiskan begitu saja. PKS tetap pada patron politiknya yang menampilkan “wajah ganda”. Tapi ada satu hal yang paling berbahaya yang sering dilakukan jajaran pengurus PKS dan para pendukungnya, yaitu kebiasaan mereka menyerang balik orang-orang yang memberi kritik, nasehat, masukan dengan berbagai tuduhan buruk. Misalnya, tuduhan sebagai barisan sakit hati, suka iri/dengki, pemecah-belah, tidak punya karya nyata selain mengkritik, tukang fitnah, tukang ghibah, antek Zionis, antek Amerika, tidak mau tabayyun, dan lain-lain. Lha, mereka diberi masukan baik kok, malah menuduh begitu? Sayang sekali.

*** Membalikkan kritik dengan tuduhan balik sebenarnya termasuk salah satu teknik penggalangan massa. Hal ini sudah dikenal dan sering dipakai. Mereka tidak mau mencerna kritik berdasarkan ilmu, akal sehat, dan Syariat; tetapi langsung membalikkan begitu saja kritik-kritik itu dengan serbuan tuduhan-tuduhan. Padahal di antara para pengeritik itu banyak yang punya niat tulus; tidak bermaksud menjatuhkan, tapi menjaga kemurnian Syariat.

*** Sampai titik tertentu, tidak ada yang sanggup untuk meluruskan PKS. Semua angkat tangan, semua geleng-geleng kepala, atau mengelus dada. PKS sudah tak bisa dinasehati, seperti layaknya orang yang tak lagi membutuhkan Surat Al ‘Ashr. Harapan terakhirnya ialah keadilan Allah Ta’ala yang tak akan membiarkan kebathilan merajalela.

***  Segala turbulensi yang dihadapi PKS saat ini adalah buah dari cara politik yang mereka kembangkan sendiri. Terutama kebiasaan melontarkan TUDUHAN BURUK kepada kaum Muslimin yang selama ini peduli. Orang-orang peduli itu telah memberikan nasehat, kritikan, masukan, tetapi semua itu dibalikkan dalam bentuk tuduhan-tuduhan buruk dan kata-kata cacian. Hal ini sangat menyakitkan bagi hati-hati yang tulus itu, dan membuat Allah Ta’ala murka.  Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan, bahwa orang sombong tidak masuk surga. Ketika ditanya ciri orang sombong, beliau mengatakan: Batharal haqqa wa ghamtun naasi (menolak kebenaran dan merendahkan manusia).

*** Kini PKS sedang menggali kekuatan dan daya untuk menerjuni kancah “perang terbuka” melawan KPK. Ibaratnya, PKS seperti banteng terluka. Betapa tidak, guru spiritual mereka, Ust. Hilmi Aminuddin dipaksa datang ke KPK untuk diperiksa (sebagai saksi). Jika PKS tidak melawan, nama baik elit-elit pengurusnya akan hancur di mata para kader pendukung. Tetapi kalau melawan, mereka akan menghadapi “pengadilan publik” yang selama ini telah memposisikan KPK bak Malaikat yang suci dari dosa dan kepentingan. Simalakama lagi.

Akhirnya kini harus kami katakan, bahwa:

“Sejak awal kami tidak memiliki kebencian kepada PKS (dulu PK). Kami hargai eksistensi partai ini dalam kerangka perjuangan politik keummatan di Indonesia. Tetapi seiring waktu, PKS tidak menepati komitmennya sebagai partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka kami pun menyampaikan kritik, nasehat, masukan untuk perbaikan. Tetapi sayang, alih-alih kalangan PKS menghargai masukan semacam ini; mereka –melalui kader-kadernya- justru bersikap memusuhi masukan-masukan semacam ini. Mereka beranggapan, setiap masukan atau kritik adalah upaya fitnah, demarketing, black campaign, atau konspirasi. Masya Allah, niat baik berbalas tuduhan buruk. Padahal dalam konteks politik terbuka di zaman modern, jangankan kritik atau nasehat; kecaman-kecaman keras pun termasuk ekspresi politik yang dihargai. Jujur kami sangat sedih.”

Untuk selanjutnya, kami hanya bisa melihat keadaan ke depan, tanpa bisa berharap banyak. Jika kami mengharapkan PKS hancur, tentu itu tak sesuai dengan niat awal kami. Sebaliknya, jika kami menjamin PKS akan baik-baik saja, maka kami sama sekali tidak memiliki kuasa atas Sunnatullah dan Hikmatullah yang berlaku dalam kehidupan ini. Kata-kata yang bisa kami ucapkan: “Selamat berjuang kawan-kawan PKS, semoga diterima di sisi Tuhan sesuai amal-amalmu!”

PKS telah memilih, mereka pun akan menerima. Besar harapan kami, apapun yang nanti kan terjadi, Allah Ta’ala senantiasa menolong kaum Muslimin, memudahkan urusannya, serta menyampaikan harapan-harapannya. Amin Allahumma amin.

Admin.


Sarapan Praktis…

Mei 15, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini saya mau cerita sebuah pengalaman pribadi. Suatu malam, di kawasan Pasar Rebo, saya merasa lapar sekali. Sejak siang belum makan lagi. Saat itu bingung, mau makan dimana? Kebetulan waktu itu sedang diburu waktu.

Sejenak saya berpikir tentang menu “makan praktis” dengan buah. Saya tahu, di sekitar Pasar Rebo banyak yang menjual buah potong.

Alhamdulillah: Menghargai Nikmat Allah

Alhamdulillah: Menghargai Nikmat Allah

Malam itu pun saya membeli pepaya untuk ganti “makan malam”. Sepotong pepaya cukup besar. Mungkin beratnya 1/4 kg. Pepaya itu saja saya makan, sambil jongkok, karena tidak ada kursi di sekitar. Alhamdulillah, dengan makan sepotong pepaya ini kebutuhan makan terpenuhi sudah. Alhamdulillah atas segala nikmat Allah Ta’ala.

Kalau dipikir-pikir, dalam pepaya itu ada serat (jelas ya), ada gula, ada air, ada vitamin, dan sebagainya. Hanya tentu saja, tidak ada (kurang) kadar proteinnya. Tetapi untuk kebutuhan “makan praktis” ini sangat memadai.

Kalau tak percaya, cobalah Anda tunggu sampai lapar dulu, lalu makanlah pepaya dalam ukuran agak banyak (minimal 250 gr). Buktikan sendiri ya…

Tidak jauh dari pengalaman ini, saya dapat SMS dari anak saya. Dia mempromosikan keunggulan-keunggulan pepaya. Saya hanya tersenyum saja, karena merasa “baru ngalami” sebuah pengalaman darurat.

Katanya pepaya itu bermanfaat, antara lain:

== Kadar Vitamin D pepaya 48 kali lebih banyak daripada apel.

== Mencegah penuaan dini.

== Untuk perawatan kecantikan, dengan masker pepaya.

== Bisa menghilangkan jerawat.

== Membuat kulit lebih cerah dan bersinar (segitunya).

== Kadar kolesterol rendah, bagus untuk melangsingkan tubuh. Pepaya muda lebih bagus karena enzimnya 2 kali lebih banyak dari pepaya mateng.

Dalam SMS itu ada isi pesan demikian:

“Ternyata manfaat buah pepaya itu banyak sekali, dari mulai daunnya sama buahnya. Nanti kita tanam pepaya ya di rumah. Buah pepaya pas untuk kecantikan kulit dari dalam maupun luar. Jadi gak usah banyak-banyak beli kosmetik yang mahal, tinggal pakai masker pepaya aja. …Jadi nanti-nanti Abi bawain oleh-olehnya pepaya aja. Ayoo kita sehat dengan pepayaaa. Ha ha ha…”

Sayang nih, pesan SMS sudah bagus, tapi diakhiri dengan ha ha ha… Jadi kesannya kagak serius… padahal itu bener lho (insya Allah). 🙂

Oke, nanti kalau Anda ketemu kondisi darurat, entah mau sarapan, makan siang, atau makan malam… santap buah pepaya bisa jadi pilihan.

Saran saya, pilih pepaya yang 70 % matang. Tidak matang amat, tidak mentah amat. Kira-kira teksturnya keras di tangan kita (atau keras saat diiris), tapi lunak saat dikunyah. Ini tipe pepaya ideal yang kita suka. He he he. (Jadi ikut-ikutan gak serius).

Terimakasih, semoga bermanfaat ya. Amin Allahumma amin.

Mine.


Jangan Mencaci-maki A. Fathonah !!!

Mei 12, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini A. Fathonah benar-benar terpuruk. Kasus pelanggaran hukum yang dia lakukan, semakin terkuak. Lebih dari itu, kasus isteri simpanan, pemberian hadiah kepada cewek-cewek cantik, juga terungkap. Keluarga A. Fathonah sampai membuat pernyataan bahwa dia tak mewakili sikap keluarga besarnya di Makassar sana.

Dalam kondisi terpuruk begini, sebagian orang memilih jalan mencaci-maki A. Fathonah, menghinanya, mengolok-oloknya, menjadikannya parodi, dll. Lebih-lebih, dia itu fasih bahasa Arab, sarjana studi Islam, dan seterusnya.

Jangan Hinakan Dia !!!

Jangan Hinakan Dia !!!

Tapi kami menyarankan, janganlah menghina A. Fathonah, mencaci-makinya, menjadikannya olok-olok, dan seterusnya. Kita kecewa, kesal, mengkritik, mengecam, mengingkari; boleh, boleh, boleh. Tapi jangan sampai masuk ke ranah penghinaan atau pelecehan pribadinya. Cukup kita menyalahkan perbuatan dan kelakuannya, serta berharap dia dapat hukum seadil-adilnya.

Mengapa kami sarankan demikian?

Karena begini Saudaraku… Anda belum pernah berada dalam posisi seperti A. Fathonah; Anda bisa jadi belum dibukakan pintu-pintu kekayaan yang mudah dan uang berseliweran; Anda bisa jadi belum menghirup jantungnya dunia hedonisme, kafe kafe, dunia malam, godaan cewek-cewek seksi, dan seterusnya. Nah, A. Fathonah sudah mengalami itu dan ternyat dia gagal (terjerumus).

Dalam posisi demikian, alangkah bijak kalau kita tidak memaki-maki, menjadikan dia olok-olok, atau menghinanya serendah mungkin. Sebab bila suatu saat Anda menghadapi situasi yang sama, lalu jatuh juga, Anda tidak akan dihina-dinakan manusia. Ini penting.

Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kerap kali orang yang menahan diri, dia akan selamat; sementara mereka yang semena-mena, biasanya akan terperosok dalam lubang yang sama. Hendaklah kita takut akan “makar” Allah Ta’ala.

Kecuali untuk kejahatan terang-terangan, kedurhakaan yang terbuka, pembangkangan Syariat yang nyata. Dalam posisi itu, kita boleh menyerang seseorang demi menyelamatkan martabat Syariat itu sendiri. Tapi kalau kejahatan seseorang tertutup, tidak tampak secara terbuka, lebih baik kita salahkan perilaku dan perbuatannya; bukan individunya.

Dulu pernah ada seorang pemuda di Madinah. Dia sering minum khamar, tertangkap, lalu dihukum. Meskipun sudah berkali-kali kejadian demikian, dia tetap saja mengulang perbuatannya. Sebagian Shahabat kesal dan memukulinya dengan sandal. Bahkan ada yang melaknatinya. Tapi Rasul Saw melarang hal itu. Kata Nabi Saw, “Kalian jangan menolong setan atas orang itu.” Maksudnya, kalau harga diri orang itu sudah dihinakan sedemikian rupa; dia bisa putus asa, atau dia akan memilih melakukan kejahatan yang lebih hebat lagi. Nah, itu sama artinya dengan menolong setan agar lebih mudah menghancurkan orang itu.

Demikian, semoga yang sederhana ini bermanfaat. Jazakumullah khair.

Mine.


Sikap Berlebihan Menyikapi Kematian Uje

Mei 6, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti kita tahu, Uje atau Ustadz Jefri meninggal 26 April 2013 lalu, dalam kecelakaan tunggal di Pondok Indah. Banyak orang merasa berduka, bersedih, terharu, merasa kehilangan, menunjukkan simpati, dan seterusnya. Media-media TV secara intensif membahas topik ini melalui aneka liputan, wawancara, berita, sajian infotainment, bahkan diskusi serius. Media online, surat kabar, tabloid, majalah juga tak mau ketinggalan mengupas isu yang sama.

Ketika Uje meninggal, adalah wajar kalau keluarganya sedih, teman-temannya sedih, para penggemarnya sedih. Itu wajar saja, namanya juga mengalami musibah. Tapi bersikap berlebihan dalam hal seperti ini tidak boleh, seperti meratapi kematian, histeris, memuja-muja sosok Uje, mencari berkah di kuburnya, dan sebagainya. Semua itu juga dilarang. Termasuk di dalamnya memuji-muji Uje setinggi langit, mengaitkan dirinya dengan hal-hal metafisik (ghaib), mengaitkan tanda-tanda alam dengan kematiannya; semua itu tak boleh dan tak layak dilakukan.

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Saat putra Nabi Saw yang bernama Ibrahim wafat, waktu itu terjadi gerhana matahari. Orang-orang menyangka bahwa gerhana matahari terjadi karena wafatnya Ibrahim. Nabi Saw membantah anggapan itu. Beliau tegaskan bahwa masalah gerhana tidak ada sangkut-pautnya dengan wafatnya seseorang. Bahkan Nabi Saw kemudian men-sunnah-kan dilakukan Shalat Gerhana. Jadi tidak boleh berlebihan mengaitkan kematian seseorang dengan tanda-tanda alam.

Bagi orang yang cerdas, sikap berlebihan Ummat Islam terkait kematian Uje, jelas tidak proporsional. Seharusnya media-media massa juga rasional, bukan mengeksploitasi. Tapi masalahnya kan di era dewasa ini banyak hal “bisa dijual” seperti kemiskinan, kesusahan, kematian, juga tangisan. Itu sangat tercela. Nas’alullah al ‘afiyah.

Di balik wafatnya Uje, banyak bertaburan informasi-informasi yang “tidak bagus”; di luar informasi-informasi lain yang sengaja dibagus-baguskan. Hal ini perlu diingatkan lagi, agar Ummat Islam tidak berlebihan menyikapi tokoh seperti ini; juga tokoh semisal itu kalau nanti ada yang meninggal lagi.

Sebelum wafatnya Uje sempat menulis pesan  ini: “Pada akhirnya… semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. dan pada saat itu..kembali adalah yang terbaik.. kepada siapa? Kepada DIA pastinya… Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut.

Pesan demikian seakan menjelaskan kegalauan hebat yang sedang melanda kejiwaan Uje. Apakah terjadi benturan pemikiran, benturan kepentingan, atau apapun? Wallahu a’lam bisshawaab. Selain itu Uje juga mengaku merindukan ayahnya (Apih) yang telah wafat. Seolah dia ingin berada dalam pemahaman yang wajar seperti ayahnya, tanpa akidah yang aneh-aneh dan membuat kegelisahan hati.

Intinya begini, Uje sebagai bagian dari kerabat para dai atau guru-guru agama di Betawi, adalah sesuatu yang dihargai. Sedangkan posisi Uje sebagai penggiat “entertainment genre dakwah” adalah perkara munkar yang tidak boleh didukung, meskipun jutaan manusia menggemarinya. Dakwah Islam adalah dakwah ilallah, bukan entertainment dengan kemasan dakwah. Entertainment dakwah hanyalah produk industri media TV, bukan diniatkan untuk membangun kejayaan dan keberdayaan kaum Muslimin.

Lalu posisi Uje sebagai orang yang dibidik oleh dai-dai Syiah, lalu dipengaruhi untuk menganut paham seperti mereka; ini adalah perkara yang membuat Uje mengalami kejenuhan hebat. Dia seperti tak berdaya menghadapi aneka tekanan dari kanan-kiri. Di titik itu Uje merasa tak kuat menatap masa depan kehidupan lebih panjang. Tidak heran jika melihat dari kata-kata, perbuatan, atau pesan Uje yang bernada “pamitan”. Tuntunan Islam membawa damai, sedangkan ajaran yang menghalalkan caci-maki terhadap para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum, akan berujung nestapa.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat menjadi tadzkirah bagi kaum Muslimin, bagi para penggemar Uje, dan juga bagi kami. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

(Abi Syakir).