SALAH TEMBAK DAN PAHALA IJTIHAD

Darah Ummat Itu Mahal

Darah Ummat Itu Mahal

* Seperti kita maklumi, ada ustadz tertentu ditanya di sebuah radio dakwah: “Bagaimana kalau seorang anggota detasemen anti teror salah nembak sasaran? Bukan nembak teroris, malah nembak orang tak bersalah?”

* Lalu dijawab oleh si ustadz –yang katanya ustadz ahli seputar kajian Tazkiyatun Nufus– itu bahwa perbuatan SALAH TEMBAK itu dapat SATU PAHALA, karena yang bersangkutan sedang ijtihad dan ternyata ijtihadnya salah.

* Pendapat seperti ini sangat sembrono dan bisa menjadi “License to Kill” bagi aparat untuk menarget siapa saja di antara kaum Muslimin yang tidak mereka sukai; dengan alasan “salah tembak”.

 

* Dosa ustadz yang berfatwa sembarangan ini bisa sangat besar, karena dia telah menghalalkan darah kaum Muslimin dan jiwanya, atas nama ijtihad. Wallahi, ulama yang sangat alim sekali pun, akan sangat takut untuk berkata seperti itu. Tapi begitulah kalau agama sudah kecampuran banyak tujuan-tujuan duniawi.

* BANTAHAN 1: Pahala ijtihad bagi mujtahid yang salah dalam ijtihad itu ASALNYA berlaku dalam dua perkara: (1). Pada ulama yang berijtihad untuk menemukan solusi masalah Ummat sesuai kaidah-kaidah Syariat; (2). Pada hakim yang memutuskan perkara di antara kaum Muslimin, untuk menghasilkan sebaik-baik keputusan. Kita sendiri sebagai Muslim biasa sebenarnya “boleh ijtihad” yaitu ketika berhadapan dengan “masalah darurat” yang membutuhkan keputusan cepat; sedangkan di sana tidak ada sumber rujukan ilmu yang bisa dirujuk, apakah ulama, ustadz, buku-buku referensi, dan lainnya. JADI ijtihad itu bukan dibuka untuk semua orang, semua keadaan dan profesi. Atau boleh ijtihad bagi para politisi, pejabat, pengambil kebijakan, atau dokter; dengan tujuan mencapai maslahat, menghindari madharat; setelah melakukan telaah persoalan sedalam-dalamnya.

* BANTAHAN 2: Dalam Islam, pembunuhan yang tak sengaja, itu sudah ada aturannya. Kerap disebut Al Qatlul Khattha’ (pembunuhan yang tersalah). Ini ada aturannya. Yang bersangkutan tidak dihukum qishash, tapi dihukum denda (diyat). Besarnya seharga 100 ekor unta. Maka itu sopir-sopir di Saudi amat sangat marah kalau melihat orang menyeberang jalan seenaknya; karena khawatir terkena denda tersebut. Kalau seekor onta seharga 20 juta; 100 ekor sudah 2 M.

* BANTAHAN 3: Salah satu tujuan Syariat ialah “Hifzhun Nafs”, maksudnya menjaga darah kaum Muslimin agar tidak ditumpahkan secara semena-mena. Maka fatwa semacam itu jelas membuka “kran” bagi kezhaliman besar atas kepentingan kaum Muslimin. Ini sangat berbahaya.

* BANTAHAN 4: Dikisahkan oleh sebagian Shahabat RA, bahwa di kemudian hari kaum Muslimin akan sembrono dalam bicara masalah agama. Padahal andai perkara yang sama ditanyakan kepada Khalifah Umar RA, beliau akan mengumpulkan para Ahlul Badar untuk meminta pertimbangan dan pendapat. Fatwa tentang darah kaum Muslimin itu tidak boleh diobral murah, tapi harus sangat-sangat teliti. Bila kita tidak pada posisi bisa berfatwa, sebaiknya DIAM atau mengatakan WALLAHU A’LAM. Itu lebih selamat dan aman.

* BANTAHAN 5: Para serdadu yang biasa membunuh manusia, apalagi sering menjadikan kaum Muslimin sebagai sasaran; pastilah secara ilmu, keimanan, kehati-hatian, akhlak, dan sebagainya TIDAK DALAM POSISI layak berijtihad. Mengapa demikian? Ya kita paham bagaimana kondisi mereka dan situasi yang sering terjadi. Sedangkan untuk IJTIHAD para ulama kerap menyebutkan syarat-syaratnya yang ketat.

* Intinya, jangan sembarangan berfatwa tentang jiwa/darah kaum Muslimin. Haru sangat hati-hati. Kalau memang tak memiliki kapasitas, ya kita ucapkan saja: Wallahu a’lam.

* Semoga bermanfaat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Sumber: Akun facebook pribadi.

Iklan

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: