Sekelumit Drama Politik PKS

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini PKS (singkatan dari Partai Keadilan Sejahtera; huh lebay…) sedang mengalami turbulensi politik yang amat sangat kuat. Ibarat sebuah kapal layar, ia sedang berada di tengah pusaran air, menghadang ombak yang tinggi, serta dihajar badai dari segala arah.

Faktanya, setelah Luthfi Hasan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, begitu juga sohibnya A. Fathonah, pejabat-pejabat PKS lainnya juga diperiksa sebagai saksi. Anis Matta dan Pak Hilmi Aminuddin harus memenuhi panggilan KPK; bergitu juga Saldi Matta, adik Anis Matta. Secara moral, pemanggilan Ketua Majelis Syura PKS oleh KPK serasa seperti “bom atom” yang dentumannya sangat menggelegar.

BADAI POLITIK: Kondisi yang muncul karena kebijakan sendiri.

BADAI POLITIK: Konsekuensi Pilihan Mereka !

Kami disini tidak mau masuk terlalu ke dalam ke pusaran konflik KPK Vs PKS. Tetapi kami ingin melihat kenyataan ini dalam perspektif kepentingan politik Ummat Islam. Sebagaimana pada asalnya kami tidak memiliki “kebencian laten” kepada PKS, maka saat ini kami tetap berpegang kepada kepentingan Ummat tersebut; menggali hikmah di balik setiap peristiwa.

Mari kita lihat detail masalahnya lebih fokus…

*** Sebenarnya, sumber banyaknya kritik, kecaman, hujatan kepada PKS ialah konsep dasar politik partai ini sendiri. PKS sejak awal memposisikan dirinya sebagai: Partai Dakwah, partai Islam, partai para ustadz. Positioning seperti ini membuat PKS banyak diawasi oleh kaum Muslimin, karena kita berkepentingan terhadap nama Islam, dakwah, dan ustadz.

Andaikan sejak awal PKS tidak membatasi dirinya dengan citraan religius yang dibuatnya sendiri itu, mungkin sikap kritis Ummat Islam terhadapnya tidak terlalu gencar atau garang. Hal ini dianalogikan seperti sebuah kesebelasan kelas “tarkam”, tetapi kemana-mana dia selalu membawa label “liga primer”; jelas kesebelasan itu akan terus diawasi oleh para penggemar bola dari Maroko sampai Merauke.

*** Kinerja politik PKS bisa dibagi menjadi dua periode; periode sebelum Pemilu 2004 dan periode setelah Pemilu 2004. Tahun 2004 seperti menjadi Yaumul Furqan bagi PKS. Sebelum tahun 2004 politik PKS bersifat idealis, keteladanan, pembelaan besar atas kepentingan masyarakat, dan politik bersih (bebas korupsi). Tetapi setelah tahun 2004, sampai hari ini, kinerja politik mereka semakin merosot; hingga finalnya Presiden PKS ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

*** Patut dipahami bahwa politik PKS tidak bisa dipisahkan dari politik SBY. Lho, kok bisa begitu ya? Karena tahun 2004 itu PKS meresmikan persekutuan politiknya dengan SBY (Partai Demokrat). PKS mendapat sekian kursi kementrian, sedangkan SBY (Demokrat) mendapatkan fasilitas pembelaan politik dan dukungan dari PKS.

Sampai hari ini, bisa dikatakan politik PKS tidak bisa melepaskan diri dari politik SBY. Bahkan kasus-kasus hukum yang menimpa PKS saat ini (terkait KPK) ada yang membacanya sebagai plot politik SBY. Tahun 2009 PKS ingin menarik dukungan kepada SBY, bahkan sudah sempat memberikan sejumlah serangan-serangan politik ke SBY menjelang Pemilu 2009; tetapi kemudian ia rujuk lagi, lalu mendukung deklarasi Capres pasangan SBY-Bodiono di Sabuga ITB. Menjelang Pemilu 2014 nanti, PKS kemungkinan akan kembali menyerang SBY (Demokrat); tetapi kemudian akan bermesraan dengan politik SBY lagi. Antara PKS dan politik SBY layaknya padanan: “benci tapi rindu”, “muak tapi butuh”, “emoh tapi pingin lagi”.

*** Jika dikalkulasi, nilai “perdagangan politik” antara PKS dan SBY, yang lebih beruntung adalah SBY. Kemapanan posisi SBY sebagai presiden sejak tahun 2004, dan berhasilnya dia menjadi presiden kembali untuk periode 2009-20014, tidak lepas dari jasa PKS. Tanpa PKS, SBY sudah babak-belur dimakan oleh Golkar dan PDIP sejak awal kepemimpinannya. Di sisi lain, SBY juga kesal ke PKS, karena partai ini susah diatur. PKS berbeda dengan PAN dan PKB yang mampu memberikan “penghambaan politik” secara tulus ikhlas, lahir-batin, dunia akhirat untuk SBY.

Ibaratnya, politisi-politisi PAN dan PKB sudah biasa menampilkan loyalitas buta, tanpa reserve, kepada SBY dan Demokrat. Sementara politisi PKS dianggap masih sering mengganggu kebijakan politik SBY, seperti dalam konteks Pansus Bank Century. Bisa dikatakan, koalisi dengan SBY sangatlah pahit, dan PKS tahu makna semua itu.

*** Logika PKS bergabung dengan SBY sangat sederhana; dengan masuk kabinet, menjadi bagian dari koalisi, mereka akan dapat posisi kementrian. Sedangkan kementrian identik dengan proyek-proyek yang melibatkan anggaran negara. Di titik ini PKS butuh posisi birokrasi, sebagaimana partai-partai lain juga ngiler. Tetapi motivasi “memperkaya diri” ini selain berpotensi merugikan urusan rakyat, juga bisa menjerat PKS dalam pusaran kasus-kasus korupsi; seperti kenyataan hari ini. Apalagi faktanya, PKS tidak pernah diberikan posisi “enak” oleh SBY Cs. Paling tinggi, PKS diberi jabatan kementrian pertanian dan pendidikan.

*** Dalam tubuh PKS ada dua pemikiran yang terus bergolak: idealisme dan pragmatisme. Sebagian orang mengistilahkan “Kubu Keadilan” dan “Kubu Sejahtera”. Kondisi disparitas ini tidak lepas dari perubahan pemikiran (ideologi) secara drastis yang dialami Anis Matta. Konsep asli PKS sangat kental bernuansa idealisme, dengan slogan: partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Tetapi setelah Anis Matta mengalami perubahan pemikiran secara ekstrem, terutama setelah dia menjadi anggota DPR RI dan mengikuti kursus Lemhanas; tumbuh subur pemikiran-pemikiran politik pragmatis di tubuh PKS, hingga pragmatisme itu mampu menguasai seluruh lini partai tersebut.

*** Posisi Anis Matta di PKS serupa seperti posisi BJ. Habibie dalam pemerintahan di masa itu. Kedua sosok sama-sama pintar, punya intelijensi tinggi, menjadi bintang andalan di tempat masing-masing; tetapi egoisme dirinya juga besar. Kejeniusan pemikiran kurang diikuti kemampuan “sharing of power”. Habibie pernah merajalela dalam pemerintahan, sebagaimana Anis merajelela di PKS. PKS jelas butuh kecerdasan Anis, tetapi Anis juga bisa “memakan” PKS. Simakalama.

*** Politik PKS masa kini (terutama sejak tahun 2009) tak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat sosok Anis Matta. Bisa saja orang berasumsi, “PKS adalah Anis Matta, dan Anis Matta adalah PKS.” Di atas kertas Pak Hilmi Aminuddin memang Ketua Majelis Syura, tetapi keputusan politiknya tak lepas dari pertimbangan pemikiran Anis Matta. Lalu inti dari pemikiran politik Anis Matta ini adalah “politik oplosan”; yaitu semacam ritme permainan politik yang memainkan dua kartu utama, “wajah Syariat” dan “ambisi kekuasaan”.

Di mata para kader, simpatisan, dan lawan-lawan politiknya, PKS membangun “wajah Syariat”; tetapi saat berbicara kekuasaan, jabatan publik, posisi birokrasi, dan lainnya, elit-elit politik PKS tidak kalah ganasnya dibandingkan elit-elit Demokrat, PDIP, Golkar. Berkali-kali elit PKS mengancam SBY terkait isu reshuffle kabinet, hingga pencapresan. Inilah politik oplosan atau “berwajah ganda”.

*** Politik oplosan model Anis Matta (dan didukung elit-elit PKS lainnya) ini menjadi sigamalama, eh simalakama bagi PKS. Di mata Ummat Islam, PKS dianggap tidak tulus mengembangkan politik Syariat; karena sangat kelihatan terlalu ambisi jabatan. Di mata para politisi, PKS dianggap sangat menjengkelkan, karena mereka berambisi kekuasaan, tetapi memakai dalil-dalil agama. Di mata publik secara umum, wajah PKS sangat membingungkan; ada kalanya tampak Islami dan santri, tetapi di lain kesempatan sangat haus kekuasaan dan kurang punya rasa malu (fatsoen politik). Jika kemudian ada yang berusaha mengeliminasi PKS (melalui KPK misalnya), hal itu tak lepas dari alasan kejengkelan tersebut.

*** Seburuk apapun sosok dan perilaku A. Fathonah, maka dia mewakili dirinya sendiri. Dia bukan mewakili partai, gerakan dakwah, komunitas kaum Muslimin. Dia hanya mewakili dirinya sendiri. Hal ini berbeda dengan PKS yang sejak lama mengambil banyak benefits dengan mengatasnamakan partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka menyikapi dua obyek ini juga berbeda perlakuannya.

*** Sejak lama sudah sangat banyak suara-suara kaum Muslimin yang mengkritik PKS, memberikan penilaian, nasehat, masukan, dan lain-lain. Tetapi semua itu ditepiskan begitu saja. PKS tetap pada patron politiknya yang menampilkan “wajah ganda”. Tapi ada satu hal yang paling berbahaya yang sering dilakukan jajaran pengurus PKS dan para pendukungnya, yaitu kebiasaan mereka menyerang balik orang-orang yang memberi kritik, nasehat, masukan dengan berbagai tuduhan buruk. Misalnya, tuduhan sebagai barisan sakit hati, suka iri/dengki, pemecah-belah, tidak punya karya nyata selain mengkritik, tukang fitnah, tukang ghibah, antek Zionis, antek Amerika, tidak mau tabayyun, dan lain-lain. Lha, mereka diberi masukan baik kok, malah menuduh begitu? Sayang sekali.

*** Membalikkan kritik dengan tuduhan balik sebenarnya termasuk salah satu teknik penggalangan massa. Hal ini sudah dikenal dan sering dipakai. Mereka tidak mau mencerna kritik berdasarkan ilmu, akal sehat, dan Syariat; tetapi langsung membalikkan begitu saja kritik-kritik itu dengan serbuan tuduhan-tuduhan. Padahal di antara para pengeritik itu banyak yang punya niat tulus; tidak bermaksud menjatuhkan, tapi menjaga kemurnian Syariat.

*** Sampai titik tertentu, tidak ada yang sanggup untuk meluruskan PKS. Semua angkat tangan, semua geleng-geleng kepala, atau mengelus dada. PKS sudah tak bisa dinasehati, seperti layaknya orang yang tak lagi membutuhkan Surat Al ‘Ashr. Harapan terakhirnya ialah keadilan Allah Ta’ala yang tak akan membiarkan kebathilan merajalela.

***  Segala turbulensi yang dihadapi PKS saat ini adalah buah dari cara politik yang mereka kembangkan sendiri. Terutama kebiasaan melontarkan TUDUHAN BURUK kepada kaum Muslimin yang selama ini peduli. Orang-orang peduli itu telah memberikan nasehat, kritikan, masukan, tetapi semua itu dibalikkan dalam bentuk tuduhan-tuduhan buruk dan kata-kata cacian. Hal ini sangat menyakitkan bagi hati-hati yang tulus itu, dan membuat Allah Ta’ala murka.  Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan, bahwa orang sombong tidak masuk surga. Ketika ditanya ciri orang sombong, beliau mengatakan: Batharal haqqa wa ghamtun naasi (menolak kebenaran dan merendahkan manusia).

*** Kini PKS sedang menggali kekuatan dan daya untuk menerjuni kancah “perang terbuka” melawan KPK. Ibaratnya, PKS seperti banteng terluka. Betapa tidak, guru spiritual mereka, Ust. Hilmi Aminuddin dipaksa datang ke KPK untuk diperiksa (sebagai saksi). Jika PKS tidak melawan, nama baik elit-elit pengurusnya akan hancur di mata para kader pendukung. Tetapi kalau melawan, mereka akan menghadapi “pengadilan publik” yang selama ini telah memposisikan KPK bak Malaikat yang suci dari dosa dan kepentingan. Simalakama lagi.

Akhirnya kini harus kami katakan, bahwa:

“Sejak awal kami tidak memiliki kebencian kepada PKS (dulu PK). Kami hargai eksistensi partai ini dalam kerangka perjuangan politik keummatan di Indonesia. Tetapi seiring waktu, PKS tidak menepati komitmennya sebagai partai Islam, partai dakwah, partai ustadz. Maka kami pun menyampaikan kritik, nasehat, masukan untuk perbaikan. Tetapi sayang, alih-alih kalangan PKS menghargai masukan semacam ini; mereka –melalui kader-kadernya- justru bersikap memusuhi masukan-masukan semacam ini. Mereka beranggapan, setiap masukan atau kritik adalah upaya fitnah, demarketing, black campaign, atau konspirasi. Masya Allah, niat baik berbalas tuduhan buruk. Padahal dalam konteks politik terbuka di zaman modern, jangankan kritik atau nasehat; kecaman-kecaman keras pun termasuk ekspresi politik yang dihargai. Jujur kami sangat sedih.”

Untuk selanjutnya, kami hanya bisa melihat keadaan ke depan, tanpa bisa berharap banyak. Jika kami mengharapkan PKS hancur, tentu itu tak sesuai dengan niat awal kami. Sebaliknya, jika kami menjamin PKS akan baik-baik saja, maka kami sama sekali tidak memiliki kuasa atas Sunnatullah dan Hikmatullah yang berlaku dalam kehidupan ini. Kata-kata yang bisa kami ucapkan: “Selamat berjuang kawan-kawan PKS, semoga diterima di sisi Tuhan sesuai amal-amalmu!”

PKS telah memilih, mereka pun akan menerima. Besar harapan kami, apapun yang nanti kan terjadi, Allah Ta’ala senantiasa menolong kaum Muslimin, memudahkan urusannya, serta menyampaikan harapan-harapannya. Amin Allahumma amin.

Admin.

Iklan

17 Responses to Sekelumit Drama Politik PKS

  1. pindahanmultiply berkata:

    Yang merusak citra PKS termasuk gaya hidup mewah sebagian eltinya ya pak

  2. man berkata:

    coba di kompilasi dan dipelajari tuduhan2an dan kritikan thd PKS, apakah berdasarkan fakta? kebanyakan hanya copy paste dari media. media islam kok bgitu, dimana tabayyun? masak tabbayun sama media liberal-sekuler?

  3. man berkata:

    Oleh : Ust. Nandang Burhanudin, Lc.
    PKS …
    Menyendiri di tengah hiruk pikuk media
    Yang mengaburkan dusta menjadi fakta
    Semua bicara seakan dirimu berlumur dosa
    “Jangan cengeng … Jangan sok menderita”
    “Jangan cemen … Jangan sok merana”
    “Toch dirimu diam saat menikmati kuasa”

    PKS …
    Menyendiri dalam akumulasi geram
    Menafikan kebaikan yang sejak lama tertanam
    Semua menuduh bahwa dirimu sama-sama tenggelam
    Larut tershibghoh oleh Ahmad Fathanah manusia hitam
    Manusia antah berantah yang membingungkan kaum awam
    Mencoreng muka dan dari belakang ia menikam

    PKS …
    Diserang .. dihujat .. diterkam makhluk berbisa
    Mereka yang membela dianggap fanatik buta
    Bintang yang iba dituduh menebar fatamorgana
    Bulan yang simpatik termenung dianggap gerhana
    Matahari yang ceria dianggap renta
    “Dasar munafik … kelompok penjual agama”

    PKS …
    Momentum kesendirian saatnya mawas diri
    Menyendiri bagai terlahir kembali
    Di tengah warna gulita, diantara malam yg mati
    Memang jiwa jauh melayang seakan di titik kulminasi
    Batin tergores ter-iris menyayat nurani
    Tercabik-cabik nista yang penuh misteri

    PKS …
    Kini saatnya tuk muhasabah agar tampil lebih elegan
    Bahwa ada pelanggaran para pemangku jabatan
    Bahwa ada kekhilafan memikul amanah kader-kader militan
    Bahwa ada keterlenaan memperjuangkan harapan
    Bahwa ada bercak-bercak hitam dalam kebijakan
    Sadari … karena PKS memang bukan malaikat apalagi Tuhan

    PKS …
    Ke depan … dirimu tak akan lagi dianggap angin lalu
    Rintihmu karena CINTAmu pada rakyat yang makin hari makin pilu
    Sakitmu karena KERJAmu untuk Indonesia maju
    Renta keriputmu karena HARMONI tuk sebongkah Firdaus yang telah lama sekedar semu
    Ke depan … engkau akan tahu, bahwa anjing menggongong kafilah akan terus berlalu

  4. umar faruk berkata:

    @man : coba anda lihat media2 islam seperti arrahmah, eramuslim,voi,si dls sy tidak melihat kelatahan mereka dlm menyikapi kasus ini(imfor sapi) sy lihat media islam papan atas cenderung diam saat menyikapi ini, atau mungkin mereka sudah bosan dan lelah menasehati PKS, biarlah PKS dinasehati oleh KPK…tentang media liberal sekuler??? bagaimana anda bisa berkata kami anti sekuleris dan liberalis kalo PKS nyata2 berkoalisi dg partai liberal sekuler ??.. berarti kata2 andalah yg bertentangan dengan fakta ..

  5. umar faruk berkata:

    dalam media2 online ala PKS sy membaca bahwa kasus ini adalah konspirasi?? siapa yg melakukannya ? SBY?? sudah koalisi mati matian (bahkan katanya dianggap aqidah) aja masih di konspirasi ??…itu tandanya PKS sudah tidak punya izzah dimata orang sekuler (apalagi di mata kaum muslimin non PKSer)…ada juga berita bahwa fathanah adlh intel yg di susupkan, mereka lupa kalo suripto 100 % intel…

  6. abisyakir berkata:

    @ Pindahanmultiplay…

    Ya kesenjangan “gaya hidup” itu juga gak betul. Para elit itu karena gaulnya dengan orang-orang elit, jadi kebawa gaya hidup mereka. Sementara mayoritas pendukung PKS masih fakir-miskin dan susah. Harusnya mereka hidup mewakili keadaan para pendukungnya; kalau benar-benar mau Islami.

    Contoh, sosok politisi X, yang mantan Ketua MPR. Dia saja rumahnya di kawasan elit Kemang, dekat kafe-kafe itu. Isterinya dokter pemilik rumah sakit terkenal di Jakarta. Cara begini otomatis sudah “mendongkrak” gaya hidup juga kan. Padahal tak ada salahnya, dalam kondisi ekonomi sudah mapan, Bapak X itu mencari akhwat PKS yang biasa-biasa saja ekonominya. Kalau “mapan” ketemu “mapan” hasilnya = mewah! 🙂

    Jazakumullah khair.

    Admin.

  7. abisyakir berkata:

    @ man…

    Masak tulisan seperti itu copy paste? Coba cari di Google, apa ada tulisan seperti itu di media-media yang lain? Apalagi media sekuler umum.

    Mungkin tulisan di bawah ini bisa memperkuat dugaan “copy paste” Anda. Silakan dibaca.

    https://abisyakir.wordpress.com/category/partai-ironis/page/3/

    Terimakasih.

    Admin.

  8. AntiTaqlid berkata:

    Rekaman Sadapan KPK yang Bisa Bikin Luthfi Hasan ‘Skak Mat
    Luthfi-Fathanah Bicara Kuota Impor Sapi dan Fee Rp 40 Miliar
    Transkrip percakapan ini antara nomor HP +62816940797 (Luthfi) dan HP bernomor 628118003535 (Fathanah), pada 9 Januari 2013.

    0797 : Assalamualaikum
    3535 : Waalaikum salam ya ayuhal rais
    0797 : Ayyuha sakhfarat
    3535 : Khoir alhamdulillah.. afwan pertama istri-istri antum sudah menunggu semua ini
    0797 : Hah?
    3535 : Istri-istri antum sudah menunggu semua
    0797: Waduh
    3535: Hahaha (Tertawa)
    0797: Yang mana aja
    3535: Ada semuanya
    0797: Yang pustun pustun apa jawa sarkia?
    3535: Pustun
    0797: Hehehe (Tertawa)
    3535: He he he.. kapan an?
    0797: Haaa?
    3535: Kapan datang?
    0797: Ana nanti malam naik pesawat dari sini jam setengah sepuluh, dari dari Riau. Ee
    terus besok sore ke Medan
    3535: Ke Jakartanya kapan?
    0797: Haa?
    3535: Ke Jakartanya?
    0797: Nanti malam
    3535: Jadi sempat ke Jakarta ntar malem?
    0797: Ya nanti malam pulang sebentar
    3535: He eh
    0797: Jam, dari sini jam setengah sepuluh sampai situ mungkin sekitar jam sebelasan kali
    ya
    3535: He eh
    0797: He eh
    3535: Ke Ibu EL kapan kita bakten?
    0797: Nah..ana kan kasih jadwal, mudah-mudahan besok pagi atau..
    3535: Besok pagi. Ismak ismak e kalam la arab ya ana. Ee ee huwa hiya tukdhil
    khamaniya alaf batruk ton alheim
    0797: He eh
    3535: Ee tsamaniya (tertulis khamaniya-Red) alaf alheim ee huwa hiya ta I dunna kullu
    annukhud arbain milyar cash
    0797: E he
    3535: Laham to allaf
    0797: Hiya turid kam turid e
    3535: Ya
    0797: Ee tahil kam tsamania fakod
    3535: Kalau bisa asyara dua puluh ribu tiga puluh ribu tapi yang yang riil yang dia mau
    masukkan itu adalah lapan ribu
    0797: Ya. ya oke. Jadi itu ada dua ya
    3535: Hee
    0797: Ada dua ee ada dua hal. Pertama dia harus meyakinkan menteri
    3535: Iyak
    0797: Tentang teorinya itu yang itu bahwa data BPS itu tidak benar
    3535: Iyak. Iyak
    0797: Dan bahwa swasembada itu mengancam ketahanan daging kita di dalam negeri
    3535: Iyak
    0797: Eee. Ee itu kalau bisa dia bawa-bawa data
    3535: Ada ada sudah siap
    0797: He eh terus kemudian. Ee baru yang kedua
    3535: Ee
    0797: Tidak usah didepan forum, rencana kan ngomong supaya dia dikasih jatah
    3535: Alhamdulillah
    0797: Ana akan minta, Ana akan minta sepuluh lah ya !
    3535: Sepuluh ribu berarti lima puluh milyar, khomsin milyar
    0797: Aakh masih , jadi nanti ana akan minta supaya setidak nya segitu
    0797: Iya
    0797: Tapi menyakinkan di depan syukur
    3535: Iya
    0797: Kalau besok pagi-pagi bisa ga dia kira-kira ?
    3535: Dia udah punya data konkrit tentang BPS, dia udah punya data konkrtit tentang
    Swasembada itu, tidak jela, tidak jelas peruntukannya
    0797: Yaa ya oke ! , Ee nanti ana minta jadwal pagi, mungkin di rumah pak Mentri
    atau apa
    3535: Besok pagi, thoyib !

    Yang menarik ada kata Pustun dan Jawi Syarkia

    secara maknawi formal pustun emang artinya perempuan molek tapi pustun dalm istilah geopolitik punya arti lain itu sebutan untuk mereka yang tinggal di wilayah iran/pakistan/afghan sampai uzbek

    arab2 di Puncak sering pakai istilah jawa syarkiyah tapi bukan mengacu ke orang jawa timur tapi pribumi indonesia, tapi gak salah karena semua orang Indonesia ditimur tengah kadang disebut “jawi/jawa”

    Link sumber :
    http://news.detik.com/ dan http://nasional.kompas.com/

  9. AntiTaqlid berkata:

    waktu ngobrol sama teman yg lama sekolah di Timur Tengah, coba bahas Arti “Pushtun” yg diucapkan Fathonah ke Luthfi, hahaha… dikira ane yang lagi piktor (pikiran kotor)

    Pendapatnya gini :
    PASHTUN or Pushtun itu etnis yang banyak hidup di afganistan, atau pakistan mereka terkenal memiliki wajah yang cantik2 utk wanitanya (ala-ala Hindi gitu deh ! )

    Etnis Pushtun ini cewek2nya banyak yang terkenal menjadi bintang film dinegara2 pakistan, India n afganistan sendiri

    Jadi dari pembicaraan Fathonah n Luthfi dapat dipastikan lagi omongin mau “Cewek” yang mirip2 suku Fashtun atau yang Lokal (Jawa)

    Ane curiga nama yg dimaksud Fashtun itu adalah “artis” old school yg kemaren kembalikan uangnya ke KPK itu.
    Tipe mukanya memang ada turunan Fashtun bagnet

    Hahaha.. Akhirnya kebuka juga tuh kode #PUSHTUN nya Fathona wkt nelpon ke Luthfi… Ternyata si “Artis” itu toooohhh…. Thank you friend ilmunya

    Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan data aliran dana Ahmad Fathanah ke oknum elite PKS, selain Luthfi Hasan. Data itu sudah diserahkan PPATK ke KPK.

    “Yang kita temukan individu. Bisa saja ke partai. Dari individu ke partai,” kata Ketua PPATK M Yusuf usai ‘Peluncuran Pedoman Multidoor untuk Pidana Korporasi’ di Hotel Le Meridien, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (20/5/2013).

    Yusuf menjelaskan, sebenarnya data Fathanah itu sudah diendus lama PPATK. Tapi, karena tidak ada dugaan pidana, PPATK menyimpan datanya di database.

    “Jadi kita sudah mencurigai rekening Fathanah sudah sejak lama, tapi karena belum ketemu tindak pidananya kita taruh di database. Begitu KPK tangkap ya kita bongkar saja databasenya,” jelasnya.

    Yusuf enggan menyebut siapa saja oknum PKS yang menerima dana dari Fathanah itu. Yusuf beralasan, UU melarangnya menyebut nama. Semua sudah diserahkan ke KPK.

    “Yang ada itu dari Fathanah ke beberapa oknum,” tutupnya.

    http://news.detik.com/read/2013/05/20/183702/2251085/10/ppatk-temukan-aliran-dana-fathanah-ke-oknum-pks-selain-luthfi?9911012

  10. Hasan Ismail berkata:

    Awal ceritanya bagus mengalir sepertinya air, tetapi di pertengahan kisah terutama kisah anis mata sepertinya dipaksakan, padahal seharusnya bagian anis mata di serahi ke helmi aminuddin. Dan kalaupun disebut helmi aminuddin hanya disebut sekali saja. Padahal helmilah “otak” semua kisah ini. Bagi yang udah tahu sejarah jama’ah ini pasti kurang sreg bacanya, tapi bagi yang masih pemula mungkin terpesona juga dengan kisah kecerdikan si kancil yang bernama anis mata. Mudah2a ada lanjutan cerita si Kancil anak nakal

  11. empritgepeng berkata:

    Afwan Tadz….ana jadi kasihan dengan para jundi……apa masih percaya….?…..dengan prahara ini…..

  12. abisyakir berkata:

    @ Emprit…

    Benar sayyid… Kita juga kasihan. Tapi ini juga ujian sifat keistiqamahan mereka dalam Islam (bukan dalam partai). Kalau mereka pro Islam, tak akan jadikan partai sebagai acuan; kalau mereka pro partai, seringkali akan menganggap sepele Syariat agamanya.

    Admin.

  13. Lukman Mubarok berkata:

    Yang beredar di kalangan jundi pks, ini adalah tribulasi dakwah .. Jadi para jundi tenang-tenang aja .. Menurut mereka tribulasi yang menimpa LHI ini adalah pertanda kebenaran yang berpihak ke mereka melalui perjuangan pks ..

  14. ExJundi berkata:

    Subhanallah……kasihan…..keistiqamahan dalam partai..apa itu bukan kesesatan yg nyata..bagaimanapun juga berkumpul dan pertemanan di parlemen banyak fitnah…terutama materi….akhirnya membawa…persaingan..dan bencana jadi ingat pepatah jawa kere munggah bale….he…he….mana keluguannya dulu…waktu masih dalam jaman tarbiyah….yang hidanganya tidak lebih dari gorengan….apa sekarang sudah ganti keju……he…he….

  15. Apabila kita merenungi cita-cita ini, saya ingin saudara semuanya menyadari sejak awal bahwa ini bukan sekedar target politik, this is beyond politics. Ini lebih dari sekedar politik, ini adalah misi kemanusiaan, ini adalah misi peradaban. Dan saya ingin saudara-saudara sekalian, kita meletakkan semua target-target kita untuk melakukan pemenangan pemilu, bukan semata-mata sebagai target politik, tetapi lebih dari itu, itu hanyalah merupakan tangga untuk menunaikan misi kemanusiaan yang kita emban. Dan misi kemanusiaan itu sekali lagi dalam kalimat yang sederhana adalah mengubah Indonesia menjadi sepenggal firdaus.

  16. abisyakir berkata:

    @ Lukman Mubarok…

    Masya Allah, masya Allah akhi, kalau sampai seperti itu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dulu Bani Israil akhirnya banyak tersesat dan mendapat malapetaka kehidupan, karena tak mau belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada. Mereka “yess man” saja kepada pimpinan-pimpinan yang menyesatkan, seperti Samiri, Qarun, dan lainnya. Nas’alullah al ‘afiyah.

    Admin.

  17. Mardiyah berkata:

    Namanya juga manusia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: