Jangan Mencaci-maki A. Fathonah !!!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini A. Fathonah benar-benar terpuruk. Kasus pelanggaran hukum yang dia lakukan, semakin terkuak. Lebih dari itu, kasus isteri simpanan, pemberian hadiah kepada cewek-cewek cantik, juga terungkap. Keluarga A. Fathonah sampai membuat pernyataan bahwa dia tak mewakili sikap keluarga besarnya di Makassar sana.

Dalam kondisi terpuruk begini, sebagian orang memilih jalan mencaci-maki A. Fathonah, menghinanya, mengolok-oloknya, menjadikannya parodi, dll. Lebih-lebih, dia itu fasih bahasa Arab, sarjana studi Islam, dan seterusnya.

Jangan Hinakan Dia !!!

Jangan Hinakan Dia !!!

Tapi kami menyarankan, janganlah menghina A. Fathonah, mencaci-makinya, menjadikannya olok-olok, dan seterusnya. Kita kecewa, kesal, mengkritik, mengecam, mengingkari; boleh, boleh, boleh. Tapi jangan sampai masuk ke ranah penghinaan atau pelecehan pribadinya. Cukup kita menyalahkan perbuatan dan kelakuannya, serta berharap dia dapat hukum seadil-adilnya.

Mengapa kami sarankan demikian?

Karena begini Saudaraku… Anda belum pernah berada dalam posisi seperti A. Fathonah; Anda bisa jadi belum dibukakan pintu-pintu kekayaan yang mudah dan uang berseliweran; Anda bisa jadi belum menghirup jantungnya dunia hedonisme, kafe kafe, dunia malam, godaan cewek-cewek seksi, dan seterusnya. Nah, A. Fathonah sudah mengalami itu dan ternyat dia gagal (terjerumus).

Dalam posisi demikian, alangkah bijak kalau kita tidak memaki-maki, menjadikan dia olok-olok, atau menghinanya serendah mungkin. Sebab bila suatu saat Anda menghadapi situasi yang sama, lalu jatuh juga, Anda tidak akan dihina-dinakan manusia. Ini penting.

Kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kerap kali orang yang menahan diri, dia akan selamat; sementara mereka yang semena-mena, biasanya akan terperosok dalam lubang yang sama. Hendaklah kita takut akan “makar” Allah Ta’ala.

Kecuali untuk kejahatan terang-terangan, kedurhakaan yang terbuka, pembangkangan Syariat yang nyata. Dalam posisi itu, kita boleh menyerang seseorang demi menyelamatkan martabat Syariat itu sendiri. Tapi kalau kejahatan seseorang tertutup, tidak tampak secara terbuka, lebih baik kita salahkan perilaku dan perbuatannya; bukan individunya.

Dulu pernah ada seorang pemuda di Madinah. Dia sering minum khamar, tertangkap, lalu dihukum. Meskipun sudah berkali-kali kejadian demikian, dia tetap saja mengulang perbuatannya. Sebagian Shahabat kesal dan memukulinya dengan sandal. Bahkan ada yang melaknatinya. Tapi Rasul Saw melarang hal itu. Kata Nabi Saw, “Kalian jangan menolong setan atas orang itu.” Maksudnya, kalau harga diri orang itu sudah dihinakan sedemikian rupa; dia bisa putus asa, atau dia akan memilih melakukan kejahatan yang lebih hebat lagi. Nah, itu sama artinya dengan menolong setan agar lebih mudah menghancurkan orang itu.

Demikian, semoga yang sederhana ini bermanfaat. Jazakumullah khair.

Mine.

Iklan

7 Responses to Jangan Mencaci-maki A. Fathonah !!!

  1. umar faruk berkata:

    katanya AF adalah intelejen..orang- orang PKS lupa kalo SURIPTO itu jelas pasti intelejennya daripada AF..karena tidak mungkin ada intel yg taubat kecuali dia dihilangkan nyawanya

  2. masa_git berkata:

    Alhamdulillah, terimakasih ustd sudah mengingatkan. Mungkin menanggapinya lebih baik dengan wal-‘iyadzu billah, atau na’udzubillah saja ya!

  3. abisyakir berkata:

    @ masa_git…

    Ya sama-sama akhi…karena jujur lho, kasus seperti A. Fathonah itu sangat menakutkan. Maksudnya, kalau kita berada di posisi dia, mampukah menjaga komitmen iman? Semoga, amin Allahumma amin.

    Admin.

  4. Azhar Muhammad berkata:

    Jangan mencaci maki pezina, sebab kalian belum dihadapkan sebuah kesempatan berzina, begitu……………?

  5. abisyakir berkata:

    @ Azhar…

    Menyalahkan pezina, itu harus. Mengutuk perbuatan zina, boleh. Tapi jangan mencaci-maki pelakunya; kecuali kepada “tukang zina” yang sudah sering diingatkan tapi gak sembuh-sembuh. Boleh juga mencela, mengecam, atau menyerang orang tertentu (artis/tokoh) yang mempromosikan zina secara terbuka.

    Kalau dalam level perbuatan pribadi, bersifat tertutup, tidak diulang-ulang, sebaiknya jangan dicaci-maki pelakunya, tapi nasehati supaya taubat.

    Admin.

  6. A-ray berkata:

    admin mengatakan :
    Kalau dalam level perbuatan pribadi, bersifat tertutup, tidak diulang-ulang, sebaiknya jangan dicaci-maki pelakunya, tapi nasehati supaya taubat

    Komentar saya ::

    tidak di ulang ulang ..????

    trus .. kalo begitu …dengan adanya bukti (KPK n PPATK) .. bahwa A.F telah .. mempunyai hubungan khusus dengan beberapa wanita…
    apa ini bukan termasuk “diulang-ulang”..?? bagaimana ttg pengakuan si maharany di pengadilan terakhir ??

    terlebih lagi… mau tertutup atau terbuka .. yg namanya zina ya zina ajah.. tidak ada perbedaan perlakuan antara keduanya..

    anda ini membela atau bgmn sih ..?? bingung saya pak

    lalu admin bilang lagi

    Menyalahkan pezina, itu harus. Mengutuk perbuatan zina, boleh. Tapi jangan mencaci-maki pelakunya; kecuali kepada “tukang zina” yang sudah sering diingatkan tapi gak sembuh-sembuh.

    komentar saya :

    bagaimana mau di tegur (dingatkan) kalo beliau melakukannya (zina) sembunyi sembunyi , ga ada yg tau ..??

    overall.. sepertinya ada yg salah dengan komposisi jawaban saudara bang admin..diatas

    oya bang admin,.. setelah saya baca baca keliling.. blog anda ini .. banyak pengunjug yg mensinyalir anda WAHABY..
    apa benar ..??

    (ini jawab aja IYA atau TIDAK .. ya .. ga usah pake embel embel komen ini itu .. bla..bla … sebab saya hanya bertanya saja.. itu thok)…

  7. abisyakir berkata:

    @ A-Ray…

    Komentar saya : tidak di ulang ulang ..???? trus .. kalo begitu …dengan adanya bukti (KPK n PPATK) .. bahwa A.F telah .. mempunyai hubungan khusus dengan beberapa wanita… apa ini bukan termasuk “diulang-ulang”..?? bagaimana ttg pengakuan si maharany di pengadilan terakhir ?? terlebih lagi… mau tertutup atau terbuka .. yg namanya zina ya zina ajah.. tidak ada perbedaan perlakuan antara keduanya.. anda ini membela atau bgmn sih ..?? bingung saya pak

    Respon: Maksudnya perbuatan zinanya tidak diulang-ulang, bukan pemberitaannya. Bukan berarti “toleran” kepada perbuatan zina, tapi di negara kita memang belum bisa diterapkan syariat Islam, maka sanksi hukumnya juga belum bisa diterapkan. Maka itu -di negeri seperti ini- kalau ada orang zina, sangat diharapkan taubatnya, berhentinya dari dosa itu; karena hukum belum bisa mengadili mereka sesuai Syariat Islam.

    Kalau zina, sesuai Syariat Islam…harus disaksikan oleh 4 orang saksi, atau ada pengakuan dari pelaku secara langsung, misal dibuktikan dengan kehamilan. Kalau tidak begitu, belum bisa diterapkan hukum Syariat Islam. Mungkin saja seseorang sudah berzina berkali-kali, tapi selagi dilakukan secara tertutup, tidak ketahuan oleh 4 saksi atau tak ada rekaman yang bisa dijadikan bukti perbuatan, dia tetap tak bisa diberi sanksi hukum Islam.

    Bukan maksud membela pelaku zina itu, siapapun pelakunya… Tapi secara hukum Islam memang agak ketat untuk menetapkan STATUS ZINA seseorang dan sanksi hukumnya. Memang demikian adanya.

    Kalau terkait dengan Fathanah itu, bukan soal membela, tapi mengingatkan bahwa ujian begitu bisa mengenai siapa saja. Silakan ingkari, silakan cela perbuatannya, tapi hati-hati dengan hak2 privasi orangnya. Kalau kita caci-maki sedemikian rupa, belum tentu nanti Anda akan mampu menahan godaan begituan. Maka itu sikapi yang proporsional saja.

    komentar saya : bagaimana mau di tegur (dingatkan) kalo beliau melakukannya (zina) sembunyi sembunyi, ga ada yg tau ..?? overall.. sepertinya ada yg salah dengan komposisi jawaban saudara bang admin..diatas

    Respon: Ini untuk kondisi di Indonesia, dimana jika kita melihat ada pelaku zina, belum bisa diterapkan hukum sanksi Islam baginya. Meskipun seseorang dikenal pelaku zina, dari kesaksian2 yang ada, dia belum bisa dihukum seperti hukum Syariat. Nah, itu yang namanya dinasehati/diingatkan. Itu lho seperti tatkala Ust. Abu Bakar Ba’asyir menasehati Ariel Peterpen itu.

    oya bang admin,.. setelah saya baca baca keliling.. blog anda ini .. banyak pengunjug yg mensinyalir anda WAHABY.. apa benar ..?? (ini jawab aja IYA atau TIDAK .. ya .. ga usah pake embel embel komen ini itu .. bla..bla … sebab saya hanya bertanya saja.. itu thok)…

    Respon: Baik saya jawab pendek, tanpa embel-embel. Jujur saja, saya BUKAN anggota sebuah organisasi, partai, lembaga, yayasan, atau klub yang namanya WAHABY.

    Kalo masih bingung dan penasaran juga…yo wis lah sak karepmu wae…

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: