Puasa Arafah Saat Muslimin Wukuf di Arafah…

Bismillahirrahmaanirrahim.

=> Pada momen Idul Adha 1435 H ini tampaknya kaum Muslimin akan berbeda pendapat tentang Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dan momen Idul Adha. Pemerintah Indonesia memutuskan Hari Raya Idul Adha pada tanggal 5 Oktober, sehingga puasa Arafahnya tanggal 4 Oktober. Sementara kementrian agama Saudi menetapkan Hari Arafah pada 3 Oktober, sedangkan Idul Adha pada 4 Oktober.

=> Singkat kata, kita mau ikut yang mana ya? Mau ikut kementrian agama Saudi atau Depag RI?

=> Kalau merujuk fatwa ulama-ulama Saudi, termasuk lembaga Lajnah Daimah, mereka menasehatkan agar kaum Muslimin ikut keputusan pemerintah masing-masing di wilayahnya; tidak harus mengikuti keputusan kementrian agama Saudi. Jadi singkat kata: silakan puasa di negeri masing-masing, silakan berhari-raya di negeri masing-masing, sesuai keputusan pemerintah negeri masing-masing.

=> Kalau kami memandang: kaum Muslimin lebih layak mengikuti momen Wukuf yang sedang terjadi di padang Arafah, Kota Makkah. Jika Wukuf 9 Dzulhijjah pada tanggal 3 Oktober 2014, ya silakan puasa di hari itu, besoknya baru melaksanakan Shalat Idul Adha (jika ada yang menyelenggarakan).

Di Padang Arafah Ummat Melaksanakn Wukuf

Di Padang Arafah Ummat Melaksanakn Wukuf

=> Mengapa kami berpendapat demikian? Apakah kami coba membangkang kepada para ulama?

=> Ada sekian alasan yang bisa kami kemukakan untuk mendukung pendapat ini, antara lain sebagai berikut:

[1]. Hari Raya Idul Adha tidak identik dengan Hari Raya Idul Fithri. Ada perbedaan mendasar di sana, yaitu terkait kekhususan Kota Makkah yang memiliki Padang Arafah di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Kekhususan ini sama seperti khususnya Padang Arafah, Mina, Kota Makkah untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umrah. Haji dan Umrah tidak bisa dilakukan, selain di Kota Makkah dan sekitarnya.

[2]. Coba perhatikan, saat para jamaah Haji sedang Wukuf di Arafah, apa yang mereka pikirkan tentang saudara-saudaranya yang tidak sedang melaksanakan Haji (Wukuf)? Pastilah mereka membayangkan, para saudaranya kaum Muslimin itu sedang melaksanakan puasa Sunnah Hari Arafah pada 9 Dzulhijjah. Lha, kalau saat Wukuf malah kita yang tidak sedang melaksanakan Haji tidak berpuasa, malah berpuasa pada hari berikutnya; berarti salah satu bentuk Syariat Islam sudah gugur. Syariat yang mana? Ya itu dia, bagi jamaah Haji tidak berpuasa di Arafah, sedangkan bagi yang tidak Haji melaksanakan puasa Sunnah.

[3]. Alasan lain, di zaman Nabi SAW dan para Shahabat RA tidak ada perselisihan tentang masalah ini. Ketika di Makkah sedang Wukuf, maka rakyat Muslim di kota-kota lain melaksanakan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Mereka tidak mengadakan momen-momen puasa sendiri mengikuti kehendaknya sendiri, tetapi melihat pelaksanaan Wukuf di Makkah.

[4]. Ada yang berdalil dengan “rukyat setiap negeri” pada hadits “rukyatnya Muawiyah di Damaskus”. Kalau hadits ini dijadikan dalil bagi pentingnya hari raya di setiap negeri sendiri-sendiri, maka akan terbit masalah besar. Masalah apa? Ingat, Damaskus itu adalah kota, seperti juga Madinah dan Makkah. Jika masing-masing kota melaksanakan acara sendiri-sendiri; maka Surabaya sendiri, Jakarta sendiri, Palembang sendiri, Medan sendiri, Makassar sendiri, Jayapura sendiri. Wallahu akbar, bagaimana nasib Ummat ini kalau setiap kota (seperti Damaskus) punya keputusan sendiri-sendiri. Sebenarnya dalam hadits “rukyat Muawiyah” itu ada illaj-nya (konteks). Di sana sang perawi tidak mengetahui informasi yang terjadi pada kota-kota berbeda, melainkan setelah melakukan perjalanan bulanan. Artinya, informasi rukyat itu tersekat antar kota; penduduk suatu kota tidak tahu keadaan kota yang lain. Di zaman modern, ketika piranti informasi/komunikasi dimudahkan, ya mestinya tidak menjadi masalah.

[5]. Mayoritas kaum Muslimin melaksanakan ibadah sesuai keadaan Wukuf di Kota Makkah. Dengan asumsi, mereka tahu informasi Wukuf di sana dan mereka tahu bahwa saat Wukuf sedang berlangsung, kaum Muslimin yang tidak melaksanakan Haji disunnahkan berpuasa. Jadi perhimpunan manusia yang sepakat dengan momen Wukuf ini adalah perhimpunan besar seluruh dunia; sedangkan yang menentukan rukyatnya sendiri-sendiri, mereka berbeda-beda satu sama lain. Perkumpulan ini sudah bisa dimaknakan sebagaimana dalam hadits “yauma tashumuna” (hari ketika kalian berpuasa). Faktanya, saat itu mayoritas kaum Muslimin di dunia sama sikapnya.

[6]. Menyamakan momen puasa Arafah dan Idul Adha dengan keputusan Wukuf di Kota Makkah, adalah jalan praktis untuk menghimpun Ummat dalam kesatuan, persatuan, dan persaudaraan. Di sini menutup pintu-pintu persengketaan, saling mencela, saling menghina; namun justru terbit harapan untuk saling bersatu, bersama, dan seragam. Hal-hal berupa nikmat Allah yang menghantar kepada Kesatuan Ummat harus disyukuri.

[7]. Bagaimana seandainya -paling kasarnya- sampai tidak terjadi Wukuf di Arafah, karena tidak ada pelaksanaan ibadah Haji di sana? Ya, kalau kondisinya darurat, ya kita boleh melakukan rukyat sendiri-sendiri; tapi lebih utama kalau rukyat itu menghimpun jumlah kaum Muslimin yang besar. Semakin banyak yang bersatu, semakin baik.

[8]. Lalu bagaimana kalau keputusan kementrian agama Saudi asal-asalan, seenaknya sendiri menetapkan rukyat, tidak didukung data-data hisab dan astronomi? Jawabnya: Kalau mereka main-main, dosa manusia sedunia mereka tanggung di pundaknya; kita tidak ikut-ikutan menanggung dosa. Kita tetap dinilai beramal saleh sesuai niat dan kemampuan kita.

=> KESIMPULAN: Silakan laksanakan puasa Sunnah Arafah pada saat kaum Muslimin Wukuf di Padang Arafah, dan laksanakan Idul Adha sehari sesudahnya.

=> Demikian, semoga bermanfaat. Terimakasih. Billahil huda wat taufiq.

(Weare).

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: