Logo Kampanye TERJELEK…

Januari 27, 2014

Jujur saja, setiap melihat logo kampanye untuk Pilpres ini, kami merasa “resah”. Mengapa? Ya karena menurut kami, logo ini jelek sekali… sangat kampungan, tidak jelas artinya, terlalu memaksakan diri!

Itulah logo kampanye Pilpres Wiranto-Hary Tanoe… disingkat WIN-HT. Ya semua orang tahu, kalau huruf-huruf itu diambil dari nama WIraNto dan Hary Tanoe. Tapi masalahnya, apa mereka tidak punya tim kreatif ya? Darimana bisa memunjulkan logo aneh WIN-HT itu?

Coba kita kaji makna di balik “akronim” WIN-HT…

Gak Punya Tim Kreatif Pak...

Gak Punya Tim Kreatif Pak…

[a]. Secara bahasa, sebenarnya ia masuk ke ranah bahasa apa? Bahasa Inggris dengan kata “win” atau bahasa Indonesia? Kalau bahasa Indonesia, kita tidak mengenal kata “win”. Kalau bahasa Inggris, membacanya bagaimana: “Win eigh ti?”

[b]. Dari sisi pengucapan (lafadz) padanan kata WIN-HT itu tidak enak diucapkan. Tidak lancar atau tidak fasih. Bandingkan dengan padanan “HADE” (Heriyawan Dede Yusuf) atau “SBY-JK”. Orang Indonesia tidak enak mengucap kata “win hate”.

[c]. Dari sisi pemaknaan, WIN-HT itu bisa bermakna: “Mari kita menangkan Hary Tanoe!” Atau bisa juga bermakna: “Wiranto mem-back up Hary Tanoe.” Jadi maknanya selalu Wiranto menjadi pendukung Hary Tanoe. Padahal semua orang tahu, Hary Tanoe merapat ke Hanura (Wiranto) karena butuh SOS (save our soul).

[d]. Slogan WIN-HT menjadi lebih jelek lagi dengan konsep artistik yang didominasi unsur “kotak-persegi” yang diambil dari karakter dasar logo Partai Hanura. Sudah WIN-HT nya gak enak dicerna; konsep artistiknya bermotif dominan persegi, garis, dan sebagainya.

[e]. Tidak kalah anehnya. Slogan WIN-HT ditambahi motto: “Bersih Peduli Tegas.” Bersih dan Peduli kan slogan yang pernah dipakai PKS, lalu dipungut oleh tim sukses WIN-HT. Sedangkan Tegas kan sekedar representasi dari karakter Wiranto yang back ground militer: Tegas. Apa tidak ada kosakata lain yang lebih smart?

Ya… Hary Tanoe masuk Hanura kan untuk “mengobati sakit hati” setelah didepak oleh Nasdem Surya Paloh.  Singkat kata, Hary Tanoe berderai air mata setelah keluar dari Nasdem; lalu Wiranto melemparkan sapu tangan pink sebagai lap air matanya. Jadilah Hary Tanoe “jatuh cinta” ke Pak Wiranto, begitu juga sebaliknya.  Sebenarnya, banyak waktu itu yang ingin memeluk Hary Tanoe. Tapi tampaknya boss media itu lebih percaya dengan “cintanya” Wiranto.

Yo wis lah… Pokoknya menurut kami, logo WIN-HT itu dapat poin 2,3. Poin itu juga diberikan karena “kasihan”. Tapi jangan khawatir, masih banyak yang sama jeleknya, atau lebih parah. Termasuk yang bikin ngakak adalah iklan kampanye yang bunyinya begini: “Hatta Radjasa For President!” Dagelan opo iki, Pak? Menangani kementrian perhubungan saja gak becus, mau jadi Presiden?

Gitu deh….

(Mine).


Orang Ini Mau Sekolah TK Lagi…

Januari 27, 2014

Ada komentar menarik dari seorang pembaca dalam tulisan “Antara PKS dan Wahabi“. Dia menyanggah tulisan itu. Tapi dia janji mulai besok akan sekolah TK lagi, kalau isi tulisan kami tersebut benar. Tentu saja, kami sangat ingin melihat dia melaksanakan janjinya. Maka perlu kami jelaskan tentang argumen-argumen di balik tulisan itu.

Ini komentarnya:

@ Gue ya gue…

Imam Bonjol, Jendral Sudirman, Bung Tomo, Dipenogoro WAHABI ????

Hahaha lucu yah ??? Saya mau ulang sekolah dari TK besok, mau pelajari kalau para pejuang di atas termasuk sosok Wahabi.

Artikel ngaku-ngaku gitu aja bisa gue buat. Jangankan para pejuang, Malaikat bisa gue aku-aku. Tapi gue gak berani karena pekerjaan salah.

Wahhhhhh bahaya nih. Refisi lagi al mukarom ustaz, dai, KH, penulis, tulisannya!

 

Besok Sekolah TK Ya !!!

Besok Sekolah TK Ya !!!

RESPON ADMIN: 

Imam Bonjol rahimahullah jelas perjuangannya di Sumatera Barat dipengaruhi dakwah Wahabi. Itu sangat jelas. Jarak antara meletusnya Jihad di Sumatera Barat dengan wafatnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hanya sekitar 40 tahunan.

Jendral Soedirman rahimahullah, seorang guru Muhammadiyah. Kan Muhammadiyah sejak lama disebut Wahabi oleh kaum NU. Buya Hamka menulis, bahwa sebelum Pemilu 1955 beredar desas-desus bahwa Masyumi (yang didukung Muhammadiyah) adalah Wahabi. Beliau menulis bahwa desas-desus itu disebarkan oleh kepentingan kolonialis-imperialis yang takut dengan daya revivalis kaum Wahhabi.  

Bung Tomo rahimahullah dikenal sebagai pejuang dalam Perang 10 November 1945. Beliau terkenal dengan pekik TAKBIR-nya yang luar biasa, melalui siaran-siaran RRI. Ada rekaman pidato beliau beredar di online. Bung Tomo sangat berani dalam menghadang tantangan Sekutu. Beliau juga dikenal sebagai “pendukung” perjuangan DI/TII. Beliau tidak rela dengan perlakuan pemerintah Soekarno-Soeharto kepada barisan DI/TII. Maka itu, pemerintah RI baru tahun-tahun kemarin mengakui kepahlawanan Bung Tomo, karena dukungan beliau kepada DI/TII Al Ustadz Kartosoewirjo rahimahullah.

Bung Tomo menghabiskan masa tuanya di Makkah sampai wafat. Sedikit banyak, beliau pasti menerima pengaruh Wahabi di Makkah. Mungkinkah beliau sama sekali bersih dari pengaruh dakwah Salafiyah di Makkah? Bisakah? Mungkin secara klaim beliau tidak berlabel Wahhabi, tapi pilihan beliau tinggal di Makkah, pasti ada alasannya. Lagi pula, dalam komitmen perlawanan melawan Sekutu, Bung Tomo punya kesamaan dengan para pemuda Wahhabi saat ini yang sama-sama berjuang menghadapi Sekutu (Amerika Cs).

Perjuangan Diponegoro rahimahullah juga terpengaruh Wahabi. Alasannya: (a). Perang Diponegoro bersamaan waktunya dengan Perang Paderi di Sumatera Barat; hanya berselang beberapa tahun saja; (b). Panglima Diponegoro, Sentot Alibasyah Prawiradirja, dipaksa Belanda untuk memerangi perlawanan Paderi. Ternyata, setelah terjun dalam peperangan, Sentot berbalik mendukung perjuangan Paderi; (c). Buya Hamka dalam buku sejarahnya menulis keterkaitan antara perjuangan Pangeran Diponegoro dengan dakwah Wahhabi.

Nah demikian, apa yang ditanyakan oleh @ Gue ya gue sudah kami jawab. Boleh saja dia membantah, asalkan dengan argumen-argumen juga. Jangan dengan komen-komen lebay. Kalau tidak bisa menghadirkan argumen yang lebih baik, dia harus laksanakan janjinya.

======= 🙂

ANDA HARUS MEMENUHI JANJI, UNTUK MULAI BESOK SEKOLAH TK LAGI. HARUS ITU! SESUAI JANJI ANDA. TOLONG KIRIMKAN FOTO ANDA SAAT LAGI DISUAPI BU GURU. SAYA BUTUH FOTO ITU, UNTUK “SELINGAN” DI BLOG INI. INGAT LHO YA, JANJI ADALAH HUTANG! ANDA HARUS LAKUKAN JANJI ANDA!!!

(Admin).

 


Memahami Konsep TAKFIR!

Januari 15, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Masalah TAKFIR (mengkafirkan seseorang) banyak dibahas di berbagai kesempatan. Ada yang bersikap lantang dalam Takfir; ada yang sangat lunak bahkan selunak-lunaknya. Hal ini cukup membingungkan Umat. Mari kita kaji tema Takfir ini untuk mendapatkan pemahaman. Bismillah, bi nashrillah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

[a]. Orang Liberal mengklaim bahwa: “Yang berhak menghakimi kafir tidaknya seseorang hanyalah Tuhan. Manusia tidak berhak menghakimi manusia yang lain kafir.” Ini adalah kata-kata munkar bin bathil; karena justru Al Qur’an menjelaskan secara gamblang kafirnya kaum Yahudi, Nasrani, dan musyrikin. Bahkan Al Qur’an juga menyebut orang munafik sebagai kafir hatinya; meskipun amal-amalnya tampak Muslim.

Urusan Takfir Berkaitan dengan Darah dan Kehidupan Manusia.

Urusan Takfir Berkaitan dengan Darah dan Kehidupan Manusia.

[b]. Kaidah terbesar dalam TAKFIR (mengkafirkan) adalah: Kita mengkafirkan manusia yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya; dan kita melepaskan manusia yang tidak dipandang kafir oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi hukum Takfir mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya, layaknya berbagai perkara apapun dalam Islam.

[c]. Dua kaum sesat dalam Takfir, yaitu KHAWARIJ yang bermudah-mudah mengkafirkan manusia; dan MURJI’AH yang bermudah-mudah dalam menerima keislaman manusia. Ahlus Sunnah Wal Jamaah bersikap pertengahan, adil di antara kedua sekte itu.

[d]. Perkara Takfir bukan masalah mudah. Ia berada di area AKIDAH,  FIKIH, dan MUAMLAH. Disebut akidah, karena masalah Takfir berkaitan dengan pembeda antara iman dan kufur. Disebut fikih, karena ia dibahas oleh ulama-ulama dalam kitab-kitab fikih pada bab Hukmul Irtidad (hukum orang-orang yang murtad). Disebut muamalat, karena vonis kafir kepada seseorang ada dampak sosialnya (bagi keluarga dan masyarakat). Maka itu jangan sembarangan membahas masalah ini.

[e]. Masalah Takfir banyak dibahas terkait dengan pentingnya menegakkan Syariat Islam. Jika demikian, maka perkara Takfir ini harus kita angkat sesuai Syariat Islam juga, agar selaras. Tidak mungkin rasanya, kita ingin Syariat Islam tegak, tapi kita tidak mau meletakkan urusan Takfir dalam timbangan Syariat Islam.

[f]. Takfir dibedakan atas dua jenis: Takfir ‘Aam atau takfir global; dan Takfir Mu’ayyan atau takfir individu. Takfir ‘Aam misalnya perkataan: “Para penyembah kubur adalah kafir!” Nah, disini tidak disebut nama-nama para penyembah kubur; hanya disebut secara global. Ini boleh dilakukan, sebagai peringatan bagi manusia. Sebagian besar Takfir ulama Wahabi ada dalam posisi ini. Sedangkan contoh Takfir Mu’ayyan misalnya pada perkataan: “Si Fulan bin Fulan, beralamat disini, bekerja sebagai ini, identitasnya begini-begini; dia dinyatakan kafir karena menyebarkan kartun menghina Nabi SAW.” Nah, ini takfir individu.

[g]. Takfir akan berjalan sempurna sesuai Syariat Islam, jika terpenuhi 3 perkara: (1). Ada perbuatan, ucapan, atau sikap yang membuat manusia terkena hukum kekafiran; (2). Ada legitimasi hukum Syariat yang membuat hakim Islam bisa memutuskan vonis kafir kepada seseorang; (3). Ada lembaga penegak hukum Islam yang bisa merealisasikan hukuman (sanksi) terhadap orang yang murtad itu.

[h]. Sebuah contoh, misalnya ada manusia Muslim bernama Rusli melakukan perbuatan kekufuran, misalnya dengan menginjak-injak Al Qur’an. Maka kita tak bisa langsung memvonisnya kafir. Tapi kita serahkan perkara ini kepada Qadhi Syariat (hakim yang tegak berdasarkan Syariat Islam) untuk memeriksa perkaranya; sampai ada keputusan apakah kekafiran Rusli sudah mantap, atau ada keraguan padanya? Siapa tahu, saat menginjak-injak Al Qur’an Rusli dalam keadaan mabuk, sehingga dianggap seperti orang tidak waras. Kalau Qadhi Syariat tidak ada, kita mencarikan fatwa dari Dewan Ulama (Majelis Ulama) yang kredibel, untuk menanyakan status orang itu. Dewan Ulama harus melakukan penyelidikan untuk sampai kepada satu kesimpulan yang mantap.  Jika telah ada ketetapan hukum yang mantap bahwa Rusli memang kafir karena perbuatannya; penegak hukum Syariat segera bergerak untuk melaksanakan sanksi atas Rusli (si murtad).  Sanksi ditegakkan sesuai ketentuan Syariat. Tampak disini, untuk menegakkan hukum Takfir dibutuhkan: Kepastian perbuatan seseorang, legitimasi lembaga hukum Syariat, dan pelaksanaan sanksi sesuai Syariat. Inilah contoh Takfir sesuai Syariat. Kalau belum terpenuhi unsur-unsur ini, maka Takfir yang diberikan belum mencukupi aturan Syariat.

[i]. Kita tidak boleh menetapkan secara pasti (memvonis) misalnya: “Anggota MPR/DPR kafir murtad. Anggota TNI/Polri kafir murtad. Hakim, jaksa, pegawai negara kafir murtad.” Kata-kata demikian tidak boleh diucapkan. Alasannya: Siapa yang mengucapkan kata-kata itu? Apakah dia seorang Qadhi Syariat, atau seorang Mufti, atau seorang Ketua Dewan Ulama yang fatwa-fatwanya mengikat kehidupan kaum Muslimin? Karena fatwa kafir harus memiliki legitimasi hukum. Tidak bisa semua orang obral vonis Takfir. Nanti akan membuat semakin ruwet kehidupan Ummat. Alasan lain: Menyebut jelas “anggota MPR/DPR” kafir murtad, itu termasuk jenis Takfir Mu’ayyan, karena anggota lembaga itu jelas orang-orangnya. Manusia tahu siapa anggota lembaga-lembaga itu, karena ada daftar keanggotaannya. Takfir Mu’ayyan harus benar-benar dilakukan berdasarkan penyelidikan per individu, tidak bisa main pukul rata. Nabi SAW tidak pernah menghukumi kafir kepada suatu kaum secara global, kecuali kepada kaum yang benar-benar kafir seperti musyrikin Makkah, Yahudi, Nasrani, dan semisalnya. Dalam riwayat, Umar bin Khatthab RA meminja izin untuk membunuh seseorang karena dia hendak menyerahkan surat rahasia ke puak-puak musyrikin di Makkah. Namun Nabi mencegahnya, dengan alasan orang itu adalah peserta Perang Badar. Padahal perbuatannya secara zhahir sudah dianggap kafir, karena bersekutu dengan musuh Islam. Begitu juga Usamah bin Zaid RA pernah membunuh seseorang yang mengucap Laa Ilaha Illallah, lalu Nabi SAW marah besar kepadanya. Padahal secara logika, alasan Usamah sangat bisa dimengerti. Alasan lain: vonis semacam itu di negara yang tidak ada legitimasi hukum Hudud seperti Indonesia ini, akan menimbulkan perpecahan di antara kaum Muslimin. Sebaiknya, kaum yang bijak dan penuh perjuangan bersikap hati-hati dalam perkara seperti ini!

[j]. Fakta berbicara, bahwa dalam perjuangan Nabi SAW di Makkah, Takfir diangkat adalah untuk membedakan antara pengikut Tauhid dan pengikut thaghut. Sifat Takfir itu global, dan dalam konteks dakwah Islam. Sanksi atas kaum kafir tidak dilaksanakan di Makkah. Baru setelah kaum Muslimin memiliki legitimasi hukum untuk menetapkan hukum kafir kepada individu berikut sanksi hukumnya, ia dilaksanakan; yaitu setelah Ummat mendapati kedaulatan hukum di Madinah.

Singkat kata, kita harus berhati-hati ketika berbicara tentang Takfir ini. Sebagai Muslim, kita lebih suka jika lebih banyak orang yang menjadi Islam; bukan lebih banyak orang menjadi kafir. Kita mencintai keislaman atas orang lain, seperti kita mencintai keislaman atas diri kita sendiri. Nabi SAW bersabda: “Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi maa yuhibbu li nafsih” (tidak beriman salah satu dari kalian, sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri). Cintailah untuk saudaramu, apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri.

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(Abah Syakir).


Memuji Dialog Ustadz Salafi

Januari 15, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini dilaksanakan dialog antara ASWAJA (NU) dengan Salafi di Kantor Kemenag Batam. Dialog menghadirkan Ustadz Firanda dan Ustadz Zainal Abidin dari Salafi; dan menghadirkan Ustadz Idrus Ramli dan Ustadz Thobari dari NU. Hasil dialog dapat diunduh di Youtube.

Link video sebagai berikut:

Tetapi data video di atas cukup besar, kalau tidak salah melebihi 600 MB. Kalau didownload tentu makan waktu lama. Ya silakan cari solusinya.

Disini kami ingin memberikan apresiasi (pujian) kepada Ustadz-ustadz Salafi yang terlibat dalam dialog di atas. Kami tidak menyinggung isi dialog atau materinya; karena dalam pandangan kami, apa yang dipaparkan Ustadz-ustadz Salafi itu serupa dengan yang kami yakini. Tapi pujian ini tertuju pada KESEDIAAN dan KELAPANGAN HATI mereka untuk berdialog dengan kalangan non Salafi.

Bagi kami, melihat ada Ustadz Salafi yang mau terjun berdialog, ini sungguh bagus. Karena selama ini Salafi dikenal sering “menghindari dialog”. Itu sudah bagus dan layak dikembangkan, agar terjadi saling memahami satu sama lain. Soal orang lain mau terima dalil kita, itu urusan mereka, yang penting dakwah sudah disampaikan.

Kenapa kami apresiasi hal ini?

Karena mengingat peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi di Mesir, salah satunya karena minimnya dialog dan komunikasi antar gerakan-gerakan dakwah Islam; sehingga ketika terjadi chaos, masing-masing menempuh kebijakan sendiri yang saling berbenturan. Itu sangat buruk dan berdampak bahaya bagi masa depan Ummat.

Dengan kebiasaan dialog, diskusi, saling mengajukan argumen dan pendapat, secara fair; insya Allah akan tercipta situasi persaudaraan yang lebih baik antar sesama Muslim. Amin Allahumma amin.

Terimakasih kepada Ustadz Firanda, Ustadz Zainal Abidin, Ustadz Idrus Ramli dan Ustadz Thobari; terimakasih juga kepada kantor Kemenag Batam, masyarakat kaum Muslimin disana, dan panitia dialog serta media yang mengekspose-nya. Jazakumullah khairan katsira.

(Admin Pustaka Langit Biru).


10 Fakta Kelicikan KPK. Ayo Kritis Bro!

Januari 12, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tahu tidak, setiap ada suara-suara kritis yang mengkritik KPK, selalu saja muncul pembelaan-pembelaan naif, seperti: “Mereka ingin melemahkan KPK. Mereka pro koruptor, tidak mendukung pemberantasan korupsi. Mereka tidak mau Indonesia bebas korupsi.” Dan omongan-omongan sejenis.

KPK memang lembaga anti korupsi; tapi isinya kan manusia-manusia juga yang tidak suci dari dosa dan hawa nafsu. Siapa menjamin bahwa sistem KPK dan orang-orangnya suci dan bebas dari dosa?

Satu fakta yang layak diangkat sebagai permulaan. KPK sudah berdiri sejak tahun 2003, di era Megawati. Berarti lembaga ini sudah 10 tahun eksis di negeri ini. Setelah sekian lama, apakah negeri kita jadi bebas korupsi? Apakah kehidupan kita jadi makmur, jadi sejahtera, jadi adil dan penuh sentosa? Ya tahu sendirilah.

Kalau memang KPK sangat sukses dalam pemberantasan korupsi, harusnya kehidupan kita semua ini berubah drastis; dari kemiskinan menjadi kemakmuran, dari pungli berubah menjadi administrasi yang rapi, dari skandal-skandal keuangan menjadi keberhasilan proyek-proyek pembangunan, dari kesemrawutan tatanan sosial menjadi kerapian dan disiplin. Di China itu tak ada lembaga semodel KPK, tapi mereka serius berantas korupsi, sehingga dampaknya besar bagi kehidupan rakyat China. Di kita ini, banyak omong, tapi hasil cuma secuil.

Cuma orang-orang bodoh yang percaya bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia bergantung eksistensi KPK. Cuma orang bodoh yang mau percaya hal itu. Ketahuilah, KPK itu hanya SEMACAM AKUARIUM, sekedar untuk memberitahu bangsa Indonesia bahwa di negeri ini sudah berlangsung pemberantasan korupsi. Padahal hasilnya sangat jauh dari harapan. Kalau KPK benar-benar gentle, harusnya bisa memberantas pengerukan kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing.

Lembaga KPK ini kan sangat didukung oleh Amerika, agar menjadi semacam AKUARIUM tadi. Biar rakyat Indonesia tahu kalau di negeri ini ada pemberantasan korupsi. Biar tahu saja. Adapun soal keseriusan memberantas korupsi dan hasil nyatanya, itu masalah lain. Kita ini jadi semacam dikasih AKUARIUM DOANG, biar tidak bertanya-tanya soal lautan dan samudra.

“Ini nih, di akuarium ini sudah ada lautan dan samudra. Di lautan ada ikan dan karang, disini juga ada. Di lautan airnya biru, akuarium ini airnya juga biru. Sama kok, gak ada bedanya!” Begitulah logikanya.

Omong kosong klaim yang mengatakan bahwa KPK bisa memberantas korupsi di Indonesia. Itu hanya seperti logika, memindahkan pasir di truk dengan sendok. Apa bisa pasir di truk dipindahkan pakai sendok?

Bukan berarti kami anti pemberantasan korupsi, tapi kami anti dengan sandiwara busuk atas nama pemberantasan korupsi. Kalau serius berantas korupsi, jangan berlagak seperti selebritis atau pemandu sorak acara-acara infotainment. Harus sungguh-sungguh, massif, dan konsisten. Kalau orientasinya “asal jadi berita media” ya akhirnya jadi KORUPSITAINMENT, bukan kesungguhan memberantas korupsi itu sendiri.

Berikut adalah sebagian fakta kelicikan lembaha KPK:

[1]. Mereka tidak serius untuk membela posisi hukum mantan Ketua KPK Antasari Azhar. Kita tahu, bahwa di balik kasus Antasari Azhar itu terdapat banyak kecurangan hukum yang menimpa Antasari. Keluarga Nasaruddin yang semula membenci Antasari akhirnya sadar bahwa Antasari bukan pelaku pembunuhan keluarga mereka. Mengapa KPK harus ikut bertanggung-jawab terhadap masalah ini? Karena Antasari Azhar ditetapkan sebagai tersangka ketika sedang menjabat Ketua KPK. Artinya, lembaga KPK ikut bertanggung-jawab atas nasibnya. Antasari tidak boleh dilupakan. Mungkin orang akan berdalih: “Itu kan bukan masalah korupsi. Kami tidak berhak masuk kesana.” Ini alasan naif. Yang terjadi pada kasus Antasari adalah korupsi hukum; itu lebih hebat ketimbang korupsi uang (kekayaan). Selama ini tidak ada komitmen dari Ketua KPK yang mana saja terhadap nasib Antasari; padahal dia dijebloskan ke penjara saat menjabat Ketua KPK.

[2]. Masih ingat kasus Bibit Samad dan Chandra Hamzah soal “Kriminalisasi Ketua KPK”? Waktu itu kedua Ketua KPK itu mengungkapkan bukti rekaman percakapan antara terdakwa korupsi dengan aparat hukum, yang intinya ada kesengajaan untuk menjebloskan kedua Ketua KPK ke tuduhan kriminal. Rekaman disebar di media dan online. Tapi masalahnya, secara prosedur kasus kedua Ketua KPK sudah masuk tahap penyidangan (P21). Tuduhan aparat melakukan kriminalisasi dijawab begini: “Mari kita buktikan, ada tidaknya kriminalisasi lewat mekanisme hukum!” Ternyata kedua ketua tersebut tidak mau. Keduanya memilih memainkan pengaruh media untuk melawan proses hukum. Akhirya SBY menurunkan tim pencari fakta untuk menengahi masalah; sampai akhirnya kedua Ketua KPK dinyatakan bebas lewat mekanisme Deponering. Ini kan sangat aneh, ketua lembaga hukum tidak mau menjalani proses hukum.

[3]. Dari berbagai kasus yang ditangani KPK banyak pelaku korupsi yang ditetapkan sebagai tersangka, setelah ditemukan bukti rekaman percakapan yang mengindikasikan tindak korupsi. Persoalannya, semua orang yang ditetapkan sebagai tersangka itu kan rata-rata orang di luar tubuh KPK. Pernahkah ada rekaman percakapan antara pejabat-pejabat KPK dengan orang lain, lalu rekaman itu bisa dilihat oleh pihak lain. Jadi bukan hanya pihak KPK saja yang bisa memantau data dari mesin perekam tersebut. Tetapi kan aksesnya sampai saat ini tidak ada. Kalau KPK intens mengawasi orang lain; diperlukan juga KPK diawasi oleh pihak lain yang independen, agar lembaga ini tidak dipakai sebagai “alat pemukul politik”.

[4]. Ketika baru menjabat sebagai Ketua KPK, Abraham Samad berjanji, kasus Skandal Century akan diselesaikan dalam waktu SATU TAHUN. Tanggal 16 Desember 2011 dia dilantik di Istana Presiden, saat ini sudah dua tahun lebih, tetapi kasus Skandal Century belum kelar-kelar juga. Padahal bukti-bukti dan fakta sangat banyak. Dokumen-dokumen seputar Skandal Century itu sangat banyak sehingga harus diangkut memakai troli.

[5]. Dalam kasus beredarnya Sprindik soal penetapan Anas sebagai tersangka kasus Hambalang, pada 9 Februari 2013. Akibat kecerobohan itu Ketua KPK Abraham Samad diajukan ke sidang kode etik internal KPK. Singkat kata, dia dipersalahkan dengan sanksi sangat ringan. Harusnya kalau ketua lembaga anti korupsi mulai bermain-main cara kotor, Abdullah Hehamahua Cs jangan memberi sanksi ringan, tapi harus tegas. Kalau perlu dipecat, atau dijebloskan ke kasus pidana. Mengapa demikian? Kalau tidak tegas, nanti jabatan Ketua KPK itu bisa dipakai untuk “segala keperluan” di luar pemberantasan korupsi. Tapi yang sangat memalukan dan licik adalah: Abraham Samad saat itu menolak pesawat Blackberry-nya disita lalu dibongkar isinya! Nah, itu dia masalahnya. Sangat licik.

[6]. Dalam melaksanakan fungsinya KPK sering memakai cara-cara kotor, yaitu pembunuhan karakter terhadap calon-calon korbannya. Seharusnya, kalau menegakkan hukum ya hukum saja; harus dingin, presisi, tanpa emosi, tanpa membangun opini yang menyudutkan privasi para tersangka. Dalam kasus Al Amin Nasution, KPK menyebarkan rekaman percakapan Al Amin yang tertarik dengan cewek “berbaju putih”. Padahal soal cewek baju putih itu tak ada kaitannya dengan proses hukum. Itu masalah privasi Al Amin Nasution. Begitu juga dalam kasus Luthfi Hasan, KPK sengaja mem-blejeti Luthfi lewat seorang cewek muda yang bernama Darin Mumtazah. Lebih parah lagi tentang Ahmad Fathonah, KPK seperti mengaduk-aduk rumah-tangga orang itu. Bayangkan saja, dalam pengakuan KPK, mereka sudah mengikuti gerak-gerik Ahmad Fathonah, termasuk ketika yang bersangkutan masuk hotel. Kalau memang mereka serius menegakkan hukum, bukan mau membuat KORUPSITAINMENT, harusnya dia sudah menangkap Fathonah sebelum masuk hotel. Toh, berdasar data-data yang ada, Fathonah sudah akan disergap. Pertanyaan? Kenapa petugas KPK mesti menunggu yang bersangkutan “main congklak” dulu di kamar hotel? Ya kan tujuannya jelas, biar kasusnya heboh seheboh-hebohnya; nanti setelah itu Johan Budi akan bisa berpuas-puas nampang di depan media, sebagai “The Prince of KPK”.

[7]. Pejabat-pejabat KPK sangat doyan masuk ke acara Indonesia Lawyers Club (tadinya JLC). Acara itu kan disettiing oleh TVOne dan Karni Ilyas; keduanya tidak mewakili lembaga negara. Mereka itu media swasta yang pasti punya kepentingan dan cara-cara tertentu yang mereka lakukan. Kalau yang mengadakan acara adalah TVRI, okelah tak masalah. Tapi ini kan TVOne yang notabene pro Golkar (Aburizal Bakrie). Adalah sangat naif, ketua lembaga penegak hukum rajin kongkow di acara begituan. Kalau misalnya ingin memberi keterangan pers, lakukan secara resmi di board KPK, bukan di lapak orang lain.

[8]. Dalam kasus Luthfi Hasan ada hal yang aneh. Luthfi ditetapkan sebagai tersangka, dan langsung ditahan, dengan tuduhan menerima suap. Kata Johan Budi, saat penangkapan KPK sudah punya dua bukti yang cukup. Tapi belakangan divonis penjara lewat kasus pencucian uang. Cara KPK menjerat Luthfi: aset dan kendaraan Luthfi disita KPK, lalu ditaksir nilainya; kemudian Luthfi disuruh menjelaskan darimana saja uang yang dia pakai sehingga punya aset-aset seperti itu? Inilah yang oleh KPK disebut “pembuktian terbalik”. Cara KPK ini sangat berbahaya. Ia bisa menyasar banyak orang. Hati-hati kepada siapa saja yang punya banyak kekayaan, tapi pelupa, atau tidak rapi menyimpan kwitansi-kwitansi transaksi. Hati-hati Anda! Nanti bisa kena strategi “pembuktian terbalik” ala KPK. Jadi seolah KPK menerapkan strategi: “Tangkap dulu, urusan belakangan!” Ini cara-cara koboi dalam penegakan hukum.

[9]. Dalam berbagai kasus korupsi yang melibatkan Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan lainnya didapatkan banyak kesaksian tentang keterlibatan Irfan Baskoro alias Ibas, anak SBY. Banyak saksi-saksi yang mengatakan hal itu. Tapi mengapa Ibas tidak kunjung diperiksa oleh KPK; padahal kalau dalam kasus lain-lain, kesaksian tersangka korupsi menjadi bahan untuk penyidikan selanjutnya. Seharusnya Ibas dihadirkan dalam persidangan dan ditanya keterlibatannya. Hal itu bisa menjadi jalan untuk masuk menyelidiki keterlibatan keluarga Cikeas secara umum.

[10]. Dalam kasus yang melibatkan Anas Urbaningrum, juga ada hal yang aneh. Terutama masalah kronologi sampai Anas ditetapkan sebagai tersangka. Seperti kata orang, kok bisa SBY mendesak-desak agar kasus Anas segera diselesaikan? Kemudian Anas ditetapkan sebagai tersangka setelah ada desakan-desakan itu. KPK menolak tudingan ini. Tapi fakta berbicara, KPK seperti “mati nyali” kalau sudah berbicara posisi orang-orang Cikeas. Seperti sosok Bunda Putri yang merupakan kunci membuka proyek-proyek keluarga Cikeas, tidak jelas bagaimana kelanjutannya. Dalam kasus Anas, dia dituduh terlibat menerima mobil Harrier yang paling harganya berapa lah; tapi KPK membuat masalah ini seolah merupakan hajat hidup bangsa Indonesia. Kelihatan banget kalau mereka bekerja “asal tersangka dapat dihukum”. Ini kan preseden yang tidak bagus. Harga mobil Harrier itu tak seberapa dibandingkan kehebohan kasus ini di media dan di mata masyarakat. Ya, inilah metode pemberantasan korupsi ala KPK.

Kami meyakini, KPK ini hanya semacam “akuarium” saja. Sekedar sebagai “hiburan” buat rakyat Indonesia bahwa sedang ada pemberantasan korupsi. Tapi adanya KPK tak akan bisa memberantas korupsi sebenarnya, yaitu: pengerukan kekayaan nasional oleh tangan-tangan asing! KPK ini hanya semacam pengalihan saja. Percayalah!

(Mine).


Mengapa Anas Tidak Disukai SBY…

Januari 12, 2014

Katanya, yang sangat ditakuti SBY itu adalah: Surat Anas. Ini bisa dibaca N-nya satu, bisa dibaca juga N-nya dua. Kalau N-nya dua, ditambah satu huruf A di bagian akhir sehingga terbaca: Surat An Naas. Cara baca orang Indonesia kedua tulisan itu terdengar sama, meskipun maknanya berbeda.

Oh ya, kenapa SBY tidak suka kepada Anas Urbaningrum?

Sangat memalukan cara Johan Budi dari KPK saat menggelar jumpa pers kemarin. Dalam jumpa pers soal respon KPK atas kedatangan Anas ke kantor KPK, berkali-kali dia menyebut inisial AU. Mungkin biar kelihatan kalau jubir KPK memegang kode etik komunikasi publik. Tapi dalam waktu yang sama, dia sempat “keceplosan” dengan menyebut nama Anas Urbaningrum secara jelas. Ya lucu, sekali waktu bilang AU, di waktu lain bilang Anas Urbaningrum.

Untungnya Johan Budi tidak menyebut nama: Angkatan Udara. Kalau dia menyebut nama itu, nanti nama AL dan AD ingin disebut juga. Ya lumayan, nama korp disebut-sebut oleh Johan Budi…si ketua KPK sejati…eh maksudnya, jubir KPK.

Balik ke soal SBY lagi. Masih ingat ketika SBY buat manuver “penurunan harga gas” kemarin. Padahal sedianya dengan cara “carmuk” begitu hampir saja dia dapat simpati publik. Tapi buru-buru KPK mengangkat kasus Anas. Ya otomatis, citra SBY tenggelam lagi. Sedianya pingin meraih simpati, akhirnya dilupakan. Permainan “sport jantung” bagi rakyat dengan ide kenaikan ini dan itu, harus dihentikan. Itu cara-cara tidak pantas.

Kenapa SBY seperti gething (benci) banget ke Anas?

Jawabnya: Ya, yang tahu hanya Allah dan SBY sendiri. Itu jawaban pastinya.

Tapi kalau jawaban relatif, bisa kita reka-reka. Bisa kita carikan jejak dan analisisnya. Cipta Lesmana, Burhanuddin Mubtadi, Ridwan Saidi, Boni Hargens, dan lain-lain… mereka bisa jadi pengamat, karena dunia analisis dan reka-reka jawaban itu.

Menurut kami, SBY benci Anas, karena satu dosa saja. (Satu dosa besar, tapi anak-cucunya banyak. Jadi akhirnya dosanya dianggap banyak juga. He he he…).

Apa dosa yang satu itu?

[Heleh…lama banget sih, ditunda-tunda melulu, buying time terus. Cepet dong, apa jawabnya! Kalau dijawab cepet, yang enak Situ, yang gak enak disini. He he he…].

SBY benci Anas karena: Anas adalah satu-satunya politisi yang hampir tuntas men-download model dan gerak gerik SBY. Ibaratnya proses download sudah 95 %.

Begitu Anas sudah kelihatan sangat mirip SBY gaya-gayanya, cara ngomongnya, cara menantapnya, cara sedekapnya, cara memandang ke luar jendel; model rambut klimisnya…. Wah, itu jadi pertanda bahaya bagi. “Gawat bro, kalau Anas bisa mengkopi model gue, waduh gawat. Gue bisa kehilangan pasaran. Ntar para pecinta gue jadi nyebrang kesana semua. Mumpung download belum selesai, matikan saja listrik dari saklar-nya. Matikan cepet!”

Tapi ini kan cuma reka-rekaan analisis saja. Bener tidaknya, kita tak tahu. Ya lumayan buat hiburan… khususnya buat fans MU yang akhir-akhir ini kalah melulu. Lho kok jadi ke MU sih? Ya gak apa-apa, wong cuma selingan.