BBM: Antara OGA dan ABLEH

Sedikit rehat dari beban penat dan beratnya kenaikan harga BBM. Kalau menghibur, alhamdulillah. Kalau tidak, semoga banyak jalan yang Allah sediakan untuk menghiburmu. Amin amin amin.

Inilah dialog imajiner antara OGA dan ABLEH:

OGA: “Bleh, gimana pendapat Lo soal kenaikan BBM? Apa perlu kite ikut demo protes ke pemerintah?”

ABLEH: “Bagus tuh Pa Oga. Ane setuju ama peningkatan UKM. Biar rakyat tambah sejahtera.”

OGA: “BBM Bleh, bukan UKM!”

Tiba-tiba Jadi Kritis...

Tiba-tiba Jadi Kritis…

ABLEH: “Oh ya STM. Ane setuju bget Pa Oga. Biar anak-anak kita pinter bikin mobil.”

OGA: “BBM, bukan STM. Dasar Lo…”

ABLEH: “Oh ya, ane ngerti skarang. PDAM kan?”

OGA: “Ampuuun, BBM, BBM, Be…Be…Em!”

ABLEH: “Nah, itu die maksud ane. TTM. Teman Tapi Mesra kan?”

OGA: “Astaghfirullah, parah banget Lo Bleh. Kenapa jadi gini Lo? Kesambet di mana?”

ABLEH: (sambil senyum-senyum) “Maafin ane Pak Oga. Sejak kenaikan BBM, ane jadi sering error. Pikiran gak fokus. Maklum, harga-harga jadi pada naik.”

OGA: “Nah, itu die, Bleh. Itu yg gue maksud! Ya itu tadi!”

ABLEH: “Itu apaan Pa Oga?”

OGA: “Ya itu tadi. Lo udah bener ngomongnye. Haduh apa itu tadi ye? Gue jadi ikutan lupa.”

ABLEH: “Omongan yang mane Pa Oga?”

OGA: “Tadi itu…tadi…yang ada M-M nya gitu.”

ABLEH: “Ape ye? UKM? STM? PDAM? Atau TTM?”

OGA: “Haduh! Ampun deh. Error lagi. Terserah Lo deh mau ngomong ape juga. Yang penting…besok gue ikut demo. Lo mau ikut atau gak, terserah!”

ABLEH: “Demo apaan Pa Oga?”

OGA: “Demo masak ama ibu-ibu Posyandu. Temanye, bikin bubur kacang khas Madura. Asyik Bleh, ntar kite dapat makan gratis.”

ABLEH: “Ooo…enak juga tuh. Dari mana dananye Pa Oga?”

OGA: “Katanye dari subsidi kenaikan BBM, Bleh. Dipakai pelatihan buat ibu-ibu.”

ABLEH: “Oooh… Dasar rezim penipu. Harga minyak dunia turun, malah naikin BBM. Harga di NYMX turun, kenapa di sini jadi naik?”

OGA: “Haaahhh? Lo ngomong apa, Bleh? Gue gak ngarti…”

ABLEH: “Bisanye… ngeboongin orang aje. Emang rakyat udah lemah, jangan ditipu dong! Dasar pengkhianat!”

OGA: “Bleh, Lo kagak apa-apa? Kagak ada masalah? Gue jadi takut, Bleh. Lo tiba-tiba jadi kayak Efendi Simbolon.”

ABLEH: “Puuih…rezim pembohong!”

— Sekedar refleksi, betapa beratnya gelombang “tsunami sosial” di balik setiap kebijakan kenaikan BBM. BBM spt darah yg mengalir di nadi kehidupan Ummat. Bijaksanalah wahai pemimpin! —

Sumber: Akun pribadi facebook.

Iklan

13 Responses to BBM: Antara OGA dan ABLEH

  1. budi berkata:

    Assalamu’alaikum Afwan Ustad Waskito klo tidak sesuai bahasanny,tpi mga brmanfaat jg,
    sy mnta tlong bagaimana menanggapi secara adil dan mutawasith kpd saudara2 qta yg trlalu apriori thd wahabi yg bwat artikel ni:

    HALAL BAGI WAHABI, HARAM BAGI YANG LAIN
    oleh: KH. Muhammad Idrus Ramli
    Ulama Wahabi sering tidak konsisten dengan pendapat mereka. Suatu saat, amalan orang lain diharamkan. Tetapi ketika ada kepentingan, mereka halalkan untuk diri sendiri. Beberapa contoh sebagai berikut:
    1) Syaikh al-Fauzan mengharamkan berdakwah melalui video dan televise, karena pasti terjadi pengambilan gambar, yang menurutnya dihukumi haram, sebagaimana ia fatwakan dalam bukunya al-Muntaqa bin fatawa al-Fauzan, no 513.
    Tapi kemudian, al-Fauzan pun tampil berdakwah melalui televise dan disiarkan di youtube.
    2) Al-Albani mengharamkan taklid kepada siapapun dalam urusan agama. Menurutnya taklid dalam urusan agama hukumnya haram.
    Tetapi, setelah reputasi al-Albani meroket, dan dia banyak mempunyai pengagum dan pengikut dari kalangan Wahabi, al-Albani tidak hanya membolehkan taklid, bahkan mewajibkan taklid terhadap ulama, terutama dirinya.
    3) Kaum Wahabi mengharamkan berdoa di samping makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menganggapnya termasuk kesyirikan. Akan tetapi setelah Penguasa Arab Saudi, Raja Abdullah berdoa disamping makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada ulama Wahabi yang mengharamkannya, yang berarti mereka memperbolehkan.
    Ini hanya tiga contoh. Bersambung…

  2. abisyakir berkata:

    @ Budi….

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    HALAL BAGI WAHABI, HARAM BAGI YANG LAIN. oleh: KH. Muhammad Idrus Ramli. Ulama Wahabi sering tidak konsisten dengan pendapat mereka. Suatu saat, amalan orang lain diharamkan. Tetapi ketika ada kepentingan, mereka halalkan untuk diri sendiri.

    Respon: Mungkin yang disebut “tidak konsisten” itu ialah berubahnya pendapat ketika menyaksikan ada perubahan pada faktor-faktor, lingkungan, atau kondisi yang melingkungi suatu persoalan. Hal ini biasa dalam ilmu. Seperti halnya Imam Syafi’i rahimahullah memiliki “pendapat lama” dan “pendapat baru” ketika beliau hidup di lingkungan berbeda dengan faktor-faktor berbeda.

    Beberapa contoh sebagai berikut: 1) Syaikh al-Fauzan mengharamkan berdakwah melalui video dan televise, karena pasti terjadi pengambilan gambar, yang menurutnya dihukumi haram, sebagaimana ia fatwakan dalam bukunya al-Muntaqa bin fatawa al-Fauzan, no 513. Tapi kemudian, al-Fauzan pun tampil berdakwah melalui televise dan disiarkan di youtube.

    Respon: Syaikh Fauzan adalah seorang “ulama Wahabi” tapi beliau bukan REPRESENTASI Wahabi, karena Wahabi kan sangat luas tidak sebatas pendapat satu ulama saja. Terkait video dan televisi ini, Syaikh Muqbil dari Yaman dan murid-muridnya sangat konsisten. Mereka haramkan gambar, foto makhluk bernyawa, sekaligus mereka haramkan juga televisi dan video. Sedang Al-Albani mengharamkan fotografi makhluk bernyawa, tapi masih menerima tayangan video/TV karena menurut beliau itu berbeda. Jadi ulama-ulama itu pun sudah berbeda pendapat satu sama lain terhadap obyek yang sama.

    Kalau kami lain lagi. Selagi manusia BOLEH BERCERMIN ada kaca/air jernih, kami tidak mengharamkan foto manusia/hewan; karena foto itu bukan MENGGAMBAR, tapi HANYA MEREKAM bentuk ciptaan Allah. Rekaman melalui foto atau kamera. Di situ tak ada unsur kebanggaan karena kita telah mendapat suatu gambar yang sesuai aslinya. Ya tak ada kebanggaan, wong memang itu seperti CERMIN belaka. Hanya saja, kami tetap MENGHARAMKAN penggunaan foto/kamera untuk merekam hal-hal yang diharamkan (seperti pornografi, simbol-simbol kekafiran, pelecahan agama, dll.).

    2) Al-Albani mengharamkan taklid kepada siapapun dalam urusan agama. Menurutnya taklid dalam urusan agama hukumnya haram. Tetapi, setelah reputasi al-Albani meroket, dan dia banyak mempunyai pengagum dan pengikut dari kalangan Wahabi, al-Albani tidak hanya membolehkan taklid, bahkan mewajibkan taklid terhadap ulama, terutama dirinya.

    Respon: Maksud beliau (Al Albani) itu ialah “jangan taklid ke ulama-ulama madzhab fiqih dengan tidak mau melihat hasil penelitian HADITS Nabi SAW yang kuat dan mantap; jangan karena taqlid madzhab lalu menafikan penelitian hadits-hadits”. Begitu maksud beliau. Tidak, tidak, Syaikh Al-Albani tidak mewajibkan manusia taqlid kepadanya. Tidak, ini fitnah yang berdasar. Kalau tak percaya, dalam tanya-jawab masalah-masalah agama, beliau tidak mewajibkan manusia MENGIKUTI pendapatnya. Coba deh dengarkan rekaman-rekaman ceramah beliau yang ada tanya-jawabnya. Di situ jelas, beliau memberi pilihan kepada pendengar dan murid-muridnya untuk memilih pendapat terkuat.

    3) Kaum Wahabi mengharamkan berdoa di samping makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menganggapnya termasuk kesyirikan. Akan tetapi setelah Penguasa Arab Saudi, Raja Abdullah berdoa disamping makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada ulama Wahabi yang mengharamkannya, yang berarti mereka memperbolehkan.

    Respon: Boleh, boleh berdoa di samping makam Nabi SAW. Ini banyak dilakukan kaum Muslimin saat ziarah ke Masjid Nabawi. Yang mengatakan itu diharamkan, dia tak punya alasan, selain hanya praduga saja. Faktanya, ucapan “Assalamu’alaika aiyuhan nabi” itu adalah doa keselamatan untuk beliau dalam bentuk ucapan selamat. Kaum Muslimin yang berada di Masjid Nabawi BOLEH membaca shalawat yang merupakan SEBAIK-BAIK DOA UNTUK NABI sebanyak apapun, mau 1000 kali, mau 1945 kali (sejumlah tahun kemerdekaan kita), mau 2014 (seperti tahun kita sekarang), atau mau 10.0000.000 kali shalawat; tidak dilarang sama sekali. Kan siapun yang berada di Masjid Nabawi itu statusnya DEKAT dengan Makam Rasulullah SAW? Iya gak sih.

    Tapi kalau kumpul-kumpul di sekitar Makam Nabi, berkerumun, berebut tempat, berlama-lama di sana, dan seterusnya; seperti kebiasaan orang kita kumpul-kumpul di sekitar makam “keramat”; itu memang TIDAK BOLEH. Mengapa? Akan membuat macet jalan di sekitar Makam Nabi, akan terjadi penumpukan manusia di sana, dan tentu ini sangat mengganggu; bukan hanya mengganggu suasana ibadah, tapi juga ganggu Sang Penghuni Makam. Bayangkan, Hajar Aswad yang beliau cium saja diperebutkan manusia seperti itu, apalagi ini makam beliau sendiri?

    *** Ya intinya, kita harus adil, bijaksana, memperkuat kesatuan Ummat, jangan memecah-belah dan membenturkan satu sama lain. Bolehlah mengkritik, mengkoreksi, boleh sama sekali. Antar sesama Muslim boleh saling meluruskan; tapi jangan dibumbui fitnah dan kebencian. Terimakasih.

    Admin.

  3. budi berkata:

    Jazakalloh khoiron ustad waskito afwan ni ad artikel lain mnyusul bs d tanggapi yg membolehkn tahlilan dsb n sring mncela n memojokkn wahabi.
    Dalil Dan Penjelasan Tahlilan Dan Sampainya Pahala Untuk Orang Meninggal
    Para ulama sepakat bahwa bacaan Al-quran dan tahlil sampai kepada orang yang sudah meninggal. Namun banyak juga yang menyanggah pendapat tersebut karena bersandarkan pada firman Allah ta’ala yang berbunyi:
    وَأَن لَّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَىٰ
    “Dan bahwasanya seorang manusia itu tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya. (Q.S. An-Najm {53}: 39).
    Para ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an tersebut sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia menanggapi ayat tersebut di atas dengan beberapa pandangan sebagai berikut:
    1. Ayat tersebut sudah dinasakh (dihapus) oleh ayat yang berbunyi:
    وَٱلَّذِينَ آمَنُواْ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَاهُمْ مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ ٱمْرِىءٍ بِمَا كَسَبَ رَهَينٌ
    “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka[1426], dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (Q.S. Ath-Thur {52}: 21).
    2. Ayat tersebut dikhususkan bagi kaum Nabi Ibrahim dan Nabi Musa. Sedangkan bagi umat Nabi Muhammad akan memperoleh apa yang diusahakannya dan yang diusahakan orang lain untuknya. Yang demikian ini menurut pendapat Ikrimah.
    3. Yang dimaksud dengan “Seorang manusia” di sini adalah orang kafir. Sedangkan bagi orang mukmin adalah apa yang diusahakan oleh dirinya dan yang diusahakan orang lain untuknya. Yang demikian ini menurut pendapat Rabi’ bin Anas.
    4. Seseorang tidak akan memperoleh apapun selain yang diusahakannya melalui jalan yang telah ditetapkan kecuali yang diperoleh dari jalan keutamaan. Olehkarena itu, boleh jadi Allah akan menambahkan baginya pahala sesuai dengan kehendak-Nya. Yang demikian ini menurut pendapat Al-Husain bin Al-Fadhal.
    5. Huruf lam (ل) pada kalimat “Lil insani” dalam ayat tersebut bermakna ” ‘ala “. Tegasnya: “Laisa ‘alal insani illa maa sa’aa. “Pendapat ini didasarkan pada qiyas (analogi) pada do’a, sedekah, puasa, haji, dan memerdekakan hamba sahaya yang dikemukakan sebelumnya. Menurut pendapat ini, tidak ada perbedaan anatara pemindahan pahala haji, sedekah, wakaf, dan do’a dengan bacaan Al-Qur’an. Pendapat ini juga didasarkan pada hadits-hadits yang disebutkan sebelumnya. Meskipun hadits-hadits tersebut dha’if, tetapi secara keseluruhan hadits-hadits tersebut memiliki sumber. Selain itu, pendapat ini juga berlandaskan pada alasan bahwa kaum muslimin dari masa ke masa masih terus berkumpul untuk membacakan Al-Qur’an bagi orang-orang yang sudah meninggal dunia di antara mereka. Yang demikian ini menurut ijma’ (konsensus atau kesepakatan) ulama. Semua itu disampaikan oleh Al-Hafizh Syamsuddin Ibnu Abdul Wahid al-Maqdisi al-Hanbali.
    Imam Al-Qurthubi berkata, Syeikh ‘Izzuddin bin ‘Abdussalam telah mengeluarkan fatwa bahwa pahala bacaan Al-Qur’an itu tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia. Ketika beliau sudah wafat, sebagian sahabatnya bermimpi bertemu dengannya. Mereka bertanya kepadanya. “Engkau telah mengatakan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an itu tidak sampai kepada orang yang sudah meninggal, lalu bagaimana engkau melihat itu?”
    Dia menjawab, “Aku mengatakan hal itu ketika aku masih hidup di dunia, tetapi sekarang aku telah meninggalnya. Aku telah melihat adanya kemurahan Allah dalam hal itu, yaitu bahwa pahala bacaan Al-Qur’an tersebut sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia.”
    Adapun masalah bacaan Al-Qur’an di kuburan, sahabat-sahabat kami dan yang lainnya telah memastikan bahwa masalah itu disyari’atkan dalam agama Islam. Kemudian, Imam Al-Za’farani berkata, “Aku pernah bertanya kepada Imam Asy-Syafi’i mengenai masalah bacaan Al-Qur’an di kuburan. Jawab beliau, “Tidak apa-apa.”
    Di dalam kitab “Syarah al-Muhadzdzab” Imam Nawawi berkata, “Disunnahkan bagi orang yang berziarah kubur untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mudah baginya dan mendo’akan mereka setelah membacanya. Hal itu sudah dinash oleh Imam Asy-Syafi’i.”
    Lebih lanjut beliau menambahkan pada tempat yang lain, “Jika mereka mengkhatamkan Al-Qur’an di kuburan, maka yang demikian itu lebih utama .”
    Sedangkan, Imam Ahmad bin Hanbal pertama kali menolak pendapat tersebut, karena tidak ada atsar sahabat Nabi yang mendasarinya. Tetapi, setelah mendapatkan dasarnya dari atsar sahabat Nabi, beliau pun kembali menerimanya.
    Imam Asy-Sya’bi Al-Khalal berkata, “Jika salah seorang di antara kaum Anshar meninggal dunia, mereka pulang dan pergi ke kuburannya untuk membacakan Al-Qur’an untuknya.”
    Mengenai keutamaan surah Al-Ikhlas, Abu Muhammad As-Samarqandi menceritakan hadits dari Ali sebagai hadits marfu’. Disebutkan, “Tidaklah seseorang berjalan melewati kuburan lalu dia membaca surah Al-Ikhlas sebanyak sebelas kali, kemudian berniat memberikan pahalanya untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia, melainkan pahalanya akan diberikan kepada beberapa orang yang sudah meninggal dunia.”
    Abul Qasim Sa’ad bin Ali al-Zanjani menceritakan hadits dari Abu Hurairah. Dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang masuk ke pekuburan, lalu membaca surah al-Fatihah, surah al-Ikhlas, dan surah at-Takatsur, kemudian berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku berniat memberikan pahala atas apa yang aku baca ini kepada penghuni kubur yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, maka mereka akan menjadi pemohon syafa’at kepada Allah SWT baginya.”
    Al-Qadhi Abu Bakar bin Abdul Baqi’ al-anshari menuturkan riwayat dari dari salmah bin ‘Ubaid. Disebutkan bahwa Hammad al-Makki berkata, “Pada suatu malam aku pernah pergi ke beberapa kuburan di Mekkah. Kemudian, aku meletakkan kepalaku di atas sebuah kuburan hingga aku tertidur. Setelah itu aku bermimpi melihat para penghuni kukbur duduk melingkar. Lalu aku bertanya, “Apakah hari kiamat telah tiba?” Jawab mereka, “Tidak, hanya saja ada seseorang dari saudara kami yang membaca surah al-Ikhlas dan memberikan pahalanya kepada kami.”
    ‘Abdul Aziz menceritakan hadits dari Anas bin Malik r.a. Disebutkan bahwa Rsulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang memasuki kuburan, lalu ia membaca surat Yasin, maka Allah akan memberikan kepada mereka, sedangkan dia akan memperoleh kebaikan sejumlah penghuni kubur yang ada di sana.”
    Mengenai hadits, “Bacakanlah surah Yasin untuk orang-orang yang sudah meninggal dunia.” Imam al-Qurthubi berkata bahwa bacaan surat Yasin ini pantas dibaca di sisi orang ketika akan meninggal dunia, juga pantas dibaca di sisi kuburannya.
    Mengenai pendapat tersebut, aku berkata (maksudnya pengarang) bahwa pendapat yang pertama merupakan pendapat ulama jumhur, sedangkan pendapat yang kedua merupakan pendapat Ibnu ‘Abdul Wahid al-Maqdisi.
    Di dalam kitab “Ihya ‘Ulumuddin” karya Imam al-Ghazali dan kitab “Al-’Aqibat” karya Imam ‘Abdul Haq dari Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa: “Apabila kalian memasuki pekuburan, maka bacakanlah surah Al-Fatihah, surah Al-Falaq, surah An-Nas, dan surah Al-Ikhlas, kemudian hadiahkanlah bacaan tersebut kepada para penghuni kubur”. Maka sesungguhnya hal itu bisa sampai kepada mereka.”
    Imam Al-Qurthubi mengatakan pula bahwa pernah juga dikatakan bagi pembacanya akan mendapatkan pahala bacaan Al-Qur’an itu, sedangkan orang yang sudah meninggal dunia akan mendapatkan pahala bacaan karena mendengarkannya. Dengan demikian rahmat Allah akan mengiringinya. Allah SWT berfirman:
    وَإِذَا قُرِىءَ ٱلْقُرْآنُ فَٱسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
    “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian mendapat rahmat. (Q.S. Al-A’raf {7}: 204).
    Selanjutnya Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Tidaklah jauh di dalam kemurahan Allah SWT mengiringinya pahala bacaan Al-Qur’an dan memperdengarkannya secara bersamaan, serta sampainya pahala bacaan Al-Qur’an tersebut yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia, meskipun orang itu tidak mendengar, seperti halnya sedekah dan do’a.”
    Imam Al-Qurthubi mengatakan pula bahwa sebagian ulama kita mengambil dalil atas manfaatnya bacaan Al-Qur’an bagi si mayit di sisi kuburannya berdasarkan hadits Rasulullah saw mengenai pelepah kurma yang dibelah dua oleh beliau dan ditancapkan pada dua kuburan seraya bersabda, “Mudah-mudahan pelepah kurma ini akan meringankan penghuni kedua kuburan tersebut selama ia belum mengering (masih basah) !”
    Berkaitan dengan hadits tersebut, Imam Al-Khuthabi mengatakan, “Yang demikian itu, menurut para ulama, karena segala sesuatu – selama masih tetap hijau (belum mengering) dan masih utuh – bertasbih hingga ia mengering, atau berubah warna hijaunya, atau potong dari batangnya.”
    Sedangkan ulama lainnya berkata, “Jika tasbih yang dilakukan kedua pelepah kurma itu saja dapat meringankan penghuni kuburan, lantas bagaimana dengan bacaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh orang mukmin?”
    Sementara itu Ibnu ‘Asakir menuturkan riwayat melalui Hammad bin Salmah dari Qatadah. Disebutkan bahwa Abu Barzah al-Aslami menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah brjalan melewati sebuah kuburan yang penghuninya sedang disiksa. Kemudian, beliau mengambil pelepah kurma dan menanamkannya pada kuburan tersebut seraya berucap, “Mudah-mudahan pelepah kurma ini dapat meringankan siksaannya selama masih basah !”
    Sedangkan, Abu Barzah sendiri berpesan, “Jika aku meninggal dunia nanti, letakkanlah di atas kuburanku dua pelepah kurma.”
    Ketika Abu Barzah meninggal di padang pasir yang terletak di antara Karman dan Qawmis, orang-orang berkata, “Dia telah berpesan agar kami meletakkan dua pelepah kurma di atas kuburannya. Padahal, di tempat ini sama sekali tidak terdapat pelepah kurma. Ketika mereka sedang dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba datang serombongan orang yang menunggang kendaraannya dengan membawa pelepah kurma. Kemudian, mereka segera mengambil dua pelepah kurma darinya dan meletakkannya di atas kuburannya.”
    Ibnu Sa’ad menuturkan riwayat Mawriq bahwa Buraidah berwasiat agar diletakkan di atas kuburannya dua pelepah kurma.
    {KITAB “SYARHUSH SHUDUR BI SYARHIL MAWTA MAL QUBUR” HALAMAN 268-271, KARYA AL-HAFIZH IMAM JALALUDDIN AS-SUYUTHI, CETAKAN “DARUL FIKR”, BEIRUT – LIBANON

  4. budi berkata:

    Afwan sy kompliti skalian tentang dalil dan hujah bolehnya tahlilan,krana kterbatasan ilmu dan referensi sy blm bs mengecek lagi dan menelaah,mhon bantuannya ustad waskito,jazakalloh khoiron.
    1.Termasuk kenapa dlm yasinan, surahYasin yg dibaca lihat di dalam kitab Arruh Shahifah 187 Lisyaih Ibnu Qayim Aljauziyah mengenai dalil Yasin.

    2. Fadlilah Yasin lagi bisa dilihat di Kitab Tafsir Ibnu Katsir juz 11 hal 343-346 menerangkan bahwa membaca yasin untuk orang yg meninggal akan meringankan bebannya. Dll

    3.Bahkan di dalam Kitab Ahkam Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab Annajadi halaman 75 juga ada keterangan mengenai hal ini. Haditsnya Shahih.

    4.Khusus knapa yasinan itu 7 hr, 40 hr dll ada didalam kitab Nihazatuzzain hal 281. Adapun menghushuskan ibadah tidak akan merubah hukum sunahnya keterangan dalam kitab Al-Majmu’ syarh Almuhadzab li Abi Zakariya #juz 4 hal 633. Jadi bukan semata-mata mengikuti tradisi hindu.
    Mohon pnjelasannya ustad,karena sy msih merasa krang sreg dgn dalil2 mrk,kuatirny kalo mengambil dalil n referensi spotong2

  5. budi berkata:

    Mhon tanggapanny jg ustad, ni versi dari orang yg mengaku nu:

    Tauhid Versi Ahlussunah Wal Jama’ah

    Wahdaniyat terbagi menjadi tiga:
    1. Wahdaniyat al-Dzat
    2. Wahdaniyyat al-Shifat
    3. Wahdaniyat al-Af’al

    Wahdaniyat al-Shifat berfungsi menafikan dua hal:

    1. Menafikan adanya dua shifat bagi Allah, misalnya dua qudrat, dua iradat dan lain-lainnya. Dengan kata lain, shifat qudrat Allah itu hanya satu dan berkaitan dengan segala hal yang mungkin. Iradat Allah juga satu dan seterusnya.

    2. Menafikan adanya seseorang dari manusia atau makhluk Allah yang memiliki shifat seperti shifat-shifat Allah, (dapat menciptakan, menentukan dan seterusnya).
    Wahdaniyat al-Af’al berfungsi menafikan adanya selain Allah berbuat seperti perbuatan Allah.

    Hanya Allah-lah yang dapat mewujudkan dan meniadakan.
    Kita harus berkeyakinan bahwa semua perbuatan manusia, yang besar dan yang kecil, adalah ciptaan Allah.

    والله خلقكم وما تعملون (الصافات : 96).
    Al-Qur’an membatalkan konsep tauhid Wahhabi
    وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا [آل عمران : 80]
    Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan). (QS. Ali-Imran : 80).
    Ayat di atas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan) selain Allah seperti Malaikat dan para nabi.

    Berarti orang-orang Musyrik tidak mengakui Tauhid Rububiyyah. Kata Ibn Taimiyah (Wahhabi) Orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah.
    َاللهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ، إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ [الشعراء : 97 ، 98].
    Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam. (QS. al-Syu’ara’ : 97-98).

    Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan
    Nabi membatalkan tauhid Wahaby.

    عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ ( يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ) قَالَ نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ . (رواه مسلم 5117).

    Dari al-Barra’ bin Azib, Nabi bersabda, “Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu”, (QS. Ibrahim : 27). Nabi bersabda, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu?” Lalu dia menjawab, “Allah Rabbku, dan Muhammad Nabiku.” (HR. Muslim, 5117).
    Tauhid Rububiyyah sebagai piranti ideologis untuk melarang praktek-praktek tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain, karena dianggap mengarahkan ibadah kepada selain Allah SWT

    توحيد أبي جهل وأبي لهب :
    أبو جهل وأبو لهب ومن على دينهم من المشركين ، كانوا يؤمنون باللّه ويوحدونه في الربوبية خالقًا ورازقًا ، محييًا ومميتًا ، ضارًا ونافعا ، لا يشركون به في ذلك شيئًا ! .
    عجيب وغريب أن يكون أبو جهل وأبو لهب أكثر توحيدًا للّه وأخلص إيمانا به ، من المسلمين الذين يتوسلون بالأولياء والصالحين ويستشفعون بهم إلى اللّه !! أبو جهل وأبو لهب أكثر توحيدا وأخلص إيمانًا من هؤلاء المسلمين الذين يقولون لا إله إلا اللّه محمد رسول اللّه! ما هذا يا رجل ، (محمد بن أحمد با شميل، كيف نفهم التوحيد، 11).
    Tujuan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat

    Di dalam al-Qur’an dan Sunnah terdapat teks-teks mutasyabihat berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT.
    Ibn Taimiyah mengikuti aliran Musyabbihah yang mengartikan teks-teks mutasyabihat secara literal (zhahir)

    Ibn Taimiyah (Wahhabi) menggagas Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, sebagai piranti ideologis untuk menilai sesat kaum Muslimin yang melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Dalam hal ini pengikut madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi.

  6. budi berkata:

    NU AHLI BID’AH…?
    Dewasa ini banyak sekali satu golongan yang menuduh golongan lain ahlul bid’ah, merasa paling benar dan paling sesuai dengan ajaran rasulullaah. NU salah satu jam’iyyah yang sering mendapat tuduhan sebagai ahlul bid’ah. Sebenarnya apakah bid’ah itu?, sebagai warga NU saya ingin menjawab pertanyaaan tersebut melalui tulisan sederhana ini.
    Bid’ah ada dua, Bid’ah Syar’iyyah dan Bid’ah Lughawiyah. Bid’ah Syar’iyyah adalah tiap-tiap ucapan, perbuatan atau i’tiqad yang bertentangan dengan Al-Kitab(Al-Quran), Assunnah(Hadits Nabi), Al-Ijma’ dan Al-Qiyas. Menurut faham Ahlussunah Wal Jama’ah bid’ah terbagi menjadi dua macam:
    1. Bid’ah Hasanah.
    Bid’ah yang baik, sebagaimana yang terjadi jaman khalifah Umar Bin Khattab. Saat pertama kalinya tarawih di Masjid Nabawi dilaksanakan 20 rakaat, Khalifah Umar berkata, “NI’MATUL BID’ATU HAADZIHI”(Qaul ‘Umar fi Muwatha- Shahifah 137:I)
    Jadi istilah bid’ah hasanah diambil dari perkataan Khalifah Umar tersebut. Jelasnya semua berijma’ atas kebenarannya. Bid’ah Hasanah tersebut adalah hasil mufakat(Ijma’) para sahabat dan Sunah Qauliyah Nabi yang berbunyi, “’ALAIKUM BISUNNATIY WA SUNNATILKHULAFAA-IRRAASYIDIINA..” Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa-urrasyidin sesudahku. “IQTADULLADZAINI MIN BA’DY ABA BAKRIN WA ‘UMARA”, Ikutilah orang-orang sesudahku, Abu Bakar dan Umar.
    Kenapa khalifah Umar maupun Ulama ahlussunah wal jama’ah mengatakan bid’ah Hasanah? Sebab arti bid’ah secara lughawi yaitu segala sesuatu yang belum pernah terjadi di jaman Rasulullaah, namun dihukumi hasanah menurut syara’, karena perbuatan itu menurut dalil-dalil umum syara’ bisa dilandasi kebenarannya.
    2. Bid’ah Sayyi’ah
    Bid’ah yang buruk, sebagaimana yang dimaksud dalam sebuah hadits:
    “WA IYYAKUM WA MUHDATSAATIL UMUURI FAINNA KULLA BID’ATIN DLALAATATUN”
    Berhati-hatilah kalian, jangan mengada-adakan ciptaan baru, sesungguhnya sebagian ciptaan baru itu kesesatan.
    “MAN AHDATSA FII AMRINAA HAADZAA MAA LAISA MINHU FAHUWA RADDUN”
    Barangsiapa yang mengada-adakan hal baru dalam agama yang bukan dari agama kami mak hal itu ditolak.
    Jadi seumpama kita mengerjakan shalat Subuh empat rakaat, shalat janazah dengan rukuk dan sujud dan lain sebagainya, hal yang demikian jelas-jelas tertolak. Berbeda dengan shalat tarawih 20 rakaat dan lain sebagainya, tidaklah termasuk tertolak karena berlandaskan pada Qauliyah dan Fi’liyah Sahabat.
    Lalu apakah semua yang baru bisa disebut bid’ah?, apakah sesuatu yang tidak pernah terjadi atau dilakukan Rasulullaah adalah bid’ah?. Secara lughawi memang bid’ah. Tetapi bid’ah ini dibagi menjadi lima macam:
    1. Bid’ah Wajibah ‘Alal Kifayah
    Contohnya: mempelajari bahasa Arab, Nahwu Sharaf dan Gramatika Bahasa Arab sebagai sarana memahami Al-Quran.
    2. Bid’ah Muharramah
    Contohnya: mempunyai i’tiqad yang bertentangan dengan tariqat ahlussunah waljama’ah(menganggap Allaah duduk di Arsy seperti pemahaman Wahaby, justru inilah bid’ah Muharramah).
    3. Bid’ah Mandzubah
    Contoh: perbuatan-perbuatan baik seperti mendirikan Madrasah, Yayasan Yatim Piatu, Pesantren dll.
    4. Bid’ah Makruhah
    Contoh: menghias masjid dengan hiasan-hiasan yang berlebihan(Seperti Masjid Qubah Emas, termasuk Bid’ah Makruhah).
    5. Bid’ah Mubahah
    Contoh: bermewah-mewah dalam makan dan minum.
    Untuk memperjelas ta’rif bid’ah mari kita uraikan sebuah kalimat sakti yang digunakan para penghujat NU bahwa:
    “KULLU BID’ATIN DLALAALATUN”( SEMUA BID’AH ITU SESAT)
    Perlu dima’lumi bersama menurut istilah Ilmu Mantiq, “KULLU” yang mengandung arti “TIAP-TIAP” disebut “KULLU” KULLIYAH sedangkan “KULLU” yang mengandung arti “SEBAGIAN” disebut “KULLU” KULLY.
    Contoh lafadz KULLU KULLIYAH:
    “Kullu nafsin dzaaa-iqatulmauti…” tiap-tiap orang merasakan mati.
    Contoh lafadz KULLU KULLY:
    “Wa ja’alnaa minal maa-i kulla syai-in hayyi..” Dan telah aku jadikan dari air sebagian mahluk yang hidup.
    Mengingat hal tersebut maka lafadz Kullu Bid’atin Dlalalatun mengandung maka KULLU KULLY bukan KULLU KULLIYAH.
    Mereka(golongan yang menuduh NU Ahli Bid’ah) ada yang menyanggah dengan sebuah Hadits:
    “IDZAA KAANA MIN AMRI DIINIKUM FAILAIYYA WA INKAANA MIN AMRI DUN-YAAKUM FA ANTUM A’LAMU BI UMUURI DUN-YAAKUM”
    Jika ada soal-soal agama serahkan padaku dan jika ada soal-soal keduniaanmu maka kamu lebih mengetahui akan soal-soal duniamu itu.
    Sasaran Hadits di atas sebenarnya bukan mengenai bid’ah melainkan mengenai Hukum dan Teknik, contohnya, Hukum membangun Masjid/Madrasah ialah urusan agama, harus dikembalikan pada Nabi, artinya harus bersumber dari Al-Quran dan Assunnah, maksudnya niat dan tujuan membangunnya harus sesuai dengan tuntunan Nabi. Sedangkan teknik pembangunan fisiknya adalah urusan dunia, hal itu diserahkan pada umat sesuai dengan perkembangan peradaban manusia/kemajuan jaman.
    Tidak hanya sampai disini, mereka yang mengatasnamakan Islam Murni, Islam Putihan, berpendapat bahwa ibadah harus satu macam dan harus asli dari Rasulullah, maka dalam kesempatan ini bisa kita uraikan bahwa ibadah ada dua macam:
    1. Ibadah Muqayyadah(ibadah yang terikat)
    Ibadah yang mempunyai keasliannya dari Nabi dalam segala-galanya, hukumnya, cara pelaksanaannya, waktu dan bentuknya. Kesemuanya diikat (Muqayyad) menurut aturan tertentu dan tidak boleh dirubah. Contohnya Shalat, Zakat, Puasa, Haji dll.
    2. Ibadah Muthlaqah
    Ibadah yang mempunyai keasliannya dari Nabi dalam beberapa hal, sedangkan mengenai bentuk dan cara pelaksanaannya tidak diikat dengan aturan-aturan tertentu, terserah umat, asalkan tidak melanggar pokok-pokok syari’at Islam. Nah, kadang-kadang dalam ibadah Muthlaqah ini terjadi bid’ah-bid’ah hasanah.
    Untuk menyimpulkan uraian di atas, dapat kita ambil sebuah fatwa dari Imam Muhammad Bin Idris Asyasyafi’iy yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim sbb:
    “AL BID’ATU BID’ATAANI: BID’ATUN MAHMUUDATUN WA BID’ATUN MADZMUUMATUN FAMAA WAA FAQASSUNATA FAHUWA MAHMUUDUN WA MAA KHAALAFAHAA FAHUWA MADZMUUMUN”
    Bid’ah ada dua macam, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Ketika bid’ah tersebut sesuai Assunnah maka itulah bid’ah terpuji, jika bid’ah tersebut bertentangan dengan Assunnah maka itulah bid’ah tercela.
    Semoga tulisan ringkas ini bisa menjadikan keyakinan kita, sebagai warga NU tidaklah goyah dengan maraknya isu-isu tentang bid’ah. Insya Allaah, apa yang kita lakukan adalah sebuah ibadah. Aaamiin. Sekian dan semoga bermanfaat.Mhon ditanggapannya ustad,smoga Allah memberikn petunjukNya pada qta dan mereka.

  7. abisyakir berkata:

    @ BUDI

    Wa iyyakum jaza’ul khair ya akhi. Adapun tentang tanggapan selanjutnya yang dikutip dari Jalaluddin As Suyuthi rahimahullah tersebut di atas, kami bisa memberi tanggapan sebagai berikut:

    1. Apa yang Anda tanyakan kan seputar amal TAHLILAN, sedangkan perkataan-perkataan yang disebut di atas adalah soal “sampai tidaknya bacaan Al Qur’an kita kepada mayit” atau “katakanlah sampai tidaknya hadiah pahala ke mayyit”. Kalau tentang “hadiah pahala” ini memang sudah menjadi perselisihan sejak lama, antara kutub yang menerima dan menolak. Jadi tidak benar jika telah tercapai IJMA’ (kesepakatan) dalam hal itu.

    2. Ada ayat dalam Surat Al Insan: “Alaisa lil insani illa maa sya’a”. Ya itu salah satu dalil. Kalau menurut As Suyuthi, katanya ayat itu sudah dinasakh oleh ayat lain. Wallahu a’lam. Tapi ada riwayat terkenal yang sering menjadi dalil di sini, yaitu: “Idza mata ibnu adam inqotho’a amaluhu illa min tsalatsin, shodaqotin jariyatin, al ‘ilmu yuntafa’u bihi, wa waladun shalihun yad’u lahu” (kalau anak Adam wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak saleh yang mendoakan dirinya). Riwayat ini banyak menjadi pegangan sebagian kaum Muslimin yang tidak meyakini adanya “hadiah pahala” itu.

    3. Bagi ahli kubur dari kaum Muslimin/Muslimat, Mukminin/Mukminat, mereka akan menerima faidah dari doa-doa AMPUNAN yang dipanjatkan kaum Muslimin yang masih hidup. Doa-doa ampunan itu diajarkan dalam Al Qur’an, begitu juga diajarkan dalam riwayat-riwayat.

    4. Bagi ahli kubur yang telah wafat, mereka juga bisa mendapat pahala dari kesalehan anak, isteri, saudara-saudara, sahabat, teman, dan lainnya yang pernah mendapat teladan baik, mendapat manfaat ilmu darinya, mendapat manfaat sedekah darinya. Misalnya, seseorang waktu hidupnya memberikan sebuah buku agama kepada orang lain, lalu buku itu sangat besar faidahnya bagi kebaikan orang itu; maka pahala pemberi buku ini akan terus mengalir, selama ilmunya dipakai.

    5. Pada amal-amal tertentu yang diwasiatkan oleh ahli kubur, seperti sedekah, haji/umrah, puasa, membayar hutang, dan lainnya, lalu dilaksanakan dengan baik; maka si ahli kubur juga mendapat faidah pahala dari pelaksanaan amal-amal itu.

    6. Tentang Rasulullah SAW berdiri di atas kuburan seseorang yang disiksa dalam kubur, lalu beliau menancapkan pelepah kurma di atasnya. Riwayat itu jangan dipahami begini: “Pelepah kurma saja bermanfaat, apalagi bacaan Al Qur’an kita.” Jangan begitu memahaminya. Tapi itu adalah KEKHUSUSAN pada diri Rasulullah SAW dan amal beliau. Mengapa disebut demikian? Karena setelah perbuatan itu, Rasulullah SAW tidak memerintahkan para Shahabat melakukan cara yang sama bagi para ahli kubur yang lain.

    7. Masalah “hadiah pahala” ini ada sesuatu yang sangat SENSITIF. Maksudnya begini:

    == Kalau Anda bersemangat memberi hadiah pahala bagi ahli kubur, apa Anda sendiri memang sudah PUNYA BANYAK PAHALA dalam hidup Anda ini? Mengapa Anda kok bersemangat sekali memberi hadiah, sedangkan keadaan diri Anda sendiri juga belum jelas.

    == Kalau misal soal “hadiah pahala” itu dibenarkan, bagaimana kalau manusia akhirnya lebih mementingkan memberi hadiah pahala ke orang lain daripada menabung pahala untuk diri sendiri?

    == Kalau kita rajin memberi hadiah pahala, lalu kemana saja orang yang jadi ahli kubur itu selama hidupnya? Apa mereka tidak beramal baik selama hidup? Kalau mereka ternyata banyak beramal baik, bahkan lebih baik dari amal orang-orang yang menghadiahi dia pahala; ya sudah serahkan hidupnya di akhirat/alam kubur ke amal-amalnya sendiri.

    == Banyak amal-amal baik yang bisa dilakukan oleh manusia demi kebaikan ahli kubur, terutama dari sisi keluarganya sendiri. Minimal sebagai Muslim kita mendoakan ampunan bagi ahli kubur itu. Jadi lakukan amal-amal YANG JELAS DALILNYA, jangan bersandar pada dugaan-dugaan.

    Terimkasih, wallahu a’lam bisshawaab.

    Admin.

  8. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    Tentang masalah YASINAN ini, kami sudah membaca beberapa buku yang menyimpulkan bahwa riwayat-riwayat pendukung fadhilah Surat Yaasin itu, UMUMNYA lemah atau palsu. Ada beberapa yang hasan atau maqbul. Di antara yang disebutkan Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, ada yang maqbul. Tapi rata-rata lemah, kata ahli yang mengkaji; namun tidak dikomentari oleh Ibnu Katsir rahimahullah.

    Kalau TAHLILAN hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, dan sebagainya; jelas semua itu bukan dari agama kita. Tidak ada SALAFUS SALEH yang melakukan amal seperti itu. Mohon maaf.

    Syukran jazakumullah khair.

    Admin.

  9. abisyakir berkata:

    @ BUDI….

    Al-Qur’an membatalkan konsep tauhid Wahhabi
    وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا [آل عمران : 80]
    Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab (tuhan-tuhan). (QS. Ali-Imran : 80).
    Ayat di atas menegaskan bahwa orang-orang Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan) selain Allah seperti Malaikat dan para nabi. Berarti orang-orang Musyrik tidak mengakui Tauhid Rububiyyah. Kata Ibn Taimiyah (Wahhabi) Orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah.

    RESPON: Tidak benar ayat ini dikaitkan dengan orang MUSYRIKIN. Kalau dibaca ayat sebelumnya di sana ada kata: مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

    (Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya).

    Ayat ini menurut ulama diturunkan di Madinah, setelah Rasul SAW hijrah kesana. Jadi ayat ini terkait KAUM MUSLIMIN. Di sana ada kata “kum” maksudnya Nabi SAW dan para Shahabat Ra.

    َاللهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ، إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ [الشعراء : 97 ، 98].
    Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan (Rabb) semesta alam. (QS. al-Syu’ara’ : 97-98).

    Ayat tersebut menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat dan pengakuan mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala sebagai arbab (tuhan-tuhan). Nabi membatalkan tauhid Wahaby.

    RESPON: Ya maksudnya, orang musyrik itu mereka mengakui Allah sebagai Rabb mereka, tetapi juga meyakini SESEMBAHAN lain sebagai Rabb. Maka itu mereka disebut musyrikun. Coba Anda lihat dalam Al Qur’an, banyak ayat-ayat yang menjelaskan, ketika orang kafir ditanya: “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?” Lalu mereka menjawab: Allah. Nah, konteksnya ke situ. Mereka punya keyakinan Rubbubiyah, tapi menserikatkan juga dalam Rubbubiyah tersebut.

    عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ ( يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ) قَالَ نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ . (رواه مسلم 5117).

    Dari al-Barra’ bin Azib, Nabi bersabda, “Allah berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu”, (QS. Ibrahim : 27). Nabi bersabda, “Ayat ini turun mengenai azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu?” Lalu dia menjawab, “Allah Rabbku, dan Muhammad Nabiku.” (HR. Muslim, 5117).
    Tauhid Rububiyyah sebagai piranti ideologis untuk melarang praktek-praktek tawassul, tabarruk, ziarah kubur dan lain-lain, karena dianggap mengarahkan ibadah kepada selain Allah SWT

    RESPON: Maksudnya, saat di alam kubur, Allah membantu orang-orang Mukmin untuk menjawab pertanyaan Malaikat sehingga jawabannya benar. Siapa Rabbmu? Jawabnya Allah. Dalam hal ini Allah diambil salah satu nama-Nya yaitu sebagai Ar Rabb. Kalau pertanyaanya: Man ilahukum? Jawabnya, juga Allah. Jawaban itu hanya disesuaikan dengan pertanyaan saja, bozzzz.


    توحيد أبي جهل وأبي لهب :
    أبو جهل وأبو لهب ومن على دينهم من المشركين ، كانوا يؤمنون باللّه ويوحدونه في الربوبية خالقًا ورازقًا ، محييًا ومميتًا ، ضارًا ونافعا ، لا يشركون به في ذلك شيئًا ! .
    عجيب وغريب أن يكون أبو جهل وأبو لهب أكثر توحيدًا للّه وأخلص إيمانا به ، من المسلمين الذين يتوسلون بالأولياء والصالحين ويستشفعون بهم إلى اللّه !! أبو جهل وأبو لهب أكثر توحيدا وأخلص إيمانًا من هؤلاء المسلمين الذين يقولون لا إله إلا اللّه محمد رسول اللّه! ما هذا يا رجل ، (محمد بن أحمد با شميل، كيف نفهم التوحيد، 11).
    Tujuan Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat

    Di dalam al-Qur’an dan Sunnah terdapat teks-teks mutasyabihat berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT.
    Ibn Taimiyah mengikuti aliran Musyabbihah yang mengartikan teks-teks mutasyabihat secara literal (zhahir)

    Ibn Taimiyah (Wahhabi) menggagas Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, sebagai piranti ideologis untuk menilai sesat kaum Muslimin yang melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat. Dalam hal ini pengikut madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi.

    RESPON: Memang amalmu sudah banyak, sehingga berani memfitnah Ibnu Taimiyah? Coba tanya kepada semua pemfitnah Ibnu Taimiyah: berapa amal saleh yang sudah mereka lakukan? Kalau amalmu belum banyak -wahai Budi Cs- tolonglah berhati-hati. Tinggalkan semua ini. Kalian akan hancur amal-amal kalian kalau membiasakan diri memfitnah para ulama Rabbani.

    Terimakasih.

    Admin.

  10. abisyakir berkata:

    @ BUDI…

    Untuk memperjelas ta’rif bid’ah mari kita uraikan sebuah kalimat sakti yang digunakan para penghujat NU bahwa: “KULLU BID’ATIN DLALAALATUN”( SEMUA BID’AH ITU SESAT). Perlu dima’lumi bersama menurut istilah Ilmu Mantiq, “KULLU” yang mengandung arti “TIAP-TIAP” disebut “KULLU” KULLIYAH sedangkan “KULLU” yang mengandung arti “SEBAGIAN” disebut “KULLU” KULLY.

    Contoh lafadz KULLU KULLIYAH: “Kullu nafsin dzaaa-iqatulmauti…” tiap-tiap orang merasakan mati.

    Contoh lafadz KULLU KULLY: “Wa ja’alnaa minal maa-i kulla syai-in hayyi..” Dan telah aku jadikan dari air sebagian mahluk yang hidup.

    Mengingat hal tersebut maka lafadz Kullu Bid’atin Dlalalatun mengandung maka KULLU KULLY bukan KULLU KULLIYAH.

    RESPON:

    Maksud Rasul SAW menjelaskan hadits itu kan agar kaum Muslimin TIDAK BERMUDAH-MUDAH membuat amal ibadah, selain yang beliau contohkan. Karena kalau kesempatan “mencipta ibadah” itu dibuka seluas-luasnya, jelas kaum Muslimin akan MENINGGALKAN SYARIAT yang diajarkan oleh Nabi SAW dan para Shahabat RA. Dengan dilarang saja masih banyak bid’ah, apalagi kalau dibuka seluas-luasnya.

    Untuk menyimpulkan uraian di atas, dapat kita ambil sebuah fatwa dari Imam Muhammad Bin Idris Asyasyafi’iy yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim sbb:
    “AL BID’ATU BID’ATAANI: BID’ATUN MAHMUUDATUN WA BID’ATUN MADZMUUMATUN FAMAA WAA FAQASSUNATA FAHUWA MAHMUUDUN WA MAA KHAALAFAHAA FAHUWA MADZMUUMUN”
    Bid’ah ada dua macam, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Ketika bid’ah tersebut sesuai Assunnah maka itulah bid’ah terpuji, jika bid’ah tersebut bertentangan dengan Assunnah maka itulah bid’ah tercela.

    RESPON: Yang dimaksud “bid’ah hasanah” di sana setahu kami adalah “amal-amal baik sesuai Syariat”; sedangkan “bid’ah dhalalah” adalah “amal-amal yang tidak ada dasarnya dalam Syariat”. Jadi bukan untuk membenarkan amal-amal tertentu yang tidak ada dasarnya dalam Syariat.

    Terimakasih.

    Admin.

  11. budi berkata:

    Jazakalloh khoiron ustad tanggapan n bantahan antum atas postingan sy,afwan sblmy perlu sy jelaskan ustad Waskito sy bkan yg pro terhadap artikel2 yg sy poskn..kadang sy sring liat status di fb yg sy mrasa tdk sreg pngin mengkonter,tpi tdk pnya ilmu yg memadai mka sy mnta bntuan antum untk menanggapi. ni ada lgi tad tentang maulid Nabi:
    FATWA DAN PENDAPAT ULAMA BESAR NAN AGUNG SEPUTAR MAULID NABI

    Berikut ini beberapa pendapat dan fatwa dari ulama kaum Muslimin yang kami kutip dari kitab-kitab ulama muktabar, namun masih banyak lagi yang belum sempat kami kutipkan ;

    Pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashriy Qaddasallahu Sirrah (wafat 116 H) yaitu generasi salafush shaleh dan ayah beliau adalah pelayan Sahabat Zaid bin Tsabit (penulis wahyu) . Imam Hasan Al-Bashriy
    pernah berjumpa sekitar 100 sahabat Nabi. Menurut Qatadah, Imam Hasan paling tahu tengtang halal dan haram, pendapatnya seperti Sahabat Umar bin Khatththab radliyallahu ‘anh, menjadi rujukan dalam
    bertanya. Menurut Hisyam bin Hasan, Imam Hasan Al-Bashriy adalah paling pandai dimasanya dan menurut Abu Umar bin al-‘Ala’, orang yang sangat fashih. Beliau mengatakan tentang betapa istimewanya Maulid Nabi,

    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺒﺼﺮﻱ، ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺮﻩ : ﻭﺩﺩﺕ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻟﻲ ﻣﺜﻞﺟﺒﻞ ﺃﺣﺪ ﺫﻫﺒﺎ ﻻﻧﻔﻘﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ

    “Seandainya aku memiliki emas seumpama gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkannya (semuanya) kepada orang yang membacakan Maulid ar-Rasul”. [1]

    Pendapat Al-Imam Ma’aruf Al-Kharkhiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 200 H), beliau juga termasuk generasi salafush shaleh yang alim, zuhud dan terkenal dikalangan fukaha’ sebagai orangyang fakih . Beliau mengungkap peringatan Maulid Nabi yang terjadi dimasa beliau, keistimewaan serta balasan bagi orang
    yang memperingati Maulid Nabi,

    ﻗﺎﻝ ﻣﻌﺮﻭﻑ ﺍﻟﻜﺮﺧﻲ ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺮﻩ : ﻣﻦ ﻫﻴﺄ ﻻﺟﻞ ﻗﺮﺍﺀﺓﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻃﻌﺎﻣﺎ، ﻭﺟﻤﻊ ﺇﺧﻮﺍﻧﺎ، ﻭﺃﻭﻗﺪ ﺳﺮﺍﺟﺎ، ﻭﻟﺒﺲﺟﺪﻳﺪﺍ، ﻭﺗﻌﻄﺮ ﻭﺗﺠﻤﻞ ﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﻤﻮﻟﺪﻩ ﺣﺸﺮﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻮﻡﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﻔﺮﻗﺔ ﺍﻻﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ، ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺃﻋﻠﻰ ﻋﻠﻴﻴﻦ

    “Al-Imam Ma’aruf Al-Kurkhiy Qaddasallahu sirrah, barangsiapa menyajikan makanan untuk pembacaan Maulid ar-Rasul, mengumpulkan saudara-saudaranya,
    menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi-wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahirannya (Maulid Nabi), maka Allah
    akan membangkitkan pada hari qiyamat beserta golongan yang utama dari Nabi-Nabi , dan ditempatkan pada tempat (derajat) yang tinggi”. [2]

    Pendapat Al-Imam Agung Nashirus Sunnah Asy-Syafi’i Rahimahullah (wafat 204 H) . Beliau
    menuturkan bahwa peringatan Maulid Nabi dilakukan dengan berjamaah dan disediakan makanan sebagai rasa cinta kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, serta beliau juga menuturkan keutamaan orang yang
    memperingatinya,

    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺟﻤﻊ ﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ ﺍﺧﻮﺍﻧﺎ ﻭﺗﻬﻴﺎﺀ ﻟﻬﻢ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻭﻋﻤﻼ ﺣﺴﺎﻧﺎ ﺑﻌﺜﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺪﻳﻘﻴﻦ ﻭﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ

    “Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “barangsiapa yang mengumpulkan orang untuk melaksanakan perayaan Maulid Nabi ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) karena kecintaan
    (ikhwanan) secara berjama’ah dengan menyediakan makanan dan berlaku baik, niscaya Allah bangkitkan di hari kiamat beserta para ahli kebenaran, syuhada dan para shalihin”.[3]

    Pendapat Al-‘Arif Billah Al-Imam As-Sirriy As-
    Saqathiy Qaddasallahu Sirrah (wafat 257 H).
    Termasuk generasi salafush shaleh yaitu generasi tabiut tabi’in , seorang yang sangat berpendirian teguh, wara, sangat alim dan ahli ilmu tauhid. Beliau mengungkapkan keutamaan memperingati Maulid Nabi karena kecintaan kepada Rasulullah dan kelak akan
    bersama dengan Rasulullah,

    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﺮﻱ ﺍﻟﺴﻘﻄﻲ : ﻣﻦ ﻗﺼﺪ ﻣﻮﺿﻌﺎ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻴﻪ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ(ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) ﻓﻘﺪ ﻗﺼﺪ ﺭﻭﺿﺔ ﻣﻦ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺠﻨﺔﻻﻧﻪ ﻣﺎ ﻗﺼﺪ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻮﺿﻊ ﺇﻻ ﻟﻤﺤﺒﺔ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ . ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﻋﻠﻴﻪﺍﻟﺴﻼﻡ : ﻣﻦ ﺃﺣﺒﻨﻲ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ

    “Imam As-Sirry As-Saqathiy berkata, barangsiapa yang menyediakan tempat untuk dibacakan Maulid Nabi ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
    ﻭﺳﻠﻢ ), maka sungguh dia menghendak “Raudhah
    (taman)” dari taman-taman surga, karena
    sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul. Dan Sungguh Rasul ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) bersabda :
    “barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku didalam surga”. [4]

    Pendapat Al-Imam Junaid Al-Baghdadiy
    Rahimahullah (wafat 297 H), masih termasuk
    generasi shalafuh shaleh . Beliau menuturkan
    beruntungnya keimanan seseorang yang menghadiri Maulid Nabi,

    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪﻱ ﺍﻟﺒﻐﺪﺍﺩﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ : ﻣﻦ ﺣﻀﺮ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝﻭﻋﻈﻢ ﻗﺪﺭﻩ ﻓﻘﺪ ﻓﺎﺯ ﺑﺎﻻﻳﻤﺎﻥ

    “Imam Junaid al-Baghdadiy rahimahullah berkata, barangsiapa yang menghadiri
    Maulid ar-Rasul dan mengagungkannya (Rasulullah), maka dia beruntung dengan keimanannya” [5]

    Pendapat Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah , beliau menuturkan tentang keutamaan Maulid Nabi sebagai berikut,

    ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ ﺧﻮﺍﺻﻪ ﺃﻧﻪ ﺃﻣﺎﻥ ﻓﻲﺫﻟﻚ ﺍﻟﻌﺎﻡ ﻭﺑﺸﺮﻯ ﻋﺎﺟﻠﺔ ﺑﻨﻴﻞ ﺍﻟﺒﻐﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﻡ

    “Al-Imam Ibnu Jauziy Rahimahullah berkata, diantara keistimewaan Maulid Nabi adalah keadaan aman (pencegah mushibah) pada tahun itu, kabar gembira serta segala kebutuhan dan keinginan terpenuhi” [6]

    Pendapat Al-Imam Abu Syamah Rahimahullah (wafat 655 H). Beliau ulama agung bermadzhab Syafi’i dan merupakan guru besar dari Al-Imam Al-Hujjah Al-Hafidz Asy-Syekhul Islam An-Nawawiy Ad-Damasyqiy Asy-Syafi’I Rahimahullah. Al-Imam Abu Syamah
    menuturkan,

    ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺃﺑﻮ ﺷﺎﻣﺔ ﺷﻴﺦ ﺍﻟﻤﺼﻨﻒ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻭﻣﻦﺃﺣﺴﻦ ﻣﺎ ﺍﺑﺘﺪﻉ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻧﻨﺎ ﻣﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻋﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻖ ﻟﻴﻮﻡ ﻣﻮﻟﺪﻩ (ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) : ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺪﻗﺎﺕﻭﺍﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﺰﻳﻨﺔ ﻭﺍﻟﺴﺮﻭﺭ، ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻊ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦﺍﻻﺣﺴﺎﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻳﺸﻌﺮ ﺑﻤﺤﺒﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲ (ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ ) ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﻭﺟﻼﻟﺘﻪ ﻓﻲ ﻗﻠﺐ ﻓﺎﻋﻞ ﺫﻟﻚ، ﻭﺷﻜﺮ ﺍﻟﻠﻪﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺇﻳﺠﺎﺩ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺭﺳﻠﻪ ﺭﺣﻤﺔﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

    “dan sebagus-bagusnya apa yang diada-
    adakan pada masa sekarang ini yaitu apa yang
    dikerjakan (rayakan) setiap tahun dihari kelahiran (Maulid) Nabi dengan bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf, menampakkan rasa kegembiraan, maka sesungguhnya yang demikian itu didalamnya ada kebaikan hingga para fuqara’ membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi, mengagungkan beliau, dan
    bersyukur kepada Allah atas perkara dimana dengan (kelahiran tersebut) menjadi sebab adanya Rasul-nya yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam” [7]

    Pendapat Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hafidz Al-Musnid Al-Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad Ibnu Abdullah Al-Jazariy Asy-Syafi’i (wafat 660 H) . Beliau adalah guru dari para Qurra’ (Ahli baca Al-Qur’an) dan Imam Qira’at pada zamannnya. Beliau memiliki karya
    Maulid yang masih berupa manuskrip (naskah tulisan tangan) yang berjudul “ ‘Arfut Ta’rif bi Al-Maulidi Asy-Syarif”. Beliau mengatakan bahwa orang yang memperingati Maulid Nabi sangat pantas untuk menampati surga yang penuh kenikmatan,

    ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﻟﻬﺐ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻧﺰﻝ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﺬﻣﻪ ﺟﻮﺯﻱ ﻓﻲﺍﻟﻨﺎﺭ ﺑﻔﺮﺣﻪ ﻟﻴﻠﺔ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﻪ ﻓﻤﺎ ﺣﺎﻝﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﺍﻟﻤﻮﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﻣﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺴﺮﺑﻤﻮﻟﺪﻩ ﻭﻳﺒﺬﻝ ﻣﺎ ﺗﺼﻞ ﺇﻟﻴﻪ ﻗﺪﺭﺗﻪ ﻓﻲ ﻣﺤﺒﺘﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪﻭﺳﻠﻢ، ﻟﻌﻤﺮﻱ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺟﺰﺍﺅﻩ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺃﻥ ﻳﺪﺧﻠﻪﺑﻔﻀﻠﻪ ﺟﻨﺎﺕ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ

    “maka jika Abu Lahab yang kafir yang diturunkan ayat al-Qur’an untuk mencelanya
    masih diberi ganjaran kebaikan didalam neraka karena bergembira pada malam Maulid Nabi, lantas bagaimana dengan seorang Muslim yang mentauhidkan Allah, yang merupakan umat dari Nabi
    ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) yang senang dengan kelahiran
    Beliau dan menafkahkan apa yang dia mampu demi kecintaannya kepada Nabi ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ). Demi Allah, sesungguhnya yang pantas bagi mereka berupa balasan dari Allah yang Maha Pemurah adalah memasukkan mereka dengan keutamannya kedalam surga yang penuh kenikmatan”[8]

    Pendapat Al-Imam Yafi’i Al-Yamaniy Rahimahullah
    (wafat 768 H) turut menuturkan keutamaan Maulid
    Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam,
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺍﻟﻴﻤﻨﻰ : ﻣﻦ ﺟﻤﻊ ﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ( ﺹ )
    ﺇﺧﻮﺍﻧﺎ ﻭﻫﻴﺄ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻭﺃﺧﻠﻰ ﻣﻜﺎﻧﺎ ﻭﻋﻤﻞ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎ ﻭﺻﺎﺭ ﺳﺒﺒﺎ
    ﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺑﻌﺜﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺪﻳﻘﻴﻦ
    ﻭﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺟﻨﺎﺕ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ “Dan
    berkata Imam Al-Yafi’iy Al-Yamani : “Barangsiapa
    yang mengumulkan saudara-saudaranya untuk
    (merayakan) Maulid Nabi, menyajikan makanan,
    beramal yang baik dan menjadikannya untuk
    pembacaan Maulid ar-Rasul, maka Allah akan
    membangkitkan pada hari Kiamat bersama para
    Shadiqin, Syuhada, Shalihin dan menempatkannya
    pada tempat yang tinggi” [9]
    Pendapat Al-Hafidz Al-Imam Al-Muhaddits
    Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Damasyqiy (777 H –
    842 H) yang telah mengarang kitab Maulid,
    diantaranya kitab Jami’ul Atsar fi Maulidin Nabiyyil
    Mukhtar (terdiri dari 3 jilid), Al-Lafdzur Roiq fi Maulidi
    Khayril Khalaiq (bentuknya ringkas), Mauridush Shadi
    fi Maulidil Had. Beliau mengatakan (dalam sebuah
    syair),
    ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻫـﺬﺍ ﻛﺎﻓﺮﺍ ﺟـﺎﺀ ﺫﻣـﻪ ﻭﺗﺒﺖ ﻳـﺪﺍﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺤـﻴﻢ ﻣﺨـﻠﺪﺍ
    ﺃﺗﻰ ﺃﻧـﻪ ﻓﻲ ﻳـﻮﻡ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ﺩﺍﺋـﻤﺎ ﻳﺨﻔﻒ ﻋﻨﻪ ﻟﻠﺴـﺮﻭﺭ ﺑﺄﺣــﻤﺪﺍ
    ﻓﻤﺎ ﺍﻟﻈﻦ ﺑﺎﻟﻌﺒﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﻃﻮﻝ ﻋﻤﺮﻩ ﺑﺄﺣﻤﺪ ﻣﺴﺮﻭﺭﺍ ﻭﻣﺎﺕ
    ﻣﻮﺣـــﺪﺍ “Jika orang kafir yang telah datang (tertera)
    celaan baginya (yakni) “dan celakalah kedua
    tangannya didalam neraka Jahannam kekal
    didalamnya” ; “Telah tiba pada (setiap) hari senin
    untuk selamanya diringankan (siksa) darinya karena
    bergembira ke (kelahiran) Ahmad ; “lantas
    bagaimanakah dugaan kita terhadap seorang hamba
    yang sepanjang usia, karena (kelahiran) Ahmad, lantas
    ia selalu bergembira dan tauhid menyertai
    kematiannya ???”[10]
    Fatwa Al-Imam Asy-Syeikhul Islam Al-Hafidz Abu Al-
    Fadhl Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (773 H –
    852H) , yang telah mensyarah kitab monumental Imam
    Bukhari (Shahih Bukhari), dan beliau beri nama
    dengan kitabnya tersebut dengan nama Fathul Bari
    ‘alaa Shahih Bukhari. Beliau memfatwakan bahwa
    amal Maulid termasuk ke dalam bid’ah Hasanah
    (perkara baru yang bagus) dan beliau juga mendapati
    dasar syara’ yang sangat terang mengenai peringatan
    Maulid Nabi,
    ﺃﺻﻞ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺑﺪﻋﺔ ﻟﻢ ﺗﻨﻘﻞ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ
    ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﻭﻥ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ، ﻭﻟﻜﻨﻬﺎ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻗﺪ ﺍﺷﺘﻤﻠﺖ ﻋﻠﻰ ﻣﺤﺎﺳﻦ
    ﻭﺿﺪﻫﺎ، ﻓﻤﻦ ﺗﺤﺮﻯ ﻓﻲ ﻋﻤﻠﻬﺎ ﺍﻟﻤﺤﺎﺳﻦ ﻭﺗﺠﻨﺐ ﺿﺪﻫﺎ ﻛﺎﻥ
    ﺑﺪﻋﺔ ﺣﺴﻨﺔ، ﻭﺇﻻ ﻓﻼ “Asal amal Maulid adalah bid’ah,
    tidak pernah ada perkataan (perbincangan) dari
    salafush shaleh dari kurun ke tiga, dan akan tetapi
    bersamanya mencakup (mengandung) kebaikan-
    kebaikan dan keburukan-keburukan. Maka
    barangsiapa yang mengambil kebaikan-kebaikannya
    pada amal Maulid dan menjauhi keburukannya maka
    itulah bid’ah Hasanah ( ﺑﺪﻋﺔ ﺣﺴﻨﺔ ), dan jika tidak
    (menjauhi keburukannya) maka tidak (bukan bid’ah
    Hasanah)” [11]
    Lebih lanjut lagi, beliau memfatwakan dasar yang
    sangat jelas tentang peringatan Maulid Nabi,
    ﻭﻗﺪ ﻇﻬﺮ ﻟﻲ ﺗﺨﺮﻳﺠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﻞ ﺛﺎﺑﺖ، ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﻴﻦ ﻣﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪﻡ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ
    ﻓﻮﺟﺪ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻳﺼﻮﻣﻮﻥ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻓﺴﺄﻟﻬﻢ؟ ﻓﻘﺎﻟﻮﺍ : ﻫﻮ
    ﻳﻮﻡ ﺃﻏﺮﻕ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻴﻪ ﻓﺮﻋﻮﻥ ﻭﻧﺠﻰ ﻣﻮﺳﻰ ﻓﻨﺤﻦ ﻧﺼﻮﻣﻪ ﺷﻜﺮﺍ
    ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﻓﻴﺴﺘﻔﺎﺩ ﻣﻨﻪ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻣَﻦَّ ﺑﻪ ﻓﻲ
    ﻳﻮﻡ ﻣﻌﻴﻦ ﻣﻦ ﺇﺳﺪﺍﺀ ﻧﻌﻤﺔ ﺃﻭ ﺩﻓﻊ ﻧﻘﻤﺔ، ﻭﻳﻌﺎﺩ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ
    ﻧﻈﻴﺮ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ، ﻭﺍﻟﺸﻜﺮ ﻟﻠﻪ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﺄﻧﻮﺍﻉ
    ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻛﺎﻟﺴﺠﻮﺩ ﻭﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﺍﻟﺘﻼﻭﺓ، ﻭﺃﻱ ﻧﻌﻤﺔ
    ﺃﻋﻈﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻌﻤﺔ ﺑﺒﺮﻭﺯ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻧﺒﻲ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻴﻮﻡ
    “dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang
    dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal penetapan
    (hokum Maulid), sebagaimana yang ditetapkan
    didalam Ash-Shahihayn bahwa sesungguhnya Nabi
    datang ke Madinah, maka (beliau) menemukan orang
    Yahudi berpuasa pada hari Asyura’, Rasulullah
    bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut)?
    Maka mereka menjawab : “Padanya adalah hari
    dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan
    menyelamatkan (Nabi) Musa, maka kami berpuasa
    untuk bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas
    semua itu)”. Maka faidah yang bisa diambil dari hal
    tersebut adalah bahwa (kebolehan) bersyukur kepada
    Allah atas sesuatu (yang terjadi) baik karena
    menerima sebuah kenikmatan yang besar atau
    penyelamatan (terhindar) dari bahaya, dan bisa
    diulang-ulang perkara (syukuran) tersebut pada hari
    (yang sama) setiap tahun. Adapun syukur kepada
    Allah dapat dilakukan dengan bermacam-macam
    Ibadah seperti sujud (sujud syukur), puasa, shadaqah
    dan tilawah (membaca al-Qur’an). dan sungguh
    adakah nikmat yang paling agung (besar) dari
    berbagai nikmat (yang ada) selain kelahiran Nabi
    (Muhammad) Nabi yang penyayang pada hari
    (peringatan Maulid) itu ?” [12]
    Pendapat A-Imam Al-Hafidz Muhammad bin
    Abdurrahman Al-Qahiriy, dikenal dengan nama Al-
    Imam As-Sakhawiy (831 H – 902 H) , beliau juga
    dikenal sebagai Ahli sejarah di Madinah, penulis kitab
    Adh-Dhaw’ul Lami’. Beliau juga telah menyusun
    sebuah karya Maulid yang diberi judul “Al-Fakhrul
    ‘Ulwi fil Mawlidin Nabawiy”
    ﻟَﻢْ ﻳُﻨْﻘَﻞْ ﻋَﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﻘُﺮُﻭْﻥِ ﺍﻟﺜَّﻼَﺛَﺔِ
    ﺍﻟْﻔَﺎﺿِﻠَﺔِ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺣَﺪَﺙَ ﺑَﻌْﺪُ، ﺛُﻢَّ ﻣَﺎ ﺯَﺍﻝَ ﺃَﻫْـﻞُ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡِ ﻓِﻲْ ﺳَﺎﺋِﺮِ
    ﺍﻷَﻗْﻄَﺎﺭِ ﻭَﺍﻟْﻤُـﺪُﻥِ ﺍﻟْﻌِﻈَﺎﻡِ ﻳَﺤْﺘَﻔِﻠُﻮْﻥَ ﻓِﻲْ ﺷَﻬْﺮِ ﻣَﻮْﻟِﺪِﻩِ -ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ
    ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺷَﺮَّﻑَ ﻭَﻛَﺮَّﻡَ- ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮْﻥَ ﺍﻟْﻮَﻻَﺋِﻢَ ﺍﻟْﺒَﺪِﻳْﻌَﺔَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺘَﻤِﻠَﺔَ
    ﻋَﻠَﻰ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﺍﻟﺒَﻬِﺠَﺔِ ﺍﻟﺮَّﻓِﻴْﻌَﺔِ، ﻭَﻳَﺘَﺼَﺪَّﻗُﻮْﻥَ ﻓِﻲْ ﻟَﻴَﺎﻟِﻴْﻪِ ﺑِﺄَﻧْﻮَﺍﻉِ
    ﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺎﺕِ، ﻭَﻳُﻈْﻬِﺮُﻭْﻥَ ﺍﻟﺴُّﺮُﻭْﺭَ، ﻭَﻳَﺰِﻳْﺪُﻭْﻥَ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﻤَﺒَﺮَّﺍﺕِ، ﺑَﻞْ
    ﻳَﻌْﺘَﻨُﻮْﻥَ ﺑِﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ ﻣَﻮْﻟِﺪِﻩِ ﺍﻟْﻜَﺮِﻳْﻢِ، ﻭَﺗَﻈْﻬَﺮُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﺮَﻛَﺎﺗِﻪِ ﻛُﻞُّ
    ﻓَﻀْﻞٍ ﻋَﻤِﻴْﻢٍ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻤَّﺎ ﺟُﺮِّﺏَ “Tidak pernah dikatakan
    (perbincangkan) dari salah seorang ulama Salafush
    Shaleh pada kurun ke tiga yang mulya dan sungguh
    itu baru ada setelahnya. Kemudian umat Islam
    diseluruh penjuru daerah dan kota-kota besar
    senantiasa memperingati Maulid Nabi ( ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
    ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺷَﺮَّﻑَ ﻭَﻛَﺮَّﻡَ ) dibulan kelahiran Beliu. Mereka
    mengadakan jamuan yang luar biasa dan diisi dengan
    perkara-perkara yang menggembirakan serta mulya,
    dan bershaqadah pada malam harinya dengan
    berbagai macam shadaqah, menampakkan
    kegembiraan, bertambahnya kebaikan bahkan
    diramaikan dengan pembacaan (buku-buku) Maulid
    Nabi yang mulya, dan menjadi teranglah (jelaslah)
    keberkahan dan keutamaan (Maulid Nabi) secara
    merata dan semua itu telah teruji.[13]
    Selanjutnya,
    ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : “ ﻗُﻠْﺖُ : ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻮْﻟِﺪُﻩُ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻒُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻷَﺻَﺢِّ ﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻹِﺛْﻨَﻴْﻦِ
    ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻲَ ﻋَﺸَﺮَ ﻣِﻦْ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﺑِﻴْﻊ ﺍﻷَﻭَّﻝِ، ﻭَﻗِﻴْﻞَ : ﻟِﻠَﻴْﻠَﺘَﻴْﻦِ ﺧَﻠَﺘَﺎ ﻣِﻨْﻪُ،
    ﻭَﻗِﻴْﻞَ : ﻟِﺜَﻤَﺎﻥٍ، ﻭَﻗِﻴْﻞَ : ﻟِﻌَﺸْﺮٍ ﻭَﻗِﻴْﻞَ ﻏَﻴْﺮُ ﺫَﻟِﻚَ، ﻭَﺣِﻴْﻨَﺌِﺬٍ ﻓَﻼَ ﺑَﺄْﺱَ
    ﺑِﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﻲْ ﻫﺬِﻩِ ﺍﻷَﻳَّﺎﻡِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻴَﺎﻟِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺍﻻﺳْﺘِﻄَﺎﻋَﺔِ
    ﺑَﻞْ ﻳَﺤْﺴُﻦُ ﻓِﻲْ ﺃَﻳَّﺎﻡِ ﺍﻟﺸَّﻬْﺮِ ﻛُﻠِّﻬَﺎ ﻭَﻟَﻴَﺎﻟِﻴْﻪِ “Kemudian (beliau)
    berkata : “aku katakan : adanya (tanggal) kelahiran
    Nabi Asy-Syarif yang paling shahih adalah pada
    malam Senin, 12 Rabi’ul Awwal. Dikatakan (qoul yang
    lain) : pada malam tanggal 2, dikatakan juga pada
    tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak
    mengapa mengerjakan kebaikan pada setiap hari-hari
    ini dan malam-malamnya dengan persiapan
    (kemampuan) yang ada bahkan bagus dilakukan pada
    hari-hari dan malam-malam bulan (Rabi’ul
    Awwal)”[14]
    Fatwa Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy
    (849 H – 911 H) , didalam kitabnya beliau menuturkan
    bahwa sangat jelas dasar syara’ mengenai peringatan
    Maulid Nabi,
    ﻭﻗﺪ ﻇﻬﺮ ﻟﻲ ﺗﺨﺮﻳﺠﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﺻﻞ ﺁﺧﺮ، ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﺃﺧﺮﺟﻪ
    ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻖ ﻋﻦ
    ﻧﻔﺴﻪ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﺓ، ﻣﻊ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﻭﺭﺩ ﺃﻥ ﺟﺪﻩ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻤﻄﻠﺐ ﻋﻖ
    ﻋﻨﻪ ﻓﻲ ﺳﺎﺑﻊ ﻭﻻﺩﺗﻪ، ﻭﺍﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻻ ﺗﻌﺎﺩ ﻣﺮﺓ ﺛﺎﻧﻴﺔ ﻓﻴﺤﻤﻞ ﺫﻟﻚ
    ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻓﻌﻠﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﻟﻠﺸﻜﺮ
    ﻋﻠﻰ ﺇﻳﺠﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻳﺎﻩ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ، ﻭﺗﺸﺮﻳﻊ ﻷﻣﺘﻪ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ
    ﻳﺼﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻧﻔﺴﻪ، ﻟﺬﻟﻚ ﻓﻴﺴﺘﺤﺐ ﻟﻨﺎ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﺸﻜﺮ
    ﺑﻤﻮﻟﺪﻩ ﺑﺎﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﻭﺇﻃﻌﺎﻡ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭﻧﺤﻮ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﻭﺟﻮﻩ
    ﺍﻟﻘﺮﺑﺎﺕ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﻤﺴﺮﺍﺕ “dan sungguh sangat jelas
    bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal yang
    lain (dari pendapat Imam Ibnu Hajar) yaitu apa yang
    diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqiy dari Anas
    bahwa sesungguhnya Nabi ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ )
    mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa)
    kenabian, (padahal) sesungguhnya telah dijelaskan
    (riwayat) bahwa kakek beliau Abdul Mutthalib telah
    mengaqiqahkan (untuk Nabi) pada hari ke tujuh
    kelahirannya. adapun aqiqah tidak ada perulangan dua
    kali, maka dari itu sungguh apa yang dilakukan oleh
    Nabi ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) menerangkan tentang (rasa)
    syukur beliau karena Allah telah mewujudkan
    (menjadikan) beliau sebagai rahmat bagi semesta
    alam, dan sebagai landasan bagi umatnya. Oleh
    karena itu, maka juga boleh (mustahab/patut) bagi
    kita untuk menanamkan (menerangkan) rasa syukur
    kita dengan kelahirannya (Rasulullah) dengan
    mengumpulkan (kaum Muslimin), menyajikan makanan
    dan semacamnya dari (sebagai) perwujudan untuk
    mendekatkan diri (kepada Allah) dan menunjukkan
    kegembiraan (karena kelahiran beliau)”. [15]
    Fatwa beliau lainnya menyatakan bahwa orang yang
    memperingati Maulid Nabi akan mendapatkan pahala
    dan peringatan Maulid Nabi termasuk kedalam bid’ah
    hasanah. Beliau ditanya tentang Maulid Nabi,
    ﻓﻘﺪ ﻭﻗﻊ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻦ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ،
    ﻣﺎ ﺣﻜﻤﻪ ﻣﻦ ﺣﻴﺚ ﺍﻟﺸﺮﻉ؟ ﻭﻫﻞ ﻫﻮ ﻣﺤﻤﻮﺩ ﺃﻭ ﻣﺬﻣﻮﻡ؟
    ﻭﻫﻞ ﻳﺜﺎﺏ ﻓﺎﻋﻠﻪ ﺃﻭ ﻻ؟ ﺍﻟﺠـــــﻮﺍﺏ ﻋﻨﺪﻱ ﺃﻥ ﺃﺻﻞ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ
    ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﺍﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﺎ ﺗﻴﺴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺭﻭﺍﻳﺔ
    ﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﻣﺒﺪﺃ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﺎ
    ﻭﻗﻊ ﻓﻲ ﻣﻮﻟﺪﻩ ﻣﻦ ﺍﻵﻳﺎﺕ ﺛﻢ ﻳﻤﺪ ﻟﻬﻢ ﺳﻤﺎﻁ ﻳﺄﻛﻠﻮﻧﻪ
    ﻭﻳﻨﺼﺮﻓﻮﻥ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺯﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻫﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ
    ﺍﻟﺘﻲ ﻳﺜﺎﺏ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﻗﺪﺭ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ
    ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻭﺍﻻﺳﺘﺒﺸﺎﺭ ﺑﻤﻮﻟﺪﻩ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ
    ﻭﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﺻﺎﺣﺐ ﺍﺭﺑﻞ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻤﻈﻔﺮ ﺃﺑﻮ
    ﺳﻌﻴﺪ ﻛﻮﻛﺒﺮﻯ ﺑﻦ ﺯﻳﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺑﻜﺘﻜﻴﻦ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻤﻠﻮﻙ
    ﺍﻷﻣﺠﺎﺩ ﻭﺍﻟﻜﺒﺮﺍﺀ ﺍﻷﺟﻮﺍﺩ، ﻭﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﺁﺛﺎﺭ ﺣﺴﻨﺔ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻤﺮ
    ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﻤﻈﻔﺮﻱ ﺑﺴﻔﺢ ﻗﺎﺳﻴﻮﻥ “Sungguh telah ada
    pertanyaaan tentang peringatan Maulid Nabi pada
    bulan Rabiul awwal, tentang bagaimana hukumnya
    menurut syara’ dan apakah termasuk kebaikan atau
    keburukan serta apakah orang yang memperingatinya
    mendapatkan pahala ?” Jawabannya, menurutku pada
    dasarnya amal Maulid itu adalah berkumpulnya
    manusai, membaca apa yang dirasa mudah dari Al-
    Qur’an, riwayat hadits-hadits tentang permualaan
    perintah Nabi serta tanda-tanda yang datang
    mengiringi kelahiran Nabi kemudian disajikan beberapa
    hidangan bagi mereka selanjutnya mereka bubar
    setelah itu tanpa ada tambahan-tambahan lain, itu
    termasuk kedalam Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik)
    yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya.
    Karena perkara didalamnya adalah bagian dari
    pengagungan terhadap kedudukan Nabi dan
    merupakan menampakkan rasa gembira dan suka cita
    dengan kelahiran yang Mulya (Nabi Muhammad, dan
    yang pertama mengadakan hal semacam itu
    (perayaan besar) adalah penguasa Irbil, Raja al-
    Mudhaffar Abu Sa’id Kaukabri bin Zainuddin Ali Ibnu
    Buktukin, salah seorang raja yang mulya, agung dan
    demawan. Beliau memiliki peninggal yang hasanah/
    baik ( ﺁﺛﺎﺭ ﺣﺴﻨﺔ ), dan beliau lah yang membangun al-
    Jami’ al-Mudhaffariy dilembah Qasiyun”. [16]
    Al-Imam As-Suyuthiy juga memfatwakan ketika ada
    syubhat yang menyatakan bahwa memperingati
    wafatnya Nabi itu lebih pantas daripada memperingati
    Maulid Nabi, dalam hal ini beliau membantahnya
    sebagai berikut,
    ﺇﻥ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﻋﻠﻴﻨﺎ، ﻭﻭﻓﺎﺗﻪ
    ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ ﻟﻨﺎ، ﻭﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺣﺜﺖ ﻋﻠﻰ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻜﺮ ﺍﻟﻨﻌﻢ،
    ﻭﺍﻟﺼﺒﺮ ﻭﺍﻟﺴﻠﻮﺍﻥ ﻭﺍﻟﻜﺘﻢ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺼﺎﺋﺐ، ﻭﻗﺪ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﺸﺮﻉ
    ﺑﺎﻟﻌﻘﻴﻘﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻮﻻﺩﺓ، ﻭﻫﻲ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺷﻜﺮ ﻭﻓﺮﺡ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﻮﺩ، ﻭﻟﻢ
    ﻳﺄﻣﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺑﺬﺑﺢ ﻭﻻ ﻏﻴﺮﻩ، ﺑﻞ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ﻭﺇﻇﻬﺎﺭ
    ﺍﻟﺠﺰﻉ، ﻓﺪﻟﺖ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺤﺴﻦ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﻬﺮ
    ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻮﻻﺩﺗﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺩﻭﻥ ﺇﻇﻬﺎﺭ ﺍﻟﺤﺰﻥ
    ﻓﻴﻪ ﺑﻮﻓﺎﺗﻪ “Sesungguhnya kelahiran Nabi ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) adalah paling agungnya kenikmatan bagi
    kita semua, dan wafatnya Beliau ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ )
    adalah musibah yang paling besar bagi kita semua.
    Adapun syariat menganjurkan (menampakkan) untuk
    mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan. Dan
    bersabar serta tenang ketika tertimpa mushibah. Dan
    sungguh syari’at memerintahkan untuk (menyembelih)
    beraqiqah ketika (seorang anak) lahir, dan supaya
    menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan
    kelahirannya, dan tidak memerintahkan untuk
    menyembelih sesuatu atau melakukan hal yang lain
    ketika kematiannya, bahkan syariat melarang meratap
    (an-niyahah) dan menampakkan keluh kesah
    (kesedihan). Maka (dari sini) jelas bahwa kaidah-
    kaidah syariat menunjukkan yang baik baik (yang
    paling layak) pada bulan ini (bulan Maulid) adalah
    menampakkan rasa gembira atas kelahirannya (Nabi
    Muhammad ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) dan bukan (malah)
    menampakkan kesedihan (mengungkapkan) kesedihan
    atas wafatnya Beliau” [17]
    Bantahan beliau, sebagaimana juga pernyataan Al-
    Imam Ibnu Rajab,
    ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺭﺟﺐ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻠﻄﺎﺋﻒ ﻓﻲ ﺫﻡ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﺔ ﺣﻴﺚ
    ﺍﺗﺨﺬﻭﺍ ﻳﻮﻡ ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻣﺄﺗﻤﺎ ﻷﺟﻞ ﻗﺘﻞ ﺍﻟﺤﺴﻴﻦ : ﻟﻢ ﻳﺄﻣﺮ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻭﻻ ﺭﺳﻮﻟﻪ ﺑﺎﺗﺨﺎﺫ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﺼﺎﺋﺐ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻭﻣﻮﺗﻬﻢ ﻣﺄﺗﻤﺎ ﻓﻜﻴﻒ
    ﻣﻤﻦ ﻫﻮ ﺩﻭﻧﻬﻢ “dan sungguh telah berkata Ibnu Rajab
    di dalam kitab “al-Lathif” ( ﺍﻟﻠﻄﺎﺋﻒ) tentang celaan
    terhadap ‘Ar-Rafidlah’ bahwa mereka telah menjadikan
    hari Asyura sebagai hari berkabung (bersedih) karena
    bertepatan dengan hari (pembunuhan) wafatnya
    sayyidina Husain : Sedangkan Allah dan Rasul-Nya
    tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari-
    hari mushibah dan kematian para Nabi sebagai hari
    bersedih, maka bagaimana dengan orang derajatnya
    berada dibawah mereka ?” [18]
    Lebih jauh lagi, Al-Imam As-Suyuthiy menjelaskan
    keutamaan tempat dan orang yang memperingati
    Maulid Nabi,
    ﻗﺎﻝ ﺳﻠﻄﺎﻥ ﺍﻟﻌﺎﺭﻓﻴﻦ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻲ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ
    ﺍﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺸﻤﺎﺋﻞ : ﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻴﺖ ﺃﻭ ﻣﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻣﺤﻠﺔ
    ﻗﺮﺉ ﻓﻴﻪ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ (ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) ﻫﻼ ﺣﻔﺖ
    ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺑﺄﻫﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻋﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺎﻟﺮﺣﻤﺔ ﻭﺍﻟﻤﻄﻮﻗﻮﻥ
    ﺑﺎﻟﻨﻮﺭ – ﻳﻌﻨﻲ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﻭﻣﻴﻜﺎﺋﻞ ﻭﺇﺳﺮﺍﻓﻴﻞ ﻭﻗﺮﺑﺎﺋﻴﻞ ﻭﻋﻴﻨﺎﺋﻴﻞ
    ﻭﺍﻟﺼﺎﻓﻮﻥ ﻭﺍﻟﺤﺎﻓﻮﻥ ﻭﺍﻟﻜﺮﻭﺑﻴﻮﻥ – ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ
    ﻛﺎﻥ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “Berkata
    Shulthan Al-‘Arifin Jalaluddin As-Suyuthiy didalam
    kitabnya “al-Wasail fiy Syarhi Asy-Syamil” : “tiada
    sebuah rumah atau masjid atau tempat pun yang
    dibacakan didalamnya Maulid Nabi ( ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
    ﻭﺳﻠﻢ ) melainkan dipenuhi Malaikat yang meramaikan
    penghuni tempat itu (menyelubunyi tempat itu) dan
    Allah merantai Malaikat itu dengan rahmat dan
    Malaikat bercahaya (menerangi) itu antara lain
    Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail, ‘Aynail, ash-
    Shaafun, al-Haafun dan al-Karubiyyun. Maka
    sesungguhnya mereka (malaikat) itulah yang
    mendo’akannya karena membaca Maulid Nabi” [19]
    Lanjut lagi,
    ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﺎ ﻣﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻗﺮﺉ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ (ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) ﺇﻻ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻘﺤﻂ ﻭﺍﻟﻮﺑﺎﺀ ﻭﺍﻟﺤﺮﻕ .
    ﻭﺍﻵﻓﺎﺕ ﻭﺍﻟﺒﻠﻴﺎﺕ ﻭﺍﻟﻨﻜﺒﺎﺕ ﻭﺍﻟﺒﻐﺾ ﻭﺍﻟﺤﺴﺪ ﻭﻋﻴﻦ ﺍﻟﺴﻮﺀ
    ﻭﺍﻟﻠﺼﻮﺹ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺒﻴﺖ، ﻓﺈﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﻫﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
    ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻮﺍﺏ ﻣﻨﻜﺮ ﻭﻧﻜﻴﺮ، ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻣﻘﻌﺪ ﺻﺪﻕ ﻋﻨﺪ ﻣﻠﻴﻚ
    ﻣﻘﺘﺪﺭ “tiada seorang Muslim pun yang didalam
    rumahnya dilakukan pembacaan Maulid Nabi
    shallallahu ‘alayhi wa sallam kecuali Allah akan
    mengangkat wabah kemarau, kebakaran, karam,
    kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan
    pendengaran yang jahat, (terhindar) dari pencuri ahli-
    ahli rumah tersebut. Maka jika apabila mati, Allah
    akan memudahkan baginya dalam menjawab
    (pertanyaan) Malaikat Munkar dan Nakir. Dan mereka
    akan ditempatkan didalam tempat yang benar pada
    sisi-sisi raja yang berkuasa” [20]
    Pendapat Al-Imam Ibnu Al-Hajj Al-Maliki
    Rahimahullah (ulama madzhab Malikiyyah) ,
    ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺤﺎﺝ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻧﺰﺩﺍﺩ ﻳﻮﻡ
    ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮ ﻣﻦ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﻭﺍﻟﺨﻴﺮ
    ﺷﻜﺮﺍ ﻟﻠﻤﻮﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺃﻭﻻﻧﺎ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻨﻌﻢ ﺍﻟﻌﻈﻴﻤﺔ ﻭﺃﻋﻈﻤﻬﺎ
    ﻣﻴﻼﺩ ﺍﻟﻤﺼﻄﻔﻰ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ “Menjadi sebuah
    kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran
    kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabi’ul Awwal
    karena Dia (Allah) telah mengaruniakan kepada kita
    nikmat yang sangat besar dengan lahirnya Al-
    Musthafa Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam” [21]
    ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻳﻀﺎ : ﻭﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻔﺮﺡ
    ﺑﻠﻴﻠﺔ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﻭﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ “berkata lagi, dan
    mengagungkan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam
    adalah gembira pada malam kelahirannya dan
    melakukan pembacaan Maulid Nabi” [22]
    Pendapat seorang Imam yang besar, tokoh yang
    sangat terkenal, penjaga Islam, tumpuan banyak
    orang, tempat rujukan para Ahli hadits yang sangat
    terkenal, Al-Hafidz Abdurrahim bin Al-Husain bin
    Abdurrahman Al-Mishriy yang terkenal dengan Al-
    Hafidz Al-Iraqiy (wafat 808 H) . Beliau memiliki kitab
    Maulid yang dinamakan dengan “Al-Mawridul Haniy fiy
    Mawlidis Saniy”,
    ﺇﻥ ﺍﺗﺨﺎﺫ ﺍﻟﻮﻟﻴﻤﺔ ﻭﺇﻃﻌﺎﻡ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻭﻗﺖ،
    ﻓﻜﻴﻒ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﻀﻢ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻭﺍﻟﺴﺮﻭﺭ ﺑﻈﻬﻮﺭ ﻧﻮﺭ ﺍﻟﻨﺒﻲ
    ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ، ﻭﻻ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ
    ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺪﻋﺔ ﻛﻮﻧﻪ ﻣﻜﺮﻭﻫﺎ، ﻓﻜﻢ ﻣﻦ ﺑﺪﻋﺔ ﻣﺴﺘﺤﺒﺔ ﺑﻞ ﻗﺪ
    ﺗﻜﻮﻥ ﻭﺍﺟﺐ “Sungguh melakukan perayaan (walimah)
    dan memberikan makan disunnahkan pada setiap
    waktu, apalagi jika padanya disertai dengan
    kesenangan dan kegembiraan dengan kehadiran
    Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada bulan
    yang mulya ini, dan tidaklah setiap bid’ah itu makruh
    (dibenci), betapa banyak bid’ah yang disunnahkan
    bahkan diwajibkan” [23]
    Pendapat Al-Imam Ibnu ‘Abidin didaam kitab
    syarahnya atas kitab Maulid Imam Ibnu Hajar,
    ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺎﺑﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻪ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﻣﻦ
    ﺍﻟﺒﺪﻉ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﺩﺓ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻬﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﻟﺪ ﻓﻴﻪ
    ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻳﻀﺎً : ﻓﺎﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺍﺳﺘﻤﺎﻉ ﻗﺼﺔ
    ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺍﺕ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ ﻭﺃﻛﻤﻞ ﺍﻟﺘﺤﻴﺎﺕ ﻣﻦ
    ﺃﻋﻈﻢ ﺍﻟﻘﺮﺑﺎﺕ ﻟﻤﺎ ﻳﺸﺘﻤﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺠﺰﺍﺕ ﻭﻛﺜﺮﺓ
    ﺍﻟﺼﻠﻮﺍﺕ “Ketahuilah olehmu bahwa sebagian dari
    perkara baru yang terpuji (bid’ah mahmudah) adalah
    amal Maulid Nabi Asy-Syarif pada bulan yang mana
    Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam di lahirkan
    didalamnya”,,,[24]
    Pendapat Asy-Syekh Husnain Muhammad Makhluf
    (Syeikhul Azhar) Rahimahullah ,
    ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺣﺴﻨﻴﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﺨﻠﻮﻑ ﺷﻴﺦ ﺍﻷﺯﻫﺮ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ
    ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺇﻥ ﻣﻦ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ، ﻭﻟﻴﺎﻟﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺸﻬﺮ
    ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺷﺮﻕ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻨﻮﺭ ﺍﻟﻤﺤﻤﺪﻱ ﺇﻧﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺬﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ
    ﻭﺷﻜﺮﻩ ﻟﻤﺎ ﺃﻧﻌﻢ ﺑﻪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﻣﻦ ﻇﻬﻮﺭ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺇﻟﻰ
    ﻋﺎﻟﻢ ﺍﻟﻮﺟﻮﺩ، ﻭﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺃﺩﺏ ﻭﺧﺸﻮﻉ ﻭﺑﻌﺪ ﻋﻦ
    ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ ﻭﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ، ﻭﻣﻦ ﻣﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﺸﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﺣﺒﻪ
    ﻣﻮﺍﺳﺎﺓ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺟﻴﻦ ﺑﻤﺎ ﻳﺨﻔﻒ ﺿﺎﺋﻘﺘﻬﻢ ﻭﺻﻠﺔ ﺍﻷﺭﺣﺎﻡ،
    ﻭﺍﻹﺣﻴﺎﺀ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﺄﺛﻮﺭ ﻓﻲ ﻋﻬﺪﻩ ﺻﻠﻰ
    ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﺇﻻ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ
    ﻭﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ “Sunggung barangsiapa menghidupkan
    malam Maulid Nabi Asy-Syarif dan malam-malam-
    malam bulan yang mulya ini yang menerangi
    didalamnya dengan cahaya Muhammadiy yaitu dengan
    berdzikir kepada Allah, bersyukur atas nikmat-nikmat
    yang diberikan kepada umat ini termasuk dilahirkannya
    makhluk terbaik (Nabi Muhammad) ke ala mini, dan
    tidak ada yang demikian itu kecuali dengan sebuah
    akhlak dan kekhusuan serta menjauhi hal-hal yang
    diharamkan, amalan bid’ah serta kemungkaran-
    kemungkaran. Dan termasuk menampakkan
    kesyukuran sebagai bentuk kecintaan yaitu
    menyantuni orang-orang tidak mampu, menjalin
    shilaturahim dan menghidupkan dengan cara ini
    walaupun tidak ada pada zaman Rasulullah shallallahu
    ‘alayhi wa sallam dan tidak pula ada dimasa salafush
    shaleh adalah tidak apa-apa serta termasuk sunnah
    hasanah” [25]
    Pendapat Asy-Syekh Muhammad Mutawalla Asy-
    Sya’rawiy Rahimahullah ,
    ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﻣﺘﻮﻟﻲ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﻭﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﺇﻛﺮﺍﻣﺎً
    ﻟﻬﺬﻩ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺤﻖ ﻟﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﻈﻬﺮ ﻣﻌﺎﻟﻢ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﻭ
    ﺍﻻﺑﺘﻬﺎﺝ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻟﺬﻛﺮﻯ ﺍﻟﺤﺒﻴﺒﺔ ﻟﻘﻠﻮﺑﻨﺎ ﻛﻞ ﻋﺎﻡ، ﻭﺫﻟﻚ
    ﺑﺎﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﻭﻗﺘﻬﺎ “Melakukan penghormatan untuk
    Maulid yang mulya ini, maka sesungguhnya itu hak
    bagi kita untuk menampakkan kegembiraan dan ..[26]
    Pendapat Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy
    Rahimahullah ,
    ﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﺍﻟﻬﻴﺜﻤﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﺍﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ
    ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻰ ﻧﺪﺑﻬﺎ، ﻭﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﻭﺍﺟﺘﻤﺎﻉ
    ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻟﻪ ﻛﺬﻟﻚ، ﺃﻱ ﺑﺪﻋﺔ ﺣﺴﻨﺔ “walhasil, sesungguhnya
    bid’ah hasanah itu selarasa dengan sebuah
    kesunnahan, dan amal Maulid Nabi serta
    berkumpulnya manusia untuk memperingati yang
    demikian adalah bid’ah hasanah” [27]
    Pendapat Al-Imam Al-Hafidz Al-Qasthalaniy
    Rahimahullah ,
    ﻓﺮﺣﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻣﺮﺀﺍ ﺍﺗﺨﺬ ﻟﻴﺎﻟﻲ ﺷﻬﺮ ﻣﻮﻟﺪﻩ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺃﻋﻴﺎﺩﺍ،
    ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺃﺷﺪ ﻋﻠﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﻣﺮﺽ ﻭﺇﻋﻴﺎﺀ ﺩﺍﺀ “maka
    Allah akan memberikan rahmat bagi orang-orang yang
    menjadian Maulid Nabi yang penuh berkah sebagai
    perayaan…”[28]
    ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻘﺴﻄﻼﻧﻲ ﺕ 922 ﻫـ ﻣﻦ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﺪ
    ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﺑﻤﺎ ﻫﻮ ﻣﺸﺮﻭﻉ ﻻ ﻣﻨﻜﺮ ﻓﻴﻪ، ﻭﺍﺳﺘﺸﻒ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺠﻮﺍﺯ ﻣﻦ
    ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﺑﺎﺏ ﺍﻟﺠﻨﺎﺋﺰ ﻣﻦ ﻛﻮﻥ ﺃﺑﻰ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ
    ﺗﻤﻨﻰ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻟﻜﻮﻧﻪ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﻟﺪ ﻓﻴﻪ
    ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭ ﻓﻴﻪ ﺗﻮﻓﻲ “sebagain dari
    kebolehan merayakan Maulid Nabi Nabawi dengan
    perkara yang masyru’ (disyariatkan) bukan dengan
    kemungkaran, [29]
    Pendapat Al-Imam Al-Alusiy dalam kitab tafsirnya,
    ﻣﺎ ﺍﺳﺘﻨﺒﻄﻪ ﺍﻷﻟﻮﺳﻰ ﻣﻦ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ “ﻗﻞ ﺑﻔﻀﻞ
    ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺭﺣﻤﺘﻪ ﻓﺒﺬﻟﻚ ﻓﻠﻴﻔﺮﺣﻮﺍ ” ﺍﻵﻳﺔ 58 ﻳﻮﻧﺲ . ﻓﺎﻟﺮﺳﻮﻝ
    ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺭﺣﻤﺔ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﻋﺰ ﻭ ﺟﻞ ” ﻭﻣﺎ ﺃﺭﺳﻠﻨﺎﻙ
    ﺇﻻ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠﻌﺎﻟﻤﻴﻦ ” ﺍﻵﻳﺔ 107 ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ. ﻭ ﻛﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﻲ
    ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ : ” ﺇﻧﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺭﺣﻤﺔ ﻣﻬﺪﺍﺓ ” ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺤﺎﻛﻢ ﻓﻲ ﻣﺴﺘﺪﺭﻛﻪ
    ﻋﻦ ﺃﺑﻰ ﻫﺮﻳﺮﺓ. ﻓﻮﺟﺐ ﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﻭ ﺍﻟﻔﺮﺡ ﺑﻬﺬﻩ
    ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ “Firman Allah, “Katakanlah: “Dengan kurnia
    Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka
    bergembira” (Yunus : 58), dan Rasulullah shallallahu
    ‘alayhi wa sallam adalah rahmat sebagaimana yang di
    firmankan Allah ‘azza wa jallah, “Dan tiadalah Kami
    mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
    bagi semesta alam”, sebagaiman juga didalam hadits,
    “sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan
    Allah” (riwayat Imam Hakim dalam ktab Mustadraknya
    dari Abu Hurairah), maka wajib bagi sebagian dari kita
    untuk merayakannya dan bergembira dengan rahmat
    ini” [30]
    Pendapat Al-‘Allamah Asy-Syekh Ahmad Zaini
    Dahlan , mantan Mufti Madzhab Syafi’iyyah di Mekkah,
    ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫﺍ ﺳﻤﻌﻮﺍ ﺫﻛﺮﻯ ﻭﺿﻌﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
    ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻣﻮﻥ ﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭ ﻫﺬﺍ ﻗﻴﺎﻡ
    ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭ
    ﻗﺪ ﻓﻌﻞ ﺫﻟﻚ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻧﻘﺘﺪﻱ ﺑﻬﻢ
    “Kebiasaan manusia ketika disebut tentang Nabi
    shallallahu ‘alayhi wa sallam berdiri untuk
    menghormati beliau dan berdiri ini disunnahkan untuk
    menghormati Nabi, dan sungguh telah banyak ulama
    kaum Muslimin yang melakukan seperti yang
    demikian”’ [31]
    Pendapat Al-‘Allamah As-Syekh As-Sayyid
    Muhammad Ibnu Alwi Al-Maliki Al-Hasaniy
    Rahimahullah ,
    ﺇﻧﻨﺎ ﻧﺮﻯ ﺃﻥ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻟﻴﺴﺖ ﻟﻪ ﻛﻴﻔﻴﺔ
    ﻣﺨﺼﻮﺻﺔ ﻻﺑﺪ ﻣﻦ ﺍﻻﻟﺘﺰﺍﻡ ﺃﻭ ﺇﻟﺰﺍﻡ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻬﺎ ، ﺑﻞ ﺇﻥ ﻛﻞ ﻣﺎ
    ﻳﺪﻋﻮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﻳﺠﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻬﺪﻯ ﻭ ﻳﺮﺷﺪﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ
    ﻓﻴﻪ ﻣﻨﻔﻌﺘﻬﻢ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﺩﻧﻴﺎﻫﻢ ﻳﺤﺼﻞ ﺑﻪ ﺗﺤﻘﻴﻖ ﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ
    ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻓﻠﻮ ﺍﺟﺘﻤﻌﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺪﺍﺋﺢ
    ﺍﻟﺘﻲ ﻓﻴﻬﺎ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﺻﻠّﻯﺎﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻭﻓﻀﻠﻪ ﻭﺟﻬﺎﺩﻩ
    ﻭﺧﺼﺎﺋﺼﻪ ﻭﻟﻢ ﻧﻘﺮﺃ ﺍﻟﻘﺼﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻌﺎﺭﻑ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﻗﺮﺍﺀﺗﻬﺎ
    ﻭﺍﺻﻄﻠﺤﻮﺍ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﻇﻦ ﺍﻟﺒﻌﺾ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﻻ ﻳﺘﻢ
    ﺇﻻ ﺑﻬﺎ ، ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻤﻌﻨﺎ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻳﻠﻘﻴﻪ ﺍﻟﻤﺘﺤﺪﺛﻮﻥ ﻣﻦ ﻣﻮﺍﻋﻆ
    ﻭﺇﺭﺷﺎﺩﺍﺕ ﻭﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻳﺘﻠﻮﻩ ﺍﻟﻘﺎﺭﺉ ﻣﻦ ﺁﻳﺎﺕ “Kami
    memandang sesungguhnya memperingati Maulid Nabi
    yang mulya itu tidak mempunyai bentuk-bentuk yang
    khusus yang mana semua orang harus dan diharuskan
    untuk melaksanakannya. Akan tetapi segala sesuatu
    yang dilakukan, yang dapat menyeru dan mengajak
    manusia kepada kebaikan dan mengumpulkan manusia
    atas petunjuk (agama) serta menunjuki mereka
    kepada hal-hal yang membawa manfaat bagi mereka,
    untuk dunia dan akhirat maka hal itu dapat digunakan
    untuk memperingati Maulid Nabi, Oleh karena itu
    andaikata kita berkumpul dalam suatu majelis yang
    disitu dibacakan puji-pujian yang menyanjung Al-
    Habib (Sang Kekasih yakni Nabi Muhammad),
    keutamaan beliau, jihad (perjuangan) beliau, dan
    kekhususan-kekhususan yang berada pada beliau ;
    lalu kita tidak membaca kisah Maulid Nabi – yang
    telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan
    mereka menyebutnya dengan istilah “Maulid” (seperti
    Maulid Diba’, Barzanji, Syaraful Anam, Al-Habsyi, dan
    lain sebagainya), yang nama sebagian orang
    menyangka bahwa peringatan Maulid Nabi itu tidak
    lengkap tanpa pembacaan kisah-kisah Maulid
    tersebut- kemudian kita mendengarkan mau’idzah-
    mau’idzoh (peringatan-peringatan), pengarahan-
    pengarahan, nasehat-nasehat yang disampaikan oleh
    para ulama dan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan
    oleh seorang Qari” [32]

    Lebih lanjut,

    ﺃﻗﻮﻝ : ﻟﻮ ﻓﻌﻠﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﺩﺍﺧﻞ ﺗﺤﺖ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻭﻳﺘﺤﻘﻖ ﺑﻪ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ،ﻭﺃﻇﻦ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﻻ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﺛﻨﺎﻥ ﻭﻻ ﻳﻨﺘﻄﺢ ﻓﻴﻪﻋﻨـﺰﺍﻥ

    “andaikan kita melakukan itu semua maka itu
    sama halnya dengan kita membaca kisah Maulid Nabi yang Mulya tersebut dan itu termasuk dalam makna memperingati Maulid Nabi yang Mulya. Dan saya yakin bahwa peringatan yang saya maksudkan ini
    tidak menimbulkan perbedaan serta adu domba antara dua kelompok”[33]

    Demikianlah yang bisa kami sebutkan mengenai fatwa-fatwa dan pendapat-pendapat ulama-ulama besar nan agung Kaum Muslimin, masih banyak fatwa ulama lainnya yang dituturkan dalam kitab mereka
    seperti fatwa al-‘arif billah Abu Abdullah Muhammad bin Ibad, Asy-Syekh DR. Asy-Syarbasiy, Al-Imam Taqiyuddin As-Subki, Asy-Syekh Rasyid Ridla, Al-Imam Al-Wansyarsiy termasuk juga Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah * dan lain sebagainya. Semoga
    Allah senantiasa menjaga kita dari tipudaya para penipu yang senantiasa mengincar umat Islam untuk dijauhkan dari ulama yang benar-benar mumpuni, yang lebih paham akan agama ini. Amin..!!!
    ﻭﺍﻟﻠﻪﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻋﻠﻢ

    Catatan Kaki : 1. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 2. Ibid, hal. 415. 3. Kitab Madarijus Su’uud hal. 16, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh An-
    Nawawiy Ats-Tsaniy (Sayyid Ulama Hijaz) 4. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 5. Ibid, hal. 415. 6. Ibid, hal. 416 ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin
    Burnahuddin Al-Halabiy. 7. Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 8. Ibid, hal.415 ; kitab Anwarul Muhammadiyah hal.20, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Yusuf An-Nabhaniy. Darul
    Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut – Lebanon. 9. Ibid, hal. 415. 10. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy 11. Ibid. 12. Ibid. 13. Tercantum dalam kitab Al-Ajwibah al-Mardliyyah ; Kitab I’anah Thalibin (Syarah Fathul Mu’in) Juz. 3 hal. 415, karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; kitab As-Sirah Al-Halabiyah (1/83-84) karangan Al-Imam ‘Ali bin Burnahuddin Al-
    Halabiy 14. Ibid. 15. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy. 16. Ibid ; kitab Al-Hawi Al-Fatawi hal. 189, karangan Al-Imam As-Suyuthiy ; kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 , karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon ; Tuhfatul Muhtaj
    ( ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﻤﺤﺘﺎﺝﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻨﻬﺎﺝ ) pada fasal ( ﻓَﺼْﻞٌ ﻓِﻲ ﻭَﻟِﻴﻤَﺔِ ﺍﻟْﻌُﺮْﺱِ )
    karangan Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy. 17. Kitab Husnul Maqshid fi Amal Maulid, karangan Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthiy. 18. Ibid. 19. Kitab I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 , karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh As-Sayyid Al-Bakri Syatha Ad-Dimyathiy. Darul Fikr, Beirut – Lebanon. 20. Ibid. ; Kitab Al-Wasail fiy Syarh Al-Masaail lis-Suyuthiy 21.Kitab Al-Madhkal, karangan Al-Imam Ibnu Al-Hajj jilid.1 hal. 261 22. Ibid. 23. Kitab Ad-Durar As-Saniyyah ( ﺍﻟﺪﺭﺭ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ ) hal. 190. 24. Kitab Syarah ‘Alaa Maulid Al-Imam Ibnu Hajar. 25. Kita Fatawa Syar’iyyah (1/131) 26. Kiab ‘Alaa Maidah Al-Fikr Al-Islami ( ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺋﺪﺓ ﺍﻟﻔﻜﺮ ﺍﻹﺳﻼﻣﻲ ) hal. 25. 27. Pendapat
    Imam Ibnu Hajar Al-Haitsamiy 28. Kitab Mawahid Al-Ladunniyah (1/148) –Syarh ‘alaa Shahih Bukhari-, karangan Al-Imam AL-Qasthalaniy 29. Ibid. 30. Kitab Tafsir Al-Imam Al-Alusiy 31. Lihat : Sirah An-Nabawiyah wa Atsar al-Muhammadiyah, catatan pinggir As-Sirah Al-Halabiyah . 32. Kitab Haulal Ihtifal
    Bidzikri Al-Maulidin Nabawi Asy-Syarif.
    Mhon d tanggapi lagi ustd,Jazakalloh Khoiron sblmny

  12. budi berkata:

    Ni ad lagi ustad,artikel yg ‘aneh’ , smoga bs di tanggapi jg

    Ternyata Nabi Saw orang yang pertama kali merayakan maulid

    Salah satu menu tahunan dalam daftar perdebatan antar kelompok-kelompok Islam adalah persoalan merayakan atau memperingati Maulid Nabi SAW.. Perdebatan dalam masalah ini tidak kalah panasnya dengan perdebatan dalam persoalan qunut Subuh, yang jauh lebih nyaring bunyinya ketimbang persoalan shalat Subuhnya itu sendiri. Berbagai argumentasi dikeluarkan, baik yang memang memiliki bobot ilmiah maupun yang hanya merupakan letupan emosi sesaat sehingga jauh dari koridor nalar yang sehat.

    Umumnya para pengingkar Maulid Nabi SAW. berangkat dari wacana bid’ah, tema yang sampai detik ini tidak kunjung menemukan titik terangnya. Bahkan tema ini merupakan faktor utama tercerai-berainya umat Islam dewasa ini sehingga eksistensinya ringan bak buih di lautan yang dengan mudah diombang-ambingkan oleh desiran ombak, sebagaimana yang pernah disinyalir oleh Nabi Muhammad SAW.. Merasa takut atau khawatir untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan oleh Nabi SAW. merupakan sebuah prinsip yang benar jika digunakan pada tempatnya dan sesuai porsinya. Sikap ini pun senantiasa dipegang teguh oleh para sahabat, generasi terbaik umat ini.

    Abu Bakar al-Siddiq r.a. adalah salah seorang sahabat yang paling takut untuk menyelisihi perilaku atau keputusan Nabi SAW.. Dalam sejarah dikatakan, pasca wafatnya Nabi SAW., Umar bin Khattab r.a. –dan sejumlah sahabat lainnya—mengusulkan kepada Abu Bakar r.a. yag telah dibaiat sebagai khalifah pengganti Nabi SAW. agar tidak mengirimkan pasukan Usamah bin Zaid r.a. untuk menyerang Romawi di Syam. Karena menurut mereka, umat Islam saat itu membutuhkan pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid r.a. untuk memerangi kalangan yang murtad sepeninggal Nabi SAW.. Namun, Abu Bakar r.a. tidak ingin menyelisihi keputusan yang telah dibuat oleh Nabi SAW. untuk mengirimkan pasukan melawan tentara Romawi, yang pada akhirnya dimenangkan oleh tentara Islam.

    Kita juga dapat melihat bagaimana sikap Abu Bakar r.a. dalam peristiwa pengumpulan Al-Quran di era kekhilafahannya. Perang Yamamah yang terjadi pada tahun 12 H. telah merenggut sekitar 70 orang qari’ penghafal Al-Quran. Umar bin Khattab r.a. khawatir Al-Quran akan musnah jika tidak segera dibukukan. Ia pun segera pergi menemui Abu Bakar r.a. untuk mengusulkan agar Al-Quran segera dibukukan. Awalnya Abu Bakar r.a. menolak usulan tersebut dengan alasan hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.. Namun Umar terus mendiskusikan hal itu dengannya hingga Allah SWT. membuka hatinya dan ia pun menerima usulan Umar tersebut. Setelah itu, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Abu Bakar dengan ditemani Umar pergi menemui Zaid bin Tsabit untuk mengutarakan maksud tersebut, mengingat kedudukan Zaid dalam segala hal yang berkaitan dengan Al-Quran. Namun, Zaid pun mulanya menolak dengan alasan perbuatan itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW., hingga akhirnya Allah membukakan hatinya untuk menerima usulan tersebut, setelah berdiskusi dengan Abu Bakar.

    Dari kisah di atas, kita dapat mengambil sebuah pelajaran bahwa sikap hati-hati untuk tidak melakukan sebuah ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW. merupakan sikap mulia, dengan syarat dilakukan pada tempatnya, dan mau berubah padangan jika ternyata sikap tersebut tidak tepat. Sebagaimana kisah ketiga sahabat mulia di atas, dimana Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit enggan untuk melakukan ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW., namun mereka berdua tidak segan untuk mengubah sikapnya manakala pendapat Umar bin Khattab dipandang jauh lebih benar dan maslahat.

    Demikian juga halnya dalam kasus ‘Perayaan Maulid Nabi SAW.’ ini, yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan seluruh umat Islam, namun berubah menjadi hari mencaci-maki saudara seiman. Di hari ini, saat mayoritas umat Islam merayakannya dengan melantunkan pujian kepada Sang Habib (kekasih); Baginda Sayyidina Muhammad SAW., di sudut yang lain sekelompok umat Islam sibuk mencela, mencaci, dan melabeli saudara seimannya dengan sebutan ahli bid’ah, sesat, dan tempatnya di neraka. Alasan utama mereka untuk menolak Maulid Nabi SAW. sebenarnya adalah karena –menurut mereka—perayaan ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.. Itu adalah alasan utamanya, meskipun dalam berbagai tulisan mereka sering ada bumbu-bumbu tuduhan lainnya, seperti dalam perayaan maulid ada kemungkarannya, bercampur laki-laki dan perempuan, dibacakan shalawat bid’ah dan syirik yang tidak diajarkan oleh Rasulullah SAW., dan lain sebagainya. Padahal bumbu-bumbu ini tidak perlu dimunculkan, karena selain bukan alasan inti, juga penulis yakin jika pun di dalam maulid itu tidak ada kemungkaran apa pun dan dicukupkan dengan membaca Al-Quran dan shalawat yang ma’tsur (diriwayatkan dari Nabi SAW.), mereka juga tetap mengingkari perayaan maulid dan kembali ke alasan utama; perayaan maulid tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.. Lantas benarkah Rasulullah SAW. tidak pernah merayakan hari kelahirannya?

    Saat Rasulullah SAW ditanya mengenai amalan puasa yang beliau lakukan setiap hari Senin, beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, diutus, dan diberi wahyu.” Jadi, beliau sendiri telah merayakan hari kelahirannya sejak pertama kali beliau berpuasa hari Senin. Jawaban beliau itu juga memberi pelajaran kepada kita bahwa menghormati dan masyukuri hari-hari penting dan bersejarah dalam hidup kita merupakan sunnah Nabi SAW.. Jika argumentasi ini belum dapat diterima oleh saudara-saudara kita yang senantiasa berlebihan dalam memaknai kata ‘bid’ah’, maka mereka harus menyadari dua hal terkait hal ini. Pertama, secara umum, sikap berlebihan dalam memaknai bid’ah dengan arti bahwa segala perbuatan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah SAW. adalah bid’ah sesat, ini adalah sikap yang sangat berbahaya. Karena dengan parameter ini akan banyak sahabat Nabi SAW. yang sesat, termasuk tiga sahabat yang sudah disebut di atas, Abu Bakar, Umar, dan Zaid radhiyallahu ‘anhum yang ketiganya ternyata sepakat untuk melakukan ibadah mengodifikasikan Al-Quran dimana perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW.. Kedua, secara khusus, terkait dengan maulid, para pengingkar perayaan maulid hampir sepakat bahwa yang pertama kali merayakan maulid adalah dinasti fathimiyah yang berdiri sejak akhir abad ke-3, tepatnya tahun 297 H. saat Ubaidillah al-Mahdi menjadi khalifah pertamanya. Sementara itu arus penentangan terhadap maulid baru terjadi pada abad ke-7, diantaranya sebagaimana yang dilakukan oleh al-Fakahani (W 731 H.) dan Ibnu al-Haj (W 737 H.). Lantas ke mana suara ulama yang menentang perayaan ini di abad ke-3, ke-4, ke-5, dan ke-6? Bukankah ini dapat dikatakan sebagai sebuah amalan baik yang telah diijmak oleh umat ini akan kebolehannya? Dan Nabi SAW. telah menjamin bahwa umat ini tidak akan pernah berijmak dalam kesesatan.

    Yang unik di negeri kita, Indonesia, sebagian kalangan yang awalnya menolak merayakan maulid, kini pelan-pelan mereka mau merayakannya, meski caranya berbeda. Jika warisan Islam Nusantara merayakan maulid dengan cara membaca sirah dan pujian-pujian kepada Nabi SAW. yang termaktub di dalam kitab-kitab maulid semisal al-Barzanzi, al-Daibai, Simtuddurar, dan lainnya, maka mereka yang semula mengingkari maulid ini merayakannya dengan seminar dan kajian tentang sosok agung Sayyiduna Muhammad SAW.. Intinya sama, sama-sama merayakan maulid, meski beda cara. Dan perbedaan cara dalam mengungkapkan kecintaan kepada Nabi SAW. ini boleh-boleh saja, karena memang tidak dibatasi dengan cara tertentu. Mereka ini sebenarnya juga sering melakukan perayaan pada hari-hari besarnya, seperti hari jadi organisasinya, partainya, dan tokohnya, bahkan hari jadi dirinya sendiri. Namun ada juga segelintir orang yang memang sama sekali tidak mau melakukan perayaan apapun, termasuk maulid Nabi SAW. ini.

    Jika mereka yang tidak setuju dengan perayaan maulid berhenti pada titik ‘tidak setuju’ saja, tanpa harus mencela orang-orang yang merayakannya, maka tentu saja persoalannya akan lebih mudah. Namun fakta di lapangan, mereka yang tidak merayakan maulid ini sangat gencar untuk melancarkan serangan dan propaganda, baik lisan maupun tulisan, sehingga menciptakan suasana yang semakin tidak kondusif di tengah carut-marutnya umat Islam dewasa ini. Dialog atau kritikan sebagai salah satu pilar penting pendewasaan wacana dan pematangan ilmu pengetahuan harus tetap dipelihara, dan di saat yang sama harus dipatuhi rambu-rambu metodologi ilmiahnya. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.[M. Hidayatulloh]

  13. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    1. Kami tidak percaya dengan perrkataan-perkataan yang diklaim “perkataan ulama” itu. Mengapa demikian? Karena kami tidak tahu apakah itu benar-benar kata-kata mereka, atau bikinan saja. Contoh perkataan Hasan Al Basri rahimahullah. Apa ada MAULID di zaman Hasan Al Bashri? Wong Maulid itu munculnya sekitar abad 5 hijriyah, jauh hari setelah berlalu zaman Hasan Al Basri. Di zaman Imam Syafi’i juga tidak ada amalan Maulid begitu.

    2. Kata-kata yang mengandung “fadhilah amal” tidak boleh keluar dari manusia siapapun, selain dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Tidak boleh manusia seenaknya membuat keutamaan-keutamaan amal. Karena hal-hal itu harus berdasarkan Wahyu.

    3. Kami tidak anti Maulid, sebagaimana juga tidak pro Maulid. Tapi hendaknya dalam hal ini jangan bermain-main dengan Syariat agama.

    Boleh dibaca buku kami “Pro Kontra Maulid Nabi SAW”. Terimakasih.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: