Munarman Vs Thamrin Tamagola

Juni 28, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Publik Nusantara kembali geger. Kali ini isunya tentang Saudara Munarman, Jubir FPI, menyiramkan air ke muka Thamrin Tamagola, saat diskusi tentang sweeping menjelang Ramadhan, di TVOne.

Dalam kasus begini, biasanya publik akan terbelah menjadi barisan PRO dan KONTRA. Pihak pro merasa sangat senang, bahagia, dan mendukung aksi Munarman. Pihak kontra segera mengecam, menyalahkan, menyesalkan, menyayangkan, atau menuduh dengan serentetan tuduhan terhadap sosok Munarman (pelaku penyiraman).

Orang Begini Disebut Sosiolog? Kok Bisa.

Orang Begini Disebut Sosiolog? Kok Bisa.

Oh ya, sebelum kesana. Kita sedikit bicara tentang Thamrin Tamagola. Orang ini sudah terlibat dalam isu nasional, sejak era Konflik Ambon, tahun 1999 lalu. Ada yang menyebutnya pro Islam, ada juga yang menyebutnya mengecilkan konflik SARA di Ambon. Intinya, nama dia mulai dikenal sejak itu, tapi positioning-nya belum jelas.

Di kemudian hari Thamrin banyak berkomentar yang menyudutkan para aktivis Islam, khususnya FPI. Saya masih ingat ketika mencuat kasus video porno Ariel Peterpan. Di situ Si Thamrin ini mengklaim bahwa video semacam itu tak masalah. Dia mengaku, sewaktu mahasiswa juga sering nonton video begituan. Itu dia katakan, sambil tertawa-tawa.

Jujur saja, saya merasa tidak nyaman membaca status Thamrin Tamagola sebagai seorang SOSIOLOG, apalagi guru besar Sosiologi UI. Rasanya aneh, sangat aneh, ada Sosiolog tingkah lakunya seperti itu. Namanya juga Sosiolog, mestinya sangat paham Sosiologi masyarakat. Paham suasana kebatinan masyarakat, karakter, dan kebiasaannya. Paham budaya masyarakat, paham watak dan pembawaan mereka.

Tapi sungguh aneh “Si Sosiolog” satu ini. Kalau ngomong asal nyablak, main ketawa-ketiwi gak karuan,  tak segan-segan menyakiti hati komunitas masyarakat. Salah satunya, dia dengan seenaknya menyebut masyarakat adat Dayak biasa melakukan hubungan seks bebas. Bahkan saat dia membela video Ariel Peterpan dan ngaku saat mahasiswa suka nonton film BF; aku pikir orang ini lebih tepat disebut SEKSOLOG, bukan Sosiolog.

Menurutku, sosok Sosiolog yang tepat, proporsional, atau setidaknya lebih bijak itu seperti Imam B. Prasodjo itu lho. Dia layak disebut Sosiolog. Cara bicaranya kalem, analisisnya kena, perspektifnya juga ada. Bukan kayak semodel Si Thamrin Seksolog, eh maaf maksudnya Sosiolog itu.

Malu malulah UI punya pakar seperti dia. Dia itu sama sekali tak mewakili gambaran Sosiolog teoritik, apalagi praktik. Mestinya, Si Thamrin ini dilengserkan gelarnya, karena tidak sesuai antara ilmu dan kelakuannya.

Oh ya…kok jadi kemana-mana ya. Maaf, maaf. Kembali ke monitor…. Balik ke topik semula.

Saat Munarman menyiram air ke muka Thamrin Tamagola, untungnya itu air putih. Kalau kopi atau teh, atau cappucino bagaimana? Tentu akan lebih parah lagi.

Mungkin saat diskusi sedang berlangsung, Munarman merasa mencium bau yang kurang sedap. Bisa jadi hidung Munarman sangat peka mencium keringat orang yang belum mandi. Mungkin lho ya. Lalu dia ada ide “memandikan” seseorang secara instan. Bisa jadi ketika itu ada kata-kata “mandi dulu ya”, tapi mungkin -karena ada konspirasi- jadi kata-kata itu tak terdengar di media. Mungkin lho ya… 🙂

Kalau melihat kondisi Thamrin Tamagola itu, kita jadi teringat kejadian lebih besar, ketika George Bush dilempar sepatu oleh seorang wartawan, di Irak. Publik dunia menyayangkan kejadian itu, tapi lebih banyak yang mendukung dan bersyukur. Kenapa? Ya karena sosok George Bush sangat-sangat memuakkan dunia. Dia pantas dihinakan seperti itu.

Tapi disini saya tak mau terjebak dalam sikap PRO atau KONTRA. Saya hanya ingin mengingatkan sesuatu. Sikap Munarman yang nekad menyiram air itu bisa menjadi semacam warning, bahwa masyarakat mulai muak dengan cara-cara formalitas, yang kelihatan sopan-santun, penuh etika; padahal sejatinya busuk, penuh kemunafikan, penuh kebobrokan. Nah, ekspresi spontan, terang-terangan, atau katakanlah main fisik, seperti menjadi antitessa dari segala bentuk wajah kemunafikan selama ini.

Hal ini menjadi warning bagi kita semua. Lihatlah kasus-kasus kekerasan di Tanah Air! Betapa masyarakat mulai tidak puas dengan cara-cara lunak, sopan-santun, formalitas, penuh etika. Mereka mulai ekspresikan sikapnya secara spontan, terbuka, terang-terangan, tanpa segan.

Maka bagi para pemimpin, elit politik, pesohor media, dan seterusnya, mereka harus hati-hati. Tindakan spontan dan fisik, bisa terjadi kapan saja. Bisa-bisa sepatu melayang, kursi melayang, atau cara lain semodel “hayo mandi dulu”.

Hati-hatilah! Ini sekedar mengingatkan! Terimakasih!

Mine.

Iklan

Media TV dan Kekuasaan Rezim

Juni 19, 2013

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa sebuah rezim di Indonesia (seperti rezim SBY) susah sekali dilengserkan? Demo-demo sudah sangat banyak dilakukan, tetapi tetap saja susah dilengserkan? Mengapa ya?

Ayo kita baca sedikit fakta-fakta…

(=). Indonesia sejak tahun 90-an sudah dikuasai oleh rezim media TV. Ini harus diakui. Maka itu investor dunia berlomba-lomba membeli saham TV-TV swasta, karena itu sama makna dengan menguasai Indonesia.

Media TV: Merampas Hak-hak Politik Rakyat Luas.

Media TV: Merampas Hak-hak Politik Rakyat Luas.

(=). Segala gerakan politik, untuk apapun tujuan, tanpa didukung jaringan media TV, sangat sulit untuk eksis dan diakui masyarakat. Menurut data Bank Dunia, 60 % keluarga Indonesia punya TV.

(=). Tiga rezim kekuasaan, Soeharto, Habibie, Wahid, telah sukses ditumbangkan oleh pemberitaan TV yang sangat massif. Soeharto digarap sejak awal 90-an, sampai puncaknya tahun 1998. Sangat naif kalau mereka tumbang semata-mata karena demo mahasiswa. Tidak. Tanpa ekspose TV, demo mahasiswa tak akan bertaji; seperti yang terjadi terhadap rezim SBY selama ini.

(=). Demo-demo mahasiswa/buruh seidealis apapun, sebaik apapun tujuannya, kalau tak didukung TV, jangan berharap akan sukses. Contoh, rezim SBY berkali-kali digoyang oleh demo mahasiswa/buruh, tapi tetap saja seger buger, karena media TV melindunginya.

(=). Fakta unik, SBY sering dapat penghargaan dari komunitas internasional. Misalnya dia dapat penghargaan dari komunitas G20, dari Ratu Elizabeth, dan sebagainya. Anda tahu makna penghargaan itu? Maknanya adalah: mereka rela dengan model kepemimpinan SBY dan akan terus melindunginya. Maknanya sampai sejauh itu, lho. Kalau SBY pro rakyat, pro keadilan, pro kaum pribumi, pro ketahanan nasional, justru akan disebut sebagai “anak nakal”, lalu mereka akan siapkan rekayasa media TV untuk menjatuhkan pemimpin yang pro rakyat.

(=). Di zaman Soeharto, pemberitaan gerakan demo sangat gencar, oleh semua stasiun TV. Bukan hanya dalam berita, tetapi update setiap jam, sejak pagi sampai malam. Bukan hanya demo di pusat Jakarta, tapi merembet luas sampai ke daerah-daerah. Istilahnya, saat itu “Soeharto sedang di-bully oleh semua media TV”.

Rezim Dilindungi oleh Kekuatan Media TV.

Rezim Dilindungi oleh Kekuatan Media TV.

(=). Rezim politik di Indonesia, meskipun sangat-sangat menyengsarakan rakyat. Misalnya, pemerintahan SBY sampai saat ini sudah ngutang ke pihak asing atau korporasi senilai sekitar Rp. 2025 triliun (dua ribu dua puluh lima triliun rupiah). Jadi kemajuan pemerintahan SBY ini ditopang oleh hutang, bukan kemampuan memimpin.

(=). Kehidupan apapun di Indonesia, terutama aspek politik, sudah dikendalikan oleh media TV. Itu fakta. TV menjadi PEMEGANG KEDAULATAN TERTINGGI kehidupan nasional. Ini fakta dan nyata.

Maka, saran kami, kalau Anda ingin mengadakan perubahan kehidupan di negeri ini, Anda harus membuat perhitungan dengan media-media TV. Caranya? Silakan saja Anda pikirkan, yang jelas: Media TV telah merebut kedaulatan dan kemerdekaan rakyat Indonesia. Mereka telah merampas hak-hak politik masyarakat Indonesia.

Jangan pernah bermimpi ada perubahan baik, selama politik dikuasai oleh media-media TV.

Ituh !!! (sambil bergaya seperti Mario Teguh 🙂 ).

Mine.


Jaga TIGA PILAR Islam Ini !!!

Juni 17, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

Dalam kehidupan ini kita sering menghadapi, mendengar, atau mendapat kabar tentang segala macam bencana, prahara, perang dunia, malapetaka, musibah dahsyat, dan seterusnya. Intinya, semua itu adalah hal-hal yang sangat menakutkan, mengkhawatirkan, dan membuat kita kehilangan rasa aman. Terlebih ketika kita menyadari, bahwa saat ini kita hidup di bawah sistem non Islami, yang tidak berorientasi menjaga kehidupan kaum Muslimin.

Tapi alhamdulillah, alhamdulillah, walhamdulillah, bahwa Allahu Ta’ala Ar Rahmaan Ar Rahiim, menurunkan agama ke tengah-tengah kita sebagai PENJAGA kehidupan ini. Benar adanya, agama Islam adalah penjaga kehidupan kita, sekaligus penjaga kehidupan umat manusia di alam ini. Tanpa agama ini, maka alam semesta akan hancur-luluh, kemudian orang-orang Ahli Kitab, paganis, atheis, dan seterusnya akan musnah juga.

Sebuah contoh, ketika kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam durhaka dan sudah tak bisa diingatkan lagi, maka Allah mendatangkan bencana alam terbesar sepanjang sejarah manusia. Bencana alam ini sangat dahsyat, hingga mampu mengangkat permukaan bumi, sehingga bumi yang semula subur, hijau, basah, penuh tanam-tamanan seketika menjadi gersang. Daerah suburnya sudah terangkat, sehingga menyisakan permukaan yang kering, keras, berbatu-batu. Itulah yang sekarang menjadi Jazirah Arab. Padahal semula ia hijau dan basah. Maka tidak heran jika Nabi Nuh ‘Alaihissalam diperintahkan membawa semua jenis binatang berpasangan di atas perahunya. Tujuannya, untuk melestarikan ekosistem alam itu kembali. Ini adalah akibat yang nyata, bahwa perbuatan durhaka, maksiat kepada Allah, durhaka atas hukum-hukumnya, membuat alam ini hancur, eksosistem rusak berat.

Berpegang Tali Agama Allah yang Sangat Teguh.

Berpegang Tali Agama Allah yang Sangat Teguh.

Konsep yang kita jumpai dalam Al Qur’an, yaitu konsep JALAN KESELAMATAN dalam menghadapi segala prahara kehidupan, dijelaskan dalam Surat Al Baqarah ayat 256 (hanya satu ayat setelah Ayat Kursi).

Bunyi ayatnya sebagai berikut:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan dalam agama ini, sungguh telah jelas mana petunjuk dan mana kesesatan. Maka siapa yang ingkar kepada thaghut (segala sesembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah saja; maka sungguh dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat, yang tidak akan putus selama-lamanya. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256).

Dari ayat ini dapat disimpulkan TIGA PERKARA yang merupakan pilar-pilar agama Islam, yaitu: (1). Ilmu Syariat; (2). Tauhid; dan (3). Hukum Islam. Ketiga perkara ini terangkum dalam ayat di atas.

Ilmu Syariat dipahami dari sumber ayat di atas, yaitu Kitabullah. Kitabullah adalah sumber utama ilmu-ilmu Syariat Islam, kemudian Sunnah Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam yang shahih. Tauhid dipahami dari keharusan beriman kepada Allah dan ingkar kepada thaghut. Sedangkan faidah hukum Islam didapatkan dari ayat di atas berupa perintah mentauhidkan Allah dan larangan melakukan perbuatan-perbuatan kemusyrikan. Alhamdulillah.

Maka kaum Muslimin jika ingin hidupnya selamat, selalu kuat, tangguh, teguh, dalam menghadapi ujian kehidupan seberat apapun; mereka harus konsisten dengan tiga pilar agama ini: Ilmu Syariat, Tauhid, Hukum Islam. Di masa ketiga pilar ini ditegakkan, Allah akan menjamin kekuatan, kehandalan, keteguhan, serta eksistensi yang tak pernah putus, selama-lamanya.

Satu ibrah ingin saya jelaskan kepada Anda, wahai para pembaca budiman. Pernahkah Anda merasa (memikirkan) bahwa suatu ketika kaum Muslimin akan musnah dari muka bumi ini? Maka saya jawab dengan sebenar-benarnya, seteguh-teguhnya, bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi selama-lamanya. Kaum Muslimin, dalam menghadapi prahara sekejam apapun, mereka tak akan pernah bisa dimusnahkan sama sekali. Ini adalah Sunnatullah yang disebut dalam Al Qur’an, “Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila” (engkau tak akan pernah menjumpai Sunnatullah itu berubah, selamanya).

Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah mengatakan, dan hal ini menjadi jaminan eksistensi bagi kaum Muslimin. Al Musthafa An Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Laa tazalu thaifatun min ummati zhahirina ‘alal haq laa yadhurruhum man khadzalahum hatta ya’tiya bi amrillah wa hum ‘ala kadzalik” (tidak henti-hentinya sekelompok dari ummatku akan senantiasa menampakkan kebenaran -dengan gagah berani-; tidak merugikan mereka siapapun yang mencela mereka; mereka senantiasa demikian, sampai datang keputusan Allah, sedangkan mereka tetap seperti itu).

Inilah hadits shahih yang menjelaskan EKSISTENSI kaum Muslimin, selama-lamanya, di hadapan segala zaman, keadaan, prahara, dan apa saja. Banyak orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan hadits tadi tertuju pada keselompok orang tertentu yang sangat konsisten dengan nilai-nilai Islam, tak surut oleh ujian seperti apapun. Karena disana disebut “thaifatun min ummati” (sekelompok orang dari ummatku), maka mereka menyangka jumlah orang itu sedikit, atau minoritas. Dengan demikian, mereka berkesimpulan, jumlah kaum Muslimin suatu saat akan menjadi minoritas di muka bumi.

Ini pandangan keliru. Cara memahaminya lebih tepat bukan seperti itu. Seharusnya begini:

“Di antara kaum Muslimin ini akan selalu ada sekelompok orang yang terang-terangan menampakkan kebenaran Islam, di masa saja, dan kapan saja. Mereka itu sejumlah kecil orang yang nyalinya sangat kuat, sangat militan, tak pernah takut menghadapi perihnya cobaan hidup seberat apapun. Mereka seperti perhiasan emas yang menempel di tubuh seseorang wanita, jumlahnya sedikit, tetapi kelihatan berkilau. Sedangkan tubuh wanita itu diumpamakan sebagai kaum Muslimin dalam jumlah banyak. Jadi, jumlah kaum Muslimin akan selalu banyak; tetapi di antara mereka ada sekelompok orang yang selalu terang-terangan menampakkan kebenaran.”

Mengapa kita memahami demikian?

Sebab dalam hadits di atas ada dua sifat yang menjelaskan hal itu. Pertama, disana ada kata “zhahirina ‘alal haq” (tegak berdiri menampakkan kebenaran). Kata-kata zhahirina tidak bisa dimaknai sekedar melaksanakan atau mengimani ajaran Islam. Zhahirina lebih demonstratif dan terang-terangan. Para ulama menyebut istilah Izhharul Haq, menampakkan kebenaran. Juga istilah demonstrasi itu disebut dengan kata MazhaharahKedua, disana ada kata “laa yadhurruhum man khadzalahum” (tidak merugikan mereka, siapa saja yang mencela mereka). Kalau hanya dipahami mengimani Islam, melaksanakan Islam, atau meyakini Islam, tidak mungkin akan ada penjelasan kalimat seperti itu. Resiko dicela, dicemooh, dicaci-maki, adalah buat mereka yang terang-terangan menampakkan kebenaran Islam.

Jadi, di antara kaum Muslimin ini akan selalu ada sekelompok orang yang militan, tak takut mati, selalu jelas dan tegas dalam menampakkan kebenaran Islam. Mau ada badai tornado, bencana tsunami, atau apa saja, mereka tak peduli. Yang penting, menampakkan kebenaran Islam; tak peduli orang-orang di luar Islam akan marah, kesal, atau kecewa. Itu jumlahnya sedikit. Selebihnya, orang-orang Muslim yang tak berani menampakkan Islam secara terang-terangan, jumlah mereka banyak. Mereka takut melakukan Izhahurul Haq, karena berbagai alasan.

Singkat kata, kaum Muslimin ini akan selalu eksis di muka bumi. Jumlah mereka selalu banyak dan meluas, meskipun kadang kualitasnya seperti buih banjir. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam sendiri yang menjamin hal itu.

Lalu, apa yang disebut “hatta ya’tiya bi amrillah” (sampai saat datangnya urusan Allah)?

Ya penafsirannya bisa macam-macam. Tapi ada sebuah penafsiran indah, sesuai Sunnah Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Diceritakan bahwa setelah Isa ‘Alaihissalam nanti membunuh Dajjal dan menyelesaikan urusan Ya’juj dan Ma’juj, beliau akan memimpin dunia dalam masa 40 tahun. Saat itu dunia damai, sedamai-damainya kehidupan. Setelah Isa wafat, manusia akan mengalami kemunduran iman dan moral lagi. Hingga suatu titik, Allah Ta’ala akan mengeluarkan asap putih dari Yaman. Melalui asap itu nanti kaum Muslimin seluruhnya akan wafat. Hingga orang yang di hatinya ada iman seberat debu pun akan wafat. Setelah mereka wafat, semua manusia yang tersisa hanyalah kekufuran, kebejatan, kehinaan, dan seterusnya. Saat itu zaman Islam sudah berakhir, sehingga tidak ada satu pun Muslim yang mendapati Hari Kiamat. Semua sudah wafat sebelum Hari Kiamat terjadi. Maka kekafiran itu akan kembali merajalela, adzan tiada, istighfar tiada, di sekitar Ka’bah dipenuhi berhala-berhala lagi.

Nah, yang dimaksud “hatta ya’tiya bi amrillah” adalah keluarnya asap putih dari Yaman yang akan mematikan seluruh kaum Muslimin itu, hingga tak bersisa satu pun. Yang tersisa hanyalah kekafiran, kedurhakaan, kekejian, dan seterusnya.

Maka dapat disimpulkan, bahwa eksistensi kaum Muslimin, selama-lamanya akan selalu tegak, berdiri, dan sangat kuat di muka bumi ini. Tidak peduli George Bush membuat kebohongan seputar WTC, lalu memerangi Ummat Islam atas nama perang anti terorisme; tidak peduli Densus88 terus menembaki pemuda-pemuda Islam dan menyiksa mereka secara kejam; tidak peduli Chairul Tanjung, Hary Tanoe, Surya Paloh, Aburizal Bakrie dan lain-lain menguasai media TV lalu bebas seenaknya memaksakan kehidupan sesuai selera mereka; tidak peduli LDII mulai menampakkan taringnya; tidak peduli Syiah Rafidhah punya aneka macam skenario konspirasi, di Indonesia maupun di Timur Tengah; tidak peduli film Harry Potter menawarkan jalan sihir ke anak-anak remaja; tidak peduli segala makar apapun yang dibuat oleh orang-orang yang bisa membuat makar.

Maka itu saya menasehatkan terhadap diri sendiri dan kaum Muslimin sekalian, jagalah selalu WASIAT ALLAH TA’ALA ini, yaitu Al Urwatul Wutsqa (tali pegangan yang sangat teguh). Jagalah selalu TIGA PILAR ajaran Islam, yaitu: Ilmu Syariat, Tauhid, dan Hukum Allah.

Bantulah para guru-guru ngaji, baik forman atau non formal; bantulah para santri dan kyai yang mengajarkan Sunnah Nabi; bantulah ustadz-ustadz yang mengajarkan hukum halal-haram, hukum Syariat; bantulah para dai yang menyebarkan tauhid; ajak masyarakat untuk tidak menyembah orang saleh, tidak menyembah kuburan, tidak meminta pertolongan kepada arwah yang sudah mati, tidak datang ke dukun, tidak melakukan sihir, tidak percaya ramalan, hanya melaksanakan tawassul yang Syar’i; ajak masyarakat menjauhi bid’ah, amal-amal yang diada-adakan, ritual yang tak ada dalilnya, perbuatan-perbuatan yang menjauhi Sunnah Nabi (tapi lakukan ajakan itu dengan damai, dengan sabar, jangan mencaci-maki orang, jangan menjelek-jelekkan kehormatan mereka); ajak kaum Muslimin untuk konsisten dengan Syariat, hukum halal-haram, sekuat kemampuan dan kesempatan.

Lakukanlah semua itu. Jangan pelit berbagi. Jangan lelah untuk saling bekerjasama dalam kebaikan dan takwa. Timbang segala sesuatu dengan adil dan bijaksana. Jangan membenci karena suatu kelebihan, sebab boleh jadi nanti engkau sangat berhutang atas kebaikan itu. Jangan mencela karena kekurangan, sebab boleh jadi nanti engkau akan melakukan yang lebih buruk dari itu. Doakan saudaramu dalam saat-saat pribadi, antara engkau dan Rabb-mu sendiri, sebab doa sejenis itu sangat disukai di sisi Rabul A’la Dzul Jalali Wal Ikram. Jika kita tak pernah bertemu, insya Allah rasa cinta di antara kita akan tetap Allah sambungkan. Cintai saudaramu seiman, seperti engkau mencintai dirimu sendiri.

Demikian, semoga risalah sederhana ini bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. Amin Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abinya Abdurrahman).


Ayo Memelihara Jangkrik Ngerik!

Juni 14, 2013

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Saudara-saudara sekalian, kawan-kawan, para sahabat, dan siapa saja yang sempat membaca artikel ini…

Kami ingin berbagi sebuah ide sederhana, tapi insya Allah ini bermanfaat. Sebagaimana judul artikel ini, kami mengajak kawan-kawan semua, para sahabat dan pembaca, untuk mulai memelihara JANGKRIK ngerik di rumah.

Jangkrik ngerik ini bukan semacam ternak jangkrik untuk pakan ikan atau burung. Ini adalah JANGKRIK yang mengkilat itu lho, bisa bersuara krik krik krik, kalau malam hari. Ia dipelihara satuan, tidak kolektif. Setiap jangkrik punya kandang sendiri, diperlakukan sama seperti hewan-hewan peliharaan semacam kucing, burung, ayam, atau kelinci. Ia diambil segi bunyi khasnya dan bentuknya yang lucu dan pola-pola kulitnya seperti batik.

Ayo Ajak Anak-anakmu Mulai Memelihara Jangkrik Ngerik !

Ayo Ajak Anak-anakmu Mulai Memelihara Jangkrik Ngerik !

Ajakan untuk memelihara jangkrik ngerik ini karena beberapa alasan, antara lain:

[1]. Memelihara jangkrik adalah mainan kita di masa kecil. Mainan ini patut dilestarikan, karena punya nilai positif bagi anak-anak.

[2]. Jangkrik ngerik sendiri pasti punya manfaat dalam kehidupan ini. Kalau kita tidak memeliharanya, ia akan “terbuang” sia-sia di alam. Padahal pada dinamika jangkrik ini ada sisi-sisi positifnya.

[3]. Anak-anak kecil sangat baik jika mereka punya kesibukan memelihara hewan di rumah. Hal itu akan membuat mereka fokus, punya tanggung-jawab, dan bisa teralihkan dari serbuan media-media modern dan games yang amat sangat sumpek itu. Jangkrik selain bentuknya kecil, lucu, juga tidak berbahaya bagi anak-anak. Untuk setingkat kucing saja, masih ada bahayanya.

[4]. Memelihara JANGKRIK ngerik itu sesuai Sunnah lho (halah, agak maksain). Maksudnya begini. Kan kita nih kalau ketemu tikus disunnahkan untuk membunuhnya. Iya kan. Itu pasti karena ada manfaatnya di balik upaya membasmi tikus. Nah, menurut sebagaian penelitian, suara ngerik-nya jangkrik akan membuat tikus tidak betah tinggal di rumah. Mereka akan lari karena telinga-nya tidak kuat menahan frekuensi suara jangkrik. Ini selaras dengan tujuan Sunnah kan?

[5]. Secara ekonomis jangkrik ini ada harganya lho. Harganya bisa setara Kura-kura Brazil yang berwarna hijau itu. Seekor JANGKRIK ngerik bisa seharga Rp. 10 ribu sampai Rp. 15 ribu rupiah. Nah, cara begini kan bisa  membuka peluang kerja bagi para pencari jangkrik. Nanti hewan ini bisa eksklusif, dicari orang untuk “bunyi-bunyian” di rumah.

Ya intinya, upaya ini lebih untuk mengajarkan kepada anak-anak kita cara hidup yang sehat, kreatif, tidak dikendalikan oleh TV, komputer, ponsel, ipad, internet, dan sebagainya. Pastilah Allah ciptakan jangkrik ngerik untuk suatu tujuan mulia. Dan salah satunya, adalah untuk membendung arus media modern yang sangat membelenggu itu.

Hayo kita mulai memelihara JANGKRIK ngerik di rumah !!!

Peliharalah, untuk mengenalkan anak-anakmu dengan dunia natural dan amanat memelihara hewan. Lagian, gak berbahaya ini kok.

(Admin PLB).


Ahlan Wa Sahlan LDKI…

Juni 14, 2013

Alhamdulillah, yang sekian lama dinantikan akhirnya datang juga. Seperti sebuah icon populer: Akhirnya Datang Juga.

Mantan-mantan aktivis dakwah yang dulu mendukung Partai Keadilan (Partai Keadilan Sejahtera) kini punya wadah dakwah baru. Namanya LDKI, Lembaga Dakwah Kemuliaan Islam. Nama yang baik dan berniatan mulia, yaitu memuliakan Islam, bukan memuliakan golongan (ashabiyah).

Alhamdulillah syukur kepada Allah atas lahirnya LDKI. Wadah dakwah ini secara resmi dinyatakan berdiri di Masjid Ukhuwwah Islamiyyah, Kampus UI, pada tanggal 9 Juni 2013 lalu. Kalau dulu Partai Keadilan lahir di Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan. Kini lahir di Masjid UI Depok.

Alhamdulillah, menurut pengurus LDKI, organisasi ini bukan underbouw sebuah partai, juga bukan ormas. Jadi semacam wadah dakwah saja, yang bergerak mendakwahkan Islam seperti di masa lalu. Alhamdulillah.

Harus Ada Perahu Penyelamat Kafilah Dakwah.

Harus Ada Perahu Penyelamat Kafilah Dakwah.

Alhamdulillah, ini adalah jawaban atas semua keraguan dan beribu harapan selama ini, bahwa kafilah dakwah Jamaah Tarbiyah mesti diselamatkan. Tatkala perjuangan politik praktis terlalu dalam merusak struktur, moralitas, dan karakter insan-insan dakwah, mau tidak mau harus ada perahu penyelamat, untuk meneruskan estafeta perjuangan ke depan.

Alhamdulillah syukur kepada Allah. Salam hormat dan dukungan untuk Ustadz Mashadi, Ustadz Mintarsa, Ustadz Saiful Islam Mubarok, dan lainnya. Semoga perjuangan dan kiprah dakwah mereka berkembang, eksis, dan membawa maslahat luas bagi kaum Muslimin. Amin Allahumma amin.

Ahlan wa sahlan ya Akhi. Selamat berjuang, semoga Allah Ta’ala selalu memberikan istiqamah, hidayah jalan lurus, kemudahan, pertolongan, dan manisnya persaudaraan. Amin Allahumma amin.

(Admin PLB).