Jaga TIGA PILAR Islam Ini !!!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillahi was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in, amma ba’du.

Dalam kehidupan ini kita sering menghadapi, mendengar, atau mendapat kabar tentang segala macam bencana, prahara, perang dunia, malapetaka, musibah dahsyat, dan seterusnya. Intinya, semua itu adalah hal-hal yang sangat menakutkan, mengkhawatirkan, dan membuat kita kehilangan rasa aman. Terlebih ketika kita menyadari, bahwa saat ini kita hidup di bawah sistem non Islami, yang tidak berorientasi menjaga kehidupan kaum Muslimin.

Tapi alhamdulillah, alhamdulillah, walhamdulillah, bahwa Allahu Ta’ala Ar Rahmaan Ar Rahiim, menurunkan agama ke tengah-tengah kita sebagai PENJAGA kehidupan ini. Benar adanya, agama Islam adalah penjaga kehidupan kita, sekaligus penjaga kehidupan umat manusia di alam ini. Tanpa agama ini, maka alam semesta akan hancur-luluh, kemudian orang-orang Ahli Kitab, paganis, atheis, dan seterusnya akan musnah juga.

Sebuah contoh, ketika kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam durhaka dan sudah tak bisa diingatkan lagi, maka Allah mendatangkan bencana alam terbesar sepanjang sejarah manusia. Bencana alam ini sangat dahsyat, hingga mampu mengangkat permukaan bumi, sehingga bumi yang semula subur, hijau, basah, penuh tanam-tamanan seketika menjadi gersang. Daerah suburnya sudah terangkat, sehingga menyisakan permukaan yang kering, keras, berbatu-batu. Itulah yang sekarang menjadi Jazirah Arab. Padahal semula ia hijau dan basah. Maka tidak heran jika Nabi Nuh ‘Alaihissalam diperintahkan membawa semua jenis binatang berpasangan di atas perahunya. Tujuannya, untuk melestarikan ekosistem alam itu kembali. Ini adalah akibat yang nyata, bahwa perbuatan durhaka, maksiat kepada Allah, durhaka atas hukum-hukumnya, membuat alam ini hancur, eksosistem rusak berat.

Berpegang Tali Agama Allah yang Sangat Teguh.

Berpegang Tali Agama Allah yang Sangat Teguh.

Konsep yang kita jumpai dalam Al Qur’an, yaitu konsep JALAN KESELAMATAN dalam menghadapi segala prahara kehidupan, dijelaskan dalam Surat Al Baqarah ayat 256 (hanya satu ayat setelah Ayat Kursi).

Bunyi ayatnya sebagai berikut:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan dalam agama ini, sungguh telah jelas mana petunjuk dan mana kesesatan. Maka siapa yang ingkar kepada thaghut (segala sesembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah saja; maka sungguh dia telah berpegang kepada tali yang sangat kuat, yang tidak akan putus selama-lamanya. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256).

Dari ayat ini dapat disimpulkan TIGA PERKARA yang merupakan pilar-pilar agama Islam, yaitu: (1). Ilmu Syariat; (2). Tauhid; dan (3). Hukum Islam. Ketiga perkara ini terangkum dalam ayat di atas.

Ilmu Syariat dipahami dari sumber ayat di atas, yaitu Kitabullah. Kitabullah adalah sumber utama ilmu-ilmu Syariat Islam, kemudian Sunnah Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam yang shahih. Tauhid dipahami dari keharusan beriman kepada Allah dan ingkar kepada thaghut. Sedangkan faidah hukum Islam didapatkan dari ayat di atas berupa perintah mentauhidkan Allah dan larangan melakukan perbuatan-perbuatan kemusyrikan. Alhamdulillah.

Maka kaum Muslimin jika ingin hidupnya selamat, selalu kuat, tangguh, teguh, dalam menghadapi ujian kehidupan seberat apapun; mereka harus konsisten dengan tiga pilar agama ini: Ilmu Syariat, Tauhid, Hukum Islam. Di masa ketiga pilar ini ditegakkan, Allah akan menjamin kekuatan, kehandalan, keteguhan, serta eksistensi yang tak pernah putus, selama-lamanya.

Satu ibrah ingin saya jelaskan kepada Anda, wahai para pembaca budiman. Pernahkah Anda merasa (memikirkan) bahwa suatu ketika kaum Muslimin akan musnah dari muka bumi ini? Maka saya jawab dengan sebenar-benarnya, seteguh-teguhnya, bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi selama-lamanya. Kaum Muslimin, dalam menghadapi prahara sekejam apapun, mereka tak akan pernah bisa dimusnahkan sama sekali. Ini adalah Sunnatullah yang disebut dalam Al Qur’an, “Wa lan tajida li sunnatillahi tabdila” (engkau tak akan pernah menjumpai Sunnatullah itu berubah, selamanya).

Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah mengatakan, dan hal ini menjadi jaminan eksistensi bagi kaum Muslimin. Al Musthafa An Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Laa tazalu thaifatun min ummati zhahirina ‘alal haq laa yadhurruhum man khadzalahum hatta ya’tiya bi amrillah wa hum ‘ala kadzalik” (tidak henti-hentinya sekelompok dari ummatku akan senantiasa menampakkan kebenaran -dengan gagah berani-; tidak merugikan mereka siapapun yang mencela mereka; mereka senantiasa demikian, sampai datang keputusan Allah, sedangkan mereka tetap seperti itu).

Inilah hadits shahih yang menjelaskan EKSISTENSI kaum Muslimin, selama-lamanya, di hadapan segala zaman, keadaan, prahara, dan apa saja. Banyak orang menyangka bahwa yang dimaksud dengan hadits tadi tertuju pada keselompok orang tertentu yang sangat konsisten dengan nilai-nilai Islam, tak surut oleh ujian seperti apapun. Karena disana disebut “thaifatun min ummati” (sekelompok orang dari ummatku), maka mereka menyangka jumlah orang itu sedikit, atau minoritas. Dengan demikian, mereka berkesimpulan, jumlah kaum Muslimin suatu saat akan menjadi minoritas di muka bumi.

Ini pandangan keliru. Cara memahaminya lebih tepat bukan seperti itu. Seharusnya begini:

“Di antara kaum Muslimin ini akan selalu ada sekelompok orang yang terang-terangan menampakkan kebenaran Islam, di masa saja, dan kapan saja. Mereka itu sejumlah kecil orang yang nyalinya sangat kuat, sangat militan, tak pernah takut menghadapi perihnya cobaan hidup seberat apapun. Mereka seperti perhiasan emas yang menempel di tubuh seseorang wanita, jumlahnya sedikit, tetapi kelihatan berkilau. Sedangkan tubuh wanita itu diumpamakan sebagai kaum Muslimin dalam jumlah banyak. Jadi, jumlah kaum Muslimin akan selalu banyak; tetapi di antara mereka ada sekelompok orang yang selalu terang-terangan menampakkan kebenaran.”

Mengapa kita memahami demikian?

Sebab dalam hadits di atas ada dua sifat yang menjelaskan hal itu. Pertama, disana ada kata “zhahirina ‘alal haq” (tegak berdiri menampakkan kebenaran). Kata-kata zhahirina tidak bisa dimaknai sekedar melaksanakan atau mengimani ajaran Islam. Zhahirina lebih demonstratif dan terang-terangan. Para ulama menyebut istilah Izhharul Haq, menampakkan kebenaran. Juga istilah demonstrasi itu disebut dengan kata MazhaharahKedua, disana ada kata “laa yadhurruhum man khadzalahum” (tidak merugikan mereka, siapa saja yang mencela mereka). Kalau hanya dipahami mengimani Islam, melaksanakan Islam, atau meyakini Islam, tidak mungkin akan ada penjelasan kalimat seperti itu. Resiko dicela, dicemooh, dicaci-maki, adalah buat mereka yang terang-terangan menampakkan kebenaran Islam.

Jadi, di antara kaum Muslimin ini akan selalu ada sekelompok orang yang militan, tak takut mati, selalu jelas dan tegas dalam menampakkan kebenaran Islam. Mau ada badai tornado, bencana tsunami, atau apa saja, mereka tak peduli. Yang penting, menampakkan kebenaran Islam; tak peduli orang-orang di luar Islam akan marah, kesal, atau kecewa. Itu jumlahnya sedikit. Selebihnya, orang-orang Muslim yang tak berani menampakkan Islam secara terang-terangan, jumlah mereka banyak. Mereka takut melakukan Izhahurul Haq, karena berbagai alasan.

Singkat kata, kaum Muslimin ini akan selalu eksis di muka bumi. Jumlah mereka selalu banyak dan meluas, meskipun kadang kualitasnya seperti buih banjir. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam sendiri yang menjamin hal itu.

Lalu, apa yang disebut “hatta ya’tiya bi amrillah” (sampai saat datangnya urusan Allah)?

Ya penafsirannya bisa macam-macam. Tapi ada sebuah penafsiran indah, sesuai Sunnah Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Diceritakan bahwa setelah Isa ‘Alaihissalam nanti membunuh Dajjal dan menyelesaikan urusan Ya’juj dan Ma’juj, beliau akan memimpin dunia dalam masa 40 tahun. Saat itu dunia damai, sedamai-damainya kehidupan. Setelah Isa wafat, manusia akan mengalami kemunduran iman dan moral lagi. Hingga suatu titik, Allah Ta’ala akan mengeluarkan asap putih dari Yaman. Melalui asap itu nanti kaum Muslimin seluruhnya akan wafat. Hingga orang yang di hatinya ada iman seberat debu pun akan wafat. Setelah mereka wafat, semua manusia yang tersisa hanyalah kekufuran, kebejatan, kehinaan, dan seterusnya. Saat itu zaman Islam sudah berakhir, sehingga tidak ada satu pun Muslim yang mendapati Hari Kiamat. Semua sudah wafat sebelum Hari Kiamat terjadi. Maka kekafiran itu akan kembali merajalela, adzan tiada, istighfar tiada, di sekitar Ka’bah dipenuhi berhala-berhala lagi.

Nah, yang dimaksud “hatta ya’tiya bi amrillah” adalah keluarnya asap putih dari Yaman yang akan mematikan seluruh kaum Muslimin itu, hingga tak bersisa satu pun. Yang tersisa hanyalah kekafiran, kedurhakaan, kekejian, dan seterusnya.

Maka dapat disimpulkan, bahwa eksistensi kaum Muslimin, selama-lamanya akan selalu tegak, berdiri, dan sangat kuat di muka bumi ini. Tidak peduli George Bush membuat kebohongan seputar WTC, lalu memerangi Ummat Islam atas nama perang anti terorisme; tidak peduli Densus88 terus menembaki pemuda-pemuda Islam dan menyiksa mereka secara kejam; tidak peduli Chairul Tanjung, Hary Tanoe, Surya Paloh, Aburizal Bakrie dan lain-lain menguasai media TV lalu bebas seenaknya memaksakan kehidupan sesuai selera mereka; tidak peduli LDII mulai menampakkan taringnya; tidak peduli Syiah Rafidhah punya aneka macam skenario konspirasi, di Indonesia maupun di Timur Tengah; tidak peduli film Harry Potter menawarkan jalan sihir ke anak-anak remaja; tidak peduli segala makar apapun yang dibuat oleh orang-orang yang bisa membuat makar.

Maka itu saya menasehatkan terhadap diri sendiri dan kaum Muslimin sekalian, jagalah selalu WASIAT ALLAH TA’ALA ini, yaitu Al Urwatul Wutsqa (tali pegangan yang sangat teguh). Jagalah selalu TIGA PILAR ajaran Islam, yaitu: Ilmu Syariat, Tauhid, dan Hukum Allah.

Bantulah para guru-guru ngaji, baik forman atau non formal; bantulah para santri dan kyai yang mengajarkan Sunnah Nabi; bantulah ustadz-ustadz yang mengajarkan hukum halal-haram, hukum Syariat; bantulah para dai yang menyebarkan tauhid; ajak masyarakat untuk tidak menyembah orang saleh, tidak menyembah kuburan, tidak meminta pertolongan kepada arwah yang sudah mati, tidak datang ke dukun, tidak melakukan sihir, tidak percaya ramalan, hanya melaksanakan tawassul yang Syar’i; ajak masyarakat menjauhi bid’ah, amal-amal yang diada-adakan, ritual yang tak ada dalilnya, perbuatan-perbuatan yang menjauhi Sunnah Nabi (tapi lakukan ajakan itu dengan damai, dengan sabar, jangan mencaci-maki orang, jangan menjelek-jelekkan kehormatan mereka); ajak kaum Muslimin untuk konsisten dengan Syariat, hukum halal-haram, sekuat kemampuan dan kesempatan.

Lakukanlah semua itu. Jangan pelit berbagi. Jangan lelah untuk saling bekerjasama dalam kebaikan dan takwa. Timbang segala sesuatu dengan adil dan bijaksana. Jangan membenci karena suatu kelebihan, sebab boleh jadi nanti engkau sangat berhutang atas kebaikan itu. Jangan mencela karena kekurangan, sebab boleh jadi nanti engkau akan melakukan yang lebih buruk dari itu. Doakan saudaramu dalam saat-saat pribadi, antara engkau dan Rabb-mu sendiri, sebab doa sejenis itu sangat disukai di sisi Rabul A’la Dzul Jalali Wal Ikram. Jika kita tak pernah bertemu, insya Allah rasa cinta di antara kita akan tetap Allah sambungkan. Cintai saudaramu seiman, seperti engkau mencintai dirimu sendiri.

Demikian, semoga risalah sederhana ini bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. Amin Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu a’lam bisshawaab.

(Abinya Abdurrahman).

Iklan

2 Responses to Jaga TIGA PILAR Islam Ini !!!

  1. Silver Price berkata:

    Siapa Al-Khawarij itu? Maka ketahuilah bahwa mereka adalah orang-orang yang mengkafirkan kaum muslimin dengan sebab dosa-dosa besar yang tingkatannya masih di bawah kesyirikan dan kekufuran. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari sikap taat kepada penguasa, serta menentang penguasa dengan mengangkat senjata. Mereka juga menyerukan kepada kaum muslimin untuk memerangi penguasa. Jenis yang ini dinamakan dengan penentangan dengan kekuatan fisik.

  2. G. Mckee berkata:

    Allah ‘Azza wa Jalla cinta untuk menutupi aib makhluk-Nya, dan memerintahkannya ( menutupi aib orang lain ), oleh karena itu Allah mengharamkan tindakan mata-mata dan melarangnya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan bahwa siapa saja yang menutupi aib seseorang, maka Allah menutupi aibnya di hari kiamat, dan melarang mencari-cari aib kaum muslimin dan tindakan memata-matai mereka tentang pekerjaan yang mereka sembunyikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: