Orang Indonesia Sering Berlebihan

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam urusan ibadah mahdhah (ritual) kan ada kaidah, bahwa ibadah itu sifatnya tawaquf (tinggal ikuti saja atau given). Jadi dalam ibadah ritual itu tak boleh ada inovasi-inovasi, karena nanti akibatnya amal kita tertolak, tidak berpahala, atau sia-sia saja.

Dalilnya kan cukup terkenal, yaitu sabda Nabi Saw: “Man ‘amila ‘amalan wa laisa fihi min amrina wa huwa raddun” (siapa yang mengamalkan suatu amalan, sedangkan padanya tidak ada contoh dari kami, maka amalan itu tertolak). Hadits ini shahih, diriwayatkan banyak imam ahli hadits; redaksi yang ditulis ini sesuai versi Imam Muslim.

Sikap berlebih-lebihan dengan menambah-nambah banyak inovasi dalam amalan ritual, sangatlah keliru. Kalau setiap orang, setiap generasi, menambah-nambahi aturan ibadah itu; maka nanti setelah berlalu masa ratusan tahun, kaum Muslimin di kemudian hari akan kehilangan jejak atas amalan yang sesuai Sunnah Nabi Saw. Ya bagaimana tidak, wong amalan itu sudah banyak ditambah-tambahi.

Dalam ibadah ritual, tak perlu inovasi.

Dalam ibadah ritual, tak perlu inovasi.

Contoh yang parah yaitu Maulid Nabi Saw. Secara hakiki di zaman Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan mayoritas para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum tidak mengenal amalan Maulid ini. Ia adalah amalan yang ditemukan kemudian, seiring perjalanan sejarah Ummat Islam. Ada yang menyebut, Maulid pertama kali dilaksanakan di era Sultan Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah.

Sebagai bentuk amal inovasi, mestinya kalau dilakukan ya longgar-longgar saja. Tidak usah dibuat kaku dan baku, seolah ia merupakan ibadah ritual tersendiri. Tapi ya aneh, momen-momen Maulid sering dilakukan dengan TARTIB (urut-urutan) tertentu, yang dilakukan secara baku, tidak boleh keluar dari urut-urutan itu. Malah, inovasi-inovasi ini terus “ditemukan” untuk “memperkaya” ritual Maulid. Sudah dasarnya memang amal inovasi, ditambah-tambahi lagi dengan inovasi-inovasi baru. Jadi ingat slogan sebuah perusahaan otomotif: Untuk menjadi yang terdepan, kami terus melakukan inovasi!

Ada juga contoh lain yang unik, yaitu tentang bacaan setelah membaca Al Qur’an Al Karim. Disini juga ada inovasi-inovasi yang layak dicatat, sebagai ingatan bagi kita semua.

Secara Syariat, tidak ada suatu bacaan khusus yang diperlukan setelah membaca Al Qur’an. Karena dalam Al Qur’an maupun Sunnah, tidak ada bacaan khusus itu. Boleh kita membaca: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin; dengan asumsi, doa ini bersifat umum untuk mengakhiri setiap perbuatan baik. Setelah makan boleh baca Hamdalah; setelah tidur boleh membaca Hamdalah; setelah belajar boleh membaca Hamdalah; setelah berjimak suami-isteri, boleh membaca Hamdalah; maka setelah membaca Al Qur’an tentu boleh membaca Alhamdulillah.

Bacaan yang sering dibaca selama ini, setelah membaca Al Qur’an, adalah: Shadaqallahul ‘Azhim atau Shadaqallah saja. Artinya: Benarlah Allah yang Maha Agung atau Benarlah Allah.

Bacaan demikian boleh, dengan asumsi: Rasulullah Saw ketika membaca Al Qur’an, lalu menemukan ayat-ayat yang bersifat kabar gembira, beliau memohon diberi kebaikan; begitu juga ketika menemukan ayat-ayat yang bersifat siksa, beliau berlindung dari ancamannya. Kalimat “Shadaqallah” diasumsikan sebagai pernyataan pembenaran si pembaca Al Qur’an atas Firman Allah Ta’ala yang baru dia baca.

Ya intinya, tidak mengapa membaca “Shadaqallah“, karena hal itu merupakan pernyataan dari pembaca Al Qur’an, bahwa dia membenarkan Firman Allah Ta’ala.

Tetapi kalimat “Shadaqallahul ‘Azhim” ini juga mengalami inovasi-inovasi, sehingga semakin panjang. Sering khatib atau dai menambah-nambahi kalimat di belakang “Shadaqallah” itu.

Mari kita lihat rinciannya…

[1]. Shadaqallahul ‘azhim. Ini kalimat standar. Sering diartikan: Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Padahal makna semestinya: Benarlah Allah yang Maha Agung; atau Maha Benar Allah yang Maha Agung.

[2]. Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim. Ini adalah kalimat tambahan atas versi sebelumnya. Ditambahi “wa ballagha Rasuluhul karim” (dan Rasul-Nya telah menyampaikan amanat Wahyu-Nya).

[3]. Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin. Nah, ini versi yang lebih “komplit” dengan tambahan “wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin” (dan kami menjadi saksi atas kebenaran firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu).

[4]. Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin wa syakirin. Ini versi yang lebih lengkap, dengan tambahan “wa syakirin” (kami meensyukuri kebenaran firman Allah dan sabda Rasul-Nya).

[5]. Masih ada lagi yang lebih lengkap yaitu: Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin wa syakirin, wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamiin. Tambahannya adalah: wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamiin. Ya Anda semua tahu artinya.

Maka secara lengkap bacaan setelah membaca Al Qur’an ini menjadi sebagai berikut: Shadaqallahul ‘Azhim wa ballagha Rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minas syahidin wa syakirin, wal hamdu lillahi Rabbil ‘alamiin.

Bacaan ini pun kalau ada inovator yang lebih heboh, bisa ditambah bacaan-bacaan lain semisal Surat Al Fatihah, Ayat Kursyi, Surat Yaasin, istighfar 100 kali, tasbih 100 kali, shalawat 100 kali, dan seterusnya. Padahal intinya hanya bacaan menutup perbuatan membaca Al Qur’an, tapi jadi berpanjang-panjang. Semoga tidak akan jadi begitu. Amin ya Halim.

Orang tidak bisa berdalih: Kan isi bacaan itu maknanya baik? Kalau hitung-hitungan soal baik, banyak bacaan baik. Misalnya, membaca Surat Al Baqarah itu baik, bahkan diutamakan. Tetapi bagaimana kalau orang membaca Surat Al Baqarah saat Ruku’ atau I’tidal dalam Shalat? Boleh tidak? Bagaimana kalau orang membaca Talbiyah (Labbaik Allahumma labbaik) saat sedang sujud dalam Shalat? Boleh tidak. Padahal membaca Talbiyah kan baik.

Sekali lagi, dalam ibadah ritual itu berlaku prinsip Tawaquf; ikuti saja bagaimana tuntunannya, tidak perlu inovasi macam-macam. Sepandai-pandainya Anda berinovasi, tidak akan lebih pandai dari Nabi Saw yang padanya diturunkan Syariat agama ini.

Demikian, semoga tulisan ringan ini bermanfaat ya. Amin Allahumma amin. Mohon maaf atas salah dan kelirunya. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).

Iklan

One Response to Orang Indonesia Sering Berlebihan

  1. Irfan berkata:

    Kalo ga salah saya pernah baca hadist setelah membaca al quran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: