Mencari Presiden RI dan Kegalauan Ummat Islam

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Hasil Pileg April 2014 memberikan arti tersendiri. Suara partai-partai Muslim rata-rata membaik, sedikit penuruan terjadi pada PKS. Hal ini mementahkan sebuah asumsi bahwa politik Ummat Islam sudah “tidak laku”. Faktanya Ummat bergairah mendukung partai-partai Muslim ketika mereka merasakan hadirnya “musuh bersama” (Jokowi dan koalisi Islamphobia di belakangnya).

Namun setelah hasil diperoleh, sesuai quick count, Ummat Islam masih kesulitan untuk mengajukan calon Presiden/Wapres dari kalangan politisi Muslim sendiri. Selain sulit mencari siapa tokoh yang didukung semua kekuatan Muslim; sulit menyatukan partai Muslim; juga adanya keraguan tentang peluang keberhasilan tokoh tersebut dalam Pilpres Juli 2014 nanti.

Berikut beberapa ulasan sebagai masukan, renungan, atau pertimbangan…

"Pemimpin Islami Lahir dari Investasi Politik Islami"

“Pemimpin Islami Lahir dari Investasi Politik Islami”

[1]. Politik itu pada hakikatnya adalah INVESTASI. Kita menginginkan perubahan, perbaikan, kemajuan, tetapi harus investasi dulu dalam sejumlah waktu tertentu. Politik tidak bisa instan; sekarang kita minta, sekarang juga jadi. Tidak bisa begitu. Sebagai contoh, munculnya pemimpin-pemimpin Masyumi sebagai pejabat negara yang amanah dan tidak korup di era Sokarno, hal itu sebagai buah dari proses belajar, perjuangan, pergerakan kemerdekaan sejak awal-awal tahun 1900-an. Sebagian tokoh Masyumi itu pernah menjadi anggota Volkrad (dewan rakyat di era Belanda) dan anggota MIAI (dewan Muslim di era Jepang. Termasuk kemenangan AKP dan Erdogan, ia juga tidak instan. Ia telah dirintis sejak era politik Najmuddin Erbakan pada tahun 1970-an.

Pemimpin hebat seperti Muhammad Fatih juga disiapkan sejak kecil. Begitu juga Shalahuddin Al Ayyubi lahir dari keluarga prajurit, perwira, para pahlawan. Tidak ujug-ujug muncul. Termasuk sosok Khalifah Umar RA lahir dari tempaan kehidupan panjang. Di masa mudanya, beliau jagoan gulat di Pasar Ukadz. Nabi SAW bersabda: “Khairukum fil jahiliyah khairukum fil Islam idza faqahu” (sebaik-baik kalian di masa jahiliyah adalah sebaik kalian di masa Islam, jika dia memahami agama). Hadits ini menjelaskan betapa pentingnya investasi kebaikan untuk mencapai prestasi yang hebat.

[2]. Ide PRESIDEN SYARIAH yang digagas FUI, FPI, Habib Rizieq, secara teori termasuk ide yang menarik. Asumsinya, kalau ada bank syariah, asuransi syariah, gadai syariah, dan sebagainya; maka boleh dong ada ide Presiden Syariah. Hanya masalahnya, konsep Presiden Syariah itu harus dibawa masuk ke ranah politik praktis, dicarikan saluran resminya, serta kompetitif saat diperjuangan di tengah pergulatan politik umum. Ide demikian harus bisa meyakinkan para politisi dari aneka partai, dapat meyakinkan para ahli hukum dan ketata-negaraan, dapat meyakinkan akademisi dan ahli teori, dapat meyakinkan media massa, dapat meyakinkan pelaku pasar, dan utamanya dapat meyakinkan kaum Muslimin dari berbagai kelompok dan strata. Kalau ide ini hanya beredar di sekelompok para aktivis Islam saja, sangat sulit untuk menjadi kenyataan.

[3]. Untuk menjadi Presiden RI; sekedar menjadi ya, tanpa dipertimbangan kualitas dan hasil kepemimpinannya; dibutuhkan 3 unsur: POPULARITAS, ELEKTABILITAS, dan STRATEGI. Pada tahun 1999 Partai Keadilan (PK) pernah mengajukan Ustadz Didin Hafiduddin sebagai calon presiden. Di kalangan aktivis Islam beliau dikenal, tapi di mata masyarakat umum masih sedikit yang mengenal. Ketika Pilkada Jakarta 2012, sosok Foke memiliki popularitas dan elektabilitas; tapi sayang strateginya salah, sehingga hasil akhirnya negatif. Jujur saja, untuk mencari sosok calon pemimpin Islam yang popular, elektabilitas tinggi, lalu didorong dengan strategi yang bagus, untuk saat ini sangat sulit.

[4]. Bahaya yang dihadapi kaum Muslimin saat ini ialah kepemimpinan Jokowi. Jika sosok ini menjadi Presiden RI diduga akan lebih parah dari SBY. Jokowi didukung oleh konglomerat-konglomerat pengemplang BLBI yang ingin aneksasi negeri ini. Untuk menghadang Jokowi diperlukan sosok lain yang populer, elektabilitas tinggi, dan ia memiliki mesin dan strategi politik bagus. Misalnya kita sebut sosok politisi dari kalangan Muslim seperti: Amien Rais, Hatta Rajasa, Muhaimin, Suryadarma Ali, Yuzril Ihza, Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, Ahmad Heriyawan, Habib Rizieq, Ustadz M. Khattath, dan lainnya. Apakah mereka bisa menandingi popularitas dan elektabilitas Jokowi? Cobalah pertanyaan ini dijawab secara obyektif, tanpa emosi; adakah tokoh kita yang saat ini sekuat Jokowi? Kalau misalnya tidak ada, jangan merasa risau; kembali ke teori awal, POLITIK ITU INVESTASI. Bahkan untuk sosok Jokowi sendiri, media massa telah memoleskan selama bertahun-tahun. Itu investasi juga.

[5]. Dalam pandangan kami, untuk Pilpres 2014 ini, sulit bagi Ummat Islam untuk mendapati pemimpin ideal sesuai nilai-nilai Syariat Islam. Dalam tinjauan kami, itu sangat sulit. Mengapa demikian? Ya karena untuk menjadi pemimpin nasional dibutuhkan popularitas, elektabilitas, dan strategi yang bagus. Sedang investasi kita di bidang ini sangat kurang. Apa buktinya? Ketika berbicara tentang Pilpres kita sangat mengandalkan keputusan/kebijakan partai-partai Muslim peserta pemilu. Maksudnya, kita tidak memiliki partai yang benar-benar mewakili aspirasi perjuangan politik Islam. Hal ini menunjukkan bahwa investasi kita di bidang politik ini masih minim. Andai investasi kita bagus, mungkin tinggal menggerakkan kader-kader yang berada di berbagai partai Muslim, untuk mendukung agenda yang kita sodorkan. Jadi tidak dikesankan “meminta-minta”.

[6]. Meskipun peluang terpilihnya pemimpin Islami cukup lemah, bukan berarti pejuangan politik menjadi buntu. Tidak sama sekali. Perjuangan politik bisa digerakkan dengan daya sekecil apapun, di tengah situasi sesulit apapun. Maka jika kita sulit menemukan pemimpin sesuai Syariat, maka lakukanlah tindakan ini: Pilihlah sosok pemimpin Muslim mana saja yang diperkirakan potensi maslahatnya terbesar dan potensi madharatnya terkecil! Di antara tokohg-tokoh calon pemimpin RI yang ada, pilih kandidat yang peluang maslahatnya besar, peluang madharatnya kecil, dan tentiu saja dia punya peluang besar sukses menjadi Presiden RI. Pasti ada sosok seperti itu!

[7]. Kami nasehatkan kepada Ummat Islam secara umum, jika saat ini kita belum mendapati pemimpin negara yang sesuai Syariat, jangan berkecil hati. Dasar pemikirannya adalah: [a]. Pemimpin Syariat akan diiperoleh jika kita telah berinvestasi lama di bidang ini; kalau selama ini kesan yang ada, kita telah meninggalkan politik praktis, ya jangan terlalu bermimpi soal pemimpin seperti itu; [b]. Andai terpilih pemimpin Muslim, dalam kondisi investasi politik kita lemah, justru hal itu bisa mencoreng nama baik agama kita sendiri. Anda masih ingat tahun 1999-2001, ketika itu RI dipimpin Gusdur. Promotor utama terpilihnya Gusdur adalah Pak Amien Rais dan poros tengah (koalisi partai-partai Muslim). Nyatanya Gusdur tak bisa memimpin, negara ancur-ancuran. Akhirnya muncul preseden jelek di tengah Ummat, katanya: “Beginilah hasilnya kalau negara dipimpin seorang kyai.” Padahal Gusdur sendiri tidak memiliki akar pemahaman dan pengamalan Syariat yang baik.

[8]. Untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia saat ini, sungguh sulit dan berat. Sebagai gambaran, lihat struktur APBN. 60 % APBN digunakan untuk belanja rutin, termasuk biaya departemen, pemda, pemkot, gaji PNS, Polri, TNI, guru, dan seterusnya. 25 % APBN digunakan untuk membayar hutang negara dan bunganya setiap tahun. Hutang ke Bank Dunia dan IMF untuk bayar dana BLBI yang dibawa kabur para konglomerat China senilai sekitar 600 triliun, masih terus dibayar sampai saat ini. Katanya baru luas tahun 2032 nanti. 10 % APBN untuk dana infrastruktur, pengembangan, pemberdayaan, penelitian, dan seterusnya. Sisa APBN praktis hanya sekitar 5 % saja. Nah, pemimpin-pemimpin Muslim yang berambisi menjadi Presiden RI, harus bisa menyelesaikan tantangan semacam ini. Jangan terbayangnya nanti dihormati, diberi fasilitas klas 1, bisa pelesir ke luar negeri, dapat fee proyek ini dan itu, anak-anak dan isteri dijaga Negara 24 jam penuh sehari, dan seterusnya. Jangan bermimpi begitulah, tapi pikirkan manajemen APBN seperti di atas.

[9]. Di tengah krisis politisi dan negarawan Islami ini, muncul sosok Rhoma Irama sebagai calon presiden dari kalangan Ummat Islam. Banyak pihak yakin, Rhoma bisa jadi presiden. Bisa sih bisa, dengan asumsi mengandalkan popularitas. Tapi masalahnya, apakah sosok seniman seperti dia layak memimpin negara? Anda pernah mendengar tesis Ibnu Khaldun, bahwa tanda-tanda peradaban yang mulai menua ketika ia memuja-muja seniman dan dunia seni. Itu peradaban yang menua ya, lalu bagaimana dengan Indonesia ini yang masih acak-acakan, meraih kemajuan juga belum? Mungkinkah negeri seperti ini diserahkan ke tangan seniman? Kadang ketika tehimpit masalah, kita sering berpaling ke solusi-solusi aneh yang justru membahayakan masa depan dan kehidupan.

[10]. Menurut kami, kriteria seorang pemimpin Indonesia nanti secara umum sebagai berikut: [a]. Seorang Muslim Ahlus Sunnah (bukan pengikut atau pendukung aliran sesat); [b]. Memiliki kekuatan fisik, seperti sosok Thalut; [c]. Memiliki pengetahuan tentang kehidupan yang luas, dalam kriteria pemimpin disebut karakter Fathanah; [d]. Bersikap amanat terhadap kehidupan rakyat, kekayaan negara, serta hak-hak kaum Muslimin; [e]. Bisa memimpin perang. Kriteria terakhir ini perlu ditambahkan karena menyadari kondisi aktual saat ini dimana negeri-negeri Muslim dilanda aneka macam konflik seperti Suriah, Afghan, Irak, Yaman, Mesir, Somalia, dan lainnya. Jangan seperti seorang presiden tertentu, setelah hampir 10 tahun memimpin bangsa, dia baru berbicara: “Saat ini bangsa kita siap perang!” Aneh, menjelang berakhirnya masa jabatan baru ngomong “siap perang”.

Demikian beberapa pandangan yang bisa kami sampaikan. Menurut kami, saat ini jangan terlalu berharap akan lahir Presiden RI Bersyariah; bukan karena ide itu tidak menarik, tapi kita tak memiliki modal investasi politik untuk memperjuangkannya ke tingkat aplikasi. Saran kami, kalau misalnya Ummat Islam bersedia, mari kita dirikan partai Islami (partai baru) sebagai solusi kebuntuan saluran politik ini. Kita harus berinvestasi sebelum memetik hasil! Minimal, pilihlah sosok pemimpin yang dapat diduga peluang maslahatnya besar dan peluang madharatnya kecil.

Demikian, semoga bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(Mine).

Iklan

7 Responses to Mencari Presiden RI dan Kegalauan Ummat Islam

  1. abuhadi berkata:

    Assalamualiakuim @Abi syakir.
    Emang sih kalo mencari idealnya seperti yang ditulis oleh abisyakir.saat ini mungkin dari partai islam belum muncul pemimpin seperti itu,.tapi apakah calon dari sekuler seideal yang diinginkan,?menurut ane tidak satupun capress yang memenuhi syarat sesuai yang kita inginkan diatas.Paling elektabilitas yang tinggi sesuai survey dari lembaga survey yang bisa jadi tidak benar juga. fakta membuktikan pada, pileg partai Islam dan berbasisi islam yang menurut lembaga survey terkubur justru menghasilkan suara yang sangat bagus dibandingkan pileg 2009. Apakah kenaikan suara partai Islam dan berbasis massa Islam karena elektabilitas?, menurut ane tidak benar juga, kita kok mengabaikan kekuatan ideologi Islam.Justru kenaikan suara Partai Islam besar dugaan mulai bersatunya mereka yang diikat oleh ideologi islam. In line hasil riset ane..walau kinerja partai Islam hanya sekitar 60% tapi ketika ditanya apakah akan memilih partai Islam hasilnya 85 % bersedia.!!

    Pilih saja calon pemimpin dari partai Islam yang membela kepentingan Islam, Insyaalah kalo masalahnya hanya elektabilitas kita punya lembaga dakwah, baik dipusat maupun didaerah…kita akan bersatu menaikkan elektabilitasnya…bahkan kita punya banyak da’i yang langsung berhadapan dengan masyarakat, insyaalllah bisa kita gerakan apalagi jika kader partai Politik Islam all out dalam mempopulerkan calon pemimpin kita Insyaallah capres kita akan populer dikalangan umat islam amin…

    Tak perlu pesimistis walau kita harus realistik .Kalo kita bersungguh menolong Agama ini niscaya Allah SWT akan menolong kita..amin..

    Mari kita berjihad kali ini dari pada kita hanya beranalisis dan berdebat yang terkadang membuat kita tidak percaya diri .berbuatlah hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT karena yng dinilai bukan hanya hasilnya tapi proses kita menuju hasil tersebut jauh lebih bernilai . Wahai Saudara ku karena Allah ,mari kita mulai paling tidak dari diri kita sendiri. Kepemimpinan bukan diberi tapi harus diraih..Mari saudaraku kita raih mimpi kita semoga Allah meridhoi kita. Yakinlah capress dari sekuler tidak akan memperhatikan mayoritas kaum muslimin di Indonesia..
    Salam

  2. sani berkata:

    tulisan anda “Bahaya yang dihadapi kaum Muslimin saat ini ialah kepemimpinan Jokowi. Jika sosok ini menjadi Presiden RI diduga akan lebih parah dari SBY. Jokowi didukung oleh konglomerat-konglomerat pengemplang BLBI yang ingin aneksasi negeri ini…..”
    harap tidak tendensius dan memperpanas situasi.
    saya muslim, tapi point 4 di atas saya tidak setuju. tidak baik menghakimi tanpa menyelidiki terlebih dahulu. bukankah hanya berdasar prasangka tanpa didukung bukti/fakta itu tidak baik ? anda lebih tahu dasar hukumnya dari quran dan hadist.

    lagi pula tidak perlu galau atau ketakutan, semua sudah ada ketentuan dari Alloh S.W.T., baik atau buruk yang jadi pemimpin kita nanti, itulah cerminan kita rakyat Indonesia, yang sebagian besarnya beragama Islam.

    Ingatlah tatkala Sayidina Ali bin Abi Thalib dikritik tentang mengapa pada masa kekuasaan Ali lebih banyak orang yang membangkang, tidak seperti pada masa kekuasaan Khalifah sebelumnya terutama pada masa Abu Bakr dan Umar bin Khatab?
    jawab Ali : “karena ketika Abu Bakr dan Umar berkuasa yang menjadi rakyatnya adalah orang seperti saya, dan saat ini saya berkuasa yang menjadi rakyatnya seperti anda.

    singkatnya pemimpin adalah cerminan rakyat. jikalau rakyatnya sudah benar dan mapan dalam beragama, tentu akan ada pemimpin yang adil dan bijaksana sebagai berkah dari Alloh S.W.T.

    sekilas saya sitir sedikit dari pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 yang kemudian hari dikenal dengan pidato “lahirnya Pancasila” :
    Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat semua”, “semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.

    Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam, –maaf beribu-ribu maaf keislaman saya jauh belum sempurna,– tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dari hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, jaga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.

    Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat ini agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam kedalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar spaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat ini, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu nyatanya terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, hiduplah, Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat.

    masih kurang jelas? mari kita berdebat dengan santun .
    wassalamualaikum . wr. wb.

  3. abuhadi berkata:

    menarik juga komentar @sani sedikit tanggapan boleh ya..

    1.” tulisan anda “Bahaya yang dihadapi kaum Muslimin saat ini ialah kepemimpinan Jokowi. Jika sosok ini menjadi Presiden RI diduga akan lebih parah dari SBY. Jokowi didukung oleh konglomerat-konglomerat pengemplang BLBI yang ingin aneksasi negeri ini…..”
    harap tidak tendensius dan memperpanas situasi.
    saya muslim, tapi point 4 di atas saya tidak setuju. tidak baik menghakimi tanpa menyelidiki terlebih dahulu. bukankah hanya berdasar prasangka tanpa didukung bukti/fakta itu tidak baik ? anda lebih tahu dasar hukumnya dari quran dan hadist”

    komentar:
    menurut saya itu adalah pendapat maupun dugaan kuat abi syakir.Di media online juga banyak informasi tentang jokowi dari pemerhati /pengamat politik dan kalo boleh disimpulkan ya seperti statementnya abi syakir tsb. kalo itu tendiensius..ya namanya juga pendapat seperti @sani yang berpendapat tidak setuju dengan statement tsb. Akan lebih menarik jikaketidaksetujuan sani dilengkapi bahwa Jokowi tidak seperti yang diduga abisyakir dan tentunya didukung data dan fakta juga. Berikan argumen bahwa yg dikatakan abi Syakir bahwa jokowi didukung konglomerat pengemplang BLBI adalah totally salah.

    2. singkatnya pemimpin adalah cerminan rakyat. jikalau rakyatnya sudah benar dan mapan dalam beragama, tentu akan ada pemimpin yang adil dan bijaksana sebagai berkah dari Alloh S.W.T.

    Komentar:
    Apakah harus menunggu rakyat sudah benar dan mapan beragama baru akan ada pemimpin yang adil?Agak membingungkan saya, kalo harus menunggu rakyat mapan di mana para pemimpin? Bukankah salah satu tugas pemimpin adalah memperbaiki kondisi rakyat dalam segala hal terutama agamanya?.koreksi saya kalo salah.

    3. Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam, –maaf beribu-ribu maaf keislaman saya jauh belum sempurna,– tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam

    Komentar :
    Anda bercanda siapa yang tahu hati anda? jelas tidak ada satupun yang tahu kecuali Allah SWT dan anda sendiri tentunya. Kami hanya melihat yang zahirnya saja apa yang anda tulis, anda lakukan dan yang anda bicarakan.

    4.. Dari hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, jaga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.

    Komentar: Apakah ini pendapat anda atau Bung Karno sendiri yang mengatakannya? Kalolah membela Islam mengapa ideologinya marhaenis?, bahkan Bung Karno terkenal dengan NASAKOM nya. Apakah dengan ideologi tersebut Bung karno benar ingin membela Islam?, berikan argumen dan bukti sejarah bahwa Bung Karno membela Islam, setahu saya pak Bung Karnolah yang membubarkan partai Islam terbesar saat itu yaitu Masyumi bahkan para tokohnya ditangkapi. Koreksi saya jika salah.

    5. Kita berkata, 90% daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat.

    Komentar:
    dalam hal ini saya sepakat dengan anda , so what next ? apa yang harus kita lakukan? do something to change its. Mari bersama kita merubah nya agar Islam tertancap dengan kuat di hati saudara kita yang lalai. Untuk itu mulailah dari diri sendiri dan orang terdekat sekitar kita.

    5. masih kurang jelas? mari kita berdebat dengan santun .

    Komentar:
    wah..anda kayaknya suka berdebat ya… saya pikir tidak ada salahnya selama dalam berdebat yg dicari adalah al Hak dan menjaga persatuan . saya pikir abi Syakir mau tuh berdebat..ya kan Abi syakir..he..he

    salam

  4. abisyakir berkata:

    @ Abu Hadi…

    Terimakasih sudah “bantu” menjawab. Kami anggap jawaban Akhi sudah “mewakili” kami. He he he. Ngomong2…capek juga lho berdebat. He he he.

    Admin.

  5. Suradi Parlan berkata:

    Partai islam? islam yang model mana? ala Saudi? ala Pakistan?ala Iran? atau malah ala Afghanistan? sudahlah Indonesia paling cocok Pancasila NKRI, kalau islamnya wahabi takfiri yang berkuasa kan muslim yang lain bisa repot apalagi yang beda agama dan aliran, wong wahabi mengaku paling benar paling ikut nabi, bagaikan pernah hidup serumah dengan nabi.

  6. SUGIHARTO berkata:

    ASSALAMU ALAIKUM
    mhn ijn ntp amanah
    ALHAMDULILLAH HIROBBIL ALAMIN
    atas RAHMAT SERTA HIDAYAH RIDHO DARI ALLAH SWT.serta berbekal ILMU KEWALIAN KAROMAH,KESAKTIAN SEJATI,serta izin dari para guru/leluhur dengan melakukan tapa brata,beliau hadir untuk
    membantu anda yg sa’at ini punya MASALAH HUTANG BESAR, BUTUH MODAL BESAR, INGIN MERUBAH NASIB,
    BANGKRUT USAHA,DI CACI MAKI,DI HINA,MENYENGSARAKAN/MENZHOLIMI ANDA ,JANGAN PUTUS ASA,KINI SAATNYA ANDA BANGKIT DARI KETERPURUKAN, RENTANGKAN SAYAPMU,RAIH DUNIAMU,GAPAI IMPIANMU,KEJAR CITA2MU,AGAR ORANG LAIN TIDAK LAGI MENGHINAMU,
    BELIAU SIAP MEMBANTU ANDA DENGAN…
    -JUAL MUSUH
    -NIKAH JIN
    -DANA GOIB
    -UANG BALIK
    -UANG MATENG
    -MEGGNDKAN UANG
    -GENDAM PENAKLUK
    -PENGASIHAN
    -PELET HITAM
    -PELET PUTIH
    -SANTET MATI
    -ANGKA/SIO JITU
    di jamin 100% berhasil & sukses
    hubungi beliau :
    KH SA’ID ABDULLAH WAHID
    (AHLI ILMU GO’IB)

    HP: 082334608008

    D/A : BATU AMPAR-GULUK GULUK –
    SUMENEP – MADURA
    JAWA TIMUR
    proses cepat tepat terpercaya
    hanya bagi yang serius
    TERIMA KASIH WASSALAM

  7. putranto berkata:

    @ admin

    ……………..Banyak lho bukti2nya. Contoh…Jokowi kan katanya tidak kaya, mengapa tiba-tiba ada puluhan media massa mengelu-elukan dia dengan berbagai macam pencitraan. Sampai-sampai Detiknews.com dalam sehari bisa membuat 100 tulisan tentang Jokowi. Dari mana datangnya dana untuk membanjiri media2 itu? Apa bisa media modern memuja Jokowi dengan cuma-cuma? Coba deh pikirkan itu dulu……..

    ………….Untuk menghadang Jokowi diperlukan sosok lain yang populer, elektabilitas tinggi, dan ia memiliki mesin dan strategi politik bagus. Misalnya kita sebut sosok politisi dari kalangan Muslim seperti: Amien Rais, Hatta Rajasa, Muhaimin, Suryadarma Ali, Yuzril Ihza, Anis Matta, Hidayat Nur Wahid, Ahmad Heriyawan, Habib Rizieq, Ustadz M. Khattath, dan lainnya. Apakah mereka bisa menandingi popularitas dan elektabilitas Jokowi? Cobalah pertanyaan ini dijawab secara obyektif, tanpa emosi; adakah tokoh kita yang saat ini sekuat Jokowi? Kalau misalnya tidak ada, jangan merasa risau; kembali ke teori awal, POLITIK ITU INVESTASI. Bahkan untuk sosok Jokowi sendiri, media massa telah memoleskan selama bertahun-tahun. Itu investasi juga……………..

    Kesimpulan

    Media mengikuti.. media meliput…. Ya karena Jokowi memang pantas diliput.. terus bekerja secara nyata utk rakyat.. tetap dengan kesederhanaannya… keterbukaannya… Coba bandingkan dng tokoh yg menguasai media…. Lalu memanfaatkan media tsb utk iklan dirinya…. Apakah sama efeknya ??? Apakah Jokowi pencitraan semata…….atau pemimpin terdahulu dan pemilik media yg melakukan pencitraan ? anda bisa analisa sendiri

    Ya rakyat telah mendapati sesuatu yang sangat langka dan berharga yang seharusnya ada pada sosok seorang pemimpin. Yaitu ketulusan, kesederhanaan, kejujuran dan keberanian.

    dan rakyat merasakan itu dari sosok jokowi (alat perasa itu disebut “hati” )

    Itulah alasan mengapa rakyat sangat mencintai jokowi

    (saya tidak heran jika ada orang yang tidak bisa merasakan getaran ketulusan itu dari sosok jokowi karena mereka memang sudah punya agenda/misi/keyakinan sendiri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: