Kalau Khalifah Itu Benar, maka Dia Harus Diqishash atas Darah Kaum Muslimin dan Pejuang Islam

Innal hamda lillah, wa bihi nasta’inu ‘ala umurid dunya wad din, was sholatu was salamu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in, amma ba’du.

Baru-baru ini mencuat deklarasi Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah di Irak. Seseorang segera dinobatkan menjadi Khalifah bagi kaum Muslimin. Pengumuman dilakukan melalui siaran video di Youtube. Masalah terbesarnya, sebelum orang ini dinobatkan sebagai Khalifah, tangannya telah berlumuran darah kaum Muslimin di Suriah, dan telah menyebabkan pembunuhan-pembunuhan kejam terhadap para pemimpin dan pejuang Islam di Suriah.

Jika benar telah tegak berdiri Daulah Islamiyah, maka pasti tujuannya adalah untuk menegakkan Syariat Islam itu sendiri; bukan karena ambisi MANIAK POLITIK, yaitu ingin punya label negara Islam tanpa komitmen menegakkan Syariat Islam. Jika mereka berniat menegakkan Syariat, maka terlebih dulu harus dicontohkan kepada diri mereka sendiri. Bukankah Nabi SAW pernah didatangi Usamah bin Zaid RA untuk meminta keringanan bagi seorang wanita mulia yang telah mencuri, lalu Nabi SAW tidak memberi keringanan apapun. Bahkan beliau berkata: “Lau saraqot fathimah ibti Muhammad, la qotho’tu yadaha” (seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya). Rasulullah SAW mencontohkan penegakan Syariat Islam dimulai dari diri dan keluarga beliau terlebih dulu.

"Khalifah" Tidak Bisa Lari dari Darah Orang-orang Ini.

“Khalifah” Tidak Bisa Lari dari Darah Orang-orang Ini.

Maka Khalifah yang baru diangkat itu harus di-qishash atas darah kaum Muslimin yang telah dia tumpahkan, jika benar mereka tulus ingin menegakkan Syariat. Kalau perlu ulama-ulama Islam dari berbagai negara Muslim turut terlibat dalam menuntutnya ke hadapan Mahkamah Islam. Maksudnya, jika semua ini memang tulus untuk menegakkan Syariat di muka bumi.

Mungkin ada yang berkata: “Para pembunuh bukan Khalifah itu sendiri, tapi anak buahnya. Jadi yang layak dihukum adalah anak buahnya.”

Jawabnya adalah: Apakah anak buahnya bisa melakukan pembunuhan, serangan, pengebomam, tanpa instruksi dari komandan-komandannya? Lalu apakah komandan-komandan itu bekerja sendiri, tanpa perintah dari pemimpin tertinggi mereka?

Sikap mereka dalam mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah para pejuang itulah pokok masalahnya. Hal itu jelas-jelas disampaikan melalui pernyataan juru bicara mereka. Salah satunya, dalam pernyataan yang berjudul: “Udzron ya Amir Al Qo’idah.” Bahkan sebelum itu, sang pemimpin jelas-jelas mengecam dan mensyukuri kehancuran Muhammad Mursi di Mesir, karena mereka terlibat dalam politik demokrasi. Ini adalah perkara-perkara yang disaksikan kaum Muslimin secara luas; disaksikan oleh kawan dan lawan, Muslim dan kafirin.

Seseorang yang didaulat sebagai Khalifah itu tidak bisa cuci tangan. Dia harus bertanggung-jawab atas tumpahnya darah kaum Muslimin, pembunuhan atas para pejuang Islam, dan terjadi konflik antar kaum Muslimin baik di Suriah maupun di Irak.

Banyak orang mengira, dengan telah menegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah, mereka bisa bebas melakukan apa saja kepada umat manusia, bebas menuntut loyalitas penuh, bebas mengambil hak-haknya. Ini adalah prasangka yang sangat buruk. Jika demikian, berarti Daulah/Khilafah adalan instrumen untuk menindas manusia. Padahal sebaliknya, dengan menegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah berarti mereka telah mengambil alih seluruh tanggung-jawab kehidupan kaum Muslimin. Di hadapan Khilafah Islamiyah yang syar’i, Ummat Islam boleh meminta apa saja kepada Khalifah, sekali pun hanya meminta sebuah jarum. Jika dia tak memberikan, harus diberikan penjelasan tentang udzur-nya. Jika ada satu masalah, sekalipun hanya seseorang tertusuk duri, dia boleh mengadukan masalahnya ke Khalifah. Karena memang fungsi Daulah/Khilafah adalah pelayan dan perlindungan kehidupan bagi kaum Muslimin. Dan satu lagi yang penting, mereka harus mulai memberlakukan Syariat Islam itu pada diri mereka dan keluarganya terlebih dulu.

Sebagian kaum Muslimin telah menegakkan sistem Islam secara otonom dalam skala terbatas, seperti Imarah Thaliban, Imarah Kaukasus, Kerajaan Saudi, Kerajaan Qatar, Kerajaan Brunei, dan sebagainya. Mereka tidak menuntut bai’at kaum Muslimin dan tidak memaksakan, karena mereka paham konsekuensinya. Dengan berani menerima bai’at, berarti berani menanggung segala hajat kehidupan orang-orang yang membai’at. Jika seorang Khalifah tidak memenuhi hak-hak orang yang membaiat ini, maka dia telah menzhalimi mereka, dan tidak akan mencium wangi surga.

Jika mereka tidak mengerti hal-hal seperti ini, maka bisa dikatakan: “Mereka suka bermain-main dengan istilah besar, tetapi tak mau memenuhi syarat-syaratnya.” Kami sendiri meyakini, Khilafah seperti ini telah dimulai dengan cara yang salah, yaitu menghalalkan darah kaum Muslimin; maka perkara demikian akan terus menyandera urusan orang-orang ini.

Nyawa Muslim Menjadi Tontonan dan Kebanggaan.

Nyawa Pejuang Muslim Menjadi Tontonan dan Kebanggaan.

Seharusnya kaum Muslimin berfokus di Suriah, dan lupakan segala fitnah yang merebak di Irak. Anggap saja semua itu tidak pernah ada, lalu jadikan sebaik-baik pelajaran agar tidak terulang. Perlu diketahui, secara teori Basyar Assad sudah kalah. Seluruh hasil-hasil capaian rezim Assad telah runtuh dan nama baik keluarga Assad telah hancur di mata rakyat Suriah dan dunia internasional. Posisi Basyar saat ini hanya simbol belaka, sedangkan yang memperpanjang usia rezim ini adalah kekuatan-kekuatan dari luar, seperti Iran, Libanon, Rusia, dan China.

Sejak awal kekuasaan Daulah itu sudah salah. Mereka ingin menegakkan Syariat dengan cara menghalalkan kezhaliman atas kaum Muslimin (yang tidak mendukung pandangan-pandangan mereka). Jika kita mendukung perkara seperti ini, berarti ikut berserikat dalam menghalalkan hak-hak kaum Muslimin. Padahal Nabi SAW jelas-jelas telah mengatakan: “Al muslimu akhul muslimi, haromun damahu wa maalahu wa ‘irdhuh” (seorang Muslim menjadi saudara Muslim yang lain, diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya).

Apa hukumnya bagi siapa saja yang menghalalkan apa-apa yang telah Allah haramkan; dan mengharamkan apa-apa yang telah Allah halalkan? Mereka halalkan darah dan harta Ummat; serta mengharamkan persaudaraan, kerjasama, bantu-membantu antar sesama Muslim. Jika demikian, apakah mereka itu pro Syariat atau pro thaghut? Bukankah thaghut adalah siapa saja yang ditaati untuk menentang Syariat Nabi SAW?

Menegakkan kebenaran itu sangat tidak mudah. Ada beribu was-was yang menimpa hati manusia setiap mereka ingin melangkah mendekati kebenaran. Mereka punya 1001 alasan untuk menolak sumber kebenaran, dengan alasan-alasan yang tidak syar’i di sisi Allah. Tetapi bagaimanapun juga kebenaran harus disampaikan, tidak disembunyikan. Ibnu Mas’ud RA tatkala menjelaskan makna Al Jamah, beliau berkata: “Maa wafaqol haqqo wa in kunta wahdak” (apa saja yang selaras dengan kebenaran, meskipun engkau hanya seorang diri). Kebenaran meskipun sedikit pendukungnya berfaidah bagi kelangsungan kehidupan Ummat, daripada kesalahan yang didukung banyak orang tapi mengancam kehidupan Ummat.

Wallahu a’lam bisshawab.

(Abu Halimah).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: