HARIRI: Tragedi Dakwah Ustadz Gaul

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Innalillah, innalillah, innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sangat mengerikan kalau melihat video kasus kekerasan yang dilakukan dai gaul Hariri di sebuah acara dakwah sosial di Kab. Bandung.

Setidaknya ada 10 kesalahan dai Hariri dalam kejadian kekerasan itu:

[1]. Hariri marah-marah dan emosi di depan jamaah dakwahnya. Marah karena alasan sepele, masalah kualitas sound system.

[2]. Hariri marah-marah dengan tunjuk-tunjuk ke muka petugas sound system, sambil mengeluarkan kata-kata makian, tekanan. Marah demikian sudah kategori emosi tingkat tinggi.

Sang Dai Sedang Mengajarkan Sebuah Kuncian Khas Aikido.

Sang Dai Sedang Mengajarkan Sebuah Kuncian Khas Aikido.

[3]. Hariri marah dan emosi di depan jamaah kaum ibu-ibu, dan juga anak-anak. Ini sangat traumatik bagi anak-anak. Ia bisa menjadi kenangan buruk sampai masa yang panjang.

[4]. Hariri marah dengan memakai bahasa Sunda yang kasar. Kalau Anda bicara dengan para orangtua di Pasundan, mereka pasti tidak suka mengajarkan bahasa kasar ke anak-anak. Apalagi ia diperlihatkan oleh seorang dai gaul.

[5]. Hariri mengangkat kaki di depan petugas sound system, meminta agar si kaki dicium oleh orang itu. Sangat mengerikan. Setahuku, Raja Heraklius dari Romawi saja tidak melakukan hal itu. Mungkin Hitler, Napoleon, Stalin, Mao, Pinochet, dan lainnya juga tidak begitu.

[6]. Laki-laki yang jadi sasaran Hariri sudah memperlihatkan sikap baik. Mau mendekat kepadanya, menundukkan muka, mendengar kata-kata tantangan Hariri. Bahkan dia sudah mau minta maaf. Laki-laki itu hanya nurut saja apa maunya sang dai. Tapi ia tetap di-bully oleh si dai.

[7]. Hariri meremehkan sikap saling memaafkan yang telah terjalin di antara mereka. Mestinya sikap memaafkan itu menjadi ending dari peristiwa tersebut. Mengakhiri perbuatan saling memaafkan dengan tindakan kekerasan; sama dengan mengurai kebaikan yang sudah diikat dengan kuat.

[8]. Puncak dari kebiadaban Hariri manakala dia dengan jelas menginjak tengkuk laki-laki “sound system” itu. Ini adalah tindakan sangat pengecut dan menyakitkan. Pengecut karena laki-laki itu menyerahkan tangan karena niat memperkuat sikap saling memaafkan. Saat orang sudah rela meminta maaf, malah dikunci tengkuknya (dengan sedikit jurus Jujitsu Brazilian). Ini tidak fair, ini menyakiti. Dan sekaligus memperlihatkan kebiadaban di depan jamaah dakwah.

[9]. Paling parahnya, perbuatan biadab itu dilakukan Hariri di panggung dakwah, dengan memakai penampilan dakwah Kenabian. Rambut panjang, jubah putih, sorban putih…itu ciri khas penampilan Kenabian. Lha kok di atas semua itu, Hariri memamerkan jurus Aikido yang telah dikuasainya? Kan Aikido itu “surganya kunci-mengunci”.

[10]. Dan lebih parah dari semuanya, paling-paling super parah; seperti biasa, Hariri mencoba membela diri. Bukan hanya di depan media, tapi juga di depan jamaah-nya. Ini sangat tidak etis dan memalukan. Harusnya kalau dia sudah sangat emosi, turunlah dari panggung, tinggalkan kewajiban dakwah. Boleh kita meninggalkan dakwah kalau sedang emosi tidak terkontrol.

[11]. Paling buncit, sedikit di atas “super parah”; Hariri melupakan siapa dirinya, siapa orang-orang yang dia bawa dalam dakwahnya, siapa orang-orang sekitarnya, siapa jamaah yang dia bina, siapa kaum Muslimin, dan seterusnya. Dia seperti “mabuk sesaat” sehingga tiba-tiba seperti hilang kesadaran dan kontrolnya.

Inilah tragedi dakwah dai gaul yang sangat mengerikan. Mau digoreng bagaimana juga, tak akan bisa ditolong. Para ustadz, ulama, aktivis Islam, jangan menolong orang demikian; sebab hal itu akan membawa kemurkaan di sisi Allah. Kita tak boleh menolong orang yang aniaya; tapi harus menasehati atau memperbaikinya. Jangan selalu “menutup-nutupi aib” kalau ia sudah terjadi di depan umum.

Inilah salah satu natijah (hasil) dari dakwah gaul yang dibuat TV-TV selama ini. Dakwah artifisial, dakwah industri, dakwah kapitalisme, dakwah entertainment…telah menunjukkan wajah aslinya. Selain yang begini-begini, di luar sana juga banyak kasus-kasus serupa. Nas’alullah al ‘afiyah.

Tentu saja, dakwah gaul ala TV ini lebih banyak merugikan Umat, daripada memberi kemaslahatan. Tinggalkan ia. Jangan concern di depan dakwah TV, tapi berendah hatilah di depan para Dai Rabbani, yang mengajarkan ilmu Syariat, membimbing menuju kemuliaan dunia dan Akhirat. Carilah, engkau kan dapatkan!

Wallahu a’lam bisshawaab.

(Mine).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: