Komando, Loyalitas, dan Militansi

Bismillahirrahmaanirrahiim.

*) KOMANDO adalah otoritas dari level pemimpin kepada para bawahan atau anak buah, yang ditaati secara penuh, tanpa reserve. Misalnya komando seorang perwira kepada prajurit; pimpinan ormas kepada pengikut; pimpinan aksi kepada para pendukung aksi.

*) LOYALITAS adalah kesetiaan seseorang/sekelompok orang kepada pihak tertentu, dengan alasan apapun. Misalnya, suporter bola loyal kepada timnya; para santri loyal kepada kyai pesantren; anggota partai loyal kepada garis kebijakan partainya.

*) MILITANSI adalah kerelaan berkorban, semangat pembelaan, serta ketangguhan untuk menjaga suatu paham, pemikiran, organisasi, dan sebagainya. Misalnya, militansi aktivis dakwah, militansi demonstran mahasiswa, militansi aktivis gerakan sosial, dan sebagainya.

Saling Dukung Mendukung Menjaga Ummat dan Agama

Saling Dukung Mendukung Menjaga Ummat dan Agama

*) Komando, Loyalitas, Militansi adalah tiga kata berbeda, tetapi ruang lingkupnya sama. Terkadang ketiganya berada dalam satu tempat, kadang terpisah-pisah. Misalnya pada kalimat berikut: “Pimpinan organisasi pemuda memberikan perintah aksi kepada para anggotanya yang terkenal loyal dan militan.” Anggota organisasi itu loyal, kemudian memiliki sifat militan, lalu diarahkan dengan komando-komando.

*) Mengapa sih kita bicara masalah ini? Apa urgensinya ya? Kok kesannya seperti mau ada peperangan?

*) Begini wahai saudara-saudaraku… Zaman kita ini terus bergerak. Perubahan-perubahan terus terjadi. Seringkali perubahan zaman lebih cepat dari kemampuan respon kita. Misalnya, kalangan Amerika, Eropa, dan negara-negara Sekutunya sedang melakukan rekayasa wilayah di negeri-negeri Muslim (Timur Tengah). Tentu saja mereka mengerahkan dana, tenaga, strategi, teknologi, dan seterusnya. Tapi kita sendiri kaum Muslimin di negeri ini masih “menggelar seminar tentang pentingnya pendidikan agama Islam“. Bukan mau menghina, tapi betapa jauhnya kecepatan kaum agressor dibandingkan program-program kita.

*) Pernahkah Anda memikirkan hal ini: “Orang-orang non Islam berhasil membuat rekayasa dunia sedemikian rupa, karena mereka berhasil mendidik generasi, menyiapkan SDM, membangun kesadaran, membangun pusat-pusat pendidikan, dan seterusnya.” Pernahkah berpikir begitu? Sering ya.

*) Bagaimana kalau faktanya begini: “Kaum non Islam melakukan audisi untuk merekrut tenaga-tenaga profesional. Mereka direkrut untuk melaksanakan program rekayasa dunia. Mereka dijanjikan income 100 juta sebulan. Segala kebutuhan hidup, jenjang karier, masa depan sudah dijamin. Kalau perlu diberi posisi politik. Hanya syaratnya, mereka (orang rekrutan itu) harus loyal mati-matian kepada agenda rekayasa.” Jadi sifat kerja mereka dipaksa, ditekan keras, diawasi secara ketat; karena mereka dibayar mahal.

*) Kalau kita baru mengandalkan KESADARAN UMMAT, mereka sudah memaksa dengan ketat. Kalau kita baru rencana, mereka sudah susun program satu abad (bukan 25 tahunan). Kalau kita baru diskusi tentang pentingnya, pentingnya, dan pentingnya; mereka sudah membuat “taman makam pahlawan” untuk para martir missinya. Kalau kita baru melakukan bantahan, mereka sudah melakukan indoktrinasi secara sistemik. Kalau kita baru mengedarkan proposal cari-cari bantuan; mereka sudah menguasai dana moneter dunia.

*) Inilah kenyataan yang ada di tengah kaum Muslimin (Nusantara) saat ini, yaitu ketidak-mampuan mengorganisasikan diri untuk menghadapi tantangan yang ada. Suka tidak suka, perih atau manis, itulah nyatanya.

*) Masalah utama kita kini, Ummat berjalan sendiri-sendiri, tidak terikat oleh komando. Ummat tidak memiliki loyalitas kepada agama; loyalnya kepada uang, kepopuleran, gaya hidup kosmopolitan. Ummat tidak memiliki militansi, kecuali militansi uang, cinta (wanita), ikut-ikutan.

*) Bila kita berhenti di satu titik perjalanan, lalu menoleh ke belakang, melihat seperti apa perjalanan selama ini; tampaklah kita sudah mengalami krisis akut dalam masalah: komando, loyalitas, militansi.

*) Pesan kami: Hal-hal seperti ini harus segera diperbaiki! Lakukan apa yang bisa dilakukan untuk menggerakkan Ummat secara efektif, massif, dan sistematik. Itu harus dilakukan, karena tantangan kehidupan ke depan ini semakin menakutkan. Mari kita berusaha, wahai saudara-saudara budiman!

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Wind Flow).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: