Mengenal Aliran “Mulukiyah”…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Anda pernah dengar ada aliran “Mulukiyah”? Rasanya sangat asing ya. Asalnya dari kata Muluk, artinya raja-raja. Aliran ini masih bagian dari kaum Muslimin, mereka hidup dan berkembang di tengah Umat Islam. Ciri utama sekte ini ialah: mereka membangun keyakinan, sikap, dakwah untuk menjaga kepentingan para raja-raja.

Biasanya seorang Muslim mendedikasikan hidup dan agamanya untuk Allah Ta’ala, sebagai konsekuensi akidah dan ibadah kepada-Nya. Inilah yang sering disebut Mukhlishina lahu ad din (mengikhlaskan agama semata kepada-Nya). Dalam salah satu versi doa iftitah sering dibaca: Innas shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamiin (sesungguhnya shalatku, manasikku, hidupku, matiku, ialah untuk Allah Rabbul ‘alamiin).

Tapi aneh, ada yang mengabdikan hidupnya, ibadahnya, pemikiran, dan amal-amalnya untuk selain Allah, yaitu kepentingan para raja-raja. Ya kita tidak menuduh mereka musyrikin, tapi kita menasehatkan agar mereka berubah, meluruskan akidah, dan memperbaiki diri.

Dalam membangun sikap keagamaannya, sekte Mulukiyah dikenal tidak memiliki prinsip atau manhaj yang jelas. Bagi mereka, apa saja bisa halal, kalau menguntungkan posisi para raja-raja. Dan apa saja bisa haram, kalau merugikan kepentingan raja-raja. Sikap keberagamaan mereka jauh dari istiqamah, tetapi plin plan, menjilat ludah, dan standar ganda.

Musuh terbesar sekte ini adalah gerakan Islam, sebab kaum harakah itu dianggap sebagai pengganggu utama kekuasaan raja-raja monarkhi. Cita-cita gerakan Islam membentuk Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah dianggap sebagai ancaman atas kekuasaan raja-raja monarkhi; maka itu karakter utama aliran ini ialah: memusuhi gerakan Islam lahir batin, sejak awal sampai akhir. Mereka bisa kerjasama dengan Nasrani (Amerika) dan Yahudi (Israel), tapi tidak dengan gerakan Islam.

Ciri-ciri pemahaman kelompok Mulukiyah ini antara lain sebagai berikut…

[1]. Semua orang boleh membentuk organisasi, lembaga, yayasan, perkumpulan, dan seterusnya. Itu semua tidak dituduh hizbiyah dan ahli bid’ah, kecuali untuk gerakan Islam. Gerakan Islam biasa mereka tuduh hizbiyah dan ahli bid’ah.

[2]. Semua pemimpin di negeri Muslim (seperti Indonesia) bisa diangkat sebagai Ulil Amri, sekalipun berasal dari Demokrat, PDIP, Golkar, dan lainnya. Tetapi kalau pemimpin itu berasal dari gerakan Islam, seperti di Mesir dan Palestina, mereka “menunda gelar” Ulil Amri itu.

[3]. Semua jenis pemberontakan dan kudeta, adalah bathil; kecuali kalau kudeta dan pemberontakan kepada pemimpin yang berasal dari gerakan Islam.

[4]. Semua jenis demonstasi adalah salah, munkar, tidak sesuai Salafus Shalih; kecuali demo yang ditujukan untuk menggoyang pemimpin gerakan Islam; itu sah, benar, diperlukan oleh agama.

[5]. Pemimpin diktator beraliran Syiah harus dilawan dengan Jihad; kalau perlu melakukan penggalangan dana membantu Jihad, sambil menangis-nangis. Tetapi kalau pemimpin diktator yang merampas kekuasaan gerakan Islam dan membunuhi para pendukungnya; nah, ini harus didukung, harus direstui, harus didoakan. Contoh, rakyat Mesir diminta “pulang ke rumah” dan merelakan segala kejahatan pemimpin diktator itu.

[6]. Kezhaliman Basyar Assad di Suriah adalah terkutuk, terlaknat, harus dibasmi dari muka bumi. Tapi kezhaliman rezim militer di Mesir, yang tak kalah biadabnya dengan Basyar Assad; itu harus diterima, harus dimaafkan, dinasehati baik-baik, jangan dilawan. Kenapa? Karena yang ditumpas oleh rezim militer itu adalah gerakan Islam yang membahayakan para raja-raja.

[7]. Demokrasi adalah batil, kufur, sesat, musyrik; tetapi hasil kepemimpinan dari demokrasi adalah sah, legal, harus didukung, harus sami’na wa atho’na. Meskipun sarananya dianggap bathil, hasilnya bisa diterima. Shalat Lima Waktu dengan tata-cara Kristiani adalah batil, tidak sah, tertolak. Tapi kalau sudah melakukan “shalat begituan”; pelakunya didoakan, dianggap orang saleh, didekatkan, dimintakan rahmat dan hidayah baginya.

[8]. Semua jenis pemberontakan adakah teroris khawarij; tapi kalau pemberontakan dan makar kepada pemimpin dari gerakan Islam boleh, sah, diberkahi, didoakan ulama “Salafus Saleh”. Kenapa ya? Karena lagi-lagi gerakan Islam dianggap membahayakan posisi raja-raja.

[9]. Perjuangan melawan Yahudi Israel adalah sah, benar, dan bagian dari Jihad Fi Sabilillah. Tetapi kalau pelakunya gerakan Islam semisal Hamas, nanti dulu; harus dilihat dulu orang Hamas itu siapa? Mereka itu biasa pakai jeans, biasa membuka baju, kadang merokok, kadang tidak shalat; wanitanya jilbabnya tidak Syar’i, anak-anak kecilnya masih memakai celana isbal (menutup mata kaki), dan seterusnya.

[10]. Syiah Rafidhah adalah bathil, akidah rusak, menghujat para Shahabat Nabi, dan seterusnya. Tapi kalau Syiah mendukung kudeta militer di Mesir, itu manis sekali…so so sweet. Kalau presiden Syiah (Ahmadinejad) tidak boleh dikudeta, malah harus disambut dengan ramah-tamah dan uluran tangan persahabatan.

Nah, begitulah sekilas ciri-ciri pemahaman kelompok Mulukiyah ini. Lha beragama kok jadi kayak main-main (istihza’). Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Maka bersyukurlah bagi mereka yang TIDAK BERHUTANG BUDI kepada para raja-raja. Karena mereka bisa selamat agama dan Syariatnya, karena bisa mengikhlaskan hati dan jiwa untuk menghamba kepada Allahu Rabbul ‘alamiin.

Rabb kita itu Allah Al A’la, bukan raja-raja di mana saja. Kita tak butuh bantuan dan derma mereka; jika untuk itu agama kita dipenjara; iman kita disandera; akal kita dikendalikan seperti budak-budak tak merdeka.

Allahumma inna nas’alukal huda wat tuqa wa ‘afaf wal ghina (ya Allah, kami meminta kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, rasa kehormatan, dan rasa kecukupan). Amin Allahumma amin.

(Abine Syakir).

Iklan

23 Responses to Mengenal Aliran “Mulukiyah”…

  1. pindahanmultiply berkata:

    apakah selain Ikhwan, Hizbut Tahrir juga termasuk salah satu dari musuh-musuh sekte Mulkiyah ini pak ustadz?

  2. lumia720 berkata:

    Masalah anda ada 2: 1) salah menyimpulkan pandangan org; dan, 2) otoriter dlm berpendapat sangat mirip militer mesir.
    Saat ini, para analis msh berdebat soal dukungan Saudi thd penguasa Mesir (ingat: Mesir, bukan militer Mesir. keduanya beda scr politik). Dan yg menarik dr perdebatan tsb baik di al-jazeera, guardian, dsb, mrk jg dpt melihat sisi strategis dr dukungan tsb, dan tdk melulu menganggap Saudi penjahat.
    Saya kutip sebuah komentar di Aljazeera, Hassan Shahin:“Saudi Arabia now has become the number 1 enemy of the world. We need to boycott Saudi Arabia in order to save the world, entirety.”
    Dibalas oleh Alfredo: “Sounds like an Israeli advise.”.
    Jadi, nampaknya org diluar sana melihat lbh luas dr anda.
    Para analis sepakat bhw lawan terberat Israel adl Mesir, disisi lain Mesir adl aliansi Saudi plg pnting dlm menahan Iran. Krn itu Israel dan Barat menunggu hancurnya militer Mesir. Jadi kl anda membaca bhw Amerika menahan bantuan militer kpd Mesir, itu adl bagian dr skenario tsb. Begitu jg dgn Iran yg siap masuk ke Mesir. Amerika dan Israel saat ini, termasuk Iran, dgn penuh harap menunggu terjadinya perang saudara. Demo yg terus menerus apalagi tdk terkendali, ditambah aparat yg keras, pasti akan memunculkan radikalisme bersenjata spt kasus di zaman Anwar Sadat. Ketika Sadat menendang Rusia, maka masuklah Amerika. Tapi, nampaknya anda tidak peduli hal tsb. Pikiran anda hanya satu: Mursi hrs jadi presiden lagi! Titik.
    Dgn demikian, tindakan Saudi menjadi rasional. Ini tdk ada hubungannya dgn pembantaian, itu hal lain. Bgt jg tdk ada hubungannya dgn IM. Soal itu adl urusan dlm negeri Mesir bukan Saudi. Meski demikian, Saudi menyarankan agar IM tdk dibubarkan. Ingat, yg selalu disuarakan Saudi adl stabilitas Mesir. Bgt pula dgn Qatar yg bersama dgn Saudi mendukung stabilitas Mesir. Kl tdk jeli, anda pasti bingung, krn Qatar mendirikan Aljazeera dan mendukung IM. Semua tahu, Aljazeera adl corong IM.
    Akibat Saudi yg pasang badan tsb, tentu saja Amerika dan Eropa marah. Dlm kondisi spt itu, Saudi menengok Rusia, meski dianggap hanya gertakan sj thd Amerika. Jadi tidak heran kl media barat semua berlomba2 menyudutkan Saudi. Lihat sj artikel2 mrk berusaha memanas-manasi Rusia dan mencemooh Saudi. Amerika bs saja dgn jaringannya menggulingkan raja Saudi kapan saja mrk mau melalui perebutan dinasti atau militernya. Saudi jg dpt dgn mudah dimiskinkan spt Iran dgn memblokir semua aset mrk diseluruh dunia.
    Jadi, soal politik luar negeri khususnya di Timteng itu pelik dan jangan asal ngomong. Ada soal siapa yg berpengaruh, ada soal keseimbangan Amerika-Rusia, ada soal terusan Suez, Hormuz, minyak, dst. Timur Tengah, adl dunia yg terpenjara oleh 2 gajah besar: Amerika dan Rusia. Kl tdk hati2, bisa habis semuanya.
    Begitu jg soal Suriah. Semua analis sepakat, pegangan Assad hanya satu: Rusia. Selama Rusia tdk meninggalkan Assad, para pejuang sulit menang scr militer dan politik internasional. Disini Saudi mengambil peran lagi. Disatu sisi Saudi akan mendanai pejuang, disisi lain, kepentingan Rusia di selat Hormuz tdk akan diganggu jika Assad jatuh. Politik tdk pernah lepas dari stick and carrot. Hal2 spt inilah yg menjadi pertimbangan bagi org spt saya utk tdk gampang menyalahkan suatu pihak kaum muslimin semisal Saudi.

  3. sungai nil berkata:

    bikin istilah baru lg pak?! dulu bapak yg mempopulerkan salafi yamani – salafi haraki

    @ [1]. Semua orang boleh membentuk organisasi, lembaga, yayasan, perkumpulan, dan seterusnya. Itu semua tidak dituduh hizbiyah dan ahli bid’ah, kecuali untuk organisasi IM. IM terkena tuduhan hizbiyah dan ahli bid’ah.
    –> apa iya begitu yaa…….bukannya menurut mrk semua ormas itu hizbi, dan selain mrk adalah ahlu bid’ah??

    bapak melabeli sekte mulukiyah yg ada di indonesia atau dimana?

    Tp klo boleh menambahkan : sekte ini akan sering menyebut kebaikan2 saudi…..bahkan sampe menjelma kayak malaikat pencatat amal…….katanya “raja saudi itu lbh banyak kebaikannya” (sy sering nemuin komentar2 begini di status fb, atau diskusi blog, bahkan pak ustnya yg aktif di radio “R” tak sedikit yg bilang bgt)
    tp sy tetep setia dengerin radio “R”……soalnya keilmuannya bagus, cuma mungkin tetep dipilih-pilih

    @ Maka bersyukurlah bagi mereka yang TIDAK BERHUTANG BUDI kepada Arab Saudi
    –> sepertinya bapak pun sangat bersyukur & merasa beruntung.
    tak ada makan siang yg gratis pak…….., tak ada hibah/sumbangan/infaq dari para penguasa yg tak ada maksud & tujuannya.
    nah sebentar lg pemilu nasional……….lihat sj……banyak calon2 pemimpin…..”mendadak dermawan”

    Katanya hutang budi dibawa mati……..
    jgn sampai krn berhutang budi kpd saudi, terus membela saudi sampai mati……….kan saudi tak makshum

    & pak abisyakir………mudah2an memberiakan label mulukiyah bukan atas dasar emosi/amarah
    krn apa2 yg dihasilkan dr amarah, biasanya krg bagus

  4. sungai nil berkata:

    to lumia720

    analisamu tak membuat mesir jd lbh baik…..

    bagusnya kita banyak berdo’a (langsung mohon kpd Alloh yg hanya Dia-lah Maha pengatur segalanya) BerDo’a utk kebaikan mesir, jg indonesia(jgn lupa) serta negara2 muslim lainnya agar mendapatkan hidayah, kebaikan & keselamatan dunia – akherat, mendapat kemenangan perjuangan islam, serta dianugrahi para pemimpin Islam yg sholeh….aamiin

  5. Pohon Palm berkata:

    Iya, pusing tuh baca coment lumia 720, karena saya anak tk yang naggung mau masuk sd, udah berapa ton dia makan kurma, berapa truk gurun pasir yang dah dikumpulin dan berapa juta barel minyak bumi yang dia sedot, sehingga dia menjadi Syeh timur tengan yang tau dalemannya timur tengah, ck ck ck weleh weleh…. Pernah ngobrol ga ya sama Unta? he he Ma’af ya Just Kidding! Aku mau do’a saja dr pd pusing baca komentar yang pabalit wabil khusus lumia 720

  6. Abu Fawwaz berkata:

    Wah tambah lagi sektenya, apakah ini sempalan baru atau sebagian ikhwan salafi saja yang terdiri dari beberapa orang ???

  7. BUKAN SUARA RAKYAT berkata:

    Rakyat Mesir Kasian jadi korban DEMOKRASI…..!

  8. Jundullah berkata:

    Pak Lumpia 720 eh..maaf maksud ane Lumia 720 cuman bisa analisa berdasarkan pikirannya saja ditambah data sedikit dr media…tp yg kami baca dan dengar media sekuler maupun islam..bahwa Saudi mendukung penuh kudeta tersebut bahkan saudi negara pertama yg mengucaapkan selamat atas keberhasilan Al sisi, apa yg ditulis Abi Syakir..itulah yg kami dengar dan baca diberita dunia…ngga perlu analisa2 yg sulit yg membingungkan pembacanya.

  9. abuhadi berkata:

    Menarik analisis pak Lumia, mungkin beliau memahami situasi politik di timur tengah khususnya hubungan saudi dengan mesir dan hal-hal lainnya yang terkait politik dalam dan luar negeri saudi maupun timur tengah.harus diakui ane sendiri kekurangan informasi tentang hal tersebut.. sebagai sebuah analis politik ana bisa memahami, tapi situasi sekarang ini, dimana ribuan rakyat mesir yang mereka muslim tertumpah darahnya oleh militer dan ribuan lain terluka apakah harus dibiarin saja? apakah pendemo disuruh pulang dan memaafkan apa yang dibuat rejim militer?kalo itu solusinya wah…ini baru membuat ane bingung dan miris sekaligus menangis…la haula wa la quwwata illa billah. betapa lemahnya kita…ampuni kami Ya Allah
    salam

  10. abisyakir berkata:

    @ Abuhadi…

    Menarik analisis pak Lumia, mungkin beliau memahami situasi politik di timur tengah khususnya hubungan saudi dengan mesir dan hal-hal lainnya yang terkait politik dalam dan luar negeri saudi maupun timur tengah.

    Respon: Tapi ya menggelikan saja membaca analisis seperti itu, sangat dipaksakan. Seperti ketika Indonesia dijajah oleh Belanda (dan VOC) dalam waktu sekian lama. Ketika ditanya, kenapa ada penjajahan? Karena bangsa indonesia punya sekian banyak kelemahan, kesalahan, kekurangan. Lalu arah analisa bergeser jadi nyalahin bangsa sendiri. “Ini bukan salah Belanda, tapi salah kita sendiri. Mari kita terima saja keadaan ini, karena kita yang salah.” Kalau pikiran “konslet” begitu dituruti, tak akan ada kemerdekaan dan perjuangan; karena semua pihak akhirnya ridha dengan kezhaliman penjajah.

    Ya begitu deh…

    Admin.

  11. another lumia 720 berkata:

    Dalam kehidupan bernegara haruslah berpegang pada konstitusi,dan konstitusi yang baik adalah mengikuti apa yang diturunkan Allah. Mengenai krisis Mesir dan Suriah, saya melihat ada dua perbedaan dalam menyikapi upaya kudeta yang terjadi oleh para tentara desersi, Mesir sukses dipimpin oleh tentara desersi karena tentara yang melanggar konstitusi secara otomatis telah desersi, sedangkan Suriah, para tentara desersi, masih belum berhasil menjatuhkan bashar al assad karena melibatkan konflik sektarian. Seandainya tentara desersi di Suriah tidak mengangkat senjata melawan Bashar al assad, pembantaian yang lebih berdarah oleh pasukan rezim bashar al assad tidak akan pernah terjadi. Dalam Islam, bughot bukanlah pilihan, karena Allah melarang seseorang berupaya mencari kekuasaan dengan merebutnya secara bathil dengan melakukan bughot. Dalam sejarah kita bisa menyaksikan akhir riwayat para penyeru bughot atau akhir dari dinasti yang diawali dengan bughot, seperi Ibnu Zubair, Zaid bin Ali Zainal Abidin, dan akhir kelam Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah (Husain bin Ali dikecualikan karena beliau hanyalah berhijrah untuk sedikit kelapangan dari penindasan bani umayyah dan juga pengkhianatan penduduk kufah, kalau beliau berniat bughot dia tentu akan mengumpulkan pendukungnya dan menyerang langsung ke Jantung Dinasti Umayyah di Damaskus). Bagaimanapun, di dalam Islam jangan pernah berupaya merebut kedudukan sebagai penguasa dengan cara yang bathil, karena kelak akan mendapat balasan dari Allah dengan cara yang sama. Demokrasi tidak bertentangan dengan islam tetapi yang bertentangan adalah kebatilan dalam memperoleh kewenangan, karena seseorang yang bodoh dan licik masih terbuka untuk memperoleh wewenang yang terkait dengan kemaslahatan ummat.

  12. abisyakir berkata:

    @ Another lumia…

    Dalam kehidupan bernegara haruslah berpegang pada konstitusi,dan konstitusi yang baik adalah mengikuti apa yang diturunkan Allah.

    Respon: Sepakat.

    Mengenai krisis Mesir dan Suriah, saya melihat ada dua perbedaan dalam menyikapi upaya kudeta yang terjadi oleh para tentara desersi.

    Respon: Jendral As Sisi bukan sosok desersi, malah dia panglima militer secara resmi.

    Mesir sukses dipimpin oleh tentara desersi karena tentara yang melanggar konstitusi secara otomatis telah desersi;

    Respon: Maksudnya “sukses” apa ya?

    sedangkan Suriah, para tentara desersi, masih belum berhasil menjatuhkan bashar al assad karena melibatkan konflik sektarian. Seandainya tentara desersi di Suriah tidak mengangkat senjata melawan Bashar al assad, pembantaian yang lebih berdarah oleh pasukan rezim bashar al assad tidak akan pernah terjadi.

    Respon: Bashar lakukan pembantaian dulu, baru Mujahidin masuk karena alasan pembantaian itu. Jangan dibalik-balik dong! Kayak metode intelijen, membolak-balikkan asumsi dan kesimpulan.

    Dalam Islam, bughot bukanlah pilihan, karena Allah melarang seseorang berupaya mencari kekuasaan dengan merebutnya secara bathil dengan melakukan bughot.

    Respon: Contoh pelaku bughot adalah Jendral As Sisi -laknatullah ‘alaihim wa man ‘aanahu-.

    Dalam sejarah kita bisa menyaksikan akhir riwayat para penyeru bughot atau akhir dari dinasti yang diawali dengan bughot, seperi Ibnu Zubair, Zaid bin Ali Zainal Abidin, dan akhir kelam Dinasti Umayyah dan Abbasiyyah (Husain bin Ali dikecualikan karena beliau hanyalah berhijrah untuk sedikit kelapangan dari penindasan bani umayyah dan juga pengkhianatan penduduk kufah, kalau beliau berniat bughot dia tentu akan mengumpulkan pendukungnya dan menyerang langsung ke Jantung Dinasti Umayyah di Damaskus).

    Respon: Sebenarnya saat Ibnu Zubair Ra menjadi Khalifah di Makkah-Madinah (Hijaz), saat itu sedang ada kekosongan kekuasaan, karena sedang terjadi peralihan dari Marwan bin Hakam ke putranya, Abdul Malik bin Marwan. Husain Ra pergi ke Kufah karena menolak keputusan Muawiyah Ra menyerahkan kekuasaan ke putranya, Yazid.

    Bagaimanapun, di dalam Islam jangan pernah berupaya merebut kedudukan sebagai penguasa dengan cara yang bathil, karena kelak akan mendapat balasan dari Allah dengan cara yang sama.

    Respon: Ya setuju, sepakat, oke.

    Demokrasi tidak bertentangan dengan islam tetapi yang bertentangan adalah kebatilan dalam memperoleh kewenangan, karena seseorang yang bodoh dan licik masih terbuka untuk memperoleh wewenang yang terkait dengan kemaslahatan ummat.

    Respon: Cara demokrasi jelas bukan Islami; tapi kalau hanya itu sarana yang ada, dengan menghindari cara kekerasan/perang, tidak mengapa mengambil jalan demokrasi, dengan tujuan melindungi kepentingan kaum Muslimin. Tapi demokrasi itu tetap bukan cara Islami.

    Jangan memilih orang bodoh dan licik sebagai pemimpin, nanti menyusahkan Umat. Pilihlah figur yang baik seperti sosok Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali Radhiyallahu ‘Anhum.

    Admin.

  13. hasan ismail berkata:

    Ketahuan kalo abine syakir masih rindu ikut pks walau ga lagi di sana. Abine Saykir menafikan bahwa mujahidinlah yang menjadi musuh nomor satu salafy maz’umah jahmiyah baru yang kedua IM.

    Kalo memang sarana apa saja boleh dijadikan alat tanpa memandang kemudaratannya tentu Rasulullah yang pertama kali mengamalkannya. Tetapi Rasululah menolak kompromi macam tu seperti hadis yang populer Jikalah mereka mampu meletakkan matarahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tak meninggalkan dakwah ini.

    Jika orang-orang berfikir seperti logika abi syakir tentu akan menerima tawaran abu lahab untuk berkompromi, tapi sayang dakwah tidak ditegakkan dengan menghalalkan segala cara.

  14. abisyakir berkata:

    @ Hasan Ismail…

    Ketahuan kalo abine syakir masih rindu ikut pks walau ga lagi di sana. Abine Saykir menafikan bahwa mujahidinlah yang menjadi musuh nomor satu salafy maz’umah jahmiyah baru, yang kedua IM.

    Respon: He he he…bukan begitu Pak. Saya kan bahas Ikhwan-nya, bukan PKS. Paham anti-Ikhwan yang berlaku di Salafi kan sudah lama ada, sejak era 90-an, sebelum PKS berdiri (2003-2004). Ya soal siapa “yang nomer 1” itu relatif ya. Tapi paham anti-Ikhwan itu sampai ada kurikulum-nya lho di kalangan jamaah Salafi tertentu (terutama mantan Laskar Jihad). Kalau anti-mujahidin…kayaknya begitu juga. 😉

    Kalo memang sarana apa saja boleh dijadikan alat tanpa memandang kemudaratannya tentu Rasulullah yang pertama kali mengamalkannya. Tetapi Rasululah menolak kompromi macam tu seperti hadis yang populer Jikalah mereka mampu meletakkan matarahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tak meninggalkan dakwah ini.

    Respon: Bagaimana dengan Perjanjian Hudaibiyah? Bukankah Nabi “mau kompromi” dengan musyrikin Makkah? Bagaimana dengan Hijrah ke Habasyah, bukankah itu sama dengan “hijrah ke darul kufri”? Bagaimana dengan permintaan perlindungan Nabi Saw kepada Muth’im bin Ady -salah satu tokoh musyrikin Makkah-; sehingga beliau bisa masuk ke Makkah lagi setelah diusir dari Thaif? Apakah semua masalah konflik dengan kufar harus diselesaikan dengan PEDANG dan JIHAD?

    Nabi Saw menolak tawaran kaum kufar musyrikin, karena mereka hendak mengakhiri dakwah Nabi, sebelum dakwah itu sendiri sempurna azas-nya. Kalau Nabi kompromi disana, alamat hancur agama ini. Beda ketika menyangkut POLITIK, DIPLOMASI, SIYASAH…ada cara-cara cerdas yang dipakai, tidak melulu HITAM-PUTIH dan BAHASA PEDANG.

    Jika orang-orang berfikir seperti logika abi syakir tentu akan menerima tawaran abu lahab untuk berkompromi, tapi sayang dakwah tidak ditegakkan dengan menghalalkan segala cara.

    Respon: Menghalalkan cara bagaimana Pak? Apa ketika Nabi Saw negosiasi dengan musyrikin Makkah dalam perjanjian Hudaibiyah, itu menghalalkan cara? Malah dalam perjanjian dengan kaum kufar ini, kita kaum Muslimin diperintahkan menjaga perjanjian itu; selama mereka masih menjaganya. Ingat bagaimana perjanjian Nabi Saw dengan Yahudi Madinah, apa itu menghalalkan cara?

    Maksud saya begini: Demokrasi itu besar pengaruhnya bagi kehidupan kaum Muslimin saat ini, terserah apakah kita menerima atau menolak sistem itu. Yang menerima dirugikan oleh demokrasi, yang menolak juga sama-sama dirugikan. Maka itu sistem itu jangan dibiarkan dikendalikan orang-orang kafir; tapi kita tak ada salahnya masuk, untuk menjaga kepentingan Umat, agar tidak dirusak oleh demokrasi. Tapi bukan berarti kita menerima bahwa demokrasi adalah satu-satunya cara yang sah. Tidak demikian.

    Kalau Antum punya kekuatan, lalu mengadakan kudeta militer, lalu berkuasa memimpin Indonesia ini dengan Syariat Islam; yakinlah kita semua akan mendukung, saat itu tak perlu lagi pemilu-pemiluan, ikut saja apa yang Antum laksanakan. Hanya masalahnya? Kapan kabar kemenangan antum itu akan kami terima beritanya. Itu saja sih.

    Tolong kalau sudah meraih kemenangan, kirimkan beritanya via SMS atau email. Kita akan dukung 1000 persen, eh maksudnya 100 persen.

    Admin.

  15. Respon: Cara demokrasi jelas bukan Islami; tapi kalau hanya itu sarana yang ada, dengan menghindari cara kekerasan/perang, tidak mengapa mengambil jalan demokrasi, dengan tujuan melindungi kepentingan kaum Muslimin. Tapi demokrasi itu tetap bukan cara Islami.

    Demokrasi bukan cara yang Islami? Semua tata cara pemilihan pemimpin adalah netral tanpa perlu dianggap hal itu islami atau bukan. Allah swt. hanya menghendaki agar seseorang tidak dipilih untuk memegang amanah termasuk untuk saudara atau anak mereka kecuali kalau dia mampu dan dapat menjaga amanah, terlepas apakah dia mendapatkan jabatan kepemimpinan dari warisan seperti monarki (ingat Nabi Sulaiman mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Nabi Daud), ditunjuk langsung atau dipilih oleh sebagian besar rakyat. Apakah anda akan menyalahkan Umar ra. yang memilih cara yang lebih ‘demokratis’ dengan tidak menunjuk langsung penggantinya? Bagaimana dengan Ali ra. dimana sebagian besar penduduk Madinah langsung memintanya untuk menjadi Khalifah? Sementara Mu’awiyah di Syam tidak mau mengakuinya?

  16. Respon: Sebenarnya saat Ibnu Zubair Ra menjadi Khalifah di Makkah-Madinah (Hijaz), saat itu sedang ada kekosongan kekuasaan, karena sedang terjadi peralihan dari Marwan bin Hakam ke putranya, Abdul Malik bin Marwan. Husain Ra pergi ke Kufah karena menolak keputusan Muawiyah Ra menyerahkan kekuasaan ke putranya, Yazid.

    Sebenarnya apabila Husain ra. belajar mengenai kisah Musa as. tentu dia tidak akan datang menemui pendukungnya, tetapi langsung menemui Yazid bin Mu’awiyah yang ditunjuk sebagai pengganti oleh ayahnya. Musa as. datang kepada fir’aun bukan untuk merebut kedudukannya sebagai Raja di Mesir saat itu, tetapi mengingatkannya untuk beriman kepada Allah yang Maha Esa dan memintanya untuk menghentikan perbudakan terhadap bangsanya, Bani Israil dan menyerahkan mereka kepadanya sebagai pemimpin Bani Israil. Musa tidak sedikitpun menginginkan kekuasaan fir’aun terhadap Mesir. Karena itulah, alangkah baiknya apabila Husein ra. datang ke Damaskus untuk menemui Yazid untuk mengingatkannya teantang hak-hak kaum Muslimin apabila dia hanya takut kepada Allah swt. bukan kepada Yazid. Tetapi apa yang Allah takdirkan tidak akan berubah, dan tidak ada suatu kemudharatan menimpa seseorang melainkan Allah-lah yang Mengizinkannya.

  17. Respon: Jendral As Sisi bukan sosok desersi, malah dia panglima militer secara resmi.

    Dia memang seorang sosok desersi. Dia dengan pongahnya mengancam Morsi untuk memenuhi permintaannya agar dia mencapai kesepakatan dengan kelompok oposisi dalam waktu yang dia tetapkan sendiri. Konstitusi Mesir yang diajukan melalui referendum memang tidaklah ideal, tetapi As Sisi selaku bawahan Presiden mengancam Morsi yang telah mengangkatnya sebagai Panglima dan Menteri Pertahanan tidak lain karena dia memiliki ambisi pribadi. Hukum positif yang dianut dihampir semua negara, seorang bawahan tidaklah boleh mengancam pemimpinnya kecuali sebatas menasehati. As Sisi merebut kekuasaan dari Mursi bukan karena Mursi melanggar konstitusi Mesir. Bahkan seandainya Mursi melanggar, As Sisi tidak boleh begitu saja mengambil alih posisi Mursi.

  18. sedangkan Suriah, para tentara desersi, masih belum berhasil menjatuhkan bashar al assad karena melibatkan konflik sektarian. Seandainya tentara desersi di Suriah tidak mengangkat senjata melawan Bashar al assad, pembantaian yang lebih berdarah oleh pasukan rezim bashar al assad tidak akan pernah terjadi.

    Respon: Bashar lakukan pembantaian dulu, baru Mujahidin masuk karena alasan pembantaian itu. Jangan dibalik-balik dong! Kayak metode intelijen, membolak-balikkan asumsi dan kesimpulan.

    Allah swt. memang tidak melarang seseorang menuntut darah yang telah tertumpah, membalas dengan penderitaan yang sama terhadap orang yang tertindas tetapi Allah swt. menyarankan untuk bersabar, karena bersabar adalah sikap yang terbaik bagi orang-orang yang sabar. “Dan jika kamu membalas kejahatan (pihak lawan), maka hendaklah kamu membalas dengan kejahatan yang sama seperti yang telah ditimpakan kepada kamu dan jika kamu bersabar, (maka) sesungguhnya yang demikian itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl 126). Menurut anda apakah segalanya menjadi lebih buruk ketika mereka melakukan perlawanan atau ketika mereka belum melakukan perlawanan. Apakah Bashar al Assad memiliki sejarah pembantaian terhadap penduduknya (Ingat jangan dicampur dengan kekuasaan Ayahnya) sebelum fitnah Musim Semi Arab itu menular ke negaranya? Bashar al Assad memang pemimpin yang zalim tetapi kezalimannya tentu akan memburuk ketika orang-orang memberontak kepadanya. Seandainya mereka bersabar hingga masa jabatan keduanya habis di pertengahan tahun 2014 ini, fitnah yang terjadi di Syria tidak akan memakan korban hingga ratusan ribu nyawa. Di dalam Islam, Sesuai dengan Surat Al Ashr ayat 3, “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

  19. Mesir sukses dipimpin oleh tentara desersi karena tentara yang melanggar konstitusi secara otomatis telah desersi;

    Respon: Maksudnya “sukses” apa ya? Maksudnya karena As Sisi sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata, maka secara otonmatis banyak yang loyal terhadapnya sehingga berhasil menggulingkan Presiden Mursi dan penggulingan itu adalah inisiatif As Sisi sendiri, sementara pemberontakan terhadap Bashar al Assad dimulai oleh tentara biasa yang menolak untuk membantai para demonstran. Apabila para tentara itu tidak mengangkat senjata, mungkin demonstrasi akan mereda dengan sendirinya sekalipun memakan korban. Tetapi akibat perlawanan mereka, justru keadaan di Syria semakin buruk.

  20. abisyakir berkata:

    @ Sudah Nggak Bernama…

    Allah swt. memang tidak melarang seseorang menuntut darah yang telah tertumpah, membalas dengan penderitaan yang sama terhadap orang yang tertindas tetapi Allah swt. menyarankan untuk bersabar, karena bersabar adalah sikap yang terbaik bagi orang-orang yang sabar. “Dan jika kamu membalas kejahatan (pihak lawan), maka hendaklah kamu membalas dengan kejahatan yang sama seperti yang telah ditimpakan kepada kamu dan jika kamu bersabar, (maka) sesungguhnya yang demikian itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl 126).

    Respon: Bagaimana kalau yang menjadi korban adalah anak-anakmu, kakak-adikmu, ibu dan bibimu, atau yang diperkosa adalah adik-adik perempuanmu? Apa kamu akan bersabar terus sampai kehidupanmu (dan Umat Islam lainnya) habis? Enak sekali kamu bicara soal KESABARAN, karena kamu hanyalah PROFESOR yang melihat kenyataan dari jauh, sebatas teori. Coba kalau kamu menjadi korban kekejaman rezim.

    Menurut anda apakah segalanya menjadi lebih buruk ketika mereka melakukan perlawanan atau ketika mereka belum melakukan perlawanan. Apakah Bashar al Assad memiliki sejarah pembantaian terhadap penduduknya (Ingat jangan dicampur dengan kekuasaan Ayahnya) sebelum fitnah Musim Semi Arab itu menular ke negaranya?

    Respon: Lho, bukankah yang menjadi sebab kisruhnya Suriah adalah pembantaian yang dilakukan resim Bashar Assad kepada rakyatnya? Waktu itu sekitar tahun 2008 dunia guncang dengan berita-berita pembantaian kaum Muslim Asy’ariyah di Suriah. Seketika para imam masjid saat bulan Ramadhan ramai-ramai mendoakan keselamatan kaum Muslimin Suriah. Selain itu mereka menyerukan segera DIKIBARKAN BENDERA JIHAD. Jadi itu awalnya. Apakah Anda sudah lupa dengan semua kenyataan yang baru berlalu beberapa waktu kemarin? Apakah sebegitu cepatnya memori manusia rusak untuk mengingati jejak kejadian2?

    Tadinya Bashar tidak punya reputasi membantai, hanya sekedar “menikmati dinginnya” pembantaian yang dilakukan ayahnya dan rezim Syiah Nushairiyah. Tapi kini, kekejaman Bashar Assad sudah melebihi Fir’aun. Karena Fir’aun saja ketika membantai anak-anak Bani Israil, dia tetap membiarkan anak-anak wanita Bani Israil; sedangkan Bashar memakan semua daging anak-anak Muslim (Asy’ariyah). Korban pembantaian Bashar jauh melebihi kebiadaban setan satunya lagi (ayahnya).

    Mungkin kondisi Suriah kini sangat buruk dibandingkan sebelumnya, tapi itu terjadi karena SISTEM KEZHALIMAN yang dibangun keluar Al Assad disana. Allah ingin menunjukkan, bahwa tiang-tiang yang dibangun di atas genangan darah kaum Muslimin, akan berakhir dengan kehancuran; sebelum Allah gantikan dengan tiang-tiang yang bersih, bersinar, dan damai.

    Bashar al Assad memang pemimpin yang zalim tetapi kezalimannya tentu akan memburuk ketika orang-orang memberontak kepadanya. Seandainya mereka bersabar hingga masa jabatan keduanya habis di pertengahan tahun 2014 ini, fitnah yang terjadi di Syria tidak akan memakan korban hingga ratusan ribu nyawa.

    Respon: Kalau Bashar Assad bukan hewan berwujud manusia, mestinya dia melakukan perang terbuka dengan para Mujahidin. Itu lebih kesatria. Mengapa dia malah menyasar rakyatnya sendiri yang tidak berdosa? Itu kan bukti bahwa derajat Bashar Assad lebih rendah dari seekor anjing hitam yang sedang memakan kotorannya sendiri. Kalau dia kesatria, jangan lakukan cara-cara licik seperti setan satunya lagi (ayahnya), yaitu dengan menjadikan orang sipil sebagai sasaran. Maka itu Ustadz Marwan Hadid rahimahullah, saat dalam peristiwa pembantaian Hama; dia berkata: “Bertarunglah secara kesatria, wahai Assad!” Tapi mana pernah manusia keji seperti anjing hitam begitu akan mau bersikap kesatria?

    Di dalam Islam, Sesuai dengan Surat Al Ashr ayat 3, “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

    Respon: Kirimkan komentar itu kepada Bashar Assad, jangan kepada kaum Muslimin yang loyal kepada saudaranya. Kirimkan ke anjing hitam disana, agar dia menghidupkan kembali ratusan ribu jiwa Muslimin yang telah dia makan habis; lalu setelah mereka hidup semua, nasehatkan kesabaran kepadanya, agar tidak membantai rakyatnya, kaum Muslimin Suriah.

    Admin.

  21. abisyakir berkata:

    @ Sudah Nggak Bernama…

    Sebenarnya apabila Husain ra. belajar mengenai kisah Musa as. tentu dia tidak akan datang menemui pendukungnya, tetapi langsung menemui Yazid bin Mu’awiyah yang ditunjuk sebagai pengganti oleh ayahnya. Musa as. datang kepada fir’aun bukan untuk merebut kedudukannya sebagai Raja di Mesir saat itu, tetapi mengingatkannya untuk beriman kepada Allah yang Maha Esa dan memintanya untuk menghentikan perbudakan terhadap bangsanya, Bani Israil dan menyerahkan mereka kepadanya sebagai pemimpin Bani Israil. Musa tidak sedikitpun menginginkan kekuasaan fir’aun terhadap Mesir. Karena itulah, alangkah baiknya apabila Husein ra. datang ke Damaskus untuk menemui Yazid untuk mengingatkannya teantang hak-hak kaum Muslimin apabila dia hanya takut kepada Allah swt. bukan kepada Yazid. Tetapi apa yang Allah takdirkan tidak akan berubah, dan tidak ada suatu kemudharatan menimpa seseorang melainkan Allah-lah yang Mengizinkannya.

    Respon: Ini aneh. Anda jadi menyalahkan Husein RA. Memang banyak “Ahlus Sunnah” yang demi membela posisi Yazid bin Muawiyah, lalu tanpa sadar menyalahkan para Shahabat RA yang lebih kredibel dari Yazid. Musa AS tidak bermaksud merebut kekuasaan Fir’aun ya karena memang MUSA DIPERINTAHKAN UNTUK MEMBIMBING BANI ISRAIL, bukan untuk MEMBIMBING BANGSA MESIR. Bukankah para Nabi AS itu diutus untuk kaum masing-masing? Kalau sudah masuk zaman Islam, ya dakwah berlaku Kaaffah, tidak sektoral (qaumi) lagi. Dalilnya jadi berubah: “Man ra’a minkumul munkaran fal yughaiyiru bi yadihi…” (siapa melihat satu kemunkaran hendaklah dia ubah dengan tangannya….dst).

    Husein secara SYARIAT sudah benar, yaitu mengembalikan amanat Kekhalifahan kepada Ummat, bukan mendirikan DINASTI. Apa yang diperbuat Husein sudah benar, sebagaimana yang diperbuat Abdullah bin Zubair RA juga tidak salah. Hanya saja, dari kacamata POLITIK, STRATEGI, dan SIASAT PERANG posisi Husein sangat lemah. Itu saja “kesalahan” mereka. Amanat perjuangan beliau radhiyallahu ‘anhum sudah benar, hanya secara perhitungan politik kurang bagus.

    Waduh, Anda mengatakan: “Karena itulah, alangkah baiknya apabila Husein ra. datang ke Damaskus untuk menemui Yazid untuk mengingatkannya teantang hak-hak kaum Muslimin apabila dia hanya takut kepada Allah swt. bukan kepada Yazid.

    Respon: Lho, bukankah Husein RA sudah belajar dari TIGA PERKARA BESAR sebelumnya, yaitu: (a). Ayahnya dipecundangi pihak lawan melalui skenario Tahkim. Akibat dari rentetan kejadian ini, nantinya Khalifah Ali terbunuh juga; (b). Kakaknya -Hasan bin Ali Ra- harus memberikan baiat kepada Muawiyah, demi menjaga keutuhan kaum Muslimin; (c). Muawiyah ternyata menyerahkan kekuasaan kepada putranya, bukan Syura kaum Muslimin, sebagaimana janjinya kepada Hasan Ra.

    Ketika Husein Ra didukung sekitar 70-an anggota keluarganya; itu pertanda bahwa di kalangan keluarga mereka telah membekas rasa kecewa yang berat kepada para pemimpin di Damaskus. Anda begitu mudahnya berkata begini begitu, karena hanya memandang secara teoritik saja. Andaikan Anda di pihak Husein bin Ali Ra.

    Admin.

  22. abisyakir berkata:

    @ Sudah Nggak Bernama…

    Demokrasi bukan cara yang Islami? Semua tata cara pemilihan pemimpin adalah netral tanpa perlu dianggap hal itu islami atau bukan.

    Respon: Lho, memang sistem demokrasi lahir dari Kitabullah dan Sunnah? Apa demokrasi lahir dari rahim sejarah kaum Muslimin? Apakah sejak awal Islam, demokrasi sudah dilaksanakan kaum Muslimin? Jelas sekali, ia bukan sistem Islam, ia dari luar Islam Pak. Anda tahu Trias Politika, John Locke, Mountesqueiu, Rosseaue, dll. Apa mereka orang Muslim?

    Dari mana Anda katakan bahwa semua sistem pemilihan pemimpin adalah netral? Apa dasarnya? Apakah Kitabullah dan Sunnah? Atau filsafat politik? Atau apalah… Mana ada sistem beginian yang netral dari intepretasi ideologi. Sebagai Muslim, kami tidak boleh “menetralkan” masalah seperti itu. Untuk masalah air wudhu saja, tidak boleh bercampur najis, apalagi urusan kepemimpinan Umat yang membawahi masalah harta, darah, kehormatan, kehidupan kaum Muslimin. Anda jangan berpikir sekuler Saudara!

    Allah swt. hanya menghendaki agar seseorang tidak dipilih untuk memegang amanah termasuk untuk saudara atau anak mereka kecuali kalau dia mampu dan dapat menjaga amanah, terlepas apakah dia mendapatkan jabatan kepemimpinan dari warisan seperti monarki (ingat Nabi Sulaiman mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Nabi Daud), ditunjuk langsung atau dipilih oleh sebagian besar rakyat.

    Respon: Ini parah cara berpikirnya. Sudah menyimpang jauh. Rasul SAW berkata: “Alaiikum bi sunnati wa sunnatil khulafair rasyidinal mahdiyina min ba’di addhu ‘alaiha bin nawajid” (ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku, lalu gigitlah ia dengan gigi geraham kalian). Kita mengikuti Sunnah Nabi SAW, bukan Sunnah Nabi yang lain.

    Lagi pula, andaikan kita kembali ke sirah Nabi Sulaiman AS. Siapakah yang paling saleh, paling Mukmin, paling mumpuni, atau paling LAYAK menggantikan posisi Nabi Dawud AS ketika itu? Ya tentu saja Nabi Sulaiman AS. Selain Nabi, beliau punya segala bekalan untuk berkuasa dan mentadbir Ummatnya.

    Sementara Dinasti (Monarkhi), mereka tidak peduli apakah putra raja itu zhalim, ahli maksiyat, bejat akhlak, rendah ilmu, rendah nalar; yang penting asalkan DARAHNYA BIRU, dia berhak menjadi pemimpin pengganti raja. Sistem Nabawi fokus dengan KESALEHAN PEMIMPIN, sedangkan monarkhi fokus dengan JENIS DARAH dan keaslian DNA. Menyedihkan!

    Apakah anda akan menyalahkan Umar ra. yang memilih cara yang lebih ‘demokratis’ dengan tidak menunjuk langsung penggantinya? Bagaimana dengan Ali ra. dimana sebagian besar penduduk Madinah langsung memintanya untuk menjadi Khalifah? Sementara Mu’awiyah di Syam tidak mau mengakuinya?

    Respon: Apakah itu yang Anda maksud dengan demokrasi? Hah….!!!! Anda tahu bedanya yang dilakukan Khalifah Umar RA dan para Shahabat Nabi Saw dengan demokrasi?

    Admin.

    Apakah anda akan menyalahkan Umar ra. yang memilih cara yang lebih ‘demokratis’ dengan tidak menunjuk langsung penggantinya? Bagaimana dengan Ali ra. dimana sebagian besar penduduk Madinah langsung memintanya untuk menjadi Khalifah? Sementara Mu’awiyah di Syam tidak mau mengakuinya?

  23. afif ahmad berkata:

    mulukiyah ini mirip kaya madhokoliyyah yah…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: