Kekalahan Prabowo dan Intervensi McCain

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Mungkin rasanya aneh bicara sikap pengecut TNI di balik kekalahan Prabowo-Hatta. Tapi ada koneksi yang kuat.

Waktu pengumuman sidang MK kemarin, TNI menyiagakan 23 ribu personel (BKO ke Polri). Belum pasukan cadangan yang disiagakan. Seolah, pendukung Prabowo kayak PKI yg hobi teror, main ancam, anarkhis.

Kita tahu, TNI punya akidah “NKRI harga mati”. Tapi mereka sndiri sejak peristiwa “Ganyang Malaysia” tahun 60-an belum pernah PERANG LAGI melawan negara eksternal. Hampir 50 tahunan tidak perang melawan orang luar.

Datang Membaca Ancaman

Datang Membaca Ancaman

Saat senator Amerika John McCain datang ke Indonesia, dia bertemu Ketua MPR dari PDIP, Sidarto Danusubroto. Untuk apa McCain datang bertemu Ketua MPR? Karena MPR selama ini kan menjaga 4 pilar bangsa: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

McCain cuma menyenggol isu NKRI sedikit. Kalau dalam bahasa prokem kira-kira begini: “Lu mau NKRI tetap utuh, atau Prabowo jadi presiden? Silaken Lu pilih. Gue sih punya banyak tenaga buat bikin onar di negeri ini.” Kira-kira begitulah.

Nyaris setiap McCain datang ke sebuah negeri, ancaman disintegrasi langsung terbayang di depan mata. Dia punya kerja di Libya, Yaman, Ukraina, Suriah, dan lainnya. Hasilnya, sudah sama-sama kita tahu. Seolah John McCain ini seperti “devil penebar disintegrasi“.

Amerika bisa menghidupkan gerakan separatis unt membubarkan NKRI; seperti mereka telah mengacak-acak Libya, Yaman, Suriah, Iraq dll. Maka itu, beberapa wkt lalu kita lihat ada move-move gerakan OPM di Papua dan demo OPM. Ini hanya skedar penegasan, bhw McCain tdk main-main.

Atas ancaman seperti ini, tampaknya elit-elit TNI pada ngedrop. Mereka cari jalan aman, dengan menghindari risiko disintegrasi bangsa. Caranya ya menjaga baik-baik kemenangan Jokowi yang dibidani KPU, MK, dan lainnya. Malah kepala TNI sempat bilang, kalau ada demo anarkhis, silakan tembak di tempat! Ya Ilahi, ke anak bangsa sendiri seperti itu.

Harusnya, pihak TNI berani hadapi ancaman-ancaman separatis, juga tekanan-tekanan pendukung PKI. Masak kemana-mana bilang “NKRI harga mati” sambil tidak berani hadapi kekuatan asing?

Tidak layak elit TNI mengancam para penggembira ISIS dari kalangan penjual es krim, tukang warnet, tukang tambal ban, dan sejenisnya; lalu mengabaikan tantangan dari kalangan pendukung PKI, mafia asing, dan orang-orang seperti McCain. Mana dong buktinya, “NKRI harga mati”?

Kalau Amerika bisa menekan Indonesia dengan isu disintegrasi, berarti mereka akan melakukan hal itu, bila waktunya tiba. Apa bedanya tantangan kini dan nanti? Hanya soal waktu saja kan, sedang esensinya sama.

Dengan slalu memilih jalan aman, elit-elit TNI seperti tidak menginginkan ada perubahan significant dalam kehidupan bangsa ini. Jauh sekali dari ide membangun bangsa yang: bersatu, berdaulat, adil dan makmur!

Bersikaplah berani, Jendral!

Wal ‘izzatu lillah.

(Sentot Ali Basyah).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: