BBM: Antara OGA dan ABLEH

November 21, 2014

Sedikit rehat dari beban penat dan beratnya kenaikan harga BBM. Kalau menghibur, alhamdulillah. Kalau tidak, semoga banyak jalan yang Allah sediakan untuk menghiburmu. Amin amin amin.

Inilah dialog imajiner antara OGA dan ABLEH:

OGA: “Bleh, gimana pendapat Lo soal kenaikan BBM? Apa perlu kite ikut demo protes ke pemerintah?”

ABLEH: “Bagus tuh Pa Oga. Ane setuju ama peningkatan UKM. Biar rakyat tambah sejahtera.”

OGA: “BBM Bleh, bukan UKM!”

Tiba-tiba Jadi Kritis...

Tiba-tiba Jadi Kritis…

ABLEH: “Oh ya STM. Ane setuju bget Pa Oga. Biar anak-anak kita pinter bikin mobil.”

OGA: “BBM, bukan STM. Dasar Lo…”

ABLEH: “Oh ya, ane ngerti skarang. PDAM kan?”

OGA: “Ampuuun, BBM, BBM, Be…Be…Em!”

ABLEH: “Nah, itu die maksud ane. TTM. Teman Tapi Mesra kan?”

OGA: “Astaghfirullah, parah banget Lo Bleh. Kenapa jadi gini Lo? Kesambet di mana?”

ABLEH: (sambil senyum-senyum) “Maafin ane Pak Oga. Sejak kenaikan BBM, ane jadi sering error. Pikiran gak fokus. Maklum, harga-harga jadi pada naik.”

OGA: “Nah, itu die, Bleh. Itu yg gue maksud! Ya itu tadi!”

ABLEH: “Itu apaan Pa Oga?”

OGA: “Ya itu tadi. Lo udah bener ngomongnye. Haduh apa itu tadi ye? Gue jadi ikutan lupa.”

ABLEH: “Omongan yang mane Pa Oga?”

OGA: “Tadi itu…tadi…yang ada M-M nya gitu.”

ABLEH: “Ape ye? UKM? STM? PDAM? Atau TTM?”

OGA: “Haduh! Ampun deh. Error lagi. Terserah Lo deh mau ngomong ape juga. Yang penting…besok gue ikut demo. Lo mau ikut atau gak, terserah!”

ABLEH: “Demo apaan Pa Oga?”

OGA: “Demo masak ama ibu-ibu Posyandu. Temanye, bikin bubur kacang khas Madura. Asyik Bleh, ntar kite dapat makan gratis.”

ABLEH: “Ooo…enak juga tuh. Dari mana dananye Pa Oga?”

OGA: “Katanye dari subsidi kenaikan BBM, Bleh. Dipakai pelatihan buat ibu-ibu.”

ABLEH: “Oooh… Dasar rezim penipu. Harga minyak dunia turun, malah naikin BBM. Harga di NYMX turun, kenapa di sini jadi naik?”

OGA: “Haaahhh? Lo ngomong apa, Bleh? Gue gak ngarti…”

ABLEH: “Bisanye… ngeboongin orang aje. Emang rakyat udah lemah, jangan ditipu dong! Dasar pengkhianat!”

OGA: “Bleh, Lo kagak apa-apa? Kagak ada masalah? Gue jadi takut, Bleh. Lo tiba-tiba jadi kayak Efendi Simbolon.”

ABLEH: “Puuih…rezim pembohong!”

— Sekedar refleksi, betapa beratnya gelombang “tsunami sosial” di balik setiap kebijakan kenaikan BBM. BBM spt darah yg mengalir di nadi kehidupan Ummat. Bijaksanalah wahai pemimpin! —

Sumber: Akun pribadi facebook.

Iklan

Catatan Berserak dari Aksi GMJ 10 November 2014

November 12, 2014

Bismillah. Berikut adalah catatan berserak, pandangan mata jurnalis dari lapangan; yang kebetulan informasi-informasi ini banyak tidak tercover oleh media. Anda siap membaca informasi-informasi berikut? Mari ikuti…

*) Aksi massa GMJ (Gerakan Masyarakat Jakarta) 10 November 2014 merupakan tekanan politik yang sangat kuat dan hebat. Bukan saja ke personal Ahok, tapi kepada kekuatan-kekuatan di baliknya. Karena kita tahu, tak mungkin Ahok berani celamitan, kecuali memang disuruh begitu.

*) Aksi ini oleh MetroTV disebut diikuti oleh 500 orang. Ha ha ha…para jurnalis kalau matanya rabun, hasil laporan pun jadi jauh dari kenyataan. Tidak ada jurnalis terbodoh yang mengatakan, peserta hanya 500 orang, kecuali MetroTV. Maklumlah…

"Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi"

“Menyentuh Sisi Sensitif Kepekaan Rasa Muslim Betawi”

*) Sehari sebelum aksi massa 10 November, beredar broadcast dari aparat polisi tentang perkiraan massa peserta demo. Katanya, hanya sekitar 1000 orang; telah diberangkatkan 5 bus FPI asal Surakarta; paling akan terjadi sambit-sambitan batu seperti massa tawuran. Prediksi tersebut salah besar dan sesat. Demo diikuti setidaknya 10.000 massa. Mereka melakukan tekanan politik sangat kuat dan nyaris mendominasi lapangan.

*) Dikatakan, demo itu didukung oleh massa FPI. Sebagai motor gerakan, iya benar. FPI memang dominan. Tapi tanpa dukungan elemen-elemen massa lain, gerak aksi ini tidak akan sekuat itu. Banyak elemen Islam/Muslim terlibat dalam demo ini, meskipun tetap bintangnya adalah FPI.

*) Fenomena yang hebat: pesan besar dalam demo ini adalah SERUAN REVOLUSI ANTI AHOK. Atau katakanlah, masyarakat Muslim Jakarta tidak menghendaki Ahok jadi Gubernur DKI. Dalam aksi ini para demonstran hanya memberi pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur DKI. Alasannya, masyarakat Muslim Jakarta “sudah gak demen sama elo”.

*) Jargon yang populer dalam demo ini adalah: “Gue gak mau tahu, yang penting Ahok turun.” Ini adalah yel-yel dengan nuansa revolusi. Seperti yel-yel perjuangan masa lalu: “Merdeka atau mati!”

*) Tokoh-tokoh pendukung demo ini membaca dengan jelas arah dari kebijakan dan statement-statement Ahok selama ini, yaitu kehendak ingin menghapuskan Islam dari Jakarta. Faktanya: Ahok melarang takbir keliling, tapi memfasilitasi acara-acara hedonisme tahun baru; mempersulit izin pengajian dan majelis dzikir; membuldozer masjid-masjid tanpa memberi ganti; melarang penjualan hewan qurban di pinggir jalan; melarang penyembelihan hewan qurban di sekolah-sekolah dan instansi; mengganti pakaian religius pelajar Jakarta pada hari Jumat dengan pakaian adat; hendak menghapuskan kolom agama dalam KTP; hendak melegalisasi komplek pelacuran; berulang-ulang menghina Islam dan kaum Muslimin; dan sebagainya. Arah sekularisasi dari kebijakan dan statement Ahok sangat jelas.

*) Dr. Sri Bintang Pamungkas, dia menyatakan bukan bagian massa FPI, tapi dia mencintai Islam. Dia sangat marah karena Ahok pernah mengatakan agar aparat keamanan memenuhi senjata mereka dengan peluru tajam dan mengisi water canon dengan bensin; tentu tujuannya untuk membunuhi para demonstran Muslim. Itu kata Dr. Sri Bintang dalam orasinya.

*) Salah besar orang yang mengatakan bahwa demo ini hanya dilakukan oleh FPI. Salah besar. Bahkan di sana tampil sekumpulan pelajar memakai baju batik warna biru dan celana putih, mereka dari komunitas PERSATUAN ISLAM (Persis) Jakarta. Bahkan seorang ibu Muslimah, dua kali memberikan orasi, menggugah semangat Jihad para pemuda Islam; beliau dari komunitas Muhammadiyah. Demo ini diikuti oleh ibu-ibu juga, sekitar 100 orang; karena mayoritas adalah kaum laki-laki dan pemuda.

*) Alhamdulillah, demo berjalan lancar, tidak ada aksi anarkhis. Tampaknya panitia telah menyiapkan segala perangkat untuk menghindari anarkhisme. Berulang-ulang mereka mengingatkan bahaya provokasi. Mereka juga mengamankan seorang provokator yang terus menerus berteriak: “Bunuh Ahok! Ahok halal darahnya!” Posturnya tinggi besar, berkendaraan motor, dan memakai seragam/atribut FPI.

*) Jumlah massa yang hadir sangat banyak. Ada masa jalan kaki, masa kendaraan motor, massa kendaraan mobil. Ketika kita di satu titik di Jalan Thamrin, lalu melihat jauh ke arah peserta demo; seolah di ujung pandangan mata massa demo terus mengalir. Ia laksana aliran air bah yang menggenangi Jl. Thamrin, lalu masuk Jl. Kebon Sirih, sampai ke Balai Kota Jakarta. Mungkin serupa seperti aksi massa yang biasa dilakukan PKS, tapi ini dominan kaum laki-laki dan santri Betawi.

*) Media Islam yang lumayan obyektif dan proporsional meng-cover berita seputar demo ini adalah situs Suara-islam.com. Yang lain seperti kurang semangat, padahal tujuan aksi ini adalah untuk: menghadang sekularisme di Jakarta dan Indonesia secara umum. Sayang sekali.

*) Mungkin kita punya banyak perbedaan dengan FPI atau Habib Rizieq Shihab; tapi bukankah tujuan mereka adalah membela Islam di Jakarta dan tentu saja di Indonesia? Apakah tidak bisa kita tepiskan dulu perbedaan-perbedaan, lalu kita bersatu hadapi common enemy? Bagaimana Anda akan bisa mendukung perjuangan Ummat di negeri-negeri lain, kalau dalam hal seperti ini saja selalu ragu dan mengutamakan egoisme? Musuh sudah semakin jelas akhi/ukhti; maka bersatulah demi kemenangan bersama!

*) Satu hal yang menarik dari demo ini, yaitu kemampuan panitia untuk menggabungkan semangat revolusi dengan seni shalawatan. Dari kendaraan sound para orator terus membangkitkan semangat massa, tapi mereka juga bershalawatan dengan irama mendayu. Akibatnya, demo ini menarik simpati banyak orang di jalanan, di kantor-kantor, di kendaraan umum, bahkan anak-anak sekolah juga berebut melihat aliran massa. Termasuk pegawai gedung-gedung tinggi di kawasan Thamrin tidak henti-hentinya meliput massa dengan kamera ponsel mereka. Kami sendiri melihat ada seorang wanita Tionghoa meliput demo dengan Ipad dari serambi rumah/kantornya yang tinggi. Wong memang ini aksi damai.

*) Di depan Balai Kota diperagakan aksi pencak silat Betawi oleh beberapa orang. Judulnya kira-kira begini: “Kalau Ahok membawa jurus dewa mabuk. Kita akan hadapi dengan jurus kemplang babi.” Di antara orator juga ada yang berkata begini: “Wahai Ahok Lu pernah mengancam kite dengan pistol. Keluarkan pistol Lu Ahok. Kami siap mati di sini.”

*) Kebijakan yang sangat baik dari Polda Metrojaya, yaitu bersikap simpatik sepanjang pengamanan demo. Polisi bersikap simpatik, memudahkan, dan tidak memprovokasi. Sempat di Balai Kota polisi mengeluarkan 4 anjing pelacak; hal ini membuat sedikit kegaduhan; tapi anjing-anjing itu segera ditarik. Kalau polisi bersikap beringas, dapat diperkirakan akan terjadi kerusuhan hebat, karena mayoritas peserta demo sudah siap bertarung; meskipun mereka tidak membawa senjata tajam.

*) GMJ dan FPI sudah menjelaskan sikap politik mereka. Hanya satu pilihan: Ahok turun dan tidak dilantik menjadi Gubernur Jakarta. Jika tetap dipaksakan, gerakan santri dan aktivis Islam Jakarta menolak keras dan berjanji akan melakukan perlawanan. Jadi, naiknya Ahok menjadi Gubernur Jakarta adalah: POTENSI KONFLIK BESAR di Jakarta. Kita tahu, aset-aset besar ekonomi dan pemerintahan ada di Jakarta. Maka hendaknya pemerintah berhati-hati, karena yang mereka hadapi adalah grassroot kaum santri Betawi.

*) Kami hanya ingin mengingatkan kejadian kerusuhan di komplek makam Mbah Priok beberapa tahun lalu. Cukuplah hal itu menjadi peringatan bagi Pemda Jakarta dan Pemerintah RI. Jangan sampai hal seperti ini terjadi dan terulang di pusat-pusat kota Jakarta. Ingat, komunitas yang dihadapi di Priok saat itu identik dengan yang beraksi saat ini di jalanan Jakarta. Bahkan dukungan Habib-habib dalam hal ini lebih luas lagi.

*) Aparat sekuler sering menyamakan antara Jakarta dan Kairo. Kalau Al Ikhwan di Kairo bisa dibabat habis, maka aktivis Islam di Jakarta juga bisa dibabat habis. Itu teori mereka. Tapi tunggu dulu, Al Ikhwan rata-rata didukung kaum intelektual dan kelas menengah. Sedangkan komunitas GMJ, FPI, FBB, Habib-habib, ormas-ormas Islam, rata-rata didukung oleh massa grassroot yang mengakar di masyarakat. Cara mereka berpikir tentang tingkat risiko sangat berbeda.

*) Terakhir, sebagai penutup. Dalam aksi massa di depan Gedung DPRD Jakarta kemarin, seorang habib bercerita. Saat tanggal 10 November itu, beliau teringat pahlawan nasional (yang lambat sekali mendapat pengakuan sebagai pahlawan) yaitu Bung Tomo di Surabaya. Kata beliau, Bung Tomo yang mempopulerkan pekik Takbir dalam perang Jihad. Beliau habiskan masa tuanya di Makkah, sampai meninggal. Setelah meninggal, beliau dimakamkan di pekuburan Ma’la Makkah. Setahun kemudian pemerintah Indonesia mengutus seorang perwira (letnan kolonel) untuk mengurus kepulangan jenazah Bung Tomo ke Indonesia. Sang perwira itu adalah murid dari habib tersebut. Subhanallah, meskipun sudah wafat selama setahun, jenazah Bung Tomo rahimahullah masih utuh dan menebarkan aroma harum. Ini tanda-tanda karomah seorang pejuang. Hal ini perlu diketahui kaum Muslimin.

Baik, demikian saja yang bisa kami sampaikan, sebagai laporan pandangan mata dari lokasi aksi perjuangan rakyat Jakarta. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


10 Alasan Membela MASJIDIL AQSHA

November 8, 2014

===> artikel ini ditulis untuk memberi LANDASAN SYARIAT yang jelas tentang wajibnya kaum Muslimin melakukan segala daya upaya untuk membebaskan Masjid Suci dari tangan para agresor <===

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Setelah kekalahan serius yang diderita dalam perang melawan Hamas, Zionis Israel membuat kegaduhan lagi dengan menyerbu komplek Masjid Al Aqsha di Yerusalem, Palestina. Mereka menutup masjid, merusak fasilitas, melecehkan Al Qur’an, menginjak-injak karfet dan mihrab masjid, dan sebagainya. Mungkin cara ini dimaksudkan sebagai “balas dendam” atau memuaskan kekesalan hati. Mereka kalah dalam pertempuran, lalu memanfaatkan otoritas untuk menzhalimi Masjidil Aqsha.

Tapi yang sangat memprihatinkan ialah sikap pemerintahan “ulil amri” di negeri-negeri Muslim. Mereka rata-rata “masuk angin” ketika berbicara kezhaliman Zionis Yahudi. Mungkin saja mereka memainkan bahasa diplomasi atau pura-pura tidak tahu. Bangganya mereka menyebut diri sebagai “ulil amri”, tapi tidak bertanggung-jawab tatkala simbol-simbol Islam dinodai. Bahkan rezim yang berlabel “Islamic State” pun tidak jelas pembelaannya terhadap Masjidil Aqsha Al Mubarak. Mereka dengan lantang mewajibkan baiat dan ketaatan Umat secara penuh; bahkan membatalkan jamaah, organisasi, dan batas wilayah; tapi tanggung-jawab membela urusan Umat tidak jelas.

Bela Masjid Allah dengan Segala Kekuatan

Di antara kita sendiri masih ada yang bertanya-tanya: Apa dalilnya kita mesti membela Masjidil Aqsha (atau Muslimin Palestina secara umum)? Perlukah kita membela masjid itu? Apakah itu termasuk urusan Syariat atau bid’ah yang diada-adakan? Buat apa membela masjid yang berada di Yerusalem tersebut?

Sebagian orang meributkan, apakah Masjidil Aqsha termasuk tempat suci kaum Muslimin atau bukan? Perdebatan pun berlangsung. Tapi ingatlah, banyak perkara menjadi urusan Syariat ketika di sana terdapat HAK-HAK MUSLIMIN yang dilanggar. Dalam riwayat Rasulullah SAW bersabda: “Man qutila duna maalihi fahuwa syahid” (siapa terbunuh karena membela agamanya, dia mati syahid). HR. Al Bukhari dan Muslim. Cukup kiranya harta seorang Muslim menjadi jalan mencapai Syahadah, padahal harta itu tidak disucikan seperti layaknya Kota Makkah dan Madinah. Apakah harus menunggu label “Kota Suci” untuk membela hak-hak Umat ini?

Berikut ini kami sampaikan 10 alasan Syariat untuk membela Masjidil Aqsha serta merebutnya dari tangan para agresor zhalim:

[1]. Masjidil Aqsha adalah satu di antara dua nama masjid yang disebutkan dalam Al Qur’an. Tidak ada nama masjid ketiga yang disebutkan secara jelas namanya dalam Kitabullah. “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi di sekitarnya.” (Surat Al Isra’: 1). Jika nama masjid ini disebutkan secara jelas berdampingan dengan nama Masjidil Haram, berarti ia memiliki kedudukan mulia di sisi Allah Rabbul ‘alamiin.

[2]. Masjidil Aqsha merupakan bagian dari tanda-tanda Keagungan Allah SWT. Dalilnya ya Surat Al Isra’ ayat 1 tersebut: ““Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang diberkahi di sekitarnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya (Nabi Muhammad) sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ” (Surat Al Isra’: 1). Masjidil Aqsha selain merupakan tanda Kekuasaan Allah, ia juga merupakan tempat yang diberkahi sebagaimana disebut dalam ayat di atas.

[3]. Dalam Surat Al Isra’ ayat 1 itu terdapat kalimat yang berbunyi “li nuriyahu min ayaatina” (agar Kami perlihatkan kepadanya –Nabi Muhammad SAW- sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Kami). Kalimat ini merupakan ISYARAT bahwa Allah SWT akan memberikan Masjidil Aqsha dan wilayah di sekitarnya kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin sebagai umat beliau. Mengapa ayat ini dikatakan sebagai isyarat? Karena tersambung dengan kalimat sebelumnya “alladzi barakna haulahu” (yang Kami berkahi di sekitarnya). Apa artinya suatu tempat yang diberkahi, kalau ia tidak pernah dimiliki oleh kaum Muslimin? Jika Masjidil Aqsha dan sekitarnya dikuasai kaum Yahudi atau Nasrani, atau terlepas dari tangan kaum Muslimin, maka keberkahan itu menjadi tidak bermakna. Maka tidaklah berlebihan jika Khalifah Umar RA berjihad membebaskan Masjidil Aqsha dari tangan kaum Romawi. Hal itu dimaknai sebagai melaksanakan janji Allah kepada Nabi-Nya SAW.

[4]. Masjidil Aqsha adalah Kiblat pertama kaum Muslimin. Dulunya kaum Muslimin shalat menghadap ke arah Masjidil Aqsha, lalu kemudian Allah ubah arah Kiblat ke Masjidil Haram. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al Baqarah ayat 142-145. Hingga di Madinah terdapat sebuah masjid, di mana pernah kaum Muslimin shalat berjamaah di dalamnya dipimpin oleh Rasulullah SAW; pada dua rakaat pertama mereka menghadap ke Masjidil Aqsha, sedang dua rakaat kedua menghadap ke Masjidil Haram. Masjid itu lalu dikenal sebagai Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat). Jika suatu masjid pernah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai Kiblat shalat kaum Muslimin, berarti ia memiliki kedudukan besar dalam Islam. Dan kaum Muslimin sepanjang sejarahnya tidak pernah memiliki Kiblat, kecuali ke dua tempat itu saja; Masjidil Aqsha dan Masjidil Haram. Mungkin orang akan bertanya: “Apa pentingnya membela tempat yang pernah menjadi Kiblat itu? Toh, sekarang ia tak lagi menjadi Kiblat Umat Islam?” Kami jawab: “Sebegitu kecilnya penghormatanmu kepada suatu tempat yang pernah menjadi Kiblat Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ketika mereka melaksanakan shalat. Apakah sudah tidak tersisa lagi dalam hatimu rasa kecintaan kepada suatu tempat yang pernah dicintai Rasulullah SAW dan para Sahabat-nya, karena ia merupakan Kiblat pertama mereka dalam shalat?”

[5]. Masjidil Aqsha adalah salah satu situs bersejarah yang diutamakan oleh Syariat Islam, karena ia merupakan tempat istimewa bagi Rasulullah SAW saat melaksanakan Isra’ Mi’raj. Tanpa keberadaan Masjidil Aqsha, tidak akan pernah terjadi Isra’ Mi’raj sebagaimana yang kita kenal. Posisi Masjidil Aqsha di sini sebagai TUJUAN ISRA’ dan sebagai TITIK-TOLAK MI’RAJ. Isra’ terjadi dari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha; sedangkan Mi’raj terjadi dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Kalau tempat berpijaknya Ibrahim AS saat membangun Ka’bah ditetapkan sebagai Maqam Ibrahim, di mana kaum Muslimin disunnahkan shalat di sana; bagaimana dengan Masjidil Aqsha yang terkait peristiwa Isra’ Mi’raj? Bukankah peristiwa itu merupakan hiburan bagi Rasulullah SAW atas kesedihan hatinya; juga dari sana kaum Muslimin mendapat kewajiban Shalat Lima Waktu; bahkan dari sana Rasulullah semakin mendapatkan ketetapan hati dalam memperjuangkan Islam (setelah berdialog langsung dengan Allah SWT di Sidratul Muntaha).

[6]. Dalam riwayat disebutkan secara jelas keutamaan Masjidil Aqsha. Rasulullah SAW bersabda: “Laa tusyaddu ar rijaal illa ila tsalatsati masajid: Masjidiy hadza, wa Masjidil Haram, wa Masjidil Aqsha” (hendaklah kalian tidak memaksakan diri pergi ziarah ke masjid, kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha). HR. Al Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA. Hal ini merupakan ibadah yang jelas dalam Syariat; serta mencerminkan keutamaan Masjidil Aqsha di sisi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Maka siapapun yang memuliakan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, pasti akan memuliakan Masjidil Aqsha; begitu pula siapa yang mencintai Masjidil Aqsha, pasti mencintai pula Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Mungkin sebagian orang akan berkata: “Dalam urusan ibadah tidak bisa pakai logika. Harus jelas dalilnya!” Kami jawab: “Bukankah riwayat itu sangat tegas dan jelas. Apalagi yang masih tersembunyi? Di sana Rasulullah SAW menjajarkan Masjidil Aqsha dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi; bahkan beliau meletakkan ketiga Masjid Suci lebih utama dan lebih layak didahulukan dari masjid manapun di muka bumi.” Bahkan dalam riwayat juga disebutkan keutamaan shalat di Masjidil Aqsha.

[7]. Harus dipahami bahwa Masjidil Aqsha (atau Baitul Maqdis) adalah silsilah ajaran Tauhid dari era Nabi-nabi sebelum Rasulullah SAW. Khususnya Nabi-nabi terkait Bani Israil seperti Nabi Isa, Yahya, Zakariya, Maryam, Keluarga Imran, Dawud, Sulaiman, Harun, Musa; dan Nabi-nabi Tauhid lain dari kalangan Bani Israil. Rasulullah SAW pernah mengklaim Hari Asyura saat kaum Yahudi memperingati kejadian selamatnya Musa dan Bani Israil dari kezhaliman Fir’aun. Lalu Nabi SAW menegaskan, bahwa beliau lebih berhak mengklaim Nabi Musa daripada kaum Yahudi; karena Umat Islam mewarisi risalah Tauhid dari Nabi-nabi sebelumnya. Jika hari Asyura saja Nabi SAW telah mengklaimnya, lalu bagaimana dengan Masjidil Aqsha yang ditinggalkan Nabi-nabi Bani Israil itu? Maka kaum Muslimin HARUS MEMPERHEBAT pembelaan kepada Masjidil Aqsha, sebagai penegasan bahwa kita -Umat Islam- lebih berhak atas peninggalan Nabi-nabi Tauhid dari kalangan Bani Israil di masa lalu. Bahkan kaum Yahudi dan Nasrani sudah sangat tahu bahwa Rasulullah SAW adalah pelanjut risalah Nabi-nabi mereka (Al Baqarah: 146-147).

[8]. Pembebasan Masjidil Aqsha dari kaum non Muslim yang menguasainya merupakan perbuatan Salafus Shalih. Siapakah Salaf yang telah memulai urusan ini? Ia adalah Khalifah Umar RA dan para Sahabat yang berangkat membebaskan Masjidil Aqsha di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Al Jarrah RA. Bukan hanya Khalifah Umar yang memerintahkan urusan ini, tapi para Sahabat di masa itu sepakat berjihad untuk membebaskannya. Ini adalah amalan Salafus Shalih yang sangat jelas. Kalau masih ada yang ingkar dan terus mencari-cari alasan, berarti mereka bukan pengikut jejak Salafus Shalih. Atas pembebasan Khalifah Umar ini kemudian masyarakat Yerusalem dan Palestina berduyun-duyun masuk ke dalam Islam, padahal semula beragama Nasrani.

Di kemudian hari Yerusalem dan Masjidil Aqsha berhasil dikuasai kaum Nasrani Eropa setelah mereka mengobarkan Perang Salib. Lalu mereka mendirikan Kerajaan Nasrani di Yerusalem. Saat itu penguasa Dinasti Mamluk, Dinasti Zanki, dan Dinasti Ayyubiyah terus melancarkan perlawanan menghadang kaum Salibis; sampai Yerusalem dan Masjidil Aqsha berhasil dibebaskan di era Sultan Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah. Perbuatan Salafus Shalih ada, perbuatan raja-raja Muslim dan rakyatnya juga ada. Jika demikian, apalagi yang masih meragukan hati kita? Hendak kemana kita berlari mencari-cari alasan untuk membiarkan Masjidil Aqsha teraniaya?

[9]. Palestina, Yerusalem, dan Masjidil adalah tanah wakaf milik kaum Muslimin. Dari mana hal ini dipahami? Karena mayoritas penduduknya adalah Muslim; karena raja-raja Muslim dan rakyatnya telah berjuang mati-matian mengalahkan kaum Salibis dan membebaskan Masjidil Aqsha dari cengkeraman tangan mereka; juga karena wilayah itu sebelum dikuasai oleh Zionis Yahudi, ia berada di bawah otoritas Khilafah Turki Ustmani. Buktinya apa? Sebelum Zionis Yahudi menguasainya, pemimpin mereka, Theodore Hertzel dan tokoh-tokoh pionir Zionisme berusaha membeli tanah itu kepada Sultan Abdul Hamid II dari Turki Utsmani. Namun Sultan Abdul Hamid menolak tegas, dengan alasan bahwa wilayah Palestina adalah TANAH WAKAF KAUM MUSLIMIN. Maka kita hari ini tidak boleh memberikan tanah wakaf ini ke tangan Zionis, sebab hal itu sama dengan melecehkan perjuangan kaum Muslimin yang telah merebut wilayah Palestina (termasuk Masjidil Aqsha) dalam Perang Salib selama ratusan tahun, dengan pengorbanan ratusan ribu jiwa Umat Islam.

[10]. Dalam riwayat-riwayat disebutkan, bahwa di akhir zaman kaum Muslimin akan menjadikan komplek Masjidil Aqsha sebagai pertahanan dalam menghadapi dajjal dan bala tentaranya. Imam Mahdi, Umat Islam, dan Nabi Isa As akan berlindung dan berperang dari titik-tolak Masjidil Aqsha. Jika demikian, sebelum hal itu terjadi, kita harus merebut kembali wilayah Al Aqsha dan membebaskannya dari semua kaum agresor penumpah darah. Kita harus memberikan rasa aman kepada Masjidil Aqsha dan masyarakat sekitarnya, seperti Panglima Abu Ubaidah bin Al Jarrah RA telah memberikannya, atas izin dan rahmat Allah.

Sebagai TAMBAHAN. Ide membebaskan Masjidil Aqsha bukanlah agenda Ikhwanul Muslimin, Hamas, atau Izzuddin Al Qasam. Ia agenda kaum Muslimin secara umum, sejak zaman Salaf sampai Khalaf. Rasulullah SAW tatkala menyandingkan nama Masjidil Aqsha, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi, beliau tidak tercatat sebagai anggota Ikhwanul Muslimin. Begitu juga Khalifah Umar, Abu Ubaidah, dan para Shahabat RA tatkala membebaskan Masjidil Aqsha, mereka tidak tercatat sebagai anggota Hamas. Termasuk Sultan Shalahuddin Al Ayyubi dan raja-raja Muslim lainnya, serta rakyat mereka, tatkala berjuang menghadang kaum Salibis, mereka bukan anggota Brigade Izzuddin Al Qasam. Ini bukan proyek Ikhwanul Muslimin, tapi amanat kaum Muslimin sedunia. Hal itu pernah ditegaskan oleh Bapak Muhammad Natsir rahimahullah di hadapan tokoh-tokoh Islam dan ulama sedunia, dalam konferensi yang diadakan Rabithah Alam Islami. Atas pernyataan itu beliau disegani di Dunia Islam, dan secara khusus dimuliakan oleh Raja Faishal rahimahullah dari Saudi.

Dengan demikian, maka membela Masjidil Aqsha merupakan KEWAJIBAN kaum Muslimin di seluruh dunia, sesuai kemampuan dan kesempatan yang ada. Kewajiban ini sangat jelas dan kokoh; berdasarlkan dalil Al Qur’an, Sunnah Rasul, perbuatan Salafus Shalih, perbuatan raja-raja Muslim dan rakyatnya, perbuatan Khalifah Umat di zaman kontemporer (Sultan Abdul Hamid II), dan selaras dengan tuntunan Syariat untuk menjaga hak-hak kaum Muslimin. Bahkan ia merupakan perbuatan yang akan dilakukan oleh Imam Mahdi, Nabi Isa, dan kaum Muslimin di masa nanti.

Jika masih saja ada yang beralasan, mencari-cari syubhat untuk meremehkan Masjidil Aqsha, melemahkan semangat Umat dalam membela hak-haknya; serta selalu mencari alasan untuk memperkuat posisi dan kedudukan kaum Zionis Yahudi; maka cukuplah kami membaca doa sebagai berikut: Na’udzbillah minas syaithanir rajiim.

Demikian risalah sederhana ini, semoga Allah Ta’ala memberikan manfaat dan barakah. Amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

 

Bumi Allah, 8 November 2014.

Abinya Syakir.


Apakah Rasulullah SAW Sosok Pemimpin Gagal?

November 5, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

*) Baru-baru ini seorang pemimpin kaum paganis, yang biasa menjadikan Ali RA dan keturunannya sebagai sesembahan, menulis disertasi yang isinya mengkritik Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang gagal. Dia nyatakan pendapatnya itu dalam sebuah diskusi bertajuk: “Revolusi Mental: Dari Ali Hingga Jokowi”.

*) Tapi sebenarnya, apa disertasi ini sudah selesai? Sudah bisa dilihat wujudnya sebagai sebuah disertasi? Nah, itu perlu ditanyakan juga. Karena sosok JR itu berkali-kali melakukan manipulasi ilmiah, tanpa sadar dan rasa malu sedikit pun. Seperti contoh, bertahun-tahun dia menyatakan diri sebagai “Profesor” padahal tidak ada institusi akademik resmi di negara kita yang member anugerah profesor kepadanya. Hal seperti ini kan cukup sebagai alasan bahwa yang bersangkutan sudah tidak layak berbicara dalam forum kejujuran dan ilmu.

Buktikan Kalau Anda Lebih Hebat dari Rasulullah?

Buktikan Kalau Anda Lebih Hebat dari Rasulullah?

*) Kami masih ingat, sekitar tahun 1991 ketika JR mengeluarkan buku provokatif, “Islam Aktual”. Waktu itu kami baru masuk sebuah fakultas di Universitas Brawijaya Malang. Senat mahasiswa di sana secara berani mengundang JR untuk berorasi dan diskusi ilmiah (dua sesi). Saat diskusi ilmiah dihadirkan tokoh ustadz dari Persis Bangil sebagai pembanding. Sang ustadz –dengan izin Allah- berhasil membongkar berbagai kekeliruan atau pemalsuan JR terkait riwayat-riwayat yang dia muat dalam bukunya. Ada kalanya dia menyembunyikan teks, ada kalanya memotong teks, ada kalanya menyebut riwayat palsu/lemah, dan sebagainya. Sampai puncaknya, JR mengaku: “Memang, saya bukan seorang ahli hadits.

*) Bahkan wahai JR, menurut kami, Anda itu bukan ahli ilmu agama apapun. Anda hanyalah “ahli komunikasi” dan orang yang kenyang dengan skandal ilmiah. Keahlian agama apa yang diandalkan dari Anda? Fiqih, Tauhid, Tafsir, Sastra, Sirah, Fikrah Islami, atau apa? Bahkan komunikasi yang Anda lakukan pun sebagian besar berisi propaganda, untuk memasarkan akidah Syiah; bukan komunikasi untuk menjalin kerjasama, saling menghormati, bantu-membantu, atau menyayangi sesama insan.

*) Apa pembaca masih ingat ketika JR mengatakan kata-kata seperti ini: “Apa perlu kami pindahkan perang di Irak ke Indonesia ini?” Atau kata-kata, bahwa dia sudah rindu ingin mengalirkan darah untuk mencapai syahid bersama Imam Husein. Coba tanyakan ke para guru besar komunikasi di seluruh Indonesia, apakah kata-kata seperti itu termasuk gaya komunikasi beradab?

*) Kembali ke soal kritik JR ke Rasulullah SAW. Katanya, dia mengutip pendapat Arnold Toynbee ketika berbicara tentang kepemimpinan Rasulullah SAW. Toynbee antara lain mengatakan: “Ajaib, Muhammad adalah seorang yang cerdas dan seorang manajer yang brilian. Ternyata, dia tidak berhasil mengorganisasi masyarakat sesudahnya, karena dia tidak meninggalkan siapa pemimpin masyarakat sesudahnya. Dia pergi begitu saja, tanpa meninggalkan siapa yang dia amanati untuk memimpin masyarakat.” (Sumber: Syiahindonesia.com).

*) Jujur, kami malas membahas pemikiran orang ini, part to part. Sudah terlalu banyak reputasi negatif menyertai orang ini. Andaikan kita pandang pendapat dia layak sebagai sebuah topik diskusi; dia tak pantas masuk area penghargaan itu. Pengelabuan-pengelabuan ilmiah yang dia lakukan sudah terlalu banyak. Buku-buku yang dia tulis tak lepas dari distorsi dan penyesatan yang diulang terus-menerus. Nas’alullah al ‘afiyah minal fitnah wa ahliha.

*) Kalau kita tanyakan: “Wahai JR, apa tujuanmu menulis kritik semacam itu? Apa dirimu merasa lebih hebat dari Rasulullah SAW?” JR dan kawan-kawannya sudah gerilya memasarkan akidah Syiah Imamiyah sejak tahun 80-an. Kalau dihitung tahun, sampai kini sudah 30-an tahun mereka berjuang. Hasilnya apa? Apakah akidah Syiah Imamiyah berhasil menguasai Nusantara? Bandingkan dengan Rasulullah SAW. Tuntas beliau memimpin 23 tahun, di Makkah dan Madinah. Sebelum wafat, beliau sudah berhasil membebaskan Madinah, Makkah, dan kota-kota di sekitarnya. Beliau berhasil memukul mundur pasukan Romawi, berhasil menggulung kaum Yahudi, berhasil membersihkan ancaman kaum musyrikin (paganis), serta meletakkan fondasi peradaban Islam yang kokoh. Tidak lama setelah Nabi SAW wafat, hanya sekitar 10 tahun kemudian, Islam telah menguasai Jazirah Arab, Persia, Mesir, Syam, Asia Tengah, dan wilayah sekitarnya. Bandingkan dengan kepemimpinan JR di komunitas Syiah Imamiyah!

*) Mungkin orang berkata: “Bukankah penaklukan-penaklukan Islam terjadi setelah Nabi Muhammad wafat? Bukan di zaman beliau sendiri.” Kami jawab: “Bagaimana Khalifah sesudah Nabi SAW bisa menaklukkan negeri-negeri, jika tidak memiliki fondasi kuat yang telah ditinggalkan beliau? Lagi pula, para Khalifah itu kan kader-kader beliau sendiri yang dididik dengan tangan, sentuhan hati, dan keteladanan beliau. Justru ciri keagungan Kenabian Rasulullah SAW, beliau sepenuhnya bertugas MENYEMPURNAKAN RISALAH, bukan menaklukkan wilayah-wilayah. Nabi SAW berbeda dengan Sulaiman atau Dzulqarnain yang semasa hidupnya banyak menaklukkan kaum-kaum. Bila akhirnya beliau menaklukkan Makkah, karena kota tersebut sudah dijanjikan Allah akan jatuh ke tangan kaum Muslimin dan kota itu amat sangat penting artinya bagi masa depan kaum Muslimin.”

*) Bagaimana dengan kritik JR, bahwa kepemimpinan Nabi SAW gagal? Ya intinya, kata-kata ini dan semisalnya, adalah kata-kata yang hendak MELAWAN FIRMAN ALLAH. Allah SWT sudah menegaskan: “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah, li man kaana yarjullaha wal yaumal akhira wa dzakarallaha katsira” (sungguh telah ada pada diri Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik, bagi siapa yang mengharap perjuampaan dengan Allah dan Hari Akhirat, sedangkan dia banyak berdzikir mengingati Allah; Al Ahzab: 21).

*) Bagi orang beriman, Rasulullah SAW adalah sosok teladan ideal, paripurna, tiada cacat dan kelemahan. Termasuk dalam kepemimpinan beliau. Kalau ada orang yang meragukan itu, bahkan mengkritik dan mencela kemampuannya. Berarti yang bersangkutan bukan termasuk kaum yang “yarjullaha wal yaumal akhira”. Orang semacam apa itu? Ya tafsirkan saja sendiri.

*) Selanjutnya, kita bicara tentang poin inti pemikiran JR atau Toynbee, sebagaimana disebutkan di atas. Mari kita uji, benarkah tuduhan mereka bahwa Nabi SAW gagal mengorganisir masyarakat? Nas’alullah al ilma wal irsyad war rahmah.

## Apakah gara-gara tidak menunjuk pemimpin pengganti, seorang pemimpin disebut gagal? Ini adalah logika yang aneh, bahkan menjurus koplak. Mengapa? Anda lihat sendiri bagaimana Presiden Amerika, Perdana Menteri Jepang, atau Kanselir Jerman; apakah ketika mereka lengser, mereka lalu menunjuk seseorang untuk menggantikan dirinya? Apakah ketika mereka tidak menunjuk pemimpin pengganti, lalu dianggap kepemimpinan mereka sudah gagal?

## Di Korea Utara, pemimpin republik komunis Kim Il Tsung sebelum lengser dari jabatan, dia telah mempersiapkan putranya sebagai pengganti, Kim Jong Il. Setelah Kim Il Tsung mangkat, dia diganti putranya. Aneh sekali, negara republik tapi tatacara seperti kerajaan. Apa cara semacam itu yang diingkan oleh JR, Toynbee, dan kawan-kawan?

## Mengangkat pemimpin pengganti sebenarnya boleh saja, sebagaimana kebiasaan di negara-negara kerajaan. Tapi atas legalitas apa hal itu dilakukan oleh Nabi SAW? Apakah beliau ingin mewariskan tahta kepada anak-keturunannya, sedangkan sistem politik yang beliau tinggalkan bukanlah kerajaan? Andaikan beliau secara tegas menunjuk seseorang sebagai penggantinya; berarti hal itu akan menjadi SYARIAT yang diikuti oleh pemimpin-pemimpin setelah beliau. Tunjuk-menunjuk ini bisa berakibat konflik, jika mental masyarakat yang ada di sana tidak siap menerima titah penunjukan. Bukankah sudah sering terjadi, ketika seorang raja menunjuk pemimpin pengganti, hal itu tidak diterima oleh para pejabat di sekitarnya, lalu menimbulkan konflik.

## Jalan terbaik untuk suksesi kepemimpinan adalah MUSYAWARAH di antara manusia-manusia pilihan yang ada di sebuah negara. Inilah yang kerap disebut sebagai konsep Majelis Syura; atau ada juga yang menyebut musyarawah di antara dewan Ahlul Halli wal Aqdi. Dan hal itu pula yang ingin ditinggalkan oleh Nabi SAW kepada Ummatnya, yaitu musyawarah dalam segala urusan; apalagi menyangkut masa depan kepemimpinan. Dan faktanya, beliau berhasil meninggalkan akhlak musyawarah ini sehingga kemudian terpilih pemimpin terbaik penggantinya, Khalifah Abu Bakar RA.

## Nabi SAW telah menempuh jalan terbaik untuk memilih penggantinya. Beliau tidak “main tunjuk hidung”, tapi dengan memberi isyarat. Isyarat itu kemudian menjadi bahan bagi para Shahabat RA untuk memilih pengganti yang paling tepat. Isyarat beliau berikan ketika menunjuk Abu Bakar RA sebagai imam shalat jamaah menggantikan posisi beliau. Hasil akhir kepemimpinan tetap diputuskan dengan musyawarah; tapi Nabi SAW sudah mengarahkan agar nanti kaum Muslimin sangat memperhatikan kandidat yang beliau rekomendasikan. Bukankah ini adalah kebijakan politik yang luar biasa? Tidak memaksa Ummat, tapi juga tidak melepaskan mereka 100 %? Apakah nalar berpikir JR atau Toynbee sudah sejauh itu? Kalau sehari-hari yang dipikir “siapa nih giliran yang akan gue mut’ah”; ya tak akan sampai kepada kesimpulan seperti itu.

## Kalau Anda (pembaca) seorang manajer, atau seorang pemimpin, atau seorang komandan, atau seorang ayah, dan sebagainya; lalu Anda menjalankan kepemimpinan sekian lama. Apa indikasi kepemimpinan Anda dianggap berhasil? Setujukah Anda jika aspek KEMANDIRIAN adalah identifikasi bagus untuk melihat kualitas kepemimpinan Anda? Maksudnya begini friends, kalau Anda telah memimpin, lalu melihat orang-orang yang Anda pimpin ternyata sudah mandiri, dewasa, bisa inisiatif sendiri; itu tandanya kepemimpinan Anda sudah sukses. Jadi Anda berhasil memberdayakan orang-orang yang Anda pimpin. Bukan semodel kata-kata ini: “Gue lapor ustadz dulu. Saya nunggu titah, Pak Kyai. Kami menantikan arahan Bapak XXX, pemimpin kami, guru kami, yang kami cintai.” Kemandirian bawahan/pengikut merupakan bukti keberhasilan sang pemimpin. Dan Nabi SAW sudah membuktikan hal itu. Beliau meninggalkan Ummat dalam keadaan dewasa, kritis, mandiri. Ini merupakan bukti keberhasilan kepemimpinan Nabi SAW, bukan kegagalan.

## Terus apa lagi ya, sebentar dipikir-pikir dulu… Setahu kami saat Khomeini wafat, dia juga tidak mengangkat pemimpin pengganti. Ali Khameini baru diputuskan kemudian menjadi pengganti Khomeini, setelah dia wafat. Termasuk presiden Iran saat lengser juga tidak menunjuk seseorang pengganti. Apa ada presiden Iran menunjuk presiden pengganti?

*) Sedkit kami singgung soal tuduhan JR bahwa Ummul Mukminin Aisyah RA sebagai sosok pencemburu, pembuat makar, penghina Nabi, dan seterusnya. Haduh, orang ini ya, kelakuan sangat berlebihan. Berulang-ulang JR ini bikin skandal ilmiah, sudah banyak dibantah dan dibongkar; masih saja terus memproduksi hal-hal semacam itu. Kok tidak malu ya? Anda itu punya kehormatan apa tidak sih, Pak JR? Sebagai manusia wajar, mbok ada rasa malu gitu lho. (Saking malunya diskusi tentang orang ini, kami sampai enggan menulis namanya. Malu boss menulis nama dia).

*) Sudahlah kami tak usah berpanjang-panjang komentar soal penghinaan atau tuduhan JR kepada Ummul Mukminin RA. Begini saja JR, ini sebuah test mudah buat kamu. Ummul Mukminin Aisyah RA itu hafal ratusan atau mungkin ribuan hadits Nabi SAW. Sekarang kamu wahai JR, coba ambil buku riwayat hadits versi Syiah Imamiyah yang paling favorit bagi kamu. Terus kamu ambil 20 teks riwayat dari buku itu. Jangan ambil riwayat dari Ahlus Sunnah, tapi dari rujukan Syiah saja. Setelah itu kamu hafalkan 20 riwayat hadits Syiah itu baik-baik. Selanjutnya kamu di-test kemampuan hafalanmu. Apakah kamu bisa menghafal 20 riwayat itu persis seperti tertera dalam buku kamu? Itu sajalah. Kalau kamu mampu lakukan itu, hafalanmu baru 20 riwayat. Sedangkan Ummul Mukminin RA ratusan, hingga ribuan riwayat. Tapi kalau kamu gagal hafal, sampai ada salah sedikit saja, tidak sesuai teks; berarti kamu ini termasuk tipe orang BIG MOUTH; kemampuan cethek tapi hendak mengkritik manusia-manusia agung. Oh ya, metode TEST HAFALAN ini bisa dipakai untuk membantah para penganut Syiah Imamiyah yang sok mengkritik para Shahabat Nabi dan isteri-isteri beliau RA. Kalau mereka mencela ini dan itu, coba tantang untuk test hafalan riwayat. Test hafalan ayat Al Qur’an juga boleh. Kalau mereka merasa lebih pintar dari Shahabat coba tanya, seberapa banyak mereka hafal hadits atau ayat Al Qur’an!

*) Mungkin kaum Syiah Imamiyah itu ingin membantah balik: “Kalau begitu Anda kaum Sunni juga harus ditest tentang riwayat-riwayat Sunni!” Jawab kita sederhana: “Kan kami tidak menghina para Shahabat RA. Kami tidak merasa lebih baik dari mereka, apalagi sampai mengkritik mereka. Tidak, kami bukan seperti itu. Test tersebut kan berlaku bagi orang-orang sok suci yang hendak mengkritik manusia-manusia besar. Buktikan kalau para pengeritik itu lebih pandai dari yang dia kritik!”

*) Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala azwajihi wa dzurriyatihi, wa ashabihil kiram ajma’in; wa ‘alaihim barakah wa salamah wa ‘afiyah. Matur nuwun.

(Mine).


Hebatnya Pohon Baobab…

November 5, 2014

*) Pernah dengar nama pohon Baobab? Mungkin pernah ya, tapi jarang yang dengar. Ini pohon hebat. Di Indonesia ada sebagian versi pohon Baobab, tapi yang di Madagaskar sangat hebat kontruksi dan bentuknya.

*) National Geographic pernah mengangkat tema pohon ini. Bagus sekali. Bagus isi, bagus juga covernya. Sampai diperlihatkan penampang pohon ketika ditebang secara melintang. Luar biasa.

*) Kadang heran ya, meskipun majalah NG itu berakidah evolusi, tapi secara penampilan, pendalaman informasi, serta kualitas grafis dan cetak, kok bagus ya. Kami sering geleng-geleng kalau baca majalah itu. Bukan karena ideologinya, tapi karena kualitas teknisnya bagus. (Ternyata, “untuk masuk neraka saja, orang perlu kerja profesional”).

*) Inilah pohon BAOBAB. Pohon dengan karakter unik. Batang besar, tinggi, tapi dedaunan terkumpul di atas membentuk semacam formasi payung. Pohon ini laksana legenda Afrika. Banyak terdapat di Madagaskar. Ia bisa berusia sampai ratusan tahun.

*) Akar-akarnya sangat menyerap air. Menjadi semacam “telaga” di tengah kegersangan Afrika. Volume akarnya bisa lebih besar dari batangnya. Menandakan suatu ketegaran, tetap memberikan air bagi sekeliling.

*) Hanya satu kata: SUBHANALLAH WA BIHAMDIHI SUBHANALLAH AL ‘AZHIM.

*) Berikut sebagian gambar pohon Baobab:

Kekar. Tegak. Menjulang di muka bumi.

Kekar. Tegak. Menjulang di muka bumi.

Bandingkan dengan postur orang Afrika-nya. Sangat jauh beda.

Bandingkan dengan postur orang Afrika-nya. Sangat jauh beda.

Lihat lagi. Betapa raksasanya ia.

Lihat lagi. Betapa raksasanya ia.

Di atas rawa-rawa, Bro. Ada ya...

Di atas rawa-rawa, Bro. Ada ya…

Masih di daerah rawa-rawa, berair...

Masih di daerah rawa-rawa, berair…

Lihat menara kayu sebelah kiri itu. Hebat bukan?

Lihat menara kayu sebelah kiri itu. Hebat bukan?

*) Beginilah, intinya Anda suka gak dengan profil pohon ini? Kalau suka, berarti sama dengan saya. Kalau gak suka, kenapa man? Apa alasannya? Kenapa sih gak sama selera “sama gue”? He he he…alay banget ya.

*) Jadi manusia sangat bagus ya kalau bisa seperti pohon Baobab ini. Filosofinya: tegar, tegak, menjaga persediaan air, tetap tegar dan berdaun mesti di tengah gurun pasir Afrika.

*) Ssssstttt…ada yang lebih hebat lagi. Katanya, buah dari pohon ini kerap disebut “The King Fruits”. Raja buah. Katanya, selain enak, kandungan gizinya man, wuaaaaduh buaaaanyaaakkkk BGT. (Halah kena penyakit alay lagi…).

== Someone ==