Solusi Adu Jotos Farhat Abbas Vs El (Putra Ahmad Dani)

November 29, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Akhir-akhir ini berita media banyak diwarnai isu seputar tantangan El Ghazali (putra Ahmad Dani) yang mengajak Farhat Abbas adu jotos di ring tinju. Kabarnya, El sudah mendaftarkan even adu jotosnya ke Pertina. Hotman Paris menawarkan hadiah 250 juta bagi yang menang. Ahmad Dani sendiri mendukung inisiatif anaknya; Farhat Abbas, karena merasa ditantang, sedia melayani tantangan itu. Waduh, tambah gawat nih.

Masalah-masalah sosial sehari-hari sudah banyak, ditambah rencana adu jotos ini… jadi tambah puyeng. Seakan, kita tak ada masalah lain yang lebih berat dan urgen untuk diselesaikan.

Jangan Adu Jotos Ya. Nanti Jadi Contoh Jelek di Mata Publik.

Jangan Adu Jotos Ya. Nanti Jadi Contoh Jelek di Mata Publik.

Secara pribadi kami menghimbau: sudahlah, jangan dilanjutjkan ide adu jotos di atas ring itu! Itu sangat tidak baik. Nanti jadi contoh jelek bagi masyarakat. Kalau ada masalah apa-apa, nanti solusinya jadi kekerasan. Mungkin saat ini solusinya adu jotos di atas ring, ada wasit. Tapi di lapangan kondisinya bisa lebih parah lagi.  Nanti orang-orang akan melakukan adu jotos versi jalanan. Jujur saja, ketika ide adu jotos itu mengemuka, lalu diekspose media secara massif, ia bisa menjadi trend sosial. Waduh, negeri ini bakal ramai dengan kekerasan. Nas’alullah al ‘afiyah.

Kita ini bukan mafia Sicilia, mafia Rusia, atau anggota Triad Hongkong, yang menyelesaikan masalah dengan “berantem” atau “adu tembak”. Kita ini kan masih masyarakat beradab. Ya, carilah solusi secara beradab.

Andaikan adu jotos itu benar-benar terjadi, semua pihak akan merugi, terutama Farhat Abbas dan El sendiri. Coba kita hitung-hitungan ya.

Kalau Farhat Abbas menang, apa untungnya? Toh, dia hanya melawan anak remaja usia 14 tahun. Malu lah pasti. Kalau Farhat kalah, wah bisa lebih malu lagi. Karier dia bisa tamat. Dia akan kehilangan kebebasan yang banyak; dimana-mana dicibir manusia.

Kalau El menang, apa untungnya? Dia bakal dicela sebagai anak “sok jagoan” dan “kurang ajar” karena menantang orang dewasa adu jotos. Kalau dia kalah, lebih malu lagi, karena dia yang nantang adu jotos itu. Bukan hanya El, keluarga besar Ahmad Dani, juga akan malu. Mereka dianggap tak mampu mengontrol tingkah anaknya.

Pendek kata, sama-sama rugilah. Seperti kata pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Sama-sama jeleknya.

Sebaiknya, kami menghimbau, kedua belah pihak SALING DAMAI, saling memaafkan. Sudahlah, berdamai saja. Tidak ada ruginya orang berdamai. Bukanlah Al Qur’an mengatakan: “Wa shulhu khair” (damai itu lebih baik). Kalau ada orang yang bertengkar, kita disarankan untuk mendamaikan mereka.

SARAN buat Pak Farhat Abbas:

*) Sebaiknya Bapak mau memulai meminta maaf kepada keluarga Ahmad Dhani, karena mereka marah setelah mendengar komentar-komentar Anda yang bernada melecehkan. Jadi asal mula masalah ini kan komentar-komentar Anda di Twitter. Tak ada salahnya minta maaf.

*) Sangat baik Bapak peduli dengan korban dan keluarga korban kecelakaan di tol Jagorawi yang diakibatkan kesalahan putra Ahmad Dani saat mengendarai mobil. Kepedulian ini sangat baik. Tapi tak perlu juga kita mesti menghina orang lain atau melecehkan. Tidak bagus itu! Cukup peduli saja, tanpa mesti “melukai hati” orang lain.

*) Kalau keberatan dengan sikap Ahmad Dani Cs dalam menyikapi korban dan keluarga korban, silakan ditempuh cara-cara yang legal saja. Bapak pasti sudah sangat mafhum soal itu.

SARAN buat EL: 

*) Dik, sebaiknya ide adu jotos itu dihentikan saja, tak usah diteruskan. Kan keluargamu saat ini sedang dirundung banyak masalah; tak perlu ditambah-tambahi. Tak usahlah menggelar adu jotos tersebut.

*) Kalau kamu masih ingin adu jotos dalam lingkup olah-raga, ya lakukan di forum-forum olah raga, jangan dibawa sebagai isu publik. Nanti bisa meresahkan. Boleh adu jotos di arena-arena resmi, dengan sesama kawan, atau para kompetitor dari berbagai perguruan. Kalau kamu serius dan giat berlatih, nanti bisa masuk jalur tinju profesional; atau meniti karier di jalur K1, MMA, WWE, dan seterusnya.

*) Kalau kamu mau ingin melakukan “test kejantanan” ya bisa juga. Misalnya dengan mencari lawan yang tangguh dan sepadan. Tapi kalau di negara kita itu termasuk ilegal, jadi bisa berurusan dengan kepolisian. Maka itu sudahlah, untuk urusan minat fight ini sebaiknya dibatasi di jalur olah-raga atau (paling maksimal) jalur karier.

Kalau melihat situasi seperti ini rasanya prihatin ya. Ini orang-orang terkenal pada mau adu jotos. Jadi sensasi media luar biasa. Sudah begitu para pemimpin birokrasi dan politisi cuma menonton saja. Jangan-jangan hati mereka sedang intensif berharap agar even adu jotos itu benar-benar terlaksana? Wah, gawat sekali kalau begitu.

Namanya pemimpin kan harusnya peka dengan masalah publik. Kalau ada masalah, langsung turun, untuk mencari solusi. Bukan meneng wae, apalagi cuman nonton doang. Rakyat sudah mau adu jotos, kok diam saja? Aneh.

Tapi ada sisi baiknya tantangan dari El itu. Tantangan dia seketika menyadarkan banyak pihak (kaum laki-laki) yang selama ini keenakan dengan hidup mapan. Mampukah mereka berkelahi, kalau sewaktu-waktu ditantang adu jotos? Nah, tantangan El itu bisa dianggap sentilan, agar kita (kaum laki-laki) giat olah-raga dan mau belajar bela diri. Iya gak?

Oke deh, cukup sampai disini saja. Tolong ya Pak Farhat dan keluarga El: jangan dilanjutkan ide adu jotosnya! Kasihan masyarakat. Nanti mereka jadi diberi contoh jelek oleh para pesohornya. Terimakasih.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).


Siapa Sang “Jilbab Hitam”?

November 14, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Siapakah Sang “Jilbab Hitam” yang tulisannya begitu menghebohkan, sehingga fondasi kantor media Tempo seolah “bergoyang” terkena hempasan tulisannya? Siapakah dia? Manusia, atau makhluk ghaib?

“Jilbab Hitam” menyebut dirinya seorang wanita, mantan wartawan Tempo angkatan 2006. Bekerja di Tempo sampai 2013. Dia semula nge-fans berat dengan dunia wartawan, khususnya ke Goenawan Mohamad. Tapi kemudian setelah masuk dunia wartawan riil, dia mulai kecewa dan terus kecewa. Ternyata, dunia media sekuler, menurutnya tak ubahnya seperti mafia juga. Media sekuler senang menjual-belikan isu dan opini, untuk menggaruk uang miliaran rupiah. Whuusssshhh…. sepakan maut dan keras.

Ziapa Sech Dikau...?

Ziapa Sech Dikau…?

Menurutku, si penulis hanya mereka-reka identitas dengan nama “Jilbab Hitam”, seorang wanita, wartawan Tempo angkatan 2006, lalu resign tahun 2013. Ya, itu semua tampaknya hanya semacam “cover” saja. Tidak mungkin kalau benar-benar mantan wartawan Tempo, dia akan menyebutkan angkatan ini dan itu. Tidak mungkin, pasti sangat mudah dilacak. Kan di Tempo ada database wartawan yang keluar-masuk setiap tahunnya.

Tapi harus diakui, si penulis bukan orang awam dalam dunia jurnalistik. Dia bisa menulis dengan baik, runut, penuh perasaan, dan tahu banyak dengan orang-orang yang (pernah) berkecimpung di Tempo. Dia juga paham isu-isu aktual dan data-data. Si penulis ini bukan orang kacangan dari segi kemampuan menulisnya. Itu jelas.

Soal bantahan Bank Mandiri, bantahan Bambang Harimurti, bantahan ini dan itu… Semua itu kan bisa bersifat umum, bersifat officially, atau katakanlah “bantahan etik”. Hal itu tak bisa menafikan begitu saja apa-apa yang telah dibeberkan oleh “Jilbab Hitam”.

Saya ingin sampaikan sesuatu yang SANGAT PENTING dari tulisan “Jilbab Hitam” yaitu soal jual-beli opini media.  Nah, itulah konten paling penting dari tulisan dia. Secara validitas data, okelah bisa diperdebatkan; tetapi soal jual-beli opini, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Semua orang yang pernah terlibat di media, ketika akan menurunkan suatu tulisan atau liputan, pasti akan dihadapkan pada pertanyaan: “Apa perlunya kita turunkan laporan ini?” Aspek perlu atau tidak, sifatnya relatif, tergantung pembicaraan awak redaksi. Alasannya juga tidak melulu soal idealisme; tetapi dendam politik, militansi ideologi, kepentingan uang, kepentingan industri media, dan sebagainya juga bisa berperan.

Andaikan tulisan “Jilbab Hitam” itu ditolak mentah-mentah, bisakah Tempo menjawab pertanyaan ini: “Maukah Anda membolehkan masyarakat umum melihat perdebatan redaksi, sebelum menurunkan suatu liputan tertentu, dalam 5 edisi berturut-turut?” Yakin 100 %, bahkan kata SeBeYe 1000 %, mereka tak akan mau dicampuri urusan rapat redaksinya.

Data-data penting yang disampaikan “Jilbab Hitam” antara lain…

[1]. Banyak eks wartawan Tempo yang bekerja sebagai “konsultan komunikasi” setelah tidak bekerja disana.

Kekuatan di Balik Kelembuatan.

Kekuatan di Balik Kelembuatan.

[2]. Para “konsultan data” ini punya banyak akses data dan informasi, tentang perusahaan, tokoh, partai, dan sebagainya. Maklum, mereka wartawan, jadi banyak suplai informasinya. Mereka bisa memilah dan memilih data, untuk berbagai kepentingan.

[3]. Di masyarakat sendiri tentu sangat banyak kasus; setiap kasus itu punya detail, kronologi, surat-surat, dokumen, foto, dsb. Nah, semua sumber ini bisa menjadi “harta karun” bagi para wartawan “kreatif” (baca: mata duitan).

[4]. Masyarakat sendiri umumnya tidak pandai dalam soal pemberitaan; hal itu menjadi peluang besar bagi wartawan dan mantan wartawan untuk merajai kehidupan dengan kendaraan “pemberitaan media”.

[5]. Ingat lho, profesi wartawan itu dekat sekali dengan dunia intelijen. Konsentrasinya sama-sama mencari berita (informasi). Intelijen bisa nyusup kemana-mana, seperti wartawan bisa masuk kemana-mana. Kalau data intelijen dibutuhkan penguasa; maka data wartawan bisa digunakan siapa saja yang “butuh kepentingan”.

[6]. Sebenarnya, apa bedanya “maling ayam” dan “koruptor”? Apa sih…. Bedanya kan pada “jumlah angka yang diperoleh”. Kalau nominal maling ayam ribuan rupiah, koruptor bisa miliaran sampai triliunan. Dalam profesi wartawan juga begitu, ada tingkatan-tingkatan pendapatan; meskipun modusnya sama.

[7]. Kehidupan sekuler dan jahiliyah itu sebenarnya amat sangat boros; tidak bisa hidup hemat. Itulah yang menyebabkan banyak orang terlibat dalam korupsi. Korupsi dibutuhkan untuk mengucurkan dana sebesar-besarnya, buat kehidupan hedonis yang super boros. Perbandingannya, seorang suami yang ML dengan isterinya secara sah, sifatnya gratis, bisa berkali-kali, kapan saja. Tapi bagi amoral yang mau ML dengan pelacur SMP/SMA minimal mengeluarkan duit 500 ribu, untuk sekali “pakai”. Coba lihat, betapa jauhnya beda kehidupan jahiliyah dengan kehidupan Islami. Konsep begini berlaku di semua level, termasuk kaum wartawan.

Lalu pertanyaan terakhir: Siapakah Sang “Jilbab Hitam”? Jujur, kami juga tidak tahu siapa dia. Tapi menurutku, dia bukan wanita, tapi laki-laki. Jarang seorang wanita berani menentang arus besar seperti itu? Tapi bisa juga wanita.

Tidak pentinglah bicara “siapa dia”, tapi sangat penting membahas “apa yang dia sampaikan”. Fanzhur ma qaala wa tanzhur man qala. Lihat apa yang dia katakan, jangan lihat siapa yang mengatakannya!

(Weare).


Ketika TEMPO Dihajar “Jilbab Hitam”

November 14, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Luar biasa, sebuah kejutan besar sekaligus ide hebat dari seseorang yang menamakan diri “Jilbab Hitam.” Dalam tulisannya di Kompasiana.com, pada 11 November 2013, telah menghebohkan banyak pihak. Tak kurang, Tempo sendiri menurunkan 5 tulisan bantahan atas informasi yang dia paparkan. Bagaimanapun, tulisan “Jilbab Hitam” lebih kuat dari semua bantahan Tempo; dan sangat disayangkan, Kompasiana.com men-delete begitu saja tulisan itu. Bahkan dalam ulasan di Kompasiana.com disebutkan, bahwa “Jilbab Hitam” hanyalah pemain amatir, tulisannya dangkal. Bodoh, justru tulisan dia sangat kuat. Lebih kuat dari umumnya tulisan-tulisan di Kompasiana.com yang ngalor-ngidul gak jelas.

Karena mengapresiasi keberanian “Jilbab Hitam” dalam men-torpedo mesin bisnis media Tempo, kami ikut menayangkan tulisan tersebut, sebagai bentuk kebebasan menyampaikan pendapat dan ekspresi. Sumber tulisan dari Voa-islam.com. Berikut isi tulisan Sang “Jilbab Hitam” yang nyaris menggoyangkan kemapanan struktural media Tempo.

Heboh Pengakuan Wartawati Ex Tempo: Kebobrokan Media di Indonesia

Rabu, 13 Nov 2013.

Kebobrokan Media di Indonesia

Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO.

Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’.

“Jelas nggak nih acaranya?”

“Ada kejelasan nggak nih?”

“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”

Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan. Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi Wartawan’.

Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku tersebut.

Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.

“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.

Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang bermain seperti itu.

Namun fakta berkata lain. Sempat tidak percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan, Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.

Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh.

Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi, pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik, Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang wartawan.

Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan perbankan?

Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?

Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia) yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri?

Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman.

Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang di dalam grup TEMPO.

Siapa bilang TEMPO bersih?

Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat peluang itu dan memborong saham Bakrie.

Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas.

Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan iklan bagi perusahaan.

TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4 jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian, sementara para senior bermain proyek pemberitaan.

Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang.

Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?

Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)?

Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery?

Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar.

Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie, tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa ‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2 miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa?

Fakta-fakta itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual beli pencitraan, layaknya jasa konsultan.

Mereka, media-media besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi kelas berat.

Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja, TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di bawah Bambang Harimurti.

Saya pribadi, memutuskan resign dari TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO, kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan media-media besar lainnya.

Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi.

Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO.

Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri Iskandar Tumbuan.

Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos Mandiri, pak Iskandar pun pamit.

Sambil menyeruput kopi pagi, saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait kasus SKK Migas.

Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul perilaku wartawan.

Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya.

“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap, pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan, transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia, PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK Migas,” tuturnya.

“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,” ungkapnya.

“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya.

“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho, yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar dia.

“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu besar, salah langkah bisa berabe akibatnya. Gua sih yakin, saat itu bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.

“Eeh, tau-tau Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM (Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi, tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.

“Menurut Pak Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),” singkap dia.

“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus 2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia.

“Ini kan semacam pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI (Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO dalam memeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri) akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia.

Mendengar cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas, Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan lain-lain.

Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih. Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam organisasi tempatmu bekerja.

Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan.

TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.

Saya bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Lebih senang dan tenang batin bekerja sebagai buruh biasa seperti yang saya lakukan kini. Insya Allah jauh dari dunia hitam. [selesai]

Atas tulisan di atas Tempo memberikan tanggapan sebagai berikut:

Majalah Tempo bersama lembaga riset KataData dituding melakukan pemerasan terhadap Bank Mandiri berkaitan dengan kasus Rudi Rubiandini. Tudingan itu ditulis oleh penulis anonim dengan nama Jilbab Hitam, yang mengaku bekas wartawan Tempo angkatan 2006, di media sosial Kompasiana, Senin, 11 November 2013. Di tulisan berjudul “TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas?” disebutkan Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harimurti menelepon Dirut Mandiri Budi Gunadi Sadikin menanyakan soal proposal KataData, yang menawarkan diri sebagai konsultan komunikasi terkait penangkapan Direktur SKK Migas Rudi Rubiandini. Rudi adalah komisaris bank pemerintah itu.Menurut penulis itu, karena Mandiri tak meloloskan proposal KataData, majalah Tempo lalu menerbitkan laporan bertajuk “Setelah Rudi, Siapa Terciprat?” pada edisi 18 Agustus 2013 dengan gambar sampul Rudi Rubiandini. “Saya malah baru tahu ada proposal Metta (KataData) ke Mandiri dari tulisan ini. Kalau Tempo jauhlah dari memeras. Iklan yang diduga ‘bermasalah’ saja kami tolak kok,” kata Bambang. KataData adalah lembaga riset yang dipimpin Metta Darmasaputra, mantan wartawan Tempo. Menurut dia, staf humas Mandiri, Eko Nopiansyah, yang disebut dalam tulisan itu sudah ditanya, dan membantahnya. “Kata Eko, hoax, dia tak pernah bertemu dengan eks wartawanTempo angkatan 2006, atau angkatan berapa pun, atau yang bukan eks wartawan Tempo, dan membicarakan yang dituduhkan penulis artikel itu,” kata Bambang.

Dari sisi ruh tulisan, jelas tulisan “Jilbab Hitam” lebih kuat, lebih jujur, lebih asli, tidak dibumbui bahasa-bahasa hipokrit dan formalisme. Tidak salah jika orang seperti “Jilbab Hitam” layak diberi anugerah: Media Whistleblower Award.

Oh ya, karena tulisan di atas penting, silakan di-copy dan disimpan. Jangan sampai nanti seperti Kompasiana.com, baru juga tulisan nongol, langsung delete saja. Sayang sekali. Itulah cara “media” membela “sesama media” sekuler.

Oke, terimakasih. Terimakasih juga buat “Jilbab Hitam”. Meskipun banyak orang mencoba meremehkanmu; tapi tulisanmu menceritakan realitas sebenarnya tentang kebobrokan dunia media. Terimakasih sobat.

(Weare).


Takfir Seorang Asy’ariyun…

November 13, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sebenarnya kita sering di diskusi di media ini, atau di media-media lain. Banyak perlakuan orang yang sudah kita terima. Salah satu yang unik dari seseorang yang menamakan diri @ Sunni Asy’ari Syafi’i dalam diskusi bertema: Dimana Allah Tinggal Sebelum Bersemayam di Atas Arasy? Komentar dia ditulis pada 7 November 2013 lalu. Belum berkata apa-apa, dia langsung mengkafirkan saya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sejujurnya, sikap takfir itu bukan monopoli satu golongan saja. Banyak pihak bisa melakukan takfir kepada sesama Muslim, secara zhalim. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah. Sengaja komentar dan jawaban dimuat ulang dalam tulisan tersendiri, agar menjadi bukti kehidupan dan pelajaran. Amin. Selamat membaca!

_______________________________________________________________

@ Sunni Asy’ari Syafi’i…

WAHAI MANUSIA SEKALIANNN..KETAHUILAH OLEHMU BAHWA PENULIS TULISAN INI ADALAH SEORANG MUJASSIM MUSYABBIH. SEORANG KAFIR DI ATAS KEKAFIRAN. IMAM SYAFI’I BERKATA: المجسم كافر

MUJASSIM (ORANG YG BERKEYAKINAN ALLAH BERUPA BENDA) ITU KAAFIR. DIA SEDANG MENYURUH KALIAN UNTUK MENYEMBAH SESUATU YANG ADA DI LANGIT DAN DI ARSY (HEH? ADA DI DUA TEMPAT?!!). SESUATU YANG BERTEMPAT SUDAH PASTI DIA BENTUK DAN DIMENSI.MAHA SUCI ALLAH DARI TEMPAT. MAHA SUCI ALLAH DARI MENEMPATI ARAH. MAHA SUCI ALLAH DARI BERBENTYK. LAYSA KAMITSLIHII SYAII’ (ASY-SYUUROO:11)

Respon: Orang aneh. Belum apa-apa sudah mengkafirkan orang lain (diri saya). Tulisan aneh yang pernah saya baca. Pandir… Ya benar bahwa kaum mujassim memang sesat, karena mereka serupakan Allah dengan makhluk berjasad. Sementara kami hanya meyakini ayat-ayat dan hadits sebagaimana adanya, tanpa menyamakan Allah dengan makhluk-Nya sedikit pun. Kalau dikatakan, Allah punya tangan, lalu manusia punya tangan; apakah kami menyamakan istilah Tangan Allah dengan tangan makhluk? Coba jawab! Tidak sama sekali. Kami tidak menyamakan Tangan Allah dengan tangan makhluk.

Misalnya karena masalah tangan ini, lalu kami dituduh mujassimah; bagaimana Allah punya sifat Al Hakim, sedangkan manusia juga punya sifat hakim (bijaksana)? Allah punya sifat “Melihat” sedang manusia juga bisa melihat; Allah punya sifat “Mendengar” sedang manusia juga mendengar? Apakah orang yang meyakini sifat Al Hakim, Ar Rahman, Ar Rahiim, As Sama’, Al Bashar, dan seterusnya…mereka itu juga mujassimah; karena menyamakan Allah dengan makhluk?

@ PENULIS. BACA DULU BACA! Al-Hafizh al-Muhaddits al-Imam as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Hanafi (w 1205 H) dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin menjelaskan panjang lebar perkataan al-Imam al-Ghazali bahwa Allah mustahil bertempat atau bersemayam di atas arsy. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al-Imam al-Ghazali menuliskan sebagai berikut: “al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas arsy tersebut adalah benda yang menempel. Benda tersebut bisa jadi lebih besar atau bisa jadi lebih kecil dari arsy itu sendiri. Dan ini adalah sesuatu yang mustahil atas Allah” .

Respon: Ini adalah ucapan BODOH. Coba perhatikan kalimat ini: “Al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam, maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas Arsy tersebut adalah benda yang menempel.

Bantahanku: Kenapa kalian membatasi Sifat Istiwa’ Allah dengan sifat makhluk-Nya? Kalau makhluk istiwa’ dia menempel; sedangkan Allah apa perlu menempel seperti makhluk? Begitu rendahnya kalian mensifati Rabb kalian! Allah Ta’ala hendak kalian perkosa dengan sifat-sifat lazim yang ada pada makhluk-Nya. Dasar aneh!

Dalam penjelasannya al-Imam az-Zabidi menuliskan sebagai berikut: “Penjabarannya ialah bahwa jika Allah berada pada suatu tempat atau menempel pada suatu tempat maka berarti Allah sama besar dengan tempat tersebut, atau lebih besar darinya atau bisa jadi lebih kecil. Jika Allah sama besar dengan tempat tersebut maka berarti Dia membentuk sesuai bentuk tempat itu sendiri. Jika tempat itu segi empat maka Dia juga segi empat. Jika tempat itu segi tiga maka Dia juga segi tiga. Ini jelas sesuatu yang mustahil. Kemudian jika Allah lebih besar dari arsy maka berarti sebagian-Nya di atas arsy dan sebagian yang lainnya tidak berada di atas arsy. Ini berarti memberikan paham bahwa Allah memiliki bagian-bagian yang satu sama lainnya saling tersusun. Kemudian kalau arsy lebih besar dari Allah berarti sama saja mengatakan bahwa besar-Nya hanya seperempat arsy, atau seperlima arsy dan seterusnya. Kemudian jika Allah lebih kecil dari arsy, -seberapapun ukuran lebih kecilnya-, itu berarti mengharuskan akan adanya ukuran dan batasan bagi Allah. Tentu ini adalah kekufuran dan kesesatan. Seandainya Allah -Yang Azali- ada pada tempat yang juga azali maka berarti tidak akan dapat dibedakan antara keduanya, kecuali jika dikatakan bahwa Allah ada terkemudian setelah tempat itu. Dan ini jelas sesat karena berarti bahwa Allah itu baharu, karena ada setelah tempat. Kemudian jika dikatakan bahwa Allah bertempat dan menempel di atas arsy maka berarti boleh pula dikatakan bahwa Allah dapat terpisah dan menjauh atau meningalkan arsy itu sendiri. Padahal sesuatu yang menempel dan terpisah pastilah sesuatu yang baharu. Bukankah kita mengetahui bahwa setiap komponen dari alam ini sebagai sesuatu yang baharu karena semua itu memiliki sifat menempel dan terpisah?! Hanya orang-orang bodoh dan berpemahaman pendek saja yang berkata: Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat dan arah? Karena pernyataan semacam itu benar-benar tidak timbul kecuali dari seorang ahli bid’ah -yang menyerupakan Allah denganmakhluk-Nya-. Sesungguhnya yang menciptakan sifat-sifat benda (kayf) mustahil Dia disifati dengan sifat-sifat benda itu sendiri. -Artinya Dia tidak boleh dikatakan “bagaimana (kayf)” karena “bagaimana (kayf)” adalah sifat benda-.

Respon: Sama-sama bodohnya, mensifati Allah dengan kelaziman pada makhluk-Nya. Ini sangat bodoh. Coba baca Surat Al A’raaf ketika Musa As meminta melihat Allah, lalu Allah menampakkan diri kepada gunung, seketika gunung hancur lebur; Musa pun pingsan seketika. Itu kan ibrah yang jelas, kita tak boleh mensifati Allah dengan detail, sifat, kelaziman makhluk-Nya; apapun itu. Sifat menempel, punya ukuran, menempati ruang, dan sterusnya, itu semua sifat makhluk; kita tak boleh membawa Dzat Allah pada batasan-batasan begitu.

Di antara bantahan yang dapat membungkam mereka, katakan kepada mereka: Sebelum Allah menciptakan alam ini dan menciptakan tempat apakah Dia ada atau tidak ada? Tentu mereka akan menjawab: Ada. Kemudian katakan kepada mereka: Jika demikian atas dasar keyakinan kalian -bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki tempat- terdapat dua kemungkinan kesimpulan. Pertama; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa tempat, arsy dan seluruh alam ini qadim; ada tanpa permulaan -seperti Allah-. Atau kesimpulan kedua; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa Allah itu baharu -seperti makhluk-. Dan jelas keduanya adalah kesesatan, ini tidak lain hanya merupakan pendapat orang-orang bodoh dari kaum Hasyawiyyah. Sesungguhnya Yang Maha Qadim (Allah) itu jelas bukan makhluk. Dan sesuatu yang baharu (makhluk) jelas bukan yang Maha Qadim (Allah). Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang rusak” .

Respon: Jawabnya simple… Alam semesta ini sesuatu yang baru (muhdats), sementara Allah itu Qadim (terdahulu dari segalanya). Sebelum menciptakan alam ini Allah ada dimana dan menempati apa? Jawabnya: KITA TIDAK TAHU, karena Allah tidak menjelaskan hal itu. Allah Ta’ala mau berada dimanapun, mau bagaimanapun, itu terserah diri-Nya. Kalau dia mau menempati suatu ruang, mudah bagi-Nya; sebagaimana kalau Dia tak butuh ruang juga mudah bagi-Nya. Kan disini berlaku prinsip besar: Idza arada syai’an an yaqula kun fa yakun (kalau Dia ingin sesuatu, tinggal bilang ‘jadi’ maka jadilah itu).

Masalah Allah ada di dalam ruang atau tidak, itu terserah Dia saja. Dia bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Apa kamu bisa menghalangi kalau Allah melakukan ini dan itu, sesuka Diri-Nya? Sejak kapan kamu punya kuasa di sisi Allah?

Masih dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, al-Imam Murtadla az-Zabidi juga menuliskan sebagai berikut: “Peringatan: Keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah adalah akidah yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah. Tidak ada perselisihan antara seorang ahli hadits dengan ahli fiqih atau dengan lainnya. Dan di dalam syari’at sama sekali tidak ada seorang nabi sekalipun yang menyebutkan secara jelas adanya arah bagi Allah. Arah dalam pengertian yang sudah kita jelaskan, secara lafazh maupun secara makna, benar-benar dinafikan dari Allah. Bagaimana tidak, padahal Allah telah berfirman: “Dia Allah tidak menyerupai sesuatu apapun” (QS. as-Syura: 11). Karena jika Dia berada pada suatu tempat maka akan ada banyak yang serupa dengan-Nya”.

Respon: Aneh, jangan sebut itu kesepakatan Ahlus Sunnah; paling juga pendapat mayoritas ‘Asyariyah. Dalam Al Qur’an jelas-jelas disebut sampai 6 kali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Apa kalian bersepakat untuk menganulir ayat Al Qur’an ini? Aneh.

Soal Arasy itu ruang atau bukan, tempat besar atau kecil, caranya menempel atau tidak; kita semua mengatakan: Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Maha Tahu keadaan diri-Nya. Seperti kata Imam Malik rahimahullah: Istiwa’ itu sudah dimaklumi, caranya tidak diketahui; mengimaninya wajib, mendebatkannya bid’ah.

Saran saya: kalau mau berdiskusi dan debat ilmiah, silakan; tapi jangan langsung mengkafirkan begitu. Kamu sendiri nanti yang akan meringis dalam duka.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


Orang Indonesia Sering Berlebihan

November 13, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam urusan ibadah mahdhah (ritual) kan ada kaidah, bahwa ibadah itu sifatnya tawaquf (tinggal ikuti saja atau given). Jadi dalam ibadah ritual itu tak boleh ada inovasi-inovasi, karena nanti akibatnya amal kita tertolak, tidak berpahala, atau sia-sia saja.

Dalilnya kan cukup terkenal, yaitu sabda Nabi Saw: “Man ‘amila ‘amalan wa laisa fihi min amrina wa huwa raddun” (siapa yang mengamalkan suatu amalan, sedangkan padanya tidak ada contoh dari kami, maka amalan itu tertolak). Hadits ini shahih, diriwayatkan banyak imam ahli hadits; redaksi yang ditulis ini sesuai versi Imam Muslim.

Sikap berlebih-lebihan dengan menambah-nambah banyak inovasi dalam amalan ritual, sangatlah keliru. Kalau setiap orang, setiap generasi, menambah-nambahi aturan ibadah itu; maka nanti setelah berlalu masa ratusan tahun, kaum Muslimin di kemudian hari akan kehilangan jejak atas amalan yang sesuai Sunnah Nabi Saw. Ya bagaimana tidak, wong amalan itu sudah banyak ditambah-tambahi.

Dalam ibadah ritual, tak perlu inovasi.

Dalam ibadah ritual, tak perlu inovasi.

Contoh yang parah yaitu Maulid Nabi Saw. Secara hakiki di zaman Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan mayoritas para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum tidak mengenal amalan Maulid ini. Ia adalah amalan yang ditemukan kemudian, seiring perjalanan sejarah Ummat Islam. Ada yang menyebut, Maulid pertama kali dilaksanakan di era Sultan Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah.

Sebagai bentuk amal inovasi, mestinya kalau dilakukan ya longgar-longgar saja. Tidak usah dibuat kaku dan baku, seolah ia merupakan ibadah ritual tersendiri. Tapi ya aneh, momen-momen Maulid sering dilakukan dengan TARTIB (urut-urutan) tertentu, yang dilakukan secara baku, tidak boleh keluar dari urut-urutan itu. Malah, inovasi-inovasi ini terus “ditemukan” untuk “memperkaya” ritual Maulid. Sudah dasarnya memang amal inovasi, ditambah-tambahi lagi dengan inovasi-inovasi baru. Jadi ingat slogan sebuah perusahaan otomotif: Untuk menjadi yang terdepan, kami terus melakukan inovasi!

Ada juga contoh lain yang unik, yaitu tentang bacaan setelah membaca Al Qur’an Al Karim. Disini juga ada inovasi-inovasi yang layak dicatat, sebagai ingatan bagi kita semua.

Secara Syariat, tidak ada suatu bacaan khusus yang diperlukan setelah membaca Al Qur’an. Karena dalam Al Qur’an maupun Sunnah, tidak ada bacaan khusus itu. Boleh kita membaca: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin; dengan asumsi, doa ini bersifat umum untuk mengakhiri setiap perbuatan baik. Setelah makan boleh baca Hamdalah; setelah tidur boleh membaca Hamdalah; setelah belajar boleh membaca Hamdalah; setelah berjimak suami-isteri, boleh membaca Hamdalah; maka setelah membaca Al Qur’an tentu boleh membaca Alhamdulillah.

Bacaan yang sering dibaca selama ini, setelah membaca Al Qur’an, adalah: Shadaqallahul ‘Azhim atau Shadaqallah saja. Artinya: Benarlah Allah yang Maha Agung atau Benarlah Allah.

Bacaan demikian boleh, dengan asumsi: Rasulullah Saw ketika membaca Al Qur’an, lalu menemukan ayat-ayat yang bersifat kabar gembira, beliau memohon diberi kebaikan; begitu juga ketika menemukan ayat-ayat yang bersifat siksa, beliau berlindung dari ancamannya. Kalimat “Shadaqallah” diasumsikan sebagai pernyataan pembenaran si pembaca Al Qur’an atas Firman Allah Ta’ala yang baru dia baca.

Ya intinya, tidak mengapa membaca “Shadaqallah“, karena hal itu merupakan pernyataan dari pembaca Al Qur’an, bahwa dia membenarkan Firman Allah Ta’ala.

Tetapi kalimat “Shadaqallahul ‘Azhim” ini juga mengalami inovasi-inovasi, sehingga semakin panjang. Sering khatib atau dai menambah-nambahi kalimat di belakang “Shadaqallah” itu.

Mari kita lihat rinciannya…

[1]. Shadaqallahul ‘azhim. Ini kalimat standar. Sering diartikan: Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Padahal makna semestinya: Benarlah Allah yang Maha Agung; atau Maha Benar Allah yang Maha Agung.

[2]. Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim. Ini adalah kalimat tambahan atas versi sebelumnya. Ditambahi “wa ballagha Rasuluhul karim” (dan Rasul-Nya telah menyampaikan amanat Wahyu-Nya).

[3]. Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin. Nah, ini versi yang lebih “komplit” dengan tambahan “wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin” (dan kami menjadi saksi atas kebenaran firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu).

[4]. Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin wa syakirin. Ini versi yang lebih lengkap, dengan tambahan “wa syakirin” (kami meensyukuri kebenaran firman Allah dan sabda Rasul-Nya).

[5]. Masih ada lagi yang lebih lengkap yaitu: Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin wa syakirin, wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamiin. Tambahannya adalah: wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamiin. Ya Anda semua tahu artinya.

Maka secara lengkap bacaan setelah membaca Al Qur’an ini menjadi sebagai berikut: Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin wa syakirin, wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamiin.

Bacaan ini pun kalau ada inovator yang lebih heboh, bisa ditambah bacaan-bacaan lain semisal Surat Al Fatihah, Ayat Kursyi, Surat Yaasin, istighfar 100 kali, tasbih 100 kali, shalawat 100 kali, dan seterusnya. Padahal intinya hanya bacaan menutup perbuatan membaca Al Qur’an, tapi jadi berpanjang-panjang. Semoga tidak akan jadi begitu. Amin ya Halim.

Orang tidak bisa berdalih: Kan isi bacaan itu maknanya baik? Kalau hitung-hitungan soal baik, banyak bacaan baik. Misalnya, membaca Surat Al Baqarah itu baik, bahkan diutamakan. Tetapi bagaimana kalau orang membaca Surat Al Baqarah saat Ruku’ atau I’tidal dalam Shalat? Boleh tidak? Bagaimana kalau orang membaca Talbiyah (Labbaik Allahumma labbaik) saat sedang sujud dalam Shalat? Boleh tidak. Padahal membaca Talbiyah kan baik.

Sekali lagi, dalam ibadah ritual itu berlaku prinsip Tawaquf; ikuti saja bagaimana tuntunannya, tidak perlu inovasi macam-macam. Sepandai-pandainya Anda berinovasi, tidak akan lebih pandai dari Nabi Saw yang padanya diturunkan Syariat agama ini.

Demikian, semoga tulisan ringan ini bermanfaat ya. Amin Allahumma amin. Mohon maaf atas salah dan kelirunya. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).


Kenapa Telat Update…

November 13, 2013

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh.

Pembaca Budiman, mungkin sekali dua kali, atau berkali-kali, mampir pertanyaan sederhana ke benak Anda, setiap masuk ke blog ini. Kenapa sih jarang update-nya? Kenapa komentar tidak cepat dibalas? Di hari gini masih telat update, capek deh…

Ya jujur saja, saya inginnya sih setiap pekan ada tulisan baru yang muncul. Ya diusahakan tetap tulisan yang bermanfaat, amin. Tetapi ya realitasnya tidak semudah itu. Biasalah… banyak aral melintang, onak dan duri… he he he. Intinya, banyak kendala-kendala teknis yang sering dihadapi.

Sorry, Sering Telat...

Sorry, Sering Telat…

Saya sering lho sudah menyiapkan tulisan; sudah membawa data di flash disk; sudah ingin memuat tulisan baru. Tetapi saat masuk blog, ternyata banyak komentar masuk, dan panjang-panjang. Di antara komentar itu membuka dialog yang cukup serius. Akhirnya, perhatian tercurah ke komentar-komentar.

Setelah sekian lama bergulat dengan komentar, lalu melihat waktu, “Wah sudah time out! Harus cepat undur diri.” Ya akhirnya tulisan yang sudah disiapkan, gak jadi dimuat. Kadang komentar itu begitu pentingnya sehingga mempengaruhi pemuatan tulisan selanjutnya.

Ya bukan menyesali datangnya komentar-komentar. Ini kutulis supaya Anda mengerti saja. Trus…jangan lupa diskusi dalam komentar-komentar itu juga perlu. Maka, mohon dibaca juga.

Ini dulu “curhat” yang bisa kusampaikan. Ringan, biasa, tetapi tidak lebay seperti orang yang bilang soal “1000 persen bohong“. Kalau dia sih memang rajanya segala ke-lebay-an di negeri ini. Orang gak genah kok jadi pemimpin, ya aneh. Nas’alullah al ‘afiyah.

Oke, terimakasih. Jazakumullah khair.

Add-Mine.