HIDUP TANPA ULIL AMRI

Bismillah. Ulil Amri adalah seorang pemimpin Muslim yang menggantikan posisi Nabi SAW unt memimpin Ummat. Singkat kata, dia seorang Khalifah. Jadi urusan ini TIDAK KELUAR dari lingkup Syariat Islam.

***) Dalil sangat kuat bahwa urusan kepemimpinan ini tidak boleh keluar dari Syariat, adalah adanya ayat-ayat Al Qur’an yang MELARANG KITA MENJADIKAN ORG KAFIR SBG PEMIMPIN.

Antara lain: “Ya aiyuhalladzina amanu laa tat-takhidzul kafirina auliyaa’a min dunil mukminin! Aturiduna an taj’alu lillah ‘alaikum sulthonan mubinan.

(Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang beriman! Apakah kalian hendak maemberi alasan bagi Allah untuk -menyiksa/menghukum- kalian?). Surat An Nisaa’: 144.

Ayat ini benar-benar melarang KELUARNYA urusan kepemimpinan dari tangan orang Mukmin (pro Syariat). Di sana ada kata kunci “auliyaa’a min dunil mukminin” (pemimpin-pemimpin selain orang Mukmin).

Jelas tegas, tanpa basa basi. Kepemimpinan harus dalam DAIRAH IMAN (lingkup keimanan). Dalam ayat selanjutnya dijelaskan sifat tercela orang munafik dan sifat mulia orang Mukmin. Bukankah banyak yang ngaku Islam (Muslim KTP), padahal hatinya anti Syariat?

***) Dalil lain yang sangat kuat, tak terbantahkan; hingga pendapat ulama-ulama besar yang menyelisihinya, baik ulama Salaf maupun Khalaf, rontok semua. Semua qaul ulama yang berbeda dg dalil ini, dianggap BATHIL.

Dalil apakah itu? YAITU perbuatan Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin Ra, dengan menjadi pemimpin Islam di bawah naungan Syariat Islam. Nah, dalil perbuatan Kenabian ini tidak bisa dibantah oleh TAFSIRAN apapun.

Andai pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ulama-ulama lain berbeda dengan ini (perbuatan Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin Ra); maka pendapat mereka dianggap bathil, tanpa keraguan!

***) Dalil Ushul Fiqih, bahwa tujuan pelaksanaan Syariat adalah untuk: melindungi agama, jiwa, harta, akal, keturunan kaum Muslimin. Kalau suatu kepemimpinan tidak punya MISSI demikian, ia tidak dianggap bagian dari urusan Islam. Apalagi mau disebut Ulil Amri?

*) Bagaimana kalau kepemimpinan itu jatuh ke tangan SELAIN ORANG-ORANG MUKMIN? Ya itu musibah namanya, bahkan musibah berat. Karena Allah mengancam, kalau ada pemimpin kafir (bukan Mukmin), kita seperti memberi alasan kepada-Nya untuk menyiksa hidup kita.

Maka itu jangan heran, kalau selama hidup di bawah pemimpin sekuler, Islamphobia, anti Syariat; hidup kita susah melulu, miskin, pecah-belah, tidak berwibawa. Itu sesuai ancaman Allah.

*) Mungkinkah kita hidup tanpa Ulil Amri? Mungkin. Karena Nabi Saw dan Sahabat Ra pernah 13 tahun hidup tanpa Ulil Amri di Makkah. Itu jadi dalil bhw bisa saja suatu masa terjadi KEKOSONGAN Ulil Amri.

Seperti kondisi di sini, selagi belum ada kepemimpinan Mukmin, ya selama itu -secara Syariat- belum ada Ulil Amri. Sampai kapan? Ya Allah Maha Tahu sampai kapan.

*) Lalu orang bertanya: “Apakah berarti Anda menyuruh memberontak kepada penguasa? Apa Anda akan kudeta? Apa Anda akan memerangi pemerintah sekuler?”

JAWAB kami: Tidak mesti dipahami begitu. Masalah terbesar adalah menjelaskan perkara ini sesuai Syariat. Adapun untuk melaksanakan kepemimpinan Islam, kita tempuh cara-cara yg memungkinkan. Misalnya, mendakwahkan keutamaan Syariat, memperbaiki Umat, melaksanakan Siyasah Islami, menasehati penguasa, dll.

Jadi jangan ada “piktor” (pikiran kotor) dan “jisad” (jiwa hasad). Seolah kalau orang berbeda dg rezim sekuler, selalu dituduh mau berontak, doyan kudeta, kaum revolusioner. Memang gak ada ide lain, selain “piktor” ye?

*) Kita tidak boleh mengklaim HALAL-HARAM, kecuali dg timbangan Syariat. Daging sembelihan, kalau tidak sesuai Syariat, kita tolak. Itu masalah makanan. Apalagi urusan KEPEMIMPINAN? Masak kita klaim sesuatu yang jahiliyah sebagai Islami? Tidak mungkin.

Demikian, semoga manfaat. Amin. Terimakasih.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: