MENGKRITIK PEMIMPIN NEGARA

*) Sebelum Pilpres banyak penuntut ilmu mengkritik -kasarnya menjelek-jelekkan- calon pemimpin tertentu. Katanya, banyak mafsadat, madharat, sudah maklum keadaannya.

*) Tapi setelah pemimpin “ahlul mafsadat” itu terpilih, seketika berubah hukum baginya: Tidak boleh dikritik, tidak boleh dicela di depan umum, harus didoakan, harus sabar, dinasehati diam-diam. “Kalau dia mau nurut, itulah yang kita inginkan. Kalau dia keras kepala, setidaknya Anda sudah menyampaikan.” Begitu kaidah populernya.

*) Ada satu lagi argumen, seperti retorika raja Muslim di masa lalu saat dia dikritik keras oleh seseorang. Raja itu brdalih: “Aku tidak sejahat Fir’aun, sedang Anda tidak sebaik Musa; tapi Musa diperintah untuk menasehati Fir’aun dengan qaulan laiyinan, kata baik-baik.” Bukan kritik, cela, hinaan, dll.

*) Singkat kata, bagaimana hukum mencela, mengkritik, mengejek pemimpin sekuler (non pemimpin Syariat), khususnya “ahlul mafsadah” lewat media-media? Apakah mencela pemimpin begitu termasuk mencela Ulil Amri?

Sedikit berbagi…

*) Ulil Amri adalah pemimpin yang mengurus hajat hidup orang-orang MUSLIM di atas panduan Syariat Islam. Ibaratnya: “Dari Muslim, oleh Muslim, untuk Muslim.” Hal ini perlu DITEGASKAN agar hukum-hukum Syariat tidak diambil keuntungan oleh para politisi sekuler (Islamphobia).

*) KTP Muslim tidak menjamin seseorang otomatis jadi Ulil Amri; karena di zaman Salaf manusia dilihat dengan kaidah KEYAKINAN, UCAPAN, dan PERBUATAN. Bukan dilihat KTP-nya. Di zaman Salaf, tidak ada “kaidah KTP”.

*) Amal Shalat seorang pemimpin TDK JADI UKURAN, jika AKIDAH-nya sudah bermasalah. Dalilnya, di era Imam Ahmad ada pemimpin yg diingkari karena SESAT AKIDAH-nya; meskipun yang bersangkutan tidak meninggalkan shalat. Harus dipahami, sikap Islamphobia adalah termasuk bentuk kesesatan yang nyata, karena bermakna memusuhi Islam.

*) Meskipun seorang pemimpin berakidah lurus, tidak mengandung kesesatan; dia tetap bisa jatuh ke dalam kekafiran; JIKA membela orang kufar untuk memerangi Muslimin, membenci sebagian atau seluruh Syariat Islam, tidak ridha dengan berlakunya Syariat Allah di muka bumi, selalu memusuhi dan menyusahkan orang-orang Mukmin, bercanda melecehkan agama Allah. Dalil minimal: An Maa’idah 51 dan At Taubah 65-66.

*) Kaidah dasar yang harus diketahui seorang Mukmin, adalah BISA MEMBEDAKAN antara pemimpin yang membawa MASLAHAT & yang membawa MADHARAT; bagi kehidupan Islam dan Muslimin. Kalau mereka tidak tahu, hendaklah melihat mayoritas sikap ulama-ulama Islam, tokoh Ummat, lembaga-lembaga Islam yg kredibel. Kalau tidak tahu juga, jangan bicara politik.

*) Jika seorang pemimpin, berdasarkan bukti-bukti kuat, adalah bagian kaum Islamphobia atau Antiislam; apakah harus kita mencela, mengkritik, menghinanya? JAWABNYA: tidak harus! Tapi dilihat mana yang lebih maslahat bagi Islam dan kaum Muslimin. Kalau dengan dikritik dia jadi bengis, menumpahkan darah Umat; hindari kritik terbuka. Kalau dengan dikritik dia SEMAKIN MELUNAK kezhaliman & maksiyatnya, ya lakukan hal itu.

*) Jadi inti dari urusan ini adalah AMAR MAKRUF dan NAHYUL MUNKAR. Kita tunaikan urusan ini kepada siapa saja, baik rakyat atau pemimpin. Karena agama memang jadi NASEHAT bagi siapa saja, atasan dan bawahan. Dalil minimal: Ali Imran 104.

*) Bagaimana dengan argumen raja Muslim yang membawa istilah qaulan laiyinan itu? Jawabnya, argumen itu hanya mengkritik sikap kasar dalam menasehati pemimpin; bukan menghilangkan hak menasehati pemimpin. Menasehati pemimpin dijamin sepenuhnya oleh Kitabullah dan Sunnah.

*) Kalau bisa menasehati secara damai, lembut, santun, lakukanlah. Kalau tidak bisa karena tidak efektif, ya lakukan cara lain yang lebih efektif dan menghasilkan pengaruh nyata.

Demikian, semoga bermanfaat. Amin.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: