Secara Teori PRABOWO-HATTA Menang

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Biasanya, setelah dilakukan Pileg, Pilpres, atau Pilkada, akan mudah mengetahui hasil lewat quick count. Tapi situasi saat ini sangat berbeda, karena pertarungan politiknya amat sangat keras. Kubu Prabowo-Hatta banyak didukung oleh masyarakat, tapi kurang disukai oleh “stake holder” asing yang selama ini TENTRAM (adem ayem) menguasai sumber-sumber ekonomi nasional. Mereka sesumbar: “Berapa pun biayanya, Prabowo tidak boleh memimpin Indonesia.”

Secara teori, Pak Prabowo-Hatta memenangkan Pilpres 9 Juli 2014 ini. Apa saja dasar pertimbangannya? Berikut pertimbangannya:

Perjuangan Menuju Perubahan Bangsa

Perjuangan Menuju Perubahan Bangsa

[1]. Pilpres 9 Juli 2014 tidak bisa dipisahkan dengan Pileg 9 April 2014 dalam hal tabiat pemilih, loyalitas, dan perilaku politiknya. Hanya dalam tempo 3 bulan tidak mungkin akan mengubah banyak perilaku politik pemilih.

[2]. Jika mengacu hasil Pileg 9 April lalu dan partai pendukung Prabowo-Hatta, total dukungan suara partai sekitar 57 %, termasuk setelah Partai Demokrat ikut merapat mendukung. Sedangkan Jokowi-JK hanya didukung sekitar 35 % suara partai.

[3]. Ormas-ormas Islam, pesantren, tokoh-tokoh Muslim, mayoritas mendukung Prabowo-Hatta. Tentu saja mereka merupakan “mesin politik” yang aktif bergerak di bawah, dengan pendekatan masing-masing. Mereka adalah kekuatan “mesin darat” yang tidak diragukan. .

[4]. Dalam pertarungan opini di media online yang merambah potensi suara kawula muda, tim Prabowo-Hatta menunjukkan kelas dan dominasinya. Hal ini membuat beberapa pendukung Jokowi-JK memakai cara-cara “kekerasan psikologis” untuk menekan, seperti Wimar, Butet, Jakarta Post, dan seterusnya.

[5]. Kegagalan Jokowi dalam memimpin Jakarta selama 1,5 tahun terakhir, menjadi sumber buruknya kredibilitas dan citra politik dia. Setidaknya hal itu terbayang di mata masyarakat DKI Jakarta yang merupakan epicentrum politik nasional.

[6]. Dari tingkat elektabilitas terakhir sebagaimana disajikan lembaga-lembaga surve, tingkat keterpilihan Prabowo-Hatta lebih tinggi. Hingga ada 3 lembaga surve yang urung mengumumkan hasilnya, karena di sana diperoleh hasil pasangan Prabowo-Hatta lebih unggul.

[7]. Dalam momen-momen debat capres-wapres di TV yang diadakan KPU sangat jelas terlihat dominasi/keunggulan kubu Prabowo-Hatta. Hal itu diakui para pengamat dan akademisi.

[8]. Banyaknya ancaman, tindakan, provokasi kekerasan yang dilakukan oleh para pendukung Jokowi-JK, seperti penyerbuan kantor TVOne Yogya, demo di depan kantor TVOne, PKS, pengrusakan kantor PKS di Tangerang. Hal-hal ini dilihat masyarakat, dan kita tahu masyarakat Indonesia kurang suka dengan ide-ide kekerasan seperti itu.

Dengan pertimbangan-pertimbangan seperti di atas, kami yakin kubu Prabowo-Hatta memenangi pertarungan Pilpres 9 Juli 2014 ini. Jika ada hal-hal yang bisa mengubah hasil seperti ini, menurut kami ada DUA JENIS persoalan yang bisa mengubahnya.

PERTAMA: Kecurangan dalam pelaksanaan quick count, dengan kesengajaan memenangkan calon tertentu, apapun hasil perhitungan resmi yang dicapai KPU dalam Pilpres ini. Sangat mudah membuat perhitungan quick count palsu, semudah membuat surve-surve palsu. Tinggal saja memerintahkan relawan yang bertugas di lapangan untuk membesarkan angka satu calon dan mengecilkan calon yang lain.

KEDUA: Penggiringan opini publik. Publik digiring opininya lewat quick count palsu, siaran TV yang sengaja memenangan satu calon, pendapat pengamat-pengamat partisan, dan lewat acara-acara perayaan kemenangan. Semua ini jika semakin deras dilakukan, maka bisa mempengaruhi semangat para saksi dan petugas pencatat hasil suara riil. Nanti mereka akan menyesuaikan hasil penghitungan dengan rata-rata hasil quick count yang muncul. Ini berbahaya dan curang.

Di sini kami menghimbau para saksi dan petugas partai untuk sangat sungguh-sungguh mengandalkan perhitungan manual (real count) versi KPU di segala levelnya. Mereka harus mengawal itu secara sungguh-sungguh dan ketat, jangan sampai ada kecurangan di berbagai levelnya.

Hendaknya Anda semua jangan “mati kutu” karena hasil quick count yang bisa dibuat-buat dan penggiringan opini lewat media-media massa. Hendaknya para penggiat media-media online pro Prabowo-Hatta melakukan tugas ekstra untuk meng-counter penggiringan opini yang dilakukan oleh media-media tertentu yang dikenal tidak adil. Menangkanlah pertarungan opini di media online, seperti saat memenangkan opini sebelum Pilpres dilakukan.

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga menjadi spirit untuk terus melakukan perubahan ke arah yang baik dan sejahtera. Kami menagih janji dari slogan Pak Prabowo: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Hendaknya Bapak sungguh-sungguh berusaha memenangi kompetisi ini, sebab peluang ke depan semakin sulit dan berat. Lakukanlah usaha semaksimal mungkin.

SEBAB kalau mengharapkan kaum “kolonialis” akan bersimpati dan menjadi baik budi, sampai kapan? Mereka akan melakukan apa saja, agar bangsa ini tak pernah merdeka selamanya. Kini saatnya perubahan dilakukan. Jangan mundur mesti selangkah! Ingat selalu Pak Prabowo, bukan jabatan Presiden yang menjadi fokus utama, tapi menyelamatkan negara ini ke depan. Jika di bawah SBY selama 10 tahun seperti itu, apalagi Jokowi Cs?

Wal akhiru: apapun hasil dan siapapun yang nanti terpilih, Rabb kita tetap ALLAH Subhanahu wa Ta’ala, tidak berubah, tidak bergeser. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: