Seputar Mimpi Bertani

Sejak kecil saya sangat terkesan dengan dunia pertanian. Maklum di sekitarku dulu kampung petani. Ayah, kakek, paman, rata-rata punya back ground tani.

Di TV (cuma TVRI) ada acara-acara favoritku sepertt: Dari Desa Ke Desa, Membangun Desa, Profil Desa, dan strusnya. Rata-rata acara brtema prtanian. Aku sndiri suka baca buku-buku pertanian, trmasuk majalah Trubus.

Sedikit kenangan…

Makan nasi “paling nikmat” yang pernah kurasakan, adalah makan nasi di tengah sawah; saat siang hari panas; tangan, kaki, badan penuh keringat & lumpur. Meskipun hanya menu ikan asin, tahu, mendol, sayur kol, sambel…masya Allah, nikmatnya luar biasa.

Kenangan di Masa Kecil

Kenangan di Masa Kecil

Pernah di masa kecilku, ada petani mentimun membebaskan kami (anak-anak kecil) unt mengambil mentimunnya. Asal dimakan di tempat, tidak dibawa pulang. Aku merasa sangat girang bahagia, karena biasanya dilarang. Kami seperti kalap, masuk kebun, mengambil mentimun yang paling hebat.

Waktu itu aku putuskan mencari mentimun paling gedhe. “Mumpung lagi era kemerdekaan.” Aku cari-cari mentimun terbesar, hingga dapat yang segedhe bayi. He he he. Memang besar, ujungnya sudah agak menguning.

Tanpa menunggu waktu lama, kumakan mentimun “bayi” itu. Kupikir ini nikmat skali. Ternyata…dagingnya keras dan rasanya masam.

Aku nyengir sndiri. Teman-teman ketawa melihatku. Kata mereka, mentimun sebesar itu untuk BENIH, bukan unt dimakan. “Oo…gitu ya.”

Di waktu lain, ada petani panen cabe merah yang besar-besar. Kami ikut bantu-bantu. Maklum anak kecil tidak makan cabe merah. Namanya anak kecil, kami main-main dengan cabe itu. Aku potong-potong cabe, lalu kugosok-gosokkan ke badan. Teman-teman cuma ketawa saja melihatku.

Saat sore hari, saat Maghrib. Kami duduk-duduk di masjid, menunggu waktu mengaji. Aku duduk sangat gelisah. Mengapa? Karena kulitku berasa panas, perih, pedas. Siang tak terasa, sorenya terasa. Begitu sakitnya, sampai aku menangis.

Sejak itu aku paham sebuah ungkapan: “Jangan maen-maen dengan cabe ya.” Harus pengalaman dulu, sebelum dapat pelajaran. He he he.

Waktu aku mengambil jurusan pertanian saat kuliah, karena memang ingin benar-benar paham TEKNIK BERTANI. Tapi sayang, materi kuliah rata-rata teoritik. Para dosen lebih kelihatan seperti PRIYAYI. Mereka jauh dari mencangkul, takut kena lumpur, ke sawah pake krim tabir surya, tak pernah nyabit rumput.

Sebagian besar mata kuliah mengulang pelajaran Biologi saat SMA dulu. Bayangkan, kami harus menggambar belalang & menghitung ruas kakinya. Kami harus menghafal nama-nama sel daun. Baru semester 7 ada praktek brtani; smester 8 sdh penelitian unt skripsi.

Dunia kuliah sangat tidak memuaskan, untuk mengejar mimpi dunia tani. Tani di mataku berbeda dengan konsep tani di bangku perkuliahan.

Salah satu tokoh petani yang menurutku hebat adalah Prof. Fukuoka, dari Jepang. Beliau pencetus “green revolution”. Beliau perintis pertanian organik, tanpa bahan-bahan kimia.

Demikian sekilas asa di dunia tani. Ada obsesi, tp ada realita. Sabar diri sangat perlu; rela atas pemberian Ilahi. Hidup adalah jalan, tuk brsyukur atas nikmat-Nya.

Rabbuna, jadikan kami ahli syukur; jauhkan dari kufur. Amin.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: