Takfir Seorang Asy’ariyun…

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sebenarnya kita sering di diskusi di media ini, atau di media-media lain. Banyak perlakuan orang yang sudah kita terima. Salah satu yang unik dari seseorang yang menamakan diri @ Sunni Asy’ari Syafi’i dalam diskusi bertema: Dimana Allah Tinggal Sebelum Bersemayam di Atas Arasy? Komentar dia ditulis pada 7 November 2013 lalu. Belum berkata apa-apa, dia langsung mengkafirkan saya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sejujurnya, sikap takfir itu bukan monopoli satu golongan saja. Banyak pihak bisa melakukan takfir kepada sesama Muslim, secara zhalim. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah. Sengaja komentar dan jawaban dimuat ulang dalam tulisan tersendiri, agar menjadi bukti kehidupan dan pelajaran. Amin. Selamat membaca!

_______________________________________________________________

@ Sunni Asy’ari Syafi’i…

WAHAI MANUSIA SEKALIANNN..KETAHUILAH OLEHMU BAHWA PENULIS TULISAN INI ADALAH SEORANG MUJASSIM MUSYABBIH. SEORANG KAFIR DI ATAS KEKAFIRAN. IMAM SYAFI’I BERKATA: المجسم كافر

MUJASSIM (ORANG YG BERKEYAKINAN ALLAH BERUPA BENDA) ITU KAAFIR. DIA SEDANG MENYURUH KALIAN UNTUK MENYEMBAH SESUATU YANG ADA DI LANGIT DAN DI ARSY (HEH? ADA DI DUA TEMPAT?!!). SESUATU YANG BERTEMPAT SUDAH PASTI DIA BENTUK DAN DIMENSI.MAHA SUCI ALLAH DARI TEMPAT. MAHA SUCI ALLAH DARI MENEMPATI ARAH. MAHA SUCI ALLAH DARI BERBENTYK. LAYSA KAMITSLIHII SYAII’ (ASY-SYUUROO:11)

Respon: Orang aneh. Belum apa-apa sudah mengkafirkan orang lain (diri saya). Tulisan aneh yang pernah saya baca. Pandir… Ya benar bahwa kaum mujassim memang sesat, karena mereka serupakan Allah dengan makhluk berjasad. Sementara kami hanya meyakini ayat-ayat dan hadits sebagaimana adanya, tanpa menyamakan Allah dengan makhluk-Nya sedikit pun. Kalau dikatakan, Allah punya tangan, lalu manusia punya tangan; apakah kami menyamakan istilah Tangan Allah dengan tangan makhluk? Coba jawab! Tidak sama sekali. Kami tidak menyamakan Tangan Allah dengan tangan makhluk.

Misalnya karena masalah tangan ini, lalu kami dituduh mujassimah; bagaimana Allah punya sifat Al Hakim, sedangkan manusia juga punya sifat hakim (bijaksana)? Allah punya sifat “Melihat” sedang manusia juga bisa melihat; Allah punya sifat “Mendengar” sedang manusia juga mendengar? Apakah orang yang meyakini sifat Al Hakim, Ar Rahman, Ar Rahiim, As Sama’, Al Bashar, dan seterusnya…mereka itu juga mujassimah; karena menyamakan Allah dengan makhluk?

@ PENULIS. BACA DULU BACA! Al-Hafizh al-Muhaddits al-Imam as-Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi al-Hanafi (w 1205 H) dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin menjelaskan panjang lebar perkataan al-Imam al-Ghazali bahwa Allah mustahil bertempat atau bersemayam di atas arsy. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al-Imam al-Ghazali menuliskan sebagai berikut: “al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas arsy tersebut adalah benda yang menempel. Benda tersebut bisa jadi lebih besar atau bisa jadi lebih kecil dari arsy itu sendiri. Dan ini adalah sesuatu yang mustahil atas Allah” .

Respon: Ini adalah ucapan BODOH. Coba perhatikan kalimat ini: “Al-Istiwa’ jika diartikan dengan makna bertempat atau bersemayam, maka hal ini mengharuskan bahwa yang berada di atas Arsy tersebut adalah benda yang menempel.

Bantahanku: Kenapa kalian membatasi Sifat Istiwa’ Allah dengan sifat makhluk-Nya? Kalau makhluk istiwa’ dia menempel; sedangkan Allah apa perlu menempel seperti makhluk? Begitu rendahnya kalian mensifati Rabb kalian! Allah Ta’ala hendak kalian perkosa dengan sifat-sifat lazim yang ada pada makhluk-Nya. Dasar aneh!

Dalam penjelasannya al-Imam az-Zabidi menuliskan sebagai berikut: “Penjabarannya ialah bahwa jika Allah berada pada suatu tempat atau menempel pada suatu tempat maka berarti Allah sama besar dengan tempat tersebut, atau lebih besar darinya atau bisa jadi lebih kecil. Jika Allah sama besar dengan tempat tersebut maka berarti Dia membentuk sesuai bentuk tempat itu sendiri. Jika tempat itu segi empat maka Dia juga segi empat. Jika tempat itu segi tiga maka Dia juga segi tiga. Ini jelas sesuatu yang mustahil. Kemudian jika Allah lebih besar dari arsy maka berarti sebagian-Nya di atas arsy dan sebagian yang lainnya tidak berada di atas arsy. Ini berarti memberikan paham bahwa Allah memiliki bagian-bagian yang satu sama lainnya saling tersusun. Kemudian kalau arsy lebih besar dari Allah berarti sama saja mengatakan bahwa besar-Nya hanya seperempat arsy, atau seperlima arsy dan seterusnya. Kemudian jika Allah lebih kecil dari arsy, -seberapapun ukuran lebih kecilnya-, itu berarti mengharuskan akan adanya ukuran dan batasan bagi Allah. Tentu ini adalah kekufuran dan kesesatan. Seandainya Allah -Yang Azali- ada pada tempat yang juga azali maka berarti tidak akan dapat dibedakan antara keduanya, kecuali jika dikatakan bahwa Allah ada terkemudian setelah tempat itu. Dan ini jelas sesat karena berarti bahwa Allah itu baharu, karena ada setelah tempat. Kemudian jika dikatakan bahwa Allah bertempat dan menempel di atas arsy maka berarti boleh pula dikatakan bahwa Allah dapat terpisah dan menjauh atau meningalkan arsy itu sendiri. Padahal sesuatu yang menempel dan terpisah pastilah sesuatu yang baharu. Bukankah kita mengetahui bahwa setiap komponen dari alam ini sebagai sesuatu yang baharu karena semua itu memiliki sifat menempel dan terpisah?! Hanya orang-orang bodoh dan berpemahaman pendek saja yang berkata: Bagaimana mungkin sesuatu yang ada tidak memiliki tempat dan arah? Karena pernyataan semacam itu benar-benar tidak timbul kecuali dari seorang ahli bid’ah -yang menyerupakan Allah denganmakhluk-Nya-. Sesungguhnya yang menciptakan sifat-sifat benda (kayf) mustahil Dia disifati dengan sifat-sifat benda itu sendiri. -Artinya Dia tidak boleh dikatakan “bagaimana (kayf)” karena “bagaimana (kayf)” adalah sifat benda-.

Respon: Sama-sama bodohnya, mensifati Allah dengan kelaziman pada makhluk-Nya. Ini sangat bodoh. Coba baca Surat Al A’raaf ketika Musa As meminta melihat Allah, lalu Allah menampakkan diri kepada gunung, seketika gunung hancur lebur; Musa pun pingsan seketika. Itu kan ibrah yang jelas, kita tak boleh mensifati Allah dengan detail, sifat, kelaziman makhluk-Nya; apapun itu. Sifat menempel, punya ukuran, menempati ruang, dan sterusnya, itu semua sifat makhluk; kita tak boleh membawa Dzat Allah pada batasan-batasan begitu.

Di antara bantahan yang dapat membungkam mereka, katakan kepada mereka: Sebelum Allah menciptakan alam ini dan menciptakan tempat apakah Dia ada atau tidak ada? Tentu mereka akan menjawab: Ada. Kemudian katakan kepada mereka: Jika demikian atas dasar keyakinan kalian -bahwa segala sesuatu itu pasti memiliki tempat- terdapat dua kemungkinan kesimpulan. Pertama; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa tempat, arsy dan seluruh alam ini qadim; ada tanpa permulaan -seperti Allah-. Atau kesimpulan kedua; Bisa jadi kalian berpendapat bahwa Allah itu baharu -seperti makhluk-. Dan jelas keduanya adalah kesesatan, ini tidak lain hanya merupakan pendapat orang-orang bodoh dari kaum Hasyawiyyah. Sesungguhnya Yang Maha Qadim (Allah) itu jelas bukan makhluk. Dan sesuatu yang baharu (makhluk) jelas bukan yang Maha Qadim (Allah). Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan yang rusak” .

Respon: Jawabnya simple… Alam semesta ini sesuatu yang baru (muhdats), sementara Allah itu Qadim (terdahulu dari segalanya). Sebelum menciptakan alam ini Allah ada dimana dan menempati apa? Jawabnya: KITA TIDAK TAHU, karena Allah tidak menjelaskan hal itu. Allah Ta’ala mau berada dimanapun, mau bagaimanapun, itu terserah diri-Nya. Kalau dia mau menempati suatu ruang, mudah bagi-Nya; sebagaimana kalau Dia tak butuh ruang juga mudah bagi-Nya. Kan disini berlaku prinsip besar: Idza arada syai’an an yaqula kun fa yakun (kalau Dia ingin sesuatu, tinggal bilang ‘jadi’ maka jadilah itu).

Masalah Allah ada di dalam ruang atau tidak, itu terserah Dia saja. Dia bisa melakukan apapun yang Dia kehendaki. Apa kamu bisa menghalangi kalau Allah melakukan ini dan itu, sesuka Diri-Nya? Sejak kapan kamu punya kuasa di sisi Allah?

Masih dalam kitab Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, al-Imam Murtadla az-Zabidi juga menuliskan sebagai berikut: “Peringatan: Keyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah adalah akidah yang telah disepakati di kalangan Ahlussunnah. Tidak ada perselisihan antara seorang ahli hadits dengan ahli fiqih atau dengan lainnya. Dan di dalam syari’at sama sekali tidak ada seorang nabi sekalipun yang menyebutkan secara jelas adanya arah bagi Allah. Arah dalam pengertian yang sudah kita jelaskan, secara lafazh maupun secara makna, benar-benar dinafikan dari Allah. Bagaimana tidak, padahal Allah telah berfirman: “Dia Allah tidak menyerupai sesuatu apapun” (QS. as-Syura: 11). Karena jika Dia berada pada suatu tempat maka akan ada banyak yang serupa dengan-Nya”.

Respon: Aneh, jangan sebut itu kesepakatan Ahlus Sunnah; paling juga pendapat mayoritas ‘Asyariyah. Dalam Al Qur’an jelas-jelas disebut sampai 6 kali, bahwa Allah itu ada di atas Arasy. Apa kalian bersepakat untuk menganulir ayat Al Qur’an ini? Aneh.

Soal Arasy itu ruang atau bukan, tempat besar atau kecil, caranya menempel atau tidak; kita semua mengatakan: Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Maha Tahu keadaan diri-Nya. Seperti kata Imam Malik rahimahullah: Istiwa’ itu sudah dimaklumi, caranya tidak diketahui; mengimaninya wajib, mendebatkannya bid’ah.

Saran saya: kalau mau berdiskusi dan debat ilmiah, silakan; tapi jangan langsung mengkafirkan begitu. Kamu sendiri nanti yang akan meringis dalam duka.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

27 Responses to Takfir Seorang Asy’ariyun…

  1. IRBSA berkata:

    Nah tuh.. banyak orang yang selalu kafirin sana-sini. Termasuk si @ Sunni Asy’ari Syafi’i.

  2. Dinar Zul Akbar berkata:

    padahal bapak menulis buku ttg persatuan,, tapi dalam membahas komentar bapak menulis kata2 Bodoh,, walaupun mungkin ditujukan kepada si akun Sunni Syafi’i,, tapi masalahnya akun tersebut hanya menukil ucapan para Imamnya ..

    lagipula,, entahlah mungkin saya yg dikit baca bukunya,, spertinya hanya bapak yang menuduh asyari justru yg mentasybihkan sifat Allah dgn makhluqnya,, misalnya dgn mengatakan :

    Kenapa kalian membatasi Sifat Istiwa’ Allah dengan sifat makhluk-Nya?

    wa Allahu A’lam

  3. abisyakir berkata:

    @ Dinar Zul Bahar…

    Pertama, memang kalimat itu saya tujukan kepada si pemilik akun, karena dia begitu sembrono mentakfir manusia. Kata-kata “bodoh” itu menurutmu lebih berat mana dibanding “takfir”. Kalau imam-imam yang dinukil itu juga menetapkan “takfir” kepada yang berbeda paham; layak juga diberi kata “bodoh”. Karena sejatinya orang yang tak bisa menempatkan takfir secara tepat, memang bodoh.

    Kedua, pembuktian bahwa mereka membatasi sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Ketika membahas Istiwa’, mereka berkata: Siapa yang Istiwa’ pasti akan menempel pada apa yang dia istiwa’ di atasnya. Kata-kata “pasti menempel” ini menurut ukuran siapa? Ukuran makhluk atau Allah? Ini pasti menurut ukuran makhluk. Allah Ta’ala Maha Kuasa berbuat yang Dia kehendaki; sangat mudah bagi-Nya Istiwa’ tanpa mengandung kecacatan sedikit pun (seperti sifat menempel dsb).

    Bukti lain, katanya -mengutip pandangan seorang imam-, kalau Allah Istiwa’ di atas Arasy, lalu bagaimana perbandingan ukuran Arasy dengan Dzat Allah? Apakah Dzat Allah lebih besar atau lebih kecil? Kalau Dzat Allah lebih besar, berarti ada bagian lain yang tidak tercover oleh Arasy itu; lalu bagian lain tersebut ada di “ruang” apa? Kalau Dzat Allah lebih kecil dari Arasy, bagaimana Dia disebut Akbar (Maha Besar)? Ini jelas pemikiran kaum Asy’ari, seperti disebut dalam kutipan di atas.

    Artinya, mereka mengumpamakan Allah seperti benda yang punya ukuran tertentu; bisa dibandingkan dengan ukuran makhluk-Nya; bisa lebih besar, bisa lebih kecil, dari ukuran makhluk-Nya. Masya Allah, begitukah kita mensifati Rabb kita? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Ketika Allah mengatakan, “Tsummastawa ‘ala Arsy” (kemudian Dia istiwa’ di atas Arasy). KIta cukup meyakini, bahwa Dia istiwa’ di atas Arasy. Soal caranya bagaimana, soal ukurannya bagaimana, apakah lebih besar atau lebih kecil dari Arasy; itu bukan urusan kita. Jangan dipikirkan juga, kalau Allah lebih besar dari Arasy, lalu bagian yang lain dari Dzat-Nya ada di mana? Subhanallah, orang-orang kerdil ini rupanya hendak mempertanyakan Kemahakuasaan Allah dalam Perbuatan dan Kuasa-Nya. Seolah, untuk menetapkan urusan-Nya, Allah harus “minta izin logika” mereka. Allahu Akbar.

    Sebaik-baik perkataan adalah… Subhanahu Wa Ta’ala amma yashifuun… (Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sifatkan).

    Admin.

  4. Dinar Zul Akbar berkata:

    stelah mengatakan bodoh lantas bapak mngucap org2 kerdil,,

    hasbunallah wa ni’mal wakil

    (mdhn2 jadi komentar terakhir saya)

  5. sungai nil berkata:

    mungkin yg dipermasalahkan dinar zul akbar adalah gaya penyampaian bapak…

    sy baca pengalaman dakwah bapak n bapak pun pernah cerita betapa tdk mudahnya berdakwah langsung ke orang2 terutama orang bandung…
    kiranya yg jd persoalan…,klo istilah sunda itu “lain salah salah teuing batur, tp dalam diri bapak pun ada yg mesti diperbaiki…”

    keilmuan bapak sdh okeh banget,
    hanya gaya penyampaiannya yg mesti banyak2 diperbaiki

    klo pernyataan @ sunni asy’ari syafi’i bagi kami sdh tdk aneh,
    malah kyai/ust yg begitu dekat dgn keluarga prnh khotbah mengatakan “meyakini Tuhan duduk2 diatas arasy itu murtad” dan ada lg yg berpendapat wahabi itu suka menghina ulama kita, wahabi itu munafik n mrk kelak kekal di kerak neraka”
    lalu apakah hrs dibalas dengan kata2 mrk bodoh atau kerdil ?!
    yakin klo kita sama2 emosional yg ada malah bisa jd “perang”/tdk rukun.
    kita yg sdh umuran/dewasa n cukup paham agama.., maka semestinya kita bersikap sesuai umur kita dan bijak menyikapi masalah dgn melihat banyak kondisi…

    klo bisa dijelaskan dgn tenang n lembut kenapa pula mesti dgn cara kasar/balik mencaci?!
    kenapa mesti takut dituduh kafir atau sesat atau munafik,, toh klo yg dituduhkan tdk benar, Allooh akan kembalikan tuduhan tsb kpd yg menuduhnya !!
    semua yg menilai amal2 kita hanya lah Allooh, kenapa mesti pusing dgn penilaian org…..

    ujian terberat yg diberikan Allooh kpd manusia adalah ujiannya para Nabi n Rosul, terutama yg dialami Nabi kita Muhammad shallolloohu ‘alaihi wa sallam….
    dan ujian berat itu bukan belajar ilmunya, melainkan perjuangan menyampaikan perintah Alloh kpd manusia/berdakwah

    kpd seorang fi’aun yg dzolim n sesat luar biasa, tetap Alloh perintahkan Nabi Musa utk menasehatinya dgn lemah lembut dulu…
    Rosululloh ketika dicaci, di hina, dituduh dgn tuduhan keji yg menyakitkan sekali….tp dia balas semua itu dgn mendahulukan akhlaq mulia.
    di Qur’an pun, yg diperintahkan itu ber-amar ma’ruf dulu baru ber-nahi munkar….

    mungkin klo gaya dakwah bapak begini terus akan sangat susah menarik simpati kalangan asy’ari atau NU….
    kecuali klo niatan bapak bukan dakwah tp ingin menghajar, menjatuhkan, mematahkan argumen org2 yg berbeda paham dgn bapak….

    Perlu diingat dlm benak kita yg ingin berdakwah,
    bahwa dulu para sahabat Rosul banyak yg simpati n tertarik dgn Islam lbh krn melihat AKHLAQ Rosululloh dlm menyampaikan Islam.

    Agama adalah Nasehat,
    pastinya bapak yg paham nahwu shorof mengerti benar arti dari nasehat dlm bhs arab…
    krn Agama Islam itu benar n baik, maka memberi nasehat pun harus benar n baik

    sebagaimana bapak menulis buku “mendamaikan ahlusunnah…”
    bapak pun hrs bisa mengamalkan apa yg bapak tulis/sampaikan.

    kiranya ada kata2ku yg salah n menyinggung, mohon dima’afkan

  6. Ada banyak hal yang membuat kita jadi sering berantem, tapi sikap mati-matian mempertahankan apa yang menurut kita benar ini bisa jadi menjaga agama ini terhindar dari penyimpangan yang tak terkendali.

  7. abisyakir berkata:

    @ Sungai Nil…

    1. Saya kurang suka bahasa Ibu, selalu berkesan “menggurui”. Saya baca ini di beberapa tempat, termasuk disini. Ya cobalah bersikap lebih egaliter (setara) dengan orang lain. Jangan karena kita “kaya pengalaman” lalu mengabaikan posisi orang lain.

    2. Saya jelas secara sadar menyebut kata “bodoh” dan sejenisnya, karena menurut saya: dalam perkara perselisihan ilmiah, tidak boleh orang main vonis kafir sesuka hati. Itu sangat melanggar batas-batas norma ilmiah. Cara begitu adalah kebodohan.

    3. Ibu tidak perlu membeberkan masalah dakwah di Bandung yang pernah saya katakan; itu kan urusan di forum berbeda. Itu tak boleh dibuka dimana-mana. Setiap tempat (media diskusi) ada batasnya sendiri-sendiri.

    Intinya… gak bagus.
    Dan saya juga mohon maaf kalau menyinggung perasaan Ibu.

    Admin.

  8. abisyakir berkata:

    @ Dinar Zul Akbar…

    stelah mengatakan bodoh lantas bapak mngucap org2 kerdil. hasbunallah wa ni’mal wakil

    Respon: Coba saja Anda pikir. Saya baru mengatakan “bodoh” dan “kerdil” saja, Anda sudah sedemikian rupa. Padahal orang yang dikatai “bodoh” dan “kerdil” itu kan masih manusia. Namanya manusia, wajar punya kesalahan kekeliruan.

    Masalahnya, bagaimana orang-orang itu sampai “membuat logika” untuk menghancurkan ayat-ayat tentang ISTIWA’ yang sudah jelas-jelas sangat qoth-i disebutkan dalam Al Qur’an? Masalah ini sangat jelas dan tegas, sehingga anak kecil pun tahu, bahwa Allah ada di atas Arasy.

    Coba saja pahami logika aneh ini…

    “Kalau Allah di atas Arasy, lalu Allah lebih besar mana dengan Arasy? Kalau Allah lebih besar, berarti ada bagian Dzat-Nya yang “tidak ketampung” oleh Arasy. Kalau Allah lebih kecil dari Arasy, berarti Dia tidak Maha Besar (Akbar).”

    Masya Allah…bagaimana mungkin Allah diserupakan seperti ROTI yang bisa besar, bisa kecil? Atau seperti PENGGARIS yang bisa panjang bisa pendek. Subhanallah. Betapa kejinya logika seperti itu.

    Sudah saja, ketika Allah mengatakan diri-Nya ada di atas Arasy, kita cukup mengatakan: “Amanna bihi, kullun min ‘indi Rabbina” (kami imani hal itu, karena semua itu (ayat-ayat tersebut) datangnya dari sisi Rabb kami).

    Jadi kita tak usah pikirkan lagi, apakah Allah “lebih besar atau lebih kecil”, “di dalam ruang atau di luarnya”; karena semua itu TIDAK DITANYAKAN oleh Allah dan TIDAK PENTING bagi keimanan kita. Yang jelas, Allah sifatnya AKBAR (Maha Besar dari apapun makhluk-Nya).

    Demi Allah, andaikan Allah Ta’ala ingin menjelaskan keadaan sebenarnya tentang Diri-Nya, ilmu dan otak kita tak akan sanggup memahaminya. Maka itu, di batas keterbatasan otak manusia, saatnya kita diam. Orang pintar itu bukan paling hebat logikanya, tapi tahu saatnya dia berpikir, dan saatnya dia berhenti.

    Semoga dapat dipahami. Amin.

    Admin.

  9. sungai nil berkata:

    @ Saya kurang suka bahasa Ibu, selalu berkesan “menggurui”

    – sy yakin bapak membenarkan komentar sy, tp tetep tdk suka krn gaya sy menurut bapak yg berkesan “menggurui”…….
    Nah, bapak rasakan sendiri kan… walopun itu benar tp pembawaannya “kurang berkesan” bapak pun tetep tdk suka, bayangkan klo kebenaran itu disampaikan dgn celaan, kritikan pedes, atau julukan jelek…….yakin siapapun lbh tdk suka.

    @ Ya cobalah bersikap lebih egaliter (setara) dengan orang lain.

    – klo bersikap ”setara” antara laki2 n perempuan…menurut sy yg sprt itu justru sangat rentan pak…., setara sprt temen, dari temen share yg menyenangkan, berlanjut saling simpati n menghargai….akhirnya dr temen jd demen…..NGERI 😦

    sy pernah ngasih kritik saran yg lbh simpatik di sebuah majalah n***h, mrk memuatnya pd kolom kritik saran, tp mrk lupa tdk menyamarkan no hp sy……akhirnya cukup banyak ikhwan2 yg nge sms, dr mulai yg mengajak bisnis,,tp kebanyakannya yg mau kenalan, malah ada yg nge sms di tengah malam…mungkin bahasa mrk santun n teduh, tp intinya sama…”ngerayu” (padahal sy sdh nikah) sy layangkan protes ke pihak majalah, mrk hny minta maaf.
    sy jg prnh mencoba bersikap biasa sprt ngobrol ke temen dlm diskusi2, tp entah kenapa…..bbrp ikhwan malah berani malanjut dgn kirim pesen di inbox, terkadang ngajak chattt….
    bila laki2 bnyk yg mengeluhkan : “wanita itu susah dipahami”
    maka banyak wanita, termasuk sy….; “suka merasa serba salah menghadapi laki2”.

    ada postingan temen fb yakni istri seorang ust salafi yg terkenal dikalangan pecinta radio ‘r’ yg mengeluhkan sangat banyak sekali ikhwan yg meng addnya sampai 70 org lbh, pdhl dia dgn tegas pasang tulisan di wall nya “tak mau berteman dgn ikhwan”….
    kawan sy yg jg istri mendiang ust salafi, dia bercerita….. habis iddahnya tuntas, entah tau dari mana…..ikhwan2 sampai ada 6 orgnya datang mencoba melamar ke rumah…….., sy pikir…”waaw” luar biasa, ternyata walopun sdh begitu menutup aurat dgn syar’i se syar’i2nya, walopun sdh bersuami,,,,wanita itu memang tetep pny daya tarik.
    ,,,, mungkin bapak bisa liat catatan sy di fb tentang “fake ikhwan”
    mrk itu sama2 pd pny pasangan……,trnyt kedekatan itu berawal dr saling komentar-mengomentari dlm posisi ‘friend’ atau sprt kata bapak ‘setara’……..saling syukron2an, saling memuji, saling mendukung…….n berlanjut ke arah yg lbh mengerikan, Na’udzubillah

    krn itu sy pikir klo mau masuk ke diskusi dgn laki2, wanita itu baiknya ada di dua posisi…. di posisi bawel sekalian (sprt kata bapak ‘menggurui’) atau diposisi bawah ; yakni berkomentar seminim mungkin atau sprt yg benar2 ingin ‘bertanya’………
    krn itu sy bersikap sprt itu….. tp klo menurut bapak yg sprt ini salah baiknya bagaimana???
    apa wanita klo mau diskusi2an dgn laki2 harusnya nyamarin akun atau pura2 jd laki2 ??? atau wanita baiknya diam jgn ikut diskusi yg ada laki2nya,,, atau jgn bnyk komentar…… jd bgmn bagusnya bila wanita ingin diskusi/mengemukakan pendapat di dumay tp tdk sampai mengundang ketertarikan laki2 dgn kita??
    padahal sebenarnya sy ingin pengemban dakwah manhaj salaf semakin baik n diterima lbh luas…..

    sy prnh mengemukakan pendapat dgn gaya bawel….,lalu sy balik dicela banyak pihak n mrk pun menghapus kritik saran sy di suatu forum diskusi milik yayasan….tp mrk tetep mempertimbangkannya, krn sejak itu panitia dauroh berusaha agar para jama’ah itu bisa lbh tertib, n pak ust tdk prnh lg dauroh dr jam 9 pagi sampai jam 2 an,,, inti dr kritik saran sy; pengajian salafi suka krg kondusif n krg nyaman krn ibu2nya doyan ngobrol, anak2 berseliweran kesana-kemari, jama’ah suka jam karet datangnya, n dauroh yg kelamaan sampe jam 2 itu krg efektif…krn stlh dzuhur banyak sekali yg pulang, sdh gitu walopun ikut ngaji malah banyak yg ngantuk n ngobrol.

    @ Jangan karena kita “kaya pengalaman” lalu mengabaikan posisi orang lain.

    – Mohon Maaf……, klo bapak merasa tersudut,
    klo ‘diabaikan’ sj bapak pun mrasa tak suka……org lain pun sama pak,, sangat tdk suka dicela, diledek, diberi julukan jelek.
    bukannya di blog ini bapak pun banyak ngatai org, sprt mahfudz md emosian, raja segala kelebayan, orang2 aneh, atau dulu ngomentari seenaknya tentang abraham samad(sy berkomentar jg disitu) trus sy pernah baca (entah di artikel yg mana,soalnya lupa)disana bapak ngatai lukman ba’abduh si fasad bin dhalal, atau bapak ngatai si setan sa’id agil siraj dan lain2nya…….. apa krn bapak merasa benar n yg lain semuanya salah jd sah2 sj dikatai sprt itu
    mungkin lebel yg bapak berikan ke mrk sesuai dgn keadaan mrk,,
    tp biasanya klo kita bisa memperlakukan org sprt itu(siapapun dia), maka kitapun harus siap diperlakukan sama(oleh siapapun)….
    ibarat kata jika kita ngasih telur busuk ke org, jangan harap mereka membalasnya dgn ngasih daging ayam segar………

    @ Saya jelas secara sadar menyebut kata “bodoh” dan sejenisnya, karena menurut saya: dalam perkara perselisihan ilmiah, tidak boleh orang main vonis kafir sesuka hati. Itu sangat melanggar batas-batas norma ilmiah. Cara begitu adalah kebodohan.

    – khas abisyakir bangeeeeeeet……….., selalu mencari-cari celah tertentu utk membela pendapat sendiri, ya sudah………, biasanya kita2 suka lbh narsis dgn pendapat sendiri. Tapii bapak itu kan ust n murid2 bapak pastinya suka jg menyambangi blognya bapak…….trus bgmn klo mrk meniru kata2 bapak n mengaplikasikannya dlm kehidupan nyata,,,, menurut bapak kira2 apa yg terjadi??

    @ Ibu tidak perlu membeberkan masalah dakwah di Bandung yang pernah saya katakan; itu kan urusan di forum berbeda. Itu tak boleh dibuka dimana-mana. Setiap tempat (media diskusi) ada batasnya sendiri-sendiri.
    – bukannya pengalaman dakwah bapak ditulis jg diblog ini !!

    bapak ust abisyakir yg terhormat, bapak pun merasakan hal yg sama kan ?! intinya ….tdk suka klo kekurangan bapak dibuka dimana-mana. Padahal sy cuma bbrp kalimat mengungkap kekurangan bapak, gak nyampe sebuku…dan tempatnya pun gak dimana-mana kok, gak sampe ke pasar2, cuma diblog bapak sini…….
    Klo bapak begitu sigap membongkar aib2 org krn mrk dianggap salah n menyimpang, maka bapak pun pasti akan menghadapi org2 yg akan membongkar kekurangan2 bapak, krn bapak jg bukan org yg ma’shum.

    @ Intinya… gak bagus.
    Trimakasih penilaian bapak ke sy bener banget 1000%……., krn boleh jadi sy yg mengkritik tdk lbh baik dr org yg sy kritik……..

    @ Dan saya juga mohon maaf kalau menyinggung perasaan Ibu.
    – ( ^_^ )

    ;sedikit cerita…, sy suka mampir ke bbrp blog milik para ust atau tulisan ikhwan yg alim di jejaring sosial atau mampir ke media islam, tp bila ditulisan tsb bnyk saya dapati kritik2 pedes kpd “person” entah kenapa…. Bawaannya sy malah jd suka penasaran dgn karakter para pengkritik n tertantang utk balik mengkritisi…, tp bila diblog ust tsb tdk ada celaan kpd “person”, sy lbh banyak memposisikan diri sbg penanya,, krn terus terang…sy SEGEN kpd ust2 yg tdk suka mencela org.

  10. sungai nil berkata:

    satu lagi,, perasaan dulu bukan ini mottonya :
    pembinaan spiritual, kemandirian ekonomi, wawasan ilmiah

    tp… madiska madiska apaa gitu…lupa lg

    dan klo diperhatikan blog ini tdk sesuai motto
    – artikel pembinaan spriritual = kurang
    – artikel kemandirian ekonomi = kurang bangeet
    – artikel wawasan ilmiah = kurang

    artikel yg mendominasi lbh banyak ke opini2 pribadi

  11. abisyakir berkata:

    @ Sungai Nil…

    – sy yakin bapak membenarkan komentar sy, tp tetep tdk suka krn gaya sy menurut bapak yg berkesan “menggurui”……. Nah, bapak rasakan sendiri kan… walopun itu benar tp pembawaannya “kurang berkesan” bapak pun tetep tdk suka, bayangkan klo kebenaran itu disampaikan dgn celaan, kritikan pedes, atau julukan jelek…….yakin siapapun lbh tdk suka.

    Respon: Kita kan sudah sering komunikasi di forum lain (FB). Bahkan saya pernah ke rumah Ibu. Ibu selama ini bukan saya anggap sebagai lawan atau musuh. Kenapa bahasa Ibu jadi kayak mengadili begitu. Itu bukan sekali ini, lho. Saya berusaha hargai Ibu, tapi kok sikapnya begitu. Beda lho dengan para pembaca lain yang matoritas saya tidak tahu apa-apa tentang mereka.

    – klo bersikap ”setara” antara laki2 n perempuan…menurut sy yg sprt itu justru sangat rentan pak…., setara sprt temen, dari temen share yg menyenangkan, berlanjut saling simpati n menghargai….akhirnya dr temen jd demen…..NGERI 😦

    Respon: Ya Ilahi ya Rahmaan, kenapa kok jadi kesana ya? Apa selama ini saya pernah melakukan hal itu ke Ibu? Masya Allah deh. Maksudku, kalau diskusi ya kita merasa sejajar saja, tidak merasa lebih bepengalaman, lebih tahu segala-galanya tentang kondisi di lapangan. Saya kan gak enak mau membantah, kalau sejak awal Ibu sudah memposisikan “ingin ngajarin orang”. Toh soal “bantah-bantahan” itu sudah pernah kita lakukan lewat pesan FB. Apa mau diterusin disini?

    klo ‘diabaikan’ sj bapak pun mrasa tak suka……org lain pun sama pak,, sangat tdk suka dicela, diledek, diberi julukan jelek. bukannya di blog ini bapak pun banyak ngatai org, sprt mahfudz md emosian, raja segala kelebayan, orang2 aneh, atau dulu ngomentari seenaknya tentang abraham samad(sy berkomentar jg disitu) trus sy pernah baca (entah di artikel yg mana,soalnya lupa)disana bapak ngatai lukman ba’abduh si fasad bin dhalal, atau bapak ngatai si setan sa’id agil siraj dan lain2nya…….. apa krn bapak merasa benar n yg lain semuanya salah jd sah2 sj dikatai sprt itu. mungkin lebel yg bapak berikan ke mrk sesuai dgn keadaan mrk,,

    Respon: Saya tidak masalah Ibu mau kritik, mau menyerang, atau apalah. Toh bukan sekali dua kali saya mengalami itu. Yang saya tidak suka…coba Ibu Neila cermati…saya gak suka gaya ibu yang sok menggurui itu. Itu saja. Saya kan bukan anak kecil Bu. Kalau Ibu ada kritik, silakan tak masalah. Tapi gak usah berlagak seperti Ibu yang “tahu segala-galanya”. Saya jadi gak nyaman kalau diskusi begitu. Mau dibantah, ini Ibu-ibu, bercadar lagi. Gak dibantah, saya gak suka gayanya.

    Soal Mahfud emosian… lha wong nyatanya begitu. Hanya gara-gara salah satu orang, dia suruh MK dibubarkan. Menurut Ibu, itu bukan emosian?

    Soal Lukman Ba’abduh fasad bin dhalal… dia nulis buku “Mereka Adalah Teroris”. Isinya pembenaran agar aparat keamanan membabat habis gerakan-gerakan Islam yang dianggap radikal. Menurut ibu, apa buku itu tidak berbahaya bagi keselamatan kaum Mukminin?

    Soal Said Aqil Siradj… dia bilang, ciri pelaku teroris: suka baca Al Qur’an, suka shaum sunnah, suka shalat malam. Lha, Nabi Saw kan cocok dengan semua ciri-ciri itu. Apa itu rela ajaran Islam direndahkan oleh orang semacam itu.

    Soal raja kelebayan… ini soal SBY… Orang itu kalau Demokrat diserang disana-sini, dia marah besar; tapi kalau urusan hak-hak rakyat, kekayaan bangsa, aset negara, diambili orang asing: dia diam-diam saja. Di zaman Megawati hutang negara mencapai 1250 triliun, di zaman SBY (belum sampai 10 tahun) hutang melonjak sampai 2025 triliun. Siapa yang akan membayar hutang2 itu nantinya? Ya kaum Muslimin, kita, dan keturunan kita. Ibu marah ya kalau orang begitu kita kritik keras?

    Masya Allah…kami ini tidak sesembrono yang Ibu bayangkan; walhamdulillah. Semua urusan kami coba perhatikan detailnya dan konsekuensinya, insya Allah.

    – khas abisyakir bangeeeeeeet……….., selalu mencari-cari celah tertentu utk membela pendapat sendiri, ya sudah………, biasanya kita2 suka lbh narsis dgn pendapat sendiri. Tapii bapak itu kan ust n murid2 bapak pastinya suka jg menyambangi blognya bapak…….trus bgmn klo mrk meniru kata2 bapak n mengaplikasikannya dlm kehidupan nyata,,,, menurut bapak kira2 apa yg terjadi??

    Respon: Ya Ilahi, aneh sekali. Dalam masalah ikhtilaf ada yang bersifat Ushuliyah, ada yang bersifat Furu’iyah. Bukan hanya dalam bidang fiqih, dalam bidang akidah hal itu juga ada. Masalah Rukun Iman dan Rukun Islam, termasuk urusan Ushuliyah (prinsipil); sehingga tidak membolehkan terjadinya perbedaan disana. Adapun masalah cabang, boleh berbeda, dan itu dihormati. Hal ini saya bahas banyak di buku “Mendamaikan Ahlus Sunnah”. Saya merujuk pendapat Abu Thahir Al Baghdadi penulis Al Farqu Bainal Firaq; juga buku Akidah Salaf dan Khalaf Syaikh Al Qaradhawi. Juga merujuk tulisan Dr. Muhammad Fathy tentang Mafhum Ahlus Sunnah Wal Jamaah Bainat Tausi’ Wa Tadhyiq. Juga ada fatwa Ibnu Taimiyah tentang Asy’ariyah.

    Masya Allah, sikap lapang dalam perbedaan furu’iyah itu sudah dikenal para ulama. Tidak boleh orang main takfir gara-gara perbedaan furu’iyah ini. Mengapa hal ini Ibu sebut “membela diri”? Apa tidak boleh kita membela diri dengan hujjah ilmiah yang baik dan insya Allah benar? Aneh.

    – bukannya pengalaman dakwah bapak ditulis jg diblog ini !! bapak ust abisyakir yg terhormat, bapak pun merasakan hal yg sama kan ?! intinya ….tdk suka klo kekurangan bapak dibuka dimana-mana. Padahal sy cuma bbrp kalimat mengungkap kekurangan bapak, gak nyampe sebuku…dan tempatnya pun gak dimana-mana kok, gak sampe ke pasar2, cuma diblog bapak sini……. Klo bapak begitu sigap membongkar aib2 org krn mrk dianggap salah n menyimpang, maka bapak pun pasti akan menghadapi org2 yg akan membongkar kekurangan2 bapak, krn bapak jg bukan org yg ma’shum.

    Respon: Coba Ibu sebutkan, mana ungkapan pengalaman saya seputar dakwah di Bandung itu, di blog ini. Seingat saya, saya bicara itu saat di message FB dengan Ibu. Bukan disini.

    Bukan saya tak mau diungkap kekurangan saya. Tapi itu kan ada sisi amanahnya Bu. Mungkinkan saya akan bicara Ibu hal-hal yang sensitif kalau Ibu tidak saya percaya? Masak yang begini saja tidak mengerti. Maka itu Bu ada ungkapan baik: Kullu maqalin maqamun wa kullu maqamin maqalun (setiap ucapan ada tempatnya, setiap tempat ada ucapan yang pas untuk itu).

    Bagi saya, kalau orang tidak amanah dalam ucapan (tulisan), ya saya anulir. Orang demikian tak layak diberi kepercayaan. Ya saya akan belajar dari hal-hal seperti ini.

    sy suka mampir ke bbrp blog milik para ust atau tulisan ikhwan yg alim di jejaring sosial atau mampir ke media islam, tp bila ditulisan tsb bnyk saya dapati kritik2 pedes kpd “person” entah kenapa…. Bawaannya sy malah jd suka penasaran dgn karakter para pengkritik n tertantang utk balik mengkritisi…, tp bila diblog ust tsb tdk ada celaan kpd “person”, sy lbh banyak memposisikan diri sbg penanya,, krn terus terang…sy SEGEN kpd ust2 yg tdk suka mencela org.

    Respon: Ya silakan Bu kesana. Toh kita tak mewajibkan orang harus selancar di media ini. Ini media terbuka, orang boleh keluar-masuk dengan bebas. Tapi kalau orang itu “kelihatan gelagat gak bagus” ya saya tandai, semampunya, dengan izin Allah.

    Bagi saya, dakwah yang benar bukan “selalu halus” atau “cicing wae”; tapi ya seperti bunyi sebuah doa yang penuh berkah: Rabbana arinal haqqa haqqa warzuqnat tiba’ah wa arinal bathila bathila warzuqnaj tinabah (ya Allah tunjuki yang baik itu baik, beri kami kekuatan untuk mengikutinya; tunjukkan yang bathil itu bathil, beri kami kemampuan untuk menjauhinya).

    Kalau Ibu tidak suka, itu hak Ibu. Kami tidak bisa memaksa. Terimakasih.

    Admin.

  12. abisyakir berkata:

    @ Sungai Nil…

    satu lagi,, perasaan dulu bukan ini mottonya :
    pembinaan spiritual, kemandirian ekonomi, wawasan ilmiah

    tp… madiska madiska apaa gitu…lupa lg

    dan klo diperhatikan blog ini tdk sesuai motto
    – artikel pembinaan spriritual = kurang
    – artikel kemandirian ekonomi = kurang bangeet
    – artikel wawasan ilmiah = kurang

    artikel yg mendominasi lbh banyak ke opini2 pribadi

    Respon: Terimakasih atas komentarnya. Ini belum seberapa dibandingkan kritikan yang lain. Mereka bisa lebih heboh dari ini.

    Kritikan semisal ini sebenarnya juga berlaku bagi Bu Neil sendiri. Seakan kritikan Ibu itu meminta tanggung-jawab dari Ibu: sejauh mana Ibu sudah berbuat? Sudah saatnya Ibu membuat suatu karya yang lebih baik; jangan “keluyuran” kemana-mana untuk mengumbar kritik demi kritik. Seolah diri “paling pengalaman” di muka bumi. Yah, gak baguslah yang begitu.

    Admin.

  13. sungai nil berkata:

    baiklah…..bapak yg memenangi diskusi ini !!
    sudah cukup bagi sy.
    Trimakasih, sy senang mengenal bapak

    baru akhir2 ini sy paham betapa buruknya kebanyakan debat,
    krn jatuhnya kita malah saling men-judge, saling menjelekkan, saling menyalahkan
    – sy baru mengerti, kenapa salafush shalih begitu menghindari debat kusir…

    @Sudah saatnya Ibu membuat suatu karya yang lebih baik;
    jangan “keluyuran” kemana-mana untuk mengumbar kritik demi kritik. Seolah diri “paling pengalaman” di muka bumi. Yah, gak baguslah yang begitu.

    – sy mengelola bisnis olshop di bidang fashion n jd dropshiper kosmetik,, jg bantu2 suami memasarkan produk tas karyanya n barang dagangan lainnya… pastinya tiap hari sy buka internet, walou tdk tiap hari sy buka fb, klo sy sekali-kali mampir2 apa salah ya ?!

    Terakhir sy ucapkan Jazakalloohu khoiron atas segala tuduhannya,
    sdh cukup tak perlu sy membela diri.

    WASSALAMU’ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH

  14. unian berkata:

    saya rasa bapak-ibu-mbk-mas orang alim semua pandai dalam maslah agama..
    Tapi kok suka sangat berdebat yaa? Padahal setau saya berdebat itu harus dijauhi..apalagi mendebatkan wujud Allah sang maha kuasa apkah tidak takut dosa?

  15. mutiarazuhud berkata:

    Terlepas dari permasalahan pentakfiran

    “al Istiwa ma’lum wa al kayfiyyah majhulah” atau “Istiwa (bersemayam) Allah seperti yang kita ketahui maknanya, mengimaninya wajib dan bagaimana Istiwa (bersemayam) Allah tidak diketahui”.

    Perkataan semacam itu sama sekali bukan riwayat yang berasal dari al Imam Malik atau lainnya.

    Orang-orang yang menetapkan istiwa (bersemayam) Allah dengan makna dzahir dengan maksud Allah ta’ala berada (bertempat) di atas ‘Arsy maka mereka justru telah menetapkan adanya kayfiyyah bagi istawa Allah walaupun mereka mengikutinya dengan perkataan “kayfiyyahnya tidak diketahui”.

    Dalam riwayat al-Lalika-i dari Ummu Salamah; Umm al-Mu’minin, dan riwayat Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman (salah seorang guru al-Imam Malik) berkata: “al-Istiwa Ghair Majhul Wa al-Kayf Ghairu Ma’qul” artinya , al-Istiwa sudah jelas diketahui dan adanya al-Kayf (sifat benda) bagi Allah adalah sesuatu yang tidak masuk akal”

    Hal yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an

    Al-Hafizh al-Bayhaqi dari jalur Yahya ibn Yahya telah meriwayatkan bahwa ia -Yahya ibn Yahya- berkata: “Suatu saat ketika kami berada di majelis al-Imam Malik ibn Anas, tiba-tiba datang seseorang menghadap beliau, seraya bekata: Wahai Abu Abdlillah, ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa, bagaimanakah Istawa Allah? Lalu al-Imam Malik menundukan kepala hingga badanya bergetar dan mengeluarkan keringat. Kemudian beliau berkata: “al-Istiwa’ telah jelas -penyebutannya dalam al-Qur’an- (al-Istiwa Ghair Majhul), dan “Bagaimana (sifat benda)” tidak logis dinyatakan kepada Allah (al-Kayf Ghair Ma’qul), beriman kepada adanya sifat al-Istiwa adalah wajib, dan mempermasalahkan masalah al-Istiwa tersebut adalah perbuatan bid’ah. Dan bagiku, engkau tidak lain kecuali seorang ahli bid’ah”. Lalu al-Imam Malik menyuruh murid-muridnya untuk mengeluarkan orang tersebut dari majelisnya. Al-Imam al-Bayhaqi berkata: “Selain dari al-Imam Malik, pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Rabi’ah ibn Abd ar-Rahman, guru dari al-Imam Malik sendiri” (Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 408).

    Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut:

    “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan kayfiyyah Istiwa bagi Allah (kesalahan orang itu karena bertanya “bagaimanakah Istiwa Allah”).

    Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna dzahirnya. Tentu makna dzahir istawa adalah menetap, duduk, bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yang lain. Makna dzhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik.

    Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya kayfiyyah bagi (istawa) Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

  16. mutiarazuhud berkata:

    Istawa atau dalam bahasa Indonesianya artinya bersemayam mempunyai dua makna yakni makna dzahir dan makna majaz

    Makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari bersemayam menurut kamus bahasa Indonesia adalah

    1. duduk; Pangeran bersemayam di kursi kerajaan
    2. tinggal; berkediaman, bertempat; Presiden bersemayam di Istana Negara

    Sedangkan makna tersirat atau makna majaz (makna kiasan) dari bersemayam adalah contohnya terkait dengan hati, terpendam dalam hati, tersimpan (kata kiasan); Sudah lama dendam itu bersemayam di hatinya atau cinta bersemayam di hatinya.

    Allah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”

    Allah ta’ala bersifat Qadim (terdahulu).

    Allah ta’ala tidak berubah, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh langit ataupun ‘arsy, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh ciptaanNya.

    Allah ta’ala tidak berubah, tidak berpindah, segala yang berpindah mempunyai bentuk dan ukuran sedangkan bentuk dan ukuran adalah sifat makhluk bukan sifat Allah Ta’ala.

    Imam sayyidina Ali ibn Abi Thalib karamallahu wajhu berkata: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W 430 H) dalam Hilyah al-Auliya, juz 1, h. 72).

    Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

    Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy , sebagaimana setelah diciptakan ‘Arsy

    Sebuah perubahan jika sebelum diciptakan ‘Arsy tidak bertempat kemudian menjadi bertempat di atas ‘Arsy setelah diciptakan ‘Arsy

    Allah ta’ala tidak berubah, tidak bertempat sebelum diciptakan ‘Arsy dan tidak bertempat setelah diciptakan ‘Arsy.

    Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya, sebagaimana setelah diciptakan ciptaanNya

    Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya

    Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir” (QS Al Hadiid [57]:3)

    Hal yang harus diperhatikan jika mengutip perkataan atau pendapat ulama Salaf ataupun Imam Mazhab yang empat dan para pengikutnya terkait ayat-ayat sifat maka kita harus dapat membedakan apakah perkataan atau pendapat tersebut berfungsi menyampaikan untuk menjelaskan atau sekedar ‘ala sabilil hikayah, menetapkan lafazhnya (itsbatul lafzhi) saja; yaitu hanya mengucapkan kembali apa yang diucapkan oleh al Qur’an, “Ar-Rahmanu alal arsy istawa” atau “A’amintum man fis sama’“. Tidak lebih lebih dari itu; yaitu tidak memaknakan (tafsir) atau tidak menetapkan maknanya (itsbatul ma’na) secara dzahir bahwa Allah ta’ala berada atau bertempat di langit atau Allah berada atau bertempat di atas ‘arsy.

    Ulama Hanbali yang ternama, Al-Imam al-Hafizh al Alamah AbulFaraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as- Shiddiqi al-Bakri atau yang lebih dikenal dengan Ibn al Jawzi secara khusus membuat kitab berjudul Daf’u syubahat-tasybih bi-akaffi at-tanzih contoh terjemahannya pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/12/dafu-syubah-imam-ibn-al-jauzi.pdf untuk menjelaskan kesalahpahaman tiga ulama yang semula Hanabila yang merupakan guru guru besar kaum Musyabbihah atau Mujassimah seperti

    1. Abu Abdillah al-Hasan bin Hamid bin Ali al-Baghdadial-Warraq, wafat 403 H, guru dari Abu Ya’la al-Hanbali. Beliau ini pengarangbuku ushuluddin yang bernama “syarah usuluddin” dimana diuraikan banyak tentang tasybih, yaitu keserupaan Tuhan dengan manusia.

    2. Muhammad bin al Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmadal-Baghdadi al-Hanbali, dikenal dengan sebutan Abu Ya’la al-Hanbali. Lahir tahun 380 H, wafat 458 H. Beliau ini banyak mengarang kitab Usuluddin yang banyak menyampaikan tentang tasybih. Ada ulama mengatakan bahwa “Aib yang dibuat Abu Ya’ala ini tidak dapat dibersihkan dengan air sebanyak air laut sekalipun”. Tampaknya cacat pahamnya terlalu besar.

    3. Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Nashr az-Zaghunial-Hanbali, wafat 527 H. Beliau ini pengarang sebuah buku dalam usuluddin yangberjudul “Al Idah”, di mana banyak diterangkan soal tasybih dan tajsim.

    Ibn al Jawzi menjelaskan contoh kesalahpahaman mereka sebagai berikut

    **** awal kutipan *****
    Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh kaum mujassimah adalah firman Allah

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

    aamintum man fiis samaa-i (QS Al Mulk [67]:16)

    Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna dzahirnya karena dasar kata fis sama dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”; padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun.

    Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi (makna dzahir) seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
    ***** akhir kutipan ******

    Terhadap firmanNya pada (QS Al Mulk [67]:16) para mufassir (ahli tafsir) menafsirkannya menjadi “Apakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit”

  17. abisyakir berkata:

    @ Unian…

    saya rasa bapak-ibu-mbk-mas orang alim semua pandai dalam maslah agama.. Tapi kok suka sangat berdebat yaa? Padahal setau saya berdebat itu harus dijauhi..apalagi mendebatkan wujud Allah sang maha kuasa apkah tidak takut dosa?

    Respon: namanya juga blog untuk mencerdaskan wawasan, ya pasti ada debat disini. Kalau merasa belum siap membaca wawasan demikian, ya monggo silakan mencari yang minus perdebatan. Tapi bernar, soal Dzat Allah memang mestinya tak didebatkan. Terimakasih, jazakallah.

    Admin.

  18. abisyakir berkata:

    @ Sungai Nil…

    *) Ibu, Ibu, kita disini bukan cari “menang-menangan”. Buat apalah beragama kalau cuma itu yang dicari. Gak usah susah-susah kita buat media begini.
    *) Ibu baru nyadar soal “buruknya debat”? Itu pun setelah Ibu menuduh blog ini hanya memuat “opini pribadi” dan sekian kritik yang Ibu lontarkan.
    *) Ya Ibu tak salah main internet, wong ini namanya wasilah teknologi. Sifatnya mubah. Tapi Ibu kalau bicara tentang dakwah dan kegiatan Islam, kesannya ingin orang lain “seperti selera Ibu”. Itu yang aku bilang “menggurui”. Sejelek-jeleknya cara dakwah saya, saya sudah melakukan Bu, sedikit atau banyak. Kalau Ibu saya tak tahu… Orang yang melakukan, meskipun sedikit, itu lebih baik daripada yang semata menilai.
    *) Ya saya pahamlah bagaimana seorang wanita. Maka itu saya heran, kok berani-beraninya Ibu memulai perdebatan seperti itu. Andaikan Ibu menahan diri, atau mempersiapkan ilmu secukup-cukupnya lalu berdiskusi, itu masih lebih baik.

    Bahkan Ibu sampai bilang bahwa “gaya khas abisyakir”. Masya Allah. Waktu aku bicara sama suamimu di rumahmu, apa aku bersikap seperti itu? Omongan itu sebenarnya bahaya, kalau seseorang sadar.

    Mohon INGAT BU ya…rata-rata sikap keras saya dalam dakwah, kalau Ibu anggap demikian, rata-rata bersifat REAKSI. Coba saja Ibu perhatikan! Boleh dong orang bereaksi kalau melihat hal-hal yang jelek bagi Islam dan Umat, atau hal-hal yang bersifat bisa merusak dirinya dirinya.

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Admin.

  19. abisyakir berkata:

    @ Mutiara Zuhud…

    “Al Istiwa ma’lum wa al kayfiyyah majhulah” atau “Istiwa (bersemayam) Allah seperti yang kita ketahui maknanya, mengimaninya wajib dan bagaimana Istiwa (bersemayam) Allah tidak diketahui”. Perkataan semacam itu sama sekali bukan riwayat yang berasal dari al Imam Malik atau lainnya.

    Respon: Lho kan riwayat ini memang sumbernya dari Imam Malik, mengapa masih diragukan? Ulama-ulama akidah menyebutkan hal itu.

    Orang-orang yang menetapkan istiwa (bersemayam) Allah dengan makna dzahir dengan maksud Allah ta’ala berada (bertempat) di atas ‘Arsy maka mereka justru telah menetapkan adanya kayfiyyah bagi istawa Allah walaupun mereka mengikutinya dengan perkataan “kayfiyyahnya tidak diketahui”.

    Respon: Ayatnya sudah jelas-jelas sama sekali. Itu pun diulang-ulang dengan pola yang mirip. Allahu ‘alal arsyi is-tawa. Jelas banget, jelas lah. Allah bersemayam di atas Arasy. Arasy ada di atas langit yang tinggi. Trus apa lagi?

    Soal bagaimana cara Allah bersemayam di atas Arasy, apakah duduk, bersila, menempel, mengambang, mengapung, dan seterusnya; itu bukan urusan kita. Kita tidak dibebani kewajiban Syariat untuk mikir sejauh itu. Itu di luar kuasa kita. Kita cukup yakin saja, bahwa perbuatan Allah (Istiwa’) itu pastilah agung, mulia, sempurna, tidak ada cacat sedikit pun; sesuai Keagungan dan Kesempurnaan-Nya. Kita juga yakin, bahwa Istiwa’-nya Allah berbeda dengan istiwa’-nya semua makhluk-Nya. Kan mudah kan? Tidak berbelit-belit.

    Hal yang dimaksud “Ghair Majhul” di sini ialah bahwa penyebutan kata tersebut benar adanya di dalam al-Qur’an. Ini dengan dalil riwayat lain dari al-Lalika-i sendiri yang mempergunakan kata “al-Istiwa madzkur”, artinya kata Istawa telah benar-benar disebutkan dalam al-Qur’an. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “al-Istiwa Ghair Majhul” artinya benar-benar telah diketahui penyebutan kata Istawa tersebut di dalam al-Qur’an

    Respon: Nah, kalau sudah jelas, kenapa kita mesti mendebatkan soal Istiwa’ itu? Apa susahnya mengimani Allah Istiwa’ di atas Arasy? Masya Allah ya…anak remaja, anak kecil pun, bisa diajarkan bahwa Allah ada (Istiwa’) di atas Arasy. Kenapa kemudian kita jadi bingung sendiri?

    Kalau ada ayat Allah yang kira-kira debatable, kenapa kita tidak mengatakan saja: Amantu bihi kullun min ‘indi Rabbina. Kenapa kita harus memikirkan: berarti Allah butuh tempat, Allah butuh ruangan, Allah punya ukuran ini itu, dan seterusnya. Soal bagaimananya Allah bersemayam di atas Arasy, itu bukan urusan kita; itu urusan Allah. Kita tak usah masuk wewenang Dia.


    Dalam mengomentari peristiwa ini, asy-Syaikh Salamah al-Uzami, salah seorang ulama al-Azhar terkemuka dalam bidang hadits, dalam karyanya berjudul Furqan al-Qur’an, mengatakan sebagai berikut: “Penilaian al-Imam Malik terhadap orang tersebut sebagai ahli bid’ah tidak lain karena kesalahan orang itu mempertanyakan kayfiyyah Istiwa bagi Allah (kesalahan orang itu karena bertanya “bagaimanakah Istiwa Allah”). Hal ini menunjukan bahwa orang tersebut memahami ayat ini secara indrawi dan dalam makna dzahirnya. Tentu makna dzahir istawa adalah menetap, duduk, bertempat, atau menempelnya suatu benda di atas benda yang lain. Makna dzhahir inilah yang dipahami oleh orang tersebut, namun ia meragukan tentang kayfiyyah dari sifat duduk tersebut, karena itu ia bertanya kepada al-Imam Malik. Artinya, orang tersebut memang sudah menetapkan adanya kayfiyyah bagi (istawa) Allah. Ini jelas merupakan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), dan karena itu al-Imam Malik meyebut orang ini sebagai ahli bid’ah” (Furqan al-Qur’an Bain Shifat al-Khaliq Wa al-Akwan, h. 22).

    Respon: Bisa jadi persepsi yang dimaksud begitu (seperti yang disebut ulama Al Azhar itu); tapi bisa jadi lain. Imam Malik rahimahullah merasa bergetar ketika ditanya masalah “kaifiyah istiwa'” karena memang belum pernah ada orang sebelum itu, apalah Nabi, para Khalifah Rasyidah, para Shahabat Ra menanyakan masalah itu. Mereka tahu ayatnya, mengimaninya, sudah, titik. Tidak perlu tahu, “Bagaimananya perbuatan Allah?”

    Ya kan bahaya banget yo nanyakan “bagaimana perbuatan Allah”; itu kan sama saja dengan “menggugat ayat-ayat Al Qur’an” yang menyebutkan perbuatan-perbuatan Allah; bukan hanya soal Istiwa’. Wajar Imam Malik seperti “kesamber geledek” mendengar pertanyaan itu. Mana orang zaman Salaf yang menanyakan deskripsi perbuatan Allah? Apalagi yang ditanya soal sangat sensitif, Istiwa’-nya Allah?

    Pernah ada orang bertanya, bagaimana cara Allah menghidupkan kehidupan yang telah mati; lalu dia ditidurkan selama 100 tahun, lalu dihidupkan kembali. Setelah itu dia tak nanya-nanya lagi. Ibrahim As juga pernah tanya soal cara Allah menghidupkan yang telah mati, lalu diperintahkan memotong burung, lalu dagingnya disebar ke beberapa penjuru gunung. Kemudian burung itu hidup kembali seperti sedia kala. Setelah itu Ibrahim tidak tanya tanya lagi. Kaum Nabi Isa As meminta diturunkan hidangan dari langit. Akibatnya, mereka diancam siksa sangat keras. Musa bertanya penampakan Allah, lalu Allah menampakkan diri ke gunung; gunung hancur lebur, Musa seketika pingsan. Ini semua disbut dalam Al Qur’an: bahwa sangat tidak sopan kita bertanya perbuatan Allah; apalagi sampai menanyakan Istiwa’nya Allah? Masya Allah. Itu kurang ajar sekali.

    Kami yakin Allah bersemayam di atas Arasy. Soal bagaimana cara Dia Istiwa’, kami angkat tangan. Kita tak dibebani kewajiban untuk tahu soal itu. Otak kita tak akan sampai untuk mendapati kebenaran dalam soal itu (selama hidup di dunia ini). Nanti di Akhirat, kita bisa tanyakan hal itu kepada Allah Ta’ala; kalau di dunia, kita terima saja apa adanya yang Dia Firmankan.

    Admin.

  20. abisyakir berkata:

    @ Mutiara Zuhud….

    Istawa atau dalam bahasa Indonesianya artinya bersemayam mempunyai dua makna yakni makna dzahir dan makna majaz. Makna dzahir/harfiah/tertulis/tersurat dari bersemayam menurut kamus bahasa Indonesia adalah: 1. duduk; Pangeran bersemayam di kursi kerajaan. 2. tinggal; berkediaman, bertempat; Presiden bersemayam di Istana Negara.

    Respon: Ya kamus itu adalah untuk standar manusia. Untuk standar binatang belum tentu. Misal, kata “duduk”. Duduk disitu pasti duduknya manusia; sebab kalau yang “duduk” adalah jangkrik, kucing, ayam, sudah beda lagi deskripsinya. Nah, apa kamus begitu mau dipakai untuk standar perbuatan Allah?

    Sedangkan makna tersirat atau makna majaz (makna kiasan) dari bersemayam adalah contohnya terkait dengan hati, terpendam dalam hati, tersimpan (kata kiasan); Sudah lama dendam itu bersemayam di hatinya atau cinta bersemayam di hatinya.

    Respon: Ya disini disebut istiwa’ punya makna majaz. Apakah semua kata dan kalimat dalam Kitabullah juga perlu makna majaz? Kalau jawabnya IYA: bagaimana dengan ayat yang bunyinya “aqimus shalah”, apakah shalat disana maknanya majaz? Kalau jawabnya, tidak semua kata/kalimat punya makna majaz, cuma pada kata-kata tertentu saja, pertanyaannya: siapa yang ngatur kalau kata ini majazi, kalau kata itu zhahiri, kalau kata yang disono baina majazi wa zhahiri? Siapa yang akan ngatur begituan? Apa perlu ditulis Fikih Majazi untuk memenuhi kebutuhan itu?

    Allah ta’ala berfirman dalam hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu ’Umar r.a.: “Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan mampu menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”

    Respon: Afwan, aku tidak tahu penjelasan soal riwayat ini. Tidak bisa berkomen banyak.

    Allah ta’ala bersifat Qadim (terdahulu). Allah ta’ala tidak berubah, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh langit ataupun ‘arsy, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh ciptaanNya.

    Respon: Yang jelas Allah bersemayam di atas Arasy. Itu saja. Apakah Dia dalam ruang, di luar ruang, atau tidak di dalam dan tidak di luar ruang; itu bukan urusan kita. Allah Ta’ala menegaskan dalam Kitab-Nya tentang perbuatan Dia: Fa’alul li maa yurid (Dia melakukan apa yang Dia inginkan). Mau dalam ruang, mau di luar ruang; kalau Dia mau, Dia bisa melakukan itu. Mudah bagi-Nya melakukan sesuatu, kalau Dia ingin.

    Coba renungkan cerita Musa As di Surat Al A’raff. Ketika itu Allah tajalli (menampakkan Diri) ke gunung, sehingga gunung itu hancur berkeping-keping, lalu Musa pingsan. Coba perhatikan, Allah menampakkan diri ke gunung, padahal gunung itu ada di bumi, ada di bawah langit, kenapa yang hancur hanya gunung itu sendiri? Mengapa bumi tidak ikut hancur? Kenapa langit tidak ikut berkeping-keping? Kenapa lautan tidak ikut hancur lebur? Kenapa? Ya karena Allah sudah menegaskan, Dia akan menampakkan diri ke gunung itu saja. Coba Anda pikirkan, kok bisa gunung hancur karena ketakutan, sementara bumi, laut, langit dan seterusnya baik-baik saja. Karena Allah itu bisa melakukan apa saja yang Dia kehendaki.

    Lalu ada sekumpulan manusia yang lancang. Mereka coba ingin membatasi Allah, membatasi Sifat-Nya, Perbuatan-Nya, bahkan membatasi Dzat-Nya, dengan otak dan akalnya. Mereka tak mau menerima Allah yang dijelaskan sendiri lewat Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya; mereka ingin memenjara Allah dengan kekuatan otak, logika, dengan setumpuk kitab-kitab yang dimilikinya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Tidak boleh seperti itu. Itu sangat lancang di sisi Ar Rabbul ‘alamiin.

    Allah ta’ala tidak berubah, tidak berpindah, segala yang berpindah mempunyai bentuk dan ukuran sedangkan bentuk dan ukuran adalah sifat makhluk bukan sifat Allah Ta’ala.

    Respon: Allah di akhir malam turun ke langit yang dekat dengan bumi. Itu dijelaskan dalam Sunnah yang sahih. Kita tak boleh mengingkari bahwa Allah bisa berbuat apa saja, apakah itu Istiwa’ atau turun ke langit dunia; kalau memang dalil-dalil Syariat mengatakan hal itu. Boleh membuat penyifatan akan Allah Ta’ala, tapi harus kredible, sesuai Kitabullah dan Sunnah shahihah, bukan dengan olah pikir/otak sendiri. Tidak benar itu.

    Imam sayyidina Ali ibn Abi Thalib karamallahu wajhu berkata: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W 430 H) dalam Hilyah al-Auliya, juz 1, h. 72).

    Respon: Apa ada sih Muslim yang mengatakan Allah besarnya sekian-sekian, ukurannya sekian-sekian? Ada gak sih yang mengatakan itu? Paling kita katakan Allah Akbar, Maka Besar dari semua makhluk-Nya; Dia Al ‘Uluw, Maha Tinggi dari sekalian makhluk-Nya. Itu saja.

    Al-Ghazali rahimahullah berkata: “Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (mengenal Allah) yang wajib disembah”.

    Respon: Nabi Saw bersabda: “Amal itu tergantung niatnya.” Nabi Saw bersabda: “Siapa yang beramal sesuatu yang tidak sesuai contoh dari kami, amalnya tertolak.” (HR. Muslim). Jadi sah-batalnya ibadah seseorang tergantung NIAT dan CARA-nya. Begitu kata para ulama.

    Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy, sebagaimana setelah diciptakan ‘Arsy. Sebuah perubahan jika sebelum diciptakan ‘Arsy tidak bertempat, kemudian menjadi bertempat di atas ‘Arsy setelah diciptakan ‘Arsy. Allah ta’ala tidak berubah, tidak bertempat sebelum diciptakan ‘Arsy dan tidak bertempat setelah diciptakan ‘Arsy. Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya, sebagaimana setelah diciptakan ciptaanNya. Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya.

    Respon: Kalau manusia pindah dari titik A ke titik B, lalu ke C, lalu ke M, P, dan seterusnya. Dia bisa berubah-ubah, setidaknya berubah posisi. Tapi Allah Ta’ala berbeda dengan manusia. Allah tidak mengalami akibat, karena Dia menjadi sebab segala sesuatu; Dia tidak berubah ini itu, karena Diri-Nya kekal; Dia tidak butuh ini itu, karena Dia Maha Kaya.

    Dalam Al Qur’an jelas-jelas disebutkan kalau Allah itu ada di atas Arasy. Sebelum Arasy diciptakan, Dia ada dimana? Ya tidak tahu. Kita tidak tahu. Terus juga kita tidak ditanya soal itu? Apa nanti sebelum manusia masuk surga neraka, ditest dulu soal itu? Sudahlah…jangan dipikirkan hal-hal yang otak kita sendiri tak mampu menjamahnya. Nanti bukan kebenaran yang kita capai, tapi binasa iya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    Segala macam logika yang Anda sebutkan itu…semuanya terperangkap tiga hal: (1). Terperangkap sifat-sifat makhluk yang Anda jadikan tolok ukur perbandingan, untuk mensifati Allah; (2). Terperangkap oleh sifat-sifat alam, berkaitan dengan ukuran, perubahan, logika sebab akibat dan sebagainya; (3). Terperangkap oleh keterbatasan otak kita sebagai manusia. Hal-hal demikian tidak layak disematkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jauh sekali, jauh, jauh sekali.

    Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir” (QS Al Hadiid [57]:3).

    Respon: Amanna wa bihi, kullun min ‘indi Rabbina.

    Hal yang harus diperhatikan jika mengutip perkataan atau pendapat ulama Salaf ataupun Imam Mazhab yang empat dan para pengikutnya terkait ayat-ayat sifat maka kita harus dapat membedakan apakah perkataan atau pendapat tersebut berfungsi menyampaikan untuk menjelaskan atau sekedar ‘ala sabilil hikayah, menetapkan lafazhnya (itsbatul lafzhi) saja; yaitu hanya mengucapkan kembali apa yang diucapkan oleh al Qur’an, “Ar-Rahmanu alal arsy istawa” atau “A’amintum man fis sama’“. Tidak lebih lebih dari itu; yaitu tidak memaknakan (tafsir) atau tidak menetapkan maknanya (itsbatul ma’na) secara dzahir bahwa Allah ta’ala berada atau bertempat di langit atau Allah berada atau bertempat di atas ‘arsy.

    Respon: Yah, sesuatu yang mudah, jelas, terang-benderang mengapa mesti dibuat rumit ya? Allah istiwa’ di atas Arasy; Allah ada disana, Allah bersemayam disana. Apa ya susahnya memahami hal ini? Mengapa harus berbelit-belit untuk sesuatu yang jelas? Itu menyusahkan diri namanya (takalluf).

    Ulama Hanbali yang ternama, Al-Imam al-Hafizh al Alamah AbulFaraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as- Shiddiqi al-Bakri atau yang lebih dikenal dengan Ibn al Jawzi secara khusus membuat kitab berjudul Daf’u syubahat-tasybih bi-akaffi at-tanzih contoh terjemahannya pada http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2012/12/dafu-syubah-imam-ibn-al-jauzi.pdf untuk menjelaskan kesalahpahaman tiga ulama yang semula Hanabila yang merupakan guru guru besar kaum Musyabbihah atau Mujassimah seperti: 1. Abu Abdillah al-Hasan bin Hamid bin Ali al-Baghdadial-Warraq, wafat 403 H, guru dari Abu Ya’la al-Hanbali. Beliau ini pengarangbuku ushuluddin yang bernama “syarah usuluddin” dimana diuraikan banyak tentang tasybih, yaitu keserupaan Tuhan dengan manusia; 2. Muhammad bin al Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmadal-Baghdadi al-Hanbali, dikenal dengan sebutan Abu Ya’la al-Hanbali. Lahir tahun 380 H, wafat 458 H. Beliau ini banyak mengarang kitab Usuluddin yang banyak menyampaikan tentang tasybih. Ada ulama mengatakan bahwa “Aib yang dibuat Abu Ya’ala ini tidak dapat dibersihkan dengan air sebanyak air laut sekalipun”. Tampaknya cacat pahamnya terlalu besar; 3. Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Nashr az-Zaghunial-Hanbali, wafat 527 H. Beliau ini pengarang sebuah buku dalam usuluddin yang berjudul “Al Idah”, di mana banyak diterangkan soal tasybih dan tajsim.

    Respon: Aneh betul, samak orang mengimani ayat-ayat Al Qur’an apa adanya disebut Tajsim dan Tasybih? Aneh sekali. Seolah Anda ingin menuduh bahwa Rasulullah Saw itu Nabi-nya kaum penganut Tajsim dan Tasybih. Seolah para Khulafaur Rasyidin dan para Shahabat Ra itu para pendahulunya kaum Tajsim dan Tasybih. Kenapa saya bilang begitu? Ya, karena dalam memahami Istiwa’ dan sebagainya; Nabi dan para Shahabat tidak sembulet dan berbelit-belit seperti Anda dan kawan-kawan. Tidak ada tuh para Salafus Saleh yang menghirup logika filsafat (mantiq) semacam itu.

    Bolehlah Anda ini menyebut kami Tajsim, kalau kami meyakini bahwa Allah itu memiliki tubuh (badan) seperti makhluk-Nya, apakah itu manusia, hewan, gunung, batu, dan seterusnya. Boleh Anda menyebut kami Tasybih, kalau kami menyerupakan Dzat, Sifat, Perbuatan Allah dengan makhluk-Nya. Tapi, apa kami melakukan semua itu? Darimana Anda menuduh kami Tajsim dan Tasybih, semata karena kami mengimani ayat Al Qur’an apa adanya?

    Ibn al Jawzi menjelaskan contoh kesalahpahaman mereka sebagai berikut:

    ***** akhir kutipan ******
    Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh kaum mujassimah adalah firman Allah:

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

    aamintum man fiis samaa-i (QS Al Mulk [67]:16)

    Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna dzahirnya karena dasar kata fis sama dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”; padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun.
    Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi (makna dzahir) seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
    ***** akhir kutipan ******

    Respon: Ya maksudnya di langit itu, Allah ada di atas Arasy, karena posisi Arasy di atas langit. Jadi kata “fis sama’i” ditafsirkan oleh ayat-ayat lain bahwa Allah di atas Arasy. Intinya begitu. Ini kan termasuk salah satu balaghah Al Qur’an, yaitu menyebut sesuatu yang sedikit untuk menunjukkan sesuatu yang banyak. Kalau dalam bahasa Indonesia, seperti kalimat: “orang itu sebulanan tidak menampakkan batang hidungnya.” Tentu maksudnya, dia tidak kelihatan selama sebulanan, bukan cuma tak kelihatan hidungnya saja. Ini tak bertentangan dengan Istiwa’ ‘ala Arasy.

    Coba kalimat Ibnul Jauzi di atas diperhatikan: “karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit.”
    Menurut ulama itu, atau semisalnya, apa mesti kalau Allah ada di langit, terus Dia diliputi oleh ruang langit? Apa mesti begitu? Kalau bulan, matahari dan sejenisnya, tentu iya. Tapi kalau Allah, apa mesti disifati kayak matahari dan bulan? Gimana syaikh Ibnul Jauzi? 😉

    Terhadap firmanNya pada (QS Al Mulk [67]:16) para mufassir (ahli tafsir) menafsirkannya menjadi “Apakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit”

    Respon: Yak gak bisa ditafsirkan begitu, malah muncul masalah. Berarti Allah hanya berkuasa di langit saja, tidak di bumi? Lalu ayat itu kan untuk manusia yang tinggal di bumi? Jadi kontradiktif. Maunya menjelaskan, malah bikin bingung.

    Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    Admin.

  21. pertanyaan simpel saya :
    apakah asyariyah kafir semua?
    berarti muslim NKRI sejak abad ke 10 sd 21 sebelum kenal salafi wahabi kafir nggak???
    rata rata kan ber teologi asyary??

  22. abisyakir berkata:

    @ Abu Gohan…

    Anda ini aneh, siapa yang mengkafirkan, siapa yang Anda tanya? Kok bisa gitu sih… Ya diatur-aturlah kalau berpikir.

    Admin.

  23. amif whiteseito berkata:

    Ada dua sikap dan pendapat yg timbul dari ane stelah baca artikel ini akhi.

    1. Ane tertawa kecil melihat komentar ibu2 di artikel ini akhi, tadinya beliau datang menggurui antum, memperlihatkan kekurangan antum, menasehati antum agar dakwah bil hikmah.

    Sayangnya si ibu disatu sisi tidak menyadari betapa membahayakannya serigala berbulu domba, dengan serigala asli.

    Kemudian si ibu curhat klo lelaki susah dimengerti, menurut ane justru klo mau ilmiah dan tidak membawa perasaan pribadi, hrusnya si ibu tidak membuka identitasnya sebagai seorang muslimah, karena mau ga mau, “curhat” beliau tersebut justru membuat kami yang ga tau, jadi tau klo beliau seorang wanita.

    Kemudian di scene selanjutnya, beliau mengaku kalah debat dengan antum, meraju dan pergi..

    Subhanallah, bonus drama buat pembaca setia blog antum akhi. hehe

    2. Selanjutnya, ane melihat komentar mutiarazuhud ato ente panggil unian. Menurut ane, beliau tidak membaca utuh atau setidaknya ga memahami maksud ente membuat artikel ini. Padahal bagi ane gampang sekali memahami maksud dari artikel antum ini akhi.

    Menurut ane, antum mempermudah hal-hal yg selama ini oleh kalangan tertentu terlalu dibuat menjelimet memahami soal ayat-ayat “mutasyabihat” ini. Betul kan akhi?

    Padahal Allah sendiri sudah mengajarkan bagaimana sikap seorang mukmin terhadap ayat2 mutasyabihat..

    Allah sudah mengajarkan kepada kaum mukmin, bahwa ayat-ayat Muhkamat lah pokok pelajaran dari AlQuran, adapun orang-orang yg dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, pasti mereka mencari-cari fitnah dari ayat2 mutasyabihat, begitu kan akhi waskito?

    Jadi jelas sudah sikap seorang mukmin, cukup katakan “Kullu min indi Robbina” “fa aamanna bih” sudah titik. Begitu kan akhi? ane sependapat dengan antum.

    Wallahu Musta’an

  24. ALLOHUAKBAR :ALLOH LEBIH BESAR daripada dunia akhirat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: