Buku Baru: “Invasi Media Melanda Kehidupan Umat”

Desember 30, 2013

JUDUL: Invasi Media Melanda Kehidupan Umat. PENULIS: AM. Waskito. PENERBIT: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta. HALAMAN: XXIV + 228 halaman. TAHUN TERBIT: Desember 2013. CETAKAN: Pertama. KATA PENGANTAR: Ustadz Mashadi, mantan anggota DPR RI.

Dalam beberapa kali kesempatan Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali menyampaikan keinginannya membuat sebuah media massa Islam. Menurutnya, kebutuhan umat akan lahirnya media massa Islam berskala internasional sudah sangat mendesak. Tujuannya agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tidak bersumber dari satu kelompok kepentingan saja. Sudah sepatutnya umat Islam mendapatkan informasi yang seimbang seputar perkembangan dunia dari perspektif Islam itu sendiri.

Saat memberikan sambutan di acara Penutupan Konferensi Internasional Media Islam, yang berlangsung tanggal 3-5 Desember 2014, di Jakarta, Suryadharma Ali kembali menyampaikan keinginannya itu. Kali ini dia mengajak berbagai pihak yang berkompeten dalam masalah ini untuk bersama-sama menyusun rencana implementasi pembuatan media Islam. Media massa yang diharapkan Pak Menteri bukan hanya berskala nasional tapi juga internasional.

Pertarungan Eksistensi Lewat Media.

Pertarungan Eksistensi Lewat Media.

Sebenarnya impian Menteri Suryadharma Ali akan hadirnya media massa Islam juga menjadi impian tokoh-tokoh Islam lainnya. Dalam setiap diskusi bertema urgensi media massa Islam yang diikuti para pegiat dakwah Islam, ide untuk membangun media massa Islam sering disampaikan. Para tokoh sepakat umat Islam harus punya media sendiri untuk mengimbangi dominasi informasi media-media non-Islam yang terkadang bias mengabarkan informasi yang melibatkan kepentingan umat Islam. Ketiadaan media yang berpihak pada kepentingan umat Islam pasti merugikan umat Islam itu sendiri, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Dalam buku terbarunya Invasi Media Melanda Kehidupan Umat, penulis AM Waskito menyebut, saat ini masyarakat umum, termasuk umat Islam, terlanjur percaya bahwa informasi yang disampaikan media massa umum pasti benar. Sikap semacam muncul karena masyarakat menganggap berita yang disampaikan media ditulis berdasarkan fakta dan etika. Jadi, andaikan ada media massa yang menyebutkan nilai Islam kurang sempurna mereka akan membenarkan begitu saja. Nah, kondisi inilah yang sepatutnya diluruskan oleh media-media Islam.

“(Padahal, ed) Fakta-fakta membuktikan bahwa media sekuler sering meninggalkan etika jurnalisme yang semestinya menjadi patron moralitas. Bukan rahasia lagi bahwa media-media saat ini kebanyakan hanya menjual sensasi, kritik sarkastik, cerita vulgar, foto-foto sensual, gossip selebriti, kriminalitas, info kecelakaan dan cerita-cerita musibah.” (kalam penulis, hal viii)
Mengutip pandangan Arief Suditomo, pimpinan redaksi program berita di salah satu TV, Waskito mengatakan, peran media yang ada saat ini sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap sebuah peristiwa. Opini masyarakat terbentuk berdasarkan informasi yang disajikan media yang dikonsumsinya. Jika bacaan atau tontonan masyarakat baik maka baik pula pandangannya tapi jika asupan informasinya bermasalah maka bermasalah juga cara pandangnya.

Dan ironisnya, sejauh ini masyarakat lebih banyak mengkonsumsi informasi dari media-media yang dinilai kurang Islami. Media yang ada di masyarakat lebih banyak yang mementingkan aspek keuntungan semata dibanding menjaga idealisme serta independensi. Media yang selama ini melayani kebutuhan informasi umat dikuasai pihak pemodal yang lebih mengedepankan aspek untung rugi daripada aspek baik-buruk.

“Pengaruh negatif dari penyesatan opini media-media yang berkuasa saat ini bukan sesuatu yang kecil tetapi sesuatu yang sangat serius. Invasi media ini telah berhasil meruntuhkan rezim-rezim diktator Arab, mengubah perilaku masyarakat Indonesia, hingga membongkar kedaulatan bangsa-bangsa. Ibarat sebuah gelombang, ia laksana tsunami yang menerjang rumah-rumah, pepohonan, gedung-gedung, menyapu perkampungan dan makhluk hidup. Atau laksana tornado yang sedang mengamuk, menerbangkan semua benda dan material ke langit lalu melemparkan ke segala arah.

Media sekuler mempunyai misi membangun masyarakat baru bercorak: kapitalis, dimana kehidupan sosial didominasi oleh orang-orang kaya; liberalis, dimana tidak ada norma dan aturan yang patut dihormati; serta hedonis, dimana manusia diajak bersenang-senang secara mutlak.” (hal 195)

Dalam kata pengantarnya, Mantan Anggota Komisi I DPR-RI, Mashadi menyebutkan media massa utama telah berhasil memanipulasi pikiran, persepsi dan keyakinan umat manusia. Media massa bukan saja mampu mengubah perilaku manusia, melainkan memainkan perasaan bahkan sebuah keyakinan. Dampaknya sebuah kejahatan bisa menjadi sebuah kebenaran. Sebuah kejahatan kemanusiaan bisa dimaklumi. Dan semua dipahami sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja (hal xvii). Sungguh ironi.

Berangkat dari keprihatinan itu AM Waskito menulis buku setebal 228 halaman ini. Penulis menjabarkan betapa umat Islam butuh media yang baik (khair) dan lurus (hanif). Bahkan bisa dibilang sudah menjadi keharusan yang mendesak.

Di bagian awal AM Waskito menjabarkan beberapa contoh bias liputan media massa umum terhadap peristiwa yang melibatkan umat Islam, mulai dari peristiwa kudeta militer Mesir terhadap Pemerintahan Mursi yang sah hingga berita aksi-aksi Front Pembela Islam (FPI) yang sering diberitakan negatif. Waskito menunjukan bias informasi ini melalui kutipan-kutipan berita yang tampil di media massa utama.

Setelah menjabarkan contoh kasus itu Waskito lalu mengulas betapa ajaran Islam sebenarnya sudah mengingatkan umat Islam tentang pentingnya mengelola informasi. Jauh sebelum terjadi “huru-hara” masyarakat Islam saat ini sebenarnya Al-Quran sudah mengingatkan betapa umat harus berhati-hati terhadap peredaran suatu kabar. Kabar yang baik sekalipun jika tidak dikelola dengan baik bisa mendatangkan malapetaka bagi setiap orang yang terkait. Hal ini dicontohkan penulis melalui peristiwa Haditsul Ifki, dimana saat itu Aisyah RA difitnah telah berbuat tidak pantas terhadap Nabi Muhammad SAW. (Bab III, hal 19-32)

Selain itu, buku ini mengulas juga bagaimana perang opini terjadi saat Perang Uhud. Saat itu kaum musyrikin ingin mengalahkan Rasulullah SAW dan para sahabat melalui penyebaran isu-isu yang menakutkan. Diharapkan dengan cara itu mental kaum muslimin menjadi hancur dan takut menghadapi perang. Apa yang terjadi pada Perang Uhud tak ubahnya seperti yang terjadi pada perang-perang zaman sekarang. Tak ada perang senjata tanpa perang opini.

Buku yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar ini memang menjabarkan berbagai kelemahan-kelemahan umat Islam dalam hal pengelolaan informasi melalui media massa. Setidaknya hingga saat ini belum ada, atau setidaknya hanya sedikit, media-media profesional yang dikelola umat praktisi Islam yang berperan menyampaikan informasi yang benar untuk umat Islam.

Namun demikian buku ini tidak dimaksudkan membuat umat Islam pesimistis atau skeptis akan lahirnya media massa Islam yang diimpikan. Buku ini dibuat justru untuk menumbuhkan keyakinan bahwa suatu saat nanti akan ada media massa umat Islam yang bisa mengimbangi serbuan informasi media-media sekuler. Meski tidak membahas teknis pembentukan dan pendirian media massa islam itu setidaknya buku ini menjabarkan poin-poin penting yang sepatutnya diperjuangkan media massa umat Islam.
Seperti yang dikatakan Mashadi dalam pengantar buku yang terbit di bulan Desember 2013 ini, “Bayangkan 1,5 miliar muslim di seluruh dunia tak mampu, tak bisa bergerak menghadapi (serbuan informasi) Amerika Serikat dan Zionis-Israel, karena pusat syaraf dan hati mereka sudah dikendalikan oleh korporasi media massa milik Zionis-Israel.

Tetapi, (untung, ed) ada sebuah buku penting yang ditulis AM Waskito, yang diharapkan dapat mengubah semua persepsi, pikiran, perasaan, hati dan keyakinan bahwa kita dapat kembali melawan hegemoni media Zionis. Semoga buku ini menjadi sebuah solusi bagi masa depan muslim. Semoga.” Wallahu a’lam bishowab.

(By Subhan Akbar).

Sumber: http://www.voa-islam.com/read/silaturahim/2013/12/23/28285/menakar-potensi-kebangkitan-media-islam/#sthash.efW57rR2.PZCmn0Np.dpuf


Tim Garuda Muda dan Twitter SBY

Desember 30, 2013

Kemarin, para penggemar bola se-Indonesia nyaris bergembira ria, saat Tim Garuda Muda melangkah ke final sepak bola SEA Games 2013. Di final tim Garuda Muda menghadapi Thailand yang sebelumnya berhasil menekuk tim Indonesia dengan angka telak 4-1.

Laju tim Garuda Muda bisa dianggap sangat sulit, sejak babak penyisihan. Anak asuh Rahmat Darmawan ini nyaris give up menghadapi persaingan yang sulit. Tapi ternyata mereka tegar. Mereka terus berjalan, sampai bisa mengalahkan Malaysia dalam babak semifinal, melalui adu tendangan pinalti.

Lagi Update Status, Pak?

Lagi Update Status, Pak?

Saat baru mengalahkan Malaysia, dan hendak maju ke final, datang masalah. Masalah apa itu? Ya Anda tahu sendirilah…

SBY kirim pesan via Twitter yang isinya begini:

Selamat atas kemenangan Timnas Indonesia U-23 dalam semifinal SEA Games 2013. Saya bangga. Satu langkah lagi jadi juara. Kita bisa!

Haduh… kenapa orang ini pakai kirim pesan twitter segala? Apa gak sebaiknya dia konsentrasi membersihkan korupsi, termasuk yang disinyalir oleh banyak saksi melibatkan orang-orang Cikeas (keluarga SBY). Sudah konsentrasi kesana, berikan akses kepada aparat hukum seluas-luasnya untuk melakukan penyelidikan. Begitu kan. Tapi dia malah kirim pesan twitter.

Hasilnya bagaimana?

Ya…akhirnya tim Garuda Muda kalah 1-0 dari Thailand, saat di final. Ya masih dapat perak, tapi target memenangi kompetisi SEA Games di bidang sepak bola jadi gagal.

Dari yang selama ini sering terjadi, kalau SBY ikut-ikutan bicara soal sepak bola timnas, seringkali justru kalah terus. Gak tahu ya kenapa begitu? Tapi faktanya memang begitu. Mungkin ini berkaitan dengan soal “the curse of SBY”. Maybe.

Ya kalo manusia sudah terlalu kebak dosa, biasanya sering jadi sumber masalah kehidupan.

(Weare).


Patokan Negara Islami

Desember 16, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tiga orang ulama dari Timur Tengah baru-baru ini datang ke negeri kita. Mereka datang untuk berdebat dengan ustadz-uztadz yang menjadi narapidana kasus terorisme di Lapas Nusa Kambangan. Tiga orang itu adalah Ali Hasan Al Halabi; Dr. Najih Ibrahim, dan Dr. Hisyam Najjar. Ali Hasan Al Halabi adalah tokoh Salafi terkenal dari Yordan; dua tokoh lainnya adalah mantan pemimpin Jamaah Islamiyah Mesir.

Ketiga tokoh ini selain menghadiri hajatan “debat tertutup” dengan ustadz-ustadz mujahidin, mereka juga menyampaikan penegasan tentang konsep negara Islam. Kata mereka: Negara Islam adalah negara yang di dalamnya terdengar suara adzan dikumandangkan, terdapat shalat berjamaah di masjid-masjid, syiar Islam diperbolehkan, pencurian dan kejahatan dilarang. Itulah ciri negara Islam.

Fungsi Negara Islam: Menjaga Kehidupan Kaum Muslimin !!!

Fungsi Negara Islam: Menjaga Kehidupan Kaum Muslimin !!!

Pandangan demikian termasuk mendominasi kalangan Salafi, dan dikembangkan di taklim-taklim mereka, daurah-daurah, ditulis di buku-buku, di majalah-majalah, juga situs internet. Kalau kita tidak setuju dengan konsep ini, biasanya akan segera mereka serang dengan istilah: TAKFIRI (tukang mengkafirkan), KHAWARIJ (pemberontak sesat), AHLUL BIDA’ (para ahli bid’ah), dan HIZBI (tukang memecah-belah agama). Ya begitulah.

Sebenarnya, apa sih patokan konsep Negara Islam itu?

Jawabnya sederhana, yaitu MAQASHIDUS SYARIAH. Ini adalah tujuan-tujuan dasar Syariat Islam, yaitu: (1). Menjaga agama kaum Muslimin; (2). Menjaga jiwa kaum Muslimin; (3). Menjaga harta kaum Muslimin; (4). Menjaga akal kaum Muslimin; (5). Menjaga keturunan kaum Muslimin.

Yang disebut negara Islam, kalau dalam negara itu melaksanakan (minimal) 5 tujuan dasar Syariat di atas. Meskipun nama negara itu misalnya “Negara Brokoli Lucu” atau “Negara Alay Merdeka”; tapi kalau praktik kehidupannya benar-benar menjadikan 5 Prinsip Syariat di atas sebagai landasan dasarnya, negara itu dinyatakan sebagai negara Islami. Kalau namanya jelek, nanti tinggal diganti saja yang lebih keren dan kharismatik.

Sebaliknya, meskipun nama sebuah negara misalnya seperti ini: “Negara Islami Banget Berdasar Al Qur’an dan As Sunnah Sesuai Pemahaman Salaf yang Murni 24 Karat“; tapi kalau kehidupan disana sekuler, Islam dan umatnya disia-siakan, tata-nilai keimanan dan akhlak tidak ada, malah orang-orang saleh dimusuhi negara, maka negara seperti itu tak bisa disebut sebagai negara Islami. Itu negara ngapusi.

Pertanyannya: Apa dasarnya konsep Maqashidus Syariah dijadikan patokan negara Islam? Ulama mana yang mengatakan itu? Apa ini pendapat Anda sendiri, atau pendapat Salafus Saleh?

Jawabnya sangat jelas: Dalilnya adalah kehidupan Rasulullah Saw dan para Khulafaur Rasyidin Ra. Mereka itu telah mencontohkan konsep negara Islam yang benar, tepat, shahih, valid, sempurna, tiada keraguan, tiada perselisihan, tidak basa-basi, mantap, oke banget, dan seterusnya.

Jadi kalau Najih Ibrahim, Ali Al Halabi, Hisyam Najjar, dan seterusnya bertanya, apa dalilnya? Ya, jawab saja, contoh pelaksanaan negara di zaman Nabi Saw dan para Khalifah Rasyidah Ra. Kalau merujuk ke konsep Salafus Saleh itu, apakah ciri negara Islam hanya: kumandang adzan, shalat jamaah, syiar Islam, larangan pencurian dan kriminalitas? Ya Anda bisa jawab sendiri.

“Tapi kan pendapat begini bukan pendapat ulama, hanya pendapat penulis blog ini?”

Waduh, payah deh kalau pendapat demikian tidak diklaim sebagai pendapat ulama. Payah banget. Apa ada yang lebih ulama dari Rasulullah Saw, dari Abu Bakar As Shiddiq Ra, dari Umar Al Faruq Ra, dari Utsman Dzu Nurain Ra, dari Ali Al Murtadha Ra? Apa ada ulama yang lebih alim dari mereka?

Kalau negara Islami hanya karena adzan, shalat jamaah, syiar Islam, dan semisalnya; maka di China juga ada adzan, ada shalat jamaah, ada syiar Islam (di Beijing saja ada masjid besar), ada larangan pencurian dan kriminalitas.

Ya, ini hanya sebagian faidah saja untuk menjelaskan kepada Ummat, agar tidak disesatkan oleh orang-orang alim yang menyimpang. Nas’alullah al ‘afiyah li wa lakum wa li sa’iril Muslimin. Amin.

(Abah).


Arogansi Seorang Alim…

Desember 16, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ali Hasan Al Halabi Al Urduni, ya tentu seorang alim ya. Ilmunya banyak, wawasan din-nya luas. Beliau disebut-sebut sebagai salah satu murid terbaik Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah. Selain menulis buku, berceramah, menjadi dai dan tokoh Islam; Ali Hasan juga diakui sebagai tokoh besar komunitas Salafi. Beberapa tahun lalu dia datang ke Istiqlal Jakarta, saya hadir dalam ceramahnya. Tapi karena telat datang, jadi hanya dapat melihat dari layar lebar saja.

Sikap Meremehkan "Lajnah Daimah" dan Menganggapnya Sepele

Sikap Meremehkan “Lajnah Daimah” dan Menganggapnya Sepele

Tapi sayang, untuk sosok alim seperti dia bersikap arogan kepada dewan ulama kaum Muslimin (Lajnah Da’imah Arab Saudi). Itu berdasar informasi yang disampaikan oleh ustadz-ustadz mujahidin, setelah melakukan debat di Lapas Nusa Kambangan. Hebat ya…orang biasa saja susah bukan main masuk kesana; apalagi yang ciri-ciri fisiknya “mirip teroris”; tapi Ali Hasan Al Halabi begitu mudahnya… seolah digelarkan karfet merah di hadapannya.

Dalam debat dengan ustadz mujahidin, Ali Al Halabi ditanya tentang Fatwa Lajnah Da’imah yang telah menyalahkan dirinya. Namun dia malah menjawab begini: “Bahwa Lajnah Da’imah menulis tahdziran (peringatan) satu setengah halaman saja, sementara saya telah membantahnya lagi dengan tulisan lebih dari 1000 halaman. Sudahkah Anda membacanya?

Ada sebuah hikmah yang baik dari khazanah bahasa kita. Orangtua-orangtua kita mengajarkan ungkapan: “Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.” Maksudnya, bulir-bulir padi itu kalau berisi, ia pasti akan merunduk, pertanda berat.

Sebaliknya ada ungkapan lain: “Tong kosong, nyaring bunyinya.” Anda pernah melihat sebuah tong (brum) minyak sedang digelindingkan di tanah? Kalau drum itu isinya penuh, saat digelindingkan, tidak terdengar bunyi berisik. Tapi kalau drum sedang kosong, saat digelindingkan berisik. Tandanya, kalau orang kosong ilmu, biasanya banyak bicara. Termasuk memperlihatkan kesombongannya.

Intinya…janganlah sombong lah. Tidak baik. Iblis diusir dari surga karena alasan itu lho.

(Abah).


Nelson Mandela dan Politisi Muslim…

Desember 7, 2013

Beberapa waktu lalu, mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela meninggal. Kamis, 5 Desember 2013. Dalam usia 95 tahun. Mandela jadi presiden pertama Afrika Selatan, dari kaum kulit hitam, pada tahun 1994.

Seorang kawan ngefans berat dengan Nelson Mandela. Alasannya karena dia pernah dipejanjara selama 27 tahun dan tetap teguh dengan perjuangannya. Saat masuk penjara masih lumayan muda, saat keluar sudah “kakek-kakek”. Mandela menebus perjuangannya untuk kaum kulit hitam dengan pengorbanan pribadi sangat berat. Bayangkan, dipenjara selama itu.

Wafat 5 Desember 2013

Wafat 5 Desember 2013

Hebatnya, setelah jadi Presiden Afsel, Mandela cukup mengambil jatah “satu periode” saja, tidak mau “nambah” seperti seorang Jendral yang punya motto: Lanjutkeun terus!

Bahkan ketika keluarganya dihimpit masalah, Mandela bercerai dengan isterinya; hal itu tak membuatnya mundur atau runtuh moral. Dia tetap melanjutkan kehidupan, dan menikah lagi. Itu berjalan sampai saat dia meninggal.

Waktu kawan itu bicara tentang moral para politisi Muslim di negeri ini, langsung geleng-geleng kepala. Seperti orang “pasrah”, atau tiba-tiba “kehilangan tenaga”.

“Orang kita kayak walang!” kata teman itu, membuatku tertawa.

Walang, maksudnya belalang. Sifat belalang kan menclok sana menclok sini. Tidak istiqamah. Nah, itu dia masalah utama para politisi Muslim di Indonesia, yaitu TIDAK ISTIQAMAH.

Beda dengan Mandela, meskipun non Muslim, dia punya keteguhan hati. Mestinya para politisi Muslim itu begitu ya…sangat teguh memegang prinsip dan missi perjuangan. Bukan seperti walang. Iya gak.

Pelajaran penting dari sosok Nelson Mandela: Keteguhan hati memegang prinsip dan missi perjuangan!

Istiqamah, please!

(Mine).


Heroisme Seorang Dosen Muslim…

Desember 6, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim. Luar biasa perbuatan dosen Muslim di bawah ini. Dia sangat herois, menunjukkan antara kata dan perbuatan, secara nyata. Langka manusia demikian. Jika benar berita ini, semoga Allah mengistiqamahkan sang dosen sampai akhir hayatnya; memberi keberkahan besar buat keluarganya; menurunkan dari mereka anak-anak pejuang besar agama ini. Amin Allahumma amin.

Tulisan ini aku co-pas dari web Voa-islam.com; web Muslim “paling heboh” untuk saat ini. Semoga bermanfaat ya. Judul tulisan aku ganti, karena gak sesuai deh. Tapi secara umum isi tulisan dibiarkan seperti semula. Terimakasih Voa-islam.com ya.

BEGINI CERITANE….

Seorang Dosen UIN SGD Bandung masuk ke tempat pelacuran di daerah Bekasi dan mem-booking 8 PSK sekaligus, lalu diboyong ke satu kamar. Sekuriti berbadan besar oknum TNI menguntitnya. Menyewa 8 orang sekaligus tentu tidak wajar dan mencurigakan. “Dia punya kekuatan seks seperti apa?” Pikirnya. Tahu ada yang menguntit, sang dosen merasa terganggu, terjadilah adu mulut sampai si TNI itu tak berkutik.
Langkah Nyata, Lengkap, Penuh Risiko: Selamatkan Wanita

Langkah Nyata, Lengkap, Penuh Risiko: Selamatkan Wanita

Argumen sang dosen kuat, karena toh sudah di-booking adalah hak dia untuk melakukan apa saja dengan 8 perempuan itu dalam kamar. Sang dosen bertanya, “Sebagai apa kamu disini?” “Saya keamanan Pak!” Mendengar jawaban itu, sontak sang dosen marah: “Keamanan apanya ..?? Pekerjaan kamu disini bukan mengamankan tapi membuat mereka menderita. Kamu menjerumuskan dan mencelakakan mereka semua di dunia dan di akhirat. Keamanan apanya?” Sang centeng tak berkutik. Sekuriti itu pun ditantang duel kalau mengganggu acara sang dosen, tapi si oknum ini tidak berani, apalagi saat diancam akan dilaporkan ke atasannya jadi centeng “neraka” seperti itu. Ia pun takut, pergi dan minta maaf. Ke 8 PSK itu merasakan lain, ada hal aneh yang akan dilakukan tamunya ini mem-booking mereka banyakan.

Di dalam kamar, sang dosen meminta seprai dari dua kasur dicabut: “Tolong cabut itu seprai dan tutup badan kalian semua dengan kain itu. Saya tidak mau melihatnya.” 8 PSK itu kemudian dinasehati panjang lebar tentang kelakuan buruknya, tentang uang haramnya, akibatnya pada anak, durhakanya pada orang tua, alasan dustanya soal kebutuhan ekonomi, tentang bahaya penyakit kelamin dll. “Bayangkan kalau anak perempuanmu seperti kamu mau nggak? Kalau anak-anakmu tahu kelakuanmu seperti ini mau gak?” “Kalau ibumu tahu mau gak? Bayangkan perasaan mereka, betapa malu dan sakit hatinya. Inikah balasan pada ibumu yang sudah susah payah melahirkan, membesarkan dan mendidikmu?” dll … dll … (sekitar 2 jam dia bicara, di atas itu intinya saja). Ledakan tangisan 8 PSK itu muncrat semua, semua menyadari dan menyesali, tobat seketika, janji besok semuanya akan keluar.

Esoknya, sang dosen, datang lagi mengecek. Benar, 8 nama itu sudah tidak ada di daftar, sudah keluar. Beberapa hari kemudian, sang dosen mengunjungi ke 8 orang itu ke kampungnya masing-masing, mengontrol dan membina, dan komunikasi terus berjalan setelah beberapa minggu/bulan. 8 perempuan muda yang wajah-wajahnya aduhai itu, kini ada yang buka warung, buka kios, kerja di pabrik dll. Pada salah satu yang jualan gorengan, sang dosen ustadz berkata: “Naah … begituu … ini yang halal dan barokah. Rizki halal tidak susah asalkan dicari.” Mereka merasakan kebahagiaan yang sangat amat telah keluar dari jerat pekerjaaan kotornya.

Dari ke 8 PSK itu, 6 orang bersuami dan direstui oleh suaminya jadi PSK (asalnya daerahnya Subang, Indramayu, Sukabumi). Yang suaminya menerima dan sadar, suaminya juga dibina. Yang suaminya menolak dan marah karena kehilangan income dari istrinya yang cukup besar, sang dosen memberikan instruksi: “Kamu harus bercerai dengan suamimu, wajib, karena ia telah menjerumuskan dan merusakmu. Suami macam apa seperti itu, sekarang pun ia tidak terima kamu telah sadar. Sekarang cari suami yang baik, masih banyak. Insya Allah saya akan bantu.” Yang suaminya tidak terima, semuanya diceraikan. Satu orang yang dari Indramayu, bukan hanya tidak terima malah menteror mantan istrinya dan keluarganya.

Ketika sang dosen dilapori, tidak menunggu, ia langsung berangkat mencarinya sendiri rumah orang itu. Laki-laki itu kembali ke rumah orang tuanya. Sang dosen masuk dan menceramahi laki-laki itu, bukannya berterima kasih dan bersyukur istrinya telah sadar dan kembali ke jalan yang benar. Laki-laki itu tetap tidak terima dan marah-marah. Ia bersungut-sungut menuduh laki-laki yang tak dikenalnya itu mengganggu kesenangannyalah, merusak rumah tangga oranglah, sok sucilah, dll. Sang dosen membantah: “Siapa yang merusak? Justru kamu yang merusak istri kamu dan kamu memerasnya. Suami macam apa kamu ini?”

Karena nasehat tidak akan masuk pada orang seperti ini, akhirnya sang dosen mengambil jalan akhir. “Sekarang gini aja, kamu ambil golok bawa keluar, ayo kita duel diluar tapi dengan catatan sampai mati dan harus disaksikan masyarakat, RT, RW dan Polisi. Siapa yang benar diantara kita.” Laki-laki itu hanya diam, sang dosen kesal, ia masuk ke dapur dan meminta golok pada keluarganya. Golok itu diberikan dan dipaksakannya agar laki-laki itu memegangnya dan dipersilahkan untuk menebas bagian mana saja dari tubuh sang sang dosen yang dia mau. Karena dia masih diam, sang dosen menggusur orang itu keluar rumah. Karena suasana ribut, tetangga pada keluar, nonton. Sekalian sang ustadz berteriak-teriak disitu menjelaskan betapa bodoh dan dungunya orang ini, istrinya disadarkan malah tidak terima berarti dia ini hakikatnya setan. Tetangga yang sudah menaruh curiga pada pekerjaan istri laki-laki itu membenarkan ucapan sang dosen. Mereka terus menonton.

Sampai ujungnya, laki-laki itu sadar, menangis, menyesali dan berjanji tidak akan mengganggu mantan istrinya lagi. Orang tuanya pun menyesalkan kebodohan anaknya itu. “Awas, mengganggu lagi mantan istrimu, dengan saya urusannya.”

Ketika kisah ini diceritakan pada saya, saya bilang “luar biasaa …” Ia berucap, “Yaa … menolong itu harus tuntas, jangan setengah-setengah, cuma menyadarkan saja tapi kesananya tidak bertanggung jawab, tidak di urus, ya gak akan bener, dia bisa balik lagi nanti.” Ini kisah nyata, bukan ngarang. Namanya disamarkan untuk menghindari riya. Subhanallaah …

Sanad: Dari Voa-islam.com, dari moeflich.wordpress.com, dari pelaku (hafizhahullah wa iyyana jami’an).

TAFAKKUR
Bagusnya Bapak ini, dia punya niat baik selamatnya cewek-cewek pelacur. Tapi tak cuma bicara gitu, dia terjun langsung melakukan amal nyata. Untuk “booking” macam begitu, apalagi sampai 8 orang, dia pasti harus punya duit kan. Darimana duitnya? Ngumpul-ngumpul kan. Habis itu dia harus punya nyali. Mau “bikin masalah” di hotel, jelas harus punya nyali. Semua hotel punya petugas keamanan kan. Setelah itu, dia harus menolak “keseksian” dari cewek-cewek itu. Padahal, karena “sudah beli”, dia tinggal “memakai” saja. Tapi dia tolak semua itu, padahal sudah di depan matanya. Ini beda lho sama model Gonamen Mokamet Cs… yang memang suka sama yang haram-haram gituan.
Lalu Bapak itu berani ceramahi cewek-cewek itu apa adanya, tak pakai slide, tak bawa buku, tak perlu pakai tele conference, tapi langsung, apa adanya. Ini butuh keberanian dan nyali. Habis itu dia persilakan mereka pulang; dia cek hotel apa mereka masih ada; lalu dia bina mereka, dia lakukan pemantauan; bahkan sampai dia tantang berkelahi suami atau mantan suami yang masih ndablek. Masya Allah, sebuah upaya kesungguhan yang lengkap. Ibaratnya, one stop shopping lah.
Moga-moga Bapak itu kuat menyembunyikan amalnya. Moga istiqamah sampai akhir hayat. Moga akan lahir pahlawan-pahlawan Mukmin lain, menghiasi kehidupan ini dengan rahmat Islam. Amin Allahumma amin.
Hidup pahlawan Islam! Lupakan Gunamen Cs !
(Abah).

Tiga Perangkap Kaum Rasionalis

Desember 6, 2013

Tatkala kaum rasionalis memahami Allah dan sifat-sifat-Nya, mereka sering kebingungan sendiri. Sesuatu yang mudah menjadi rumit di tangan mereka. Tak jarang mereka mendebat ayat-ayat Al Qur’an yang sudah benar-benar jelas, terang-benderang.

Mengapa?

Akal mereka terperangkap oleh tiga hal ini:

(1). Terperangkap sifat-sifat makhluk yang mereka jadikan tolok ukur perbandingan, untuk mensifati Allah.

Manusia 1000 Jenius Pun Tak Akan Mampu Mengurai Deskripsi Perbuatan Allah Ta'ala.

Manusia 1000 Jenius Pun Tak Akan Mampu Mengurai Deskripsi Perbuatan Allah Ta’ala.

(2). Terperangkap oleh sifat-sifat alam, berkaitan dengan ukuran, perubahan, logika sebab-akibat dan sebagainya.

(3). Terperangkap oleh keterbatasan otak manusia.

Akhirnya mereka menganulir banyak ayat-ayat dalam Kitabullah maupun Sunnah, lantaran keterperangkapan itu. Allah Ta’ala tidak layak dipahami dengan kesempitan berpikir demikian. Subhanahu Wa Ta’ala ‘amma yashifuun.

(Abah).