Demokrasi Marah-marah !!!

Oktober 13, 2014
Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

*)  Anda seorang demokrat? Anda paham makna demokrasi? Paham konsekuensinya?

*)  Demokrasi tidak cuma soal “dukungan mayoritas rakyat”: tapi juga menghormati aturan main dan siap menerima hasil proses-proses politik yang legal (konstitusional).

*)  Ketika salah seorang kandidat presiden dinyatakan kalah oleh KPU, dia siap menggugat ke MK, dan kemudian menerima hasilnya. Itu contoh sikap, taat prosedur dan tidak anarkhis.

 

*)  Tapi hari ini kita jadi heran melihat para penggiat demokrasi, politisi, partai politik, pejabat, pengamat, dan terutama MEDIA-MEDIA massa. Mereka kini jadi seperti BAHLUL dalam urusan demokrasi.

*)  Katanya, demokrat sejati, master demokrasi, avant garde-nya demokrasi, para pendekar pilih tanding rimba demokrasi, dan seterusnya; tapi ternyata sikap mereka, pernyataan mereka, kelakuannnya sangat menyedihkan.

*)  Ketika KMP memenangkan pertarungan politik sengit di level DPR/MPR, entah mengapa orang-orang itu mendadak marah-marah, emosi, memaki-maki, mengancam, memfitnah, dan seterusnya. Aneh.

*)  Mereka telah tahu beberapa hal di bawah ini:

== Pendukung partai-partai dalam KMP itu suaranya mayoritas.

== Rakyat ikhlas rela memilih partai-partai di KMP. Terbukti mereka tidak protes ketika disahkan UU Pilkada lewat DPRD. Rakyat dari Sabang sampai Merauke bersikap baik-baik saja. Tidak muncul gejolak aneh-aneh.

== Berbagai keputusan politik diperoleh lewat proses Parlemen secara fair dan wajar. Malah lebih cool dari proses-proses di masa sebelumnya.

== Dalam demokrasi ada saluran dan mekanisme yang disepakati.

*)  Nah, mengapa setelah semua itu, mereka marah-marah, emosi, menekan, mengancam ada “people power” segala. Mengapa dan mengapa? Kalau memang tidak mengerti politik, ya jangan masuk dunia itu.

*)  Bahkan yang lucu, mereka berkoar-koar: “Rakyat tidak setuju semua ini. Rakyat marah. Rakyat tidak terima. Ini merampas hak-hak demokrasi. Ini kemunduran demokrasi. Ini tanda kematian demokrasi.”

*)  Pertanyaannya: Kalian itu mengerti politik apa tidak? Hal-hal yang diraih secara legal, prosedural, sesuai konstitusi, kok kalian anggap melanggar demokrasi? Demokrasi yang mana tuh?

*)  Jujur saja. Kalau tidak mengerti politik, sebaiknya mundur sajalah. Daripada menciderai akal sehat.

*)  Sampai di sini dulu bincang-bincang sedikit tentang demokrasi (politik). Nanti kita sambung ya…

***

===> Ngomong-ngomong, daging kurban-nya masih ada gak? Kalau masih, ya syukur. Lumayan buat perbaikan gizi anak-anak. Memang prihatin juga yak…masak sih makan daging nunggu Idul Adha? He he he…

===> Oh ya, jangan lupa doakan saudara-saudaramu yang baru pulang Haji, masih di Tanah Suci, dan berencana berangkat ke sana. Doakan ya. Biasanya doa yang dibaca ini: “Allohummaj’al hum haj-jan mabru-ron wa sa’yan masy-kuron wa dzan-ban magh-furon wa tijarotan lan tabuur” (ya Allah jadikan mereka Haji mabrur, usahanya disyukuri, dosanya diampuni, dan perniagaan-nya dengan Allah jadi perniagaan yang tidak pernah merugi). Doakan ya sahabat-sahabat budiman. 🙂

(Polikisi).

Iklan

Gempa Sosial di Balik Pilpres Juli 2014

Oktober 13, 2014
Banyak Kejutan Di sini

Banyak Kejutan Di sini

Bismillah. Sejak Pilpres kemarin terjadi hal-hal menggemparkan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Disadari atau tidak, kenyataan itu sudah terjadi dan massif berkembang di tengah masyarakat.

Perlu dipahami, di Indonesia ada sekitar 70 juta pengguna internet (dengan berbagai varian dan fasilitas). Ini berdasar penelitian sebagian lembaga surve market. Di antara pengguna ini ada yang AKTIF, HOBI, dan masih USIA MUDA. Mereka ini menjadi komunitas kritis yang banyak tahu, banyak baca artikel internet, dan spontan gayanya.

Kemudian di antara pengguna internet itu banyak yang menjadi pelanggan medsos seperti Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp, dan lain-lain. Mereka pengguna aktif dan banyak terlibat diskusi, share, chat, dan sebagainya. Mereka ini boleh dikata sebagai “komunitas medsos” yang sangat berpengaruh di dunia maya.

Nah, sejak Pilpres lalu muncul fenomena menggemparkan seperti di bawah ini:

*) Nama baik media-media mainstream hancur-lebur. Mereka berlebihan dalam mendewa-dewakan kandidat pemimpin, serta sangat agressif menyerang kandidat lain.

*) Citra wartawan dan pers rusak parah, karena sangat partisan & tendensius. PWI, AJI, dan seterusnya seperti tak berdaya.

*) Partai & tokoh-tokoh politik banyak dituduh sebagai antek asing dan aseng. Ya karena sikap mereka sendiri.

*) Para pengamat politik dicaci-maki sebagai jongos konglo-konglo hitam. Sosok seperti Ikrar Nusa Bakti, Asvi Warman Adam, Boy Hargens, Fajroel Rahman, dan seterusnya sudah dianggap partisan dan berkedok pengamat.

*) Lembaga-lembaga surve dibuang ke tempat sampah. Deny JA, Saiful Mujani, dan seterusnya sudah tak dianggap.

*) Lembaga seperti KPK dianggap kacung, tebang pilih, kerja sesuai pesanan. Apalagi kemarin Abraham Samad lantang menuduh Ketua DPR terpilih terkait kasus korupsi. Padahal dia tidak menjadi tersangka, hanya saksi.

*) Reputasi KPU dan Bawaslu dipertanyakan. Bahkan independensi MK juga diragukan.

Inilah sekelumit gempa-gempa sosial yang melanda kehidupan bangsa di masa-masa skarang ini. Selain itu, polarisasi basis massa yang pro liberalisme dan pro kemandirian bangsa, semakin tampak jelas. Hitam putih.

Mungkinkah ini hakikat “the real truth power”? Wallahu a’lam.

(Sang Owl).


“Kiamat” Pencitraan

Oktober 13, 2014
Pencitraan The End...

Pencitraan The End…

Tanggal pelantikan presiden baru masih sekitar 7 hari lagi. Tepatnya, 20 Okt 2014. Tapi gelagat ketakutan pihak KIH dan think-tank-nya sdh begitu membuncah. Bukan soal PENJEGALAN pelantikan, karena KMP kemungkinan tidak akan masuk kesana (menurut kami).

Lalu apa penyebab kegentaran dan grogi luar biasa ini?

Simple saja. Ini soal PEMBUKTIAN atas PENCITRAAN SANG PRESIDEN. Selama ini kan dia dicitrakan serba hebat, kreatif, merakyat, sederhana, terbuka, dan seterusnya.

Tapi saat dia jadi presiden itu akan benar-benar KETAHUAN modal dan skill aslinya. Bayangkan saja, sekelas Dirut PLN, Pertamina, atau Garuda saja; merasa berat unt jadi presiden.

Kami selama ini meyakini, kemampuan sang presiden terpilih baru selevel bupati/walikota. Belum bisa “ditarik” ke level nasional. Sama seperti kemampuan Gusdur dulu. Dia sebatas pemimpin ormas atau kyai nyentrik yang tidak tahu urusan administrasi negara.

Teringat ucapan Dr. Mahmudi Ismail, saat baru menjabat walikota Depok. Kata dia, ternyata memimpin kota itu lebih rumit dan komplek daripada memimpin Departemen (Kehutanan). Ini membuktikn, jabatan politik itu berat.

Media-media telah melahirkan sosok IDOLA HEBAT, tapi yang bersangkutan tak mampu menjadi sosok seperti itu. Inilah yang akan menyebabkan terjadi “kiamat” pencitraan. Sudah begitu, andai terjadi apa-apa pada sang presiden; penggantinya sudah kakek-kakek, udzur. Naik sepeda dalam jarak sekilo saja sudah tak kuat. Masalah lagi kan?

Sulit membayangkan situasi nanti. Malah sangat mungkin, nanti sang presiden akan dicaci-maki para pendukungnya sendiri. Apalagi kabarnya, dia mau naikkan BBM 3000 rupiah.

Seperti kata pepatah: “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, lama-lama kan tercium juga busuknya.” Sepintar-pintar membuat pencitraan nanti akan terbukti juga benar atau tidaknya.

Selamat menyaksikan!

(Weare).


Maafkan Aku…

Oktober 13, 2014
Maafin Kami Ya...

Maafin Kami Ya…

Sahabat Pembaca Budiman…

Sebelumnya, maafin kami ya, maafin yang sebesar-besarnya. Agak telat update dan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Semoga Allah Ta’ala memberi jawaban/pemahaman dari sumber-sumber lain ya. Amin.

Maaf, maaf, sorry banget. Dalam dua pekan terakhir agak telat update, meskipun banyak isu-isu penting dan menarik tuk disimak. Tapi yakinlah, dari hati ke hati kita saling peduli. (Halah bisa aja ngeles).

Untuk kawan-kawan yang komen dan bertanya, maafin, maafin, telat banget responnya. Ya beginilah guwe… (halah sok kebetawi-betawian, Betawi sudah mau diporotin tahu sama Bobohok). Moga-moga ke depan tidak terlalu telat.

Ini sengaja pakai bahasa agak okem dikit, buat seger-segeran. Biar tidak kaku semisal bahasa begini: “Demikianlah, maka dari itu oleh karenanya sehingga semestinya terjadilah suatu kejadian….”

Sekali lagi, maaf ya. Salam rahmat dan kasih sayang, di jalan Islam. Barakallah fikum wa iyyana fil hayah, amin.

Add-mine.