Puasa dan Manajemen Oksigen

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Salah satu “penyakit” yang sering melanda orang-orang puasa ialah mengantuk alias ngantuk. Ini sudah jamak. Orang puasa seperti identik dengan orang ngantuk, terutama setelah Shubuh.

Secara umum, mengantuk biasanya karena kita sudah kelelahan, sudah kecapekan, atau karena seharian tidak tidur istirahat. Tetapi adalah aneh saat bangun pagi Shubuh, setelah cuci muka (atau mandi bagi yang mau), lalu makan-minum, kita jadi ngantuk. Padahal sebelumnya sudah berjam-jam kita tidur.

Mengantuknya orang puasa setelah sahur saat Shubuh bukanlah karena letih, lelah, atau benar-benar mengantuk; sebab yang bersangkutan baru bangun pagi, setelah sebelumnya tidur malam. Rasa kantuk ini sebenarnya karena kadar oksigen (O2) di kepala menipis tajam.

Penyebab Kantuk: Kadar Oksigen di Kepala Menipis.

Penyebab Kantuk: Kadar Oksigen di Kepala Menipis.

Saat baru bangun, apalagi setelah cuci-muka, biasanya kita merasa segar, tidak mengantuk. Tetapi setelah melakukan sahur, di perut kita menumpuk makanan dan minuman. Kadang sampai kekenyangan. Nah, oksigen dalam darah yang mestinya mengalir secara merata ke seluruh tubuh, sejak dari ujung rambut sampai ujung kaki, bertumpuk/terkumpul di sekitar perut, untuk memasak makanan-minuman yang baru masuk ke perut. Akibatnya, pasokan oksigen di kepala sangat berkurang, sehingga kita merasa kantuk.

Rasa kantuk akan terjadi saat mana oksigen di saluran-saluran darah yang melewati kepala menipis. Efeknya, mata kita terasa berat, konsentrasi kita mulai goyah. Saat itu tubuh ingin ditidurkan, untuk mengatasi kantuk yang tiba-tiba menyerang. Ketika seseorang tidur, dia akan bernafas secara kontinue dan teratur, untuk memasukkan oksigen ke dalam aliran darahnya. Karena tidur, otomatis kerja tubuh sangat sedikit, paling hanya berguling ke kanan dan kiri saja. Tidur ini menjadi sarana untuk menyerap oksigen sebanyak-banyaknya.

Di sini ada catatan unik…

[1]. Tidur saat pagi ini sebenarnya bukan tidur karena kekelahan atau kecapekan, tetapi tidur untuk memperkaya kandungan oksigen dalam darah, khususnya yang lewat ke kepala.

[2]. Seseorang akan merasa sangat kantuk saat keseimbangan pasokan oksigen ke kepala, ke perut, dan ke bagian tubuh lain tidak seimbang. Jika posisinya sudah seimbang, nanti rasa kantuknya akan hilang. Saat itu seseorang akan bangun dari tidurnya.

[3]. Jika tidur pagi, setelah sahur itu, terlalu lama, kepala kita justru pusing. Mengapa? Ya karena pasokan oksigen yang masuk ke kepala berlebihan, atau melebihi kebutuhan wajarnya. Maka itu kepala kita sering pusing setelah berjam-jam tidur pagi.

[4]. Karena tidur pagi itu bukan kebutuhan mendesak (misalnya karena kelelahan atau kecapekan), sebaiknya untuk melawan rasa kantuk dilakukan dengan olah-raga. Misalnya senam pagi, bermain bulu tangkis, bermain tenis meja, beladiri, dll. Boleh juga dengan “berpikir serius” atau mengerjakan sesuatu yang penting. Nah, hal-hal itu bisa mengalihkan perhatian dari “tidur pagi”.

[5]. Kondisinya sama saat siang hari, saat Shalat Jum’at. Saat itu kita juga sering merasa kantuk berat. Ini bukan karena lelah atau capek, tetapi karena dalam ruangan terlalu banyak orang (jamaah Jum’at) lalu kadar oksigen dalam ruangan berkurang akibat dihirup orang banyak, sementara mereka juga terus mengeluarkan karbondioksida (CO2). Itu membuat para jamaah jadi “pengen tidur”, karena lagi-lagi pasokan oksigen di kepala berkurang.

Maka itu disarankan, kalau khutbah Jum’at, pihak khatibnya harus semangat, suara keras, materinya menarik. Khatib jangan malah membuat kondisi jamaah “semakin kondusif” dengan khutbah yang bertele-tele, tidak jelas, dan alunan suara seperti “musik keroncong”. Keseriusan menghadapi sesuatu, bisa membuat seseorang bertahan tetap segar, dalam kondisi kadar oksigen rendah di kepala.

SARAN. Karena rasa kantuk setelah makan sahur itu tidak alamiah, bukan karena letih atau capek, sebaiknya ia dilawan dengan aktivitas fisik yang menarik. Apakah mengerjakan tugas rumah, olah-raga, melakukan kerja fisik, dan seterusnya. Itu lebih baik daripada tidur. Olah raga juga bisa menghasilkan oksigen tinggi, tanpa harus tidur.

Kadang membaca Al Qur’an atau membaca buku, dengan posisi kepala yang tertunduk, kadang itu lebih mempercepat rasa kantuk. Maka tidak masalah, kita melakukan aktivitas-aktivitas fisik. Nanti kalau sudah segar dan kantuk berkurang, silakan membaca Al Qur’an dan lainnya.

Inilah sekilas tentang manajemen oksigen, saat berpuasa. Kelihatannya simple, tapi kita sering tak berdaya untuk menghadapinya. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan kita hidayah, taufik, rahmat, dan maghfirahnya. Amin Allahumma amin.

Mine.

Iklan

3 Responses to Puasa dan Manajemen Oksigen

  1. Ratna berkata:

    dok..saya ratna umur 16 tahun..dok selama beberapa hari ini saya merasa tidak enak badan, kepala saya sering merasa pusing(beputar) apabila kepala saya digerakkan tiba2, selain itu ketika mau berdiri setelah tiduran itu saya tidak punyai keseimbangan dan jatuh..saya awalnya berpikir kalo itu cuma gejala pada saat menstruasi dan pasca mens, akan tetapi kok sampai sekarang hal itu sering sekali terjadi..yang saya tanyakan, apa keadaan itu normal?kalo tidak, saya sakit apa?

  2. abisyakir berkata:

    @ Ratna…

    Halah…kita bukan dokter ya. Kayaknya komen ini co-pas dari board lain…

    Intinya, keluhan ibu Ratna itu banyak. Ini yang kerap orang sebut “gejala kurang darah”. Ya semoga tidak lebih parah dari itu. Amin Allahumma amin. Selanjutnya tinggal pelajari cara-cara atasi “kurang darah” ini.

    Admin.

  3. Feri berkata:

    Banyak sekali ya manfaat puasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: