Salafiyah Kan Terus Berkibar, Sebuah Dinasti Tidak Dijamin

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Allah Ta’ala menjelaskan dalam Kitab-Nya, bahwa siapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada simpul tali (agama Allah) yang sangat kuat, yang tak akan putus selamanya. Disebutkan dalam Surat Al Baqarah: 256. Inilah ayat yang sering disebut sebagai Al Urwatul Wutsqa.

Disini dijelaskan, bahwa pijakan terkuat dalam hidup ini ialah Syariat Allah Ta’ala; siapa yang mengikatkan dirinya kepada Syariat, dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat. Sedangkan siapa yang berpegang kepada kekuasaan, kerajaan, kekayaan, pengaruh politik, dan lainnya tidak dijamin akan mendapatkan kekuatan yang teguh dan dawam (lestari).

Maka, selagi dakwah Salafiyah senantiasa konsisten dengan Syariat Islam, maka musuh seperti apapun tak akan mampu meruntuhkannya; siapapun mereka, bagaimanapun caranya, selama apapun makarnya.

Sebaliknya, siapa yang berpegang kepada kerajaan, dinasti, kekuasaan politik; dengan mengabaikan hak-hak Syariat Allah; lambat atau cepat, ia akan runtuh, tenggelam, lalu diganti oleh yang lain.

Ketika seorang Raja di Saudi, secara tiba-tiba menyatakan dukungannya terhadap kudeta militer di Mesir (3 Juli 2013); padahal dia belum mengkaji secara teliti proses politik itu; dia tidak mendengar bagaimana perasaan saudaranya sesama Muslim, di Mesir sana; dia hanya mengacu kepada kekuasaan politiknya yang merasa terancam oleh suatu gerakan politik tertentu; dia mengabaikan hak-hak keadilan; maka semua itu hanya akan menyebabkan kekuasaannya runtuh. Siapa yang mendukung kezhaliman atas kekuasaan politik, maka dia akan menerima hasil dijatuhkan, karena dukungannya atas kezhaliman itu.

Dulu Hafezh Assad sangat jumawa di Suriah; kini anaknya memanen bencana dan musibah terus-menerus. Dia dilaknati manusia sedunia karena kekejamannya kepada kaum Muslimin.

Teringat sejarah masa lalu. Bani Umayyah mengambil kekuasaan dari Khulafaur Rasyidin dengan cara-cara keliru; bahkan kemudian timbul kekejaman-kekejaman besar dalam sejarah Dinasti itu. Lalu di akhir hayatnya, dinasti itu dihancur-leburkan kekuatan Abbassiyah. Begitu juga Abbassiyah berkuasa dengan menumpahkan darah; maka mereka kemudian dihancur-leburkan oleh Tartar (Mongol) sekejam-kejamnya.

SALAFIYAH insya Allah akan senantiasa berkibar, selama konsisten dengan Syariat Allah. Tetapi sebuah dinasti tidak dijamin akan terus eksis, apalagi ketika ia sering membantu cara-cara kezhaliman.

Selamat merenungkan!

Mine.

Iklan

18 Responses to Salafiyah Kan Terus Berkibar, Sebuah Dinasti Tidak Dijamin

  1. aban_industri@yahoo.com berkata:

    Berarti apa yg dilakukan Rasulullah dan sahabat salah, karena Rasulullah berjuang juga banyak rintangannya. Berarti yg salah rasulullah dan sahabat atau dakwah salafiyah yg paling benar?
    Live from BlackBerry® on AHA – I like it!

  2. Abu Fawwaz berkata:

    Memang perlu kajian mendalam apabila berurusan tentang masalah politik, karena banyak kepentingan yang bermain di dalamnya. wallahu’alam

  3. abuhadi berkata:

    Menarik jika membahas politik dan kekuasaan, ane mau nanya nih kepada admin maupun ikhwan yg ada disini: Apa sih hukumnya perpartai politik? tentunya berdasarkan dalil Alquran dan Sunnah.dan bagaimana keberadaan partai islam di Indonesia? salam

  4. abisyakir berkata:

    @ Abuhadi…

    Dijawab singkat saja ya…

    Hukum berpartai, kalau menurut Hizbut Tahrir, bersifat wajib. Kalau menurut Al Qaradhawi bersifat “pilihan”, karena dalam Fiqih Daulah beliau bilang “partai itu seperti madzhab-madzhab dalam fikih”. Kalau menurut MUI dalam salah satu fatwanya, “ikut dalam Pemilu adalah wajib”. Ini didukung Ketua MPR ketika itu, Dr. Hidayat Nur Wahid. Kalau menurut Al Albani, berpartai “bisa menjerumuskan para pemuda Islam dalam kerusakan agama” tapi beliau juga “tidak menafikan perlunya memperjuangkan hak-hak Umat”. Maka itu pendapat beliau kepada FIS di Aljazair ditanggapi oleh pihak pro dan kontra; pihak pro mengambil sisi dukungan Al Albani, pihak anti mengambil sisi kritiknya.

    Kalau dalam sejarah Islam, urusan berpartai politik termasuk URUSAN BARU. Partai politik, parlemen, pemilu identik dengan sistem REPUBLIK. Sedangkan, dalam sejarah Islam, umumnya menerapkan sistem KERAJAAN, KHILAFAH, atau KESULTANAN yang tidak membutuhkan partai-partaian. Jadi dalam hal ini dibutuhkan pendapat-pendapat baru soal demokrasi dan sejenisnya; karena dalam konsep Ahkamus Sulthaniyah Al Mawardi atau Siyasah Syar’iyyah Ibnu Taimiyyah, tidak ada pembahasan untuk konsep demokrasi, republik, dan sejenisnya.

    Jadi dibutuhkan kajian-kajian baru soal ini. Sementara saya angkat tangan dulu saja. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Admin.

  5. abisyakir berkata:

    @ Aban…

    Gimana kamu, baik-baik saja? Gimana keluargamu, baik-baik saja? Semoga, amin.

    Maksud tulisan itu bukan soal kondisi di Mesir, tapi di Saudi. Kan banyak orang mengklaim bahwa “wahabi identik dengan kerjaan saudi”. Padahal tidak juga. “Wahabi” kan concern dengan Syariat dan Tauhid; bukan concern ke kerajaan. Jadi sikap seorang raja tak boleh disamakan dengan sikap dakwah. Gituw!

    Admin.

  6. abuhadi berkata:

    @abisyakir,
    syukron penjelasan singkatnya. ane memang lagi tertarik tentang kajian tentang kajian siyasah didunia islam terutama tentang kajian partai politik Islam di Indonesia. dalam satu pendapat memang seperti pendapat HTI wajibnya berpartai/berorganisasi atau dalam islam dikenal dengan Hizb, bahkan dalam alquran banyak terdapat kata Hizb. Yang menarik adalah bahwa tujuan berpartai adalah yad’u ilal khoiri wa ya’ murunna bil ma’ruf wa yan haunal anil munkar . pandangan ane kalo itulah tujuan utama berpartai/ berorganisasi maka hukumnya bisa dikatakan wajib, setahu ane yusuf qardhawi juga mendefinisikan bahwa partai Islam haruslah berideologi Islam ,tujuan untuk kepentingan islam dan sistem dan cara yang sesuai dengan Islam. ane lagi membuat kajian atau thesis tentang partai islam mungkin antum atau ikhwan disini bisa bantu ane .Dari sejarah islam sendiri emang persoalan pertama pasca wafatnya Rasulullah SAW adalah persoalan politik tentang siapa yang harus menjadi pemimpin, dan demikian pula dizaman sahabat, umayyah , abbasiyah, saljuk ,ayubiyah ataupun utsmaniyah bahkan sampai sekarang. Dalam salah satu diskusi tentang politik ” bahwa selain sebagai Nabi dan Rasul , Muhammad SAW, faktanya adalah pimpinan negara/pimpinan politik”. nah dalam pandangan seperti inilah Islam tidak bisa dipisahkan dengan politik. wallahu a’lam

  7. Zaaenal Abidin Si'Ardjuna Thea berkata:

    Abisyakir :: “Teringat sejarah masa lalu. Bani Umayyah mengambil kekuasaan dari Khulafaur Rasyidin dengan cara-cara keliru;”

    Komentaar :: bp, mohon maaf sebelumnya, mohon di’jelaskan secara ringkas terkait cara-cara keliru yang dilakukan oleh Bani Umayah dalam mengambil kekuasaan dari Khulafaur Rasyidin. kemudian, apakah Muawiyah termasuk pihak yang mengambil kekuasaan dari Khulafaur Rasyidin dengan cara-cara keliru.?

    Terimakasih sebelumnya.

  8. abisyakir berkata:

    @ Zaenal Abidin…

    Secara umum, kami memandang Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘Anhuma adalah SEORANG SHAHABAT NABI, seorang Penulis Wahyu, punya jasa baik di zaman ketika Nabi masih hidup (pasca Fathu Makkah). Kami tidak memakinya, tidak mengutuknya, tidak mencelanya; tetapi kami juga tidak memandang beliau bebas dari kesalahan, karena secara faktual (sejarah) memang beliau pernah melakukan kesalahan besar.

    Kesalahan Muawiyah Radhiyallahu ‘Anhu, setahu kami, sebagaimana sudah dimaklumi oleh para pemerhati sejarah Islam, ialah tatkala beliau: MENGANGKAT SENJATA MELAWAN KHALIFAH YANG SAH, yaitu Khalifah Ali bin Abi Thalib Rahdiyallahu ‘Anhu. Ini adalah kesalahan besar kepada seorang pemimpin Muslim yang adil, bertakwa, dan dipilih kaum Muslimin secara ijma’. Perang Shiffin menimbulkan banyak fitnah di kalangan Umat, termasuk di masa-masa selanjutnya. Maka itu Muawiyah dan pasukannya ketika itu dikenal sebagai “fiatun baghiyah” (sebuah kelompok pembangkang), sesuai sabda Nabi Saw.

    Kesalahan berikutnya, ialah ketika Muawiyah bin Abi Sufyan menuntut baiat dari Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma yang berkuasa di Madinah. Satu sisi, baiat ini menaikkan posisi beliau sebagai Khalifah Muslimin yang berkuasa di Damaskus, sehingga bersatulah kaum Muslimin, tidak terpecah dalam kepemimpinan. Di sisi lain, sikap “mengejar jabatan” bukanlan sikap yang diajarkan oleh Nabi Saw dan Para Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) Radhiyallahu ‘Anhum. Saat itu untuk pertama kalinya ada di antara kaum Muslimin bersungguh-sungguh berjuang meraih jabatan (Khalifah), bukan karena ditunjuk oleh Ummat.

    Kesalahan lainnya, ketika Muawiyah mewariskan jabatan Khalifah ke anaknya, Yazid bin Muawiyah. Inilah awal mula berkembangnya kembali struktur DINASTI dalam sejarah Arab. Padahal semula Islam telah memberikan sejarah KHALIFAH yang dipilih Umat, bukan melalui pewarisan kekuasaan.

    Hal-hal demikian, sedikit banyak akan ada dampaknya bagi eksistensi Dinasti Umayyah itu di akhir eranya. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Admin.

  9. lumia720 berkata:

    Saya mungkin kritisi 3 poin yg dianggap “kesalahan besar” Muawiyah:
    1. Muawiyah mengangkat senjata melawan Ali. Pertanyaannya, apakah Muawiyah menuntut kekuasaan? Jawabnya tidak. Siapakah yg mengerahkan pasukan kepada lawannya? Jawabnya Ali. Apakah setelah Shiffin Muawiyah menyerang Ali? Jawabnya tidak. Itulah sebabnya para ulama menyatakan perselisihan tersebut lahir dari ijtihad 2 org mujtahid. Muawiyah tidak pernah menyerbu ke Madinah. Yang beliau persoalkan adalah qisash bagi pembunuh Utsman yg justru masuk menjadi pasukan Ali. Proses baiat Ali juga dari sisi proses bermasalah krn justru didorong para penentang Utsman, meski kemudian diterima sbg realitas.
    2. Masalah meminta jabatan bukan perkara haram. Abu Dzar juga pernah meminta jabatan meski ditolak oleh Nabi SAW, krn Abu Dzar dianggap tdk mampu. Jadi bukan pada masalah meminta atau tidak.
    3. Sebelum menetapkan Yazid, Muawiyah meminta saran dari para sahabat ttg siapa org kuat yg dpt memikul kepemimpinan. Dgn demikian, penunjukan tsb jg merupakan hasil musyawarah para sahabat. Setidaknya, inilah kesimpulan pakar sejarah Islam dari Mesir, Dhiyauddin Rais. Kalau setelah wafatnya Muawiyah, terjadi pewarisan, maka hal tsb tdk dpt dibebankan kepada beliau. Lha wong beliau sudah wafat.
    JADI TIDAK BENAR Muawiyah “mengambil kekuasan dari khulafaurrasyidin dgn cara2 keliru”.

  10. abisyakir berkata:

    @ Lumia720…

    Saya mungkin kritisi 3 poin yg dianggap “kesalahan besar” Muawiyah: 1. Muawiyah mengangkat senjata melawan Ali. Pertanyaannya, apakah Muawiyah menuntut kekuasaan? Jawabnya tidak. Siapakah yg mengerahkan pasukan kepada lawannya? Jawabnya Ali. Apakah setelah Shiffin Muawiyah menyerang Ali? Jawabnya tidak. Itulah sebabnya para ulama menyatakan perselisihan tersebut lahir dari ijtihad 2 org mujtahid. Muawiyah tidak pernah menyerbu ke Madinah. Yang beliau persoalkan adalah qisash bagi pembunuh Utsman yg justru masuk menjadi pasukan Ali. Proses baiat Ali juga dari sisi proses bermasalah krn justru didorong para penentang Utsman, meski kemudian diterima sbg realitas.

    Respon: Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra sudah berulang-ulang menjelaskan ke Muawiyah Ra, bahwa pembunuh Khalifah Utsman Ra akan diusut, tapi beri kesempatan kepada Khalifah untuk mengatasi perkara ini. Khalifah Ali meminta Muawiyah beri kepercayaan kepada dirinya untuk mengatasi apa yang dituntut. Tetapi Muawiyah memilih angkat senjata. Sedianya mau menuntut darah seorang Muslim (Khalifah Utsman), tapi karena tidak mau mengikuti cara/perintah Khalifah, akhirnya terbunuh ribuan kaum Muslimin, dari kedua belah pihak. Ini adalah cara “menuntut darah Utsman” yang harganya sangat mahal. Andaikan Muawiyah menghormati kedudukan Khalifah sebagai IMAM KAUM MUSLIMIN, mungkin ceritanya akan berbeda. Ya tentu Muawiyah tidak menyerang Madinah, sebab pusat kekuasaan ketika itu oleh Khalifah Ali dipindah ke Kufah (Irak).

    Anda dan orang-orang seperti Anda, demi membela posisi Muawiyah Ra, sampai menyalahkan posisi Khalifah Ali. Bahkan Anda mengatakan: “Proses baiat Ali juga dari sisi proses bermasalah krn justru didorong para penentang Utsman, meski kemudian diterima sbg realitas.” Padahal kaum Muslimin Salaf dan Khalaf sudah ijma’, bahwa Khalifah Ali adalah bagian dari Khulafaur Rasyidin, dan ia Khulafaur Rasyidin ke-4. Hingga salah satu perkataan Imam Ahmad bin Hanbal, “Siapa yang tidak memasukkan Ali sebagai Khalifah Rasyidah, dia lebih sesat dari keledai miliknya.”

    2. Masalah meminta jabatan bukan perkara haram. Abu Dzar juga pernah meminta jabatan meski ditolak oleh Nabi SAW, krn Abu Dzar dianggap tdk mampu. Jadi bukan pada masalah meminta atau tidak.

    Respon: Masya Allah. Nabi Saw berkata, “Kami tidak memberi jabatan kepada siapa yang memintanya.” Kemudian Nabi juga tidak memberi jabatan kepada Abu Dzar Ra, juga Al Abbas Ra. Ini menunjukkan bahwa jabatan bukan “barang buruan” tapi ia merupakan amanat.

    Ya beginilah kenyataannya: DEMI MEMBERSIHKAN MUAWIYAH RA DARI KESALAHAN, BANYAK KAIDAH-KAIDAH SYARIAT DILANGGAR BEGITU SAJA. Ada di antara manusia yang ingin menjadikan Syariat mengabdi kepada manusia, bukan manusia mestinya tunduk kepada Syariat. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

    3. Sebelum menetapkan Yazid, Muawiyah meminta saran dari para sahabat ttg siapa org kuat yg dpt memikul kepemimpinan. Dgn demikian, penunjukan tsb jg merupakan hasil musyawarah para sahabat. Setidaknya, inilah kesimpulan pakar sejarah Islam dari Mesir, Dhiyauddin Rais. Kalau setelah wafatnya Muawiyah, terjadi pewarisan, maka hal tsb tdk dpt dibebankan kepada beliau. Lha wong beliau sudah wafat. JADI TIDAK BENAR Muawiyah “mengambil kekuasan dari khulafaurrasyidin dgn cara2 keliru”.

    Respon: Siapa saja Shahabat yang mendukung terpilihnya Yazid itu? Bukankah Yazid di mata para Shahabat di Makkah dan Madinah dianggap tidak memiliki keutamaan agama? Bukankah ketika itu masih ada Hushain bin Ali, Muhammad Al Hanafiyah, Abdullah bin Zubair Radhiyallahu ‘Anhum yang lebih utama dari Yazid.

    Yang jelas, Nabi Saw dan para Shahabat Ra tidak pernah mewariskan kekuasaan kepada anak-anaknya. Maka ketika zaman Muawiyah II (putra Yazid), dia tak mau memikul kekuasaan, karena merasa keluarga mereka tidak berhak atas kekuasaan kaum Muslimin itu. Kekuasaan adalah milik Umat, bukan milik dinasti.

    Intinya, ada di antara manusia, yang bekerja keras membersihkan Muawiyah Ra dari kesalahan, meskipun harus nabrak-nabrak Syariat Islam. Bagi mereka, membuat Muawiyah ridha, lebih penting daripada mencari ridha Allah Ta’ala. Padahal mestinya, konsistensi kita adalah Syariat Islam itu sendiri.

    Admin.

  11. lumia720 berkata:

    Ada baiknya, jika dijawab tidak dibarengi dgn tuduhan spt “demi membela Muawiyah..dst”. Cukup ditanggapi sj poinnya. Karena posisi sy tdk spt yg anda tuduhkan. Lanjut:
    1. Anda tidak menjawab argumen apakah Muawiyah menuntut khilafah atau tidak. Tentunya anda paham bhw pandangan para ulama ttg posisi Muawiyah dlm fitnah ini. Memang kekhilafan Ali telah menjadi ijma, tapi ijma tsb terjadi stlh zaman itu. Tapi disaat itu, apakah hal tsb bisa disebut ijma? Apakah para sahabat yg menyertai Muawiyah anda pandang berani melawan ijma?
    Jadi ini bukan menafikan keabsahan Ali sbg khalifah. Namun yg sy kritisi adalah ucapan anda bhw Muawiyah mengambil kekuasan dgn cara2 keliru bahkan melakukan kesalahan besar. Intinya, ucapan yg meragukan Ali ditolak, namun ucapan yg menyudutkan Muawiyah juga ditolak. Lha wong masalah ijtihadi, kok! Oleh karena itu, sy lbh senang jika pernyataannya adalah bahwa ijtihad keduanya benar namun ijtihad Ali lebih benar.
    2. Dengan merujuk kisah Yusuf (QS Yusuf:55), kita dpt mengetahui meminta jabatan itu tdk haram sepanjang mampu dan niatnya utk kebaikan. Ibnu Hajar sendiri hanya menghukuminya makruh, meski yg menarik, beliau juga menyebut hadits Abu Daud: “Barangsiapa meminta memperoleh jabatan karena meminta lalu dia berbuat adil, maka baginya surga..dst”.
    Kl pendapat anda diterapkan sekarang, maka mungkin tdk akan ada jabatan utk org Islam yg baik2. Org Islam tdk perlu berjuang menjadi presiden, atau wapres. Org jujur tdk perlu ikut fit & proper tes KPK di DPR. Selamat deh!
    3. Soal Yazid, kita cukupkan sj dgn ucapan Ibnu Taimiyah bhw kita tdk mengkhususkan mencintai Yazid tapi juga tidak melaknatnya. Terlalu banyak, kata beliau, berita bohong tentang Yazid. Para sahabat sendiri, dgn informasi masing2, berbeda menyikapi Yazid.
    Yazid cacat dlm kasus terbunuhnya Husain krn tdk terang2an mengingkari pembunuhnya, meski dia melaknat Ziyad. Namun disisi lain, tentara Yazid lah yg pertama menyerang Konstantinopel dimana Abu Ayyub Al-Anshari ikut menjadi pasukannya.
    Menurut At-Thabari dan Ibnul Atsir, spt dikutip Dhiyauddin Rais, ide penunjukan Yazid bermulai dari Mughirah bin Syu’bah. Dan setelah itu, Muawiyah mengundang utusan dari semua negeri (ahlul halli wal aqdi) dan mayoritas mendukung penunjukan Yazid.
    Kalo penjelasan begini, adakah syariat Islam yg ditabrak? Pesan saya, kl menjawab tdk perlu pakai tuduhan.

  12. abisyakir berkata:

    @ Lumia720…

    1. Anda tidak menjawab argumen apakah Muawiyah menuntut khilafah atau tidak. Tentunya anda paham bhw pandangan para ulama ttg posisi Muawiyah dlm fitnah ini. Memang kekhilafan Ali telah menjadi ijma, tapi ijma tsb terjadi stlh zaman itu. Tapi disaat itu, apakah hal tsb bisa disebut ijma? Apakah para sahabat yg menyertai Muawiyah anda pandang berani melawan ijma?

    Respon: Muawiyah Ra memang menuntut qishash bagi pembunuh Khalifah Utsman Ra. Tetapi bukankah dia satu-satunya gubernur yang belum membaiat Ali Ra? Jika kaum Muslimin sudah menerima, kecuali golongan Khawarij dan Muawiyah & pendukungnya, tidak cukupkah ini dianggap sebagai ijma’? Jika Muawiyah berketetepan menyelesaikan darah Ustman, mengapa tidak membaiat dulu, taat kepada Khalifah kaum Muslimin, baru setelah itu berharap akan ada solusi? Andaikan ketidaksediaan Muawiyah untuk berbaiat tidak disebut sebagai “menuntut Khilafah”, lalu kita sebut apa hal itu? Toh, ketidak baiatan itu tak akan mempercepat penyelesaian qishash atas darah Ustman Ra?

    Jadi ini bukan menafikan keabsahan Ali sbg khalifah. Namun yg sy kritisi adalah ucapan anda bhw Muawiyah mengambil kekuasan dgn cara2 keliru bahkan melakukan kesalahan besar. Intinya, ucapan yg meragukan Ali ditolak, namun ucapan yg menyudutkan Muawiyah juga ditolak. Lha wong masalah ijtihadi, kok! Oleh karena itu, sy lbh senang jika pernyataannya adalah bahwa ijtihad keduanya benar namun ijtihad Ali lebih benar.

    Respon: Apa yang saya katakan adalah benar, karena Muawiyah telah berkali-kali dinasehati Khalifah Ali lewat surat, agar rujuk kepada kepemimpinan Islam, sehingga kemudian memudahkan mencari solusi soal qishash darah Utsman Ra. Tetapi malah Muawiyah bersiap menghadapi pasukan Khalifah Ali. Ketika dia terdesak, lalu meminta TAHKIM dimana hal itu membuat barisan pasukan Khalifah terepecah-belah antara yang setuju dengan Tahkim dan yang tidak. Sebuah kelompok yang diperangi oleh Khalifah adalah kelompok bermasalah, tidak diragukan lagi. Karena itu dalam hadits-hadits tentang Amar bin Yassir Ra, Nabi Saw menyebut kelompok yang membunuh Ammar Ra sebagai “fiatun baghiyah” (kelompok pembangkang). Dan mereka memang benar-benar membangkang dari kepemimpinan Khalifah Islam yang sah.

    Oleh karena itu, sy lbh senang jika pernyataannya adalah bahwa ijtihad keduanya benar namun ijtihad Ali lebih benar.

    Respon: Tidak bisa. Ini adalah ucapan yang bathil. Keputusan Khalifah Ali Ra bukan ijtihad, tapi ketetapan Syariat sebagai seorang Imam/Khalifah kaum Muslimin yang sah. Tidak boleh ada pendapat lain yang bertentangan dengan keputusan Khalifah, jika beliau sudah menetapkan suatu urusan. Bagi orang-orang Mukmin berlaku prinsip: Sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat).

    Andaikan dua pendapat (Khalifah Ali Ra dan Muawiyah Ra) dianggap sebagai IJTIHAD, maka ijtihad keduanya TIDAK SETARA, karena ijtihad Khalifah Ali Ra lebih tinggi dari ijtihad Muawiyah Ra. Alasannya, kedudukan keduanya tidak sama. Pendapat seorang mujtahid harus disandingkan dengan mujtahid juga, bukan disandingkan pendapat seorang penuntut ilmu.

    Ali Ra lebih tinggi dari Muawiyah Ra, karena:

    a. Beliau seorang Imam/Khalifah. Sementara Muawiyah Ra hanya seorang gubernur.
    b. Ali Ra termasuk mula pertama masuk Islam, setelah Khadijah Ra dan Abu Bakar Ra.
    c. Ali Ra adalah peserta Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan sebagian besar perang di zaman Nabi Saw.
    d. Ali Ra adalah panglima pembuka benteng Khaibar yang dijanjikan mendapat ridha Allah dan Allah meridhainya.
    e. Ali Ra adalah salah satu dari 10 Shahabat Ra yang dijanjikan mendapat surga.

    Dengan alasan-alasan demikian, tidak bisa menyamakan pendapat/ijtihad Ali Ra dengan pendapat/ijtihad Muawiyah Ra. Pendapat keduanya memiliki perbedaan yang jauh, sehingga benarlah pendapat Ali bin Abi Thalib Ra dan salahlah pendapat yang menyelesihinya.

    2. Dengan merujuk kisah Yusuf (QS Yusuf:55), kita dpt mengetahui meminta jabatan itu tdk haram sepanjang mampu dan niatnya utk kebaikan. Ibnu Hajar sendiri hanya menghukuminya makruh, meski yg menarik, beliau juga menyebut hadits Abu Daud: “Barangsiapa meminta memperoleh jabatan karena meminta lalu dia berbuat adil, maka baginya surga..dst”. Kl pendapat anda diterapkan sekarang, maka mungkin tdk akan ada jabatan utk org Islam yg baik2. Org Islam tdk perlu berjuang menjadi presiden, atau wapres. Org jujur tdk perlu ikut fit & proper tes KPK di DPR. Selamat deh!

    Respon: Aku juga mengerti konteks kekinian, maka itu aku mendukung Presiden Mursi dan mengecam kudeta yang merampas kekuasaannya. Tapi masalahnya, konteks pembicaraan itu kan masa lalu. Kalau memang kaum Muslimin sedang krisis kepemimpinan, tidak ada yang layak memimpin satu pun, tidak mengapa orang yang cakap meminta jabatan, demi menyelamatkan kaum Muslimin. Meskipun resiko hal itu juga berat. Tetapi di zaman itu kan masih banyak Shahabat-shahabat Nabi Saw yang mumpuni untuk memimpin Umat dengan ilmu dan ketakwaan, seperti Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Zubair, Husain bin Ali, Muhammad Al Hanafiyah, dan lain-lain Radhiyallahu ‘Anhum.

    3. Soal Yazid, kita cukupkan sj dgn ucapan Ibnu Taimiyah bhw kita tdk mengkhususkan mencintai Yazid tapi juga tidak melaknatnya. Terlalu banyak, kata beliau, berita bohong tentang Yazid. Para sahabat sendiri, dgn informasi masing2, berbeda menyikapi Yazid. Yazid cacat dlm kasus terbunuhnya Husain krn tdk terang2an mengingkari pembunuhnya, meski dia melaknat Ziyad. Namun disisi lain, tentara Yazid lah yg pertama menyerang Konstantinopel dimana Abu Ayyub Al-Anshari ikut menjadi pasukannya. Menurut At-Thabari dan Ibnul Atsir, spt dikutip Dhiyauddin Rais, ide penunjukan Yazid bermulai dari Mughirah bin Syu’bah. Dan setelah itu, Muawiyah mengundang utusan dari semua negeri (ahlul halli wal aqdi) dan mayoritas mendukung penunjukan Yazid. Kalo penjelasan begini, adakah syariat Islam yg ditabrak? Pesan saya, kl menjawab tdk perlu pakai tuduhan.

    Respon: Salah satu dampak dari terpilihnya Yazid ialah terjadinya pembantaian Karbala atas Husain Ra dan keluarganya. Hal itu selalu menjadi “luka” yang menimpa Ahlus Sunnah dan selalu dimanfaatkan oleh orang-orang Rafidhah untuk menyesatkan manusia (dari jalan Sunnah). Yang jelas, masih banyak sosok-sosok Shahabat Nabi (atau Shaghiru Shahabah) yang lebih utama dari Yazid. Dan dampak lain ialah…bangkitnya sistem Dinasti dalam sistem kekuasaan Islam yang sebelumnya sudah dicontohkan Nabi Saw dengan model “Khilafah ‘ala Minhaji Nubuwwah”.

    Saya tidak akan menuduh/marah, kecuali ketika Anda membela Muawiyah Ra dan meragukan legalitas Khalifah Ali Ra. Siapapun yang menentang Khalifah yang sah, di masa lalu, atau masa kini, kelak pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala tentang sikapnya itu. Sudah baik-baik ada Khalifah Islam, bukan disyukuri, malah dicari-carikan celah untuk dilemahkan…. (demi membela rezim militer yang bejat, menindas, sewenang-wenang di Mesir).

    Admin.

  13. Jundullah berkata:

    Ustad Abi Syakir dan ustad Lumia smoga antum berdua dirahmati ALLAH..pendapat antum berdua hanya ALLAH yg tahu ana mendukung pendapat antum berdua sebagai ilmu yg bermanfaat..syukron

  14. abisyakir berkata:

    @ Jundullah…

    Saya ini ya, kalau dalam konflik Khalifah Ali Ra dan Muawiyah Ra; posisi saya seperti SALAFI SEJATI yang benar-benar sami’na wa atho’na dengan Ulil Amri (Amriul Mukminin). Dalam hal itu saya benar-benar MENCINTAI pendapat Salafi yang sangat taat, patuh, loyal, sami’na wa atho’na dengan pendapat Ulil Amri (Khalifah Ali). Kalau saat itu saya hadir disana, saya akan ikut berperang di bawah bendera Khalifah Ali Ra. Bukan karena apa, tetapi taat kepada Ulil Amri yang sah, saleh, dan adil.

    Admin.

  15. abuhadi berkata:

    ada buku yang bagus tentang muawiyah dan juga membahas konflik yang terjadi antar Ali r.a dan muawiyah r.a. ditulis oleh Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi edisi Indonesianya berjudul”Muawiyah bin Abu Sufyan r.a”prestasi gemilang selama 20 tahun sebagai gubernur dan 20 tahun sebagai khalifah’ disertai studi krisis terhadap fitnah2 yg terjadi dizamannya”.penerbit darul haq . jumlah halamannya 1036 hal termasuk referensinya. Buku yg menarik untuk dibaca. Didalammya juga membahas apa yg menjadi perdebatan abi syakir dan lumia dan menurut ane bisa jadi referensi yang sangat baik
    salam

  16. abisyakir berkata:

    @ Abuhadi…

    Syukran jazakallah khair atas informasi bukunya. Insya Allah bermanfaat.

    Admin.

  17. Zaenal Abidin Si'ardjuna Thea berkata:

    Terimakasih banyak pa penjelasannya..

    Oh iyah, Ketika pertama kali melihat ungkapan bp bahwa “Bani Umayyah mengambil kekuasaan dari Khulafaur Rasyidin dengan cara-cara keliru, waktu itu saya menduga seakan bp menganggap bahwa hakikat sebenarnya atas peperangan (khususnya pada peristiwa perang Shiffin) yang dilancarkan oleh Muawiyah Ra terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra tidak lain bertujuan demi meraih Kekuasaan atau merebut kekuasaan dari Khalifah Ali bin Abi Thalib sehingga dengannya Muawiyah dapat menjadi Khalifah. Sedangkan sepengetahuan saya terkait penyebab terjadinya perang Shiffin tersebut tidak lain adalah murni dikarenakn:

    1.Faktor Ijtihad, dimana waktu itu Muawiyah Ra berpendapat bahwa Qishas harus segera dilakukan, tidak boleh di tunda (Qishas dulu, setelah itu baru melaksanakan Bai’at). Sedangkan Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra berpendapat bahwa keadaan dan Kondisi Pemerintahan Islam saat itu benar-benar sedang dalam kondisi Rumit. Dengan latar belakang kondisi Pemerintahan Islam yang seperti ini, Khalifah Ali Ra melihat untuk memperbaiki kondisi Daulah Islam terlebih dahulu agar situasi menjadi tenang dan normal. Baru setelah itu qishash atas darah Utsman Ra berusaha ditegakkan apabila memang sang wali Utsman Ra (yaitu Muawiyah Ra) menghendaki atau mungkin memaafkan dan diganti dengan diyat –(ringkasnya, khalifah Ali Ra, beliau mengajak kedalam ke taatan dan jamaah).

    Ijtihad yang benar kala itu dipegang oleh Khalifah Ali Ra. Sedangkan Ijtihad yang keliru kala itu dipegang oleh Muawiyah Ra.

    2.Adanya sebagian pihak (pengikut Hawa Nafsu) yang bercokol baik pada kubu Pasukan Khalifah Ali Ra maupun pada kubu Pasukan Muawiyah Ra, dimana mereka (para pengikut hawa nafsu) tersebut selalu berusaha untuk melakukan peperangan guna kepentingan/hawa nafsu meraka.

    Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni saudara-saudara kita yan telah beriman lebih dahulu dari kita dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menjadikan hati kita tersisipi oleh kedengkian terhadap orang-orang yang beriman . Amin ya Allah yang maha Penyantun lagi maha penyayang..

  18. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    [1]. Soal IJTIHAD Muawiyah Ra… Dalam Islam itu, kalau Umat sudah berbaiat ke seorang pemimpin; ia harus dipatuhi, selagi tidak mengajak berbuat maksiyat. Ijtihad pemimpin Islam HARUS DIDAHULUKAN dari ijtihad siapapun lainnya, sekalipun itu ulama besar. Lagi pula, saat konflik itu terjadi, para Shahabat Nabi Ra masih banyak. Kalau Muawiyah Ra dianggap ijtihad, maka Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir, Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah, dan banyak Shahabat lainnya Radhiyallahu ‘Anhum…ijtihad mereka lebih layak diikuti daripada Muawiyah Ra yang lebih belakangan masuk Islam. Toh, para Shahabat Nabi Ra itu tidak berijtihad yang menentang keputusan Khalifah Ali Ra.

    [2]. Coba bandingkan Peran Shiffin dengan Perang Jamal yang melibatkan Aisyah, Thalhah, Zubair Radhiyallahu ‘Anhum. Begitu ketiga Shahabat Ra itu paham kesalahan mereka, mereka langsung surut dan rujuk kepada kebenaran. Mereka tidak melanjutkan konflik lagi. Ini kan contoh sikap baik kepada pemimpin. Meskipun semula menentang, tapi akhirnya rujuk kepada kebenaran.

    [3]. Alasan “hawa nafsu”…ya yang namanya manusia pasti punya hawa nafsu. Termasuk Khalifah Ali, Ustman, Umar, dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhum. Mereka juga punya hawa nafsu, wong namanya manusia, bukan malaikat. Alasan apapun juga (di luar kepentingan Syariat Islam) tidak boleh dijadikan pembenar untuk MENENTANG/MEMERANGI Khalifah yang sah. Itu sangat berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala. Mau menegakkan Syariat kok dengan cara menentang Syariat. Itu tidak benar.

    Syukran jazakumullah khair.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: