Siapa Sang “Jilbab Hitam”?

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Siapakah Sang “Jilbab Hitam” yang tulisannya begitu menghebohkan, sehingga fondasi kantor media Tempo seolah “bergoyang” terkena hempasan tulisannya? Siapakah dia? Manusia, atau makhluk ghaib?

“Jilbab Hitam” menyebut dirinya seorang wanita, mantan wartawan Tempo angkatan 2006. Bekerja di Tempo sampai 2013. Dia semula nge-fans berat dengan dunia wartawan, khususnya ke Goenawan Mohamad. Tapi kemudian setelah masuk dunia wartawan riil, dia mulai kecewa dan terus kecewa. Ternyata, dunia media sekuler, menurutnya tak ubahnya seperti mafia juga. Media sekuler senang menjual-belikan isu dan opini, untuk menggaruk uang miliaran rupiah. Whuusssshhh…. sepakan maut dan keras.

Ziapa Sech Dikau...?

Ziapa Sech Dikau…?

Menurutku, si penulis hanya mereka-reka identitas dengan nama “Jilbab Hitam”, seorang wanita, wartawan Tempo angkatan 2006, lalu resign tahun 2013. Ya, itu semua tampaknya hanya semacam “cover” saja. Tidak mungkin kalau benar-benar mantan wartawan Tempo, dia akan menyebutkan angkatan ini dan itu. Tidak mungkin, pasti sangat mudah dilacak. Kan di Tempo ada database wartawan yang keluar-masuk setiap tahunnya.

Tapi harus diakui, si penulis bukan orang awam dalam dunia jurnalistik. Dia bisa menulis dengan baik, runut, penuh perasaan, dan tahu banyak dengan orang-orang yang (pernah) berkecimpung di Tempo. Dia juga paham isu-isu aktual dan data-data. Si penulis ini bukan orang kacangan dari segi kemampuan menulisnya. Itu jelas.

Soal bantahan Bank Mandiri, bantahan Bambang Harimurti, bantahan ini dan itu… Semua itu kan bisa bersifat umum, bersifat officially, atau katakanlah “bantahan etik”. Hal itu tak bisa menafikan begitu saja apa-apa yang telah dibeberkan oleh “Jilbab Hitam”.

Saya ingin sampaikan sesuatu yang SANGAT PENTING dari tulisan “Jilbab Hitam” yaitu soal jual-beli opini media.  Nah, itulah konten paling penting dari tulisan dia. Secara validitas data, okelah bisa diperdebatkan; tetapi soal jual-beli opini, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Semua orang yang pernah terlibat di media, ketika akan menurunkan suatu tulisan atau liputan, pasti akan dihadapkan pada pertanyaan: “Apa perlunya kita turunkan laporan ini?” Aspek perlu atau tidak, sifatnya relatif, tergantung pembicaraan awak redaksi. Alasannya juga tidak melulu soal idealisme; tetapi dendam politik, militansi ideologi, kepentingan uang, kepentingan industri media, dan sebagainya juga bisa berperan.

Andaikan tulisan “Jilbab Hitam” itu ditolak mentah-mentah, bisakah Tempo menjawab pertanyaan ini: “Maukah Anda membolehkan masyarakat umum melihat perdebatan redaksi, sebelum menurunkan suatu liputan tertentu, dalam 5 edisi berturut-turut?” Yakin 100 %, bahkan kata SeBeYe 1000 %, mereka tak akan mau dicampuri urusan rapat redaksinya.

Data-data penting yang disampaikan “Jilbab Hitam” antara lain…

[1]. Banyak eks wartawan Tempo yang bekerja sebagai “konsultan komunikasi” setelah tidak bekerja disana.

Kekuatan di Balik Kelembuatan.

Kekuatan di Balik Kelembuatan.

[2]. Para “konsultan data” ini punya banyak akses data dan informasi, tentang perusahaan, tokoh, partai, dan sebagainya. Maklum, mereka wartawan, jadi banyak suplai informasinya. Mereka bisa memilah dan memilih data, untuk berbagai kepentingan.

[3]. Di masyarakat sendiri tentu sangat banyak kasus; setiap kasus itu punya detail, kronologi, surat-surat, dokumen, foto, dsb. Nah, semua sumber ini bisa menjadi “harta karun” bagi para wartawan “kreatif” (baca: mata duitan).

[4]. Masyarakat sendiri umumnya tidak pandai dalam soal pemberitaan; hal itu menjadi peluang besar bagi wartawan dan mantan wartawan untuk merajai kehidupan dengan kendaraan “pemberitaan media”.

[5]. Ingat lho, profesi wartawan itu dekat sekali dengan dunia intelijen. Konsentrasinya sama-sama mencari berita (informasi). Intelijen bisa nyusup kemana-mana, seperti wartawan bisa masuk kemana-mana. Kalau data intelijen dibutuhkan penguasa; maka data wartawan bisa digunakan siapa saja yang “butuh kepentingan”.

[6]. Sebenarnya, apa bedanya “maling ayam” dan “koruptor”? Apa sih…. Bedanya kan pada “jumlah angka yang diperoleh”. Kalau nominal maling ayam ribuan rupiah, koruptor bisa miliaran sampai triliunan. Dalam profesi wartawan juga begitu, ada tingkatan-tingkatan pendapatan; meskipun modusnya sama.

[7]. Kehidupan sekuler dan jahiliyah itu sebenarnya amat sangat boros; tidak bisa hidup hemat. Itulah yang menyebabkan banyak orang terlibat dalam korupsi. Korupsi dibutuhkan untuk mengucurkan dana sebesar-besarnya, buat kehidupan hedonis yang super boros. Perbandingannya, seorang suami yang ML dengan isterinya secara sah, sifatnya gratis, bisa berkali-kali, kapan saja. Tapi bagi amoral yang mau ML dengan pelacur SMP/SMA minimal mengeluarkan duit 500 ribu, untuk sekali “pakai”. Coba lihat, betapa jauhnya beda kehidupan jahiliyah dengan kehidupan Islami. Konsep begini berlaku di semua level, termasuk kaum wartawan.

Lalu pertanyaan terakhir: Siapakah Sang “Jilbab Hitam”? Jujur, kami juga tidak tahu siapa dia. Tapi menurutku, dia bukan wanita, tapi laki-laki. Jarang seorang wanita berani menentang arus besar seperti itu? Tapi bisa juga wanita.

Tidak pentinglah bicara “siapa dia”, tapi sangat penting membahas “apa yang dia sampaikan”. Fanzhur ma qaala wa tanzhur man qala. Lihat apa yang dia katakan, jangan lihat siapa yang mengatakannya!

(Weare).

Iklan

3 Responses to Siapa Sang “Jilbab Hitam”?

  1. meme@gmail.com berkata:

    ha ha ha………………
    serem juga ya…

  2. Fahrizal Mukhdar berkata:

    Luar biasa … hehehe. Mengikuti isu ini rasanya kok jadi bingung … hohoo. Media massa kii kok makin keren aja … hahahahah

  3. empritgepeng berkata:

    Afwan….Tadz..jadi garuk-garuk kepala….nih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: