Beginikah Cara Kita Memperlakukan Wanita?

Bismillahirrahmanirrahiim.

Bila kita mengarahkan pandangan sejenak tuk mencerna berita-berita beredar, seputar korupsi, kerja KPK, eksistensi partai tertentu di panggung politik; rasanya tak berlebihan jika kita lebih sering mengelus dada, tertunduk lesu, membaca istighfar, dan aneka bentuk sikap kepasrahan.

Banyak sisi dari ruang-ruang media, opini, atau kesadaran publik yang bisa dicerna disini. Lihatlah bagaimana simbol-simbol politik Islam remuk redam, dihempas berita-berita seputar amoralitas. Lihatlah nama ustadz atau tokoh dai semacam menjadi bahan percandaan, olok-olokan. Lihatlah perkara uang negara, yang merupakan amanat rakyat, begitu mudah dimasukkan dalam hitungan-hitungan syahwat kelompok. Termasuk kita juga melihat adanya suatu kesengajaan kerja media untuk memukul satu sasaran, dengan tujuan banyak sasaran (Muslim) bisa terkena pantulan pukulannya.

WANITA: Mestinya Dijaga, Bukan Dieksploitasi

WANITA: Mestinya Dijaga, Bukan Dieksploitasi

Tapi ada satu sisi penting Saudaraku yang mesti kita bicarakan disini. Ia berkaitan dengan kehormatan ibu-ibu kita, kehormatan isteri kita, kehormatan putri-putri kita. Ya, kita perlu bicara tentang cara manusia masa kini dalam memperlakukan kaum wanita.

Bila diperhatikan dengan teliti dan lebih cermat, engkau akan saksikan betapa kejamnya dunia zaman kini; betapa sadisnya manusia tatkala mengukur nilai wanita; betapa “titik nazhir”-nya kesadaran moral saat berhadapan dengan wanita. Betapa ayat-ayat, dalil-dalil, legitimasi agama dijadikan semacam “kartu domino” untuk mempertaruhkan kehormatan wanita di meja-meja perjudian kehidupan.

Lunglai rasanya hatiku manakala menyaksikan laki-laki kaya, seorang makelar proyek, begitu mudah membagi-bagikan kekayaan kepada wanita cantik; sambil tentu saja dia memungut kenikmatan-kenikmatan syahwati, sebagai buah pengorbanan hartanya. Apa yang tergambar di benaknya tentang sosok wanita? Mungkin -bila dia diberi lisan kejujuran tuk menjawab- dia kan berkata: “Bullshit soal wanita! Mereka tuh pemuas kemaluan doang. Kasih aja dia sekeranjang uang, pasti diam!”

Segitukah engkau menghargai wanita-wanitamu, wahai si kaya? Engkau dilahirkan dari rahim seorang wanita dan menurunkan keturunan wanita juga. Sudikah engkau arahkan hina kata-katamu kepada keluargamu sendiri, wahai si kaya?

Betapa syukurnya wahai laki-laki yang miskin, biasa-biasa saja, tak berharta banyak, sekedar cukup untuk operasional hidup. Bersyukurlah kalian karena dirimu dijauhkan dari godaan besar ini; supaya pada akhirnya engkau tak akan mengutuk wanita-wanitamu.

Betapa perih hati manakala mendengar, seorang berilmu, tokoh besar, semena-mena kepada wanitanya. Tak puas dengan satu dua isteri, dia memperbanyak kesempatan menikmati; termasuk dengan anak-anak yang masih remaja.

Bukan tak boleh demikian, selagi engkau memang perlu dan kuasa melakukan. Tapi ingatlah, masih banyak amanat perjuangan yang mesti engkau emban, untuk membela umatmu; jika engkau masih ingat. Engkau sebarkan kekayaan dimana-mana, demi urusan kesenangan diri ini. Bahkan wajah dan badanmu telah menjadi saksi penyimpangan jalanmu; tapi engkau tak sadarkan diri juga.

Wahai insan, wahai tokoh, wahai yang dipanggil “ustadz besar”. Andai kau sudi, carilah wanita-wanita berumur, yang kesepian, yang menantikan rahmat dan perlindunganmu. Cukuplah kau nikmati jamuan cinta dari yang Allah telah berikan, lalu jadikan kuasa dan dayamu sebagai manfaat atau barakah untuk membantu wanita-wanita itu. Jangan kau mencari anak-anak kecil, sekedar untuk memuaskan nafsu yang membara. Punyailah rasa malu, termasuk malu pada anak-anak itu.

Banyaklah segi-segi perilaku orang zaman kini yang membuat hati bersedih, merasa miris, dan tak kuasa memikirkan, tak daya tuk membayangkan. Entahlah konsep jiwa macam apa yang menjadi acuan, sehingga menjadikan wanita-wanita bak pemuas belaka.

Wanita memang punya kelemaan-kelemahan, punya kekurangan dari sisi karakter, kecepatan berpikir, atau kegesikan fisiknya (meskipun hal ini juga berlaku pengecualian pada kasus-kasus tertentu). Di samping mereka memiliki sejumlah keindahan dan daya tarik alamiah, atau hasil usaha manusiawi.

Di atas semua itu, engkau harus memuliakan kaum wanita, sekalipun itu bukan keluargamu sendiri. Allah memuliakan wanita, hingga kita mengenal surat An Nisaa’. Rasulullah juga memuliakan wanita, lewat teladan-teladannya. Begitu pun orang-orang mulia, selalu memuliakan wanita. “Di balik setiap laki-laki besar, selalu ada wanita yang berjasa.” Bukankah demikian yang kita pahami?

Muliakanlah wanita, hormatilah dia, maafkan kelemahan-kelemahannya, dengarkan keluh-kesahnya. Para ksatria tak pernah melecehkan wanita, mengekspoitasi, atau menjadikannya sejenis playmate. Tidak demikian. Sudah jadi kesepakatan sejarah, manusia mulia selalu menghormati kaum wanita. Nabi Saw bersabda: “Khiyarukum khiyarukum lin nisaa’ihim” (sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada wanita-wanitanya).

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abu Aisyah wa Fathimah wa Khadijah).

Iklan

8 Responses to Beginikah Cara Kita Memperlakukan Wanita?

  1. aspl berkata:

    Assalamualaikum

    Ada Baiknya bapak membaca artikel yang terdapat pada link dibawah ini:

    = mengapa-wanita-sering-tertarik-pria-yang-salah

    = kenapa-wanita-suka-bajingan

    tulisan dari LEX DEPRAXIS
    semoga bisa bisa menjelaskan sedikit tabir misteri wanita dan tatanan sosial masyarakat kita.

    terima kasih
    wasalam.

  2. Hasan Ismail berkata:

    Saya baru akan menikmati tulisan2 anda tetapi ternyata akan ditutup perlahan2, meski sebenarnya saya tak keberatan karena banyak tulisan2 tentang mujahidin yang diposisikan negatif (teroris).Banyak orang yang tidak bisa memahami sikap Para Pemimpin Mujahid, di samping karena kurang ilmu dan bacaan/ informasi (atau boleh jadi karena hanya mencukupkan informasi dari satu sisi saja) juga karena terlanjut dengki. Di samping itu saya juga belum membaca di blog ini tentang syekh mujahid Abu Muhammad al Maqdisi, apakah akan digolongkan pula sebagai teroris oleh abah syakir.

    Sebelum bog ini ditutup saya masih ingin menduga-duga, paham/ cara berfikir siapa yang dianut oleh Abah syahir. Jika membaca pembelaanya terhadap saudi saya menduga anda penganut paham makhdoly. Tetapi juga saya merasakan ada cara berfirkir HT yang tersurat, tatapi itu agak samar. Dugaan pertamalah yang saya rasakan lebih kuat dan dominan dalam tulisan2 abah syakir

  3. Gade berkata:

    Hati-hati kalo menamakan anak perempuan Fathimah, bisa-bisa dituduh Syiah Rafidhah lho, terus gambar bunga di atas, cepet-cepet dihapus deh, bentuknya kayak mata satu.

  4. abisyakir berkata:

    @ Gade…

    Hati-hati kalo menamakan anak perempuan Fathimah, bisa-bisa dituduh Syiah Rafidhah lho, terus gambar bunga di atas, cepet-cepet dihapus deh, bentuknya kayak mata satu..

    Respon: Ya jangan ekstrem begitu. Gak masalah menamakan anak Fathimah, wong itu salah satu putri Nabi Saw. Diberi nama demikian supaya menjadi doa agar anak tersebut shalihah, meneladani Fathimah Ra. amin.

    Soal bunga juga… Itu kan hal-hal alamiah. Itu sudah ada sebelum manusia buat simbol macam-macam. Kalau Anda tak mau melihat benda-benda alami, wah bisa susah. Nanti Anda akan mengira bahwa matahari itu milik kaum paganis yang menyembah matahari. Enak saja.

    Admin.

  5. abisyakir berkata:

    @ Hasan Ismail…

    Sebelum bog ini ditutup saya masih ingin menduga-duga, paham/ cara berfikir siapa yang dianut oleh Abah syahir. Jika membaca pembelaanya terhadap saudi saya menduga anda penganut paham Madkholy. Tetapi juga saya merasakan ada cara berfirkir HT yang tersurat, tatapi itu agak samar. Dugaan pertamalah yang saya rasakan lebih kuat dan dominan dalam tulisan2 abah syakir

    Ya terimakasih atas duga-duganya, semoga Allah jauhkan saya dari fitnah dan dugaan itu ada manfaatnya buat saya. Amin ya Rahiim.

    Admin.

  6. Rodrick berkata:

    wanita sujud pada suaminya kerana membesarkan dan memuliakan hak-hak suami mereka.

  7. aspl berkata:

    Di atas semua itu, engkau harus memuliakan kaum wanita, sekalipun itu bukan keluargamu sendiri. Allah memuliakan wanita, hingga kita mengenal surat An Nisaa’. Rasulullah juga memuliakan wanita, lewat teladan-teladannya. Begitu pun orang-orang mulia, selalu memuliakan wanita. “Di balik setiap laki-laki besar, selalu ada wanita yang berjasa.” Bukankah demikian yang kita pahami?

    Muliakanlah wanita, hormatilah dia, maafkan kelemahan-kelemahannya, dengarkan keluh-kesahnya. Para ksatria tak pernah melecehkan wanita, mengekspoitasi, atau menjadikannya sejenis playmate. Tidak demikian. Sudah jadi kesepakatan sejarah, manusia mulia selalu menghormati kaum wanita. Nabi Saw bersabda: “Khiyarukum khiyarukum lin nisaa’ihim” (sebaik-baik kalian ialah yang paling baik kepada wanita-wanitanya).
    ————————————————————————————
    Maaf boss saya kurang setuju dengan tulisan anda di atas. kesan-nya seperti “menyembah wanita” seperti budaya lagu-lagu kita sekarang ini. mungkin zaman anda waktu masih muda masih banyak wanita yang bisa banggakan, ya itu memang zaman anda. Tapi bila ada terlahir dan dewasa di zaman sekarang mungkin ada akan beranggapan mirip seperti saya. bukanya saya pesimis tapi saya lebih merujuk pada realita/fakta. wasalam.

  8. abisyakir berkata:

    @ Aspl…

    Maaf boss saya kurang setuju dengan tulisan anda di atas. kesan-nya seperti “menyembah wanita” seperti budaya lagu-lagu kita sekarang ini. mungkin zaman anda waktu masih muda masih banyak wanita yang bisa banggakan, ya itu memang zaman anda. Tapi bila ada terlahir dan dewasa di zaman sekarang mungkin ada akan beranggapan mirip seperti saya. bukanya saya pesimis tapi saya lebih merujuk pada realita/fakta. wasalam.

    Alhamdulillah, selama ini saya dapati wanita-wanita yang baik di sekitar saya. Ya tentu saja ada wanita dengan karakter-karakter negatif, tetapi tergantung bagaimana sikap kita. Kalau kita selama ini BAIK KE WANITA, nanti wanita-wanita yang ada di sekitar kita juga baik; begitu juga sebaliknya.

    Bagaimanapun, pesan Nabi Saw tak bisa diubah, bahwa: “Khiyarukum khiyarukum li nisaa’ihim” (sebaik-baik kalian adalah yang paling baik sikapnya kepada wanita-wanitanya).

    Tentu Nabi Saw tidak berbohong dalam hal ini.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: