Memahami Konsep TAKFIR!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Masalah TAKFIR (mengkafirkan seseorang) banyak dibahas di berbagai kesempatan. Ada yang bersikap lantang dalam Takfir; ada yang sangat lunak bahkan selunak-lunaknya. Hal ini cukup membingungkan Umat. Mari kita kaji tema Takfir ini untuk mendapatkan pemahaman. Bismillah, bi nashrillah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

[a]. Orang Liberal mengklaim bahwa: “Yang berhak menghakimi kafir tidaknya seseorang hanyalah Tuhan. Manusia tidak berhak menghakimi manusia yang lain kafir.” Ini adalah kata-kata munkar bin bathil; karena justru Al Qur’an menjelaskan secara gamblang kafirnya kaum Yahudi, Nasrani, dan musyrikin. Bahkan Al Qur’an juga menyebut orang munafik sebagai kafir hatinya; meskipun amal-amalnya tampak Muslim.

Urusan Takfir Berkaitan dengan Darah dan Kehidupan Manusia.

Urusan Takfir Berkaitan dengan Darah dan Kehidupan Manusia.

[b]. Kaidah terbesar dalam TAKFIR (mengkafirkan) adalah: Kita mengkafirkan manusia yang dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya; dan kita melepaskan manusia yang tidak dipandang kafir oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadi hukum Takfir mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya, layaknya berbagai perkara apapun dalam Islam.

[c]. Dua kaum sesat dalam Takfir, yaitu KHAWARIJ yang bermudah-mudah mengkafirkan manusia; dan MURJI’AH yang bermudah-mudah dalam menerima keislaman manusia. Ahlus Sunnah Wal Jamaah bersikap pertengahan, adil di antara kedua sekte itu.

[d]. Perkara Takfir bukan masalah mudah. Ia berada di area AKIDAH,  FIKIH, dan MUAMLAH. Disebut akidah, karena masalah Takfir berkaitan dengan pembeda antara iman dan kufur. Disebut fikih, karena ia dibahas oleh ulama-ulama dalam kitab-kitab fikih pada bab Hukmul Irtidad (hukum orang-orang yang murtad). Disebut muamalat, karena vonis kafir kepada seseorang ada dampak sosialnya (bagi keluarga dan masyarakat). Maka itu jangan sembarangan membahas masalah ini.

[e]. Masalah Takfir banyak dibahas terkait dengan pentingnya menegakkan Syariat Islam. Jika demikian, maka perkara Takfir ini harus kita angkat sesuai Syariat Islam juga, agar selaras. Tidak mungkin rasanya, kita ingin Syariat Islam tegak, tapi kita tidak mau meletakkan urusan Takfir dalam timbangan Syariat Islam.

[f]. Takfir dibedakan atas dua jenis: Takfir ‘Aam atau takfir global; dan Takfir Mu’ayyan atau takfir individu. Takfir ‘Aam misalnya perkataan: “Para penyembah kubur adalah kafir!” Nah, disini tidak disebut nama-nama para penyembah kubur; hanya disebut secara global. Ini boleh dilakukan, sebagai peringatan bagi manusia. Sebagian besar Takfir ulama Wahabi ada dalam posisi ini. Sedangkan contoh Takfir Mu’ayyan misalnya pada perkataan: “Si Fulan bin Fulan, beralamat disini, bekerja sebagai ini, identitasnya begini-begini; dia dinyatakan kafir karena menyebarkan kartun menghina Nabi SAW.” Nah, ini takfir individu.

[g]. Takfir akan berjalan sempurna sesuai Syariat Islam, jika terpenuhi 3 perkara: (1). Ada perbuatan, ucapan, atau sikap yang membuat manusia terkena hukum kekafiran; (2). Ada legitimasi hukum Syariat yang membuat hakim Islam bisa memutuskan vonis kafir kepada seseorang; (3). Ada lembaga penegak hukum Islam yang bisa merealisasikan hukuman (sanksi) terhadap orang yang murtad itu.

[h]. Sebuah contoh, misalnya ada manusia Muslim bernama Rusli melakukan perbuatan kekufuran, misalnya dengan menginjak-injak Al Qur’an. Maka kita tak bisa langsung memvonisnya kafir. Tapi kita serahkan perkara ini kepada Qadhi Syariat (hakim yang tegak berdasarkan Syariat Islam) untuk memeriksa perkaranya; sampai ada keputusan apakah kekafiran Rusli sudah mantap, atau ada keraguan padanya? Siapa tahu, saat menginjak-injak Al Qur’an Rusli dalam keadaan mabuk, sehingga dianggap seperti orang tidak waras. Kalau Qadhi Syariat tidak ada, kita mencarikan fatwa dari Dewan Ulama (Majelis Ulama) yang kredibel, untuk menanyakan status orang itu. Dewan Ulama harus melakukan penyelidikan untuk sampai kepada satu kesimpulan yang mantap.  Jika telah ada ketetapan hukum yang mantap bahwa Rusli memang kafir karena perbuatannya; penegak hukum Syariat segera bergerak untuk melaksanakan sanksi atas Rusli (si murtad).  Sanksi ditegakkan sesuai ketentuan Syariat. Tampak disini, untuk menegakkan hukum Takfir dibutuhkan: Kepastian perbuatan seseorang, legitimasi lembaga hukum Syariat, dan pelaksanaan sanksi sesuai Syariat. Inilah contoh Takfir sesuai Syariat. Kalau belum terpenuhi unsur-unsur ini, maka Takfir yang diberikan belum mencukupi aturan Syariat.

[i]. Kita tidak boleh menetapkan secara pasti (memvonis) misalnya: “Anggota MPR/DPR kafir murtad. Anggota TNI/Polri kafir murtad. Hakim, jaksa, pegawai negara kafir murtad.” Kata-kata demikian tidak boleh diucapkan. Alasannya: Siapa yang mengucapkan kata-kata itu? Apakah dia seorang Qadhi Syariat, atau seorang Mufti, atau seorang Ketua Dewan Ulama yang fatwa-fatwanya mengikat kehidupan kaum Muslimin? Karena fatwa kafir harus memiliki legitimasi hukum. Tidak bisa semua orang obral vonis Takfir. Nanti akan membuat semakin ruwet kehidupan Ummat. Alasan lain: Menyebut jelas “anggota MPR/DPR” kafir murtad, itu termasuk jenis Takfir Mu’ayyan, karena anggota lembaga itu jelas orang-orangnya. Manusia tahu siapa anggota lembaga-lembaga itu, karena ada daftar keanggotaannya. Takfir Mu’ayyan harus benar-benar dilakukan berdasarkan penyelidikan per individu, tidak bisa main pukul rata. Nabi SAW tidak pernah menghukumi kafir kepada suatu kaum secara global, kecuali kepada kaum yang benar-benar kafir seperti musyrikin Makkah, Yahudi, Nasrani, dan semisalnya. Dalam riwayat, Umar bin Khatthab RA meminja izin untuk membunuh seseorang karena dia hendak menyerahkan surat rahasia ke puak-puak musyrikin di Makkah. Namun Nabi mencegahnya, dengan alasan orang itu adalah peserta Perang Badar. Padahal perbuatannya secara zhahir sudah dianggap kafir, karena bersekutu dengan musuh Islam. Begitu juga Usamah bin Zaid RA pernah membunuh seseorang yang mengucap Laa Ilaha Illallah, lalu Nabi SAW marah besar kepadanya. Padahal secara logika, alasan Usamah sangat bisa dimengerti. Alasan lain: vonis semacam itu di negara yang tidak ada legitimasi hukum Hudud seperti Indonesia ini, akan menimbulkan perpecahan di antara kaum Muslimin. Sebaiknya, kaum yang bijak dan penuh perjuangan bersikap hati-hati dalam perkara seperti ini!

[j]. Fakta berbicara, bahwa dalam perjuangan Nabi SAW di Makkah, Takfir diangkat adalah untuk membedakan antara pengikut Tauhid dan pengikut thaghut. Sifat Takfir itu global, dan dalam konteks dakwah Islam. Sanksi atas kaum kafir tidak dilaksanakan di Makkah. Baru setelah kaum Muslimin memiliki legitimasi hukum untuk menetapkan hukum kafir kepada individu berikut sanksi hukumnya, ia dilaksanakan; yaitu setelah Ummat mendapati kedaulatan hukum di Madinah.

Singkat kata, kita harus berhati-hati ketika berbicara tentang Takfir ini. Sebagai Muslim, kita lebih suka jika lebih banyak orang yang menjadi Islam; bukan lebih banyak orang menjadi kafir. Kita mencintai keislaman atas orang lain, seperti kita mencintai keislaman atas diri kita sendiri. Nabi SAW bersabda: “Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi maa yuhibbu li nafsih” (tidak beriman salah satu dari kalian, sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri). Cintailah untuk saudaramu, apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri.

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(Abah Syakir).

Iklan

4 Responses to Memahami Konsep TAKFIR!

  1. Difan berkata:

    Assalamu’alaykum ustadz…

    Sedikit pencerahan membaca tulisan ini. Saya pernah masuk ke situs firanda.com yang salah satu artikelnya isinya mengritik blognya millahibrahim.wordpress.com sebagai tukang takfir. Itu bagaimana ustadz? Apakah ustadz Aman dan Abu Bakar itu katanya suka gampang mengkafirkan pemerintah dan orang-orang yang terlibat didalamnya?

  2. asli salafi berkata:

    …..sejumlah tuduhan & caci maki.

  3. abisyakir berkata:

    @ Difan…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Afwan akhi, kami tidak bisa berkomentar lebih jauh. Tapi pendirian kami begini:

    = Pemerintah Indonesia BUKAN sistem Islami atau negara Islami. Ya itu menyangkut seluruh penyelenggara negara dari atas sampai bawah.

    = Ciri pemerintah Islami: Didedikasikan untuk menjaga agama, jiwa, harta, akal, keturunan kaum Muslimin. Kalau sebuah pemerintahan tidak didedikasikan kesana, ya bukan pemerintahan Islami.

    = Sistem pemerintahan di negara kita jelas BUKAN ISLAMI; meskipun atheis juga bukan, Nashrani juga bukan, Yahudi juga bukan, nasionalis murni juga bukan; jadi semacam sistem campuran. Unsur-unsur Islaminya ada, tapi tidak dominan.

    = Status pejabat, pegawai, pemimpin, staf dalam sistem seperti di Indonesia ini, ya tergantung KEYAKINAN dan SIKAP masing-masing terhadap konsep Islami. Kalau mereka setuju, sepakat, meyakini, berpihak; tetapi secara zhahir tidak berani menunjukkan dukungannya terhadap Islam; yang begitu tidak boleh diingkari keislamannya. Sama juga, kalau mereka mendukung sistem sekuler, karena kebodohan, atau tidak tahu, atau belum sampai penjelasan kepadanya; itu juga tidak boleh diingkari agamanya.

    = Paling jauhnya, takfir dalam kondisi saat ini adalah untuk PERINGATAN, yaitu mengingatkan insan akan hak-hak Rabb-nya yang harus dipenuhi berupa ketundukan dan ketaatan kepada Hukum-Nya. Kita tidak bisa memvonis orang per orang (atau sekumpulan orang tertentu) sebagai kafir, lalu menetapkan kepastian dan sanksi kepadanya; karena saat ini kan kita TIDAK MEMILIKI lembaga untuk menetapkan vonis takfir itu. Itu kan keputusan Syar’i, harus ada lembaga penetapnya.

    Demikian sekilas, semoga dimengerti. Terimakasih. Wallahu a’lam bisshawab.

    Admin.

  4. Difan berkata:

    Alhamdulillah sangat mencerahkan jawabannya, syukran ustadz. Jujur, blog ini sering saya jadikan pegangan untuk menerima informasi-informasi yang sering tak berimbang di antara kalangan lainnya. Saya izin copy tulisannya ustadz. Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: