Fitnah Buku Palsu oleh Syiah

Bismillahirrahmaanirrahiim.

PENGANTAR. Syiah adalah kaum yang paling lelah dan menderita di muka bumi. Mereka menghalalkan kebohongan, kecurangan, kelicikan, penipuan, kezhaliman; demi mencelakai kaum Ahlus Sunnah (Sunni). Nas’alullah al ‘afiyah. Jika Nabi SAW memperingatkan kita terhadap ciri-ciri kemunafikan; kalau berbicara dusta, kalau berjanji ingkar, kalau dipercaya khianat; Syiah justru mengkonsumsi semua itu. Mereka melahap kebohongan dan kelicikan seperti makan-minum dan bernafas. Na’udzubillah min dzalik.

Baru-baru kami menerima kabar tentang beredarnya buku berjudul, Nabi Muhammad Pun Menangisi Husein. Jika buku ini ditulis oleh orang Syiah dan diterbitkan penerbit Syiah, tidak ada yang aneh. Hakikat agama Syiah adalah menuhankan Husein, Hasan, Ali, Fathimah dan lainnya Radhiyallahu ‘Anhum. Namun masalahnya, penerbit buku itu disebutkan Pustaka Al Kautsar yang sudah dikenal concern dengan buku-buku Ahlus Sunnah dan giat membendung aliran sesat.

"Hidup Gelap. Duka Lara dan Ratapan. Tiada Bahagia."

“Hidup Gelap. Duka Lara dan Ratapan. Tiada Bahagia.”

Di masyarakat sendiri kadang tidak bisa membedakan antara Penerbit Pustaka Al Kautsar Jakarta yang anti Syiah dan Yayasan Al Kautsar Malang yang dikelola orang Syiah. Karena nama keduanya sama-sama memakai “Al Kautsar”; lalu beredar isu bahwa Pustaka Al Kautsar beraliran Syiah. Atau bisa jadi, munculnya persepsi negatif itu karena beredarnya buku-buku ilegal yang menempelkan nama Pustaka Al Kautsar padanya, seperti Nabi Muhammad Pun Menangisi Husein itu. Jelas saja beredarnya buku semacam itu hanya untuk membuat fitnah. Nas’alullah al ‘afiyah.

KOMITMEN PENERBIT. Sekedar mengingatkan tentang komitmen Pustaka Al Kautsar Jakarta dalam membendung aliran sesat Syiah Rafidhah, kami telah lama menerbitkan buku monumental, Ensiklopedi Sunnah Syiah (Jilid I dan II), karya Prof. Ali Ahmad As Salus, seorang guru besar pakar Syiah. Buku ini diberi kata pengantar berharga oleh seorang ilmuwan Muslim dan pakar Syiah, Dr. Hidayat Nur Wahid. Beliau adalah politisi senior sebuah partai politik.

Ada sebuah catatan menarik. Dr. Hidayat Nur Wahid saat kampanye Pilkada DKI 2012 pernah ditanya tentang keterlibatan beliau dalam acara Deklarasi Istiqlal 1997 yang membahas tentang kesesatan Syiah dan perlunya Ummat Islam mewaspadai gerakan Syiah. Beliau menjawab, bahwa saat acara deklarasi itu, beliau tidak ikut terlibat menanda-tangani teks deklarasi. Jujur saja kami terkejut dan merasa prihatin ketika mendengar Dr. Hidayat tidak ikut menanda-tangani Deklarasi Istiqlal.

Suatu hari, seorang kawan mengajak kami masuk ke perpustakaan Pustaka Al Kautsar. “Saya ingin menunjukkan suatu buku yang sangat penting kepada Anda,” kata kawan itu. Dia lalu mengambil sebuah buku di rak tentang “Bunga Rampai Deklarasi Istiqlal”. Setelah kami baca dan buka-buka, ternyata buku itu berisi kumpulan risalah, makalah, dokumen, berita acara, atau transkrip ceramah dari pertemuan para ulama di Masjid Istiqlal tahun 1997 membahas tentang kesesatan Syiah.

Hebatnya lagi, di bagian akhir buku itu dicantumkan bantahan ilmiah dari Ustadz Dr. Hidayat Nur Wahid yang memuat belasan poin-poin kesesatan akidah Syiah. Beliau bantah kesesatan Syiah dengan lugas, jelas, tanpa basa-basi. Nama beliau jelas dicantumkan dalam tulisan itu disertai gelar akademiknya. Ini adalah bukti nyata bahwa Dr. Hidayat Nur Wahid terlibat aktif dalam acara Deklarasi Istiqlal 1997. Lantaran amanat ilmiah, hal ini perlu kami sampaikan, agar kaum Muslimin tahu dan mengerti. Malah menurut kami, bantahan Dr. Hidayat tersebut masih relevan untuk disiarkan ke tengah Ummat untuk memperkuat akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Hanya saja, kalau mau dipublikasikan, secara etika harus atas izin beliau.

Lebih menarik lagi, ternyata buku bertema “Bunga Rampai Deklarasi Istiqlal” itu dicetak oleh Pustaka Al Kautsar. Meskipun bahan-bahan tulisan dari panitia Deklarasai Istiqlal. Inil menjadi bukti bahwa sejak awal Pustaka Al Kautsar punya komitmen terkait urusan Syiah Rafidhah ini. Tidak sedikit buku-buku yang kami terbitkan mengandung counter faith terhadap akidah dan gerakan Syiah. Buku lain yang tak kalah monumental adalah, Mengapa Saya Keluar dari Syiah? Karya Sayyid Husein Al Mausawi, mantan ulama Syiah yang bertaubat, lalu dibunuh rezim Khomeini. Mungkin karena alasan seperti inilah, sebuah penerbit terkenal di Bandung merasa sangat benci kepada penerbit ini.

FTNAH KAUM SYIAH. Kembali ke topik semula, tentang buku ilegal, Nabi Muhammad Pun Menangisi Husein. Dari judulnya saja buku ini terlihat aneh. Apakah selama hidup Rasulullah Shallallah Alaihi Wasalam pernah menangisi Husein? Dalam kejadian apa itu? Bagaimana riwayatnya? Jujur saja, kami belum pernah mendengar ada riwayat Rasulullah menangisi Husein selama hidupnya; karena memang waktu itu Husein masih bocah kecil, belum terlibat dalam perjuangan Ummat.

Memang Rasulullah pernah menitikkan air mata ketika salah satu cucunya dalam kondisi darurat, sakaratul maut. Dalam gendongan beliau, bocah itu bernafas tersengal-sengal. Saat itu meneteslah air mata Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Ketika ditanya tentang air mata tersebut? Beliau katakan, itu adalah bukti rahmat di dalam hati.

Kami belum pernah mendengar Rasulullah menangisi Husein Radhiyallahu ‘Anhu. Apalagi jika dikaitkan dengan peristiwa Karbala saat Husein dan 70 keluarganya terbunuh. Husein dan keluarga dibunuh oleh Ubaidilah bin Ziyad –semoga Allah melipat-gandakan hukuman atas kezhalimannya-. Ketika terjadi peristiwa Karbala, tentu saja Rasulullah Shallallah Alaihi Wasallam sudah lama wafat. Bahkan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘Anhu pun sudah wafat.

Manusia Syiah adalah kaum yang paling lelah, menderita, kebingungan di muka bumi. Mereka ini manusia banyak dosa, tapi berlagak menghakimi para Shahabat Nabi SAW, isteri-isteri Nabi, khususnya Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu ‘Anhum. Hidup mereka hancur, rusak, tak memiliki kebaikan apapun; tiada barakah, bahagia, dan ketenangan; karena mereka menghalalkan caci-maki dan kutukan kepada manusia-manusia terbaik dalam Islam Radhiyallahu ‘Anhum. Sangat mudah bagi Allah untuk menghancurkan Kota Qum, Najaf, Karbala, atau Kufah hanya demi menjaga kehormatan Sayyidah Aisyah binti Abi Bakar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Kaum Syiah bisa dianggap sebagai manusia paling aneh di muka bumi. Orang-orang musyrikin seperti Hindu, Budha, Shinto dan seterusnya masih menghargai kejujuran dan menepati janji; sedangkan Syiah tidak begitu. Orang Nashrani masih mencintai murid-murid Isa; orang Yahudi masih mencintai murid-murid Musa; tapi kaum Syiah justru gemar membuldozer kehormatan murid-murid (para Shahabat) Nabi Radhiyallahu ‘Anhum. Orang atheis masih mau berkata jujur bahwa mereka tidak bisa menemukan jalan Tuhan; tapi kaum Syiah tak pernah jujur kepada siapa saja, termasuk ke diri sendiri. Bahkan sebuah batu, meskipun tidak bisa bicara, melihat, dan mendengar, ia tidak mengganggu makhluk lain; sedangkan kaum Syiah, mereka tidak bisa hidup jika tidak merongrong kehidupan Ahlus Sunnah.

PESTA AIR-MATA. Agama Syiah terkenal dengan “pesta air mata”. Ya mereka selalu menangisi, menangisi, dan menangisi penderitaan Husein dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum di Padang Karbala. Seolah tidak ada amalan lain yang lebih afdhal selain menangisi Husein Radhiyallahu ‘Anhu. Agama mereka isinya hanya air mata, keduakaan, ratapan. Jika kita di Indonesia sudah merasa trauma dengan lagu “Ratapan Anak Tiri”, maka kaum Syiah punya ratapan yang 100 kali lebih hebat dari itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Budaya ratapan, kesedihan, bermuram durja, penuh kecewa, amarah, emosi, dan seterusnya oleh kaum Syiah dipermanenkan dalam bentuk peringatan Hari Asyura, setiap tanggal 10 Muharam. Isi peringatan itu ya tangisan, ratapan, penyiksaan diri, dan segala macam kesuraman hidup; demi mengenangi penderitaan Husein dan keluarga Radhiyallahu ‘Anhum di Karbala. Kasihan sekali orang-orang ini. Dulunya, ketika masih bagian Ahlus Sunnah, hidupnya gembira, ceria, normal; namun setelah menjadi Syiah, isinya hanya ratapan, kesedihan, air-mata, dan seterusnya.

Berikut kami paparkan beberapa bantahan ringkas tentang “pesta air mata” Hari Asyura yang sangat terkenal di kalangan Syiah. Bantahan ini kami ambil dari buku Pro Kontra Maulid Nabi SAW, terbit Februari 2014.

[1]. Ilmu pengetahuan modern sering mengajarkan cara-cara agar manusia gembira, melupakan kesedihan, mengatasi stress, bangkit dari keterpurukan, dll. Tapi orang Syiah justru menjadikan musibah masa lalu (Tragedi Karbala) sebagai inspirasi untuk menyiksa jiwa-jiwa mereka.

[2]. Jika Anda ditanya, lebih suka melihat orang tertawa atau menangis? Pastilah kita lebih suka melihat orang tertawa atau bahagia. Di kalangan Syiah beda, mereka justru sangat senang memproduksi air mata, giat menyebarkan ratapan, dan hobi mendakwahkan kedukaan.

[3]. Manusia normal kalau terkena musibah, ingin cepat-cepat melupakan musibah itu. Mereka tidak mau mengingat-ingat lagi momen kesedihan yang telah terjadi. Kalau Syiah lain, mereka justru menjadikan musibah yang menimpa Husein Radhiyallahu ‘Anhu sebagai hari peringatan besar.

[4]. Katanya, kaum Syiah sangat mencintai Husein dan Ahlul Bait Radhiyallahu ‘Anhum; tapi anehnya mereka selalu mengingati peristiwa tragis yang menimpa Husein dan keluarganya. Apa Husein suka dengan peringatan semacam itu? Namanya manusia normal, pasti tidak suka jika selalu diingati momen-momen musibah yang menimpanya.

[5]. Kalau Syiah ingin menuntut pelaku kezhaliman terhadap Husein dan keluarga Radhiyallahu ‘Anhum; maka para pelaku sudah meninggal semua, mereka sudah diberi sebagian balasan atas kezhalimannya. Kalau Syiah ingin simpati ke Husein, bukankah Allah telah memberikan sebagian balasan baik atas perjuangan hidupnya? Untuk apa terus meratapi peristiwa tragedi di masa lalu?

[6]. Kalau seorang Muslim terkena musibah, bacalah Istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun). Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Sebagai milik Allah, jika sewaktu-waktu Dia mengambil milik-Nya, kita ikhlas dan ridha. Beda dengan Syiah, mereka tidak ikhlas, selalu meratapi musibah, sehingga akhirnya menjadi manusia sesat.

[7]. Allah Ta’ala menghibur Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam tatkala terjadi musibah. Salah satunya dengan memperjalankan beliau dalam Isra’ Mi’raj. Ini bukti bahwa Allah menghibur hamba-Nya yang bersedih. Namun Syiah lain, kalau ada manusia gembira, bahagia, senang hati; mereka tidak suka. Semua itu harus segera dienyahkan diganti “kedukaan Karbala”.

[8]. Allah Ta’ala pernah menghibur kaum Mukminin tatkala mengalami kekalahan dalam Perang Uhud dengan menurunkan ayat-ayat yang menentramkan hati (misalnya Surat Ali Imran 140-141). Berbeda dengan imam-imam Syiah, mereka justru aktif membuat pengikutnya bersedih, bermuram durja, suram melulu hidupnya. Beda sekali antara hiburan dari Allah dengan drama kesedihan ulama-ulama Syiah.

[9]. Dalam peristiwa di Gua Tsur, Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu sangat khawatir dengan nasib Rasulullah jika beliau ketahuan kaum musyrikin. Lalu Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam menghibur Abu Bakar dengan perkataan: “Laa tahzan, innallaha ma’ana” (jangan engkau sedih, sesungguhnya Allah bersama kita). At Taubah: 40. Kalau Syiah lain lagi, mereka selalu berkata: “Jangan gembira, jangan pernah tertawa! Ingat selalu penderitaan Husein di Karbala!” Jadi trgedi Karbala seperti suatu kutukan yang terus menjadikan kehidupan mereka suram dan penuh kedukaan.

[10]. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam berkata: “Laa tahqiranna ahadakum minal ma’rufi wa lau an talqau akhaka bi wajhin thaliq” (janganlah kamu meremehkan suatu kebaikan, meskipun hanya dengan menghadapi saudaramu dengan wajah manis). HR. Muslim. Sedang Syiah lain lagi perkataannya, mereka justru terus menyebarkan kampanye: “Semua hari adalah Asyura! Semua bumi adalah Karbala!” (Perkataan ini pernah disebar oleh anasir Syiah di Bandung lewat poster-poster). Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Gila, sungguh gila. Mereka sudah hancurkan kehidupannya sendiri dengan kedukaan, ratapan, air mata.

Demikianlah, bahwa meratapi kedukaan dan musibah, adalah perkara yang dilarang dalam Islam. Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah menangis sedih, sesedih-sedihnya, ketika wafat paman beliau, Hamzah Radhiyallahu ‘Anhu, di medan Uhud. Tapi setelah itu beliau ya bangkit, bersemangat, termotivasi, dan selalu tegar menghadapi kehidupan. Demikianlah Sunnah Islamiyah.

Berbeda dengan Syiah, manusia paling malang di muka bumi, mereka jadikan musibah masa lalu sebagai mata air kehidupan, sebagai sumber syariat, sebagai akidah, akhlak, dan sendi-sendi muamalah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Allahumma inna na’udzubika bi ‘izzatika bi rahmatika bi kalimatikat tammati minal kufri was syirki wad dhalalah wal bid’ah wal fasad waz zhulumat (ya Allah kami berlindung kepada-Mu dengan Izzah-Mu, dengan rahmat-Mu, dengan kalimat-Mu yang sempurna dari kekafiran, kemusyrikan, bid’ah, kesesatan, perbuatan merusak di muka bumi, dan kezhaliman). Amin ya Sallam ya Rahiim.

Demikian tulisan sederhana ini. Semoga bermanfaat dan menginspirasi. Amin. Mohon maaf bila ada salah, keliru, dan hal-hal yang tidak berkenan di hati. Semangat selalu, termotivasi, dan berbahagia. Amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: