Prabowo dan Nelson Mandela

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sangat relevan kita membandingkan sosok Prabowo Subianto dengan pahlawan modern asal Afrika Utara, Nelson Mandela. Kedua sosok mewakili missi perjuangan yang luhur, di negara masing-masing. Jika Nelson Mandela memperjuangkan penghapusan politik APHARTEID (rasialisme yang menempatkan kaum kulit putih lebih mulia dari kaum kulit hitam); maka Prabowo membawa missi memperjuangkan kedaulatan hakiki bangsa Indonesia atas pihak-pihak lain yang terus mengeksploitasi kehidupan di negeri ini demi kepentingan mereka sendiri.

Missi luhur perjuangan Prabowo terangkum dalam kalimat: Memperjuangkan kehidupan bangsa yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kalau bangsa Indonesia masih menghargai Proklamasi 17 Agustus; masih menghargai Pembukaan UUD 1945, masih menghargai Pancasila, masih menghargai status sebagai BANGSA MERDEKA; ya harus mendukung perjuangan itu. Bagaimana kita mengaku diri sebagai bangsa merdeka, tapi tidak memiliki kedaulatan mengatur kehidupan?

Jadi perjuangan Prabowo ini -setahu kami- tidak bercorak perjuangan politik praktis; tetapi politik kebangsaan. Sama luhurnya dengan perjuangan para pahlawan bangsa di masa lalu yang berkorban habis-habisan meraih kemerdekaan. Kalau perjuangan Prabowo itu dihinakan atau dilecehkan; lalu apa artinya kita memiliki HARI PAHLAWAN setiap 10 November? Apa artinya kita memelihara taman-taman makam pahlawan?

Demi missi mulianya, Nelson Mandela harus berkorban dipenjara hingga 27 tahun. Dia dipenjara saat masih muda; ketika dibebaskan, dia sudah tua, lebih kurus, dan beruban. Itulah sifat komitmen seorang pahlawan Afrika Selatan, rela menderita demi missi kemuliaan. Prabowo pun sudah menerima segala kepahitan, jadi korban kezhaliman, hingga urusan rumah tangga menjadi taruhan. Itulah harga untuk sebuah missi luhur yang terus diperjuangkan.

Hebatnya, Nelson Mandela tidak menyimpan dendam kepada musuh-musuhnya. Setelah sekali dia memimpin Afrika Selatan, setelah itu tidak mencalonkan lagi. Dia tulus berjuang untuk maslahat rakyatnya. Begitu juga perjuangan menuju kemandirian bangsa, harus terus dinyalakan sampai berhasil mencapai tujuan; dengan tetap menjaga ketulusan.

Harus ada di negara kita ini para PATRIOT yang berjuang ikhlas, bukan untuk maksud apapun, selain demi KEMASLAHATAN kehidupan bangsa kita. Biarpun dilecehkan, dihina, mendapat tekanan-tekanan; missi seperti itu harus terus dilakukan. Bila diniatkan ibadah Lillahi Ta’ala, insya Allah sangat besar pahalanya di sisi Allah.

Dalam riwayat dikatakan: “Wa man qutila duna maalihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna dinihi, wahuwa syahid; wa man qutila duna ahlihi, wa huwa syahid” (siapa yang mati karena membela hartanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela agamanya, dia mati syahid; siapa yang mati karena membela keluarganya, dia mati syahid).

Perjuangan demi kemaslahatan bangsa ini tidak dibatasi oleh ruang-ruang keterbatasan politik. Ia menjadi seruan yang bersifat universal, diakui oleh semua fitrah insani; sebagaimana layaknya kenyataan yang sedang dihadapi para pejuang Palestina saat ini. Maka kekalahan dalam pemilu, dengan cara apapun, tidak boleh menghentikan usaha-usaha untuk mencapai kemandirian, kedaulatan, dan kemuliaan hidup bangsa ini.

Jangan sekedar memandang Prabowo sebatas kontestan politik; namun pandanglah ia sebagai simbolisasi perjuangan universal bangsa Indonesia. Pilpres boleh silih-berganti berapa kali pun; tapi missi perjuangan jangan berubah dan melenceng.

Cukuplah janji Allah sebagai spirit yang terus menggelorakan semangat juang; “Innallaha yuhibbul muhsinin” (sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak berbuat kebajikan).

Terus berjuang wahai saudaraku! Wallahu Waliyut taufiq.

(Mine).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: