Solusi Adu Jotos Farhat Abbas Vs El (Putra Ahmad Dani)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Akhir-akhir ini berita media banyak diwarnai isu seputar tantangan El Ghazali (putra Ahmad Dani) yang mengajak Farhat Abbas adu jotos di ring tinju. Kabarnya, El sudah mendaftarkan even adu jotosnya ke Pertina. Hotman Paris menawarkan hadiah 250 juta bagi yang menang. Ahmad Dani sendiri mendukung inisiatif anaknya; Farhat Abbas, karena merasa ditantang, sedia melayani tantangan itu. Waduh, tambah gawat nih.

Masalah-masalah sosial sehari-hari sudah banyak, ditambah rencana adu jotos ini… jadi tambah puyeng. Seakan, kita tak ada masalah lain yang lebih berat dan urgen untuk diselesaikan.

Jangan Adu Jotos Ya. Nanti Jadi Contoh Jelek di Mata Publik.

Jangan Adu Jotos Ya. Nanti Jadi Contoh Jelek di Mata Publik.

Secara pribadi kami menghimbau: sudahlah, jangan dilanjutjkan ide adu jotos di atas ring itu! Itu sangat tidak baik. Nanti jadi contoh jelek bagi masyarakat. Kalau ada masalah apa-apa, nanti solusinya jadi kekerasan. Mungkin saat ini solusinya adu jotos di atas ring, ada wasit. Tapi di lapangan kondisinya bisa lebih parah lagi.  Nanti orang-orang akan melakukan adu jotos versi jalanan. Jujur saja, ketika ide adu jotos itu mengemuka, lalu diekspose media secara massif, ia bisa menjadi trend sosial. Waduh, negeri ini bakal ramai dengan kekerasan. Nas’alullah al ‘afiyah.

Kita ini bukan mafia Sicilia, mafia Rusia, atau anggota Triad Hongkong, yang menyelesaikan masalah dengan “berantem” atau “adu tembak”. Kita ini kan masih masyarakat beradab. Ya, carilah solusi secara beradab.

Andaikan adu jotos itu benar-benar terjadi, semua pihak akan merugi, terutama Farhat Abbas dan El sendiri. Coba kita hitung-hitungan ya.

Kalau Farhat Abbas menang, apa untungnya? Toh, dia hanya melawan anak remaja usia 14 tahun. Malu lah pasti. Kalau Farhat kalah, wah bisa lebih malu lagi. Karier dia bisa tamat. Dia akan kehilangan kebebasan yang banyak; dimana-mana dicibir manusia.

Kalau El menang, apa untungnya? Dia bakal dicela sebagai anak “sok jagoan” dan “kurang ajar” karena menantang orang dewasa adu jotos. Kalau dia kalah, lebih malu lagi, karena dia yang nantang adu jotos itu. Bukan hanya El, keluarga besar Ahmad Dani, juga akan malu. Mereka dianggap tak mampu mengontrol tingkah anaknya.

Pendek kata, sama-sama rugilah. Seperti kata pepatah, “Menang jadi arang, kalah jadi abu.” Sama-sama jeleknya.

Sebaiknya, kami menghimbau, kedua belah pihak SALING DAMAI, saling memaafkan. Sudahlah, berdamai saja. Tidak ada ruginya orang berdamai. Bukanlah Al Qur’an mengatakan: “Wa shulhu khair” (damai itu lebih baik). Kalau ada orang yang bertengkar, kita disarankan untuk mendamaikan mereka.

SARAN buat Pak Farhat Abbas:

*) Sebaiknya Bapak mau memulai meminta maaf kepada keluarga Ahmad Dhani, karena mereka marah setelah mendengar komentar-komentar Anda yang bernada melecehkan. Jadi asal mula masalah ini kan komentar-komentar Anda di Twitter. Tak ada salahnya minta maaf.

*) Sangat baik Bapak peduli dengan korban dan keluarga korban kecelakaan di tol Jagorawi yang diakibatkan kesalahan putra Ahmad Dani saat mengendarai mobil. Kepedulian ini sangat baik. Tapi tak perlu juga kita mesti menghina orang lain atau melecehkan. Tidak bagus itu! Cukup peduli saja, tanpa mesti “melukai hati” orang lain.

*) Kalau keberatan dengan sikap Ahmad Dani Cs dalam menyikapi korban dan keluarga korban, silakan ditempuh cara-cara yang legal saja. Bapak pasti sudah sangat mafhum soal itu.

SARAN buat EL: 

*) Dik, sebaiknya ide adu jotos itu dihentikan saja, tak usah diteruskan. Kan keluargamu saat ini sedang dirundung banyak masalah; tak perlu ditambah-tambahi. Tak usahlah menggelar adu jotos tersebut.

*) Kalau kamu masih ingin adu jotos dalam lingkup olah-raga, ya lakukan di forum-forum olah raga, jangan dibawa sebagai isu publik. Nanti bisa meresahkan. Boleh adu jotos di arena-arena resmi, dengan sesama kawan, atau para kompetitor dari berbagai perguruan. Kalau kamu serius dan giat berlatih, nanti bisa masuk jalur tinju profesional; atau meniti karier di jalur K1, MMA, WWE, dan seterusnya.

*) Kalau kamu mau ingin melakukan “test kejantanan” ya bisa juga. Misalnya dengan mencari lawan yang tangguh dan sepadan. Tapi kalau di negara kita itu termasuk ilegal, jadi bisa berurusan dengan kepolisian. Maka itu sudahlah, untuk urusan minat fight ini sebaiknya dibatasi di jalur olah-raga atau (paling maksimal) jalur karier.

Kalau melihat situasi seperti ini rasanya prihatin ya. Ini orang-orang terkenal pada mau adu jotos. Jadi sensasi media luar biasa. Sudah begitu para pemimpin birokrasi dan politisi cuma menonton saja. Jangan-jangan hati mereka sedang intensif berharap agar even adu jotos itu benar-benar terlaksana? Wah, gawat sekali kalau begitu.

Namanya pemimpin kan harusnya peka dengan masalah publik. Kalau ada masalah, langsung turun, untuk mencari solusi. Bukan meneng wae, apalagi cuman nonton doang. Rakyat sudah mau adu jotos, kok diam saja? Aneh.

Tapi ada sisi baiknya tantangan dari El itu. Tantangan dia seketika menyadarkan banyak pihak (kaum laki-laki) yang selama ini keenakan dengan hidup mapan. Mampukah mereka berkelahi, kalau sewaktu-waktu ditantang adu jotos? Nah, tantangan El itu bisa dianggap sentilan, agar kita (kaum laki-laki) giat olah-raga dan mau belajar bela diri. Iya gak?

Oke deh, cukup sampai disini saja. Tolong ya Pak Farhat dan keluarga El: jangan dilanjutkan ide adu jotosnya! Kasihan masyarakat. Nanti mereka jadi diberi contoh jelek oleh para pesohornya. Terimakasih.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: