Bendera MERAH-PUTIH dan Tauhid

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seiring masa-masa peringatan Kemerdekaan RI ke-69, mari kita sedikit berbicara tentang bendera Merah-Putih dalam perspektif Tauhid. Pembicaraan ini sangat sensitif, tapi perlu dilakukan, untuk menjembatani gap yang cukup dalam antara kaum Nasionalis dan Islamis.

Terkait masalah posisi bendera Merah-Putih ini ada dua pendapat ekstrim yang berkembang selama ini, yaitu: a. Pendapat yang mengaitkan bendera itu dengan kemusyrikan, setiap orang yang menghormatinya dituduh terlibat kemusyrikan, serta larangan menggunakan bendera ini dengan alasan ASHABIYAH (nasionalisme); b. Pendapat kedua yang mengaitkan bendera ini dengan nilai kesucian, sakral, ritual, serta mengagungkannya seperti mengagungkan simbol-simbol keagamaan.

SIMBOL SEBUAH BANGSA dan PERINGATAN MOMEN KEMERDEKAAN

SIMBOL SEBUAH BANGSA dan PERINGATAN MOMEN KEMERDEKAAN

Dalam hal ini, kami ingin menjelaskan suatu perspektif moderat yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kaum Muslimin di negeri ini. Bendera Merah-Putih memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak boleh diabaikan; tetapi cara menyikapinya juga jangan berlebihan, seolah ia memiliki nilai “sakral” yang tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.

Mari kita melihat isu ini lebih dekat…

[1]. Sungguh, bendera Merah-Putih memiliki kelebihan dibanding bendera-bendera lain. Dalam bendera ini HANYA ADA PADUAN WARNA saja, tanpa ikon, simbol, atau bentuk-bentuk tertentu. Benar-benar murni hanya warna saja, sehingga nilai bendera ini ya tergantung pemaknaan warna itu sendiri.

[2]. Makna yang kita kenal selama ini, MERAH artinya berani; sedangkan PUTIH artinya suci. Makna berani dan suci, keduanya merupakan makna-makna positif dalam ajaran Islam. Dalam Al Qur’an disebutkan makna keberanian: “Wa lam yakhsya illa Allah” (tidak merasa takut, selain hanya kepada Allah). Ayat ini jelas bermakna keberanian. Kemudian dalam hadits disebutkan: “Ath thahuru minal iman” (kesucian adalah bagian dari iman). Bahkan dalam ayat disebutkan, Allah menyukai orang-orang yang menjaga kesucian dirinya.

[3]. Dari sisi warna, Rasulullah SAW menyukai warna putih. Beliau juga memiliki jubah berwarna merah. Disebutkan oleh sebagian Shahabat RA, manakala Rasulullah memakai jubah warna merah, serasa tidak ada lelaki lain yang lebih tampan dari beliau. Baik warna putih atau merah, keduanya termasuk warna yang disukai Rasulullah SAW.

[4]. Kalau kita perhatikan kostum umumnya kaum Muslimin di Arab, terutama di Saudi; mereka banyak memakai warna putih-putih, dengan mengenakan sorban garis-garis merah. Hal ini merupakan pemandangan yang lazim. Sorban di kelapa warna merah, pakaian gamis dan celana putih. Merah-putih.

[5]. Bagi bangsa Indonesia sendiri, bendera merah putih merupakan PERINGATAN PERJUANGAN MEREBUT KEMERDEKAAN. Dulu orangtua-orangtua kita berjuang merebut kemerdekaan, dengan simbol Merah-Putih. Saat ini kaum Muslimin sedunia terus mendoakan agar bangsa Palestina mendapatkan kemerdekaan dari Zionis Yahudi. Nah kemerdekaan seperti itu yang dulu diperjuangkan oleh orangtua-orangtua kita (para pejuang).

[6]. Secara umum, Allah Ta’ala menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar saling mengenal. Kita sebagai bangsa Indonesia adalah buah dari ketetapan dan takdir Allah, sebagai sebuah bangsa. Tidak mengapa sebuah bangsa memiliki ciri atau simbol tertentu, asalkan SIMBOL ITU TIDAK BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT. Jika melihat simbol bendera MERAH-PUTIH, insya Allah tidak ada yang bertentangan dengan Syariat; malah selaras.

Mungkin akan menjadi pertanyaan: Bagaimana dengan ritual hormat bendera setiap hari Senin? Bagaimana dengan sikap hormat bendera? Bagaimana dengan sikap mensakralkan bendera dengan sikap-sikap ritualis tertentu?

JAWABAN atas pertanyaan ini mungkin lebih tepat jika diajukan kepada para ulama yang kompeten, seperti para ulama MUI dan semisalnya.

Adapun kami sendiri jika boleh berpendapat, akan bersikap kira-kira sebagai berikut:

= Tidak mengapa mengibarkan bendera Merah-Putih, sebagai identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Begitu juga mengibarkan bendera, untuk memperingati momen perjuangan para pendahulu dalam melawan dan mengusir penjajah.

= Sikap hormat bendera, sebaiknya dilakukan sebagai bentuk formalitas,

tanpa diniatkan di hati untuk mengagung-agungkan seperti layaknya simbol keagamaan yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya.

= Orang-orang yang melakukan hormat bendera, janganlah dituduh sebagai bagian dari kemusyrikan; karena hal-hal demikian ini bukan perkara besar yang bisa mengeluarkan manusia dari batas-batas keimanan. Hendaknya kita berhati-hati tatkala berbicara tentang keimanan.

Demikian beberapa tulisan sederhana. Semoga bermanfaat dan bisa memberi sedikit tambahan wawasan. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah).

Iklan

5 Responses to Bendera MERAH-PUTIH dan Tauhid

  1. mhilal berkata:

    Menurut saya justru absurd kalau ada yang mensyirikkan tindakan hormat pada bendera, pak….

  2. AA berkata:

    Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Kebudayaan, KH Cholil Ridwan, menyatakan pendapat pribadi jika menghormati bendera hukumnya adalah haram.

    Cholil berpendapat, mengenai hukum menghormati bendera, sejumlah ulama Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Riset Fatwa (Lajnah ad Daimah li al Buhuts al ‘Ilmiyyah wa al Ifta) telah mengeluarkan fatwa dengan judul ‘Hukum Menyanyikan Lagu Kebangsaan dan Hormat Bendera’, tertanggal 26 Desember 2003.

    Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan dengan alasan:

    Pertama, Lajnah Daimah menilai bahwa memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bid’ah yang harus diingkari. Aktivitas tersebut juga tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah SAW ataupun pada masa Khulafa’ ar-Rasyidun.

    Kedua, menghormati bendera negara juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan di dalam mengagungkan hanya kepada Allah semata.

    Ketiga, menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan. Keempat, penghormatan terhadap bendera juga merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir, mentaklid (mengikuti) tradisi mereka yang jelek serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap para pemimpin dan protokoler-protokoler resmi. Padahal, Rasulullah SAW melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.

    m.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/hormat-bendera-sejarah-dan-hukumnya.htm

  3. abisyakir berkata:

    @ AA…

    Kami setuju bahwa ada masalah dengan “hormat bendera”. Bendera tak usahlah disakralkan begitu. Tapi bila urusan “hormat bendera” ini menimbulkan masalah-masalah bagi sebagian orang (para pegawai, TNI, Polri); maka hormatnya secara formalitas saja; bukan diresapi di hati.

    Di sisi lain, kami tidak setuju jika menyebut seorang Muslim sebagai “musyrikin” hanya gara-gara menghormat bendera. Kita tak tahu, apakah dalam hatinya dia mengingkari sakralisasi bendera itu atau tidak? Kita tak tahu hati manusia.

    Admin.

  4. didi berkata:

    ha..ha untung masa jahiliyah telah lewat.
    gara gara tidak hormat bendera kepala bisa benjol., berdiri di terik matahari dll dll.

  5. anim berkata:

    Belajarilah dan kenalknlah anak kita simbol negara(Merah Putih)orang yg membenci dn mensyirikan merah putih,,,bisa merusak NKRI,merah putih simbol kesatuan bangsa yg di perjuangkan slruh bangsa,,,di bawah merah putih pejuang,suhada dan orang2 yg soleh,,,berjayalah merah putih,,,yg tidak membedakan suku ras dn golongan,,ya alloh lindungilah negaraku barokah orang2 soleh dn fukoro,,orang yg menentang merah putih di dalam hatinya belum beriman,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: