Rezim Militer Mesir Ingin Membabat Islam (Al Ikhwan) Ketika Musim Semi Jihad Sedang Berhembus

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Suatu kaum ketika sudah melakukan kezhaliman, dia akan mengulang perbuatan zhalim yang lain. Satu kezhaliman akan diikuti kezhaliman berikutnya; begitu seterusnya sehingga dia berubah wujud dari manusia normal menjadi SETAN zhalim. Ketika dalam keadaan bergelimang kezhaliman, akibatnya dia akan banyak melakukan kesalahan; lalu akhirnya di kalahkan.

Percaya tidak percaya, semua riwayat kaum zhalim tidak ada yang happy ending. Selalu berakhir nestapa berkepanjangan. Allah Ta’ala telah mengingatkan: “Innallaha laa yahdi qaumaz zhalimin” (sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum zhalim). Haram bagi Allah memberi petunjuk, dukungan, sokongan kepada kaum zhalim. Bahkan kezhaliman itu hakikatnya adalah kegelapan, tanpa jalan terang. Kata Nabi Saw: “Ittaquu zhulma fa innaz zhulma zhulumatun fi yaumil qiyamah” (takutlah kalian dari berbuat zhalim, karena kezhaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di Hari Kiamat).

Ketika Basyar Assad -laknatullah ‘alaih wa ashabihim ajma’in- sedang terus bekerja untuk membantai kaum Muslimin di Suriah; pada saat yang sama Jendral As Sisi terus intensif bekerja untuk membabat Islam di Mesir. Mulanya, sasaran As Sisi adalah jamaah Ikhwanul Muslimin. Tapi lama-lama, segala yang berbau Islami, segala yang pro Syariat, yang peduli dan simpati kepada Al Ikhwan, dianggap teroris, musuh negara, halal diperangi. Masjid-masjid disegel, lisensi dakwah dan mengajar agama dicabut, khutbah dan pengajaran Islam diawasi, para ulama terus ditekan. Tidak hanya dari kalangan Al Ikhwan, tapi dari seluruh elemen-elemen Islam. Bahkan mahasiswa Al Azhar yang sebenarnya terkenal moderat, dikuyo-kuyo oleh aparat As Sisi.

Rezim As Sisi Sedang Membidik Dirinya Sendiri

Rezim As Sisi Membidik Dirinya Sendiri

Tidak berlebihan jika sebagian ulama mengatakan: “Kondisi di Mesir bukanlah untuk membabat IM, tetapi untuk menghancurkan Islam.” Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Ketika Jendral As Sisi sudah kekenyangan meminum darah kaum Muslimin dan tidur mendengkur di atas tengkorak-tengkorak korban kezhaliman, saat itu akalnya mulai error, kecerdasannya luruh, kepekaannya mati. Dia melakukan KESALAHAN TERBESAR yang tidak akan dimaafkan oleh sejarah kaum berakal. As Sisi bukannya berdamai dengan singa, atau mencari celah kesepakatan dengannya; tapi dia malah menampar keras singa itu, ketika ia sedang sadar.

Segi apa yang membuat Jendral As Sisi (rezim militer Mesir) dianggap bertindak sangat bodoh dan tidak masuk akal? Bukankah dia berhasil mengaduk-aduk jantung organisasi Al Ikhwan dan membuatnya terhempas ke tanah? Bukankah itu suatu sukses yang belum pernah diraih para pendahulu As Sisi?

Kalau melihat penderitaan Al Ikhwan, iya mungkin kesimpulan begitu ada benarnya. Tapi kalau membaca situasi geopolitik Timur Tengah secara umum, atau dilebarkan sedikit menjangkau kawasan Afghanistan dan Kaukasus, justru tindakan As Sisi itu akan menghadapi GELOMBANG DAHSYAT yang tak pernah dia perkirakan.

Gelombang apa itu? Ya gelombang Jihad Fi Sabilillah. Dengan kelakuan kejam As Sisi dan rezim militernya, dia telah menghalalkan bagi ditegakkannya pilar-pilar Jihad di Mesir. Bahkan gerakan Jihad itu sudah mulai tumbuh dan bereproduksi di Mesir. Ia seperti cendawan yang mulai bermunculan di sana-sini.

Perhatikan analisa ini….

[a]. Mengapa As Sisi membantai ribuan para pendukung Al Ikhwan, kaum wanita, dan anak-anaknya? Bukankah atas alasan kekejaman ini, ribuan para Mujahidin bersafar dari segala tempat menuju Suriah? Untuk apa mereka kesana? Untuk membela kaum Muslimin tertindas kan.

[b]. Mengapa As Sisi tidak melihat maraknya musim semi Jihad di Suriah, di Irak, di Afghanistan, di Yaman, di Somalia, dan sebagainya? Apakah As Sisi memandang remeh gerakan para Mujahidin Islam itu?

[c]. Sejelek-jeleknya Al Ikhwan -jika ada yang memandang begitu- mereka punya hubungan historis dengan para Mujahidin ini. Ulama-ulama Al Ikhwan berkontribusi besar bagi bangkitnya ideologi Salafi Jihadi di dunia. Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah melontarkan prinsip “Al Jihadu Sabiluna” dan “Al Mautu Fi Sabilillahi Asma Amanina“. Kalangan Jihadis dengan sangat baik telah merealisasikan prinsip tersebut. Dr. Abdullah Azzam rahimahullah adalah guru dari ulama Jihad dunia, Syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah. Bahkan fatwa Jihad Global Syaikh Usamah, dilandaskan atas peristiwa-peristiwa penindasan Israel di bumi Palestina (pada awalnya). Termasuk yang tidak dilupakan adalah kontribusi pemikiran Ustadz Sayyid Quthb rahimahullah yang kerap menjadi sandaran para Mujahidin, terutama dalam Tauhid Mulkiyah.

[d]. Dari internal Al Ikhwan sendiri, mereka memiliki tradisi dan disiplin dalam Jihad. Memang harus diakui, peranan ideologis Syaikh Al Qaradhawi sangat kuat dalam membentuk wajah Al Ikhwan yang cenderung moderat. Tapi basis pemikiran dan gerakan mereka, tak bisa dilepaskan dari kancah Jihad. Faktanya, Hamas sebagai sayap politik Al Ikhwan di Palestina, sampai saat ini tetap konsisten dengan Jihad dalam skala lokal Palestina. Al Ikhwan pasti tidak akan membiarkan ketika As Sisi terus bermain kasar dan ingin meluluh-lantakkan kekuatan mereka.

[e]. Besarnya simpati kaum Muslimin sedunia, termasuk organisasi-organisasi Islam, kepada Al Ikhwan. Hal ini menjadi masalah besar yang harus dihadapi As Sisi dari segi diplomasi internasional. Siapapun yang kini bersedia membantu As Sisi, mengulurkan tangan kepadanya, akan didakwa sebagai pembela rezim kudeta yang kejam dan sadis. Bahkan mengulurkan tangan kepada As Sisi dalam rangka memerangi kaum Muslimin (Al Ikhwan) yang tak berdosa di Mesir, termasuk jenis kekufuran dari sisi berserikat memerangi kaum Muslimin (Al Maa’idah: 51).

Betapa amat sangat bodoh As Sisi ketika membantai kaum Muslimin di Mesir, di saat sedang berhembus musim semi Jihad Fi Sabilillah. Lihatlah kancah di Suriah, di Palestina, Afghanistan, Irak, Yaman, Somalia, Libya, dan lain-lain! Apa mungkin para Mujahidin Islam itu akan berdiam diri melihat penindasan di Mesir? Sangat mustahil.

Dan anehnya, As Sisi begitu bergantung kepada Saudi dan UEA, dimana kedua negara ini aparat militernya tidak punya sejarah pernah bertempur dengan siapapun. Coba saja teliti lagi, kapan pasukan Saudi dan UEA bertempur melawan musuh-musuhnya, dalam perang apa saja? Tidak ada. Memang di tengah masyarakat Saudi terdapat banyak potensi kombatan, tapi itu dari kalangan Mujahidin, bukan tentara reguler. Dari sisi pemikiran pun, mereka sangat anti kebijakan politik Saudi.

Al Ikhwan akan butuh waktu beberapa lama untuk konsolidasi dan mengubah cara perjuangan mereka. Mereka sudah berusaha semoderat mungkin, tapi tetap saja ditindas dan dipecundangi; ya tak ada jalan lain, selain terang-terangan menegakkan metode Islami. Ya rezim As Sisi dan dukungan kaum monarkhi Arab yang merestui pembantaian atas jamaah mereka; semua itu telah memaksa Al Ikhwan kembali ke garis aslinya. Waktu akan membuktikan, batas antara Al Ikhwan dan Hamas, akan semakin memudar. Keduanya akan bersinergi. Hanya soal waktu.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakil Ni’mal Maula wa Ni’man Nashir.

(Mine).

Iklan

One Response to Rezim Militer Mesir Ingin Membabat Islam (Al Ikhwan) Ketika Musim Semi Jihad Sedang Berhembus

  1. cakti setiawan berkata:

    ” Inilah gambaran nyata jika ingin berkuasa akan tetapi sangat ketakutan dengan saudara se IMAN ” . as-sisi mengira dengan menumpas dan membantai umat MUSLIM di mesir ISLAM akan hilang / musnah di bumi MESIR …. padahal yg sebenarnya dia telah membangkitkan JIHAD – FISSABILILLLAH di bumi MESIR !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: