Prabowo dan Nelson Mandela

Agustus 29, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sangat relevan kita membandingkan sosok Prabowo Subianto dengan pahlawan modern asal Afrika Utara, Nelson Mandela. Kedua sosok mewakili missi perjuangan yang luhur, di negara masing-masing. Jika Nelson Mandela memperjuangkan penghapusan politik APHARTEID (rasialisme yang menempatkan kaum kulit putih lebih mulia dari kaum kulit hitam); maka Prabowo membawa missi memperjuangkan kedaulatan hakiki bangsa Indonesia atas pihak-pihak lain yang terus mengeksploitasi kehidupan di negeri ini demi kepentingan mereka sendiri.

Missi luhur perjuangan Prabowo terangkum dalam kalimat: Memperjuangkan kehidupan bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kalau bangsa Indonesia masih menghargai Proklamasi 17 Agustus; masih menghargai Pembukaan UUD 1945, masih menghargai Pancasila, masih menghargai status sebagai BANGSA MERDEKA; ya harus mendukung perjuangan itu. Bagaimana kita mengaku diri sebagai bangsa merdeka, tapi tidak memiliki kedaulatan mengatur kehidupan?

Jadi perjuangan Prabowo ini -setahu kami- tidak bercorak perjuangan politik praktis; tetapi politik kebangsaan. Sama luhurnya dengan perjuangan para pahlawan bangsa di masa lalu yang berkorban habis-habisan meraih kemerdekaan. Kalau perjuangan Prabowo itu dihinakan atau dilecehkan; lalu apa artinya kita memiliki HARI PAHLAWAN setiap 10 November? Apa artinya kita memelihara taman-taman makam pahlawan?

Demi missi mulianya, Nelson Mandela harus berkorban dipenjara hingga 27 tahun. Dia dipenjara saat masih muda; ketika dibebaskan, dia sudah tua, lebih kurus, dan beruban. Itulah sifat komitmen seorang pahlawan Afrika Selatan, rela menderita demi missi kemuliaan. Prabowo pun sudah menerima segala kepahitan, jadi korban kezhaliman, hingga urusan rumah tangga menjadi taruhan. Itulah harga untuk sebuah missi luhur yang terus diperjuangkan.

Hebatnya, Nelson Mandela tidak menyimpan dendam kepada musuh-musuhnya. Setelah sekali dia memimpin Afrika Selatan, setelah itu tidak mencalonkan lagi. Dia tulus berjuang untuk maslahat rakyatnya. Begitu juga perjuangan menuju kemandirian bangsa, harus terus dinyalakan sampai berhasil mencapai tujuan; dengan tetap menjaga ketulusan.

Harus ada di negara kita ini para PATRIOT yang berjuang ikhlas, bukan untuk maksud apapun, selain demi KEMASLAHATAN kehidupan bangsa kita. Biarpun dilecehkan, dihina, mendapat tekanan-tekanan; missi seperti itu harus terus dilakukan. Bila diniatkan ibadah Lillahi Ta’ala, insya Allah sangat besar pahalanya di sisi Allah.

Dalam riwayat dikatakan: “Wa man qutila duna maalihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna dinihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna ahlihi, wa huwa syahid” (siapa yang mati karena membela hartanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela agamanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela keluarganya, dia mati syahid).

Perjuangan demi kemaslahatan bangsa ini tidak dibatasi oleh ruang-ruang keterbatasan politik. Ia menjadi seruan yang bersifat universal, diakui oleh semua fitrah insani; sebagaimana layaknya kenyataan yang sedang dihadapi para pejuang Palestina saat ini. Maka kekalahan dalam pemilu, dengan cara apapun, tidak boleh menghentikan usaha-usaha untuk mencapai kemandirian, kedaulatan, dan kemuliaan hidup bangsa ini.

Jangan sekedar memandang Prabowo sebatas kontestan politik; namun pandanglah ia sebagai simbolisasi perjuangan universal bangsa Indonesia. Pilpres boleh silih-berganti berapa kali pun; tapi missi perjuangan jangan berubah dan melenceng.

Cukuplah janji Allah sebagai spirit yang terus menggelorakan semangat juang; “Innallaha yuhibbul muhsinin” (sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak berbuat kebajikan).

Terus berjuang wahai saudaraku! Wallahu Waliyut taufiq.

(Mine).


Kekalahan Prabowo dan Intervensi McCain

Agustus 27, 2014

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Mungkin rasanya aneh bicara sikap pengecut TNI di balik kekalahan Prabowo-Hatta. Tapi ada koneksi yang kuat.

Waktu pengumuman sidang MK kemarin, TNI menyiagakan 23 ribu personel (BKO ke Polri). Belum pasukan cadangan yang disiagakan. Seolah, pendukung Prabowo kayak PKI yg hobi teror, main ancam, anarkhis.

Kita tahu, TNI punya akidah “NKRI harga mati”. Tapi mereka sndiri sejak peristiwa “Ganyang Malaysia” tahun 60-an belum pernah PERANG LAGI melawan negara eksternal. Hampir 50 tahunan tidak perang melawan orang luar.

Datang Membaca Ancaman

Datang Membaca Ancaman

Saat senator Amerika John McCain datang ke Indonesia, dia bertemu Ketua MPR dari PDIP, Sidarto Danusubroto. Untuk apa McCain datang bertemu Ketua MPR? Karena MPR selama ini kan menjaga 4 pilar bangsa: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

McCain cuma menyenggol isu NKRI sedikit. Kalau dalam bahasa prokem kira-kira begini: “Lu mau NKRI tetap utuh, atau Prabowo jadi presiden? Silaken Lu pilih. Gue sih punya banyak tenaga buat bikin onar di negeri ini.” Kira-kira begitulah.

Nyaris setiap McCain datang ke sebuah negeri, ancaman disintegrasi langsung terbayang di depan mata. Dia punya kerja di Libya, Yaman, Ukraina, Suriah, dan lainnya. Hasilnya, sudah sama-sama kita tahu. Seolah John McCain ini seperti “devil penebar disintegrasi“.

Amerika bisa menghidupkan gerakan separatis unt membubarkan NKRI; seperti mereka telah mengacak-acak Libya, Yaman, Suriah, Iraq dll. Maka itu, beberapa wkt lalu kita lihat ada move-move gerakan OPM di Papua dan demo OPM. Ini hanya skedar penegasan, bhw McCain tdk main-main.

Atas ancaman seperti ini, tampaknya elit-elit TNI pada ngedrop. Mereka cari jalan aman, dengan menghindari risiko disintegrasi bangsa. Caranya ya menjaga baik-baik kemenangan Jokowi yang dibidani KPU, MK, dan lainnya. Malah kepala TNI sempat bilang, kalau ada demo anarkhis, silakan tembak di tempat! Ya Ilahi, ke anak bangsa sendiri seperti itu.

Harusnya, pihak TNI berani hadapi ancaman-ancaman separatis, juga tekanan-tekanan pendukung PKI. Masak kemana-mana bilang “NKRI harga mati” sambil tidak berani hadapi kekuatan asing?

Tidak layak elit TNI mengancam para penggembira ISIS dari kalangan penjual es krim, tukang warnet, tukang tambal ban, dan sejenisnya; lalu mengabaikan tantangan dari kalangan pendukung PKI, mafia asing, dan orang-orang seperti McCain. Mana dong buktinya, “NKRI harga mati”?

Kalau Amerika bisa menekan Indonesia dengan isu disintegrasi, berarti mereka akan melakukan hal itu, bila waktunya tiba. Apa bedanya tantangan kini dan nanti? Hanya soal waktu saja kan, sedang esensinya sama.

Dengan slalu memilih jalan aman, elit-elit TNI seperti tidak menginginkan ada perubahan significant dalam kehidupan bangsa ini. Jauh sekali dari ide membangun bangsa yang: bersatu, berdaulat, adil dan makmur!

Bersikaplah berani, Jendral!

Wal ‘izzatu lillah.

(Sentot Ali Basyah).


Kisah Tragedi Hari Sabtu

Agustus 27, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sekelompok Bani Israil tinggal di kota pantai Eliah, di dekat Laut Merah, jalur antara Laut Mati dan Bukit Thur. Mereka nelayan. Beribadah setiap Sabtu.

Ketika terjadi kerusakan moral, mereka diuji dengan banyaknya ikan saat hari Sabtu. Secara aturan, tidak boleh mencari ikan di hari Sabtu.

Mereka cerdik, saat hari Jum’at menebar jala, saat hari Sabtu tidak melaut; saat hari Minggu mereka panen ikan.

Dikutuk Menjadi Ini

Dikutuk Menjadi Ini

Ketika dinasehati: “Ini kan sama dengan mengakali aturan Tuhan?” Mereka menjawab: “Tidak, tidak. Kami toh tidak menangkap ikan pada hari Sabtu.”

Benar mereka tidak datang ke laut pada hari Sabtu, tapi jala-jala mereka bekerja intensif di hari Sabtu saat mereka sendiri sedang ongkang-ongkang kaki di rumah.

Usaha menasehati terus dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas dan peduli. Tapi sayang, ada saja orang yang mencela sikap itu.

Mereka berkata: “Buat apa kalian menasehati suatu kaum yang akan dibinasakan oleh Allah?”

Orang-orang yang ikhlas itu berkata: “Ma’dziratan ila Rabbikum wa la’allahum yat-taquun” (agar kami punya alasan di hadapan Allah –bahwa kami sudah menasehati mereka- dan agar mereka itu timbul rasa takutnya kepada Allah).

Benar saja, ketika waktunya tiba, Allah menimpakan hukuman berat bagi kaum Bani Israil itu, yaitu mengutuk mereka menjadi kera yang hina. Sedangkan sekelompok orang yang peduli dan menasehati diselamatkan Allah dari kutukan ini. Termasuk yang terkena kutukan adalah orang-orang yang tahu ilmu, tapi enggan memberikan nasehat atau peringatan kepada kaumnya.

Allah SWT berfirman: “Anjainal ladzina yanhauna ‘anis suu’i wa akhadnalladzina zhalamu bi ‘adzabin ba’isin bi maa kaanu yafsuqun” (Kami selamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan buruk, dan Kami siksa orang-orang zhalim itu dengan siksa keras, karena mereka selalu berbuat fasik –melanggar aturan agama-). Al A’raaf: 165.

Rasulullah SAW juga menjelaskan, bahwa salah satu klan Bani Israil hilang dari sejarah, setelah mereka dikutuk akibat pelanggaran di Hari Sabtu.

HIKMAH: Ternyata, mengingatkan manusia (masyarakat) dari perbuatan aniaya, zhalim, pengkhianatan, kemaksiyatan, kesesatan, dan semacamnya TIDAK SIA-SIA. Usaha mengingatkan ini, apapun hasilnya, tetap bermanfaat bagi pelakunya. Mereka akan mendapat jaminan keselamatan, tatkala terjadi berbagai prahara kehidupan.

Ambil-lah pelajaran wahai saudaraku. Jangan lemah dan menyesal untuk mengingatkan di jalan kebaikan.

(Abah).


Beberapa Ayat untuk Para PENGKHIANAT

Agustus 27, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini kami kutipkan beberapa ayat dari Al Qur’an Al Karim, spesial untuk mereka yang suka mengkhianati bangsa, mengkhianati masyarakat, mengkhianati amanat, mengkhianati kebenaran, mengkhianati agama, bahkan mengkhianati diri mereka sendiri.

Semoga ayat-ayat mulia ini menjadi semacam “kado berharga” untuk memperbaiki laku kehidupan. Amin.
* “Wa annallaha laa yahdi kaidal kha-inin”
(dan Allah tidak memberi petunjuk atas tipu daya para pengkhianat; Yusuf: 52).

* “Wa laa tujadil ‘anilladzina yahtanuna anfusahum, innalllaha laa yuhibbu man kaana khauwanan ‘atsima”
(dan janganlah kamu berdebat –untuk membela- orang-orang yang mengkhianati dirinya, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang banyak berkhianat dan berlumur dosa; An Nisaa’: 107).

* “Ya aiyuhal ladzina amanu laa takhunullaha wa rasula wa takhunu amanatikum wa antum ta’lamuun”
(wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan mengkhianati amanat kalian sedangkan kalian mengetahui; Al Anfaal: 27).

* “Innallaha laa yuhibbul kha-inin”
(sesungguhnya Allah tidak menyukai para pengkhianat; Al Anfaal: 58).

* “Innallaha laa yuhibbu kulla khauwanin kafurin”
(sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang banyak berkhianat dan mengingkari nikmat; Al Hajj: 38).

* “Wa maa yahiqul makru as saiyi’u illa bi ahlih”
(tidaklah makar jahat itu akan menimpa, kecuali kepada pelakunya sendiri; Fathir: 43).

Dengan ayat-ayat ini dan semisalnya, dapat disimpulkan bahwa urusan para PENGKHIANAT itu tidak akan sukses, akan berakhir kekalahan, akan berujung penyesalan bagi pelaku dan pendukungnya. Mari sama-sama kita nantikan!

(Mine).  


Apakah Prabowo Kalah ?

Agustus 27, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Secara teori dan hukum, para pendukung pasangan capres Prabowo-Hatta sudah dikalahkan; setelah gugatan mereka ditolak oleh MK pada 21 Agustus 2014 malam. Tetapi secara hakiki, pasangan ini TIDAK TERKALAHKAN. Bahkan ia semakin kuat, mendapat tempat di hati rakyat, dan insya Allah akan semakin menguat untuk masa-masa ke depan.

Mengapa pasangan capres Prabowo-Hatta tidak terkalahkan?

Jawabnya:

[1]. Mereka berhasil mengajak masyarakat luas, segala elemen bangsa, dan para politisi untuk sama-sama memperjuangan keadaan negara yang BERSATU, BERDAULAT, ADIL, dan MAKMUR. Visi perjuangan ini sama seperti yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa di masa lalu. Sangat sulit membangun kesadaran nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa ini. Alhamdulillah, kini seruan kemandirian, kedaulatan, martabat bangsa tidak lagi menjadi seruan “pinggir jalan”, tapi telah merasuk ke seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa.

Jangan Pernah Menyerah !!!

Jangan Pernah Menyerah !!!

[2]. Perjuangan membangun kehidupan bangsa yang berdaulat, bermartabat, bebas dari segala praktek kolonialisme; adalah misi perjuangan yang luhur. Perjuangan seperti ini akan diliputi energi juang yang sangat kuat; seperti nyala obor yang tak kunjung padam. Dalam prakteknya, perjuangan MEMBELA KEADILAN itu tidak pernah terkalahkan. Ia semakin kuat, selagi ada kesungguhan, keikhlasan, pengorbanan, dan sikap istiqamah.

[3]. Bangsa Indonesia menemukan kembali visi politik kenegarawanan, setelah sekian lama (sejak Reformasi 1998) terjebak dalam politik transaksional yang sangat mengerikan. Urusan negara menjadi arena perlombaan untuk memuaskan syahwat personal dan kelompok. Perjuangan politik hanya sebatas mencari jabatan menteri, posisi di parlemen, akses bisnis proyek, atau keuntungan finansial yang bersifat sempit.Senyatanya, kenyataan seperti itu bisa membunuh bangsa lebih cepat. Dengan tampilnya ide-ide perjuangan Prabowo-Hatta, bangsa Indonesia seperti tersadarkan dari kesesatan jalannya yang panjang.

Partai AKP di Turki harus berjuang jatuh-bangun dan jungkir-balik, agar negaranya menghormati agama dan menghargai aspirasi kaum beragama. Terbukti mereka berhasil dan membuat perubahan-perubahan significant. Sedang di Indonesia, Prabowo Subianto membawa gerbong perjuangan berbeda, yaitu: menjadikan bangsa Indonesia berdaulat dan hidup bermartabat di negerinya sendiri.

Jika perjuangan seperti ini dianggap kalah, lalu yang disebut menang seperti apa? Menjadi pecundang dan pengekor imperialis asing?

Kekalahan gugatan hukum ke MK saat ini bisa dipahami sebagai kekalahan politik; tetapi ini adalah kemenangan perjuangan, karena seluruh bangsa ikut terlibat dan peduli. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


PEMBACA MENULIS

Agustus 27, 2014

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh. Pembaca budiman yang kami cintai…

FaceDalam rangka menghemat energi dan tetap menyediakan ruang diskusi terbuka; serta menghindari diskusi yang “tidak beradab”; kami sengaja menyediakan forum dialog khusus di laman PEMBACA MENULIS ini.

Silakan bila Anda punya komentar, pertanyaan, kritik, masukan, dan sebagainya; silakan ditulis di sini. Tinggal disebut saja judul atau tema artikel apa yang ingin dituju. Akan lebih baik jika Anda selalu gunakan klik kanan dan “open link in new tab” agar tidak putus koneksi pembahasan.

Seperti biasa, tulislah setiap sesuatu dengan sopan dan beradab. Untuk ruang diskusi yang masih ada bersama artikel, masih bisa dipergunakan. Mohon maaf atas semua keterbatasan kami ya.

Terimakasih. Jazakumullah khairan katsira.

(Admin Blog).


Ciri Umum Kesesatan

Agustus 21, 2014

Jalan kesesatan bermacam wujud dan coraknya. Alasan-alasan kesesatan juga beragam. Tapi ada satu ciri umumnya (meskipun hal ini juga tidak mutlak; maksudnya kadang kaum sesat tidak selalu demikian).

Ciri umum itu adalah: “Memandang enteng/murah darah kaum Muslimin.”

Ketika seseorang baru pertama masuk Islam, maka ketentuan awal yang berlaku baginya adalah kata-kata Nabi SAW berikut: “‘Ashamu minni dima’ahu wa amwalahu” (terjaga darah & hartanya dariku).

Ini mrupakan ketentuan asasi dalam Islam, sehingga ulama menyebut prinsip HIFZHUN NAFS (menjaga jiwa) sebagai salah satu pilar Syariat.

Kaum Zhalim Haus Darah Ummat

Kaum Zhalim Haus Darah Ummat

Berulang kali Allah menyebut dalam Kitab-Nya tentang “qathlun nafs bi ghairi haqqin” (membunuh jiwa tanpa hak).

Meskipun begitu…dalam sejarah Islam, hingga saat ini, begitu banyak nyawa Ummat Muhammad SAW terbunuh secara aniaya.

Fakta-fakta terakhir, lihatlah tragedi Ghaza, tragedi Suriah, tragedi Mesir, tragedi Irak, tragedi Afghan, dll.

Alasan tragedi ini bisa macam-macam, tapi intinya “memandang sepele” darah kaum Muslimin. Jika demi membela seorang Muslim yang terbunuh dipasar, Nabi SAW sampai mengusir satu kabilah Yahudi dari Madinah; lalu bagaimana dengan “pesta darah” Ummat yang sangat mengerikan tersebut?

Seringkali kita menolak aksi-aksi teror kecil-kecilan, tapi kita membiarkan teror besar-besaran (pembantaian Ummat).

Cara termudah mengenali kesesatan adalah dari pandangan pelakunya terhadap DARAH UMMAT. Tidak peduli apakah mereka memulainya dg TAKFIR atau tidak.

Rata-rata kaum sesat brmasalah di sini; akibat kesesatan paham, dada mereka sesak melihat kebaikan Ummat; lalu muncul ide untuk melenyapkan kehidupan “bi ghairi haqqin” (dg cara yg tdk dibenarkan Syariat).

Nas’alullah al ‘afiyah was salamah, fid dunya wal akhirah. Amin.

(Mine).


Kemenangan ISLAM

Agustus 21, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada orang brtanya: “Apakah Islam menjanjikan kemenangan bg Ummatnya?”

Maka jawabnya: Ya benar! Tidak ada keraguan! Janji kemenangan ini diprasastikan dlm ayat Al Qur’an:

Huwalladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haqqi li yuzh-hirahu ‘alad dini kullihi, wa kafa billahi syahida

(Dialah Allah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, agar Dia menangkan -Rasul & agamanya- atas segala agama; dan atas perkara ini cukuplah Allah jadi saksinya). Surat Al Fath: 28.

Kemenangan Tak Mesti Bermakna Politik

Kemenangan Tak Mesti Bermakna Kekuasaan Politik

Dengan redaksi yang mirip, ayat serupa disebut dlm Surat At Taubah dan Ash Shaff. (Seolah brmakna, untuk mencapai Al Fath, kita harus At Taubah dulu, lalu merapikan Ash Shaff).

Ini adalah dalil universal tentang kemenangan Islam “alad dini kullihi” (atas segala agama, ideologi, isme, teologi, doktrin, dan seterusnya).

KEMUDIAN datang pertanyaan berikutnya: “Jika Islam memang dijanjikan kemenangan, mengapa kondisi Ummat Islam saat ini terpuruk, lemah, terpecah belah? Mana bukti janji kemenangan itu?”

JAWABNYA sebagai berikut:

Manusia sering membatasi makna kemenangan dalam arti kekuasaan politik; padahal tidak smata itu. Bila kemenangan hanya brmakna politik, maka tabiat kekuasaan itu sifatnya turun-naik, jatuh-bangun.

Betapa TIDAK BERSYUKUR-nya kita jika memaknai nikmat kemenangan sebatas kekuasaan politik saja.

Saudaraku, apa yang Allah janjikan dalam Kitab-Nya adalah benar. Kemenangan bahkan berlaku di segala zaman dan tempat. Namun makna kemenangan itu luas, SELUAS bidang-bidang kehidupan manusia sendri.

Maka kemenangan agama ini Allah tampakkan dalam nilai-nilai keunggulan, seperti: Ketinggian ilmu keislaman, kejelasan konsepsi Tauhid, kemuliaan akhlak kaum Muslimin, kesucian konsep moral Islam, keadilan Syariat, kesatuan dan persaudaraan Ummat dalam satu ikatan, ketinggian peradaban, keunikan simbolnya, keunggulan model keluarga, dan sbgainya. Banyak skali nilai-nilai keunggulan ini, seperti dijelaskan para ulama & cendekiawan Islam.

Smua ini adalah bukti-bukti KETINGGIAN ISLAM. Hal-hal demikian tidak akan kita temukan BERKUMPUL dalam satu agama atau ideologi, selain ISLAM.

Rahasia kemenangan ini dijelaskan dalam Kitabullah: “Ya aiyuhal ladzina amanu udkhulu fis silmi kaaffah” (wahai orang-orang beriman masuklah ke dlm Islam scara kaaffah).

Hakikat Islam Kaffah (integral) inilah yang mengalahkan semua agama-agama. Dan suatu saat, bila waktunya tiba, akan datang momen kemenangan politik untuk menyempurnakan hakikat kemenangan ini. Maka bersyukurlah, bersabarlah, dan tetap istiqamah.

Demikianlah, semoga Allah memberikan berkah, hikmah, & kemuliaan kepada kita. Amin ya Sallam.

(Abah).


Antara ISIS dan Al Qa’idah

Agustus 21, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah artikel di Voa-islam.com, disebutkan pernyataan dari seorang Mufti negara Teluk. Beliau mengatakan, bahwa ISIS dan Al Qa’idah adalah musuh nomer satu Ummat Islam.

Menurut kami pernyataan demikian kurang bijak. Di bawah ini sedikit komentar yang bisa kami sampaikan:

Kaum Muslimin harus mengetahui, ISIS berbeda dengan Al Qa’idah, meskipun awalnya sama.

Ceritanya kurang lebih sebagai berikut:

Harus Bijak dalam Menilai Para Pejuang

Harus Bijak dalam Menilai Para Pejuang

Pasca WTC 11 September 2001, pemerintah Thaliban diserang Amerika & Sekutu. Efek samping dari serangan ini, struktur organisasi Al Qa’idah hancur lebur. SDM, asset, dana, jaringan, fasilitas mereka rusak parah.

Tapi pihak Thaliban cepat berbenah. Upaya recovery-nya berjalan cepat, meskipun dg suasana sistem baru. Mungkin karena mereka memang mayoritas asli warga Afghan.

Sedang pihak Al Qa’idah merasa terlunta-lunta, karena mayoritas branggota militer non Afghan. Melihat cepatnya recovery Thaliban, para pemimpin Al Qa’idah berembuk; bgmana kalau Al Qa’idah tunduk kepada otoritas Thaliban, agar dapat perlindungan penuh? Mereka pun setuju.Sejak itu Al Qa’idah jadi organisasi di bawah Thaliban.

Ini ada dampaknya, Al Qa’idah jadi lebih moderat. Kata orang, “tidak lagi main kopar kapir”. Thaliban menempatkan Al Qa’idah sebagai missi Jihad di luar wilayah Afghan; semacam ada sinergi.

Tatkala meledak konflik Suriah, Al Qa’idah di-drive masuk ke sana. Tapi dengan nama Jabhah Nusroh, agar tidak mndapat penolakan di dunia Islam. Sedangkan ISIS bermula dari missi Jihad Al Qa’idah di Irak pasca invasi Amerika tahun 2003.

Organisasi missi Jihad ini salah satunya dipegang Abu Mushab Zarqawi yang diindikasi membawa paham “kopar kapir”. Pusat Al Qa’idah tidak bisa sepenuhnya mengekang organisasi di Irak ini. Missi di Irak sering jalan sendiri. Misalnya, Abu Mushab dkk bentuk Islamic State, tanpa izin ke pemimpin Al Qa’idah; mereka bentuk ISIS juga tanpa izin; mereka garap Suriah, juga melanggar komando; mereka umumkan Khilafah, lagi-lagi dengan melanggar izin. Banyak skali pelanggaran ISIS kepada otoritas Al Qa’idah.

Yang paling terlalu, ISIS mengajak para pejuang di berbagai negara untuk membelot dari sentral Al Qa’idah.

KESIMPULAN: “Al Qa’idah versi lama beda dg yang baru. Versi baru lebih moderat. Tdk menganut paham takfir.” Bahkan ulama rujukan Al Qa’idah seperti Abu Mush’ab As Suri, Athiyatullah Al Libi, Abu Qatadah, dan sebagainya sangat hati-hati dalam perkara TAKFIR.

Dan semua aksi-aksi teror yang trjadi di Indonesia, TIDAK ADA kaitan dengan Al Qa’idah. Tidak ada itu. Mengapa? Karena sejak tahun 2001, 2003, 2011, hingga saat ini mayoritas energi Al Qa’idah terkuras dalam konflik di Afghan, Irak, Yaman, Somalia, Suriah, dan lain-lain. Jadi tidak ada waktu untuk buat aksi-aksi di Indonesia.

MAKA ITU…janganlah menyebut orang-orang yang membela Ummat teraniaya sebagai musuh Islam nomer satu. Itu jelas keliru!

Wallahu a’lam bisshawaab.

(Mine).


Bendera MERAH-PUTIH dan Tauhid

Agustus 18, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seiring masa-masa peringatan Kemerdekaan RI ke-69, mari kita sedikit berbicara tentang bendera Merah-Putih dalam perspektif Tauhid. Pembicaraan ini sangat sensitif, tapi perlu dilakukan, untuk menjembatani gap yang cukup dalam antara kaum Nasionalis dan Islamis.

Terkait masalah posisi bendera Merah-Putih ini ada dua pendapat ekstrim yang berkembang selama ini, yaitu: a. Pendapat yang mengaitkan bendera itu dengan kemusyrikan, setiap orang yang menghormatinya dituduh terlibat kemusyrikan, serta larangan menggunakan bendera ini dengan alasan ASHABIYAH (nasionalisme); b. Pendapat kedua yang mengaitkan bendera ini dengan nilai kesucian, sakral, ritual, serta mengagungkannya seperti mengagungkan simbol-simbol keagamaan.

SIMBOL SEBUAH BANGSA dan PERINGATAN MOMEN KEMERDEKAAN

SIMBOL SEBUAH BANGSA dan PERINGATAN MOMEN KEMERDEKAAN

Dalam hal ini, kami ingin menjelaskan suatu perspektif moderat yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kaum Muslimin di negeri ini. Bendera Merah-Putih memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak boleh diabaikan; tetapi cara menyikapinya juga jangan berlebihan, seolah ia memiliki nilai “sakral” yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Mari kita melihat isu ini lebih dekat…

[1]. Sungguh, bendera Merah-Putih memiliki kelebihan dibanding bendera-bendera lain. Dalam bendera ini HANYA ADA PADUAN WARNA saja, tanpa ikon, simbol, atau bentuk-bentuk tertentu. Benar-benar murni hanya warna saja, sehingga nilai bendera ini ya tergantung pemaknaan warna itu sendiri.

[2]. Makna yang kita kenal selama ini, MERAH artinya berani; sedangkan PUTIH artinya suci. Makna berani dan suci, keduanya merupakan makna-makna positif dalam ajaran Islam. Dalam Al Qur’an disebutkan makna keberanian: “Wa lam yakhsya illa Allah” (tidak merasa takut, selain hanya kepada Allah). Ayat ini jelas bermakna keberanian. Kemudian dalam hadits disebutkan: “Ath thahuru minal iman” (kesucian adalah bagian dari iman). Bahkan dalam ayat disebutkan, Allah menyukai orang-orang yang menjaga kesucian dirinya.

[3]. Dari sisi warna, Rasulullah SAW menyukai warna putih. Beliau juga memiliki jubah berwarna merah. Disebutkan oleh sebagian Shahabat RA, manakala Rasulullah memakai jubah warna merah, serasa tidak ada lelaki lain yang lebih tampan dari beliau. Baik warna putih atau merah, keduanya termasuk warna yang disukai Rasulullah SAW.

[4]. Kalau kita perhatikan kostum umumnya kaum Muslimin di Arab, terutama di Saudi; mereka banyak memakai warna putih-putih, dengan mengenakan sorban garis-garis merah. Hal ini merupakan pemandangan yang lazim. Sorban di kelapa warna merah, pakaian gamis dan celana putih. Merah-putih.

[5]. Bagi bangsa Indonesia sendiri, bendera merah putih merupakan PERINGATAN PERJUANGAN MEREBUT KEMERDEKAAN. Dulu orangtua-orangtua kita berjuang merebut kemerdekaan, dengan simbol Merah-Putih. Saat ini kaum Muslimin sedunia terus mendoakan agar bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaan dari Zionis Yahudi. Nah kemerdekaan seperti itu yang dulu diperjuangkan oleh orangtua-orangtua kita (para pejuang).

[6]. Secara umum, Allah Ta’ala menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar saling mengenal. Kita sebagai bangsa Indonesia adalah buah dari ketetapan dan takdir Allah, sebagai sebuah bangsa. Tidak mengapa sebuah bangsa memiliki ciri atau simbol tertentu, asalkan SIMBOL ITU TIDAK BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT. Jika melihat simbol bendera MERAH-PUTIH, insya Allah tidak ada yang bertentangan dengan Syariat; malah selaras.

Mungkin akan menjadi pertanyaan: Bagaimana dengan ritual hormat bendera setiap hari Senin? Bagaimana dengan sikap hormat bendera? Bagaimana dengan sikap mensakralkan bendera dengan sikap-sikap ritualis tertentu?

JAWABAN atas pertanyaan ini mungkin lebih tepat jika diajukan kepada para ulama yang kompeten, seperti para ulama MUI dan semisalnya.

Adapun kami sendiri jika boleh berpendapat, akan bersikap kira-kira sebagai berikut:

= Tidak mengapa mengibarkan bendera Merah-Putih, sebagai identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Begitu juga mengibarkan bendera, untuk memperingati momen perjuangan para pendahulu dalam melawan dan mengusir penjajah.

= Sikap hormat bendera, sebaiknya dilakukan sebagai bentuk formalitas,

tanpa diniatkan di hati untuk mengagung-agungkan seperti layaknya simbol keagamaan yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya.

= Orang-orang yang melakukan hormat bendera, janganlah dituduh sebagai bagian dari kemusyrikan; karena hal-hal demikian ini bukan perkara besar yang bisa mengeluarkan manusia dari batas-batas keimanan. Hendaknya kita berhati-hati tatkala berbicara tentang keimanan.

Demikian beberapa tulisan sederhana. Semoga bermanfaat dan bisa memberi sedikit tambahan wawasan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah).